Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles
132 Documents
Search results for
, issue
"Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER"
:
132 Documents
clear
SENTRA KERAJINAN KULIT DI KEMANG
Anita Darmawan;
Timmy Setiawan
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4447
Handcraft is one of three sub-sectors whose contribute significantly to the development of creative economic industry growth. The most creative industry figure are from the millennial generation. Handcraft art is one of the sub-sectors that is represents the characteristic of the Indonesian nation. Leather craft is one of the raw materials for craft arts that is greatly demand by millennials. In the present, Indonesian leather crafts are increasingly diverse. But the problem of developing a creative economy and startup is capital needs. The problem causes startups to not be able to develop optimally. This project is a forum for creative craftsmen by combining informal educational facilities and exhibition halls. This activity is intended to support each other so that leather craftsmen can immediately showcase their work and can be directly seen and bought by consumers. Consumers can simultaneously see the process and learn how to make it. The project is located in Kemang which is known internationally as a creative industrial area where many millennial generations gather. And the potential for infrastructure development. With this project in addition to bringing financial benefits from the work of ideas and innovation made from leather-based products, it is also expected to build and generate millennial generations, as the main actors, to form communities that aim to gather and share experiences and insights about their love of leather crafts. This activity makes the millennial generation active and creative to socialize in the wider community through leather crafting. In addition, this project was created to increase the appreciation of the community, both those who are interested in their fields and lay people who come to the value of leather-based products by observing the process of making their products.Abstrak Kerajinan (kriya) adalah salah satu dari tiga subsektor yang kontribusinya cukup signifikan dalam perkembangan industri ekonomi kreatif dan pelaku industri kreatif paling banyak dari generasi milenial. Seni kriya merupakan salah satu sub sektor yang menjadi ciri khas Bangsa Indonesia. Kerajinan kulit merupakan salah satu bahan baku material seni kriya yang banyak diminati kalangan milenial. Kerajinan kulit Indonesia di era kekinian semakin beragam. Namun persoalan dari pengembangan ekonomi kreatif dan startup adalah kebutuhan modal dan pemasaran. Adanya kendala tersebut menyebabkan startup tidak dapat berkembang maksimal. Proyek ini merupakan wadah untuk pengerajin kulit berkreasi dengan menggabungkan sarana pendidikan informal dan ruang pameran. Kegiatan ini dimaksudkan untuk saling mendukung sehingga pengerajin kulit dapat langsung memamerkan hasil karyanya dan dapat langsung dilihat dan dibeli oleh konsumen. Konsumen juga sekaligus dapat melihat proses pengerjaannya dan belajar membuat. Proyek berada di Kemang yang dikenal secara internasional sebagai kawasan industri kreatif dimana banyak generasi milenial berkumpul. Serta berpotensi dalam perkembangan infrastrukturnya. Dengan adanya proyek ini selain mendatangkan keuntungan finansial dari karya ide dan inovasi produk berbahan dasar kulit, juga diharapkan membangun dan membangkitkan generasi milenial, selaku pelaku utama, untuk membentuk komunitas yang memiliki tujuan untuk berkumpul serta berbagi pengalaman dan wawasan mengenai kecintaan mereka tentang kerajinan kulit. Kegiatan ini menjadikan generasi milenial aktif dan kreatif untuk bersosialisasi dalam kalangan masyarakat luas melalui kerajinan kulit. Selain itu proyek ini dibuat untuk meningkatkan apresiasi masyarakat baik yang tertarik dibidangnya maupun orang awam yang datang terhadap nilai produk-produk berbahan dasar kulit dengan mengamati proses pembuatan produknya.
ANALISIS KARAKTERISTIK PASAR SENIOR LIVING D’KHAYANGAN JABABEKA, CIKARANG
Bertharia Nadya Pricillia;
Priyendiswara A.B. Priyendiswara;
Liong Ju Tjung
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4599
The number of elderly people in Indonesia, based on data from the Central Statistics Agency (BPS) in 2017 has reached 23.4 million or 8.97%. With a variety of data that shows a high level of elderly people in Indonesia, housing that supports the comfort, safety and health of the elderly is quite needed. The occupancy of the elderly in Jabodetabek is in fact already available but has not filled the demand. The purpose and objective of this study is to analyze market characteristics which consist of profiles of elderly people who are interested in living in senior housing, market capabilities, available supply ofsenior housing, number of requests forsenior housing, and determination of appropriate rental prices. The object study is Senior Living D’Khayangan Jababeka which located in Cikarang, Bekasi Regency. The research method used in data collection is field surveys, questionnaires and interviews with related parties. The analysis used is the analysis of the object of benchmarking and market. The output of this analysis is the determination of rental prices that match the market characteristics of senior housing and can be viable social-based properties in terms of markets. AbstrakJumlah lansia di Indonesia, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2017 telah mencapai 23,4 juta atau 8,97%. Dengan berbagai data yang menunjukkan tingkat lansia yang tinggi di Indonesia, hunian yang mendukung kenyamanan, keamanan dan kesehatan para lansia sangat dibutuhkan. Hunian lansia di Jabodetabek pada kenyataannya sudah tersedia namun belum memenuhi permintaan yang ada. Maksud dan tujuan studi ini adalah melakukan analisis karakteristik pasar yang terdiri dari profil lansia yang berminat tinggal di rumah lansia, kemampuan pasar, pasokan rumah lansia yang tersedia, jumlah permintaan rumah lansia, dan penentuan harga sewa yang tepat. Adapun objek studi yang diteliti yaitu Senior Living D’Khayangan Jababeka yang berlokasi di Cikarang, Kabupaten Bekasi. Metode penelitian yang digunakan dalam pengumpulan data yaitu survey lapangan, penyebaran kuesioner dan wawancara terhadap pihak terkait. Analisis yang dipakai ialah analisis objek studi pembanding (benchmarking) dan pasar. Output dari analisis ini adalah penentuan harga sewa yang sesuai karakteristik pasar dari rumah lansia dan dapat menjadi properti berbasis sosial yang layak dalam segi pasar.
PENATAAN KAMPUNG WISATA KREATIF DAGO POJOK BANDUNG
Bayudhira Ramadhana;
Parino Rahardjo;
Irwan Wipranata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4604
Every City in Indonesia has their own tourist attractions from each potential resources from the tourism destination, some of them have facility issues. Most of the tourism villages use education for their attraction tourism who shares experience and knowledge for the visitors, meanwhile the facilities provided for tourism village to fill their needs and comforts for visitors are limited. This research was held in Kampung Dago Pojok, Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong, Bandung. The problem in this situation is the lack of facilities inside the tourism village of Dago Pojok from the perspective of basic needs, comforts, and safety of visitors. Method that is used is description which explained the needs and today’s existing through picture from the field observation, perception, and tourists’ preference from the questionnaire distributions and interviews. The result from this research is the contribution of the village’s society, organization, and the management to fulfill the needs and comforts of visitors, in the form of support facilities and additional facilities that will be fulfilled with the preference of educational tourism from the visitors. AbstrakSetiap kota di Indonesia pasti terdapat tempat wisata yang memiliki daya tariknya masing-masing, seperti salah satunya adalah jenis wisata edukasi dalam bentuk kesenian, kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Penelitian ini dilakukan di Kampung Dago Pojok, Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong, Bandung. Permasalahan pada penelitian ini adalah kurangnya fasilitas di dalam kampung wisata Dago Pojok untuk menunjang kebutuhan dasar kenyamanan dan keamanan dari para wisatawan kampung wisata. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi sarana dan prasarana penunjang dan mengetahui tingkat keamanan dan kenyamanan wisatawan dalam menjalankan kegiatan wisata. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengumpulan sampel dengan wawancara, observasi lapangan dan penyebaran kuisioner untuk responden, yaitu para wisatawan. Hasil dari penelitian ini diharapkan kontribusi dari masyarakat kampung, organisasi dan pihak pengelola untuk memenuhi kebutuhan dan kenyamanan dari wisatawan, yaitu berupa fasilitas-fasilitas penunjang serta fasilitas tambahan dari perferensi wisatawan berdasarkan wisata edukasi dari wisatawan yang akan dipenuhi.
PUSAT KEGIATAN KAUM MILLENIAL
Denny Kusuma
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4379
One of the characteristics of millennials is being creative. However, this creativity has not been utilized fully due to the absent of spare rooms to be used, whilst the main drive of creative industry is millennials themselves. The government begins to realize the importance of the emergent creative industry that can play a big role in the overall economy of the country. So, the government is currently trying to provide various spaces to accommodate them, likewise supporting them to open up to possibilities and innovation that drives them towards the creation of start-up companies. Millennial Hub that is situated at Grogol functions as a space for millennials to co-share, co-develop, open up ideas and creativity in order to assemble start-up companies or innovative produces that can increase the creative economy on a nationwide or global scale. Here, there are two main programs: millennial hall and creative hub. Both spaces support each other – creative hub functions as a space for the millennial generation to develop their creativity, meanwhile millennial hall functions as a space for them to exhibit their own creative innovations so as to be acknowledged by the public that can help in the investment on the nation or global scale.AbstrakSalah satu karakteristik millennial adalah kreatif, di mana kreativitas millennial ini belum tersalurkan secara maksimal dengan adanya wadah-wadah yang dapat menampungnya, sedangkan pendorong utama industri kreatif utama saat ini adalah generasi millennial tersebut. Pemerintah pun mulai menyadari akan pentingnya industry kreatif ini untuk mendorong perekonomian negara. Oleh karena itu maka pemerintah mulai membuat wadah-wadah untuk menampung dan juga mendorong generasi millennial ini untuk menyalurkan hingga akhirnya membentuk perusahaan-perusahaan baru dalam bidang industri kreatif. Pusat Kegiatan Kaum Millenial atau Millennial Hub yang terletak di Grogol ini difungsikan sebagai wadah bagi generasi millennial untuk saling berbagi, mengembangkan dan menyalurkan ide dan kreativitas mereka hingga akhirnya mereka dapat membentuk dan menghasilkan perusahaan start-up maupun sesuatu yang berguna untuk meningkatkan ekonomi kreatif baik skala nasional maupun internasional. Di dalam Pusat Kegiatan Kaum Millenial ini terdapat 2 program utama yaitu Balai Millennial dan Pusat Kreativitas dimana kedua program ini saling mendukung satu dengan lainnya dimana Pusat Kreativitas difungsikan sebagai wadah bagi generasi millennial untuk menyalurkan dan mengembangkan kreativitasnya, sedangkan Millennial Hall difungsikan sebagai wadah bagi mereka untuk menunjukkan hasil dari kreativitasnya tersebut hingga diketahui dan diakui oleh masyarakat dan dapat dibantu kembangkan hingga skala nasional maupun internasional.
FASILITAS KESEHATAN HOLISTIK DI KEBON JERUK, JAKARTA BARAT
Klarissa Febriana;
Diah Anggraini
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4515
Millennials as a generation entering the productive stage have different perspectives and attitude towards health as health action shifted from illness medication to illness prevention/health maintenance. They also embrace holistic health principle with an accent on balance between the body, mind, and soul. Furthermore, high stress and depression rate among millennials brings out their eagerness to ‘runaway’/relax so holistic health amenities takes it’s role as a vessel to fulfill their needs of holistic health as to attempt a healthier urban life. The project is located at Jalan Panjang, Kebon Jeruk, West Jakarta which is dominated by elite housing area and office complex, high accessibility, and the site located on first layer (edge of primary collector street) which makes it more exposed. The design method used in the design process is pattern language with functional design (depending on building users) and macro, mezzo, and micro environmental analysis. This holistic health amenities combines physical and mental/spiritual programs to reach holistic health and aims to general health and well-being. This project is expected to give positive outcome to its surrounding environment by making healthy lifestyle as a part of the residents’ life, improving productivity and life quality. The project is also expected to be a place where new healthy communities form as to be a retreat place that gives serenity/relaxation with nature elements integrated into the building. AbstrakGenerasi milenial sebagai generasi yang berada dalam usia produktif memiliki cara pandang serta sikap yang berbeda terhadap kesehatan seiring dengan perubahan tindakan kesehatan dari pengobatan penyakit ke pencegahan penyakit/pemeliharaan kesehatan. Mereka juga menganut prinsip kesehatan holistik dengan penekanan pada keseimbangan antara tubuh, jiwa dan pikiran. Selain itu, tingkat stres dan depresi yang tinggi di kalangan milenial menimbulkan keinginan untuk ‘melarikan diri’/relaksasi sehingga fasilitas kesehatan holistik hadir sebagai wadah untuk memenuhi kebutuhan mereka akan kondisi kesehatan holistik serta mengusahakan pola hidup urban yang lebih sehat. Proyek terletak di Jalan Panjang, Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat dengan dominasi kawasan perumahan menengah hingga atas dan perkantoran, aksesibilitas tinggi, serta posisi tapak pada lapisan pertama (sisi jalan kolektor primer) yang membuatnya lebih terekspos. Metode perancangan yang digunakan adalah metode bahasa pola dengan perancangan bangunan secara fungsional (berdasarkan kebutuhan) serta analisis lingkungan proyek secara makro, mezo, dan mikro. Fasilitas kesehatan holistik ini mengombinasikan program yang bersifat fisik serta mental/spiritual dalam rangka pencapaian kesehatan holistik dan mengarah kepada kesehatan general serta kesejahteraan (well-being). Proyek ini diharapkan dapat memberi dampak positif bagi lingkungannya dengan menjadikan gaya hidup sehat sebagai bagian dari kehidupan penduduk sekitar, meningkatkan produktivitas serta kualitas hidup. Selain itu, proyek juga diharapkan menjadi sarana pembentukan komunitas lingkungan yang baru dan sehat serta menjadi tempat pelarian yang memberi ketenangan/relaksasi dengan integrasi unsur alam dalam bangunannya.
APARTMENT SEWA SMART LIVING DI JATINEGARA
Kevin Fernando;
Martin Halim
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4483
This research is to learn about the behavior and needs of the Millennial generation or generation Y that born between 1981-1994. The character and behavior of the Millennial Generation is formed from the development of technology and information that they use during their lifetime. The Millennial generation curently in a productive age where the Millennials are already married and or planning to have a family so they need a place to live. So it is necessary to make a Smart housing that suitable for Millennial Generation that familiar with technology and prefers things that are simple and efficient. So it is necessary to build a Smart living Apartment that can control their house using technology and the use of multifunctional furniture that makes efficient use of space. The method used in this study is a qualitative research method consisting of the stages of data collection, data processing, discussion, and conclusions. Data collection is done by direct observation or review into the field and study of documents. From the results of these data, the chosen location is in the East Jakarta area because it has the highest number of Millennials in Jakarta. This generation can bring changes to the world and also changes in the building. Therefore this study is expected to provide smart living rent apartment designs that can fulfill the needs of the Millennial generation. Abstrak Penelitian bertujuan untuk mempelajari tentang perilaku dan kebutuhan Generasi Milenial atau generasi Y yang merupakan generasi yang lahir antara tahun 1981-1994. Sifat dan perilaku Generasi Milenial terbentuk dari berkembangnya ilmu teknologi dan informasi yang digunakannya selama masa hidupnya. Generasi Milenial yang saat ini sedang berada di usia produktif dimana generasi Milenial sudah berkeluarga maupun baru berencana untuk berkeluarga sehingga membutuhkan tempat tinggal. Maka perlu dibuat hunian yang Smart sesuai dengan generasi Milenial yang dekat dengan teknologi dan lebih memilih hal yang simpel dan efisien. Maka dari itu perlu dibuat Apartment smart living yang dapat mengatur hunian mereka menggunakan teknologi dan penggunaan perabotan multifungsi yang membuat efisiensi penggunaan ruang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif yang terdiri dari tahap pengumpulan data, pengolahan data, pembahasan, dan kesimpulan. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi atau tinjauan langsung ke lapangan dan studi dokumen. Dari hasil data tersebut, lokasi yang dipilih adalah di daerah Jakarta Timur karena memiliki jumlah Generasi Milenial terbanyak di Jakarta. Generasi ini dapat membawa perubahan terhadap dunia dan juga terhadap perubahan pada bangunan. Maka dari itu penelitian ini diharapkan dapat memberikan rancangan apartment sewa smart living yang dapat memenuhi kebutuhan generasi Milenial.
FASILITAS KEMATIAN BAWAH TANAH : NARASI SEBAGAI PENDEKATAN DESAIN ARSITEKTUR
Deanna Deanna;
Maria Veronica Gandha
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4476
Funeral process with flammable method and crematorium is a funeral culture that was applied from ancient times until now. Milennial generation as a 21st century most dynamic population has been changing the system and technology towards sustainable future and space customization. The Cremation Proccess based on Hydolisis and Electricity are amied to reduce the use of open land burial and decreasing carbon emission. Situation that is currently occur at DKI Jakarta is the concept of die as luxury and denying human death as a part of natural cycle which destroy the ecosystem and biodiversities. The Expensive amount of luxury funeral service and separated funeral process has made the process becoming inefficient. With the planning and design of Underground funeral parlour facilities based on hydrolysis and electric cremation in North Jakarta, Penjaringan is expected to fulfil the efficient needs of funeral process with millennial eco-friendly way. Eliminating a traumatic and sad impression into a liberating moment for the death. Also, breaking the boundaries between life of the city and death through nature access so it can change the perspective of neighbourhood through timeless crematorium millennial style.AbstrakProses pemakaman dengan membakar jenasah dalam perapian dan krematorium merupakan sebuah metode pemakaman yang sudah diterapkan oleh manusia dari jaman dahulu kala. Generasi millennial pada abad 21 telah mengubah sistem dan teknologi yang ada kearah yang lebih ramah lingkungan dan kustomisasi. Pelaksanaan proses kremasi berbasis hidrolisis dan elektrik ini bertujuan untuk mengurangi pengunaan lahan terbuka sebagai makam dan mengurangi emisi karbon. Keadaan yang saat ini terjadi di DKI Jakarta yaitu adanya konsep fasilitas krematorium yang bersifat meninggal “luxury” dan mengabaikan kematian manusia sebagai siklus yang berbasis pada alam, telah merusak ekosistem. Biaya yang mahal dan proses pemakaman yang terpisah-pisah menjadikan proses pemakaman tidak efisien. Dengan dilakukan perencanaan dan perancangan Fasilitas Kematian Bawah Tanah berbasis pada metode kremasi hidrolisis dan kremasi elektrik di daerah Penjaringan Jakarta utara diharapkan dapat memenuhi kebutuhan proses pemakaman dengan cara millennial yang lebih ramah lingkungan. Menghilangkan kesan traumatik dan menyedihkan menjadi sebuah pengalaman yang membebaskan. Serta menghilangkan batas antara kehidupan kota dan kematian lewat alam sehingga dapat merubah sudut pandangan masyarakat terharap gaya krematorium generasi Milennial yang tidak terkekang oleh waktu.
TERAPI CYBERBULLYING BERBASIS REKREASI
Elizabeth Clara;
Franky Liauw
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4472
A lot of new problem arise as the result of the development of information and digital technology that leads to the use of the Internet by millennials, namely cyberbullying. Cyberbullying hasn’t been solved by the millennials even the though the causes has been known. This problem also affects the other generations such as generation X and generation Z also feel the impact. To be more spesific, the definition of cyberbullying is the development of bullying from the traditional way to using digital devices. This is important because until now this problem still underestimated and hasn't received any special treatment even though the bullying cause a lot off negative effect such as depression which lead to suicide. This statement supported by the Kaspersky Lab's researchThe problem is 20% of people who witness of cyberbullying and 7% of the cases of those involved in bullying. Cyberbullying Theracreation project is designed to raise the awareness of cyberbullying in the community targeting the bullier. Theracreation are created from the word combination of theraphy and recreation. it’s related to the used solution method of the project called cognitive behaviour therapy (CBT). It’s combined with spatial experience in architecture and digital technology which consists of VR so that the therapy process is carried out without having to deal directly with a psychologist. The benefits of this therapeutic system can be done at any time in a predetermined location so that improving the community's process of cyberbullying can be done effectively. For the design concept, emphasize on the improvements in the community the concept building which blend with the level difference building design and focusing the activities at one center point. AbstrakSebagai hasil dari perkembangan teknologi informasi dan digital yang mengarah pada penggunaan Internet secara berlebihan oleh generasi millenial muncul masalah yaitu intimidasi dunia maya atau lebih dikenal dengan cyberbullying. Cyberbullying sendiri tidak terpaku pada generasi milenial saja melainkan generasi lainnya seperti generasi X dan generasi Z. Cyberbullying merupakan pengembangan perilaku bullying dari cara tradisional ke penggunan perangkat digital. Untuk menangani kasus tersebut diajukanlah proyek Cyberbullying Theracreation atau Terapi Cyberbullying berbasis rekreasi yang difokuskan untuk membangun cyberbullying awareness dalam masyarakat khususnya pelaku cyberbullying. Karena sampai sekarang belum kasus ini masih disepelekan dan belum mendapat perlakuan khusus. Hal tersebut didukung oleh hasil penelitian Kaspersky Lab. Cyberbullying dapat menimbulkan pemikiran tentang bunuh diri, terkadang bertahan hingga dewasa. Bahayanya 20% dari orang-orang yang menyaksikan bullying secara online dan di 7% kasus mereka bahkan berpartisipasi dalam kasus bullying. Theracreation sendiri berasal dari pengabungan kata terapi (therapy) dan rekreasi (recreation) ini mengacu pada metode yang digunakan yaitu terapi rekreasi berprogram terapi kognitif perilaku (CBT) yang dipadukan dengan unsur arsitektur (pengalaman ruang) dan teknologi digital berupa VR sehingga proses terapi dilakukan tanpa harus berhadapan langsung dengan psikolog. Keuntungan dari sistem terapi ini adalah terapi bisa dilakukan kapanpun di lokasi yang sudah ditentukan sehingga dalam proses meningkatkan empati masyarakat terhadap cyberbullying bisa dilakukan secara efektif. Dalam desainnya, dengan tetap menekankan peningkatan empati dalam masyarakat dciptakan konsep arsitektur yang berbaur sehingga perbedaan level pada bangunan tersamarkan dan memusatkan aktivitas pada 1 titik pusat.
PENERAPAN PERPUSTAKAAN INTERAKTIF TERHADAP GENERASI MILENIAL INDONESIA
William Winata;
Stephanus Huwae
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4466
Reading is an observational process that is utilized to acquire informations in media literatures. Millennials in Indonesia are stultified of the collected literatures that they cease to pursue reading activities. It is known that Indonesia is placed 1/69 with low reading interest. This is supported by the data that only 1 / 1,000 people actually enjoy reading. But the growing media of digital books did not generate an increase in interests. So what is the architectural response that will be able to provide stimulis for users to spark an interest in reading. Interactive and easing programs are needed to assist information necessities among millennials. Sharing informations does have have to rely on mere literature exclusively, multimedia approaches and occuring discussions between visitors can also be equally effective. The design that is located in the Pesing area, Daan Mogot, West Jakarta will apply Cellular Automata (CA) based design methods as a representation of the growth and development of digital books. Abstrak Membaca merupakan sebuah proses mengamati untuk mendapatkan sebuah informasi baik dalam media literasi. Kalangan milenial Indonesia sangat bosan dan jenuh dengan kumpulan literasi-literasi sehingga mereka malas membaca. Seperti diketahui, Indonesia mendapati peringkat 1/69 dengan minat baca rendah. Hal ini diperkuat dengan 1/1.000 orang yang sangat suka membaca. Walaupun media buku digital semakin berkembang tidak membuat mereka semangat untuk membaca. Oleh karena itu bagaimana solusi dari arsitektur yang dapat memberi stimulan bagi para kalangan milenial supaya meningkatkan semangat membaca. Pendekatan melalui program yang interaktif serta menenangkan sangat dibutuhkan untuk menunjang kebutuhan informasi para kalangan milenial. Tidak hanya berfokus pada sebuah literasi belaka, namun kebutuhan informasi bisa dengan pendekatan multimedia, maupun bisa saling berdiskusi antar pengunjung untuk bisa saling berbagi informasi. Lokasi perancangan yang terletak di kawasan Pesing, Daan Mogot, Jakarta Barat ini juga menggunakan pendekatan metode desain berbasis Cellular Automata (CA) sebagai representasi dari pertumbuhan dan perkembangan buku digital.
KONSEP BERKELANJUTAN PADA KANTOR MILENIAL TERINTEGRASI TRANSPORT HUB DI DUKUH ATAS
Andre Onggara;
Fermanto Lianto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4581
As Urban Interchange of Jakarta, Transport Hub is a key to promote sustainable transportation and mobility and to promote the use of public transportation. Dukuh Atas, as an interchange between major public transportation such as : MRT, LRT, KRL Sudirman, and KRL Bandara has become Transit Oriented Development based on masterplan of Dukuh Atas by Government of Indonesia. Millennial Office integrated with Transport hub is a form of integration between activity-based working space and public transportation. This kind of integration is pioneered by type and behaviour of millennials and it resulting the change of typology. The previous typology of office and transport hub aren’t fitted to be used by millennials. This cause the evolution of transport hub as an interchange between many public transportation and private vehicle and also an activity-based office which is separate room or zone based on activity. The Notion of office and transport hub’s type are re-composed by retrospectively analyze the typology and behaviour involved in it to be integrated with surrounding place and public transportation. Other than facilitating the interchanging between transportation, the architecture of Millennial Office integrated with Transport Hub at Dukuh Atas became a pioneer of a working place with transport oriented development and to promote the use of public transportation in Jakarta. AbstrakSebagai Urban Interchange, Transport Hub merupakan kunci sukses terjadinya perpindahan dan mobilitas secara berkelanjutan dan mempromosikan penggunaan transportasi publik. Dukuh Atas yang merupakan titik pertemuan beberapa transportasi publik besar seperti: MRT, LRT, KRL Sudirman, dan KRL Bandara menjadi salah satu kawasan berorientasi transit yang sedang direncanakan oleh pemerintah DKI Jakarta dan pihak MRT. Kantor Milenial terintegrasi Transport Hub di Dukuh Atas merupakan bentuk integrasi antara transportasi publik dengan tempat kerja dengan tipologi berbasis aktivitas. Hal ini dipelopori oleh tipe dan perilaku dari milenial yang mendorong pergeseran tipologi dari transport hub dan kantor. Tipologi lama dari kantor dan transport hub sudah tidak cocok untuk generasi milenial. Hal ini mendukung usulan desain transport hub sebagai tempat transit memiliki integrasi ke beberapa transportasi publik dan pribadi dan kantor berbasis aktivitas yang tidak dibatasi dalam cubicle atau ruang individual. Konsep tipologi dari transport hub dan kantor di komposisi ulang dengan metode kualitatif dengan melihat tipologi terdahulunya secara retrospektif dan menganalisis perilaku didalamnya, yang menghasilkan tipologi kantor dan transport hub menjadi satu kesatuan bangunan terintegrasi yang juga terhubung dengan daerah dan fasilitas transportasi publik sekitar. Selain sebagai sarana integrasi transportasi publik sekitar, arsitektur Kantor Milenial terintegrasi Transport Hub menjadi pelopor tempat kerja yang berorientasi transit dan mendorong penghuninya untuk lebih menggunakan transportasi publik guna mengurangi polusi dan kemacetan di kota Jakarta.