cover
Contact Name
Muhammad Aditya Pratama
Contact Email
adityapratama@ikj.ac.id
Phone
+6285693972062
Journal Mail Official
imaji@ikj.ac.id
Editorial Address
Jalan Sekolah Seni No.1 (Raden Saleh, Kompleks Taman Ismail Marzuki Jl. Cikini Raya No.73, RT.8/RW.2, Cikini, Jakarta, Central Jakarta City, Jakarta 10330
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal IMAJI
ISSN : 19073097     EISSN : 27756033     DOI : https://doi.org/10.52290/JI
Core Subject : Humanities, Art,
Journal IMAJI accommodates a collection of various topics of film / audio-visual studies that contain ideas, research, as well as critical, fresh, and innovative views on the phenomenal development of cinema in particular and audio-visual in general. This journal aims to provide research contributions to film and audio-visual media which are expected to encourage the development of film, including photography, television and new media in Indonesia, so that they are superior and competitive at the national level and in the international world.
Articles 200 Documents
You Should Be At Home Instead!: : A Comparative Analysis of Varda’s The Vagabond (1985) and Zhao’s Nomadland (2020) Dymussaga Miraviori, Areispine
IMAJI Vol. 13 No. 3 (2022): Menuju Layar Personal sebagai Budaya Baru Menonton
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52290/i.v13i3.82

Abstract

In 1985, Agnes Varda released The Vagabond, a film about a young woman who chooses to wander the country alone and is found dead in the winter. Thirty five years later, Chloe Zhao released Nomadland (2020), a film about a middle aged woman who had to live in an RV because her husband died and the company shut down and discontinued the workers’ residence where she lived. These two films have similarity: a woman lives alone on the street without a house. This paper wants to examine how women without a house are perceived and have more chance and risk to be failed by the patriarchal society.
Relasi Manusia dan Non-Manusia dalam Film Inang (The Womb) Manullang, Jonathan
IMAJI Vol. 13 No. 3 (2022): Menuju Layar Personal sebagai Budaya Baru Menonton
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52290/i.v13i3.83

Abstract

Kajian tekstual ini bermaksud mengeksplorasi hubungan antara manusia dan non-manusia melalui simbol-simbol semiotika yang terdapat pada Film Inang karya Fajar Nugros. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui analisis literatur dan komparasi karya, tulisan ini hendak menjelaskan bagaimana ragam interaksi lintas dimensi diantara sepasang entitas dimaksud yang terbungkus oleh estetika visual tertentu dimanfaatkan guna menyingkap rahasia terbesar dalam narasi Film Inang.
Sejarah Film Dokumenter Awal Di Dunia Hermansyah, Kusen Dony
IMAJI Vol. 13 No. 3 (2022): Menuju Layar Personal sebagai Budaya Baru Menonton
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52290/i.v13i3.84

Abstract

John Grierson membuat terminologi film dokumenter setelah menonton film Moana (1926) karya Robert Flaherty. Film dokumenter menurutnya adalah creative treatment of actuality atau perlakuan aktualitas secara kreatif. Secara kritis perlu dipertanyakan kebenaran bahwa film-film Flaherty adalah film dokumenter awal di dunia. Untuk menjawab hal tersebut, metode penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini metode sejarah. Ada tiga tahap dalam metode ini, yaitu pencarian sumber keterangan atau bukti sejarah (heuristik); penilaian atau pengujian bahan-bahan sumber dari sudut pandang nilai kenyataannya (kritisisme); dan sinthese atau penyajian yang bersifat formal dari temuan. Tahap ini meliputi penyusunan kumpulan data sejarah dan kemudian penyajiannya dalam bentuk tertulis. Teknik pengumpulan datanya akan menggunakan studi kepustakaan dan dokumen. Sedangkan analisis datanya akan menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif dengan pendekatan sosiologi, antropologi dan politik. Ada yang menarik bahwa pada awal film dibuat, terdapat film-film karya Brighton School, yaitu perkumpulan fotografer di Inggris yang telah membuat film dokumenter. Hanya saja film ini kemudian baru ditemukan pada kurun waktu 1970-an. Sangat mungkin film-film tersebut merupakan film-film dokumenter awal di dunia.
Kompleks Candi Kedaton sebagai Subjek Film Dokumenter: Interpretasi Arkeologis melalui film Iskandar, Naswan
IMAJI Vol. 13 No. 3 (2022): Menuju Layar Personal sebagai Budaya Baru Menonton
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52290/i.v13i3.85

Abstract

Tanda visual dapat diekstraksi dari catatan arkeologi mana pun hampir tanpa batas, tetapi seseorang arkeolog biasanya kesulitan untuk memformalkan kriteria signifikan untuk apa yang secara intrinsik "visual", bahwa fitur visual yang berbeda hampir pasti penting untuk penjelasan yang berbeda. Sementara pembuat film dihadapkan pada upaya berfokus pada proses interpretasi film dan terlibat dalam penyelidikan masalah bagaimana makna yang berbeda dari film yang sama dapat hadir dan hidup berdampingan. Pembuat film dihadapkan dengan film sebagai dunia dan penonton film sebagai penafsir, menganggap interpretasi relatif melekat dan kontekstual. Penelitian yang didasarkan pada praktik ini merupakan upaya memberikan kontribusi pengetahuan dengan mengeksplorasi teoritis dan kritis pembuatan film dokumenter, serta menyoroti proses pembuatan film dokumenter arkeologis dalam sudut pandang akademis. Komponen praktis dalam penelitian ini adalah pembuatan film dokumenter dengan subjek kompleks Candi Kedaton di Situs Muarajambi sebagai tempat pembelajaran keagamaan Buddha pada masa lalu. Kajian ini menyelidiki bagaimana pergeseran paradigma baru dalam teknologi digital dan pembuatan film dokumenter dapat memungkinkan pembuat film akademis memproduksi film dokumenter arkeologis melalui pelibatan kreativitas dan subjektivitas sebagai bagian dari praktik akademis tanpa mengorbankan integritas interpretasi.
Wawancara: Riri Riza IMAJI, Jurnal
IMAJI Vol. 13 No. 3 (2022): Menuju Layar Personal sebagai Budaya Baru Menonton
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52290/i.v13i3.86

Abstract

Dalam rubrik Jurnal IMAJI Vol. 13 No. 3 kali ini kami menghadirkan wawancara secara mendalam dengan tokoh perfilman nasional yaitu Riri Riza, beliau merupakan seorang sutradara film seperti Petualangan Sherina (2000), Ada Apa Dengan Cinta ? (2002), Gie (2005), Laskar Pelangi (2008).
Zhang Yimou dan Eksotisisme Ajidarma, Seno Gumira
IMAJI No. 1 (2005): Antara Melihat dan Membaca
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Zhang Yimou hidup di negeri komunis yang begitu tertutup semenjak Revolusi Kebudayaan 1966. Meski semenjak meninggalnya Mao Zedong pada 1976 yang disusul tersingkirnya Kelompok Empat, dengan Jiang Jing, istri Mao, sebagai tokoh sentral, negeri itu menjadi lebih terbuka, tetap saja dunia luar tak tahu banyak tentang apa yang berada di dalamnya - kecuali bahwa Deng Xiaoping pernah berkata "Mau kucing putih atau kucing belang, pokoknya bisa menang kap tikus. "
Film Sebagai Seni Wibawa, Budi
IMAJI No. 1 (2005): Antara Melihat dan Membaca
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seni ataupun kesenian merupakan bagian dari kebudayaan. Kata seni berasal dari bahasa Latin: ars, artis yang berarti keterampilan, dalam bahasa Inggris: art. Secara harfiah, seni dapat diartikan sebagai ‘perbuatan apapun yang dilakukan dengan sengaja dan maksud tertentu yang mengacu pada apa yang indah’ atau bisa juga disederhanakan menjadi; ‘kreasi manusia yang memiliki mutu atau nilai-nilai keindahan. Namun demikian definisi ini masih sangat sederhana dan memiliki pengertian yang terlalu luas. Jika kita hanya berpedoman pada definisi sederhana ini, maka pada dasarnya semua hasil karya (budidaya) manusia dapat kita golongkan sebagai seni, sebab pada dasarnya setiap manusia tentu selalu menginginkan yang terbaik dan terindah bagi dirinya, termasuk bagi semua yang ingin ia kerjakan/hasilkan.
Eksperimental Dalam Film: Sebuah Tinjauan Historis Rizal, Faozan
IMAJI No. 1 (2005): Antara Melihat dan Membaca
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kita sering mendengar tentang istilah film eksperimental. Sebenarnya apa yang dimaksud dengan film eksperimental ? atau lebih tepatnya lagi, apa yang di-eksperimental-kan? Mengingat bentuk film lebih kepada kesenian dari pada ilmu pengetahuan (science). Kata eksperimental memang lebih dekat dengan dunia ilmu pengetahuan dan hal ini lebih disebabkan karena eksperimentasi memang merupakan salah satu metode dalam riset ilmu pengetahuan.
Dari “Sesame Street” menuju “Crime Street” Rukmananda, Naratama
IMAJI No. 1 (2005): Antara Melihat dan Membaca
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Joan Ganz Cooney adalah seorang maestro wanita di bidang pertelevisian Amerika Serikat. Sebagai Produser dan Sutradara Program Acara TV, Cooney dikenang dengan karya-karyanya yang non komersial, mendidik, cinta budaya dan mementingkan kepentingan publik. Pada tahun 1967, Cooney bersama-sama dengan Kreator Acara Televisi, Jim Henson mengejutkan pasar industri televisi dunia dengan karyanya "The Sesame Street", sebuah acara panggung boneka yang awalnya ditujukan untuk anak anak pra-sekolah, khususnya yang masih berumur dibawah lima tahun. Sesame Street ditujukan untuk menyadarkan kaum urban, perantau dan khususnya Afro American (kulit hitam) yang hidup di jalan-jalan kumuh kota New York. Mereka sangat tidak membutuhkan pendidikan karena pendidikan perlu uang.
Apakah Film Itu? Sebuah Perspektif Bazinian Ariansah, Mohamad
IMAJI No. 1 (2005): Antara Melihat dan Membaca
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu debat klasik dalam sejarah tentang esensi film terjadi antara dua paradigma teori film. Di satu sisi terdapat Sergei Eisenstein yang menjadi wakil utama sebuah tradisi formalisme, sementara di sisi lainnya muncul Andre Bazin mewakili kubu realisme dalam teori film.

Page 8 of 20 | Total Record : 200


Filter by Year

2005 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 16 No. 3 (2025): Imaji Visual dalam Ruang, Waktu, dan Memori Vol. 16 No. 2 (2025): Film, Masyarakat, Teknologi, dan Identitas Budaya Vol. 16 No. 1 (2025): Identitas dalam Sinema Indonesia Vol. 15 No. 3 (2024): Ruang, Penonton, dan Wacana Sinematik Vol. 15 No. 2 (2024): Fotografi, Bahasa Visual dan Eksotisme Vol. 15 No. 1 (2024): Arsip, Wacana Visual & Film Eksperimental Vol. 14 No. 3 (2023): Suara & Imaji yang Berkelindan Vol. 14 No. 2 (2023): Fotografi, Riwayatmu Hingga Kini Vol. 14 No. 1 (2023): Antara Struktur dan Bahasa Visual Vol. 13 No. 3 (2022): Menuju Layar Personal sebagai Budaya Baru Menonton Vol. 13 No. 2 (2022): Wawancara dan Kedalaman Penelitian Media Audio Visual Vol. 13 No. 1 (2022): Merayakan dan Dirayakan Melalui Sinema Vol. 12 No. 3 (2021): Membingkai Realitas melalui Imaji Visual Vol. 12 No. 2 (2021): Panorama Mengamplifikasi Gagasan melalui Media Audio-Visual Vol. 12 No. 1 (2021): Sinema dan Wacana Vol. 11 No. 2 (2020): Sinema, Ideologi, dan Kritik Sosial Vol. 11 No. 1 (2020): Bentuk, Gaya, dan Persepsi Penonton Vol. 10 No. 2 (2018): Karakter dan Konsep-Konsep Psikoanalisis dalam Film Vol. 10 No. 1 (2018): Teknologi dan Storytelling dalam Medium Audio-Visual Vol. 9 No. 1 (2017): Mitos dalam Film dan Televisi Vol. 8 No. 1 (2016): IMAJI Vol. 5 No. 2 (2013): IMAJI Vol. 5 No. 1 (2013): IMAJI Vol. 4 No. 2 (2012): IMAJI Vol. 4 No. 1 (2012): IMAJI No. 6 (2011): IMAJI No. 5 (2009): IMAJI No. 4 (2008): IMAJI No. 3 (2007): IMAJI No. 2 (2006): Dimana Posisi Kritik Sinema Indonesia? No. 1 (2005): Antara Melihat dan Membaca More Issue