cover
Contact Name
Bangun I R Harsritanto
Contact Email
bangunirh@arsitektur.undip.ac.id
Phone
+6281229999446
Journal Mail Official
jpps@arsitektur.undip.ac.id
Editorial Address
architecture campuss, faculty of engineering, Universitas Diponegoro, Jl Prof Soedarto SH, Tembalang
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Poster Pirata Syandana
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 27156397     DOI : -
Jurnal Poster Pirata Syandana (ISSN : 2715-6397)is an architecture poster journal publication in colaboration of Department of Architecture in Engineering Faculty at Diponegoro University with TA committee. Jurnal Poster Pirata Syandana is a scientific publication and communication media of design methods architecture design, human settlement, building construction, history of architecture, environmental design and building sciences. architecture education material and behaviour in architecture
Articles 1,124 Documents
Perancangan Gereja Berbasis Sensory Architecture di Kota Semarang Yemima Saragih
Jurnal Poster Pirata Syandana Vol 7, No 02 (2026): PERIODE 162 E (JULI 2026)
Publisher : Architecture Department, Engineering Faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perancangan bangunan gereja pada konteks perkotaan menghadapi tantangan yang semakin kompleks seiring dengan pertumbuhan penduduk, dinamika sosial, serta perubahan kebutuhan masyarakat. Gereja tidak lagi hanya berfungsi sebagai ruang ritual, tetapi juga sebagai ruang sosial dan kultural yang berperan dalam membangun komunitas serta pengalaman spiritual. Kota Semarang sebagai kota dengan jumlah penduduk yang besar dan beragam menunjukkan adanya kebutuhan signifikan terhadap fasilitas ibadah Kristen Protestan yang memadai secara kapasitas dan distribusi. Kecamatan Banyumanik merupakan salah satu kawasan dengan pertumbuhan hunian dan pendidikan yang pesat, sehingga mendorong peningkatan kebutuhan fasilitas ibadah yang terjangkau. Namun, keberadaan gereja eksisting di kawasan tersebut belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan jemaat, baik dari segi kapasitas, distribusi, maupun kelengkapan fasilitas pendukung komunitas. Selain itu, pendekatan desain gereja yang masih berorientasi pada tata liturgi konvensional belum sepenuhnya memperhatikan kualitas pengalaman ruang yang bersifat multisensori. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan perancangan yang mampu mengintegrasikan aspek fungsional, pengalaman ruang, dan inklusivitas. Pendekatan sensory architecture diterapkan untuk menciptakan suasana ruang ibadah yang reflektif melalui pengolahan cahaya, material, akustik, dan atmosfer ruang. Selain itu, prinsip universal design digunakan untuk memastikan bahwa bangunan gereja dapat diakses dan digunakan oleh seluruh lapisan jemaat tanpa diskriminasi. Perancangan gereja di Banyumanik ini diharapkan tidak hanya memenuhi kebutuhan ruang ibadah secara kuantitatif, tetapi juga mampu menghadirkan kualitas ruang yang mendalam, inklusif, serta kontekstual terhadap perkembangan kawasan urban. KATA KUNCI: Gereja Protestan, Sensory Architecture, Universal Design, Ruang Liturgis, Banyumanik, Semarang, Arsitektur Gereja, Ruang Komunitas, Pengalaman Ruang, Fasilitas Ibadah
PERANCANGAN FAKULTAS ARSITEKTUR DAN DESAIN DENGAN PENDEKATAN GREEN ARCHITECTURE Chandra Setiawan Putra
Jurnal Poster Pirata Syandana Vol 7, No 02 (2026): PERIODE 162 E (JULI 2026)
Publisher : Architecture Department, Engineering Faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Arsitektur modern sudah tidak hanya mempelajari tentang bagaimana cara membuat bangunan dengan struktur yang kuat dan tahan cuaca, namun juga mempelajari keindahan bentuk dan hubungannya dengan manusia sebagai pengguna. Aspek keindahan dan hubungan bangunan dengan manusia tidak dapat diukur dengan skala angka, karena kedua hal tersebut adalah hal yang subjektif dan penilaiannya berubah terhadap tiap orang. Oleh karena itu Program Studi Arsitektur sudah tidak cocok berada di bawah naungan Fakultas Teknik yang biasa menggunakan pendekatan sistematis dan pengukuran skala numerik, maka diperlukannya suatu wadah yang dapat menampung Program Studi yang mempelajari mengenai estetika dan keindahan sebuah desain, serta bagaimana manusia berinteraksi dengan desain. Hal ini akan mendorong kemajuan ilmu pengetahuan dan membuka perspektif baru terhadap Ilmu Arsitektur sebagai ilmu yang mempelajari tentang hubungan antara manusia dengan ruang.
Rest Area di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN Rangga Syabil Rabbani
Jurnal Poster Pirata Syandana Vol 7, No 02 (2026): PERIODE 162 E (JULI 2026)
Publisher : Architecture Department, Engineering Faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) sebagai kota hutan berkelanjutan (Sustainable Forest City) memicu peningkatan volume pergerakan manusia dan kendaraan menuju Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP). Fenomena ini menciptakan kebutuhan mendesak akan infrastruktur penunjang berupa tempat istirahat dan pelayanan (rest area) yang tidak hanya berfungsi sebagai simpul transit dan pengisian daya kendaraan listrik (SPKLU), tetapi juga mampu merepresentasikan identitas budaya lokal serta menjaga kelestarian ekosistem. Permasalahan utama dalam perancangan ini adalah bagaimana mengondisikan fasilitas modern berskala besar pada topografi KIPP IKN yang berbukit dan berkontur curam tanpa melakukan manipulasi lahan (cut and fill) secara masif. Metode perancangan yang digunakan adalah metode deskriptif-analitis melalui pemrograman arsitektur, analisis tapak, serta transformasi bentuk arsitektur vernakular. Pendekatan Arsitektur Nusantara diterapkan dengan mengadopsi tipologi linear dari Rumah Panjang Suku Dayak. Strategi spasial ini diintegrasikan dengan sistem struktur panggung kontemporer menggunakan pondasi bored pile dan kolom baja ekspos. Penggabungan ini menghasilkan massa bangunan memanjang yang adaptif terhadap kelandaian lahan, meminimalkan koefisien tapak perkerasan (Sponge City), serta menciptakan kolong bangunan yang berfungsi sebagai wind tunnel alami untuk mengoptimalkan ventilasi silang (cross ventilation). Hasil akhir dari perancangan ini adalah sebuah kawasan Rest Area hijau terpadu di KIPP IKN yang menyatukan fungsi teknologi transportasi pintar, ruang komersial UMKM, dan fasilitas transit, yang berakar pada kearifan lokal Kalimantan.
Ecologies of Coexistence: Wildlife-Driven Design Interventions for Kemujan Island Jethro Jordan
Jurnal Poster Pirata Syandana Vol 7, No 02 (2026): PERIODE 162 E (JULI 2026)
Publisher : Architecture Department, Engineering Faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Taman mangrove Pulau Kemujan terpaksa ditutup setelah bertahun-tahun terbengkalai, rusak akibat tambak udang ilegal, dan infrastrukturnya begitu lapuk hingga seorang wisatawan patah kaki di atas papan yang membusuk. Namun kerugian terbesar justru ditanggung oleh nelayan lokal, yang kini harus melaut 5 hingga 10 kali lebih jauh karena nursery ground mangrove yang dulu menyokong tangkapan mereka telah hancur. Proyek ini mengusulkan kerangka arsitektur mutualistik yang menjadikan hubungan tersebut sebagai fondasi desain: tiga tipologi yang saling melengkapi di zona medial dan distal mangrove, yaitu fishing hub yang dapat diakses dari laut dengan monitoring ekologis secara real-time, stasiun pembibitan dan rehabilitasi komunitas dengan insentif ekonomi langsung melalui budidaya kepiting bakau, serta jalur interpretif yang mengajarkan hubungan ekologis melalui pengalaman ruang bukan papan informasi. Seluruh struktur dibangun dengan sistem tidal-responsive berupa pontoon apung, pile pipa berdiameter kecil di luar zona akar, dan decking modular yang bisa diganti per bagian, sehingga arsitektur bekerja bersama ekosistem intertidal bukan melawannya. Tujuannya bukan kawasan ekowisata yang diperbarui, melainkan ekosistem yang dipahami, dijaga, dan dikelola oleh komunitas nelayan karena mereka bisa melihat secara nyata apa yang dikembalikan ekosistem itu kepada mereka.