Articles
223 Documents
Khataman Qur’an Pra-Acara Alako Gebhai Desa Grujugan, Sumenep, Media Untuk Menangkal Bala’ Dan Memperoleh Berkah
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 13, No 2 (2019): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v13i2.6354
This paper to dercribe the practice of khataman Qur'an in the Pra-Acara Alako Gabhai tradition practiced by Grujugan, Sumenep, Madura island society ethnographically, in order to find its meaning. Based on the interpretation (Externalization, Objectification, and Internalisation) of cultures theory found out that interpreted the Grujugan society recognizes the concepts that are based on the religious basis, which has ultimate meaning as a way to get the salvation and blessings. These concepts were then believe as the true and real, which then formulated into various syimbols in the Grujugan tradition. These symbols have the full meaning that returns to those concepts and suggested living traditions or action tradition, which is delivered persuasively by Kyai. Through those concepts people were then motivated to perform khataman Qur'an in the Pra-Acara Alako Gabhai tradition. The practice of this tradition was able to create reseption and moods of a person, which then reflected into the daily life, felt as if to justify the existing concepts, so that the feeling is uniquely realistic
STUDI KRITIS TERHADAP IDE KHALED ABOU AL- FADL DALAM SPEAKING IN GOD’S NAME
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 9, No 1 (2015): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v9i1.887
Penulisan artikel ini dilatarbelakangi adanya pemikiran Khaled Abou el-Fadl yang menjadi kontrovesi di belahan dunia Islam. Abou el-Fadl banyak membincang tentang ide munculnya komunitas mufassir. Tujuan penulisan ini mengungkap lebih lanjut tentang asal-usul munculnya pemegang otoritas makna al-Qur’an atau kemudian populer dengan istilah komunitas mufassir dengan mengungkap gagasan yang ada di balik tulisan Khaled Abou El-Fadl dalam sebuah karyanya yang berjudul Speaking in God ‘s Name: Islamic Law, Authority, and Women. Secara berturut-turut akan dibahas tentang potret hidup khaled, profi karya Speaking in God ‘s Name, manusia sebagai khalifah, otoritas dan otoritarianisme, mufassir sebagai pemegang otoritas makna al-Qur’an. Hasil dari penulisan artikel ini adalah manusia sebagai khalifah idealnya mampu menafsirkan dalam upaya membreakdown kehendak, keinginan, aturan, ataupun instruksi Allah yang telah terangkum dalam kitab suciNya, al-Qur’an, untuk memakmurkan penghuni seluruh alam semesta. Kenyataannya sebagian manusia tidak mempunyai kemampuan ataupun kesempatan untuk melaksanakan tugas penafsiran tersebut sehingga sebagian manusia melimpahkan tugas dan wewenang ini pada sebagian manusia yang lain yang dianggap expert karena memiliki kompetensi di bidang ini yakni mufassir. Sebagian manusia yang melimpahkan tugas dan wewenang percaya dan yakin jika mufassir yang menerima limpahan telah memenuhi kejujuran (honesty), kesungguhan (diligence), pengendalian diri (self restraint), kemenyeluruhan (comprehensiveness), rasionalitas (reasonableness).
Fungsi Asbabun Nuzul Dalam Tafsir Maroh Labid
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 13, No 1 (2019): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v13i1.5542
Diskursus asba>b al-nuzu>l merupakan diskursus yang tidak dapat ditinggalkan dalam kajian ‘ulu>mul qur’an. Terdapat 3 pandangan besar mengenai urgensi diskursus tersebut, yaitu 1) yang mengatakan bahwa mengetahui asba>b al-nuzu>l merupakan alat bantu dalam memahami makna al-Qur’an; 2) yang mengatakan bahwa mengetahui asba>b al-nuzu>l merupakan hal yang sia-sia dan sama halnya dengan membatasi pesan-pesan al-Qur’an dalam ruang dan waktu; 3) yang mengatakan bahwa mengetahui asba>b al-nuzu>l merupakan keharusan.Dalam konteks karya tafsir Nusantara, salah satu tafsir yang menggunakan uraian asba>b al-nuzu>l ialah kitab tafsir Mara>h} Labi@d karya Syaikh Nawawi@ al-Bantani@. Dalam tafsirnya tersebut, khusus dalam surah al-Baqarah, terdapat 42 uraian asba>b al-nuzu>l. Sebagai contoh dalam Q.S. 2:115, uraian asba>b al-nuzu>l digunakan Syaikh Nawawi@ al-Bantani@ untuk menjelaskan dan menentukan makna ayat tersebut. Selain itu, terdapat juga upaya memberikan gambaran konteks makro ayat dan mengkontekstualisasikannya sesuai kondisi masyarakat sekarang. Penelitian ini akan dibagi ke dalam tiga analisis, yaitu berdasarkan tema, fungsi, dan ta’addud al-riwa>ya>t. Penelitian ini menggunakan klasifikasi fungsi asba>b al-nuzu>l oleh al-Zarqa>ni@. Penelitian ini difokuskan pada uraian asba>b al-nuzu>l dalam tafsir Mara>h} Labi@d khususnya dalam surah al-Baqarah.
METODE TAFSIR INKLUSIF: Upaya Membedah Eksklusivitas Interpretasi Al-Qur’an
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 8, No 1 (2014): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v8i1.911
Artikel ini membahas tentang metode inklusif, yaitu sebuahmetode penafsiran yang menghasilkan produk penafsiran yangterbuka terhadap segala persolan dinamika sosial. Tujuannyaadalah untuk memberikan respon atas kebutuhan masyarakatterhadap berbagai penyelesaian problematika kehidupan sosialyang memiliki nilai-nilai flksibilitas dalam melihat persoalan.Tulisan ini menggunakan metode historis untuk membedahberbagai persoalan penafsiran. Sehingga mendapatkan suatu hasilproduk penafsiran yang mencerahkan di tengah-tengah pluralitaskehidupan sosial keagamaan. Hal ini sangat penting mengingatbangsa Indonesia adalah salah satu negara yang sangat terkenaldengan kemajemukannya. Inklusifias penafsiran diperlukanuntuk menetralisir segala bentuk hasil penafsiran yang eksklusiftekstualis yang dapat merusak keharmonisan kehidupan yangpluralis.
EPISTIMOLOGI TAFSIR SYU’BAH ASA
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 9, No 2 (2015): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v9i2.876
Epistemologi tafsir merupakan disiplin ilmu yang berusaha untuk mengungkap pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang teori ilmu pengetahuan tentang tafsir. Bagaimana sebuah karya tafsir dapat diuji kebenarannya berdasarkan norma epistemik. Artikel ini mencoba mengeksplor karya tafsir Syu’bah Asa merupakan salah satu karya dari sederet karya-karya tafsir kontemporer yang lahir di zaman orde baru. Arah visi, gerakan dan wacana yang dikembangkan tafsir ini telah memberikan muatan kritis dan perlawanan terhadap zaman orde baru. Penelitian ini menggunakan studi kepustakaan dengan metode deskriptis analitis mengungkap epistemologi tafsir karya Syu’bah Asa, yang berjudul Dalam Cahaya al-Qur’an : Tafsir Ayat-Ayat Sosial Politik. Dalam menulis karya tafsirnya, Syu’bah Asa menggunakan metode tematik. Tema-tema yang diangkat adalah tema-tema yang aktual dan faktual sesuai dengan peristiwa yang terjadi saat tafsir itu ditulis. Sumber tafsir yang digunakannya sangat beragam seperti sumber al-Quran, hadis, a > sbab an-nuzu > >l, ijtihad mufassir, kitab-kitab tafsir klasik seperti al-Kasysyaf karya al- Zamakhsyari, Mafa>tih} al-G} aibkarya Fakhruddin ar-Ra>zi, tafsir al-Baidawi beserta kitab-kitab tafsir lainnya. Syu’bah Asa juga merujuk pendapat para ulama> dalam hal kebahasaan dan qiraat.. Sumbangan paling berharga > Syu’bah Asa dalam karya tafsirnya adalah sikapnya yang kritis pada pemerintahan orde baru dalam petunjuk cahaya al-Quran sehingga terwujud masyarakat Indonesia yang madani dan diridhai Allah.
Kode Etik Tata Kelola Laut Dalam Al-Qur'an
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 10, No 2 (2016): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v10i2.3909
Urgensi Pendekatan Hermeneutik Dalam Memahami Al-Qur’an
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 14, No 2 (2020): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v14i2.7916
The way to understand the Qur'an and understand the meaning or content in the Qur'an is to understand the editorial of the Qur'an directly. In this way, we will be able to feel (tadzawwuq) the pulses of the Qur'an's description that are so beautiful and charming. However, because not all Muslims are able to understand the editorial of the Qur'an directly it needs to be translated into other languages. This understanding of the Qur'an uses the study of the hermeneutic method which is from time to time has experienced significant developments in qualitative research, including being a stream of philosophical science and applied in the humanities (social humanitarian) sciences, namely "interpretive flow". The purpose of this study is that translators are required to know the material being translated well. If the translated verse is related to legal matters, then the intricacies of the legal issues must be known. If it is not, some errors can occur in the translation. To get closer to the truth, a translator of the Qur'an needs to see and examine the interpretive books. If there are several understandings of one verse, then he has a literal translation meaning, namely a translator is faced with a narrow choice, therefore he only takes one meaning from the many meanings available. If there are several understandings of one verse, then it has a literal translation meaning, that is, a translator is faced with a narrow choice, therefore he only takes one meaning from the many existing meanings. So the findings of this study are the recognition that each language has its own specifications which cannot be found in other languages. Therefore, it is not possible for one translation to match one hundred percent of what the first speaker wants. This is the object of many to the literal translation of the Qur'an.
STUDI TENTANG HISTORISITAS AL-QUR’AN: TELAAH PEMIKIRAN MM. AZAMI DALAM TH HISTORY OF THE QURANIC TEXT FROM RELEVATION TO COMPILATION
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 9, No 1 (2015): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v9i1.881
Artikel ini mengeksplorasikan pemikiran MM. Azami mengenaihistoritas al-Qur’an dan sanggahan-hanggahanya terhadap kajianal-Qur’an para orientalis. Tujuan penulisan artikel ini untukmengungkap banyaknya orientalis yang berusaha menyamakansejarah al-Qur’an dengan sejarah kitab-kitab lainnya danmemaksakan pendapat mereka tentang kemungkinan terjadinyakesalahan-kesalahan yang menyeruak ke dalam teks al-Qur’an,telah memotivasi Azami untuk meneliti dan mengkaji historisitasal-Qur’an dengan menggunakan pisau analisis yang dibangun olehpara pemikir Barat, termasuk menelusuri beberapa manuskripkuno tulisan ayat-ayat al-Qur’an. Temuan dari artikel ini adalah,bahawasanya karya Azami yang berjudul Th History Of ThQur’anic Text From Revelation to Compilation ini pada akhirnyamenunjukkan kita semua sebagai umat Islam bahwa al-Qur’anadalah fiman Allah yang diwahyukan kepada Rasulullah saw.Ia terpelihara orisinalitasnya tanpa ada perubahan, tambahan,maupun pengurangan. Selain itu, Azami juga membuktikan bahwapemalsuan al-Qur’an tidaklah pernah terjadi sepanjang sejarah,baik secara fragmentasi maupun keseluruhannya, yang berlainandari teks yang ada di seluruh dunia, karena jika terjadi pemalsuan,maka tidak akan lagi bisa dianggap sebagai al-Qur’an, mengingatsatu syarat utama penerimaannya haruslah sesuai dengan teksyang termaktub dalam mushaf Usmani.
Incorporating Qur’anic Interpretation Into Course Materials Of English For Business: A Students' Perspective
Setyaningrum, Anisah
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 15, No 1 (2021): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v15i1.9942
This paper aims at investigating the students’ perspectives toward incorporating qur’anic interpretation into course materials of English for Business. This study is a qualitative survey. The subject of the study were 20 students of English subject in Sharia Business Management Study Program, Islamic Economic and Business Faculty, State Islamic Institute of Kudus, Central Java, Indonesia. The data were collected by spreading the questionnaire to the students and asked them to fill it. Then, the Likert Scale was implemented in analyzing the data. Result of this study shows that students have positive perspectives toward incorporating qur’anic interpretation into course materials of English for Business.
LIVING QUR’AN: KHATAMAN SEBAGAI UPAYA SANTRI DALAM MELESTARIKAN AL-QUR’AN
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 11, No 1 (2017): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v11i1.4503
Islam adalah agama rahmatal lil 'alamin, di mana semua ajarannya disediakan untuk semua makhluk bumi. Sedangkan Al-Qur'an adalah kitab suci umat Islam yang membimbing dan menjadi orientasi dalam setiap kehidupan. Oleh karena itu, ada begitu banyak ekspresi kaum muslimin dalam Al-Qur'an dalam praktek sehari-hari. Kadang-kadang Al-Qur'an menjadi pedoman dalam bertindak, menyelamatkan dalam melindungi diri sendiri, menyangkal gangguan setan atau membaca dalam kehidupan sehari-hari kaum muslimin. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa Al-Qur'an bukan hanya teks pasif tetapi juga teks hidup di tengah komunitas muslim. Salah satu fenomena ini adalah tradisi khataman di Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta, di mana terlihat bahwa membaca Al-Qur'an menjadi nafas dalam kegiatan tersebut. Atas dasar itu, tulisan ini akan menggambarkan fenomena masyarakat dalam melestarikan Al-Qur'an yang ada di Khatmil Qur’an di Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta. Pada saat yang sama, untuk mengetahui arti aries dari acara Khatmil Qur’an. Studi ini penting, qur'an yang hidup sebagai studi baru dalam studi qur'an mencoba untuk menginterpretasikan penerimaan komunitas Al-Qur'an dengan interkoneksi dengan ilmu sosial, salah satunya adalah sosiologi pengetahuan.