cover
Contact Name
Muhammad Zuhurul Fuqohak
Contact Email
hermeneutik@stainkudus.ac.id
Phone
+6285326311019
Journal Mail Official
hermeneutik@stainkudus.ac.id
Editorial Address
Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kudus, Jl. Conge Ngembalrejo PO.BOX 51 Kudus, Jawa Tengah, Indonesia
Location
Kab. kudus,
Jawa tengah
INDONESIA
Hermeneutik : Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
ISSN : 19077246     EISSN : 25026402     DOI : http://dx.doi.org/10.21043/hermeneutik
We accept scholarly article that the subject covers textual and fieldwork studies with various perspectives of Quranic Studies Quranic Exigesis Studies Philology Studies Ulumul Qur`an Living Qur`an
Articles 417 Documents
Integrating Multicultural Values in Surah Al-Hujurat Verse 13: An Analysis of Ibn Kathir's Exegesis and Its Relevance to Contemporary Society Suardi, Indra; Nurdiani, Nurdiani; Sibawaihi, Sibawaihi; Basri, Hasan
HERMENEUTIK Vol 18, No 2 (2024): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v18i2.29834

Abstract

In the context of globalization, contemporary society encounters significant obstacles in fostering unity within variety, frequently leading to identity conflicts stemming from the failure of individuals or groups to acknowledge and value differences. This study aims to analyze the concept of multicultural values in Al-Hujurat verse 13 through Ibn Kathir's Tafsir. The employed methodology is a literature review utilizing a content analysis approach. This study's findings indicate that, according to Tafsir Ibn Kathir, the passage suggests that multiculturalism promotes appreciation for diversity, with piety serving as the primary criterion for an individual's nobility, rather than ethnic or racial identity. Furthermore, Islamic teachings advocate for the establishment of a harmonious existence within variety and denounce all types of prejudice based on ethnic or cultural backgrounds. Berangkat dari kompleksnya interaksi antarbudaya di era globalisasi, masyarakat modern menghadapi tantangan besar dalam membangun kesatuan di tengah keberagaman, sering kali terjadi konflik identitas akibat ketidakmampuan individu atau kelompok untuk menerima dan menghargai perbedaan. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji konsep nilai multikultural yang terkandung dalam surah Al-Hujurat ayat 13 melalui analisis Tafsir Ibnu Katsir. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan pendekatan analisis isi. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa menurut Tafsir Ibnu Katsir, Ayat tersebut menyiratkan bahwa multikulturalisme mengajarkan penghargaan terhadap perbedaan, di mana takwa dijadikan sebagai ukuran utama kemuliaan seseorang, bukan berdasarkan identitas etnis atau ras. Selain itu, ajaran Islam mendukung terciptanya kehidupan yang harmonis di tengah keragaman, serta menolak segala bentuk diskriminasi yang didasarkan pada latar belakang etnis atau budaya.
The Habit of Midnight Prayer in Cultivating Spiritual Intelligence; Term of Surah Al-Isra: 79 Anshori, Irfan; Wasehudin, Wasehudin
HERMENEUTIK Vol 18, No 2 (2024): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v18i2.29093

Abstract

This research aims to measure the influence of students' understanding of Surah Al-Isra, verse 79, on the habituation of the Sunnah prayer of Tahajjud and its impact on spiritual intelligence. This research primarily focuses on examining the impact of students' understanding of the verse on their behavior, specifically in relation to their habit of performing the tahajud prayer and their spiritual intelligence. This is important because there are still students who, despite understanding the verse and practicing the tahajud prayer, continue to engage in negative behaviors. Teachers, students, and community leaders participate in interviews and questionnaires as part of the quantitative descriptive research method. Slovin's formula, with a margin of error of 10%, selected a research sample of 69 students from a population of 698 individuals. The results indicate that 76.4% of the students' understanding of Surah Al-Isra, verse 79, influences their spiritual intelligence. Additionally, the habit of performing Tahajjud prayers contributes 43.4% to the enhancement of students' spiritual intelligence. Overall, the relationship between the understanding of the verse, the habit of Tahajjud prayers, and spiritual intelligence mutually influences each other with a value of 76.9%. The implications of this study highlight the importance of improving students' understanding of Surah Al-Isra, verse 79, to encourage consistency in the practice of Tahajjud prayers, which can ultimately enhance spiritual intelligence. Teachers, educators, and policymakers in the pesantren environment can use this as a guide to design more effective educational programs that enhance spiritual intelligence through a religious approach. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur pengaruh pemahaman santri terhadap surah al-Isra ayat 79 dalam membiasakan salat sunnah tahajud serta dampaknya terhadap kecerdasan spiritual. Fokus utama penelitian ini adalah meneliti bagaimana pemahaman terhadap ayat tersebut dapat memengaruhi perilaku santri, terutama terkait kebiasaan salat tahajud dan kecerdasan spiritual, mengingat masih adanya santri yang meskipun memahami ayat dan melaksanakan salat tahajud, namun tetap melakukan perilaku negatif. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan deskriptif, di mana data dikumpulkan melalui wawancara dan kuesioner yang melibatkan guru, siswa, dan tokoh masyarakat. Dari populasi sebesar 698 orang, sampel penelitian dipilih sebanyak 69 siswa menggunakan rumus Slovin dengan tingkat kesalahan 10%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 76,4% pemahaman santri terhadap surah al-Isra ayat 79 berpengaruh pada kecerdasan spiritual mereka. Selain itu, pembiasaan salat tahajud berkontribusi sebesar 43,4% terhadap peningkatan kecerdasan spiritual siswa. Secara keseluruhan, hubungan antara pemahaman ayat, kebiasaan salat tahajud, dan kecerdasan spiritual saling mempengaruhi dengan nilai sebesar 76,9%. Implikasi dari penelitian ini menunjukkan pentingnya meningkatkan pemahaman santri terhadap surah al-Isra ayat 79 untuk mendorong konsistensi dalam pelaksanaan salat tahajud, yang pada akhirnya dapat meningkatkan kecerdasan spiritual. Hal ini dapat menjadi panduan bagi guru, pendidik, dan pemangku kebijakan di lingkungan pesantren dalam merancang program pendidikan yang lebih efektif dalam meningkatkan kecerdasan spiritual melalui pendekatan keagamaan.
Exploring the Qualities of Ibadurrahman: Insights from Surah Al-Furqan 63-77 in Tafsir Al-Munir by Wahbah Az-Zuhaili Br Munthe, Rizki Marliana; Sahrin, Abu
HERMENEUTIK Vol 18, No 2 (2024): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v18i2.29412

Abstract

The concept of Ibadurrahman in the Qur'an, especially in Surah Al-Furqan verses 63-77, offers profound moral and spiritual guidance for Muslims. In this modern era, when social, moral and spiritual challenges are increasingly complex, the characteristics of Ibadurrahman which reflect noble morals and submission to Allah become very relevant. Therefore, this study aims to examine the concept of Ibadurrahman in the Qur'an in Surah Al-Furqan verses 63-77 through the interpretation approach of Al-Munir by Wahbah Az-Zuhaili. This study uses a library research method using a content analysis approach. The results of this research show that Ibadurrahman is not only a group of servants of God with commendable qualities, but is also an example for humanity in living a life of noble character. The characteristics of 'Ibadurrahman according to al-Munir's interpretation include tawadhu, gentleness, diligent in offering night prayers (Tahajud), fear of the punishment of Allah SWT, fair in giving, avoiding polytheism, killing and adultery, avoiding false testimony or speaking lies, receive advice, and pray wholeheartedly to Allah SWT. So as servants we are required to be able to implement the characteristics of 'Ibadurrahman. Konsep Ibadurrahman dalam Al-Qur'an, khususnya dalam Surah Al-Furqan ayat 63-77, menawarkan panduan moral dan spiritual yang mendalam bagi umat Islam. Di era modern ini, ketika tantangan sosial, moral, dan spiritual semakin kompleks, karakteristik Ibadurrahman yang mencerminkan akhlak mulia dan ketundukan kepada Allah menjadi sangat relevan. Oleh karena itu, Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep Ibadurrahman dalam Al-Qur’an pada surah Al-Furqan ayat 63-77 melalui pendekatan tafsir Al-Munir karya Wahbah Az-Zuhaili. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan (Library Research) dengan menggunakan pendekatan content analysis (analisis isi). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Ibadurrahman bukan hanya sekelompok hamba Allah dengan sifat terpuji, tetapi juga menjadi teladan bagi umat manusia dalam menjalani kehidupan yang berakhlak mulia. Adapun ciri-ciri sifat ‘Ibadurrahman menurut tafsir al-Munir yakni diantaranya tawadhu, lemah lembut, rajin mendirikan shalat malam (Tahajud), takut dengan adzab Allah Swt, adil dalam berinfak, menjauhi syirik, membunuh, dan zina menjauhi persaksian palsu atau berbicara dusta, menerima nasihat-nasihat, serta berdoa dengan penuh hati kepada Allah Swt. Sehingga sebagai seorang hamba kita dituntut agar mampu mengimplementasikan ciri dari sifat ‘Ibadurrahman tersebut.
The Leadership Concept of Amanah and Justice in Tafsir al-Manar: An Analysis of Surah an-Nisa 58 Al Kahfi, Al Kahfi; Mahmud, Hamidullah; Huda, M. Ikhwanul
HERMENEUTIK Vol 18, No 2 (2024): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v18i2.29314

Abstract

This research investigates amanah and justice as leadership management based on Tafsir al-Manar, an analysis of an-Nisa 58.  This verse emphasises the importance of fulfilling amanah and upholding justice as two fundamental principles in effective leadership and responsibility,  Muhammad Abduh and Muhammad Rasyid Ridha, in his work al-Manar, said that the concept encompasses broad responsibilities of moral and political aspects. Leaders are expected to entrust responsibilities to the right individuals who possess competence and skills, however, justice in this verse is also understood as a leader's obligation without discrimination in law and social context. Al-Manar, as a work of tafsir, is particularly significant because it focuses on social and political themes, aiming to establish a Muslim community connected to the modern era, and it is different from other tafsir such as al-Misbah, which focuses more on spirituality and morality. Furthermore, al-Manar has been claimed as most relevant in social and political themes in facing any challenges in the modern leadership context. This research attempted to conclude that amanah and justice as a concept of Islamic Fundamental Principles, can't be separated in fostering harmony and prosperity within society. In the modern era, both of these values are more relevant, especially in addressing leadership crises.  Amanah (responsibility) and justice are significant keys to developing a sustainable social order. Penelitian ini menganalisis konsep amanat dan keadilan dalam manajemen kepemimpinan berdasarkan penafsiran Tafsir Al-Manar terhadap QS. An-Nisa ayat 58. Ayat ini menegaskan pentingnya menunaikan amanat dan menegakkan keadilan sebagai dua prinsip utama dalam kepemimpinan yang efektif dan bertanggung jawab. Menurut Tafsir al-Manar yang dikembangkan oleh Muhammad Abduh dan Rasyid Rida, amanat mencakup tanggung jawab yang luas, mulai dari aspek moral hingga politik. Pemimpin diharapkan menyerahkan amanat kepada individu yang memiliki kompetensi dan integritas yang memadai. Selain itu, keadilan dalam ayat ini dipahami sebagai kewajiban pemimpin untuk bersikap objektif dalam setiap pengambilan keputusan, tanpa diskriminasi, baik dalam konteks hukum maupun sosial. Keunggulan Tafsir al-Manar terletak pada fokusnya yang lebih luas terhadap pembaharuan sosial dan politik. Tafsir ini berusaha mengembalikan umat Islam kepada nilai-nilai dasar agama yang berpadu dengan kemajuan ilmiah dan sosial, berbeda dengan tafsir lain seperti Tafsir al-Misbah, yang lebih menekankan aspek spiritualitas dan moral individu. Dengan demikian, Al-Manar lebih relevan dalam konteks reformasi sosial dan politik untuk mengatasi tantangan-tantangan seperti korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan yang sering dihadapi dalam kepemimpinan modern. Penelitian ini menyimpulkan bahwa konsep amanat dan keadilan menurut Al-Manar merupakan fondasi kepemimpinan Islami yang tak terpisahkan dalam menciptakan masyarakat yang adil, harmonis, dan sejahtera. Dalam konteks modern, kedua nilai ini sangat relevan, terutama dalam menghadapi krisis kepemimpinan, korupsi, dan ketidakadilan. Amanat yang dijalankan dengan adil, serta keadilan yang ditegakkan oleh pemegang amanat yang berintegritas, adalah kunci untuk membangun tatanan sosial yang berkelanjutan.
Classification of Readers Reception of Surah Al-Waqiah in Mujahadah Waqiah According to Hall’s Reception Theory Ulya, Ulya; Muamalah, Sholihatun
HERMENEUTIK Vol 18, No 2 (2024): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v18i2.29328

Abstract

Surah Al-Waqiah is believed to contain many virtues, among others, it will bring abundant sustenance and avoid poverty and destitution for its readers.  Therefore, many Muslims interact directly with it. At Al-Mawaddah Islamic Boarding School in Kudus, this interaction is embodied in the tradition named with Mujahadah Waqiah. The article aims to find out the classification of reception for residents of Al-Mawaddah as readers Surah Al-Waqiah in Mujahadah Waqiah. Using a descriptive qualitative approach, the research draws on field data collected through semi-structured interviews, non-participant observation, and documentation from caregivers, teachers, students, and community members involved in the tradition. The collected data is interpreted based on Stuart Hall's reception theory.  Based on the theory, there are two classifications the residents of Al-Mawaddah receipt Surah Al-Waqiah in Mujahadah Waqiah. Some are the dominant readers, but most of them are negotiation readers. This latest finding further confirms the theory that readers are not passive, but active. Interest factors, individual experiences, and social relations play a very important role in the reception process of the residents of the Al-Mawaddah Islamic Boarding Scholl in Kudus towards Surah Al-Waqiah.Surah Al-Waqiah diyakini mengandung banyak keutamaan, antara lain, akan mendatangkan rezeki yang melimpah dan terhindar dari kefakiran dan kemiskinan bagi pembacanya. Oleh karenanya banyak orang Islam yang berinteraksi langsung dengannya. Interaksi warga Pesantren Al-Mawaddah di Kudus dengan Surah Al-Waqiah diimplementasikan dalam tradisi Mujahadah Waqiah. Artikel bertujuan mengetahui klasifikasi resepsi warga Pesantren Al-Mawaddah Kudus sebagai pembaca Surah Al-Waqiah dalam Mujahadah Waqiah.  Artikel ini merupakan hasil penelitian lapangan dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Sumber datanya berasal dari para pengasuh, guru, santri, juga masyarakat sekitar yang terlibat dalam tradisi tersebut. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi terstruktur, observasi non-partisipatoris, dokumentasi. Data yang terkumpul diinterpretasikan berdasarkan teori resepsi Stuart Hall. Berdasarkan teori Hall, ditemukan 2 (dua) klasifikasi warga pesantren Al-Mawaddah dalam meresepsi Surah Al-Waqiah pada Mujahadah Waqiah. Sebagian sebagai pembaca dominan, namun sebagian besar mereka menjadi pembaca negosiasi. Temuan terakhir ini semakin menegaskan teori bahwa pembaca bukankah pihak yang pasif, tetapi aktif. Faktor kepentingan, pengalaman individual, relasi sosial sangat berperan dalam proses resepsi warga Pesantren al-Mawaddah Kudus terhadap Surah  Al-Waqiah.
تحليل كلمة الصيام في القرآن الكريم وآثاره الصحية (دراسة دلالية علمية) Zubaidi, Sujiat; Nisa, Salma Sholochatun; Nalatama, Rahma
HERMENEUTIK Vol 18, No 2 (2024): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v18i2.26744

Abstract

ملخصبشكل عام، يعتقد المجتمع الإسلامي أن الصيام من عبادات المسلمين، وكل فرد يصوم كشكل من أشكال طاعة الله تعالى. ويحتوي مصطلح الصيام في القرآن على جملتين وهما الصوم والصيام الذين لهما نفس المعنى بشكل عام، وذاك على الرغم من وجود اختلاف في المعنى بين الكلمتين، ويرتبط الصيام بالآثار الصحية للجسم. من الخلفية السابقة، تحاول الباحثة أن تصف وتحلل أسرار الصيام الواردة في مشاكل القرآن من أجل معرفة معنى كلمة الصيام في القرآن بشكل واضح وآثاره الصحية. وهذه المناقشة عبارة عن مناقشة أدبية  استخدم فيها الباحثة بالأساليب الوصفية والتحليلية والاستقرائية لكشف أسرار الصيام الواردة في القرآن وتأثيراته على الصحة الجسدية. وحصلت الباحثة على أن معنى كلمة الصوم في القرآن هو الإمساك، فكلمة الصوم بمعنى الإمساك عن القول، وكلمة الصيام بمعنى الإمساك عن العطش والجوع وكل ما يبطله. والنتيجة الأخيرة هي تأثير الصيام على الصحة، مثل راحة الجهاز الهضمي، وتطهير الأمعاء، وإزالة السموم والدهون من الكبد، وعملية تكوين بروتينات الالتهام الذاتي من الخلايا الضارة. Secara umum masyarakat Islam meyakini bahwa puasa merupakan salah satu kewajiban ibadah umat Islam, setiap individu berpuasa sebagai bentuk ketaatan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Istilah puasa dalam Al-Qur'an mengandung dua kalimat, yaitu “shaum” dan “shiyam”, yang secara umum mempunyai arti yang sama, meskipun terdapat perbedaan makna antara kedua kalimat tersebut, dan puasa dikaitkan dengan dampak kesehatan. tubuh. Dengan latar belakang sebelumnya, peneliti mencoba mendeskripsikan dan menganalisis rahasia puasa yang terkandung dalam Al-Qur'an agar dapat mengetahui secara jelas makna kata puasa dalam Al-Qur'an dan dampaknya bagi kesehatan. Pembahasan ini merupakan pembahasan kepustakaan (library study), dimana peneliti menggunakan metode deskriptif, analitis dan induktif untuk mengungkap rahasia puasa yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan pengaruhnya terhadap kesehatan jasmani. Peneliti memperoleh makna kata “shaum” dalam Al-Qur’an adalah "menahan", sehingga kata “shaum” adalah menahan untuk mengucapkan, dan “shiyam” adalah mehanan dari rasa haus dan lapar serta segala sesuatu yang berlalu. Hasil akhirnya adalah efek puasa terhadap kesehatan, seperti mengistirahatkan sistem pencernaan, membersihkan usus, mengeluarkan racun dan lemak dari hati, serta proses pembuatan protein autophagy dari sel-sel berbahaya.
Implementation of The Interpretation of QS. Al-Baqarah (2): 208 About Islam Kaffah and Its Urgency With Abdurrahman Wahid’s Thinking in The Indonesian Context Baihaki, Baihaki; Waro, Mochamad Tholib Khoiril; Maulana, Anas; Zamawi, Bahrudin
HERMENEUTIK Vol 18, No 2 (2024): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v18i2.28903

Abstract

This research is motivated by the implications of interpreting QS. Al-Baqarah verse 208, about Islam Kaffah which serves as a foundation for some organizations in advocating for a government ideology based on Islamic caliphate, and the urgency of Abdurrahman Wahid’s interpretive offer in the Indonesian context. This study employs library research, which involves exploring information and data from books, texts, and related journal articles, using the paradigm shift theory of Thomas Kuhn and the reception study of the living Qur’an. The results of this research are: First, the meaning of a word or interpretation can evolve and shift according to its context. For instance, the term al-silmi can mean Islam (Islamic law) or peace. In classical interpretations, al-silmi was firmly understood as Islam, while in the contemporary Indonesian context, it is interpreted as peace, as explained by Abdurrahman Wahid. Second, in the approach of the living Qur’an study, the reception and interaction of Abdurrahman Wahid with this verse encompass multiple aspects, including hermeneutic reception, aesthetic reception, social reception, cultural reception, and artifact reception in terms of works like books. Penelitian ini dilarbelakangi mengenai implikasi penerapan dari penafsiran QS. Al-Baqarah ayat 208 tentang Islam Kaffah yang menjadi salah satu landasan ormas dalam menerapkan ideologi pemerintahan harus berupa khilafah Islamiyah dan urgensinya tawaran  penafsiran pemikiran Abdurrahman Wahid dalam konteks ke-Indonesiaan. Jenis penelitian ini menggunakan jenis penelitian pustaka (library research) yakni menggali segala informasi dan data yang didapat dari telaah pustaka berupa buku, kitab, dan artikel jurnal terkait, dengan pendekatan teori pergeseran paradigma Thomas Kuhn dan kajian resepsi living Qur’an. Hasil dari penelitian ini adalah pertama, bahwa makna dari suatu kata atau penafsiran itu bisa berkembang dan bergeser sesuai dengan kontek yang melingkupinya seperti makna kata al-silmi bisa berarti Islam (syariat Islam)  dan bisa juga berarti kedamaian, dalam penafsiran era klasik makna kata al-silmi yang mapan adalah Islam, sedangkan dalam konteks ke Indonesiaan sekarang makna yang sesuai adalah diartikan kedamaian sebagaimana yang dijelaskan oleh Abdurrahman Wahid. Kedua, dalam pendekatan kajian living Qur’an, Resepsi dan Interaksi Abdurrahman Wahid terhadap ayat tersebut, yang penulis dapatkan bisa mempunyai banyak aspek, yaitu bisa berupa resepsi hermeneutis, resepsi estetis, resepsi sosial, resepsi kultural dan resepsi artefak dalam artian bentuk karya seperti buku.

Filter by Year

2013 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 18, No 2 (2024): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 18, No 1 (2024): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 17, No 2 (2023): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 17, No 1 (2023): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 16, No 2 (2022): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 16, No 1 (2022): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 15, No 1 (2021): Available June 2021 Vol 15, No 2 (2021): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 15, No 1 (2021): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 14, No 2 (2020): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 14, No 1 (2020): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 13, No 2 (2019): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 13, No 1 (2019): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 12, No 2 (2018): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 12, No 1 (2018): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 11, No 2 (2017): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 11, No 1 (2017): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 10, No 2 (2016): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 10, No 1 (2016): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 9, No 2 (2015): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 9, No 1 (2015): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 8, No 2 (2014): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 8, No 1 (2014): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 7, No 2 (2013): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 7, No 1 (2013): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir More Issue