cover
Contact Name
Susy Katikana Sebayang
Contact Email
cmhp.journal@gmail.com
Phone
+6281288283367
Journal Mail Official
sksebayang@fkm.unair.ac.id
Editorial Address
Lentera Kaji Jalan Wijaya Blok A/13 RT/RW 006/015 Kampung Dua – Bekasi 17145 Indonesia
Location
Kab. bekasi,
Jawa barat
INDONESIA
Journal of Community Mental Health and Public Policy
Published by Lentera Kaji
ISSN : 26222655     EISSN : 26222655     DOI : https://doi.org/10.51602/cmhp.v3i1.43
Core Subject : Health, Education,
The Journal of Community Mental Health and Public Policy focuses on the areas of community mental health and mental health care, addiction or substance abuse, including drugs, alcohol and smoking, mental health or addiction prevention, public policy about mental health and addiction and other related subjects. This journal accepts original research or innovation and opinions on current mental health issues and public policies. Journal does not receive case reports.
Articles 90 Documents
LITERATURE REVIEW ON THE DOUBLE-EDGED SWORD OF AI IN MENTAL HEALTH: A DEEP DIVE INTO CHATGPT'S CAPABILITIES AND LIMITATIONS Arjanto, Paul; Senduk, Feibry Feronika Wiwenly
Journal of Community Mental Health and Public Policy Vol. 6 No. 2 (2024): APRIL
Publisher : Lembaga Penelitian dan Terapan untuk Kesehatan Jiwa (Lenterakaji)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51602/cmhp.v6i2.144

Abstract

Background: This paper focuses on the increasing relevance of AI in mental health care, particularly OpenAI's ChatGPT. It investigates the changing dynamics in mental health, analyzing ChatGPT's role, its benefits, drawbacks, and ethical complexities. Purpose: The objective is to assess ChatGPT's effectiveness in mental health, highlighting its strengths and limitations, and ethical issues. The study aims to understand how AI support can be balanced with the vital human aspect in mental health care. Methods: Comprehensive literature review of 7 pieces of literature from the Scopus database in 2023 (latest). Results: ChatGPT is found to be a useful initial mental health support tool, offering immediate access. However, it falls short in delivering the emotional depth that human health professionals provide. Key ethical concerns include data privacy and accountability. Conclusion: The study recommends a balanced approach, suggesting ChatGPT as an adjunct rather than a replacement for conventional mental health services. Effective use of ChatGPT in mental health care requires strict ethical guidelines and control measures to maintain the crucial human element in this field. Abstrak Latar Belakang: Artikel ini berfokus pada meningkatnya relevansi AI dalam layanan kesehatan mental, khususnya ChatGPT OpenAI. Laporan ini menyelidiki dinamika perubahan dalam kesehatan mental, menganalisis peran ChatGPT, manfaat, kelemahan, dan kompleksitas etikanya. Tujuan: Tujuannya adalah untuk menilai efektivitas ChatGPT dalam kesehatan mental, menyoroti kekuatan dan keterbatasannya, serta masalah etika. Studi ini bertujuan untuk memahami bagaimana dukungan AI dapat diseimbangkan dengan aspek vital manusia dalam perawatan kesehatan mental. Metode: Tinjauan pustaka yang menyeluruh terhadap 7 literatur dari database Scopus pada tahun 2023 (terbaru). Hasil: ChatGPT terbukti menjadi alat dukungan kesehatan mental awal yang berguna, menawarkan akses langsung. Namun, hal ini gagal dalam memberikan kedalaman emosional yang diberikan oleh para profesional kesehatan manusia. Masalah etika utama mencakup privasi dan akuntabilitas data. Kesimpulan: Studi ini merekomendasikan pendekatan yang seimbang, menyarankan ChatGPT sebagai tambahan dan bukan pengganti layanan kesehatan mental konvensional. Penggunaan ChatGPT yang efektif dalam perawatan kesehatan mental memerlukan pedoman etika yang ketat dan tindakan pengendalian untuk mempertahankan elemen manusia yang penting dalam bidang ini.
SURVEY OF THE INFLUENCE OF SOCIAL MEDIA ACTIVISM ON STUDENTS' PERCEPTIONS REGARDING POOR HYGIENE OF PEOPLE WITH MENTAL ILLNESS IN INDONESIA: A CROSS-SECTIONAL STUDY Lalisang, Nathania Alma Cintanya; Pratamawaty, Benazir Bona; Wibowo , Kunto Adi
Journal of Community Mental Health and Public Policy Vol. 6 No. 2 (2024): APRIL
Publisher : Lembaga Penelitian dan Terapan untuk Kesehatan Jiwa (Lenterakaji)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51602/cmhp.v6i2.148

Abstract

Background: In this digital era, there is a huge activism taking place on social media. One of the issues that is frequently discussed on social media is mental mental illness, such as anxiety and depression which are the most common disorders. People with mental illness often receive a negative stigma from society regarding their hygiene. Purpose: This research aims to see the influence of activism on students' perceptions regarding poor hygiene of people with mental illness in West Java province. Methods: This research used quantitative research methods and obtained 391 respondents through distributing questionnaires using Google Forms. Results: From 391 respondents, it was found that 75% of respondents were male and 25% were female. The results of other research also produced good validity tests (Rcount > Rtable), reliable reliability tests (Cronbach's Alpha > 0.700) but small regression tests (0.3% < 0.5%). Conclusion: Based on the research result, it can be concluded that students' perceptions of poor hygiene to people with mental illness are not only influenced by social media activism, but also by direct knowledge and experience with people mental health. Abstrak Latar Belakang: Di dunia yang serba digital ini, ada banyak aktivisme yang terjadi di sosial media. Salah satu isu yang sering dibicarakan dalam media sosial adalah mengenai mental health illness atau penyakit mental yaitu dengan penyakit seperti gangguan kecemasan dan depresi yang paling umum. Mental health illness sering mendapat stigma negatif oleh masyarakat terhadap kebersihan penderitanya. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh aktivisme atas presepsi mahasiswa mengenai poor hygiene penderita mental health ilness di provinsi Jawa Barat. Metode: Penelitian ini mengacu pada metode penelitian kuantitatif dan berhasil mendapatkan 391 responden yang didapatkan melalui penyebaran kuisioner dengan Google Forms. Hasil: Dari hasil penelitian oleh 391 responden, didapatkan 75% responden yang berjenis kelamin Laki-laki dan 25% yang berjenis kelamin perempuan. Hasil penelitian lainnya juga menghasilkan uji validitas yang baik (Rhitung > Rtabel), uji realibilitas yang reliable (Cronbach’s Alpha > 0,700) namun uji regresi yang kecil (0.3% < 0,5%). Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian diatas, dapat disimpulkan bahwa persepsi mahasiswa terhadap poor hygiene penderita mental health illness tidak hanya dipengaruhi oleh aktivisme media sosial, namun oleh pengetahuan dan pengalaman langsung dengan objek penderita kesehatan mental.
THE RELATIONSHIP BETWEEN MINDFULNESS AND ACADEMIC RESILIENCE IN STUDENTS OF SYIAH KUALA UNIVERSITY, INDONESIA: CROSS-SECTIONAL STUDY Sarah, Siti; Sari, Kartika; Iskandar; Amna, Zaujatul
Journal of Community Mental Health and Public Policy Vol. 6 No. 2 (2024): APRIL
Publisher : Lembaga Penelitian dan Terapan untuk Kesehatan Jiwa (Lenterakaji)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51602/cmhp.v6i2.151

Abstract

Background: Students can persist in pursuing education even though there are many demands which are a source of stress and even anxiety and depression. One of the factors of academic resilience comes from within the individual, namely mindfulness. Mindfulness is a state of being attentive and aware of the events at hand. Purpose: This study aims to determine the relationship between mindfulness and academic resilience in Syiah Kuala University students. Method: This study design used quantitative research with a sample of 330 students selected using the probability sampling method with disproportionate stratified random sampling technique. The Mindful Attention Awareness Scale (MAAS) and the Academic Resilience Scale (ARS-30) were used as research data collection instruments. Results: hypothesis testing using statistical analysis showed a significance value (p)=0.000 (p<0.05). This means that there was a positive relationship between mindfulness and academic resilience in Syiah Kuala University students. It means that the higher the student's mindfulness, the higher the academic resilience, and conversely. On the other hand, the lower the mindfulness, the lower the student's academic resilience ability. Conclusion: This study provides recommendations for future researchers to analyze other factors that influence academic resilience in the hope of producing more comprehensive data. Abstrak Latar Belakang: Mahasiswa mampu bertahan menempuh pendidikan meskipun banyak tuntutan yang menjadi sumber stress hingga kecemasan dan depresi. Salah satu faktor ketahanan akademik berasal dari dalam diri individu, yaitu mindfulness. Mindfulness adalah keadaan penuh perhatian dan sadar terhadap kejadian yang sedang dihadapi. Tujuan: penelitian ialah untuk mengetahui hubungan mindfulness dengan resiliensi akademik pada mahasiswa Universitas Syiah Kuala. Metode: Desain penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif dengan sampel sebanyak 330 mahasiswa yang dipilih menggunakan metode probability sampling dengan teknik disproportionate stratified random sampling. Mindful Attention Awareness Scale (MAAS) dan the Academic Resilience Scale (ARS-30) digunakan sebagai instrumen pengumpulan data penelitian. Hasil: uji hipotesis menggunakan analisis statistik menunjukkan nilai signifikansi (p)=0,000 (p<0,05). Artinya terdapat hubungan positif antara mindfulness dan resiliensi akademik pada mahasiswa Universitas Syiah Kuala, yang artinya semakin tinggi mindfulness pada mahasiswa maka semakin tinggi resiliensi akademik, dan sebaliknya semakin rendah mindfulness, maka semakin rendah kemampuan resiliensi akademik mahasiswa. Kesimpulan: Penelitian ini menyajikan rekomendasi bagi peneliti selanjutnya agar dapat menganalisis faktor lain yang mempengaruhi resiliensi akademik dengan harapan dapat menghasilkan data yang lebih komprehensif.
LITERATURE REVIEW: FACTORS AFFECTING FINAL YEAR STUDENTS' ANXIETY IN PREPARING A THESIS IN INDONESIA Izza, Ania Al; Lailiyah, Syifaul
Journal of Community Mental Health and Public Policy Vol. 6 No. 2 (2024): APRIL
Publisher : Lembaga Penelitian dan Terapan untuk Kesehatan Jiwa (Lenterakaji)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51602/cmhp.v6i2.153

Abstract

Background: Thesis or final project is often used as a graduation requirement by most campuses in Indonesia. Writing a thesis is often considered terrifying because students often experience difficulties. This triggers anxiety and even depression for final year students for fear of not being able to complete their thesis writing. Purpose: To find out the factors that influence the anxiety of final year students in preparing a thesis. Methods: Literature study research using national articles with published years 2018-2023. Articles were searched using the Preferred Reporting Items for Systematic Reviews & Meta-Analyses (PRISMA) method. Inclusion criteria included publication of articles reviewed no more than the last ten years, titles still related to keywords, quantitative or qualitative research, and full text. Exclusion criteria were articles published more than ten years, titles not related to keywords, and inaccessible. Database using google scholar. Results: Factors that influence the anxiety of final year students in preparing a thesis come from internal and external factors. Conclusion: Internal factors, such as lack of self-confidence, self-efficacy, self-discipline, fighting power, self-control, and high perfectionism. External factors, such as supervising lecturers, lack of parental and family support, and peer support. Abstrak Latar belakang: Skripsi atau tugas akhir seringkali dijadikan syarat kelulusan oleh sebagian besar kampus di Indonesia. Penulisan skripsi seringkali dianggap menakutkan karena sering kali mahasiswa mengalami kesulitan. Hal tersebut memicu munculnya kecemasan bahkan depresi bagi mahasiswa tingkat akhir karena takut tidak bisa menyelesaikan penulisan skripsinya. Tujuan: Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan mahasiswa tingkat akhir dalam menyusun skripsi. Metode: Penelitian studi literatur menggunakan artikel nasional dengan tahun terbit 2018-2023. Penelusuran artikel menggunakan metode Preferred Reporting Items for Systematic Review & Meta-Analyses (PRISMA). Kriteria inklusi berupa terbitan artikel yang di-review tidak lebih dari sepuluh tahun terakhir, judul masih berhubungan dengan kata kunci, penelitian kuantitatif atau kualitatif, dan full text. Kriteria eksklusi berupa terbitan artikel lebih dari sepuluh tahun, judul tidak berhubungan dengan kata kunci, dan tidak dapat diakses. Data base menggunakan google scholar. Hasil: Faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan mahasiswa tingkat akhir dalam menyusun skripsi bersumber dari faktor internal dan eksternal. Kesimpulan: Faktor internal, seperti kurangnya kepercayaan diri, efikasi diri, kedisiplinan diri, daya juang, kontrol diri, dan tingginya sikap perfeksionisme. Faktor eksternal, seperti faktor dosen pembimbing, kurangnya dukungan orang tua dan keluarga, serta dukungan teman sebaya.
CORELATION BETWEEN NEUROTICISM AND SUPERSTITIOUS BELIEF IN JAVANESE SOCIETY, INDONESIA: A CROSS-SECTIONAL STUDY Saskia, Rara Asra Luthvi; Muhammad, Amri Hana
Journal of Community Mental Health and Public Policy Vol. 7 No. 1 (2024): OCTOBER
Publisher : Lembaga Penelitian dan Terapan untuk Kesehatan Jiwa (Lenterakaji)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51602/cmhp.v7i1.159

Abstract

Background: Superstitious beliefs which started from negative emotions appear to be related to the neuroticism personality in people who also have a tendency to negative emotions. Though both are not influenced by one another, they do share certain commonalities that are brought on by unfavourable feelings like worry, anxiety, and low self-esteem. Purpose: This study aims to reveal whether there is a relationship between the variable’s neuroticism and superstitious beliefs. Methods: This study used a neuroticism and superstitious belief scale which was created based on its aspects. This study used a cross-sectional quantitative research approach with a correlational design. It was conducted with a population of Javanese people who live in Javanese culture or claim to have Javanese culture. The studz used purposive sampling technique with a total of 219 samples. Result: The results of the hypothesis test for the variables neuroticism and superstitious belief showed that Pearson’s r value was 0.991. It means there was a positive relationship between the two variables in the perfect category. Conclusion: This study concludes that the results of neuroticism and superstitious beliefs in Javanese society were generally in the moderate category. Abstrak Latar Belakang: Superstitious belief yang berpangkal dari emosi negatif ini nampak memiliki keterkaitan dengan kepribadian neuroticism pada diri individu yang juga memiliki kecenderungan emosi negatif. Namun keduanya tidak mempengaruhi satu sama lain, melainkan memiliki kesamaan yang lahir melalui emosi negatif seperti kecemasan, ketakutan, kekhawatiran, serta ketidak percayaan diri. Tujuan: Bertujuan untuk melihat adakah hubungan antara variabel neuroticism dan superstitious belief. Metode: Menggunakan skala neuroticism dan superstitious belief yang dibuat berdasarkan aspek-aspeknya. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kuantitatif cross sectional dengan desain korelasional. Dilakukan dengan populasi masyarakat Jawa yang hidup dalam budaya atau mengakui berbudaya Jawa. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan jumlah 219 sampel. Hasil: Uji hipotesis variabel neuroticism dan superstitious belief menunjukan nilai Pearson’s r menunjukkan angka 0,991 yang artinya terdapat hubungan posittif antar dua variabel dalam kategori sempurna. Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa hasil neuroticism dan superstitious belief pada masyarakat Jawa secara umum berada dalam kategori sedang.
ASSOCIATION BETWEEN SOCIAL MEDIA AND MENTAL HEALTH CHANGES AMONG GEN-Z IN BATAM, INDONESIA: A CROSS-SECTIONAL STUDY Tang, Kelvin; Hilton, Chelsea; Yunita, Risna; Walvinson, Riyaldi; Paerin
Journal of Community Mental Health and Public Policy Vol. 7 No. 1 (2024): OCTOBER
Publisher : Lembaga Penelitian dan Terapan untuk Kesehatan Jiwa (Lenterakaji)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51602/cmhp.v7i1.160

Abstract

Background: This study explores the association between YouTube usage and the mental health status of Gen-Z, focusing on the roles of social anxiety and parasocial interaction in YouTube addiction. Purpose: To identify the link between social anxiety (LSAS) and parasocial interaction (PSI) and YouTube addiction (IAT), while also evaluating the role of social support (MSPSS). Methods: Data were collected from 380 respondents in Batam City. The measurement tools included the Internet Addiction Test (IAT), LieBowltz Social Anxiety Scale (LSAS), Parasocial Interaction (PSI), and the Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS). Results: Multiple regression analysis revealed that 84.5% of the variability in YouTube addiction can be explained by LSAS, PSI, and MSPSS. The F-test results indicated high significance (F = 681.862, p < 0.05). The t-test showed that LSAS (B = 0.609, t = 11.623, p < 0.0001) and PSI (B = 0.707, t = 6.642, p < 0.0001) had a significant influence on IAT, while MSPSS was not significant (B = 0.067, t = 0.893, p = 0.372). The regression model for IAT was IAT = -2.151 + 0.609LSAS + 0.707PSI + 0.067MSPSS, and for PSI was PSI = -2.715 + 0.517LSAS. Conclusion: Confirm that social anxiety and parasocial interaction significantly affect YouTube addiction, while social support does not show a significant influence. Abstrak Latar Belakang: Penelitian ini mengeksplorasi hubungan penggunaan YouTube dengan kesehatan mental anak-anak Gen-Z, dengan fokus pada peran kecemasan sosial dan interaksi parasosial dalam kecanduan YouTube. Tujuan: untuk mengidentifikasi hubungan antara kecemasan sosial (LSAS) dan interaksi parasosial (PSI) dengan kecanduan YouTube (IAT), serta mengevaluasi peran dukungan sosial (MSPSS). Metode: Data dikumpulkan dari 380 responden di Kota Batam. Alat ukur yang digunakan mencakup Internet Addiction Test (IAT), LieBowltz Social Anxiety Scale (LSAS), Parasocial Interaction (PSI), dan Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS). Hasil: Analisis regresi berganda mengungkapkan bahwa 84,5% variabilitas kecanduan YouTube dapat dijelaskan oleh LSAS, PSI, dan MSPSS. Hasil uji F menunjukkan signifikansi tinggi (F = 681,862, p < 0,05). Uji t menunjukkan bahwa LSAS (B = 0,609, t = 11,623, p < 0,0001) dan PSI (B = 0,707, t = 6,642, p < 0,0001) memiliki pengaruh signifikan terhadap IAT, sedangkan MSPSS tidak signifikan (B = 0,067, t = 0,893, p = 0,372). Model regresi untuk IAT adalah IAT = -2,151 + 0,609LSAS + 0,707PSI + 0,067MSPSS, dan untuk PSI adalah PSI = -2,715 + 0,517LSAS. Kesimpulan: Kecemasan sosial dan interaksi parasosial berpengaruh signifikan terhadap kecanduan YouTube, sedangkan dukungan sosial tidak menunjukkan pengaruh signifikan.
STRESS AND DYSPEPSIA SYMPTOMS AMONG STUDENTS IN INDONESIA: A CROSS-SECTIONAL STUDY Susanti, Rahmi; Rahayu, Annisa Aulia; Hasmi, Anisa Aulia
Journal of Community Mental Health and Public Policy Vol. 7 No. 1 (2024): OCTOBER
Publisher : Lembaga Penelitian dan Terapan untuk Kesehatan Jiwa (Lenterakaji)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51602/cmhp.v7i1.166

Abstract

Background: Dyspepsia syndrome is a common health issue among adolescents, with a global prevalence estimated at 20-30%. In Indonesia, the 2018 Riskesdas data indicated that the prevalence among those aged 15-24 was 18.3%. Factors associated with dyspepsia syndrome in adolescents include gender, stress, eating frequency, and specific food consumption. Purpose: This study aims to analyze the relationship between respondent characteristics (gender, stress, eating frequency, food consumption, smoking habits, and exercise) and dyspepsia incidence among adolescents living in boarding houses. Methods: This study used a cross-sectional design, involving 52 respondents. Data was collected via questionnaires and analyzed with the chi-square test. Result: Most respondents were female (82.7%), had poor eating frequency (86.5%), poor stress conditions (84.6%), preferred spicy foods (75%), consumed caffeine (80.8%), and rarely exercised (84.6%). The analysis revealed a significant association between stress conditions and dyspepsia syndrome (p=0.022), while gender, eating frequency, food consumption, smoking habits, and exercise showed no association. Conclusion: Poor stress conditions are a risk factor for dyspepsia syndrome in adolescents. Efforts are needed to reduce stress levels through education on stress management and healthy dietary practices to prevent dyspepsia syndrome. Abstrak Latar Belakang: Sindrom dispepsia adalah masalah kesehatan yang sering dialami remaja, dengan prevalensi global diperkirakan mencapai 20-30%. Di Indonesia, data Riskesdas 2018 menunjukkan prevalensi dispepsia pada kelompok usia 15-24 tahun adalah 18,3%. Faktor-faktor yang diduga berkaitan dengan sindrom dispepsia pada remaja meliputi jenis kelamin, stres, frekuensi makan, dan konsumsi makanan tertentu. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara karakteristik responden (jenis kelamin, stres, frekuensi makan, konsumsi makanan, kebiasaan merokok, dan olahraga) dengan kejadian sindrom dispepsia pada remaja yang tinggal di asrama. Metode: Penelitian ini menggunakan desain potong lintang dengan total 52 responden. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan uji chi-square. Hasil: Mayoritas responden adalah perempuan (82,7%), memiliki frekuensi makan yang buruk (86,5%), kondisi stres yang buruk (84,6%), menyukai makanan pedas (75%), mengonsumsi kafein (80,8%), dan jarang berolahraga (84,6%). Analisis menunjukkan bahwa kondisi stres berhubungan signifikan dengan sindrom dispepsia (p=0,022), sementara jenis kelamin, frekuensi makan, konsumsi makanan, kebiasaan merokok, dan olahraga tidak berhubungan. Kesimpulan: Kondisi stres yang buruk adalah faktor risiko sindrom dispepsia pada remaja. Upaya untuk mengurangi tingkat stres melalui pendidikan manajemen stres dan pola makan sehat sangat diperlukan untuk mencegah sindrom dispepsia.
FACTORS INFLUENCING TELEHEALTH UTILIZATION IN MENTAL HEALTH SERVICES: SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW Muhammad, Khansa Fatihah; Achadi, Anhari
Journal of Community Mental Health and Public Policy Vol. 7 No. 1 (2024): OCTOBER
Publisher : Lembaga Penelitian dan Terapan untuk Kesehatan Jiwa (Lenterakaji)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51602/cmhp.v7i1.168

Abstract

Background: Mental health is an increasing concern in public policy, demanding better services and support. Consultations and treatments for mental health can be accessed through online services via telehealth. While telehealth offers advantages for mental health services, it also presents challenges, necessitating improvements in quality to enhance service delivery. Purpose: This journal aims to explore factors influencing the use of telehealth for mental health services, focusing on technology, telehealth quality, and other relevant aspects. Methods: A systematic literature review was conducted using articles sourced from Google Scholar, Garuda, and ProQuest. Results: Telemedicine, as a component of telehealth, has emerged as a vital alternative to in-person mental health care. Despite challenges such as limited technological access and privacy concerns, electronic and telephone-based platforms have demonstrated the potential to empower patients and enhance care accessibility. Conclusion: The increasing importance of mental health has raised demand for efficient digital solutions like telehealth, which can lower costs and improve service access. However, expanding telehealth requires addressing challenges such as technological limitations, privacy issues, and the need for supportive policies. Tackling these issues is essential for integrating telehealth into mainstream mental health services and ensuring sustainable growth. ABSTRAK Latar Belakang: Kesehatan mental menjadi perhatian yang semakin meningkat dalam kebijakan publik, menuntut layanan dan dukungan yang lebih baik. Konsultasi dan pengobatan kesehatan mental dapat diakses melalui layanan online dengan telehealth. Meskipun telehealth menawarkan berbagai keuntungan untuk layanan kesehatan mental, ada juga tantangan yang memerlukan peningkatan kualitas untuk memperbaiki penyampaian layanan. Tujuan: untuk mengeksplorasi faktor-faktor yang memengaruhi penggunaan telekesehatan untuk layanan kesehatan mental, dengan fokus pada teknologi, kualitas telekesehatan, dan aspek-aspek relevan lainnya. Metode: Tinjauan literatur sistematis dilakukan dengan menggunakan artikel yang bersumber dari Google Scholar, Garuda, dan ProQuest. Hasil: Telemedicine, sebagai bagian dari telehealth, telah muncul sebagai alternatif penting untuk perawatan kesehatan mental secara langsung. Meskipun terdapat tantangan seperti keterbatasan akses teknologi dan masalah privasi, platform berbasis elektronik dan telepon menunjukkan potensi untuk memberdayakan pasien dan meningkatkan akses perawatan. Kesimpulan: Peningkatan kepentingan kesehatan mental telah meningkatkan permintaan terhadap solusi digital yang efisien seperti telehealth, yang dapat menurunkan biaya dan meningkatkan akses layanan. Namun, perluasan telehealth memerlukan penanganan tantangan seperti keterbatasan teknologi, masalah privasi, dan kebutuhan akan kebijakan yang mendukung. Mengatasi tantangan ini penting untuk mengintegrasikan telehealth dalam layanan kesehatan mental utama dan memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan.
LITERATURE REVIEW: THE RELATIONSHIP BETWEEN SMARTPHONE USE AND INCIDENTS OF ANXIETY (NOMOPHOBIA) AMONG ADOLESCENTS IN INDONESIA Silmi, Ayun Zul; Lailiyah, Syifa’ul
Journal of Community Mental Health and Public Policy Vol. 7 No. 1 (2024): OCTOBER
Publisher : Lembaga Penelitian dan Terapan untuk Kesehatan Jiwa (Lenterakaji)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51602/cmhp.v7i1.171

Abstract

Background: Smartphones were an information and communication technology that could not be separated from human life. High-intensity use of smartphones led to addiction. Dependence on smartphones could lead to anxiety disorders or so-called nomophobia. Purpose: To determine the relationship between smartphone, use and the incidence of anxiety (nomophobia) in adolescents in Indonesia. Methods: The literature review used national articles published in 2019-2024. Articles were searched using the Preferred Reporting Items for Systematic Reviews & Meta-Analyses (PRISMA) method. Inclusion criteria include articles with quantitative research, as well as mixed methods with research subjects on adolescents in Indonesia. A total of eleven articles were included. This research used national standard articles with an article search database, namely Google Scholar and Garuda. Results: Based on the eleven articles analysed, there is a relationship between anxiety disorders (nomophobia) in adolescents in Indonesia and the intensity of their use. Conclusion: The high use of smartphones is associated with a higher tendency of nomophobia. High intensity of smartphone use is influenced by several factors, including various interesting features of smartphones, one of which is social media, the COVID-19 pandemic, and the feeling of not wanting to be left behind by trends among teenagers. Abstrak Latar belakang: Smartphone merupakan salah satu teknologi informasi dan komunikasi yang tidak bisa terlepas dari kehidupan manusia. Penggunaan smartphone dengan intensitas tinggi menyebabkan ketergantungan. Ketergantungan pada smartphone dapat menyebabkan timbulnya gangguan kecemasan atau yang disebut Nomophobia. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan penggunaan smartphone terhadap kejadian kecemasan (Nomophobia) pada remaja di Indonesia. Metode: Penelitian studi literatur menggunakan artikel nasional tahun terbit 2019-2024. Pencarian artikel dilakukan menggunakan metode Preferred Reporting Items for Systematic Review & Meta-Analyses (PRISMA). Kriteria inklusi meliputi artikel dengan penelitian kuantitatif, serta mix methods dengan subjek penelitian pada remaja di Indonesia. Sebanyak sebelas artikel yang masuk kedalam kriteria. Penelitian ini menggunakan artikel berstandar nasional dengan database pencarian artikel yaitu Google Scholar dan Garuda. Hasil: Berdasarkan sebelas artikel yang dianalisis, terdapat hubungan antara gangguan kecemasan (Nomophobia) pada remaja di Indonesia dengan intensitas penggunaannya. Kesimpulan: Tingginya penggunaan smartphone dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain macam-macam fitur yang menarik pada smartphone salah satunya yaitu media sosial, adanya pandemi COVID-19, dan perasaan tidak ingin ketinggalan tren di kalangan remaja.
LITERATURE REVIEW: THE IMPACT OF WORK STRESS, WORKLOAD, AND WORK ENVIRONMENT ON EMPLOYEE’S TURNOVER INTENTION IN INDONESIA Khoir, Oktario Dinansa; Dwiyanti, Endang; Mandagi, Ayik Mirayanti; Alfayad, Afan
Journal of Community Mental Health and Public Policy Vol. 7 No. 1 (2024): OCTOBER
Publisher : Lembaga Penelitian dan Terapan untuk Kesehatan Jiwa (Lenterakaji)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51602/cmhp.v7i1.179

Abstract

Background: Employee turnover intention is a significant challenge for organizations, impacting productivity and operational costs. Understanding its contributing factors is crucial for effective human resource management. Purpose: To analyze the influence of work stress, workload, and work environment on employee turnover intention across various sectors in Indonesia. Methods: A systematic review of research articles published between 2020 and 2022 was conducted using the PRISMA-P approach. Literature research was performed through electronic databases using predefined keywords. Results: Work stress and workload generally showed significant positive effects on turnover intention (p < 0.05 in most studies). Work environment typically demonstrated a significant negative effect (p < 0.05), with one exception. Simultaneous analysis revealed substantial contributions of these factors to turnover intention, with an explained variance reaching up to 75.2%. One study found a non-significant negative relationship between work stress and turnover intention, highlighting the complexity of these relationships. Conclusion: Work stress, workload, and work environment significantly influence employee turnover intention, though effects may vary across contexts. A comprehensive approach in human resource management, focusing on these factors, is crucial for enhancing employee retention and organizational productivity. Abstrak Latar belakang: Turnover intention karyawan merupakan tantangan signifikan bagi organisasi, berdampak pada produktivitas dan biaya operasional. Memahami faktor-faktor yang berkontribusi sangat penting untuk manajemen sumber daya manusia yang efektif. Tujuan: Menganalisis pengaruh stres kerja, beban kerja, dan lingkungan kerja terhadap turnover intention karyawan di berbagai sektor di Indonesia. Metode: Tinjauan sistematis terhadap enam artikel penelitian yang dipublikasikan antara tahun 2020 dan 2022 dilakukan menggunakan pendekatan PRISMA-P. Pencarian literatur dilaksanakan melalui basis data elektronik menggunakan kata kunci yang telah ditentukan. Hasil: Stres kerja dan beban kerja umumnya menunjukkan pengaruh positif yang signifikan terhadap turnover intention (p < 0,05 pada sebagian besar studi). Lingkungan kerja biasanya menunjukkan pengaruh negatif yang signifikan (p < 0,05), dengan satu pengecualian. Analisis simultan mengungkapkan kontribusi substansial dari faktor-faktor ini terhadap turnover intention, dengan varians yang dijelaskan mencapai 75,2%. Satu studi menemukan hubungan negatif yang tidak signifikan antara stres kerja dan turnover intention, menunjukkan kompleksitas hubungan ini. Kesimpulan: Stres kerja, beban kerja, dan lingkungan kerja secara signifikan mempengaruhi turnover intention karyawan, meskipun efeknya dapat bervariasi antar konteks. Pendekatan komprehensif dalam manajemen SDM yang berfokus pada faktor-faktor ini sangat penting untuk meningkatkan retensi karyawan dan produktivitas organisasi.