cover
Contact Name
Muhammad Zuhurul Fuqohak
Contact Email
hermeneutik@stainkudus.ac.id
Phone
+6285326311019
Journal Mail Official
hermeneutik@stainkudus.ac.id
Editorial Address
Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kudus, Jl. Conge Ngembalrejo PO.BOX 51 Kudus, Jawa Tengah, Indonesia
Location
Kab. kudus,
Jawa tengah
INDONESIA
Hermeneutik : Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
ISSN : 19077246     EISSN : 25026402     DOI : http://dx.doi.org/10.21043/hermeneutik
We accept scholarly article that the subject covers textual and fieldwork studies with various perspectives of Quranic Studies Quranic Exigesis Studies Philology Studies Ulumul Qur`an Living Qur`an
Articles 417 Documents
Kesalahan Dalam Tafsir; Ideologis Dan Teologis
HERMENEUTIK Vol 15, No 1 (2021): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v15i1.8927

Abstract

This paper intends to explain several reasons for misinterpretation. The dynamics of interpretation that occurred in the first century of the emergence of Islam occurred in at least three phases: the Prophet Muhammad, the companions, and the tabi'in. The prophet's interpretation of the Qur'anic verses was not carried out thoroughly, thus leaving some empty space for the next generation, namely the companions to understand and interpret verses that were not explained by the prophet. In subsequent periods, interpretation tended to ideology as was done by the Khawarij and al-Zamakhsyari groups in al-Kasysyāf's interpretation. First, the emergence of the interpretation of the Khawarij ideology (the group that left the ranks of 'Ali) stems from the giving of the stigma of being kafir for the perpetrators of grave sins. As a consequence they deny the existence of intercession for perpetrators of grave sins based on the verses of the al-Qur'an. Second, the interpretation of al-Zamakhsyari transparently represents Mu'tazilah in certain cases, especially verses that are theological in nature.
Teologi islam menuruT al-Qur’an Dan KonseKuensinya TerhaDap Kosmologi moDern
HERMENEUTIK Vol 7, No 1 (2013): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v7i1.914

Abstract

Artikel ini mengulas temuan kosmologi modern denganmenggunakan pendekatan teologis, dengan mengemukakanargumen dari teolog, fiosof dan ilmuwan tentang kosmologimodern. Salah satu argumen dari mereka adalah bahwa alamsemesta telah diciptakan oleh Tuhan (Allah) dengan bukti-buktiyang telah banyak dilihat, dibaca, dan dipelajari dari al-Qur’an. Halyang terpenting dalam penemuan kosmologi modern menyerukanuntuk dipelajari secara teologi juga. Di antara pendapat tentangperan Tuhan sebagai pencipta alam semesta, seperti yangdikemukakan oleh Mulla Sadra, Guidarno dan lainnya. Inti daristatemen mereka yaitu bahwa alam semesta itu dinamis danmemperbaharui dirinya sendiri sesuai dengan sunnatullah. Dalamhal ini ada Zat yang mempunyai kuasa untuk melakukannya,yaitu Tuhan dengan hak prerogatif-Nya. Karenanya, keberadaanTuhan akan terasa dekat dengan kreasi-kreasi yang telah dilakukandi alam semesta sampai alam yang kita rasakan sekarang yangmenunjukan bahwa Tuhan itu ada. Mereka mengatakan bahwateori umum relativitas Einstein adalah benar seperti adanyaruang-waktu. Menurut mereka, ada sebuah permulaan yaitu dengan adanya permulaan materi dan energi. Karenanya, hal inididukung dengan beberapa analisis secara fiika sebagai argumenyang kuat tentang penciptaan alam semesta yang telah diciptakanoleh Tuhan. Berdasarkan bukti-bukti yang dikemukakan diatas,sebagai manusia yang mempunyai agama sudah tentu kita percayabahwa perkembangan baru dalam kosmologi memungkinkan kitauntuk sadar pada kebutuhan untuk memperbaiki diri kita tentangbayangan atau imajinasi tentang Tuhan sebagai pencipta.
Nyai Badriyah Fayumi : Mufassir Perempuan Otoritatif Pejuang Kesetaraan dan Moderasi di Indonesia Ulya, Ulya
HERMENEUTIK Vol 12, No 2 (2018): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v12i2.6150

Abstract

Selama ini Indonesia dikenal sebagai negara tempat berkaca bagi model kehidupan beragama yang damai dan harmonis. Kedamaian dan keharmonisan disebabkan keberagamaan masyarakat Indonesia berangkat dari pemahaman keagamaan yang moderat, namun berbagai peristiwa kekerasan maupun  teror berbasis tafsir agama yang terjadi akhir-akhir ini seakan mengakibatkan  memburamnya kaca itu. Peran serta masyarakat, baik laki-laki maupun perempuan, baik berupa pemikiran maupun gerakan, sangat dibutuhkan untuk mengembalikan citra baik negara. Badriyah Fayumi adalah salah satu sosok ulama perempuan inspiratif yang tidak hanya memiliki pemikiran khususnya berbasis Alqur’an, tapi dia juga tampil sebagai tokoh gerakan. Kemampuannya ini telah menjadikannya sebagai salah satu ulama rujukan pemahaman ke-Islaman di Indonesia saat ini.Dengan menggabungkan teori otoritas Khaled Abou el-Fadl dan teori capital Pierre Bourdieu, secara umum tulisan ini akan mendeskripsikan sosok Badriyah dan kiprahnya, pemikiran ketafsiran dalam memperjuangkan kesetaraan dan moderasi, sejauhmana otoritasnya di tengah-tengah umat dan faktor-faktor yang menyebabkannya menjadi otoritatif dalam menciptakan Indonesia setara dan moderat. 
AL-QUR’AN, TAFSIR, DAN TA’WIL DALAM PERSPEKTIF SAYYID ABU AL-A’LA AL-MAUDUDI
HERMENEUTIK Vol 9, No 1 (2015): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v9i1.882

Abstract

Artikel ini mencoba melakukan penelusuran konsepsi al-Maudu>ditentang al-Qur’an, tafsi>r dan ta’wi>l dari berbagai karya-karyanyayang terkait dengan kajian al-Qur’an. Dengan harapan akandiperoleh sebuah ide konseptual permikiran al-Maududi tentang alQur’an, tafsi>r dan ta’wi>l secara memadai. Temuan yang dihasilkandalam penelitian ini adalah al-Maudu>di sebagai seorang jurnalismelalui media massa, dia banyak memunculkan ide-ide pembaharuanpemikiran Islam modern. Dia banyak memberikan sumbangannyapada perkembangan pemikiran Islam modern bagi dunia Islam danIndia-Pakistan khususnya. Khusus dalam bidang tafsir al-Qur’an, alMaududi lebih banyak melahirkan tafsir dengan pendekatan metodetematik (maud} u>’i) antara lain seperti al-Khila>fah wa al-Mulk dan arRiba f al-Qur’an. Sementara kitab yang secara spesifi sebagai upayaal-Maudu>di untuk menafsirkan al-Qur’an dari awal hingga akhirsurat dalam al-Qur’an adalah kitab Tafh>m al-Qur’an. Dari karyakaryanya banyak terungkap pengertian al-Qur’an, tafsi>r dan ta’wil>menurut al-Maududi.
IMPLEMENTASI PENAFSIRAN SURAT ALI IMRON AYAT 110 TERHADAP PEMBENTUKAN GENERASI KHOIRU UMMAH DI PONDOK PESANTREN AN-NUR AL-ISLAMI KAUMAN JEKULO KUDUS
HERMENEUTIK Vol 11, No 2 (2017): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v11i2.5527

Abstract

Tujuan artikel ini untuk mengetahui implementasi konsep khoiru ummah Surat Ali Imran ayat 110 dalam pembentukan generasi khoiru ummah di pondok pesantren an-Nur al-Islami Kauman Jekulo Kudus. Metode yang digunakan file research dan library research. Hasil penelitian adalah penerapan khoiru ummah dalam Surat Ali Imran ayat 110 adalah sebaik-baik umat Nabi Muhammad yang mengajak kepada kebaikan (ma’ruf) dan melarang kepada keburukan (munkar). Pondok pesantren telah menanamkan pada jiwa santri untuk beramar ma’ruf dan nahi munkar melalui kegiatan-kegiatan yang ada di pondok pesantren seperti ngaji rutin oleh pengasuh pondok pesantren, tahassus (madrasah diniyah), latihan khittobah, dan sesrawung antar santri. Sedangkan nahi munkarnya dengan memberikan ta’zir bagi mereka yang melanggar aturan-aturan yang sudah ditetapkan pondok pesantren. Dari semua kegiatan yang telah di terapkan di Pondok Pesantren tersebut akan membantu para santri untuk membentuk generasi khoiru ummah.
Studi Komparasi Metodologi Penafsiran Amina Wadud dan Zaitunah Subhan dalam Masalah Perempuan
HERMENEUTIK Vol 16, No 1 (2022): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v16i1.13088

Abstract

Perempuan dipandang sebagai makhluk yang inferior dibandingkan laki-laki. Posisinya sering terpinggirkan dalam segala aspek kehidupan manusia. Bahkan agama menjadi salah satu dasar untuk menempatkan perempuan di bawah laki-laki. Hal ini terlihat dalam beberapa tafsir klasik yang pengarangnya adalah laki-laki. Amina Wadud dan Zaitunah Subhan adalah dua tokoh perempuan yang merasa ketidakadilan terhadap perempuan di sekitarnya harus dihilangkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perbandingan metodologi tafsir Zaitunah Subhan dan Tafsir Amina Wadud dalam mengkaji masalah “Perempuan”. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif-analisis. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: Secara umum metodologi Tafsir Zaitunah Subhan dan Tafsir Amina Wadud menggunakan metode maudhu'i, karena sama-sama fokus membahas tema-tema tertentu. Namun dalam proses analisisnya, Tafsir Zaitunah Subhan menggunakan metode tafsir maudhu'i dengan mengacu pada tiga kitab utama dari tiga generasi, yaitu Tafsir Al-Qur'an karya Ibnu Katsir, Tafsir Al-Azhar karya Hamka dan Al-Qur'an dan terjemahannya. Sedangkan Tafsir Amina Wadud menggunakan model interpretasi hermeneutik.
Citra Tuhan Dalam Al-Qur’an (Studi Pemaknaan Ayat-Ayat Antropomorfisme dengan Pendekatan Semiotika Roland Barthes)
HERMENEUTIK Vol 16, No 1 (2022): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v16i1.12777

Abstract

Ayat-ayat antropomorfisme merupakan ayat-ayat yang apabila dipahami secara literal akan memberikan kesan bahwa Allah memiliki citra yang sama dengan makhluknya. Dalam al-Qur’an disebutkan bahwa Allah sebagai Tuhan memiliki tangan, wajah, mata, dan duduk di atas singgasana yang tercantum dalam in Q.S. al-Maidah ayat 64, al-Fath ayat 10, al-Qasas ayat 88, al-Baqarah ayat115, Taha ayat 39, Taha ayat 5, al-Zumar ayat 67, al-Rahma’n ayat 27, Yunus ayat 3, dan al-Qalam ayat 42. Penggambaran ini menimbulkan kontroversi penafsiran, karena di satu sisi al-Quran menyebutkan citra Tuhan dengan citra manusia, sementara di sisi  lain al-Qur’an menegaskan ketidaksamaan Tuhan dengan makhluk-Nya yang tercantum dalam Q.S al-Syura ayat 11 dan al-Ikhlas ayat 4. Perdebatan yang terjadi di masa klasik pun berlanjut hingga masa kontemporer. Atikel ini bertujuan untuk membahas penafsiran ayat-ayat antropomorfisme perspektif “semiotika Roland Bartes” beserta mengungkap tingkatan-tingkatan makna dalam tanda-tanda bahasa al-Quran. Metode penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian “kualitatif” dengan “pendekatan semiotika”. Sedangkan objek materialnya adalah ayat-ayat antropomorfisme  Q.S al-Maidah ayat 64, al-Baqarah ayat 115, Yunus ayat 3 dan objek formalnya adalah semiotika Roland Barthes yang digunakan untuk mengkaji makna ayat-ayat antropomorfisme yang telah disebutkan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ayat-ayat antroporfisme sama dengan ayat-ayat mutasyabihat dan citra Tuhan yang dimaksudkan dalam ayat-ayat tersebut memiliki makna denotasi, konotasi dan mitos seperti dalam Q.S al-Maidah ayat 64 memiliki makna “denotasi” Allah memiliki “tangan seperti makhluk”. Sedangkan makna konotasinya mereka “orang-orang yahudi” mengatakan tangan Allah “terbelenggu”. “Mitos” dari ayat tersebut yaitu Allah diisyaratkan memiliki anggota tubuh dalam ukuran besar dan memiliki kekuatan yang tidak tertandingi. Q.S al-Baqarah ayat 115 mengandung makna denotasi Allah memiliki rupa atau wajah, sedangkan makna konotasinya mengisyaratkan bahwa wajah Allah yaitu arah kiblat dan mitosnya dulu Nabi saw shalat Sunnah diatas unta beliau kemanapun arah unta itu. Q.S Yunus ayat 3 dengan makna “konotasi” Allah memiliki tubuh dan singgasana. Sedangkan konotasinya adalah Allah Mahakuasa, Mitosnya ialah Allah memiliki singgasana yang mana bentuknya seperti pada zaman kerajaan yaitu bentuknya besar dan megah. 
Deotorisasi Hermeneutika Sebagai Metode Tafsir Kontemporer (Analisis Kritis terhadap Pemikiran Firanda dalam Kanal YouTube “Firanda Andirja”)
HERMENEUTIK Vol 16, No 1 (2022): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v16i1.12964

Abstract

Kajian ini dimaksudkan untuk menganalisis pemikiran Firanda tentang penggunaan hermeneutika sebagai metode tafsir al-Alquran dalam konteks kehidupan kontemporer. Kajian ini memiliki signifikansi yang jelas karena berpijak pada fakta bahwa sampai hari ini ternyata heremenutika menjadi metode yang dipersoalkan oleh Firanda dengan dalih kehilangan relevansinya dalam konteks tafsir. Dalam menjelaskan persoalan tersebut, kajian ini menggunakan pendekatan sejarah sosial dengan model analisis kritis. Hasilnya, kajian ini menunjukkan bahwa pemikiran Firanda tentang hermenetika tidak bisa dilepaskan dari nalar ideologis dan pola pikir romantisisme yang menganggap produk tafsir dan keilmuannya yang eksis di masa lalu mesti selalu relevan dalam segala ruang dan waktu. Namun, harus diakui bahwa pemikiran ini sebenanrya merupakan hasil dari konstruk realitas sosialnya, seperti pendidikan, kultur, dan ideologi keagamaan yang dianut.
Deradikalisasi Pemahaman Al-Qur’an dan Hadis dalam Upaya Kontekstualisasi Konsep Jihad
HERMENEUTIK Vol 16, No 1 (2022): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v16i1.12758

Abstract

Tedapat anomali dalam memahami konsep jihad di kalangan ekstremis Muslim. Seringkali ayat-ayat Al-Qur'an maupun teks hadis digunakan sebagai sarana untuk melegitimasi gerakan jihad. Pemahaman tekstual menghasilkan perspektif yang sempit dalam memaknai jihad. Tulisan ini akan membahas pemahaman kelompok ekstremis dalam memahami dan meresepsi makna jihad dalam gerakannya. Tulisan ini menggunakan metode kajian library research yang berdasarkan fenoma aksi terorisme berkedok jihad di Indoneisa. Pada dasarnya pemaknaan ayat ataupun hadis harus berdasar kepada asbab al-nuzul dan asbab al-wurud, namun sayangnya beberapa orang cenderung tekstualis. Temuan menunjukkan bahwa kalangan ekstremis mengabaikan konteks kesejarahan teks, di mana ideal moral dari teks-teks tersebut adalah bahwa seseorang tidak boleh memerangi kafir mu’ahad yang hidup di negara muslim, dan bahwa seorang muslim wajib berbuat adil terhadap sesama, termasuk kepada non muslim.
Kontestasi dan Negosiasi: Tinjauan atas Kelompok Keagamaan Lain dalam Alquran
HERMENEUTIK Vol 16, No 1 (2022): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v16i1.13959

Abstract

Gambaran hegemonitas masyarakat Arab pra-Islam dilukiskan dengan cukup baik dalam Alquran. Satu kondisi yang meniscayakan terjadinya tarik menarik kepentingan antara masing-masing kelompok. Artikel ini mencoba mengkaji konsep multikulturalisme tersebut. Multikulturalisme sebagai sebuah konsep sosial menjadi landasan penting dalam menjalankan kehidupan bersama. Dengan menggunakan pendekatan semantik Toshiko Izutsu, penulis mencoba menganalisis term-term tertentu dalam Alquran; Muslim, kafir, yahud, nashara, dan shabiin. Analisis menunjukkan bahwa multikulturalisme sebagai sebuah keniscayaan sejarah digambarkan dalam sudut pandang kontestasi dan negosiasi. Dengan menggunakan pendekatan historis, kontestasi multikulturalisme -dalam artian perang- di masa Muhammad SAW lebih banyak merupakan fenomone politik dan kebudayaan, bukan kontestasi keagamaan.Penelitian ini menyipulkan bahwa pergeseran wacana Alquran mengenai relasi Muslim dengan kelompok agama lainnya dari yang semula moderat –ditunjukkan dengan surat-surat yang turun menjelang hijrah nabi ke Madinah- ke sikap yang lebih keras bukanlah dilandasi oleh sikap keagamaan mereka.  Namun hal itu lebih merupakan konsekuensi dari kehidupan bersama yang dijalani oleh seluruh penduduk Madinah dalam rangka menjaga keutuhan kehidupan para penduduknya. Hal ini bisa dilihat dari perjanjian Madinah yang merupakan konsensus bersama yang membuat semua penduduk Madinah tanpa terkecuali berada dalam satu kesetaraan yang dijamin oleh undang-undang.

Filter by Year

2013 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 18, No 2 (2024): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 18, No 1 (2024): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 17, No 2 (2023): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 17, No 1 (2023): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 16, No 2 (2022): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 16, No 1 (2022): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 15, No 1 (2021): Available June 2021 Vol 15, No 2 (2021): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 15, No 1 (2021): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 14, No 2 (2020): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 14, No 1 (2020): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 13, No 2 (2019): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 13, No 1 (2019): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 12, No 2 (2018): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 12, No 1 (2018): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 11, No 2 (2017): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 11, No 1 (2017): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 10, No 2 (2016): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 10, No 1 (2016): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 9, No 2 (2015): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 9, No 1 (2015): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 8, No 2 (2014): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 8, No 1 (2014): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 7, No 2 (2013): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 7, No 1 (2013): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir More Issue