cover
Contact Name
Muhammad Aditya Pratama
Contact Email
adityapratama@ikj.ac.id
Phone
+6285693972062
Journal Mail Official
imaji@ikj.ac.id
Editorial Address
Jalan Sekolah Seni No.1 (Raden Saleh, Kompleks Taman Ismail Marzuki Jl. Cikini Raya No.73, RT.8/RW.2, Cikini, Jakarta, Central Jakarta City, Jakarta 10330
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal IMAJI
ISSN : 19073097     EISSN : 27756033     DOI : https://doi.org/10.52290/JI
Core Subject : Humanities, Art,
Journal IMAJI accommodates a collection of various topics of film / audio-visual studies that contain ideas, research, as well as critical, fresh, and innovative views on the phenomenal development of cinema in particular and audio-visual in general. This journal aims to provide research contributions to film and audio-visual media which are expected to encourage the development of film, including photography, television and new media in Indonesia, so that they are superior and competitive at the national level and in the international world.
Articles 200 Documents
Tantangan Mengolah Gagasan Supartono, Alex
IMAJI No. 1 (2005): Antara Melihat dan Membaca
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada bulan Mei 2003 di Galeri Oktagon Jakarta, pameran foto dari para perempuan fotografer diadakan pertama kalinya di Indonesia. Pameran itu berjudul : "Mata Perempuan". Satu dari tujuh fotografer yang berpameran adalah Keke Tumbuan, yang memajang karya berjudul 24 .7, yang adalah penanda tanggal dan bulan. Karya Keke ini seperti sebuah kolase dari foto berwarna hasil kamera saku digital yang menampilkan halaman-halaman buku hariannya yang terbuka, alat pemeriksa kehamilan, toilet dan pantulan tubuhnya dicermin.
Rekreasi Ketakutan, Sebuah Kajian Menonton Film Horor di Masa Pasca Pandemi Setyaningsih, Tri Widyastuti
IMAJI Vol. 14 No. 1 (2023): Antara Struktur dan Bahasa Visual
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52290/i.v14i1.100

Abstract

Tujuan utama dari film horror adalah untuk menakut-nakuti dan mengejutkan penonton dengan menggunakan berbagai motif audio visual dan perangkat teknis lainnya. Film horror sering menjadi film yang laris, bahkan meraup box office. Ketika Indonesia dilanda pandemi Covid-19, sebuah kondisi yang menakutkan, film horror tetap menjadi tontonan yang digemari. Mengapa orang menonton film bergenre horror pada masa pascapandemi dan apa efek yang dihasilkan setelah menontonnya, merupakan pertanyaan-pertanyaan yang menarik untuk dibahas. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, artikel ini menggunakan konsep industri budaya, dengan logika industrialisasi dan komersialisasi budaya. Penonton diposisikan sebagai konsumen industri budaya yang melakukan komodifikasi dan repetisi dalam produksi. Penelitian menunjukkan bahwa menonton film horror menjadi semacam rekreasi ketakutan, sebagai pengalaman emosional untuk memperoleh kesenangan dari keterlibatan main-main dengan situasi yang menimbulkan rasa takut. Menonton film horror adalah sebuah perayaan, sebuah ritus rekreasi ketakutan di dunia industri budaya, termasuk di masa pascapandemi.
Kajian Struktur Visual Pada Pasca Produksi Film Eksperimental “Sweet Rahwana” Sasongko, Hery
IMAJI Vol. 14 No. 1 (2023): Antara Struktur dan Bahasa Visual
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52290/i.v14i1.101

Abstract

Experimental Film “Sweet Ravana” is a film artwork that raises about human nature that is translated through puppet approach. To realize the character in accordance with one of the human traits that exist in the puppet characters namely Ravana. Where Ravana is a figure of evil and always thirsty for power. In a movie there are some messages to be conveyed by the author. The message to be conveyed apart from the narrative aspect also through the cinematic aspect. In the experimental film "Sweet Ravana" this message to be conveyed made through shot attraction. Two previously unrelated shots then after going through the alignment process then generate a new meaning. The series of compositions of shots on the film is then the visual structure. Sintagmatik and paradigmatik is a theory that can be used to study the visual structure that exist in the experimental film "Sweet Ravana" with the aim to know the structure of the visual on the process jukstaposisi types of shot selection and editing.
Pergelaran Film Setan Jawa Representasi Film Yang Menggunakan Kearifan Lokal Sebagai Strategi Menuju Film Beridentitas Nusantara Suryanto, Hari
IMAJI Vol. 14 No. 1 (2023): Antara Struktur dan Bahasa Visual
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52290/i.v14i1.102

Abstract

Pergelaran film Setan Jawa mengingatkankita pada era pertunjukan film bisu pada awal pertunukan film ditemukan. Istilah film bisu dipergunakan untuk menggambarkan film yang diproduksi tanpa dialog dan rekaman suaradari periode sebelum diperkenalkannya film y ang sudah memiliki suara. Pergelaran film pada era itu masih diiringi oleh musik sebagai ilustrasi untukmemperkuat suasana dan narasi pada film. Demikian juga pada pergelaran flm Setan Jawa karya Sutradara Garin Nugroho yang memadukan filmbisu dengan ensemble gamelan. Sebuah pergelaran film dengan gamelan yang saling melengkapi dan mendukung dalam membangun ambience dan narasi. Pergelaran Film Setan Jawa berkisah tentang cinta yang berakhir dengan tragedi yang mengenaskan. Ruang waktu kejadian abad 20 ditandai dengan lahirnya era industri 1.0 yang membuat kekayaan tanah Jawa ini menjadi ekploitasi para pemilik modal besar dan bangsawan. Dampak dari hal tersebut membuat masyarakat menempuh jalan mistik dalam melakukan perlawanan terhadap kondisi sosial, salah satu dari cara mistik itu adalah Pesugihan Kandang Bubrah. Pergelaran Film Setan Jawa hadir memberikan menjadi sebuah representasi Film yang menggunakan kearifan lokal sebagai cara bertutur dalam narasinya. Secara sinematik pergelaran film Setan jawa mengadaptasi bentuk pergelaran wayang kulit. Pergelaran Film Setan Jawa merupakan strategi soft Diplomacy yang dilakukan Garin Nugroho melalui gagasan kreatif memadukan film dan ensemble gamelan. Pergelaran Film Setan Jawa sebuah gerakan menuju film berkarakter Nusantara.
Diorama dan Estetika Tableau: Analisis Mise-en-scene Film Pion (2021) Tampubolon, Ezra; Billy, Hibatullah
IMAJI Vol. 14 No. 1 (2023): Antara Struktur dan Bahasa Visual
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52290/i.v14i1.103

Abstract

Film merupakan seni plastis yang memiliki kapabilitas untuk menggunakan medium lain sebagai pernyataan estetis. Tulisan ini bermaksud untuk memperlihatkan interaksi medium diorama di dalam penataan elemen formal film. Pion (2021) mencoba mentransfer konsep-konsep diorama lewat praktik mise-en-scene. Karena hal itu, tulisan ini akan berupa analisis kepada unit-unit bawahannya seperti setting, costume/make-up, staging: action and performance dan lighting. Tentunya pendekatan analisis mengarah kepada sifatnya yang komparatif serta menggunakan beberapa teori-teori film, estetika diorama bernama tableau dan kedekatannya dengan seni kontemporer.
Analisis Adegan Apple Strudel Film Inglourious Basterds Berdasarkan Semiotika Christian Metz Eureka, Diva
IMAJI Vol. 14 No. 1 (2023): Antara Struktur dan Bahasa Visual
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52290/i.v14i1.106

Abstract

Adegan Apple Strudel dalam film Inglourious Basterd menggambarkan interaksi antara Kolonel Landa sebagai petinggi Nazi dengan Shosanna, gadis Yahudi yang menyamar sebagai orang Prancis bernama Emmanuele Mimieux. Adegan ini mampu menciptakan ketegangan kepada penonton karena shot-shot yang ada dalam adegan memiliki relasi sintagmatik dan paradigmatik dengan adegan sebelum dan setelahnya. Susu, Apple Strudel, krim, rokok dalam adegan Apple Strudel mampu membangun ketegang karena unsur-unsur ini sudah dan akan muncul dalam film. Begitu pula dengan shot yang menggambarkan adegan Kolonel Landa mencium tangan Shosanna dan menancapkan puntung rokok di krim Apple Strudel serta saat mengajukan pertanyaan-pertanyaan pada Shosanna, memiliki hubungan Sintagmatik yang memberikan makna kepada penonton bahwa Kolonel Landa mencurigai dan berusaha membuka identitas asli Shosanna. Dalam teori yang disampaikan oleh Cristian Metz mengenai bahasa film, shot dalam bahasa film tidak dimaknai secara denotatif melainkan memiliki makna konotatif. Shot tidak dianalogikan seperti kata, tetapi shot dianalogikan seperti kalimat yang memberikan sebuah makna.
Warna Pada Film Untuk Anak Autis: Studi Kasus Pada Film “Coco” (2017) dan “Frozen” (2013) Adiwibowo, Satyani
IMAJI Vol. 14 No. 1 (2023): Antara Struktur dan Bahasa Visual
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52290/i.v14i1.107

Abstract

Penelitian tentang warna film ini bertujuan untuk mengetahui nuansa warna film mana yang nyaman ditonton oleh anak-anak dengan spektrum autisme. Metodologi penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan mengambil data dari palet warna film "Coco" (2017) dan "Frozen" (2013), serta membandingkan data warna autism-friendly dari penelitian lain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film "Frozen" mengandung warna-warna dengan nuansa dingin cenderung kelabu yang cocok untuk anak-anak dengan spektrum autisme. Warna-warna tersebut antara lain hijau, biru, dan ungu dengan tingkat saturasi yang rendah dan memiliki kandungan nilai warna tone (abu-abu). Hal ini diduga karena warna-warna tersebut dapat memberikan rasa tenang dan nyaman bagi anak-anak dengan spektrum autisme. Penemuan ini memberikan implikasi penting bagi para pembuat film, khususnya untuk memperhatikan penggunaan warna dalam film yang ditujukan untuk penonton dengan spektrum autisme. Selain itu, penelitian ini juga dapat memberikan informasi yang berguna bagi orang tua dan pengasuh anak-anak dengan spektrum autisme dalam memilih film yang cocok untuk ditonton oleh anak-anak mereka.
BERKARYA DAN BERCERITA MELALUI FOTOGRAFI EKSPRESI Amalia Fasiha, Riva
IMAJI Vol. 14 No. 2 (2023): Fotografi, Riwayatmu Hingga Kini
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52290/i.v14i2.112

Abstract

Fotografi adalah bagian dari alat komunikasi, berupa pesan-pesan visual. Sedangkan ekspresi merupakan ungkapan batin, perasaan, atau gagasan seorang seniman. Seorang seniman akan membuat sebuah karya berdasarkan ciri khas yang ada pada diri seniman itu sendiri, sehingga nantinya karya tersebut bisa menjadi bentuk identitas diri. Selain sebagai media ekspresi, foto bisa menjadi media penyampai pesan. Cara yang paling mudah untuk menggambarkan maksud atau pesan cerita dari sebuah foto misalnya dengan menunjukkan ciri khas objek atau penambahan properti yang berhubungan dengan objek, sebagai elemen pendukung. Menggunakan metode seleksi data dan eksplorasi yang berkaitan dengan objek penelitian. Melalui fotografi ekspresi kita bisa berkarya dan menyampaikan cerita yang kita visualisasikan melalui foto. Dan dengan ekspresi kita bisa mengungkapkan pesan dan perasaan kepada orang lain. Fotografi juga bisa sebagai alat komunikasi, berupa pesan-pesan visual.
A Analisis Penggunaan Lighting Dalam Fotografi Konseptual Human Interest Sarwan, Erchlish Alfarozi
IMAJI Vol. 14 No. 2 (2023): Fotografi, Riwayatmu Hingga Kini
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52290/i.v14i2.113

Abstract

Lighting is the main element in the world of photography, without light photography will never exist because light can create character in a photo. With light, you can determine whether a photo is true or not. Light itself is the most important element in photography as is the meaning of photography itself, namely painting techniques using the medium of light, that's why we must understand the meaning and procedures for using lighting to make or produce good photos. good. In every genre of photography we will definitely deal with lighting, be it sunlight or artificial light, of course an understanding of lighting is very much needed to produce photos that have aesthetic value. This journal will discuss or analyze the use of lighting or lighting in photos - photos related to the concept of human interest photos, this journal can also be your guide to create works that have meaning in a work of photography and value beauty in the future.
PENGARUH FOTOGRAFI JURNALISTIK PADA MEDIA ONLINE Romadhoni, Ardiansyah
IMAJI Vol. 14 No. 2 (2023): Fotografi, Riwayatmu Hingga Kini
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52290/i.v14i2.115

Abstract

Melalui media online, masyarakat diberikan kemudahan untuk mencari informasi dimanapun mereka berada dan kapan pun mereka membutuhkannya. Foto jurnalistik mampu merekam sesuatu secara cepat, obyektif, memuat berita dan informasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dari fotografi jurnalistik pada publik di media online, sehingga ada evaluasi untuk fotografer jurnalistik. Metode penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Pengguna daring media membutuhkan fotografi jurnalistik yang akurat, spesifik, ringkas dan lengkap sesuai dengan yang dibutuhkan oleh masyarakat. Maka foto jurnalistik harus memenuhi karakter foto jurnalistik sehingga nilai sebuah foto akan mencerminkan dirinya sendiri, menurut karakteristik dan jenis foto jurnalistik itu sendiri.

Page 9 of 20 | Total Record : 200


Filter by Year

2005 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 16 No. 3 (2025): Imaji Visual dalam Ruang, Waktu, dan Memori Vol. 16 No. 2 (2025): Film, Masyarakat, Teknologi, dan Identitas Budaya Vol. 16 No. 1 (2025): Identitas dalam Sinema Indonesia Vol. 15 No. 3 (2024): Ruang, Penonton, dan Wacana Sinematik Vol. 15 No. 2 (2024): Fotografi, Bahasa Visual dan Eksotisme Vol. 15 No. 1 (2024): Arsip, Wacana Visual & Film Eksperimental Vol. 14 No. 3 (2023): Suara & Imaji yang Berkelindan Vol. 14 No. 2 (2023): Fotografi, Riwayatmu Hingga Kini Vol. 14 No. 1 (2023): Antara Struktur dan Bahasa Visual Vol. 13 No. 3 (2022): Menuju Layar Personal sebagai Budaya Baru Menonton Vol. 13 No. 2 (2022): Wawancara dan Kedalaman Penelitian Media Audio Visual Vol. 13 No. 1 (2022): Merayakan dan Dirayakan Melalui Sinema Vol. 12 No. 3 (2021): Membingkai Realitas melalui Imaji Visual Vol. 12 No. 2 (2021): Panorama Mengamplifikasi Gagasan melalui Media Audio-Visual Vol. 12 No. 1 (2021): Sinema dan Wacana Vol. 11 No. 2 (2020): Sinema, Ideologi, dan Kritik Sosial Vol. 11 No. 1 (2020): Bentuk, Gaya, dan Persepsi Penonton Vol. 10 No. 2 (2018): Karakter dan Konsep-Konsep Psikoanalisis dalam Film Vol. 10 No. 1 (2018): Teknologi dan Storytelling dalam Medium Audio-Visual Vol. 9 No. 1 (2017): Mitos dalam Film dan Televisi Vol. 8 No. 1 (2016): IMAJI Vol. 5 No. 2 (2013): IMAJI Vol. 5 No. 1 (2013): IMAJI Vol. 4 No. 2 (2012): IMAJI Vol. 4 No. 1 (2012): IMAJI No. 6 (2011): IMAJI No. 5 (2009): IMAJI No. 4 (2008): IMAJI No. 3 (2007): IMAJI No. 2 (2006): Dimana Posisi Kritik Sinema Indonesia? No. 1 (2005): Antara Melihat dan Membaca More Issue