cover
Contact Name
Susy Katikana Sebayang
Contact Email
cmhp.journal@gmail.com
Phone
+6281288283367
Journal Mail Official
sksebayang@fkm.unair.ac.id
Editorial Address
Lentera Kaji Jalan Wijaya Blok A/13 RT/RW 006/015 Kampung Dua – Bekasi 17145 Indonesia
Location
Kab. bekasi,
Jawa barat
INDONESIA
Journal of Community Mental Health and Public Policy
Published by Lentera Kaji
ISSN : 26222655     EISSN : 26222655     DOI : https://doi.org/10.51602/cmhp.v3i1.43
Core Subject : Health, Education,
The Journal of Community Mental Health and Public Policy focuses on the areas of community mental health and mental health care, addiction or substance abuse, including drugs, alcohol and smoking, mental health or addiction prevention, public policy about mental health and addiction and other related subjects. This journal accepts original research or innovation and opinions on current mental health issues and public policies. Journal does not receive case reports.
Articles 98 Documents
ATTACHWELL: A CONCEPTUAL MODEL INTEGRATING ATTACHMENT-BASED WELLNESS IN PUBLIC HEALTH THROUGH A SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW Michael, Tony
Journal of Community Mental Health and Public Policy Vol. 8 No. 2 (2026): APRIL
Publisher : Lembaga Penelitian dan Terapan untuk Kesehatan Jiwa (Lenterakaji)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51602/cmhp.v8i2.212

Abstract

Background: Attachment theory provides a framework for understanding relational influences on wellness. This manuscript examines its application across public health initiatives, integrating attachment principles with SAMHSA's eight wellness domains. Purpose: The objectives are to demonstrate how secure attachment supports well-being across domains and introduce the AttachWell Model for applying attachment-informed strategies within public health. Method: A conceptual synthesis of 78 peer-reviewed studies published between 2000 and 2024 was conducted. Studies were selected based on relevance to attachment and wellness outcomes, and quality was assessed using the MMAT. Results: Evidence is strongest for emotional, intellectual, and social wellness domains, with preliminary support for physical and spiritual domains. Evidence is limited to occupational, financial, and environmental domains, highlighting research gaps. The synthesis shows secure attachment promotes resilience, emotion regulation, and social connectedness. Conclusion: The AttachWell Model advances theory by positioning secure attachment as a structural determinant of wellness. Implementation pathways include interventions, policy initiatives, and evaluation strategies. The model provides a framework for integrating attachment-informed strategies into public health practice, though further empirical validation is required. Abstrak Latar Belakang: Teori keterikatan menyediakan kerangka untuk memahami pengaruh relasional pada kesejahteraan individu dan komunitas. Naskah ini mengkaji penerapannya dalam inisiatif kesehatan masyarakat, mengintegrasikan prinsip keterikatan dengan domain kesejahteraan SAMHSA. Tujuan: Menunjukkan bagaimana keterikatan aman mendukung kesejahteraan dan memperkenalkan Model AttachWell untuk menerapkan strategi berbasis keterikatan dalam kesehatan masyarakat. Metode: Sintesis konseptual dari 78 studi peer-review dilakukan. Studi dipilih berdasarkan relevansi dengan hasil keterikatan dan kesejahteraan, dinilai menggunakan MMAT. Hasil: Bukti terkuat untuk domain kesejahteraan emosional, intelektual, dan sosial, dengan dukungan awal untuk domain fisik dan spiritual. Bukti terbatas untuk domain pekerjaan, keuangan, dan lingkungan. Sintesis menunjukkan keterikatan aman mempromosikan ketahanan, regulasi emosi, dan keterhubungan sosial. Kesimpulan: Model AttachWell memajukan teori dengan memposisikan keterikatan aman sebagai penentu kesejahteraan holistik. Jalur implementasinya mencakup intervensi, kebijakan, dan strategi evaluasi. Model ini menyediakan kerangka berbasis bukti untuk mengintegrasikan strategi keterikatan ke dalam praktik kesehatan masyarakat.
SMARTPHONE ADDICTION: PREVALENCE AND ASSOCIATED FACTORS AMONG UNDERGRADUATE STUDENTS OF A MEDICAL COLLEGE IN TAMIL NADU, INDIA – A CROSS-SECTIONAL STUDY Ravi, Jeevapriya; Devendran, Devika
Journal of Community Mental Health and Public Policy Vol. 8 No. 2 (2026): APRIL
Publisher : Lembaga Penelitian dan Terapan untuk Kesehatan Jiwa (Lenterakaji)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51602/cmhp.v8i2.310

Abstract

Background: Smartphone proliferation has raised concerns over smartphone addiction among medical students under academic pressure. Excessive use has been linked to detrimental physical and psychological effects, impacting academic performance and well-being. Purpose: This study aims to determine smartphone addiction prevalence and associated factors in undergraduate medical students at a Tamil Nadu medical college. Methods: This cross-sectional study was conducted among undergraduate medical students using the Smartphone Addiction Scale – Short Version (SAS-SV). Results: Smartphone addiction was prevalent in 26.9% of the study population. About 86.1% of students use smartphones over 6 hours daily. Social networking and YouTube were the most used features. Multivariable analysis indicated that male gender with AOR 1.94 (1.19 – 3.18) and smartphone use over 6 hours per day with AOR 4.67 (2.48 – 8.78) were significantly associated with smartphone addiction. Conclusion: A study revealed 25% of medical students showed smartphone addiction symptoms. Male gender and prolonged daily use were key risk factors. The findings emphasize the need for behavioral interventions and school-based campaigns promoting responsible smartphone use and reducing addiction effects. Abstrak Latar Belakang: Penggunaan smartphone telah menyebar luas dengan meningkatnya kekhawatiran atas kecanduan smartphone, terutama di kalangan mahasiswa kedokteran yang berada di bawah tekanan akademik yang intens. Penggunaan smartphone yang berlebihan telah dikaitkan dengan efek fisik dan psikologis yang merugikan, yang berdampak pada kinerja akademik dan kesehatan psikologis. Tujuan: Studi ini bertujuan untuk memperkirakan prevalensi kecanduan smartphone dan faktor terkait pada mahasiswa kedokteran sarjana di sebuah perguruan tinggi kedokteran di Tamil Nadu. Metode: Studi cross-sectional ini dilakukan di kalangan mahasiswa kedokteran sarjana menggunakan Smartphone Addiction Scale – Short Version (SAS-SV). Hasil: Kecanduan smartphone lazim terjadi pada 26,9% dari populasi penelitian. Sekitar 86.1% siswa menggunakan smartphone selama lebih dari 6 jam per hari. Jejaring sosial dan YouTube adalah fitur yang paling sering digunakan. Analisis multivariabel menunjukkan bahwa jenis kelamin pria dengan AOR 1,94 (1,19 – 3,18) dan penggunaan smartphone selama lebih dari 6 jam per hari dengan AOR 4,67 (2,48 – 8,78) secara signifikan terkait dengan kecanduan smartphone. Kesimpulan: Seperempat mahasiswa kedokteran ditemukan kecanduan smartphone. Jenis kelamin pria dan penggunaan harian yang berkepanjangan diidentifikasi sebagai faktor risiko utama. Temuan ini menggarisbawahi perlunya intervensi perilaku dan kampanye pendidikan berbasis sekolah yang mempromosikan penggunaan ponsel cerdas yang sehat dan mengurangi efek buruk dari kecanduan.
RELIGIOSITY DOES NOT MODERATE THE RELATIONSHIP BETWEEN FORGIVENESS AND MENTAL HEALTH OF SURVIVORS OF THE 2004 TSUNAMI INDONESIA: A CROSS-SECTIONAL STUDY Exsa, Priya; Amna, Zaujatul; Dahlia; Riady , Muhamad Antos
Journal of Community Mental Health and Public Policy Vol. 8 No. 2 (2026): APRIL
Publisher : Lembaga Penelitian dan Terapan untuk Kesehatan Jiwa (Lenterakaji)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51602/cmhp.v8i2.312

Abstract

Background: The tsunami that struck Aceh in 2004 had widespread negative impacts, including material losses, physical health problems, and psychological stress experienced by survivors. Twenty years after the event, various mental disorders such as anxiety, depression, and other emotional disorders are still found among the affected communities. In the religious culture of Aceh, religiosity is seen as a form of coping that can aid in psychological recovery. Purpose: This study aims to examine the role of religiosity as a moderate variable in the relationship between forgiveness and mental health among Aceh tsunami survivors. Method: The study used a quantitative approach with multiple regression analysis technique, involving 464 survivors selected through purposive sampling. Participants completed three research instruments, namely the Mental Health Inventory-18, Heartland Forgiveness Scale, and The Centrality of Religiosity Scale. Results: Data analysis used Hayes PROCESS moderation model 1, which showed that religiosity did not act as a moderator variable in the relationship between forgiveness and mental health. Moreover, no significant direct relationship was found between forgiveness and mental health. Conclusion: These findings indicate that forgiveness does not directly influence the level of mental health among tsunami survivors, and that religiosity does not strengthen this relationship in this context. Abstrak Latar Belakang: Tsunami Aceh 2004 menimbulkan dampak negatif luas, termasuk kerugian materiil, gangguan kesehatan fisik, dan tekanan psikologis pada penyintas. Dua puluh tahun setelah kejadian, gangguan mental seperti kecemasan, depresi, dan gangguan emosi masih ditemukan di masyarakat terdampak. Dalam budaya Aceh yang religius, religiusitas dipandang sebagai bentuk koping yang dapat membantu pemulihan psikologis. Tujuan: Penelitian ini menguji peran religiusitas sebagai variabel moderator dalam hubungan antara pemaafan dan kesehatan mental pada penyintas tsunami Aceh. Metode: Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan analisis regresi linier berganda, melibatkan 464 penyintas yang dipilih melalui purposive sampling. Partisipan mengisi tiga instrumen: Mental Health Inventory-18, Heartland Forgiveness Scale, dan The Centrality of Religiosity Scale. Hasil: Analisis data menggunakan model moderasi PROCESS Hayes model 1 menunjukkan religiusitas tidak berperan sebagai variabel moderator dalam hubungan antara pemaafan dan kesehatan mental. Tidak ditemukan hubungan langsung signifikan antara pemaafan dan kesehatan mental. Kesimpulan: Temuan ini menunjukkan pemaafan tidak secara langsung memengaruhi kesehatan mental penyintas tsunami, dan religiusitas tidak memperkuat hubungan tersebut.
THE RELATIONSHIP BETWEEN BODY IMAGE AND ADOLESCENT MENTAL HEALTH IN MANADO, INDONESIA: A CROSS-SECTIONAL STUDY Onibala, Bulan Nada Stevina; Nisa, Khairun; Simanjuntak, Susi Roida
Journal of Community Mental Health and Public Policy Vol. 8 No. 2 (2026): APRIL
Publisher : Lembaga Penelitian dan Terapan untuk Kesehatan Jiwa (Lenterakaji)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51602/cmhp.v8i2.342

Abstract

Background: Adolescence is a crucial period of transition marked by physical, emotional, and social changes that make individuals more vulnerable to developing a negative body image. Dissatisfaction with body image can cause problems, such as mental health. Purpose: This study aimed to analyze the relationship between body image and the mental health of adolescents at SMAN (Senior High School) 1 Manado. Methods: This study was a cross-sectional study involving 315 students selected using the Proportionate Stratified Random Sampling technique on students of SMAN 1 Manado. The measuring instruments used were the Body Shape Questionnaire-34 (BSQ-34) with a validity value of 0.826–0.902 and a reliability of 0.990 and the General Health Questionnaire-12 (GHQ-12) with a reliability value of 0.841 and proven valid with a LR+ value of 2.12 and LR– of 0.31. The analysis used in this study was the Spearman test. Results: The results showed a positive relationship between body image and mental health among adolescents (p = 0.000; r = 0.241). Conclusion: Body image is positively associated with adolescents’ mental health, indicating that adolescents with a more positive body image tend to have better mental health conditions; Therefore, interventions promoting self-acceptance and a healthy body image are essential for mental health promotion and prevention. Abstrak Latar belakang: Masa remaja adalah masa transisi dan eksplorasi. Pada tahap ini, perubahan fisik, emosional, dan sosial yang signifikan membuat remaja lebih rentan mengalami body image negatif. Ketidakpuasan terhadap body image tersebut dapat menimbulkan masalah, seperti kesehatan mental. Tujuan: untuk menganalisis hubungan antara body image dengan kesehatan mental remaja di SMAN 1 Manado. Metode: Penelitian ini merupakan Cross Sectional Study pada siswa SMAN 1 Manado. Teknik sampling yang digunakan adalah Proportionate Stratified Random Sampling dengan besar sampel sebanyak 315 siswa. Alat ukur yang digunakan adalah Body Shape Questionnaire-34 (BSQ-34) dengan nilai validitas 0,826–0,902 serta reliabilitas sebesar 0,990 dan General Health Questionnaire-12 (GHQ-12) dengan nilai reliabilitas 0,841 serta terbukti valid dengan nilai LR+ sebesar 2,12 dan LR– sebesar 0,31. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji spearman. Hasil: Hasil dari penelitian ini menunjukan adanya hubungan positif antara body image dengan kesehatan mental pada remaja (p = 0,000), dengan nilai r = 0,241. Kesimpulan: Body image memiliki hubungan terhadap kesehatan mental remaja dengan arah hubungan positif, di mana remaja yang memiliki body image lebih positif cenderung menunjukkan kondisi kesehatan mental yang lebih baik, sehingga perlu adanya intervensi mengenai penerimaan diri dan citra tubuh yang sehat sebagai bagian dari upaya promotif dan preventif dalam menjaga kesehatan mental remaja.
THE INFLUENCE OF DHIKR AND PRAYER ON MENTAL HEALTH IN ADOLESCENTS AT THE SUBUL EL SALAM ISLAMIC BOARDING SCHOOL, INDONESIA: A NON-EQUIVALENT CONTROL GROUP DESIGN Fitria, Sarah Haya; Winarni, Lastri Mei; Kusumastuti, Nurry Ayuningtyas
Journal of Community Mental Health and Public Policy Vol. 8 No. 2 (2026): APRIL
Publisher : Lembaga Penelitian dan Terapan untuk Kesehatan Jiwa (Lenterakaji)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51602/cmhp.v8i2.371

Abstract

Background: Many problems that teenagers face today, such as social interaction, academic pressure, and searching for identity, can lead to mental health issues like stress, anxiety, and depression. Religion can help teenagers feel calm, clear their minds, and manage their behavior well, one of which is through activities like dhikr and prayer. Purpose: To determine "The Effect of Dhikr and Prayer on Mental Health in Teenagers at the Subul El Salam Islamic Boarding School, Tangerang Regency". Method: Using a Quasi-experimental with a Non-Equivalent Control Group Design design. The population & sample in this study were 40 teenagers. Sampling technique used total sampling. The instruments and measuring were questionnaires tools Warwick-Edinburgh Mental Well-Being Scale (WEMWBS) scale and observation sheets with intervention media in the form of a dhikr and prayer guidebook "Laa Tahzan Wa Laa Takhof". The analysis technique used univariate and bivariate analysis with the Mann-Whitney test. Results: The Mann Whitney test results (P value = 0.001, so H1 is accepted) because the P value <0.05 it can be concluded that there is a significant influence between the application of dhikr and prayer on mental health in adolescents. Conclusion: It appears that the application of dhikr and prayer is effective in improving mental health in adolescents. Asbtrak Latar Belakang: Banyak masalah yang sering dihadapi remaja sekarang, seperti pergaulan sosial, tekanan belajar, dan mencari identitas diri, yang bisa menyebabkan gangguan kesehatan mental seperti stres, kecemasan, dan depresi. Agama bisa membantu remaja merasa tenang, tenang pikiran, dan mengendalikan perilaku dengan baik, salah satunya melalui kegiatan dzikir dan berdoa. Tujuan: Untuk mengetahui “Pengaruh Dzikir Dan Doa Terhadap Kesehatan Mental pada Remaja di Pondok Pesantren Subul El Salam Kabupaten Tangerang”. Metode: Quasi eksperimental dengan desain Non-Equivalent Kontrol Group Design. Populasi & sampel pada penelitian ini adalah remaja sebanyak 40 responden. Teknik pengambilan sampel ini menggunakan total sampling. Instrumen dan alat ukur berupa kuesioner skala Warwick-Edinburgh Mental Well-Being Scale (WEMWBS) dan lembar observasi, media intervensi berupa buku panduan dzikir dan doa “Laa Tahzan Wa Laa Takhof”. Teknik analisis menggunakan analisa univariat dan bivariat dengan uji mann whitney. Hasil: hasil uji Mann- Whitney didapatkan nilai (P value = 0.001 maka H1 diterima) karena nilai P value <0,05 artinya karena nilai P value <0,05 maka dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara penerapan dzikir dan doa terhadap kesehatan mental pada remaja. Kesimpulan: Terlihat penerapan dzikir dan doa efektif dalam meningkatkan kesehatan mental pada remaja.
THE ROLE OF METADISCOURSE IN ONLINE MENTAL HEALTH NEWS: A CORPUS-ASSISTED DISCOURSE ANALYSIS Mudogo, Benard; Muriungi, Stella Wangari
Journal of Community Mental Health and Public Policy Vol. 8 No. 2 (2026): APRIL
Publisher : Lembaga Penelitian dan Terapan untuk Kesehatan Jiwa (Lenterakaji)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51602/cmhp.v8i2.383

Abstract

Background: The online dissemination of news articles about sensitive subjects, such as mental health, influences the perception of individuals with mental illness, service providers, and policies that shape their lives. Purpose: This study investigates interactional metadiscourse in online news reporting on mental health issues, focusing on how lexical choices shape readers' attitudes. Method: Using Hyland and Jiang's (2016, 2021) interpersonal model of communication, which emphasizes disciplinary variation and writer–reader interaction in written discourse, we adopted an explanatory sequential mixed-methods design to analyze a corpus of 45 online news articles on mental health published between 2022 and 2024 in five mainstream Kenyan media outlets. The analysis identifies five categories of interactional metadiscourse markers: hedges, boosters, attitude markers, self-mentions, and engagement markers. Results: Metadiscourse markers are not employed neutrally but frequently establish negative portrayals of individuals with mental illness. While interactional metadiscourse enhances textual cohesion and reader engagement, caution is needed to avoid reinforcing stigma and misinformation. Conclusion: The study highlights the need for careful language usage in news reporting on mental health to foster accurate public understanding and facilitate constructive policy discourse. Abstrak Latar Belakang: Penyebaran berita artikel daring tentang subjek sensitif, seperti kesehatan mental, memengaruhi persepsi individu dengan penyakit mental, penyedia layanan, dan kebijakan yang membentuk kehidupan mereka. Tujuan: Studi ini menyelidiki metadiskursus interaksional dalam pemberitaan daring tentang isu kesehatan mental, dengan fokus pada bagaimana pilihan leksikal membentuk sikap pembaca. Metode: Menggunakan model komunikasi interpersonal Hyland dan Jiang (2016, 2021), yang menekankan variasi disiplin dan interaksi penulis-pembaca dalam wacana tertulis, kami mengadopsi desain metode campuran sekuensial eksploratif untuk menganalisis korpus 45 artikel berita daring tentang kesehatan mental yang diterbitkan antara tahun 2022 dan 2024 di lima media arus utama Kenya. Analisis mengidentifikasi lima kategori penanda metadiskursus interaksional: penegasan, penguatan, penanda sikap, penyebutan diri, dan penanda keterlibatan. Hasil: Penanda metadiskursus tidak digunakan secara netral tetapi sering kali membentuk penggambaran negatif tentang individu dengan penyakit mental. Meskipun metadiskursus interaksional meningkatkan kohesi tekstual dan keterlibatan pembaca, kehati-hatian diperlukan untuk menghindari penguatan stigma dan informasi yang salah. Kesimpulan: Studi ini menyoroti perlunya penggunaan bahasa yang cermat dalam pemberitaan tentang kesehatan mental untuk mendorong pemahaman publik yang akurat dan memfasilitasi wacana kebijakan yang konstruktif.
THE RELATIONSHIP BETWEEN WORK SHIFT SYSTEM AND WORK STRESS ON EMPLOYEE PERFORMANCE IN INDONESIA: A LITERATURE REVIEW Purwitasari, Indah; Dwiyanti, Endang
Journal of Community Mental Health and Public Policy Vol. 8 No. 2 (2026): APRIL
Publisher : Lembaga Penelitian dan Terapan untuk Kesehatan Jiwa (Lenterakaji)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51602/cmhp.v8i2.398

Abstract

Background: The implementation of shift work systems across various industrial sectors in Indonesia has increased to support 24-hour operations. However, shift work may increase work-related stress and negatively affect employee performance. Previous studies have reported varied findings depending on sector and job characteristics. Purpose: This study aims to analyze the relationship between shift work systems and work stress on employee performance in Indonesia. Method: This study employed a systematic literature review method, with data sources obtained from Google Scholar, Garuda, ResearchGate, and Semantic Scholar. A total of six articles were selected based on predetermined inclusion and exclusion criteria. Results: Shift work systems and work stress are associated with employee performance, both partially and simultaneously. Work stress has a direct relationship with performance, while shift work is indirectly related through increased stress. In the manufacturing sector, work stress is more dominant, whereas in the healthcare sector, the relationship of shift work is stronger. In the modern retail sector, the relationship of both variables varies depending on work management practices. Conclusion: In general, shift work systems are associated with employee performance through increased work stress. Therefore, effective shift system management and the implementation of stress management are important factors in maintaining employee performance. Abstrak Latar Belakang: Penerapan sistem shift kerja di berbagai sektor industri Indonesia semakin meningkat untuk mendukung operasional 24 jam. Namun, berpotensi meningkatkan stres kerja yang berdampak pada kinerja karyawan. Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa hubungan tersebut bervariasi antar sektor industri dan karakteristik pekerjaan. Tujuan: untuk menganalisis hubungan sistem shift kerja dan stres kerja terhadap kinerja karyawan di Indonesia. Metode: Menggunakan metode tinjauan literatur sistematis, dengan sumber data dari Google Scholar, Garuda, ResearchGate, dan Semantic Scholar. Sebanyak 6 artikel dipilih berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditentukan. Hasil: Sistem shift kerja dan stres kerja berhubungan dengan kinerja karyawan, baik secara parsial maupun simultan. Stres kerja terbukti berhubungan langsung terhadap kinerja. Sementara itu, hubungan shift kerja terjadi secara tidak langsung melalui peningkatan stres. Pada sektor manufaktur, stres kerja lebih dominan, sedangkan pada sektor kesehatan hubungan shift kerja lebih kuat. Pada sektor ritel modern, hubungan keduanya bervariasi tergantung pengelolaan kerja. Kesimpulan: Secara umum, sistem shift kerja berhubungan dengan kinerja karyawan melalui peningkatan stres kerja. Oleh karena itu, pengelolaan sistem shift dan penerapan manajemen stres menjadi faktor penting dalam menjaga kinerja karyawan.
PREVENTIVE STRATEGIES FOR OCCUPATIONAL BURNOUT IN CORPORATE SETTINGS: A SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW Najwa, Harisatun; Dwiyanti, Endang
Journal of Community Mental Health and Public Policy Vol. 8 No. 2 (2026): APRIL
Publisher : Lembaga Penelitian dan Terapan untuk Kesehatan Jiwa (Lenterakaji)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51602/cmhp.v8i2.400

Abstract

Background: Burnout represents a growing occupational health concern within corporate environments, manifesting in reduced productivity, absenteeism, and declining mental and physical well-being. Purpose: To synthesize evidence on preventive strategies for occupational burnout among corporate employees. Methods: A systematic literature review was conducted following PRISMA guidelines, using Google Scholar, ScienceDirect, ProQuest, and SpringerLink (2020–2025). Studies were identified using PICOS inclusion criteria and appraised with the Joanna Briggs Institute checklist. Results: Individual programs including Acceptance and Commitment Therapy based resilience training, mindfulness, Cognitive Behavioural Therapy tools, and workplace exercise reduced exhaustion while enhancing psychological flexibility and mental health literacy. Organizational approaches like security-providing leadership and psychoeducation with managerial consultation improved psychological safety. The strongest effects occurred when individual coping resources were supported by organizational structures. Although studies focused on corporate employees, differences in culture and context may limit generalization. Conclusion: Preventing burnout is most effective through combined individual and organisational measures. Sustainable, leadership-supported, technology-based programmes are recommended for long-term well-being and productivity. Abstrak Latar belakang: Burnout adalah masalah kesehatan kerja di korporasi, berdampak pada produktivitas, absensi, serta kesejahteraan mental dan fisik. Tujuan: Mensintesis bukti terkini strategi pencegahan burnout pada karyawan korporasi. Metode: Penelitian menggunakan Systematic Literature Review (SLR) berdasarkan pedoman PRISMA melalui Google Scholar, ScienceDirect, ProQuest, dan SpringerLink (2020–2025). Berdasarkan kriteria PICOS, studi memenuhi syarat dipilih dan dinilai menggunakan daftar tilik JBI. Hasil: Beragam intervensi menunjukkan manfaat. Program individu seperti pelatihan resiliensi berbasis Acceptance and Commitment Therapy, mindfulness, alat kreatif berbasis Cognitive Behavioural Therapy menurunkan burnout, meningkatkan fleksibilitas psikologis, efektivitas profesional, dan literasi kesehatan mental. Pendekatan organisasi seperti kepemimpinan yang memberi rasa aman dan psikoedukasi terpadu dengan konsultasi manajerial memperkuat keselamatan psikologis dan dukungan kerja. Efek terbaik muncul saat sumber daya individu mendapat dukungan organisasi. Meskipun studi berfokus pada karyawan korporasi, perbedaan budaya, durasi intervensi, dan konteks perusahaan dapat membatasi generalisasi temuan. Kesimpulan: Pencegahan burnout efektif melalui integrasi pendekatan individu dan organisasi. Program berkelanjutan yang didukung kepemimpinan dan teknologi direkomendasikan untuk kesejahteraan dan produktivitas jangka panjang.

Page 10 of 10 | Total Record : 98