cover
Contact Name
Riana Nurhayati
Contact Email
riana_nurhayati@uny.ac.id
Phone
+6282223111133
Journal Mail Official
herwin89@uny.ac.id
Editorial Address
Jalan Colombo No 1, Karangmalang, Sleman DI Yogyakarta
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
FOUNDASIA
ISSN : 14122316     EISSN : 27462307     DOI : https://doi.org/10.21831/foundasia
Core Subject : Education, Social,
FOUNDASIA is an open access, and peer-reviewed journal. FOUNDASIA will publish the selected articles under the Attribution-Share Alike 4.0 International Creative Commons license. The results of research and analysis contained in the journal accommodate manuscripts on foundations of education include: philosophy of education, socio-anthropology of education, educational psychology, educational economics, educational history, political education, and comparative education.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol. 2 No. 10 (2010)" : 8 Documents clear
KETRAMPILAN BERTANYA GURU DALAM MENGELOLA PROSES BELAJAR MENGAJAR YULIANA, LIA
FOUNDASIA Vol. 2 No. 10 (2010)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/foundasia.v2i10.5841

Abstract

Keterampilan bertanya adalah keterampilan yang tidak dapat dipisahkan dalam kegiatan belajar mengajar, karena metode apapun, tujuan pengajaran apapun yang ingin dicapai clan bagaimana keadaan siswa yang dihadapi, maka bertanya kepada siswa mcrupakan hal yang tidak dapat ditinggalkan. Mengajukan pertanyaan kepada siswa tidaklah mudah, perlu adanya latihan sehingga guru dapat menguasai dan melaksanakan keterampilan bertanya pada situasi yang tepat. Mcmberi pertanyaan secara efektif dan efisien akan dapat menimbulkan perubahan tingkah laku, baik pada guru maupun dari siswa. Perubahan terjadi ketika guru yang sebelumnya selalu aktif memberi informasi justru menjadi guru yang banyak mcngundang interaksi siswa, sedangkan dari siswa yang sebelumnya secara pasif mendengarkan keterangan guru akan bcrubah menjadi banyak berpartisipasi dalam bertanya, menjawab pertanyaan dan mengemukakan pendapat. Hal ini akan menimbulkan adanya cara belajar siswa aktif yang berkadar tinggi. Untuk lebih memudahkan guru dalam menggunakan keterampilan bertanya, hendaknya seorang guru mengetahui kegunaan dari penggunaan keterampilan bertanya. Dengan demikian siswa menjadi aktif dalam proses belajar mengajar clan hal tersebut akan berdampak positif pada prestasi belajar siswa.
PENDIDIKAN POLITIK NASIONALIS RELIGIUS PURWASTUTI, LUSILA ANDRIANI
FOUNDASIA Vol. 2 No. 10 (2010)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/foundasia.v2i10.5836

Abstract

Daftar panjang berbagai kerusuhan yang bernuansa SARA, separatisme, dan konflik horizontal menjadi cacatan sejarah suram bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia sejak awal kernerdekaan sampai saat ini. Salah satu penyebab dari masalah tersebut, selain terjadinya ketidakadilan dalam praktik kehidupan bernegara, adalah pemahaman yang kurang terhadap dasar negara Indonesia Pancasila yang berciri nasionalis-religius. Pencarian formulasi sudah dimulai sejak para bapak bangsa berusaha menetapkan dasar negara yang hendak dipakai oleh negara Indonesia yang akan merdeka. Pemahaman yang mendalam terhadap ciri negara yang nasionalis-religius dapat dilakukan melalui pendidikan politik pada masyarakat. Pendidikan politik yang berbasis nilai nasionalis-religius disosialisasikan dan ditransformasikan baik kepada masyarakat umum maupun sekolah pada tingkat taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi. Penanaman nilai-nilai cinta tanah air, bela negara persatuan, cinta kasih, perdamaian. toleransi, kepedulian, keimanan, ketaqwaan, dan kesucian menjadi tanggung jawab semua guru/dosen. Strategi pendidikan politik yang digunakan di sekolah adalah pendekatan komprehensif, yang meliputi: perbaikan kurikulum mata kuliah Pendidikan Agama. Pendidikan IPS dan Kewarganegaraan di tingkat pendidikan dasar sampai perguruan tinggi, dan pendekatan pembelajaran yang induktif partisipatif. Kerjasama dapat dilakukan dengan orang tua murid, ulama, dan tokoh masyarakat untuk mewujudkan ,nilai-nilai nasionalis-religius dalam kehidupan nyata, terutama dengan menjadi teladan bagi para peserta didik.
PENGARUSUTAMAAN HAK ANAK DI SEKOLAH UNTUK MENCEGAH KEKERASAN EFIANINGRUM, ARIEFA
FOUNDASIA Vol. 2 No. 10 (2010)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/foundasia.v2i10.5837

Abstract

Kekerasan di sekolah dan institusi pendidikan lainnya menunjukkan sisi buram pendidikan. Kekerasan merupakan perbuatan yang tidak dapat ditolerir, karena selain mencabik-cabik kemanusiaan, juga mengganggu kenyamanan orang lain. Walaupun Indonesia telah meratifikasi Konvensi Hak Anak (KHA) dan bahkan memiliki Undang-undang Perlindungan Anak (UUPA), belum menjamin bahwa hak-hak anak sudah dipenuhi dengan baik. Pemerintah perlu mensosialisasikan UUPA di sekolah untuk meningkatkan sensitivitas guru terhadap perilaku bertendensi kekerasan. Sekolah juga perlu mempromosikan hak-hak anak di sekolah dengan memberikan layanan yang terbaik bagi siswa di sekolah. Kepala sekolah, guru, dan karyawan di sekolah dapat secara bersama-sama bersinergi untuk tujuan tersebut. Jika warga sekolah memiliki persepsi negative terhadap kekerasan, tentunya akan menghindari perbuatan yang mengarah pada kekerasan terhadap siswa. Dengan demikian, tindak kekerasan di sekolah dapat diminimalisir bahkan dieliminir.
UPAYA PENGAWAS SEKOLAH UNTUK MENINGKATKAN PELAYANAN PRIMA PURWANTO, NURTANIO AGUS
FOUNDASIA Vol. 2 No. 10 (2010)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/foundasia.v2i10.5838

Abstract

Layanan prima saat ini telah menjadi kebutuhan. Masyarakat memandang kualitas sebuah organisasi antara lain ditentukan oleh kualitas layanan yang diberikan. Pelayanan berkaitan dengan fungsi melayani kebutuhan orang akan barang dan atau jasa, sesuai dengan apa yang dibutuhkan dan diharapkan. Dalam konteks tersebut, terdapat tiga unsur dalam konsep pelayanan, yaitu siapa yang memberi pelayanan, siapa yang diberi pelayanan, dan apa yang menjadi fokus kebutuhan pelayanan. Pengawas sekolah merupakan pemimpin bagi lingkungan sekolah yang berbeda-beda. Ada kalanya pengawas sekolah dalam bekerja terlihat berperilaku kurang senyum, sering marah, bahkan otoriter, yang sebenarnya telah merugikan dirinya sendiri dan lembaga. Secara pribadi, seseorang dalam kondisi tersebut sedang mengalami penyakit psikologis dan lambat laun menjadi psikosomatis yang akan menyerang fisiknya. Dampaknya, pengawas sekolah akan merasa sulit untuk memberikan pelayanan yang baik terhadap orang lain dalam lingkup kerjanya. Dengan demikian, pengawas sekolah belum mampu memberikan jaminan kepastian mutu (quality assurance) melalui pelayanan jasa terhadap pelanggan lembaganya.
KEEFEKTIFAN KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN KINERJA GURU DI SEKOLAH WAHYUNINGRUM, MM
FOUNDASIA Vol. 2 No. 10 (2010)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/foundasia.v2i10.5839

Abstract

Kepemimpinan merupakan salah satu variabel yang dapat mempengaruhi kinerja. Kepala sekolah sebagai pernimpin adalah orang yang mempunyai kemampuan mempengaruhi guru dan staf untuk melakukan pekerjaannya sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Pencapaian tujuan tersebut dapat dilihat dari peningkatan kinerja guru. Kepemimpinan kepala sekolah dapat dilakukan dengan menerapkan fungsi-fungsi menejemen dalam merencanakan, mengorganisir, dan mengevaluasi visi, misi, clan tujuan sekolah yang sudah ditetapkan secara bersama. Kinerja guru merupakan kualitas dan kuantitas yang dicapai dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik dan pengajar secara bertanggung jawab. Kinerja merupakan penyelesaian tugas-tugas yang dilimpahkan kepala sekolah kepada guru. Tugas guru dapat dibedakan menjadi dua yaitu bidang akademik yang berkaitan dengan proses pembelajaran dan adminiatrasi. Keberhasilan kepemimpinan kepala sekolah dalam memimpin sekolahnya ditunjukkan oleh meningkatnya kesadaran para guru untuk meningkatkan kinerjanya, meningkatnya ketrampilan guru dalam melaksanakan tugas pembelajaran, meningkatnya prestasi guru secara professional, dan meningkatnya prestasi belajar peserta didiknya.
MENAKAR POTRET REALITAS DAN IDEALITAS KUALITAS SEKOLAH ROHMAN, ARIF
FOUNDASIA Vol. 2 No. 10 (2010)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/foundasia.v2i10.5834

Abstract

Banyak ahli mensinyalir bahwa ada persoalan dengan sekolah. Aneka kesulitan yang dialaminya antara lain menyangkut drug use, early pregnancy, delinquency, dan school failures. Salah satu yang termasuk school failures adalah kesulitan dalam menyelenggarakan proses belajar mengajar efektif. Proses ini hanya dapat dilakukan oleh sekolah berkualitas. Pandangan awam, sekolah berkualitas adalah sekolah dengan kemegahan gedung, keluesan den keindahan area lingkungan, secara kelengkapan fasilitas serana dan prasarananya. Namun oleh pare ahli, sekolah berkualitas lebih ditentukan pada kualitas proses belajar mengajar yang dapat menghasilkan lulusan berkualitas. Kualitas proses belajar mengajar ditentukan oleh enam faktor dan gabungan dari kesemuanya, yaitu: teacher's behavior, student's behavior and learning impact, learning climate, subject matters mastery, media, dan learning system. Untuk meningkatkan kualitas sekolah, dewasa ini terdapat dua gerakan yaitu School effective Movement oleh Mortimor dan kawan-kawan dan The Quality School Movement oleh William Glasser den kawan-kawan. Masing-masing memiliki pendekatan, cara, dan indikator yang berbeda.  
LANDASAN FILSAFAT MANUSIA DALAM PENGEMBANGAN ILMU PENDIDIKAN DI INDONESIA YATI, RUKI
FOUNDASIA Vol. 2 No. 10 (2010)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/foundasia.v2i10.5840

Abstract

Ilmu pendidikan dan pendidikan di Indonesia memang menunjukkan perkembangan yang tidak selalu seiring sejalan. Dapat dikatakan bahwa praktik pendidikan yang dilakukan berjalan dalam keadaan "business as usual". Secara filosofis, pendidikan di Indonesia berdasarkan filsafat Pancasila Faktanya, pendidikan dilndonesia berlangsung selama ini tanpa pernah dipersoalkan landasan teoritiknya. Artinya, ilmu pendidikan kurang dikembangkan di Indonesia. Pendidikan di Indonesia dijalankan dengan lebih banyak meminjam (borrowing) atau mencangkok ide-ide (teori) dan praktik pendidikan dari luar tanpa memperhatikan konteks sosio-kultural masyarakat Indonesia dan nilai-nilai khas Indonesia Pendidikan dengan cara mencangkok tampaknya lebih disukai oleh para pengambil kebijakan clan praktisi pendidikan di Indonesia. Sebenarnya, fenomena pencangkokan sistem, metode, model pendidikan merupakan gejala umum yang terjadi di mana-mana, bukan hanya Indonesia. Tetapi, bila tidak ditindaklanjuti dengan upaya "pribumisasi" berbagai teori dan praktik yang diambil tersebut, maka praktik pendidikan berjalan tanpa arah yang jelas. Oleh sebab itu ilmu pendidikan yang berciri khas Indonesia perlu dikembangkan terus.
MEMAKSIMALKAN PERAN HUMAS DI LEMBAGA PENDIDIKAN ANAK USIA DINI CAHYA NINGRUM, EKA SAPTI
FOUNDASIA Vol. 2 No. 10 (2010)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/foundasia.v2i10.5835

Abstract

Pendidikan yang diberikan kapada anak sebelum memasuki sekolah dasar merupakan salah satu alternatif yang harus dikembangkan dalam mempersiapkan anak menuju wajib belajar pendidikan dasar (9 tahun). Pendidikan dan perhatian terhadap anak pada usia 0-6 tahun sangat membantu perkembangan sosial, emosi, fisik, den kognitif anak. Perhatian terhadap pcrkembangan anak sejak dini sangat menentukan perkembangan anak secara menyeluruh. Sebelum memasuki pendidikan formal di bangku sekolah dasar, anak-anak perlu orientasi di bangku prasekolah. Persiapan ini bisa dilakukan melalui pendidikan formal (TK), nonformal (TPA & KB), maupun informal            (Keluarga). Pada sisi yang lain pemerintah melindungi hak anak mendapatkan layanan pendidikan. Ini terbukti pada pasal 28 Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang mengatur PAUD, namun implementasinya di lapangan masih jauh dari apa yang diharapkan. Proporsi antara lembaga pendidikan anak usia dini di Indonesia didominasi oleh masyarakat, mencapai lebih dari 80% dengan variasi biaya pendidikan mulai dari yang sangat murah hingga yang sangat mahal. Penyebaran lembaga pendidikan anak usia dini di Jawa relatif merata, sedangkan di luar Jawa cenderung berada di daerah-daerah yang maju. Tingginya lembaga pendidikan anak usia dini yang difasilitasi oleh masyarakat menunjukkan dukungan berbagai dari pihak untuk pengembangan lembaga PAUD. Hubungan masyarakat dalam hal ini menjadi sebuah keharusan mengingat banyaknya kebutuhan pengembangan berkelanjutan. Keberhasilan hubungan dengan masyarakat pada lembaga pendidikan menentukan dukungan masyarakat dalam hal pendanaan maupun pemikiran dan perhatian untuk menjaga kelangsungan lembaga sekaligus meningkatkan kualitasnya.

Page 1 of 1 | Total Record : 8