Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika (p-ISSN: 2086-4280 & e-ISSN: 2527-8827) mempublikasikan artikel ilmiah hasil penelitian dalam bidang pendidikan matematika yang belum pernah dipublikasikan. Penulis dapat berasal dari berbagai level, seperti mahasiswa (S1, S2, S3), guru, dosen, praktisi, maupun pemerhati pendidikan matematika. Mosharafa terbit tiga kali dalam satu tahun, yaitu pada bulan Januari, Mei, dan September. Penerbit Mosharafa adalah Program Studi Pendidikan Matematika Institut Pendidikan Indonesia.
Articles
14 Documents
Search results for
, issue
"Vol 5, No 2 (2016)"
:
14 Documents
clear
Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa melalui Pembelajaran Berbasis Masalah
Tina Sri Sumartini
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (887.321 KB)
|
DOI: 10.31980/mosharafa.v5i2.270
ABSTRAKPenelitian ini dilatarbelakangi oleh hasil-hasil penelitian terdahulu yang menunjukkan bahwa kemampuan pemecahan masalah matematis siswa belum sesuai dengan yang diharapkan. Salah satu pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis adalah pembelajaran berbasis masalah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa sebagai akibat dari pembelajaran berbasis masalah. Penelitian ini adalah kuasi eksperimen yang menerapkan dua pembelajaran yaitu pembelajaran berbasis masalah dan pembelajaran konvensional. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa di salah satu SMK di Kabupaten Garut. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling, dan diperoleh dua kelas sebagai sampel penelitian. Instrumen penelitian yang digunakan adalah tes kemampuan pemecahan masalah matematis. Berdasarkan hasil analisis tersebut diperoleh kesimpulan bahwa: (1) peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang mendapat pembelajaran berbasis masalah lebih baik daripada siswa yang mendapat pembelajaran konvensional, (2) Kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh siswa ketika mengerjakan soal-soal yang berkaitan dengan kemampuan pemecahan masalah matematis adalah kesalahan karena kecerobohan atau kurang cermat, kesalahan mentransformasikan informasi, kesalahan keterampilan proses, dan kesalahan memahami soal.ABSTRACTThis research is motivated by the results of previous studies that showed that students' mathematical problem solving ability is not as expected. One lesson to improve mathematical problem solving is based learning problems . The purpose of this study was to determine the increase in students' mathematical problem solving ability as a result of problem-based learning. This study is a quasi-experimental study that applies two problem-based learning and conventional learning. The population in this study were students in one of the vocational schools in Garut. Sampling was done by purposive sampling, and obtained two classes as the study sample. The research instrument used was a test of mathematical problem solving abilities. Based on these results we concluded that: (1) the increase in students' mathematical problem solving ability that gets problem-based learning better than students who received conventional learning, (2) mistakes made by student when working on the problems related to mathematical problem solving ability was a mistake due to carelessness or less closely, tansform fault information, error process skills, and misunderstanding question.Keywords: problem based learning, mathematical problem solving ability
Mengembangkan Kemampuan Komunikasi Matematik Siswa melalui Strategi Think Talk Write
Reni Nuraeni;
Irena Puji Luritawaty
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (905.891 KB)
|
DOI: 10.31980/mosharafa.v5i2.265
ABSTRAKPenelitian ini didasarkan pada permasalahan rendahnya kemampuan komunikasi matematik siswa. Sebagai alternatif dari permasalahan tersebut, dilakukan penelitian dengan penerapan strategi think talk write dalam pembelajaran. Penelitian ini mengkaji pencapaian kemampuan komunikasi matematik siswa yang memperoleh strategi pembelajaran think talk write dengan pembelajaran konvensional. Penelitian ini merupakan penelitian kuasi eksperimen dengan menggunakan teknik purposive sampling. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa salah satu MTs swasta di Kabupaten Garut. Untuk sampel penelitiannya diambil dua kelas tingkat VII, satu kelas sebagai kelas kontrol dan satu kelas lainnya sebagai kelas eksperimen. Instrumen yang digunakan dalam penelitian berupa tes kemampuan komunikasi matematik. Analisis data dilakukan dengan uji statistik deskriptif dan inferensial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pencapaian kemampuan komunikasi matematik siswa yang memperoleh strategi pembelajaran think talk write lebih baik daripada siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional.ABSTRACTThis research is based on the issues of mathematical communication skills students lack. As an alternative to that problem, conducted research with the implementation of the strategy think talk write in the study. This research examines the achievements of mathematical communication skills students acquire learning strategies think talk write with conventional learning. This research was quasi experimental study by using purposive sampling technique. The population in this study are all the students one of MTs in Garut. The research sample is taken for two grade levels VII, one class as the control class and one other class as a experiment class. The instruments used in the study of mathematical communication ability tests. The data analysis done with test descriptive statistics and inferensial. The results showed that the achievement of mathematical communication skills students acquire learning strategies think talk write better than students who get conventional instruction.
Penggunaan Software ATLAS.ti sebagai Alat Bantu Proses Analisis Data Kualitatif
Ekasatya Aldila Afriansyah
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (994.924 KB)
|
DOI: 10.31980/mosharafa.v5i2.260
ABSTRAKBerdasarkan penelitian-penelitian yang telah dilakukan di Indonesia, khususnya di bidang pendidikan matematika, penelitian kualitatif masih kurang diminati. Hal ini menjadi salah satu dasar permasalahan yang ingin peneliti bahas yang bertujuan untuk menumbuhkan minat para peneliti dalam melakukan penelitian kualitatif dengan tujuan setelah para peneliti melihat penelitian ini, minat dari para peneliti muncul untuk melakukan penelitian kualitatif. Dalam penelitian ini, peneliti memperkenalkan salah satu software analisis data kualitatif dengan nama ATLAS.ti. Software ini berguna dalam membantu proses analisis data jenis penelitian kualitatif grounded theory, dalam pengolahan datanya setiap data diberi coding sehingga memudahkan peneliti nantinya untuk memanggil kembali data tersebut sebagai bahan diskusi dalam penelitiannya. Melalui penelitian ini, peneliti memiliki harapan agar muncul prosedur proses analisis data kualitatif berbantuan ATLAS.ti, melalui contoh penerapan pada salah satu kasus di bidang pendidikan matematika. Hasil dari penelitian ini berupa prosedur versi peneliti berdasarkan kasus yang peneliti gunakan.ABSTRACTAccording to some Indonesian research, especially in mathematics education, qualitative research is still less interested. It became one of basic problem that the researcher wants to discuss. Hoping after all researchers read this study, the interest of them appeared to do qualitative research. In this study, researcher introduced one of data analysis qualitative software, namely ATLAS.ti. This software was useful in helping with the process of data analysis qualitative research, especially grounded theory. Grounded theory, as ATLAS.ti, was given coding in any research data. It would be making easier for researchers to call back data later, or so on. Based on this helpful thing, researcher hoped through this research it would create a procedure data analysis qualitative research assisted by ATLAS.ti. This procedure appeared through an example of an application of one case in the field of mathematics education. The result of this research was a procedure based on the case of researcher used.
Profil Kemampuan Koneksi Matematika Siswa SMP dalam Memecahkan Masalah Matematika Ditinjau dari Gender
Fikri Apriyono
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (730.469 KB)
|
DOI: 10.31980/mosharafa.v5i2.271
ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan profil kemampuan koneksi matematika dalam memecahkan masalah matematika ditinjau gender. Pemilihan subjek laki-laki dan perempuan berdasarkan tingkat kemampuan yang setara dilihat dari tes kemampuan matematika dan nilai rapor. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dimana data yang diperoleh berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Teknik pengumpulan datanya dilakukan dengan pemberian tes pemahaman konsep dan wawancara. Dalam penelitian ini diamati siswa laki-laki dan perempuan SMPN 4 Jember kelas VIII. Peneliti melakukan wawancara pada kedua subjek penelitian. Wawancara tersebut direkam kemudian hasilnya ditranskripkan dan dikodekan. Untuk memperoleh data yang valid, data yang diperoleh ditriangulasi. Kemudian data yang valid dianalisis untuk memperoleh kesimpulan. Hasilnya berupa kemampuan koneksi matematika siswa SMP kelas VIII pada materi aljabar dan geometri.ABSTRACTThis study aimed to describe the profile of mathematics connection ability to solve problems in terms of gender. Selection of male and female subjects based on equal ability level viewed from math skills tests and grades. This study uses a qualitative method where data is obtained in the form of words written or spoken of the people and the behaviors that can be observed. Data collection techniques were conducted by giving the concept understanding tests and interviews. This study observed both boys and girls in class VIII of SMPN 4 Jember. The researcher conducted interviews to both the research subjects. The interview was recorded and then the result was transcribed and coded. To obtain valid data, the data obtained were triangulated. Then the valid data were analyzed to obtain valid conclusions. The result is the mathematics connection ability class VIII of junior high school students of on the algebra and geometry matter. This article illustrates preparation of your paper using MS-WORD. Papers should not be numbered.Keywords: Connection Mathematics, problem solving, Gender, qualitative method
Miskonsepsi Siswa dalam Memahami Konsep Nilai Tempat Bilangan Dua Angka
Matitaputy, Christi
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (762.361 KB)
|
DOI: 10.31980/mosharafa.v5i2.266
ABSTRAKKonsep-konsep matematika yang diberikan pada tingkat Sekolah Dasar merupakan konsep dasar yang berguna untuk pemahaman matematika di tingkat selanjutnya. Adanya miskonsepsi membuat pembelajaran menjadi tidak bermakna dan hubungan antar konsep menjadi terputus. Banyak hal yang menyebabkan terjadinya miskonsepsi dalam memahami nilai tempat bilangan dua angka, diantaranya dari siswa itu sendiri yang belum memahami makna nilai tempat bilangan dua angka. Penelitian ini mengungkapkan bahwa beberapa siswa belum dapat mengembangkan ide bahwa ‘ratusan’ merupakan suatu kumpulan baru yang berisikan sepuluh puluhan dan ‘puluhan’ merupakan suatu kumpulan baru yang berisikan sepuluh satuan. Penelitian ini dilakukan pada siswa Kelas 2 SD Negeri 179 Palembang. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan beberapa kesalahan konsep yang dibuat oleh siswa dalam memahami nilai tempat bilangan dua angka. Hasil penelitian menunjukan beberapa miskonsepsi siswa diantaranya adalah (1) Siswa belum mamahami prosedur dalam menghitung dan memisahkan bilangan satuan dan puluhan. (2) siswa mempunyai alternatif konsep lain tentang bilangan dua digit dan membaca bilangan tersebut sebagai bilangan yang terlepas dari suatu nilai tempat, (3) siswa memiliki alternatif konsep lain dalam memahami penjumlahan angka puluhan dan satuan.ABSTRACTMathematical concepts are given at the elementary school level is a basic concept that is useful for understanding mathematics at the next level. Their misconceptions make learning becomes no meaningful and the relationships between concepts become disconnected. Many factors led to misconceptions in understanding the value of a two digit number, such as from the students themselves who do not understand the meaning of the place value of two digit numbers. This study revealed that some students have not been able to develop the idea that 'hundreds' is a new collection containing ten tens and 'tens' is a new collection containing ten units. Research was conducted on Second Grade students at SD Negeri 179 Palembang. The purpose of this study are describe some of the misconceptions created by the students in understanding the value of a two-digit number. The results showed some misconceptions students such as; (1) Students are not understanding the procedures in counting and separating the units and tens. (2) the students have another alternative conceptions of two-digit numbers and they read these numbers as numbers that apart from a place value, (3) the students have another alternative concepts in understanding the sum of the tens and sum units.
Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Siswa melalui Pendekatan Metacognitive Instruction
Mega Achdisty Noordyana
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (861.793 KB)
|
DOI: 10.31980/mosharafa.v5i2.267
ABSTRAKSecara umum tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis matematis siswa SMP melalui pendekatan Metacognitive Instruction. Penelitian ini merupakan studi eksperimen di SMPN 2 Tarogong Kidul Garut dengan desain penelitian Kelompok kontrol Non-Ekivalen pretes-postes. Hasil penelitian menunjukan bahwa kemampuan berpikir kritis matematis siswa yang mendapat pembelajaran dengan pendekatan Metacognitive Instruction lebih baik dari pada kemampuan berpikir kritis matematis siswa yang mendapat pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran konvensional. Sikap siswa terhadap pembelajaran dengan pendekatan Metacognitive Instruction positif.ABSTRACTThe general objective of this research is to improve critical thingking mathematically junior high school students through metacognitive Instruction approach. This study is an experimental study in SMPN 2 Tarogong Kidul with research design Non-equivalent control group pretest-postes. The results showed that the ability of mathematical critical thingking of students who received metacognitive Instruction approach to learning with better on critical thingking of students who have mathematical with conventional learning. Students' attitudes toward learning with Metacognitive Instruction approach positive.
Kaitan antara Gaya Belajar, Kemandirian Belajar, dan Kemampuan Pemecahan Masalah Siswa SMP dalam Pelajaran Matematika
Rostina Sundayana
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (581.851 KB)
|
DOI: 10.31980/mosharafa.v5i2.262
ABSTRAKPada umumnya kemandirian belajar dan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa SMP masih rendah. Guru sebagai pelaksana kegiatan belajar mengajar, menjadi faktor utama yang menjadi penyebab masalah tersebut terjadi. Salah satu upaya yang dapat dilakukan guru adalah menciptakan suasana belajar yang cocok dengan jenis gaya belajar siswa (auditorial, visual, ataupun kinestetik), sehingga diharapkan tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif. Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 2 Tarogong Kidul kelas IX pada tahun ajaran 2015-2016 semester ganjil. Metode penelitian yang digunakan berupa penelitian eksplanatif komparatif-asosatif. Dari hasil penelitian terungkap bahwa: 1) Tidak terdapat perbedaan kemampuan pemecahan masalah matematik, antar siswa ditinjau dari jenis gaya belajarnya. 2) Tidak terdapat perbedaan tingkat kemandirian belajar matematika antar siswa ditinjau dari gaya belajarnya. 3) Kemandirian belajar siswa mempengaruhi tingkat kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Dari hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa setiap siswa, baik yang mempunyai gaya belajar auditorial, visual, ataupun kinestetik mempunyai tingkat kemandirian belajar dan kemampuan pemecahan masalah matematik yang sama. Selain itu, diketahui pula bahwa semakin tinggi tingkat kemandirian belajar siswa, maka semakin tinggi pula kemampuan pemecahan masalah matematis siswa.ABSTRACTIn general, independent learning and problem solving ability mathematics junior high school students is still low. Teachers practice teaching and learning activities, the main factor that causes the problem from happening. One of the efforts that teachers can do is to create a learning environment that matches the kind of student learning styles (auditory, visual, or kinesthetic), so hopefully learning objectives can be achieved effectively. This research was conducted in Tarogong South Junior High School 2 class IX in odd semester of school year 2015-2016. The method used in the form of comparative research explanation-associative. From the results of the study revealed that: 1) There is no difference in mathematical problem solving skills, among students in terms of the type of learning style. 2) There is no difference in the level of independence of learning mathematics among students in terms of learning styles. 3) Independence of student learning affects the level of students' mathematical problem solving ability. From the results of these studies indicate that each student, both of which have auditory learning style, visual, or kinesthetic have this level of independent learning and problem solving skills the same mathematical. In addition, it is also known that the higher the level of independence of student learning, the higher the students' mathematical problem solving ability.
Pengaruh Motivasi Belajar Siswa terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa di SD Angkasa 10 Halim Perdana Kusuma Jakarta Timur
Erlis Warti
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (875.187 KB)
|
DOI: 10.31980/mosharafa.v5i2.273
ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Motivas Belajar Siswa di Sekolah Dasar Angkasa 10 Halim Perdana Kusuma Jakarta Timur.Hipotesis yang akan diuji adalah terdapat pengaruh yang positif antara motivasi belajar dengan hasil belajar matematika. Penelitian ini dilakukan dengan metode survey, dengan target populasi seluruh siswa kelas VI Sekolah Dasar Angkasa 10 Halim Perdanakusuma. Sampel yang diambil secara acak sederhana. Instrumen penelitian yang akan digunakan adalah penyebaran angkat dan tes belajar matematika .Untuk mengukur motivasi menggunakan tes skala sikap yang didasarkan pada validasi isi. Dengan keterandalan dihitung dengan rumus alpha cronbach. Tes hasil belajar menggunakan soal-soal yang diberikan sesuai dengan kurikulum yang berjalan. Dengan keterandalan dihitung menggunakan uji normalitas dan uji homogenitas yang dilanjutkan dengan uji t (uji dua pihak ) pada signifikan pada taraf signifikan 0,05. Pada uji kelompok eksperimen diperoleh Y=0,0978 dan L tabel = 0,161 dan X Lo = 0,0974). Hasil penelitian menyimpulkan sebagai berikut:”Terdapat pengaruh yang positif antara motivasi belajar siswa dengan hasil belajar matematika siswa. Dengan persamaan regresi Y=a+bx=29,65 +0,605x. Koefisien korelasi (r )=0,974 signifikan pada 0,05. Hasil penelitian ini diharapkan berguna untuk para pendidik khususnya guru matematika.ABSTRACTThis study aims to determine the effect Motivation of Students Primary School Angkasa 10 Jakarta Halim Perdana Kusuma Timur. Hypothesis be tested is there are positive influence between learning motivation and learning outcomes in mathematics. This research was conducted by survey method, with a target population of all students of class VI Angkasa Primary School Halim Perdanakusuma 10. Samples were taken randomly. The research instrument that would be used was the spread of the lift and the tests measured motivation .To learn math using attitude scale tests that are based on the content validation. With the reliability was calculated by Cronbach alpha formula. Achievement test using questions provided in accordance with the curriculum runs. By reliability was calculated using the test for normality and homogeneity tests were continued by t test (test the two parties) on significant at the 0.05 significance level. On the test of the experimental group obtained Y = 0.0978 and L tables = 0.161 and X Lo = 0.0974). The study concluded the following: "There is a positive influence between the students' motivation to learn math student outcomes. With the regression equation Y = a + bx = 29.65 + 0,605x. The correlation coefficient (r) = 0.974 significant at 0.05. The results of this study are expected to be useful for educators, especially teachers of mathematics.
Meninjau Kemampuan Penalaran Matematis Siswa SMP melalui Wawancara Berbasis Tugas Geometri
Nurfadilah Siregar
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1164.489 KB)
|
DOI: 10.31980/mosharafa.v5i2.268
ABSTRAKStudi awal atau biasa disebut dengan pilot study merupakan studi pendahuluan yang dilakukan oleh kebanyakan peneliti sebagai suatu hal yang penting dalam proyek penelitian selanjutnya. Pada tulisan ini, penulis memaparkan hasil wawancara yang dilakukan dengan dua orang siswa kelas VIII pada salah satu sekolah menengah pertama di Kabupaten Bandung Barat terkait dengan menggali penalaran matematis siswa SMP. Wawancara dilakukan dengan menggunakan pedoman wawancara berbasis tugas geometri. Diperoleh hasil bahwa penalaran matematis kedua siswa tersebut terkait penyelesaian tugas geometri masih rendah. Siswa lebih cenderung menyelesaikan tugas secara langsung tanpa mengetahui alasan mereka menjawab tugas geometri tersebut.ABSTRACTPreliminary study or commonly called the pilot study is a study conducted by most researchers as an important issue in future research projects. In this paper, the author present results of interviews conducted with two students in eighth grade at one of junior high school in West Bandung regency about digging their mathematical reasoning. Interviews were conducted by using a task-based geometry. The results indicate that mathematical reasoning of the students’ related to the completion of geometry task still low. Students more likely to complete tasks directly without knowing the reason they answered the geometry tasks.
Upaya Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa dengan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia
Reni Wahyuni
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1156.104 KB)
|
DOI: 10.31980/mosharafa.v5i2.263
ABSTRAKPenelitian ini merupakan suatu penelitian tindakan kelas yang berkolaborasi dengan guru matematika di sekolah sehingga tujuan penelitian adalah untuk memperbaiki proses pembelajaran sehingga memiliki dampak pada upaya peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa kelas VIIc MTs Diniyah Puteri Pekanbaru. Secara teoritis dipilihlah suatu proses pembelajaran yang sesuai dengan masalah di kelas tersebut adalah Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) sebagai penerapannya. Pada penelitian ini didesain dengan menerapkan pendekatan PMRI berdasarkan karakteristik PMRI. Penelitian ini terdiri dari dua siklus untuk memperbaiki proses pembelajaran dan melihat kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Berdasarkan hasil analisis data dengan menggunakan lembar pengamatan pada siklus 1 dan siklus 2 maka terjadi perbaikan proses pembelajaran yang terlihat dari kegiatan aktifan siswa dalam belajar, bekerja sama, rasa ingin tahu , diskusi dan memberikan respon pada presentasi kelompok. Selanjutnya jika ditinjau tes kemampuan pemecahan masalah matematis siswa maka diperoleh rata-rata 63.15 dengan ketuntasan sebanyak 11 siswa sedangkan pada siklus II memperoleh rata-rata 70,70 dengan ketuntasan sebanyak 15 siswa. Secara klasikal terjadi peningkatan ketuntasan sebanyak 4 orang dari siklus 1 ke siklus 2 maka dapat disimpulkan bahwa pendekatan PMRI dapat memperbaiki proses pembelajaran dan meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa kelas VIIc MTs Diniyah Puteri Pekanbaru.ABSTRACTThis research is a classroom action research in collaboration with schools mathematics teachers so that the purpose of research is to improve the learning process so as to have an impact on improving the students' mathematical problem solving ability VIIc grade MTs Diniyah Puteri Pekanbaru. Theoretically chosen a learning process that is appropriate to the problem in the class is Indonesian Realistic Mathematics Education (PMRI) as its application. In this study was designed to implement an approach based on the characteristics PMRI. The study consisted of two cycles to improve the learning process and see the students' mathematical problem solving ability. Based on the analysis of data using observation sheet in cycle 1 and cycle 2, the improvements were visible learning process of the students in learning activities, working together, curiosity, discussion and responses to the group presentation. Furthermore, if the review test students' mathematical problem solving ability then gained an average of 63.15 with a mastery of as many as 11 students while in the second cycle obtain an average of 70.70 with a mastery of as many as 15 students. Traditionally an increase of completeness of 4 people from cycle 1 to cycle 2 it could be concluded that PMRI approach could improve the learning process and improve students' mathematical problem solving ability class VIIc MTs Diniyah Puteri Pekanbaru.