cover
Contact Name
Muhammad Zuhurul Fuqohak
Contact Email
hermeneutik@stainkudus.ac.id
Phone
+6285326311019
Journal Mail Official
hermeneutik@stainkudus.ac.id
Editorial Address
Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kudus, Jl. Conge Ngembalrejo PO.BOX 51 Kudus, Jawa Tengah, Indonesia
Location
Kab. kudus,
Jawa tengah
INDONESIA
Hermeneutik : Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
ISSN : 19077246     EISSN : 25026402     DOI : http://dx.doi.org/10.21043/hermeneutik
We accept scholarly article that the subject covers textual and fieldwork studies with various perspectives of Quranic Studies Quranic Exigesis Studies Philology Studies Ulumul Qur`an Living Qur`an
Articles 223 Documents
QIRAT SAB’AH: Pemaknaan dan Varian Bacaannya
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 8, No 1 (2014): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v8i1.906

Abstract

Tema ini membahas tentang qira>’a>t sab’ah. Qira>’a>t merupakanmerupakan suatu aliran dalam melafalkan al-Qur’an yangdipelopori oleh seorang imam qira’a > t > yang berbeda dari pembacaanimam-imam yang lain, dari segi pengucapan huruf-huruf atauhaiah-nya tapi periwayataan qira>’a>t tersebut darinya serta jaluryang dilaluinya disepakati. Dalam kajian ilmu tafsir, terdapat tujuhqira’a > t al-Qur’an > , yang kemudian disebut qira>’a>t sab’ah. Tujuan daripembahsan ini adalah untuk mengetahui perbedaan qira>’a>t yangbersumber dari hadis Nabi Muhammad Saw. yang mempunyaiderajat mutawatir. Hadis ini mengandung berbagai interpretasidi kalangan ahli qira>’a>t. Untuk itu penulis menggunakan pisauanalisis teks critical. Hasilnya adalah menemukan pemahaman yanglebih komprehensif terhadap hadis tersebut (sab’atu ah} ruf) ialahtujuh segi, yaitu: segi i’rab, segi perbedaan huruf, segi perbedaanisim, taqdi>m dan ta’khi>r, segi penambahan atau pengurangansuatu huruf, dan segi lahjah. Makalah ini akan mengupas tentangmaksud dari sab’atu ah} ruf dan apakah sab’atu ah} ruf itu berlakuhingga sekarang.
Al-Quran dan Penciptaan Perempuan dalam Tafsir Feminis
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 12, No 1 (2018): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v12i1.6023

Abstract

This article discusses the position of women who are considered subordinate to men, the second creation and the second sex is caused by the Qur’anic interpretation about the creation of women in Surat al-Nisa 'verse 1. On this basis, feminist interpretations made by Muslim feminist figures. They are trying to straighten out the understanding of the Qur'an by reinterpreting the Qur'an which are at odds with maqashid al-shari'ah in order to uphold the egalitarian principle. This paper uses a comparative method of eight models and types of Indonesian and outside feminist interpretations both men and women. The results of this study concluded that of the eight Muslim feminists had different approaches and distinctive styles according to the interpreter's background. Although different, the feminist interpretation produces the same interpretation of Surat al-Nisa' verse 1, namely the principle of gender equality because men and women are created from the same elemental substance, namely land. The existence of both of them to complement each other.
MENELISIK GAGASAN TAFSIR ABU AL-HAMID AL- GAZALI DALAM KITAB JAWAHIR AL-QURAN
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 9, No 2 (2015): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v9i2.871

Abstract

Artikel ini mengelaborasikan gagasan tafsir Abu> H} ami>d Al-Gaza>li>yang selama ini lebih terkenal sebagai fiosof dan sufi denganmemfokuskan pada karyanya Jawa>hir Al-Qur’a>n. Al-Qur’an yangmerupakan kitab suci umat Islam memiliki posisi tersendiri di hatidan pikiran Al-Gaza>li>. Kecintaan Al-Gaza>li> terhadap fisafat dantasawuf juga didasari oleh kecintaannya terhadap al-Qur’an. Inidikarenakan menurutnya, hanya al-Qur’an sajalah yang menjadipenuntun dan pengingat tujuan hidup manusia. Temuan kajian iniadalah bahwa corak penafsiran yang dibangun oleh Al-Gaza>li> tidakdapat dilepaskan dari pemikiran tasawufnya. Baginya, al-Qur’anmemiliki dimensi zhahir dan dimensi batin. Oleh karenanya, iamenekankan untukmembaca dan menyelami makna al-Qur’an,bukan hanya makna zhahirnya, melainkan juga makna batinnya.Ia sekaligus menyarankan untuk berusaha meraih amalan batindari setiap ayat yang dibacanya, bahkan diupayakan bahwa setiappemahaman, melahirkan kekayaan batin dan kesadaran dirimenuju ma’rifatulla>h. Surah al-Fa>tih} ah memiliki keistimewaantersendiri bagi Al-Gaza>li> bahwa surah ini merupakan surahyang paling utama dalam al-Qur’an. Menurutnya, al-Fatihah mengandung delapan substansi esensial yang menjadi kunci surga yaitu: z\ a>t, sifat, af’a>l, penyebutan hari akhirat, s} irat} almustaqi>mdengan dimensi-dimensinya, yakni pembersihan dan  periasan jiwa, penyebutan nikmat terhadap para kekasih Allah,amarah terhadap musuh-musuh Allah, dan penyebutan tempatkembalinya umat manusia.
Pemikiran Muhammad Syahrur
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 10, No 2 (2016): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v10i2.4790

Abstract

Dinamika kajian al-Qur’an sepertinya memang tidak akan pernah mengalami kejumudan. Dari masa ke masa selalu saja ada yang baru seputar kajian al-Qur’an ini. Hal itu tidak terlepas dari faktor sosiokultural dan sosiopolitis yang mengikat para mufassir yang menginterpretasikan al-Qur’an pada masanya.Selain itu latar belakang (pendidikan) para penafsir tentu sangat mempengaruhi model dan corak penafsiran mereka. Seorang faqih misalnya, akan menafsirkan al-Qur’an dengan coraknya yang bernuansa hukum. Begitu pula seorang filsuf, sufi maupun pakar linguistik. Adalah Muhammad Syahrur, seorang intelektual Muslim asal Syria yang mencoba menawarkan teori batas (limit/ hudud) dalam memahami al-Qur’an. Terma limit (hudud) yang digunakan Syahrur mengacu pada pengertian “batas-batas ketentuan Allah yang tidak boleh dilanggar, tapi di dalamnya terdapat wilayah ijtihad yang bersifat dinamis, fleksibel, dan elastis. Metode yang ia tawarkan tidak terlepas dari latar belakang ilmu yang ia pelajari dan ia kuasai, yaitu linguistik dan sains.
Komodifikasi Agama: Sebuah Kajian Tafsir Fenomenologis
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 10, No 1 (2016): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v10i1.3904

Abstract

Tulisan ini membahas tentang Komodifikasi Agama: Sebuah KajianTafsir Fenomenologis. Perlu diketahui bahwa realitas sosial yang adamenunjukkan bahwa agama sering kali dijadikan komoditas untukmenghasilkan uang. Komodifikasi agama merupakan isu yang ada disemua agama, yang dalam konteks agama Islam mendapat sorotanlangsung dari Al-Qur’an dan hadis. Tulisan ini mengulas diskursustentang komodifikasi agama dengan pendekatan fenomenologis. Selainargumentasi atas ketidakbolehan komodifikasi agama, tulisan inimemberikan contoh-contoh faktual bagaimana ajaran agama dijadikankomoditas ekonomi.
MANUSIA BERKUALITAS MENURUT AL - QUR’AN
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 7, No 2 (2013): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v7i2.929

Abstract

Al-Qur’an menggambarkan manusia sebagai makhluk pilihanTuhan, sebagai khalifah-Nya di muka bumi, serta sebagai makhluksemi-samawi dan semi duniawi, yang di dalam dirinya ditanamkansifat-sifat: mengakui Tuhan, bebas, terpercaya, rasa tanggung jawabterhadap dirinya maupun alam semesta; serta karunia keunggulanatas alam semesta, langit dan bumi. Manusia diberi kecenderunganjiwa ke arah kebaikan maupun kejahatan. Untuk menjadi manusiayang berkualitas maka seseorang harus memiliki kepribadian yangutuh (integrated personality), kepribadian yang sehat (healthypersonality), kepribadian yang normal (normal personality) dankepribadian yang produktif (productive personality), dan memilikietos kerja yang tinggi. Jika etos kerja dimaknai dengan semangatkerja, maka etos kerja seorang Muslim bersumber dari visinya,yaitu: meraih hasanah f dunya dan hasanah f al-akhirah. Jika etoskerja dipahami sebagai etika kerja, maka wujudnya bisa menjadisekumpulan karakter, sikap, mentalitas kerja. Oleh karena itu dalambekerja, seorang Muslim senantiasa menunjukkan kesungguhan.Tulisan ini merupakan salah satu upaya memberikan pencerahanmengenai manusia berkualitas dengan menggunakan sudutpandang al-Qur’an.
Kritik Epistemologis Tafsir Ishari Ibn ‘Arabi
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 14, No 1 (2020): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v14i1.6837

Abstract

Islamic interpretation is a method of Sufi interpretation based on the intuitive knowledge of a Sufi as a result of spiritual cultivation or riyadlah in climbing Sufistic stations (maqamat). Thanks to the riyadlah their inner eyes (bashirah) become clear so that they are able to capture the special sciences that come directly from Allah SWT. The Qur'an for them, besides having the meaning of zahir also has an inner meaning, which can only be understood by certain people of the Sufis, among whom is a Sufi-philosophical figure from Andalusia (Spain) named Shaykh al- Akbar Muhyiddin Ibn'Arabi. This paper is the result of library research (library research) which aims to criticize the epistemological foundation of Ibn ‘Arabi's interpretation.The approach in this study is a qualitative approach in the collection of data using documentary methods, and the analysis of data using descriptive-analysis methods. The findings of this study are that; a) The epistemology of Ibn Arabi ishari's interpretation is difficult to formulate, both the source, method, and systematics because the basic interpretation used is mystical intuition which is derived from divine inspiration which is subjective so that it appears inconsistent and not systematic. b) Normatively, the interpretation of ishari Ibn ‘Arabi, some of them fulfill the interpretation requirements specified by the scholars, but there are also those who do not meet the requirements, because they use ta'wil which is far from the meaning of zahir and is contradicted by most mufassirs. c) From the perspective of Sufism-Falsafi, Ibn ʻArabi's interpretation is entirely acceptable, given his capacity as a top-level Sufi-philosophy with the predicate khatam al-awliya ’.
AL-QUR’AN DAN TAFSIR DI PERGURUAN TINGGI KEAGAMAAN ISLAM
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 8, No 2 (2014): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v8i2.896

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mencari solusi atas kegelisahan prodiTafsir Hadis dalam menghadapi masalah pertemuan dengan sainsdan teknologi yang memunculkan permasalahan-permasalahansosial-kultural menjadi agenda yang harus dipikirkan dan dicarijalan keluarnya sehingga peran prodi ini tidak terus-menerusdipertanyakan. Sering dibahas bahwa ketidakberdayaan prodiTafsir Hadis menghadapi permasalahan tersebut adalah disebabkanstruktur keilmuan kurikulum Tafsir Hadis yang senyatanya kurangakomodatif dan akseptabel terhadap perkembangan sains danteknologi. Keilmuan kurikulum prodi Tafsir Hadis masih bersifatnormatif sedangkan permasalahan sosial-kultural yang munculmenuntut solusi yang berujung praktis. Selama ini, pendekatanProdi Tafsir Hadis hanya hanya pada ulu>mul Hadi>s, ulu>m alqur‘an, asba>b an-nuzu>l, asba>b al-wuru>d, dan lainnya. Sehinggamasih asing dengan sosiologi, politik, linguistik, fiika, kimia,biologi, dan lainnya.Oleh karena itu, atas dasar kerangka relasiagama dan sains maka rekonstruksi keilmuan Tafsir-Hadis harusmulai ditinjau ulang apakah tetap mempertahankan hubunganpertentangan (conflct), pemisahan (independence), denganberbagai kelemahannya atau beralih ke hubungan yang bersifatperbincangan (dialogue) dan perpaduan (integration), yangini membutuhkan penyiapan berbagai perangkat yang ada didalamnya. Ada dua pendekatan yang ditawarkan Barbour, yaitu:mengintegrasikan agama dan sains melalui jalur bahwa datailmiah meneguhkan adanya Tuhan; dan mengintegrasikan agamadan sains melalui keyakinan agama diuji sebagai pembuktiankesesuaiannya dengan sains.
MUDARASAH AL-QUR’AN SEBAGAI DIALOG SANTRI TAHFIDZ DENGAN AL-QUR’AN DALAM MENJAGA HAFALAN (STUDI LIVING AL-QUR’AN)
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 11, No 2 (2017): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v11i2.5563

Abstract

Kehadiran al-Qur’an di tengah-tengahn masyarakat menimbulkan kewajiban mempelajarinya dan bermacam variasi respon terhadapnya. Al-Qur’an yang sakral merupakan mukjizat Nabi Muhammad SAW melalui perantara Malaikat Jibril dan barang siapa yang membacanya bernilaisuatu ibadah. Al-Qur’an adalah kitab suci yang diturunkan oleh Allah SWT kepada hambanya yang dijaga kemurniannya dari pengurangan, penambahan dan penggantian huruf. Mengenai cara menjaga al-Qur’an, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah yaitu dengan cara menghafal. Dengan melihat pentingnya menghafal al-Qur’an, maka dewasa ini banyak orang yang berlomba-lomba dalam menghafal al-Qur’an, bahkan dalam menempuh hafalannya membutuhkan waktu yang tidak relatif lama. Adapun temuan penulis adalah mudarasah al-Qur’an sebagai wujud terima kasih kepada Allah yang telah memberikan karunia sehingga mampu menghafalkan al-Qur’an, selain itu juga sebagai kewajiban bagi para penghafal al-Qur’an untuk menjaganya yang apabila melupakannya mendapat dosa. Kemudian keutamaan al-Qur’an sebagai bentuk kemuliaan yang diberikan oleh Allah kepada hamba yang mau menghafalnya, dimaksudkan supaya meluruskan niat dengan keutamaan yang dijanjikan Allah, sebab menghafal al-Qur’an tentu banyak hambatan-hambatan yang akan dilalui oleh para penghafal al-Qur’an dalam mencapai puncak kemuliaan. Jika niat sudah lurus dan benar, maka ketika proses menghafal al-Qur’an tidak akan mudah goyah dengan berbagai rintangannya.
TAFSIR AL-QUR’AN TENTANG TEORI PENDIDIKA ISLAM: Persepektif Pendidikan Islam Di Indonesia
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 7, No 1 (2013): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v7i1.919

Abstract

Artikel ini berupaya membahas tentang pendidikan Islam ditinjaudari perpektif al-Qur’an dan realisasinya di Indonesia. Al-Qur’ansecara jelas memuat beberapa kalimat yang mengandung maknapendidikan, seperti darasa, rabb, ‘alima, dan faqiha.Manusia tentumembutuhkan segala pengetahuan sehingga dapat melaksanakanmandat Allah sebagai khalifah f al-ardhsecara tepat. Manusiaadalah makhluk yang efiien dalam menyampaikan gagasangagasannya kepada individu lain. Manusia juga memiliki bekalkecakapan yang memungkinkan dirinya untuk berpikir danberpengetahuan. Al-Qur’an juga menegaskan pentingnyamenggunakan kemampuan berpikir tentang dirinya sendiri,tumbuh-tumbuhan, bumi, langit, hewan dan sebagainya, sehinggatujuan pendidikan Islam dapat tercapai yang meliputi pencapaiankesempurnaan manusia yang puncaknya adalah kedekatan kepadaAllah Swt., dan perolehan kesempatan manusia yang puncaknyaadalah kebahagiaan dunia dan akhirat. Pendidikan di Indonesiasebenarnya telah banyak mengalami perubahan atau pembaharuanagar produk pendidikan tetap relevan dengan segala kebutuhanbaik kebutuhan dunia kerja ataupun prasyarat pendidikan lanjut.Namun meskipun perkembangan pendidikan di Indonesiasecara kuantitatif mengalami kemajuan, tetapi pemberdayaanmasyarakat secara luas sebagai cermin dari keberhasilan itu, masihsulit terealisasi, karena sistem pendidikannya masih terkungkung dalam paradigma-paradigma yang tunduk pada kekuasaan otoriterdan memperbodoh rakyat, terlebih ketika orde baru berkuasa.

Page 1 of 23 | Total Record : 223


Filter by Year

2013 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 19, No 2 (2025): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 19, No 1 (2025): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 18, No 2 (2024): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 18, No 1 (2024): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 17, No 2 (2023): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 17, No 1 (2023): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 16, No 2 (2022): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 16, No 1 (2022): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 15, No 2 (2021): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 15, No 1 (2021): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 14, No 2 (2020): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 14, No 1 (2020): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 13, No 2 (2019): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 13, No 1 (2019): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 12, No 2 (2018): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 12, No 1 (2018): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 11, No 2 (2017): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 11, No 1 (2017): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 10, No 2 (2016): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 10, No 1 (2016): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 9, No 2 (2015): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 9, No 1 (2015): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 8, No 2 (2014): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 8, No 1 (2014): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 7, No 2 (2013): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 7, No 1 (2013): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir More Issue