Articles
417 Documents
Tafsir Esoteris (Isyari) dalam Kitab Tafsir al-Qur’an al-Adhim Karya Ahmad Sahal Al-Tustari
HERMENEUTIK Vol 16, No 1 (2022): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v16i1.14803
Penelitian ini berusaha untuk mengungkap nilai-nilai esoteris dalam ayat-ayat al-Qur’an dengan “Tafsir al-Qur’an al-Adhim” karya dari Sahal al-Tustari. Jenis penelitian adalah penelitian pustaka (liberary research) dengan metode kualitatif yang bersifat deskriftif dengan menggunakan analisis konten (content analysis). Adapun sumber datanya meliputi sumber data primer dan data sekunder. Sumber data primer kitab adalah kitab “Tafsir al-Qur’an al-Adhim” karya Ahmad Sahal al-Tustari, adapun sumber data sekunder meliputi kitab-kitab tafsir, jurnal dan berbagai buku yang terkait. Adapun hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: dalam surah al-Baqarah/2: 22 kata al-andad bermakna sekutu atau tandingan Allah SWT diartikan secara esoteris dengan nafsu amarah, bagi al-Tustari nafsu amarah adalah sekutu paling besar bagi Muslim. Toghut pada surah Al Baqarah/2:257 berarti syetan namun diartikan secara esoteric dengan nafsu, pangkat, wanita dan hal-hal yang memalingkan pada Allah SWT. Patung anak sapi pada surah A’raf /7:148 makna dari al-ijil adalah patung anak sapi dimaknai oleh al-Tustari dengan usaha maksimal untuk menghindari semua yang membuat lupa pada Allah SWT. Perintah berkurban pada al-Shaffat /37:107 yang berarti perintah berkurban dimaknai dengan keihklasan menurut al-Tustari keikhlasan adalah pucak pengorbanan tertinggi seorang Muslim pada Tuhannya. Jihad pada al-Taubat/9:73 berarti perintah memerangi orang kafir dimaknai secara sufistik dengan memerangi hawa nafsu danlarangan berbuat kerusakan pada al-Araf/ 7:56 diartikan dengan merusak ketaatan dengan kemaksiatan maka seorang Muslim harus membersihkan diri dari siklus dosa.
Pencegahan Hoaks Pada Era Digital 4.0 dalam Perspektif Tafsir Kontemporer (Studi terhadap Tafsir al-Misbah dan Muyassar)
HERMENEUTIK Vol 16, No 1 (2022): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v16i1.12973
Digitalisasi sebagai salah satu zaman yang semua kegiatan didukung dengan adanya teknologi, perkembangan teknologi pada era digital terus berjalan sebagaimana bidang yang mengalami perkembangan ketat ialah komunikasi dan informasi. Seiring berjalannya waktu, informasi hadir dalam ponsel pintar yang memiliki fitur canggih dapat diakses secara bandwitch. Namun, pada kenyataannya tidak sedikit pengguna digital mendapatkan informasi palsu yang lebih dikenal dengan hoaks. Media hadir menyampaikan sebuah informasi yang tidak terlepas dari berbagai kepentingan sosial dan politik.Berita hoaks sebagai bentuk berita palsu yang seharusnya pembaca dapat mengasumsikan antara faktual dan opini dan akan menggunakan metode penyaringan informasi sebagai bentuk evaluasi kesaksian dari lawan bicara yang terpercaya mana yang dapat ditolak. Menindak lanjuti adanya hoaks, maka dikaji berdasarkan Tafsir Al-Misbah dan Muyassar sebagai data primer. Penelitian ini menggunakan studi pustaka dengan pendekatan deskriptif kualitatif untuk menindaklanjuti berita hoaks. Hasil menujukkan bahwa pembahasan hoaks terdapat pada Surah Al-Hujurat: 6 sebagai bentuk pencegahan hoaks, terutama pada era digital. Berita yang dibawakan oleh orang fasik tidak bisa langsung diterima karena akan merupakan perbuatan zalim. Selain itu, hadis dan juga ulama melalui fatwa MUI juga mengecam perbuatan hoaks dan memerintahkan agar melakukan tabayyun atau mengecek kebenaran berita itu.
Al-Tafsîr al-Maqâsidî Baina Mutathalibât al-‘Asr wa Tahaddiyyâtihi
HERMENEUTIK Vol 16, No 1 (2022): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v16i1.12804
Model tafsir maqasid merupakan model baru dalam wacana tafsir al-Quran. Model tafsir ini memiliki premis dasar bahwa produk harus merepresentasikan pemahaman teks al-Qur'an sebagai tujuan teks, yaitu terwujudnya kepentingan manusia di dunia dan akhirat. Oleh karena itu, penelitian ini terfokus pada urgensi tafsir maqasid yang sangat dibutuhkan di masa mendatang, dan sangat mendesak untuk merealisasikannya, meskipun banyak tantangan dan hambatan yang kompleks. Penelitian ini berangkat dari kenyataan di masa kini, bahwa tren menyimpang telah menyebar. Tafsir maqasid yang mumpuni dapat menjawab berbagai kecenderungan yang menyimpang dalam memahami al-Quran. Penelitian ini bertujuan untuk memperkenalkan tafsir maqasid sebagai jenis interpretasi yang penting, karena menjadikan maqasid sebagai pijakan utama dalam penafsiran. Masalah penelitian yang disajikan dalam penelitian ini adalah sejauh mana umat Islam membutuhkan tafsir maqasid dan sejauh mana tafsir maqasid ini memberikan solusi dari beberapa masalah yang terkait dengan wacana hukum untuk mengakomodir kehidupan kontemporer. Peneliti mengambil pendekatan induktif dan analitis. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tafsir maqasidi merupakan jenis tafsir yang penting dan mengungkapkan rahasianya serta menunjukkan bagaimana al-Quran datang untuk memelihara kemaslahatan manusia dan untuk menangkal mudarat dari mereka.
Dakwah Historis Strategi dan Peran Raja Hubulo di Gorontalo sebagai Tafsir atas Surat An Nahl Ayat 125
HERMENEUTIK Vol 16, No 1 (2022): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v16i1.12867
Raja Hubulo adalah salah satu dari lima raja yang menyebarkan agama Islam di Bolango. Dengan perjuangan menyebarkan ajaran agama Islam itulah beliau di beri gelar sebagai ”Aulia Shalihin”. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui implementasi Surat An Nahl Ayat 125 melalui proses dakwah, strategi dakwah yang dilaksanakan oleh Raja Hubulo dan peran Raja Hubulo di masyarakat gorontalo. Penelitian ini merupakan kajian living Qur’an yang menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Pada penelitian ini data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Proses dakwah beliau dimulai dari masa pemerintahannya yaitu pada tahun 1752-1772. Raja Hubulo memulai dakwahnya dengan menyebarkan agamanya dengan memegang prinsip adat bersandingkan Syara’ dan Syara’ bersandingkan kitabullah. Prinsip tersebut kemudian melahirkan lima prinsip masyarakat Gorontalo yaitu agama totalu (agama dikedepankan) lipu pehulalo (negeri yang dimuliakan) batanga pomaya (diri dikorbankan), harta potumbulo nyawa podunggalo (nyawa dikorbankan). Hubulo juga mengembangkan seni tradisional Gorontalo yakni Mera’ji, Dikili, Hubungo, serta seni tradisional melayu Lidu, Pandunga, Laya lopohiponu.
Tekstur Baru Tafsir Modern: Mahmud Syaltut dan Nalar Tematis non Sektarian dalam Menafsirkan Al-Qur’an
HERMENEUTIK Vol 16, No 1 (2022): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v16i1.12759
Tafsir era kontemporer sering dianalogikan sebagai cara baru yang revolusioner dalam meng-al-Qur’an-kan manusia Islam modern. Berawal dari maraknya para orientalis seperti Theodor Nöldeke yang memantik semangat Muhammad Abduh dalam kontestasi pembacaan dan pemahaman terhadap tafsir di Mesir. Dari waktu ke waktu, kemudian muncul salah satu pemikir yang menjabat sebagai pimpinan tertinggi Universitas al-Azhar, Mahmud Syaltut. Artikel ini bertujuan untuk membaca dan memahami struktur dan konsep pemahaman tematis non-sektarian dalm studi tafsir, terlebih pada masanya Syaltut merupakan salah satu yang pertama melahirkan ide penafsiran al-Qur’an secara tematis. Dengan metode dan pendekatan hermeneutic secara komprehensif, penulis berusaha melihat keterpengaruhan dan latar belakang yang menjadikan Syaltut memiliki kemampuan yang cakap serta dinamis dalam memahamkan dan mementaskan pemahaman sektarian kepada pemahaman terhadap al-Qur’an yang universal, terlebih pada era Syaltut hidup. Gagasan tematik dalam menafsiri kalam Tuhan yang lebih kurang diwariskan pendahulunya ia coba matangkan konsepnya. Hal tersebut merupakan suatu bentuk (tekstur) baru pada ranah tafsir al-Qur’an modern. Mahmud Syaltut adalah sosok yang patut diberi apresiasi dalam ranah kajian tafsir kontemporer, khususnya model tematis. Kontribusinya masih membekas hingga hari ini dalam ranah kajian tafsir al-Qur’an, karena nalar dan usaha penafsirannya yang tidak lagi sektarian. Hasil dari pembacaan dan pemahaman terhadap konsep Mahmud Syaltut patutnya dapat memantik spirit muslim modern dalam membaca dan memahami ayat-ayat Tuhan dan memahami keragaman dalam penafsiran sehingga tidak saling klaim kebenaran dan menyalahkan perbedaan dalam menafsiri kalam Tuhan.
Analisis-Kritis Tafsir Maqashidi atas Penafsiran Poligini Muhammad Syahrur
HERMENEUTIK Vol 16, No 2 (2022): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v16i2.14238
Maqashidi's Critical Analysis of the Polygynous Interpretation of Muhammad Syahrur. The issue of polygyny is still a matter of controversy both among the general public and classical to contemporary Muslim scholars. Syahrur as one of the contemporary Islamic thinkers also contributed by presenting a new perspective through his limit theory (had al-adna and had al-a'la). This study aims to analyze Syahrur's thoughts on polygyny using the maqashidi interpretation paradigm. This study will use the maqashidi interpretation paradigm as the philosophical basis for the interpretation of the Qur'an (maqashidi as philosophy and as critic) to review the extent to which Syahrur's interpretation is compatible with the principles of maqashid as-syari'ah and maqashid al-Quran. The results of This study shows that the polygynous verse, in Syahrur's view, is basically a solution to the social problems of humanity that arose in the context of Arab society at the time of the Prophet.Through the analysis of the maqashidi interpretation paradigm the author concludes that Syahrur's interpretation of the polygynous verse is in accordance with the values of maqashid as-Shari'ah values such as hifz ad-din, hifz an-nafs, and hifz an nasl. Likewise with maqashid al-Quran values such as justice, humanity, freedom, and the value of responsibility. Syahrur did not respect other maqashidi values such as hifz an nasl and the value of justice.
Penciptaan Manusia Perspektif al-Quran: Kajian Tafsir Tematik Kata al-Insan
HERMENEUTIK Vol 16, No 2 (2022): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v16i2.15332
The Creation of Man in Quranic Perspective: the Study of Thematic Interpretation of the Words of al-Insan. This study aims to describe the word al-Insan in the Quran in terms of language, interpretation, asbab al-nuzul, and the values of its content. This study is library research with qualitative approach. The data analysis technique adopted the qualitative data analysis technique of Miles and Huberman combined with the thematic study of the Qur'anic interpretation. The results show the word al-Insan in Quran was mentioned 65 times. In terms of language, al-Insan means docile or friendly, forgetful, and knowing. The word al-Insan in Quran discusses human comprehensively which consists of physical and psychological. This is explained from the various uses of the word al-Insan in the Quran about the process of human creation, about human nature, and human tasks and the value of human’s education. Inside the good and bad potential of humans, they carry the mandate to obey God. So that humans do not lose in this world and the hereafter, Allah gives the keys to education, including discipline education, time management, faith, good deeds, and mutual advice in truth and patience.
‘Ilm al-Ma’ānī min Mahārāt Fahm al-Qur`ān: Dirāsat Tahlīliyyah li Naw’ai al-Khabar wa al-Insyā` fī Sūrah al-Infitār Namūdzajan
HERMENEUTIK Vol 16, No 2 (2022): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v16i2.12602
علم المعاني من عناصر علم البلاغة مستخدَم لكشف أسرار الإعجاز من آيات القرآن. وهو يُعتبر من مهارات فهم القرآن. فمن مباحث في علم المعاني هما الخبر والإنشاء. فالخبر هو ما يحتمل الصدق والكذب، وأما الإنشاء عكسها، ما لا يحتمل الصدق والكذب. في هذه المقالة تودّ الباحثة تحليل كلتا النوعين من علم المعاني من خلال دراسة عميقة على إحدى سورة القرآن. فوقع خيار الباحثة على سورة الانفطار التي فيها حكايات وقصص عن أحداث يوم القيامة بشكل واضح. فقد نهج هذا البحث على منهج دراسة مكتبية بطريقة تحليلية ووصفية. فاستنتج البحث على أن سورة الإنفطار لا تحتوي على عناصر خبرية فحسب، بل تحتوي أيضًا على عناصر إنشائية في شكل النداء والاستفهام. فعناصر الخبر (الخبر) وغير الخبرية (إنشاء) لها معانيها حسب التقسيم والآدوات المستخدمة فيها. فهناك 13 آية من سورة الإنفطار تضمن تحت الخبر بأنواعه المختلفة ولها معانها حسب الأدوات التأكيد المستخدمة فيها، وجاءت باقيات الآيات في شكل الإنشاء بنوعيه طلبي مع أداة الاستفهام والنداء المستخدمة فيها والكلام المتضمن في الإنشاء غير طلبي على شكل التعجب.
Diskursus Pembunuhan dalam Kajian Ayat-ayat al-Qur’an
HERMENEUTIK Vol 16, No 2 (2022): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v16i2.13876
Kajian ini merupakan riset penelitian dengan menggunakan metode kualitatif melalaui penelitian perpustakaan (library research). Penelitian ini bertujuan untuk memahami ayat-ayat al-Qur’an tentang sebab dan akibat pembunuhan dalam Al-Qur’an. Teknik pengumpulan data penelitian ini, yaitu merujuk sumber primer, seperti Al-Qur’an dan Kitab Tafsir, sedangkan sumber sekunder dalam mendukung hasil penelitian ini berasal dari buku, artikel ilmiah maupun artikel koran terkait dengan tema yang dibahas. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan, bahwa ayat yang menjelaskan tentang sebab dan akibat pembunuhan dalam al-Qur’an terdapat tiga kata, yaitu kata Al-Qatl berjumlah 34 ayat, kata al-Maut berjumlah 1 ayat dan fahishah berjumlah 8 ayat. Pemahaman ulama terhadap sebab pembunuhan dalam al-Qur’an, yaitu amarah dan emosi yang tidak dapat dikendalikan, sehingga terjadinya perbuatan yang menghilangkan nyawa orang lain. Sedangkan akibat pembunuhan dari penafsiran para ulama, yaitu hal yang tidak menyenangkan baik di dunia maupun diakhirat dan termasuk dari perbuatan dosa besar.
Temperatur dalam al-Qur’an; Tafsir Ilmi atas Kata al-Harr dan al-Bard
HERMENEUTIK Vol 16, No 2 (2022): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v16i2.14024
Temperature in the Qur'an; Scientific Interpretation of the Words of al-Harr and al-Bard. The efforts to study Qur'an through a scientific approach are known as 'ilmi' interpretations. The Qur'an provides scientific cues in the discussion of verses regarding faith. In the Qur'an, the degree of hotness and coldness of an object is discussed in surah themes regarding the nature of heaven and hell, the creation of the jinn, fire, punishment (torment) and the trading habits of the Quraysh. The Qur'an uses word of al-harr for hot temperatures and al-bard for cold temperatures. Through the exploration of the meaning of the two words, this study seeks to reveal the scientific signs conveyed by the Qur'an in the discussion of temperature verses through the search for thematic interpretation methods. Some of the scientific cues obtained include: (1) each words expresses a different degree of temperature, (2) the word of al-harr refers to the peak of summer in Medina, (3) the phenomenon of cool flame (cold fire), and (4) water sources. Heat can be used as a treatment medium. The exposure of these signs does not show a contradiction between scienceand the Qur'an. On the other hand, it strengthens the purpose and function of the Qur'an as a guide for humans.