cover
Contact Name
Meinia Prasyesti Kurniasari
Contact Email
meiniaprasyesti@fisip.unair.ac.id
Phone
+62315034015
Journal Mail Official
palimpsest@fisip.unair.ac.id
Editorial Address
Departemen Informasi dan Perpustakaan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Kampus B, Universitas Airlangga Jalan Dharmawangsa Dalam, Surabaya 60286, Jawa Timur
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Palimpsest: Jurnal Ilmu Informasi dan Perpustakaan
Published by Universitas Airlangga
Palimpsest: Jurnal Ilmu Informasi dan Perpustakaan (p-ISSN: 2086-0994) (e-issn: 2745-6862) is open access, peer-reviewed and scientific journal published by Department of Information and Library Science, Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Airlangga. The objective of Palimpsest: Jurnal Ilmu Informasi dan Perpustakaan is to publish outstanding and original articles which advance the theoretical understanding of, and promote and report empirical research about the widest range of library and information science topics. The journal encourages, and welcomes, submission of papers which report findings using, research study, literature study, and book review. We are committed to ensuring that advertising, reprint or other commercial revenue has no impact or influence on editorial decisions. Our main goal is to disseminate current and original articles from researchers and practitioners on various. Focus and Scope Palimpsest: Jurnal Ilmu Informasi dan Perpustakaan receives manuscripts from both original and literature reviews in the field of library and information science. - Library - Information Society - Data Science - Library Management - Information and Disability - Information Management - Archives and Documentation - Information Policies - Information Behaviour
Articles 65 Documents
Marketing Library Information Products and User Engagement through TikTok at the Central Java Provincial Archives and Library Service Lutfiah Nisa Maulida; Gani Nur Pramudyo
Palimpsest: Jurnal Ilmu Informasi dan Perpustakaan Vol. 17 No. 1 (2026): PALIMPSEST: JURNAL ILMU INFORMASI DAN PERPUSTAKAAN
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/pjil.v17i1.82699

Abstract

Latar belakang: Produk informasi perpustakaan perlu diperkenalkan kepada masyarakat agar dimanfaatkan secara optimal. Perpustakaan dapat melakukan pemasaran produk informasi melalui berbagai media digital, salah satunya media sosial TikTok, untuk membangun kehadiran perpustakaan di dunia digital dan menjangkau masyarakat secara lebih luas. Namun, pemanfaatan TikTok sebagai media pemasaran produk informasi perpustakaan masih belum banyak dikaji. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini untuk mendeskripsikan pemanfaatan media sosial TikTok sebagai pemasaran produk informasi di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah @perpusprovjateng. Metode: Jenis penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan studi kasus dengan periode pengambilan data dari bulan Mei-Juni 2025. Pengumpulan data menggunakan teknik observasi non partisipan, wawancara semi terstruktur, dan studi dokumen. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis tematik. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah telah memanfaatkan TikTok sebagai pemasaran produk informasi secara gratis dengan mengunggah konten-konten tentang perpustakaan dan produk informasinya seperti layanan, koleksi, kegiatan perpustakaan, dan lain-lain. Konten yang diunggah di TikTok berupa video pendek yang diiringi musik latar belakang dan teks di dalam video untuk informasi lebih lanjut. Caption juga dipakai sebagai tambahan informasi dari setiap konten yang diunggah. Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Jawa Tengah juga memanfaatkan fitur TikTok seperti menautkan link di bio dan direct message untuk interaksi langsung antara pengguna TikTok dan pustakawan secara real time. Dengan adanya konten yang diunggah oleh perpustakaan, pengguna TikTok menjadi tahu dan tertarik untuk memanfaatkan produk informasi perpustakaan sesuai target pasarnya. Kesimpulan: Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah telah memanfaatkan TikTok sebagai media pemasaran produk informasi dengan menerapkan bauran pemasaran 4P, yaitu product, price, place, dan promotion. Namun, bauran pemasaran yang diterapkan masih memiliki kelemahan karena dominasi konten promosi sebagai fokus utama serta belum optimalnya penguatan unsur price. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan pemasaran produk informasi melalui TikTok di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah lebih banyak ditopang oleh unsur promotion, product, dan place dibandingkan unsur price.   Background: Library information products need to be introduced to the public to ensure their optimal utilization. Libraries can market their information products through various digital media, including TikTok, to establish a digital presence and reach wider audiences. However, the use of TikTok as a medium for marketing library information products has received limited scholarly attention. Purpose: The purpose of this study is to describe the utilization of TikTok social media as a marketing tool for information products at the Central Java Provincial Archives and Library Service @perpusprovjateng.  Methods: This research adopted a qualitative case study approach. Data collection was conducted from May to June 2025 through non-participant observation, semi-structured interviews, and document analysis. The collected data were analyzed using thematic analysis. Results: The results of the study show that the Central Java Provincial Archives and Library Office has utilized TikTok as a free medium to market its information products by uploading content about the library and its information products, such as services, collections, library activities, and others. The content uploaded on TikTok consists of short videos accompanied by background music and on-screen text for additional information. Captions are also used to provide further details about each uploaded post. The Central Java Provincial Archives and Library Office also takes advantage of TikTok features such as linking in the bio and direct messaging, which allows users to interact directly between TikTok users and librarians in real time. Through the content uploaded by the library, TikTok users become aware of and interested in utilizing the library's information products relevant to its target market. Conclusion: Based on the research findings, the Central Java Provincial Archives and Library Service has utilized TikTok as a medium for marketing information products by implementing the 4P marketing mix, namely product, price, place, and promotion. However, the marketing mix applied still exhibits certain limitations, particularly due to the predominance of promotional content as the primary marketing focus and the insufficient optimization of the price element. These findings indicate that the success of information product marketing through TikTok at the Central Java Provincial Archives and Library Service is supported more by the promotion, product, and place elements than by the price element.
Information Access Advocacy in Libraries and Its Influence on Information Identity Formation in Adolescents and Adults: A Systematic Literature Review Jezzyndah Hanifah; Susanti Agustina; Suci Yanti Ramadhan
Palimpsest: Jurnal Ilmu Informasi dan Perpustakaan Vol. 17 No. 1 (2026): PALIMPSEST: JURNAL ILMU INFORMASI DAN PERPUSTAKAAN
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/pjil.v17i1.84176

Abstract

Latar belakang: Di era digital yang ditandai oleh kesenjangan akses informasi, perpustakaan memainkan peran vital sebagai advokat akses informasi untuk mengurangi ketidaksetaraan sosial dan membentuk identitas informasi pada remaja serta dewasa. Identitas informasi merujuk pada rasa diri individu sebagai pengguna informasi yang mandiri, kritis, dan etis, yang dipengaruhi oleh literasi informasi dan self-efficacy dalam menghadapi tantangan digital seperti misinformasi dan digital divide. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi kontribusi advokasi akses informasi oleh perpustakaan umum dan akademik sebagai pendorong pembentukan identitas informasi pada kelompok usia tersebut, termasuk populasi rentan seperti di daerah pedesaan atau kelompok minoritas, melalui analisis bentuk advokasi, strategi implementasi, dampak spesifik, dan perbedaan antar populasi. Metode: Metode yang digunakan adalah Systematic Literature Review (SLR) berbasis PRISMA, yang melibatkan identifikasi, screening, eligibilitas, dan inklusi literatur dari berbagai sumber seperti jurnal ilmiah dan laporan program pengabdian masyarakat. Proses ini memastikan sintesis bukti empiris yang menyeluruh dan bebas bias, dengan fokus pada empat Research Questions (RQ) yang menyoroti aspek advokasi perpustakaan. Hasil: Hasil menunjukkan bahwa bentuk advokasi mencakup program pelatihan literasi digital, inovasi teknologi seperti katalog online dan e-books, serta kolaborasi dengan pemerintah untuk akses setara. Strategi implementasi melibatkan workshop interaktif dan program inklusif yang meningkatkan literasi informasi serta self-efficacy, dengan dampak kognitif seperti kemampuan kritis menilai informasi, afektif seperti peningkatan rasa percaya diri, dan perilaku seperti partisipasi aktif dalam masyarakat digital. Perbedaan antar populasi terlihat pada remaja, di mana advokasi lebih fokus pada adaptasi teknologi untuk identitas adaptif, sementara pada dewasa dan kelompok rentan, advokasi menekankan perlindungan privasi dan akses kesehatan untuk identitas yang resilien. Kesimpulan: Kesimpulan mengindikasikan bahwa advokasi akses informasi oleh perpustakaan berkontribusi secara signifikan pada pembentukan identitas informasi yang memberdayakan. Penelitian ini menyertakan rekomendasi untuk pengembangan program usia-spesifik guna mengatasi digital divide dan mempromosikan kesetaraan sosial di masyarakat informasi.   Background: The current digital era is marked by a persistent disparity in information access, necessitating a vital role for libraries as information access advocates. This advocacy is crucial for mitigating social inequalities and shaping Information Identity in adolescents and adults. Information Identity is defined as an individual's sense of self as an independent, critical, and ethical information user, strongly influenced by their information literacy and self-efficacy in navigating digital challenges like misinformation and the digital divide. However, vulnerable populations, such as those in rural areas or minority groups, often lack the confidence and capacity to establish this empowered identity. Purpose: This study aims to identify, analyze, and synthesize the contribution of Information Access Advocacy programs conducted by public and academic libraries in driving the formation of Information Identity among adolescents and adults. The study specifically explores the forms of advocacy, implementation strategies, specific impacts, and differences across various user populations. Methods: A Systematic Literature Review (SLR) based on the PRISMA guidelines was employed. This method involved the identification, screening, eligibility, and inclusion of literature from scholarly journals and community engagement reports. This process ensured a comprehensive and unbiased synthesis of empirical evidence, focusing on four Research Questions (RQs) concerning library advocacy aspects. Results: The findings indicate that advocacy takes multiple forms, including digital literacy training programs, technological innovations (such as online catalogs and e-books), and collaborations with governing bodies to ensure equitable access. Implementation strategies involve interactive workshops and inclusive programs designed to enhance both information literacy and user self-efficacy. The impacts observed are cognitive (e.g., critical information assessment skills), affective (e.g., increased self-confidence), and behavioral (e.g., active participation in digital society). Differences across populations were noted: advocacy for adolescents primarily focuses on technology adaptation for an adaptive identity, while advocacy for adults and vulnerable groups emphasizes privacy protection and health access for a resilient identity. Conclusion: The conclusion indicates that information access advocacy by libraries contributes significantly to the formation of an empowered information identity. This study includes recommendations for the development of age-specific programs to address the digital divide and promote social equity in the information society.
Librarian Credibility and User Satisfaction at Universitas Sebelas Maret Library: A Pilot Study Yeaz Salwa Revadhilasari; Sabrina Agustin Indraswari; Fareza Aulia Putri; Lanina Pasha Shafira; Katrin Setio Devi
Palimpsest: Jurnal Ilmu Informasi dan Perpustakaan Vol. 17 No. 1 (2026): PALIMPSEST: JURNAL ILMU INFORMASI DAN PERPUSTAKAAN
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/pjil.v17i1.85362

Abstract

Latar belakang: Kepuasan pengguna merupakan indikator penting kualitas layanan di perpustakaan perguruan tinggi. Kredibilitas pustakawan sering dipandang sebagai faktor yang berkaitan dengan pengguna dalam menerima layanan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara kredibilitas pustakawan dan kepuasan pengguna di Perpustakaan Universitas Sebelas Maret (UNS). Metode: Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain survei potong lintang (cross-sectional). Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur dari 30 pengguna perpustakaan. Analisis dilakukan menggunakan statistik deskriptif dan regresi linear sederhana. Hasil: Kredibilitas pustakawan berhubungan positif dan signifikan dengan kepuasan pengguna (β = 0,870; p < 0,001). Model regresi menunjukkan nilai R² sebesar 0,757, yang mengindikasikan adanya asosiasi yang kuat antara kredibilitas pustakawan dan kepuasan pengguna dalam sampel penelitian ini. Kesimpulan: Semakin tinggi kredibilitas pustakawan yang dirasakan pengguna, semakin tinggi pula kepuasan pengguna. Temuan ini menunjukkan pentingnya penguatan kredibilitas pustakawan sebagai bagian dari strategi peningkatan layanan. Penelitian selanjutnya disarankan menggunakan sampel yang lebih besar dan menambahkan variabel lain untuk memperluas pemahaman tentang faktor yang berkaitan dengan kepuasan pengguna.   Background: User satisfaction is a key indicator of service quality in academic libraries. Librarian credibility is often viewed as an important factor that shapes users’ service experiences. Purpose: This study aimed to examine the association between librarian credibility and user satisfaction at the Universitas Sebelas Maret (UNS) Library. Methods: A quantitative cross-sectional survey design was used. Data were collected through a structured questionnaire from 30 library users and analyzed using descriptive statistics and simple linear regression. Results: Librarian credibility was positively and significantly associated with user satisfaction (β = 0.870, p < .001). The R² value of 0.757 indicated a strong association between librarian credibility and user satisfaction in this study sample. Users reported higher satisfaction when they perceived librarians as competent, trustworthy, and professional during service interactions. Conclusion: Strengthening librarian credibility is relevant to improving service quality in academic libraries. Future research should include larger samples and additional variables to better understand how librarian credibility is associated with user satisfaction.
Service The Role of Libraries in Providing Career Development Information Resources for Adolescents and Adults: A Systematic Literature Review with PRISMA (2019-2025) Anisa Oktafiani Futri; Susanti Agustina; Suci Yanti Ramadhan
Palimpsest: Jurnal Ilmu Informasi dan Perpustakaan Vol. 17 No. 1 (2026): PALIMPSEST: JURNAL ILMU INFORMASI DAN PERPUSTAKAAN
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/pjil.v17i1.86863

Abstract

Latar belakang: Perpustakaan telah bertransformasi menjadi pusat pemberdayaan dan pembelajaran sepanjang hayat yang berperan strategis dalam meningkatkan kesejahteraan dan pembangunan ekonomi masyarakat melalui penyediaan akses informasi, literasi, dan pengembangan keterampilan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis peran perpustakaan dalam menyediakan sumber informasi pengembangan karir bagi remaja dan dewasa, mengkaji dampak layanan perpustakaan terkait pengembangan karir dan keterampilan terhadap pemustaka, serta mengidentifikasi tantangan yang dihadapi perpustakaan beserta solusi yang dapat dilakukan dalam menyediakan sumber informasi pengembangan karir. Metode: Metode yang digunakan adalah Systematic Literature Review (SLR) dengan kerangka kerja PRISMA untuk menganalisis peran perpustakaan dalam menyediakan sumber informasi layanan pengembangan karir dan keterampilan. Artikel dicari di basis data Research Rabbit dan dibatasi publikasi tujuh tahun terakhir, menghasilkan enam artikel yang relevan setelah melalui proses seleksi PRISMA. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran perpustakaan dalam pengembangan karir dan keterampilan tidak hanya terbatas pada penyediaan informasi, tetapi juga mencakup fungsi edukatif, fasilitatif, dan pendampingan. Pada perpustakaan perguruan tinggi, layanan difokuskan pada peningkatan kesiapan kerja melalui penyediaan informasi karir, penguatan literasi informasi, kolaborasi dengan pusat karir dan industri, serta pengembangan koleksi yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja. Sementara itu, layanan bagi remaja lebih menekankan pengembangan minat, kreativitas, keterampilan sosial, dan pembentukan identitas diri melalui fasilitas seperti makerspace serta pendampingan pustakawan. Berbagai layanan tersebut berkontribusi terhadap peningkatan kompetensi, keterampilan informasi, kepercayaan diri, keterlibatan pengguna, dan kesiapan menghadapi transisi pendidikan maupun dunia kerja. Namun, optimalisasi layanan masih menghadapi berbagai kendala, seperti keterbatasan koleksi khusus, minimnya program bimbingan karir, kesenjangan fasilitas, serta dukungan pendanaan dan kebijakan yang belum merata. Kesimpulan: Temuan ini menegaskan pentingnya penguatan kolaborasi antara perpustakaan, institusi pendidikan, komunitas, dan pemerintah untuk mengembangkan layanan yang lebih responsif terhadap kebutuhan pemustaka.   Background: Libraries have transformed into centers of empowerment and lifelong learning, playing a strategic role in enhancing community welfare and economic development through the provision of information access, literacy, and skills development. Purpose: This study aims to identify and analyze the role of libraries in providing career development information resources for adolescents and adults, examine the impact of library services related to career and skills development on users, and identify the challenges faced by libraries along with potential solutions in delivering career development information services. Methods: This study employed a Systematic Literature Review (SLR) method using the PRISMA framework to analyze the role of libraries in providing career and skills development services. Articles were retrieved from the Research Rabbit database and limited to publications from the last seven years. Following the PRISMA selection process, six relevant articles were included in the review. Results: The findings indicate that the role of libraries in career and skills development extends beyond information provision to encompass educational, facilitative, and mentoring functions. In academic libraries, services are primarily focused on improving employability through career information provision, information literacy enhancement, collaboration with career centers and industry partners, and the development of collections aligned with labor market needs. In contrast, services for adolescents emphasize the development of interests, creativity, social skills, and self-identity through facilities such as makerspaces and librarian guidance. These services contribute to improved competencies, information literacy skills, self-confidence, user engagement, and readiness for educational and career transitions. However, service optimization continues to face challenges, including limited specialized collections, insufficient career guidance programs, disparities in facilities, and uneven funding and policy support. Conclusion: These findings highlight the importance of strengthening collaboration among libraries, educational institutions, communities, and government agencies to develop services that are more responsive to users’ career development needs.
Information-Seeking Behavior of Adults with Cleft Lip and Palate in Jakarta in Making Decisions About Further Medical Treatment Intan Nur Azizah Suharsono Putri; Ika Nur Azizah
Palimpsest: Jurnal Ilmu Informasi dan Perpustakaan Vol. 17 No. 1 (2026): PALIMPSEST: JURNAL ILMU INFORMASI DAN PERPUSTAKAAN
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/pjil.v17i1.87359

Abstract

Latar belakang: Kemajuan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat mencari dan memanfaatkan informasi kesehatan. Masyarakat kini aktif menggunakan internet dan media sosial sebagai sumber informasi untuk memperoleh informasi perawatan medis selain konsultasi dokter. Perubahan ini juga berdampak pada individu dengan kondisi medis, seperti penyandang bibir sumbing dan lelangit dewasa di Jakarta, yang membutuhkan informasi untuk membuat keputusan perawatan medis jangka panjang secara mandiri. Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perilaku pencarian informasi penyandang bibir sumbing dan lelangit dewasa di Jakarta dalam pengambilan keputusan perawatan medis lanjutan. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Informan dipilih secara purposive sampling, terdiri dari enam penyandang bibir sumbing dan lelangit dewasa di Jakarta yang pernah mencari informasi terkait perawatan medis dan berumur minimal 18 tahun. Data dikumpulkan melalui wawancara semi terstruktur dan dianalisis menggunakan metode analisis tematik. Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa kebutuhan informasi muncul dari dorongan kebutuhan fungsional, estetika, dan pengalaman medis sebelumnya. Sumber informasi yang paling sering digunakan meliputi Google untuk memperoleh gambaran awal, media sosial seperti Instagram dan TikTok untuk mengetahui pengalaman orang lain, serta dokter sebagai sumber profesional. Informan menggunakan strategi pencarian yang terarah dengan memilih kata kunci spesifik, memanfaatkan hashtag, serta akun resmi rumah sakit. Proses pencarian informasi dimulai dari memahami kebutuhan informasi, kemudian menentukan strategi pencarian informasi, menentukan sumber informasi, melakukan eksplorasi informasi, evaluasi informasi, dan pengambilan keputusan informasi untuk menentukan perawatan medis lanjutan. Kesimpulan: Perilaku pencarian informasi penyandang bibir sumbing dan lelangit dewasa di Jakarta berlangsung secara bertahap dengan memadukan sumber online dan konsultasi dokter, sebagai sarana pengambilan keputusan perawatan medis lanjutan. Namun, tidak semua pengguna mampu menilai informasi kesehatan secara online dan beberapa pengguna memiliki keterbatasan dalam mengeksplorasi informasi, sehingga pengguna perlu meningkatkan kemampuan eksplorasi informasi dan cara mengevaluasi informasi.   Background: Advances in digital technology have changed the way people search for and utilize health information. People now actively use the internet and social media as sources of information to obtain medical care information in addition to consulting doctors. This change also has an impact on individuals with medical conditions, such as adults with cleft lip and palate, who need information to make independent long-term medical care decisions. Purpose: This study was conducted to determine the information-seeking behavior of adults with cleft lip and palate in Jakarta in making decisions about further medical treatment. Methods: This study used a qualitative method with a case study approach. Informants were selected using purposive sampling, consisting of six adults with cleft lip and palate in Jakarta who had sought information related to medical treatment and were at least 18 years old. Data were collected through semi-structured interviews and analyzed using thematic analysis. Results: The study showed that the need for information arose from functional and aesthetic needs, as well as previous medical experiences. The most frequently used sources of information included Google to obtain an initial overview, social media such as Instagram and TikTok to learn about other people's experiences, and doctors as professional sources. Informants used targeted search strategies by selecting specific keywords, utilizing hashtags, and official hospital accounts. The information search process began with understanding information needs, then determining information search strategies, determining information sources, exploring information, evaluating information, and making information decisions to determine further medical treatment. Conclusion: The information search behavior of adults with cleft lip and palate in Jakarta takes place in stages by combining online sources and doctor consultations as a means of making decisions about further medical treatment. However, not all users are able to assess health information online, and some users have limitations in exploring information, so users need to improve their information exploration skills and ways of evaluating information.