cover
Contact Name
Muhammad Zuhurul Fuqohak
Contact Email
hermeneutik@stainkudus.ac.id
Phone
+6285326311019
Journal Mail Official
hermeneutik@stainkudus.ac.id
Editorial Address
Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kudus, Jl. Conge Ngembalrejo PO.BOX 51 Kudus, Jawa Tengah, Indonesia
Location
Kab. kudus,
Jawa tengah
INDONESIA
Hermeneutik : Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
ISSN : 19077246     EISSN : 25026402     DOI : http://dx.doi.org/10.21043/hermeneutik
We accept scholarly article that the subject covers textual and fieldwork studies with various perspectives of Quranic Studies Quranic Exigesis Studies Philology Studies Ulumul Qur`an Living Qur`an
Articles 417 Documents
STUDI KRITIS TERHADAP IDE KHALED ABOU AL- FADL DALAM SPEAKING IN GOD’S NAME Ulya, U
HERMENEUTIK Vol 9, No 1 (2015): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v9i1.887

Abstract

Penulisan artikel ini dilatarbelakangi adanya pemikiran Khaled Abou el-Fadl yang menjadi kontrovesi di belahan dunia Islam. Abou el-Fadl banyak membincang tentang ide munculnya komunitas mufassir. Tujuan penulisan ini mengungkap lebih lanjut tentang asal-usul munculnya pemegang otoritas makna al-Qur’an atau kemudian populer dengan istilah komunitas mufassir dengan mengungkap gagasan yang ada di balik tulisan Khaled Abou El-Fadl dalam sebuah karyanya yang berjudul Speaking in God ‘s Name: Islamic Law, Authority, and Women. Secara berturut-turut akan dibahas tentang potret hidup khaled, profi karya Speaking in God ‘s Name, manusia sebagai khalifah, otoritas dan otoritarianisme, mufassir sebagai pemegang otoritas makna al-Qur’an. Hasil dari penulisan artikel ini adalah manusia sebagai khalifah idealnya mampu menafsirkan dalam upaya membreakdown kehendak, keinginan, aturan, ataupun instruksi Allah yang telah terangkum dalam kitab suciNya, al-Qur’an, untuk memakmurkan penghuni seluruh alam semesta. Kenyataannya sebagian manusia tidak mempunyai kemampuan ataupun kesempatan untuk melaksanakan tugas penafsiran tersebut sehingga sebagian manusia melimpahkan tugas dan wewenang ini pada sebagian manusia yang lain yang dianggap expert karena memiliki kompetensi di bidang ini yakni mufassir. Sebagian manusia yang melimpahkan tugas dan wewenang percaya dan yakin jika mufassir yang menerima limpahan telah memenuhi kejujuran (honesty), kesungguhan (diligence), pengendalian diri (self restraint), kemenyeluruhan (comprehensiveness), rasionalitas (reasonableness).
Fungsi Asbabun Nuzul Dalam Tafsir Maroh Labid Munir, Misbahun
HERMENEUTIK Vol 13, No 1 (2019): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v13i1.5542

Abstract

Diskursus asba>b al-nuzu>l merupakan diskursus yang tidak dapat ditinggalkan dalam kajian ‘ulu>mul qur’an. Terdapat 3 pandangan besar mengenai urgensi diskursus tersebut, yaitu 1) yang mengatakan bahwa mengetahui asba>b al-nuzu>l merupakan alat bantu dalam memahami makna al-Qur’an; 2) yang mengatakan bahwa mengetahui asba>b al-nuzu>l merupakan hal yang sia-sia dan sama halnya dengan membatasi pesan-pesan al-Qur’an dalam ruang dan waktu; 3) yang mengatakan bahwa mengetahui asba>b al-nuzu>l merupakan keharusan.Dalam konteks karya tafsir Nusantara, salah satu tafsir yang menggunakan uraian asba>b al-nuzu>l ialah kitab tafsir Mara>h} Labi@d karya Syaikh Nawawi@ al-Bantani@. Dalam tafsirnya tersebut, khusus dalam surah al-Baqarah, terdapat 42 uraian asba>b al-nuzu>l. Sebagai contoh dalam Q.S. 2:115, uraian asba>b al-nuzu>l digunakan Syaikh Nawawi@ al-Bantani@ untuk menjelaskan dan menentukan makna ayat tersebut. Selain itu, terdapat juga upaya memberikan gambaran konteks makro ayat dan mengkontekstualisasikannya sesuai kondisi masyarakat sekarang. Penelitian ini akan dibagi ke dalam tiga analisis, yaitu berdasarkan tema, fungsi, dan ta’addud al-riwa>ya>t. Penelitian ini menggunakan klasifikasi fungsi asba>b al-nuzu>l oleh al-Zarqa>ni@. Penelitian ini difokuskan pada uraian asba>b al-nuzu>l dalam tafsir Mara>h} Labi@d khususnya dalam surah al-Baqarah.
Dialektika Tafsir Media Sosial di Indornesia : Studi Penafsiran Nadirsyah Hosen di Media Sosial mutmaynaturihza, mutmaynaturihza
HERMENEUTIK Vol 12, No 1 (2018): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v12i1.5200

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan interpretasi Alquran Nadirsyah Hosen dalam media sosial terutama Facebook yang secara dialektis terlibat dengan penerjemah lain di ruang cyber. Penggambaran penafsiran Nadirsyah Hosen akan menggambarkan bentuk perbedaan, bukan offline. Hal ini dapat dilihat melalui QS al-Nisa (4): 139 misalnya pada awal tahun 2017 Hosen belum dewasa memperlakukannya sebagai alat politik khususnya terhadap pemilihan umum (Pilkada). Menangkap pos, Alfitri sebagai salah satu pengguna Facebook memberikan tanggapan langsung yang meliputi penolaknnya. Alfitri secara umum menjelaskan tentang sepuluh tafsir klasik untuk megkritik tulisan Hosen, sehingga ia menyatakan bahwa pemahaman Hosen pada QS al-Nisa (4: 139) terlalu banyak pengurangan. Selanjutnya Hosenpun menyatakan bahwa Alfitri tidak mengerti dengan baik tentang wacana. Dialektika ini hanya terjadi dalam lima hari dari 20 hingga 25 Februari. Kecepatan angak tersebut tidak akan pernah terjadi dalam penafsiran offline meskipun para aktor berasal dari latar belakang yang berbeda : Alfitri adalah magister pendidikan Islam dan Hosen adalah profesor hukum. oleh karena itu, saya tertarik untuk menyelami lebih dalam bagaimana dialektik pemahaman Hosen terhadap Alquran di akun Facebooknya, siapa khalayaknya, latarbelakang mereka, konteks tertentu dan jenisnya. Artikel ini berpendapat bahwa kemunculan dialektika itu unik, tidak diprediksi, tertutup bagi kepalsuan dan cenderung dikerjakan demi kepentingan individu.
EPISTIMOLOGI TAFSIR SYU’BAH ASA Aliyah, himmatul
HERMENEUTIK Vol 9, No 2 (2015): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v9i2.876

Abstract

Epistemologi tafsir merupakan disiplin ilmu yang berusaha untuk mengungkap pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang teori ilmu pengetahuan tentang tafsir. Bagaimana sebuah karya tafsir dapat diuji kebenarannya berdasarkan norma epistemik. Artikel ini mencoba mengeksplor karya tafsir Syu’bah Asa merupakan salah satu karya dari sederet karya-karya tafsir kontemporer yang lahir di zaman orde baru. Arah visi, gerakan dan wacana yang dikembangkan tafsir ini telah memberikan muatan kritis dan perlawanan terhadap zaman orde baru. Penelitian ini menggunakan studi kepustakaan dengan metode deskriptis analitis mengungkap epistemologi tafsir karya Syu’bah Asa, yang berjudul Dalam Cahaya al-Qur’an : Tafsir Ayat-Ayat Sosial Politik. Dalam menulis karya tafsirnya, Syu’bah Asa menggunakan metode tematik. Tema-tema yang diangkat adalah tema-tema yang aktual dan faktual sesuai dengan peristiwa yang terjadi saat tafsir itu ditulis. Sumber tafsir yang digunakannya sangat beragam seperti sumber al-Quran, hadis, a > sbab an-nuzu > >l, ijtihad mufassir, kitab-kitab tafsir klasik seperti al-Kasysyaf karya al- Zamakhsyari, Mafa>tih} al-G} aibkarya Fakhruddin ar-Ra>zi, tafsir al-Baidawi beserta kitab-kitab tafsir lainnya. Syu’bah Asa juga merujuk pendapat para ulama> dalam hal kebahasaan dan qiraat.. Sumbangan paling berharga > Syu’bah Asa dalam karya tafsirnya adalah sikapnya yang kritis pada pemerintahan orde baru dalam petunjuk cahaya al-Quran sehingga terwujud masyarakat Indonesia yang madani dan diridhai Allah.
HERMENEUTIKA MUHAMMAD SYAHRUR (Telaah tentang Teori Hudud) Fatah, Ahmad
HERMENEUTIK Vol 11, No 1 (2017): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v11i1.1636

Abstract

AbstrakKajian ini bertujuan untuk memahami hermeneutika Muhammad Syahrur yang dikenal dengan teori hudud atau teori limit. Hal ini bertujuan untuk menawarkan gagasan-gagasan baru dalam metodologi pemahaman terhadap al-Qur’an. Melalui teori limit, Syahrur ingin melakukan pembacaan ayat-ayat muhkamat secara produktif dan prospektif (qira’ah muntijah), bukan pembacaan repetitif dan restrospektif (qira’ah mutakarrirah). Dan dengan teori limit juga, Syahrur ingin membuktikan bahwa ajaran Islam benar-benar merupakan ajaran yang relevan untuk tiap ruang dan waktu. Syahrur berasumsi, kelebihan risalah Islam adalah bahwa di dalamnya terkandung dua aspek gerak, yaitu gerak konstan (istiqamah) serta gerak dinamis dan lentur (hanifiyyah). Sifat kelenturan Islam ini berada dalam bingkai teori limit yang oleh Syahrur dipahami sebagai the bounds or restrictions that God has placed on mans freedom of action (batasan yang telah ditempatkan Tuhan pada wilayah kebebasan manusia).Kata kunci: hermeneutika, Syahrur, teori hudud. AbstractThis study aims to understand the hermeneutics of Muhammad Syahrur known as the hudud theory or the theory of limits. It aims to offer new ideas in the methodology of understanding the Qur'an. Through the theory of limits, Shahrur wanted to read the verses of muhkamat productively and prospectively (qira'ah muntijah) instead of repetitive and restrosive (qira'ah mutakarrirah). And with the theory of limits as well, Syahrur wants to prove that the teachings of Islam really are relevant teachings for every space and time. Syahrur assume, the excess message of Islam is that it contains two aspects of motion, namely constant motion (istiqamah) and dynamic and flexible motion (hanifiyyah). The nature of this Islamic flexibility lies within the frame of the theory of limits which Syahrur understands as the bounds or restrictions that God has placed on mans freedom of action (the limitation that God has placed on the domain of human freedom).Keywords: hermeneutics, Syahrur, the hudud theory.
Kode Etik Tata Kelola Laut Dalam Al-Qur'an Albab, Chasan
HERMENEUTIK Vol 10, No 2 (2016): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v10i2.3909

Abstract

Urgensi Pendekatan Hermeneutik Dalam Memahami Al-Qur’an Nikmah, Alfi
HERMENEUTIK Vol 14, No 2 (2020): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v14i2.7916

Abstract

The way to understand the Qur'an and understand the meaning or content in the Qur'an is to understand the editorial of the Qur'an directly. In this way, we will be able to feel (tadzawwuq) the pulses of the Qur'an's description that are so beautiful and charming. However, because not all Muslims are able to understand the editorial of the Qur'an directly it needs to be translated into other languages. This understanding of the Qur'an uses the study of the hermeneutic method which is from time to time has experienced significant developments in qualitative research, including being a stream of philosophical science and applied in the humanities (social humanitarian) sciences, namely "interpretive flow".  The purpose of this study is that translators are required to know the material being translated well. If the translated verse is related to legal matters, then the intricacies of the legal issues must be known. If it is not, some errors can occur in the translation. To get closer to the truth, a translator of the Qur'an needs to see and examine the interpretive books. If there are several understandings of one verse, then he has a literal translation meaning, namely a translator is faced with a narrow choice, therefore he only takes one meaning from the many meanings available. If there are several understandings of one verse, then it has a literal translation meaning, that is, a translator is faced with a narrow choice, therefore he only takes one meaning from the many existing meanings. So the findings of this study are the recognition that each language has its own specifications which cannot be found in other languages. Therefore, it is not possible for one translation to match one hundred percent of what the first speaker wants. This is the object of many to the literal translation of the Qur'an.
METODE TAFSIR INKLUSIF: Upaya Membedah Eksklusivitas Interpretasi Al-Qur’an Mu’min, Ma’mun
HERMENEUTIK Vol 8, No 1 (2014): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v8i1.911

Abstract

Artikel ini membahas tentang metode inklusif, yaitu sebuahmetode penafsiran yang menghasilkan produk penafsiran yangterbuka terhadap segala persolan dinamika sosial. Tujuannyaadalah untuk memberikan respon atas kebutuhan masyarakatterhadap berbagai penyelesaian problematika kehidupan sosialyang memiliki nilai-nilai flksibilitas dalam melihat persoalan.Tulisan ini menggunakan metode historis untuk membedahberbagai persoalan penafsiran. Sehingga mendapatkan suatu hasilproduk penafsiran yang mencerahkan di tengah-tengah pluralitaskehidupan sosial keagamaan. Hal ini sangat penting mengingatbangsa Indonesia adalah salah satu negara yang sangat terkenaldengan kemajemukannya. Inklusifias penafsiran diperlukanuntuk menetralisir segala bentuk hasil penafsiran yang eksklusiftekstualis yang dapat merusak keharmonisan kehidupan yangpluralis.
STUDI TENTANG HISTORISITAS AL-QUR’AN: TELAAH PEMIKIRAN MM. AZAMI DALAM TH HISTORY OF THE QURANIC TEXT FROM RELEVATION TO COMPILATION Mubarok, Ahmad Zaki
HERMENEUTIK Vol 9, No 1 (2015): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v9i1.881

Abstract

Artikel ini mengeksplorasikan pemikiran MM. Azami mengenaihistoritas al-Qur’an dan sanggahan-hanggahanya terhadap kajianal-Qur’an para orientalis. Tujuan penulisan artikel ini untukmengungkap banyaknya orientalis yang berusaha menyamakansejarah al-Qur’an dengan sejarah kitab-kitab lainnya danmemaksakan pendapat mereka tentang kemungkinan terjadinyakesalahan-kesalahan yang menyeruak ke dalam teks al-Qur’an,telah memotivasi Azami untuk meneliti dan mengkaji historisitasal-Qur’an dengan menggunakan pisau analisis yang dibangun olehpara pemikir Barat, termasuk menelusuri beberapa manuskripkuno tulisan ayat-ayat al-Qur’an. Temuan dari artikel ini adalah,bahawasanya karya Azami yang berjudul Th History Of ThQur’anic Text From Revelation to Compilation ini pada akhirnyamenunjukkan kita semua sebagai umat Islam bahwa al-Qur’anadalah fiman Allah yang diwahyukan kepada Rasulullah saw.Ia terpelihara orisinalitasnya tanpa ada perubahan, tambahan,maupun pengurangan. Selain itu, Azami juga membuktikan bahwapemalsuan al-Qur’an tidaklah pernah terjadi sepanjang sejarah,baik secara fragmentasi maupun keseluruhannya, yang berlainandari teks yang ada di seluruh dunia, karena jika terjadi pemalsuan,maka tidak akan lagi bisa dianggap sebagai al-Qur’an, mengingatsatu syarat utama penerimaannya haruslah sesuai dengan teksyang termaktub dalam mushaf Usmani.
LIVING QUR’AN: KHATAMAN SEBAGAI UPAYA SANTRI DALAM MELESTARIKAN AL-QUR’AN Maghfiroh, Elly
HERMENEUTIK Vol 11, No 1 (2017): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v11i1.4503

Abstract

Islam adalah agama rahmatal lil 'alamin, di mana semua ajarannya disediakan untuk semua makhluk bumi. Sedangkan Al-Qur'an adalah kitab suci umat Islam yang membimbing dan menjadi orientasi dalam setiap kehidupan. Oleh karena itu, ada begitu banyak ekspresi kaum muslimin dalam Al-Qur'an dalam praktek sehari-hari. Kadang-kadang Al-Qur'an menjadi pedoman dalam bertindak, menyelamatkan dalam melindungi diri sendiri, menyangkal gangguan setan atau membaca dalam kehidupan sehari-hari kaum muslimin. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa Al-Qur'an bukan hanya teks pasif tetapi juga teks hidup di tengah komunitas muslim. Salah satu fenomena ini adalah tradisi khataman di Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta, di mana terlihat bahwa membaca Al-Qur'an menjadi nafas dalam kegiatan tersebut. Atas dasar itu, tulisan ini akan menggambarkan fenomena masyarakat dalam melestarikan Al-Qur'an yang ada di Khatmil Qur’an di Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta. Pada saat yang sama, untuk mengetahui arti aries dari acara Khatmil Qur’an. Studi ini penting, qur'an yang hidup sebagai studi baru dalam studi qur'an mencoba untuk menginterpretasikan penerimaan komunitas Al-Qur'an dengan interkoneksi dengan ilmu sosial, salah satunya adalah sosiologi pengetahuan.

Page 5 of 42 | Total Record : 417


Filter by Year

2013 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 18, No 2 (2024): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 18, No 1 (2024): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 17, No 2 (2023): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 17, No 1 (2023): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 16, No 2 (2022): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 16, No 1 (2022): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 15, No 1 (2021): Available June 2021 Vol 15, No 2 (2021): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 15, No 1 (2021): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 14, No 2 (2020): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 14, No 1 (2020): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 13, No 2 (2019): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 13, No 1 (2019): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 12, No 2 (2018): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 12, No 1 (2018): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 11, No 2 (2017): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 11, No 1 (2017): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 10, No 2 (2016): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 10, No 1 (2016): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 9, No 2 (2015): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 9, No 1 (2015): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 8, No 2 (2014): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 8, No 1 (2014): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 7, No 2 (2013): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 7, No 1 (2013): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir More Issue