cover
Contact Name
Yulius Tiranda
Contact Email
yuliustiranda@ikestmp.ac.id
Phone
+6281994854458
Journal Mail Official
penelitianikestmp@gmail.com
Editorial Address
Jl. A. Yani 13 Ulu, Plaju, Palembang
Location
Kota palembang,
Sumatera selatan
INDONESIA
Masker Medika
ISSN : 23018631     EISSN : 26548658     DOI : -
Core Subject : Health, Social,
Jurnal yang diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Inovatif (LP2MI) IKesT Muhammadiyah Palembang ini berfokus pada kajian keperawatan (Keperawatan Medikal Bedah, Keperawatan Anak, Keperawatan Maternitas, Keperawatan Jiwa, Keperawatan Kritis, Keperawatan Komunitas dan Manajemen Keperawatan) , Kebidanan (Kehamilan, Persalinan, Nifas, Neonatus, Bayi dan Anak, Kesehatan Reproduksi), Kesehatan Lingkungan, fisioterapi dan Tekhnik Laboratorium Medik. Jurnal Masker Medika terbit 2 kali dalam setahun yaitu pada bulan Juni dan bulan desember yang dipublikasikan dalam terbitan cetak dan elektronik.
Articles 765 Documents
HUBUNGAN ANTARA DISMENOREA PRIMER DENGAN KUALITAS TIDUR MAHASISWI PSIK STIKES MUHAMMADIYAH PALEMBANG Yuniza Yuniza; Puji Fitrianti Putri Anandez; Siti Romadoni
Masker Medika Vol 8 No 1 (2020): Masker Medika
Publisher : IKesT Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52523/maskermedika.v8i1.388

Abstract

Latar belakang: kejadian dismenorea primer dapat mempengaruhi kualitas tidur menjadi buruk karena peningkatan kadar prostagladin memiliki efek meningkatkan kontraktilitas otot uterus, vasokonstriksi dan mengakibatkan iskemia pada otot uterus, sehingga terjadinya nyeri saat menstruasi. Tujuan: Mengetahui Hubungan Antara Dismenorea Primer Dengan Kualitas Tidur Mahasiswi PSIK STIKes Muhammadiyah Palembang. Metode: Desain Penelitian yang digunakan yaitu cross-sectional dengan kuesioner dismenorea primer dan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Teknik sampling yang digunakan yaitu totalsampling dengan jumlah sampel 342 responden, dengan uji statistik Chi Square. Kesimpulan: Berdasarkan hasil uji statistik diketahui bahwa nilai p value (0,000) < α = 0,05. Ada hubungan antara dismenorea primer dengan kualitas tidur mahasiswi PSIK STIKes Muhammadiyah Palembang. The incidence of primary dysmenorrhea results in poor sleep quality because increased levels of prostaglandin has an effect of increasing contractility of the uterine muscle and vasoconstriction and resulting in ischemia in the uterine muscle so that pain during menstruation occurs. To find out the relationship between primary dysmenorrhea and sleep quality of PSIK female students of Muhammadiyah Institute of Health Science of Palembang. This study used cross sectional design with Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). The number of samples was 342 respondents taken using total sampling technique. The statistical used was chi-square test. The statistical test results showed that p value obtained was (0,000) < α= 0,05. There was a relationship between primary dysmenorrhea and sleep quality of PSIK female students of Muhammadiyah Institute of Health Science.
SENSITIVITAS KAKI PASIEN DIABETES MELITUS TIPE II DI RUMAH SAKIT MUHAMMADIYAH PALEMBANG Sukron Sukron
Masker Medika Vol 8 No 1 (2020): Masker Medika
Publisher : IKesT Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52523/maskermedika.v8i1.389

Abstract

Latar Belakang : Meningkatnya angka penyakit diabetes melitus tipe 2 khususnya di Indonesia bersamaan dengan meningkatnya komplikasi salah satunya diabetic foot ulcer yang juga merupakan faktor terjadinya gangguan sensitivitas pada kaki. Pencegahan dapat dilakukan dengan mengukur sensitivitas kaki dengan menggunkan monofilmen test. Tujuan Penelitian : Untuk mengetahui gambaran tingkat sensitivitas kaki pada penderita diabetes melitus tipe 2 di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang. Metode Penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian dengan metode Deskripti Analitik dengan pendekatan kuantitatif. Teknik sampling menggunakan convenience sampling pada pasien diabetes melitus tipe 2 di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang yang berjumlah 60 responden. Hasil : Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata pasien diabetes melitus tipe 2 berusia 59,45 tahun dan sebagaian besar berjenis kelamin laki-laki dengan tingkat pendidikan sebesar 33,3% SD dan 33,3% SMA. Rerata responden juga menderita diabetes melitus tipe 2 selama 3,58 tahun dengan sebagian besar responden tidak berkerja dan tidak berolahraga. Serta tingkat sensitivitas kaki pada pasien diabetes melitus tipe 2yang tidak ada rasa dengan frekuensi tertinggi yaitu pada dorsal kaki sebanyak 25 orang (41,67%), metatarsal head ke-1 sebanyak 23 orang (38,33%), Midfoot bagian Medial sebanyak 22 orang (36,67), jari tengah sebnayk 21 orang (35%), metatarsal head ke-3 sebanyak 20 orang (33,33%), Midfoot bagian lateral sebanyak 20 orang (33,33%), Tumit sebanyak 18 orang (30%), jari kelingking sebanyak 18 orang (30%), metatarsal haed ke-2 sebanyak 17 orang (28,33%), dan terendah yaitu padajempol kaki dengan frekuensi 12 responden (20%). Kesimpulan : sensitivitas kaki pada pasien diabetes melitus tipe II yaitu terendah pada dorsal kaki. Background: The increasing number of type II diabetes mellitus, especially in Indonesia together with the increase in complications, one of which is diabetic foot ulcer, which is also a factor in sensitivity to the feet. Prevention can be done by measuring foot sensitivity by using a monofilment test. Objective: To find out the description of the level of sensitivity of the foot in patients with type II diabetes mellitus patients in Muhammadiyah Hospital Palembang. Method of Researvh: This research is a research with Analytic Descriptive method with quantitative approach. The sampling technique uses convenience sampling in patients with type II diabetes mellitus at Muhammadiyah Hospital Palembang, amounting to 60 respondents. Result of Research: The results showed that the average type II diabetes mellitus patients were 59.45 years old and most were male with education level of 33.3% elementary school and 33.3% high school. The average respondent also suffered from type II diabetes mellitus for 3.58 years with most respondents not working and not exercising. And the level of sensitivity of the foot in patients with type II diabetes mellitus that does not have the highest frequency is the dorsal foot of 25 people (41.67%), the first metatarsal head of 23 people (38.33%), Midfoot of the Medial section of 22 people (36.67), middle fingers 21 people (35%), 3rd metatarsal head as many as 20 people (33.33%), lateral midfoot as many as 20 people (33.33%), Heel as many as 18 people ( 30%), the pinky finger was 18 people (30%), the second metatarsal haed were 17 people (28.33%), and the lowest was the big toe with a frequency of 12 respondents (20%). Conclusion: Foot sensitivity in type II diabetes mellitus patients is lowest in the dorsal foot.
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN ATHRITIS RHEUMATOID PADA LANSIA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MUARA KATI KABUPATEN MUSI RAWAS Nadi Aprilyadi; Bambang Soewito
Masker Medika Vol 8 No 1 (2020): Masker Medika
Publisher : IKesT Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52523/maskermedika.v8i1.390

Abstract

Arthritis Rheumatoid paling banyak ditemui dan biasanya dari faktor, genetik, jenis kelamin, infeksi, berat badan/obesitas, usia, selain ini faktor lain yang mempengaruhi terhadap penyakit Arthritis Rheumatoid adalah tingkat pengetahuan penyakit sendiri memang masih sangat kurang, baik pada masyarakat awam maupun kalangan medis (Mansjoer, 2011).Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian Arthritis Rheumatoid pada lansia diwilayah kerja Puskesmas MuaraKati tahun 2018. Penelitian ini menggunakan metode Survey Analitik dengan pendekatan Cross Sectional. Adapun responden ini adalah Pengambilan sampel dilakukan secara Accidental Sampling yaitu semua lansia yang berkunjung ke poliklinik Puskesmas Muara Kati tahun 2018 yang berjumlah 339 orang dengan mengambil kasus atau responden yang kebetulan ada atau terjadi. Sebagian besar responden berjenis kelamin terhadap kejadian AthritisRheumatoid pada lansia diperoleh hasil tertinggi yaitu kategori laki-laki berjumlah 54 (63.5%) orang. Sebagian besar Usia lansia yang mempunyai penyakit Athritis Rheumatoid pada lansia diperoleh hasil tertinggi yaitu usia pertengahan berjumlah 47 (55.3%) responden. Dari responden pengetahuan terhadap kejadian Athritis Rheumatoid pada lansia diperoleh hasil tertinggi yaitu kategori baik berjumlah 36 (42.4%) orang. Kejadian Athritis Rheumatoid pada lansia di wilayah kerja Puskesmas Muara Kati di peroleh hasil tertinggi yaitu responden yang menderita AthritisRheumatoid sebanyak 51 (60.0%). Tidak ada hubungan yang bermakna antara jenis kelamin terhadap kejadian Athritis Rheumatoid pada lansia diwilayah kerja Puskesmas Muara KatiTahun 2018. Hasil penelitian ini dapat di jadikan untuk mengembangkan pendidikan tentang cara mendeteksi gejala dari penyakit rematik pada lansia dapat di jadikan bahan pertimbangandalam pemberian penyuluhan kesehatan pada lansia, terutama penyuluhan tentang penyakit yang menyerang usia lanjut. Rheumatoid arthritis or achy rheumatic pain is also a degenerative disease that causes damage to cartilage (cartilage) of the joints and adjacent bones, accompanied by proliferation of bone and soft tissue in and around the affected area (Priyanto, 2009). The purpose of this study was to determine the factors associated with the incidence of Rheumatoid Arthritis in the elderly in the work area of Muara Kati Health Center in 2018. This study used an Analytical Survey method with a Cross Sectional approach. The respondents were all elderly who visited the Muara Kati Puskesmas clinic in 2018, totaling 339 people. Most of the respondents who were sex with the incidence of Rheumatoid Athritis in the elderly obtained the highest results, namely the male category totaling 54 (63.5%) people. Most of the age of the incidence of Rheumatoid Athritis in the elderly obtained the highest results, namely middle age, amounting to 47 (55.3%) respondents. Nearly the majority of respondents knowledge of the incidence of Rheumatoid Athritis in the elderly obtained the highest results in the good category totaling 36 (42.4%) people. Most of the incidence of Rheumatoid Athritis in the elderly in the working area of the Muara Kati Health Center was obtained the highest results, respondents who suffered from Rheumatoid Athritis were 51 (60.0%). There is no significant relationship between sex with the incidence of Rheumatoid Athritis in the elderly in the work area of Muara Kati Health Center in 2018. There is a significant relationship between age and the incidence of Rheumatoid Athritis in the work area of Muara Kati Health Center in 2018. There is a significant relationship between knowledge of events Rheumatoid Athritis in the working area of the Muara Kati Health Center in 2018.
HUBUNGAN ANEMIA PADA IBU HAMIL, HIDRAMNION, DAN KETUBAN PECAH DINI (KPD) TERHADAP KEJADIAN BERAT BAYI LAHIR RENDAH (BBLR) DI RUMAH SAKIT ISLAM SITI KHADIJAH PALEMBANG TAHUN 2018 Jeza Permata Sari; Putu Lusita Nati Indriani
Masker Medika Vol 8 No 1 (2020): Masker Medika
Publisher : IKesT Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52523/maskermedika.v8i1.392

Abstract

Latar Belakang: Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) Ialah bayi baru lahir, berat badannya saat kelahiran kurang dari 2.500 gram. Tujuan dari penelitian: Penelitian Ini Bertujuan untuk mengetahui Hubungan anemia, hidramion, KPD terhadap kejadian BBLR di RSI Siti khadijah palembang tahun 2018. Desain penelitian: Penelitian ini menggunakan metode Survey Analitik dengan pendekatan Case Control, populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu bersalin dan BBL di RSI siti khadijah Palembang tahun 2018, Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei-juni 2019, dengan sampel sebanyak 82. Hasil Penelitian: Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu yang anemia sebanyak 23 (28,0%), ibu yang Hidramnion sebanyak 13 (15,9%), dan ibu yang KPD sebanyak 27 (32,9%), ibu yang melahirkan bayi dengan BBLR sebanyak 27 (32,9%), Berdasarkan Hasil analisis Bivariat dengan uji statistic Chi-square menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna/signifikan antara Anemia dengan BBLR yaitu dengan nilai p-value = 0,002, berdasarkan analisis bivariat dengan uji statistic Chi-square menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna/signifikan antara Hidramnion terhadap BBLR dengan nilai p-value 0,338 < α = 0,05 dan berdasarkan analisis bivariat dengan uji statistic Chi-square menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna / signifikan antara KPD dengan BBLR dengan nilai p-value = 0,002. Kesimpulan: Disarankan bagi orang tua untuk dapat memperhatikan kadar Hb, jumlah air ketubann dan keuban pada saat hamil untuk mengurangi kejadian BBLR. Background: Low Brith Weight Baby (LBWB) is a newbom whse weigt is less than 2.500 gram atb brith (Maryani, 2013). The purposes of this study: This study armed to find out the relationship of anemia, hydrammnions, PMR, to the meidence of LBWB at Siti Khadijah Islamic Hospital to Palembang in 2018. Research methods This study used the Analytical Survei method with a Cross Sectioal study approach. The population was all mothers giving brith and BBI. Mothers at Siti Khadijah Islamic Hospital to Palembang in 2018. The study was conducted from May to June 2019. The results: With the number of sampel of 82 mothers giving brith the results of the study showed that there were 23 responden (28,0%) having anemia and 59 responden (72,0%) having no anemia. There were 13 responden (15,9%) mothers having hydramnions and 69 responden (84,1%) having no hydramnions. There were 27 responden (32,9%) having PMR and 55 Responden (67,1%) having no KPD.There were 27 responden (32,9%) gave brith to LBW babies and 55 Responden (67,1%) did not. The result of the Bivariat analysis with Chi-square statistical test showed that there was a significant relationship between anemia to LBWB with p-value of 0,002 < α = 0,05. The bivariat analyses with with Chi-square statistical test showed that there was no significant relationship between hydramnions to LBWB with p-value of 0,338 > α = 0,05 and there was a significant correlation betweeb the PMR and LBWB with p-value of 0,005 < α = 0,05. Conclusion: It is recommended to pay attenion to Hb levels, the amount of amniotic fluid that seeps to reduce the incedence of LBWB.
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN PNEUMONIA PADA BALITA DI UPTD PUSKESMAS KEMALARAJA KABUPATEN OKU TAHUN 2019 Yustina Oktarida
Masker Medika Vol 8 No 1 (2020): Masker Medika
Publisher : IKesT Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52523/maskermedika.v8i1.395

Abstract

Latar Belakang: Pneumonia merupakan salah satu penyakit infeksi saluran pernafasan akut bagian bawah yang menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas anak berusia dibawah lima tahun terutama di negara yang sedang berkembang. Kematian balita di Indonesia yang disebabkan penyakit respiratori terutama adalah pneumonia (Said, 2012). Tujuan: Untuk mengetahui Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian pneumonia pada balita di UPTDPuskesmas Kemalaraja Kabupaten OKU Tahun 2019. Metode: Penelitian ini menggunakan metode analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian adalah ibu yang memiliki balita di UPTD Puskesmas Kemalaraja Kabupaten Ogan Komering Ulu pada bulan Juli Tahun 2019 yang berjumlah 65 orang. Analisa data menggunakan analisa univariat dan analisa bivariat dengan menggunakan tabel distribusi dan uji statistik Chi-Square, dengan derajat kepercayaan 95%. Hasil penelitian: Pada analisa bivariat didapatkan ada hubungan yang bermakna antara Status Imunisasi dengan Kejadian Pneumonia dengan p value 0,005, ada hubungan yang bermakna antara Pemberian ASI Eksklusif dengan Kejadian Pneumonia dengan p value 0,021, dan ada hubungan yang bermakna antara berat badan lahir dengan Kejadian Pneumonia dengan p value 0,002. Kesimpulan: Ada hubungan yang bermakna antara Status Imunisasi , pemberian ASI Ekslusif, berat badan lahir dengan Kejadian Pneumonia. Background: Pneumonia is a disease of acute lower respiratory tract infection which is a major cause of morbidity and mortality in children under five years old especially in developing countries. Infant mortality in Indonesia caused by respiratory disease is primarily pneumonia (Said, 2012). Objective: To determine the factors associated with the incidence of pneumonia in infants in UPTD Puskesmas Kemalaraja OKU Regency in 2019. Method: This research uses analytic method with cross sectional approach. The population in this study was mothers who had children under five years old at UPTD Puskesmas Kemalaraja, Ogan Komering Ulu Regency in July 2019, amounting to 65 people. Data analysis uses univariate analysis and bivariate analysis using distribution tables and Chi-Square statistical tests, with a 95% confidence level. Results: In the bivariate analysis there was a significant relationship between immunization status with the incidence of pneumonia with p value 0.005, there was a significant relationship between exclusive breastfeeding with the incidence of pneumonia with p value 0.021, and there was a significant relationship between birth weight and the incidence of pneumonia with p value 0.002. Conclusion: There is a significant relationship between immunization status, exclusive breastfeeding, birth weight and the incidence of pneumonia.
ANALISIS KEPATUHAN PERAWAT TERHADAP PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI DI RUMAH SAKIT MUHAMMADIYAH PALEMBANG Romiko Romiko
Masker Medika Vol 8 No 1 (2020): Masker Medika
Publisher : IKesT Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52523/maskermedika.v8i1.396

Abstract

Latar Belakang: Infeksi nosokomial sangat berpengaruh terhadap kondisi kesehatan pasien secara menyeluruh dan dapat meningkatkan morbiditas serta mortalitas. Kejadian infeksi nosokomial di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang masih banyak ditemukan, kepatuhan perawat dalam mencegah dan mengendalikan infeksi merupakan faktor yang sangat penting dalam pencegahan terjadinya infeksi nosokomial. Tujuan Penelitian: untuk menganalisis kepatuhan perawat terhadap pencegahan dan pengendalian infeksi di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang serta determinanya. Metode Penelitian: Jenispenelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan interaktif. Sumber informan sebanyak tiga orang perawat pelaksana, tiga orang kepala ruang, dan satu orang perawat PPIRS. Pengumpulan data melalui wawancara mendalam, studi dokumentasi dan observasi. Analisis diuraikan dalam bentuk deskriptif dan naratif. Hasil: hasil penelitian menunjukkan bahwa delapan kemampuan perawat dalam melakukan pencegahan dan pengendalian infeksi nosokomial belum sesuai dengan aturan menurut WHO. Determinan dalam pelaksanaannya antara lain pendidikan perawat, lama bekerja, tempat tugas, kebutuhan SDM dan alat pendukung, kenyamanan terhadap fasilitas pendukung, pelatihan/sosialisasi, monitoring dan evaluasi serta koordinasi antar unit. Kesimpulan: kemampuan perawat dalam pencegahan dan pengendalian infeksi nosokomial di RSMP masih belum optimal dan banyak hambatan dalam pelaksanaannya. Manajemen rumah sakit dan Tim PPI disarankan melakukan penyegaran kembali materi tentang PPI dan melakukan monitoring terhadap penerapan SPO PPI. Background: Nosocomial infection is very influential on a patient's overall health condition and can increase morbidity and mortality. The incidence of nosocomial infections in Muhammadiyah Hospital Palembang is still widely found, nurses' adherence in preventing and controlling infections is a very important factor in preventing nosocomial infections. Research Objectives: to analyze nurses' adherence to infection prevention and control at Palembang Muhammadiyah Hospital and its determinants. Research Methods: This type of research is a qualitative research with an interactive approach. Informants were as many as three associate nurses, three head nurses, and one Infection Prevention Control Nurse (IPCN). Data collection through in-depth interviews, documentation studies and observations. The analysis is described in descriptive and narrative form. Results: The results showed that eight nurses' ability to prevent and control nosocomial infections was not in accordance with WHO regulations. Determinants in its implementation include nurse education, length of work, place of assignment, human resource needs and supporting tools, comfort of supporting facilities, training, monitoring and evaluation as well as coordination among units. Conclusion: the ability of nurses in the prevention and control of nosocomial infections in RSMP is still not optimal and there are many obstacles in their implementation. Hospital management and the IPC Team are advised to re-refresh the material on IPC and to monitor the implementation of IPC standard operational procedures.
ANALISIS KONSEP DIRI ANAK YANG TINGGAL DI PANTI ASUHAN ANALYSIS SELF CONCEPT OF CHILDREN LIVING IN ORPHANAGE Romlah Dewi; Puji Setya Rini
Masker Medika Vol 8 No 1 (2020): Masker Medika
Publisher : IKesT Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52523/maskermedika.v8i1.397

Abstract

Latar Belakang: Konsep diri mulai berkembang sejak masa bayi dan terus berkembang sejalan dengan perkembangan individu itu sendiri. Anak usia sekolah, merupakan usia anak dengan berbagai macam karakterisitik yang mempunyai konsep dari pada pandangannya atau penilaian individu lain terhadap dirinya sendiri, baik bersifat fisik, sosial, maupun psikologis yang di dapat dari hasil interaksinya dengan orang lain. Tujuan dalam penelitian ini untuk mengetahui konsep diri anak yang tinggal di panti asuhan. Metode: Desain penelitian yang digunakan adalah observasional analitik dengan pendekatan evaluation research secara univariat yaitu melakukan penilaian terhadap pelaksanaan kegiatan program yang sedang dilakukan dalam rangka mencari umpan balik dan tehnik pengambilan sampel dengan menggunakan tehnik total sampling sebanyak 40 responden. Hasil : Hasil penelitian gambaran konsep diri anak usia 6-12 tahun meliputi gambaran diri positif 20 (50%) responden negatif 20 (50%), ideal diri realistis 19 (47%) dan tidak realistis 21 (53%) responden, harga diri tinggi 22 (55%) responden, rendah 18( 45%) peran diri berperan 22 (55%) responden, tidak berperan 18 (45%) responden, dan identitas diri kuat 17 (47%) responden, tidak kuat 23 (58%) responden. Kesimpulan : Hendaknya anak yang tinggal di panti asuhan dapat menjaga konsep diri sehingga memudahkan interaksi sosial sehingga individu yang bersangkutan dapat mengantisipasi reaksi orang lain. Background: The concept of self began to develop from infancy and continues to develop in line with the development of the individual itself. school age children, is the age of children with a variety of characteristics that have concepts from their views or other individual assessments of themselves, both physical, social, and psychological in the results of their interactions with others. The purpose of this study was to determine the selfconcept of children living in orphanages. Methods: The research design used was observational analytic with a univariate evaluation research approach which was to carry out an assessment of the implementation of the program activities being carried out in order to seek feedback and sampling techniques using a total sampling technique of 40 respondents. Results The results of the study of self-concept of children aged 6-12 years include positive self-image 20 (50%) negative respondents 20 (50%), realistic self-ideal 19 (47%) and unrealistic 21 (53%) respondents, high self-esteem 22 (55%) respondents, low 18 (45%) self-role plays 22 (55%) respondents, does not play 18 (45%) respondents, and self-identity is strong 17 (47%) respondents, not strong 23 (58%) respondents . Conclusion:Children who live in orphanages should be able to maintain their self-concept so as to facilitate social interaction so that the individual can anticipate the reaction ofothers.
EFEKTIVITAS ABATE DAN EKSTRAK DAUN SIRIH (Piper betle) DALAM MEMATIKAN LARVA Aedes Aegypti L INSTAR III Triana Oktaviani; Zairinayati Zairinayati
Masker Medika Vol 8 No 1 (2020): Masker Medika
Publisher : IKesT Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52523/maskermedika.v8i1.398

Abstract

Latar Belakang: Aedes aegypti merupakan nyamuk yang dapat berperan sebagai vektor Demam Berdarah Dengue (DBD). Upaya promotif dan preventif menjadi mutlak dilakukan untuk memutus mata rantai penularan dengan membunuh larva nyamuk dengan larvasida alami menggunakan ekstrak daun sirih (Piper betle) sebagai insektisida alami. Tujuan dari penelitian: ini adalah untuk mengetahui perbedaan abate dan ekstrak daun sirih (Piper betle) dalam mematikan larva Aedes aegypti L instar III. Desain penelitian: ini bersifat eksperimen dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari 3 perlakuan 1 kontrol dan 8 kali pengulangan percobaan. Hasil Penelitian: dapat diketahui bahwa untuk penggunaan ekstrak daun sirih (Piper betle) dengan konsentrasi 5% dapat mematikan larva sebanyak 8 ekor, sedangkan konsentrasi 10% tidak dapat mematikan larva (0 larva) dan konsentrasi 15% dapat mematikan larva sebanyak 17 (85%) sedangkan untuk penggunaan abate dengan konsentrasi 5%, 10% dan 15% dapat mematikan larva sebanyak 160 larva (100%). Kesimpulan: bahwa abate mempunyai efektifitas lebih tinggi di banding dengan ekstrak daun sirh (Piper betle). Background: Aedes aegypti is a mosquito that can act as a vector of dengue Hemorrhagic Fever (DHF). Promotove and preventive effort are absolutely necessary to break the chain to transmission by killing mosquito larvae with natural larvacides using betel leaf extract (Piper betle) as a natural insecticides. The purposes of this study: this was to determine the differences in abate and betel leaf extract (Piper batle) in kliing Aedes aegypti instar III larvae. Research methods this is an experimental study using a completely randomized design (CRD) consisting of 3 treatments 1 control and 8 repetitions of the experiment. The results: it can be seen that for the use of betel leaf extract(Piper betle) with a concentration cannot kill larvae in 17 (85%) whilke for the use of abate with a concentration of 5%, 10% and 15% can kill larvae of 160 (100%). Conclusion: that the abate has a higher effectiveness compared to sirih leaf extract.
HUBUNGAN STATUS GIZI DENGAN KEJADIAN ISPA PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TANJUNG AGUNG KABUPATEN OGAN KOMERING ULU TAHUN 2019 Eichi Septiani
Masker Medika Vol 8 No 1 (2020): Masker Medika
Publisher : IKesT Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52523/maskermedika.v8i1.399

Abstract

Latar Belakang: Infeksi saluran pernapasan adalah penyakit infeksi yang menyerang salah satu bagian dari saluran nafas yang berlangsung selama 14 hari. Berbagai macam faktor penyebab terjadinya ISPA, salah satunya adalah status gizi yang tidak baik. ISPA merupakan salah satu penyebab utama kunjungan pasien pada sarana kesehatan. Berdasarkan data yang didapat di wilayah kerja puskesmas Tanjung Agung pada periode Januari-Maret 2019 terdapat Penderita ISPA berjumlah 391 balita. Tujuan: Untuk mengetahui Hubungan antara status gizi dengan kejadian ISPA pada balita di UPTD Puskesmas Tanjung Agung Kabupaten Ogan Komering Ulu tahun 2019. Metode: Populasi dalam penelitian adalah ibu yang memiliki balita di UPTD PuskesmasTanjung Agung Kabupaten Ogan Komering Ulu pada bulan Juli Tahun 2019 yang berjumlah 76 orang. Analisa data menggunakan analisa univariat dan analisa bivariat dengan menggunakan tabel distribusi dan uji statistik Chi-Square, dengan derajat kepercayaan 95%. Penelitian ini menggunakan metode analitik dengan pendekatan cross sectional. Pengumpulan data dengan melalui wawancara langsung terhadap responden dengan menggunakan check list yang berkaitan dengan kejadian ISPA dan pengamatan terhadap status gizi. Hasil penelitian: Variabel yang diteliti pada penelitian ini Status Gizi pada balita dan Kejadian ISPA. Pada analisa bivariat didapatkan ada hubungan yang bermakna antara Status Gizi Balita dengan Kejadian ISPA di UPTD PuskesmasTanjung Agung Kabupaten Ogan Komering Ulu pada bulan Juli Tahun 2019 dengan p value 0,023. Kesimpulan: Ada hubungan yang bermakna antara Status Gizi Balita dengan Kejadian ISPA Background: Respiratory tract infection is an infectious disease that attacks one part of the respiratory tract that lasts for 14 days. Various factors cause ARI, one of which is poor nutritional status. ARI is one of the main causes of patient visits to health facilities. Based on data obtained in the working area of the Tanjung Agung puskesmas in the JanuaryMarch 2019 period, there were 391 children with ARI. Objective: To find out the relationship between nutritional status and the incidence of ARI in infants in Tanjung Agung UPTD Puskesmas Ogan Komering Ulu in 2019. Methods: The population in this study was mothers who had children under five years old at UPTD Puskesmas Tanjung Agung, Ogan Komering Ulu Regency in July 2019, totaling 76 people. Data analysis uses univariate analysis and bivariate analysis using distribution tables and Chi-Square statistical tests, with a 95% confidence level. This research uses analytic method with cross sectional approach. Collecting data through direct interviews with respondents using a check list related to ARI events and observations of nutritional status. Results: In the bivariate analysis there was a significant relationship between Toddler Nutrition Status and ARI in UPTD Puskesmas Agung Tanjung Ogan Komering Ulu in July 2019 with p value 0.023. Conclusion: There is a significant relationship between Toddler Nutrition Status with ARI.
Penelitian HUBUNGAN ANTARA SIKAP RELIGIUSITAS DENGAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) DI RUMAH TAHFIDZ X dewi pujiana
Masker Medika Vol 8 No 2 (2020): Masker Medika
Publisher : IKesT Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52523/maskermedika.v8i2.404

Abstract

Sikap religiusitas adalah suatu pikiran, kecenderungan, dan perasaan seseorang untuk mengenali aspek-aspek pengetahuan agama, pelaksanaan ibadah dan kaidah dan seberapa dalam penghayatan atas agama yang dianutnya dan keyakinan yang telah diperoleh semasa hidup, yang nantinya dapat menjadi penentu dan landasan dalam berperilaku saat mengambil suatu tindakan dan diataranya adalah dalam perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif korelasi yang menggunakan desain penelitian kuantitatif, dengan pendekatan cross sectional. Tahnik sampling, total sampling dengan total 39 responden. Pengambilan data menggunakan kuesioner Sikap Religiusitas dan PHBS. Hasil analisis hubungan antara sikap religiusitas dengan PHBS sebanyak 13 (33,3%) responden, sedangkan responden dengan sikap religiusitas tinggi tetapi memiliki PHBS yang kurang baik sebanyak 7 (17,9%) responden. Responden dengan sikap religiusitas rendah dengan PHBS yang baik ada sebanyak 5 (12,8%), dan responden dengan sikap religiusitas rendah dan memiliki PHBS yang kurang baik ada sebanyak 14 (35,9%). Dari hasil uji statistik Chi Square diperoleh nilai p value= 0,036 (p < α 0,05) yang berarti ada hubungan antara sikap religiusitas dengan PHBS. Simpulan, terdapat hubungan antara hubungan antara sikap religiusitas dengan perilaku hidup bersih dan sehat di rumah tahfidz (Rumah Qur’an Mulia) Palembang dengan p value (0,036).