cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 99 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 1 (2020): APRIL" : 99 Documents clear
PERANCANGAN SARANA KEBUGARAN DAN KESEHATAN SEBAGAI THIRD PLACE BAGI KAWASAN SUNTER AGUNG Kornelius Yonathan; Tony Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6891

Abstract

Third place is a place that brings various kinds of people together, where their activities are not related to home routines (1st place) and work routines (2nd place). Third place is needed for everyone because it is a place where people can release the fatigue that occurs in their daily activities. Third place is an important part in the formation of a community that provides alignment and harmony, where people who are known can be found. The most important part of third place, is guiding happiness, where people can feel the presence of others, a place for interaction that is filled with excitement. The lack of third place as a result of development that is only oriented to the interests of capital, causes the community to overcome it independently. They held their own third place in their residential area with the possibility of greater access. This also happens in the Sunter Agung area which is the most dominant productive age in education, so social bonds are more easily formed. Through literature studies and observational studies that have been carried out, it is known that the needs of the community of Sunter Agung Village in the third place are very high and need to be anticipated immediately in order to avoid environmental and social degradation. To make this happen, facilities are needed that can facilitate the community to interact, which is suitable for all walks of life. By paying attention to public - private, closeness - openness, natural - artificial etc., the design is tailored to the needs of the community. In this case, the intended facilities are not yet available in Sunter Agung Village, so that it becomes an urgency for the area. AbstrakRuang ketiga (third place) merupakan tempat yang mempertemukan berbagai macam masyarakat, dimana kegiatannya tidak terkait dengan rutinitas rumah (1st place) dan rutinitas pekerjaan (2nd place). Third place diperlukan bagi semua orang karena merupakan tempat orang dapat melepaskan kepenatan yang terjadi pada aktivitas keseharian mereka. Third place adalah bagian penting dalam pembentukan suatu komunitas yang memberikan kesejajaran dan keselarasan, dimana orang-orang yang dikenal dapat ditemukan. Bagian terpenting dari third place, adalah menuntun kebahagiaan, dimana orang dapat merasakan kehadiran sesama dan merupakan tempat untuk berinteraksi yang dipenuhi dengan kegembiraan. Namun karena minimnya ruang ketiga (third place) sebagai akibat pengembangan yang hanya berorientasi pada kepentingan kapital, masyarakat mengatasinya secara mandiri. Mereka mengadakan sendiri ruang ketiga (third place) di lingkungan pemukimannya dengan kemungkinan akses yang lebih besar. Hal ini juga terjadi di kawasan Sunter Agung yang merupakan kawasan pendidikan dengan jumlah usia produktif paling dominan, sehingga ikatan sosial lebih mudah terbentuk. Melalui studi literatur dan studi observasi yang telah dilakukan, diketahui bahwa kebutuhan masyarakat Kelurahan Sunter Agung akan third place sangat tinggi dan perlu segera diantisipasi agar tidak terjadi degradasi lingkungan dan sosial. Untuk mewujudkannya, diperlukan fasilitas yang dapat mewadahi masyarakat untuk berinteraksi, yang sesuai dengan semua kalangan masyarakat. Dengan memperhatikan public – private, closeness – openness, natural – artificial dll,  perancangan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Dalam hal ini, fasilitas yang dimaksudkan belum tersedia di Kelurahan Sunter Agung, sehingga menjadi urgensi bagi kawasan tersebut.
FASILITAS KEBUGARAN DAN REKREASI DI SETIABUDI Setiawan, Ariwibowo; Ratnaningrum, Dewi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6752

Abstract

Humans are highly social beings with great desire for social belonging and interpersonal exchange in their life. Public space has become a cornerstone of public growth consisting economic, social, entertainment, and political enterprise. Therefore, the continuation of public interaction become very dependent on both public space existence and growth.  The inadequacy of public space in Setiabudi has provoked the community to create public spaces in their residential roads to socialize and do various activities. Nonetheless, using roads as public infrastructure for daily activities and socializing may resulted in inconvenience and hazardous situation. In addition, most inhabitants in Setiabudi are migrants with the incentive to work and settle which resulted in social discrepancy. If this problem is not anticipated immediately, social and environmental degradation may arise. From these issues, we can conclude that Setiabudi need some facilities to fulfill the social needs of inhabitants and migrants secondary needs to work and settle. The research method conducted is through literature studies, precedent studies. In addition, direct observation techniques were also carried out namely interviews and observations to several settlements, social and public facilities. Therefore, facilities such as flexible space, gym, kid’s play area, bar, and recreational space for food court and co-working space are essential. Along with the oasis-maker concept, Setiabudi Wellness and Recreation Facility undertake inclusivity of human, neutrality, and playfulness. AbstrakManusia sebagai makhluk sosial selalu membutuhkan interaksi sosial dengan sesamanya dalam daur hidupnya. Ruang publik telah menjadi latar bagi perkembangan kehidupan publik, baik dalam kegiatan ekonomi, sosial, hiburan, hingga politik. Berlangsungnya kehidupan publik dengan interaksi sosial menjadi salah satu faktor yang sangat bergantung pada keberadaan dan perkembangan ruang publik. Minimnya ruang publik di kawasan Setiabudi mengakibatkan masyarakat menciptakan ruang publik di jalan lingkungan permukimannya sebagai tempat untuk bersosialisasi dan beraktivitas. Kegiatan-kegiatan yang menggunakan jalan sebagai media beraktivitas dan bersosialiasi sehari-hari cenderung mengganggu serta berbahaya bagi warga. Selain itu, sebagian penghuni di kawasan Setiabudi merupakan pendatang dari luar kawasan tersebut yang ingin bekerja dan bermukim sehingga menyebabkan kesenggangan sosial antara pendatang dan penduduk Setiabudi. Tujuan proyek adalah mengurangi degradasi sosial dan lingkungan antara pendatang dan penghuni Setiabudi. Dari isu-isu  tersebut, dapat disimpulkan bahwa kawasan Setiabudi membutuhkan fasilitas-fasilitas untuk melengkapi kebutuhan sosial harian penduduk dan kebutuhan sekunder pendatang yang bekerja sekaligus bermukim di kawasan Setiabudi. Metode penelitian yang digunakan adalah melalui studi literatur, studi preseden. Selain itu, dilakukan juga teknik pengamatan langsung yaitu wawancara dan dan observasi ke beberapa permukiman, fasilitas sosial dan umum. Oleh karena itu, mereka membutuhkan fasilitas seperti flexible space (ruang serbaguna), gym, kid’s play area, bar dan ruang rekreasi dengan fasilitas pendukung seperti food court dan co-working space. Fasilitas Kebugaran dan Rekreasi ini memiliki konsep oasis-maker yang mengutamakan inklusivitas antar sesama manusia serta bersifat netral dan memiliki kesan playful.
EVALUASI PENERAPAN RENCANA TATA BANGUNAN DAN LINGKUNGAN (RTBL) KAWASAN WISATA PANTAI TELUK PENYU DAN BENTENG PENDEM Eka Lusiana; Sylvie Wirawati
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.7291

Abstract

The Teluk Penyu Beach and Benteng Pendem tourism areas, are two different tours in one area, located in South Cilacap Subdistrict, Cilacap Regency, Central Java. Document of Building and Environmental Planning (RTBL) of the area in its implementation are some  compatible plans that will be compared with the general guideline factors of the RTBL and the needs of the community, traders and visitors. So the authors will Evaluate the Implementation of Building and Environmental Planning (RTBL) in the Teluk Penyu Beach and Benteng Pendem tourism area. The purpose of this study is to evaluate the RTBL of the Teluk Penyu Beach and Benteng Pendem viewed from the document physical plan of the RTBL, policies or laws related to the RTBL guidelines, existing attractiveness, and perceptions and satisfaction from the visitors and community side to facilities and plans on the Teluk Penyu Beach, and the suitability to RTBL guiding factors. To achieve these objectives, several analyzes were using analytical tools such as descriptive, cartesian diagrams, and CSI. So the results of the analysis can be used to assess how to the suitability of the physical plan of the RTBL. Keywords: Building and Environmental Planning (RTBL); physical plan; rtbl general guidelinesAbstrakKawasan wisata Pantai Teluk Penyu dan Benteng Pendem, merupakan dua jenis wisata berbeda yang berada pada satu kawasan, yang terletak di Kecamatan Cilacap Selatan, Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah. Dokumen Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) pada kawasan ini dalam penerapannya terdapat beberapa rencana yang tidak sesuai baik dengan kebutuhan masyarakat dan pengunjung, maupun dengan kebijakannya, yang kemudian akan dibandingkan dengan beberapa faktor-faktor pedoman umum RTBL dan kebutuhan masyarakat sekitar, pedagang/pelaku usaha dan pengunjung. Sehingga penulis akan melakukan Evaluasi Penerapan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) Kawasan wisata Pantai Teluk Penyu dan Benteng Pendem. Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu mengevaluasi RTBL Pantai Teluk Penyu dan Benteng Pendem dilihat dari dokumen rencana fisik RTBL, kebijakan atau undang-undang terkait Pedoman RTBL, daya tarik eksisting, dan persepsi dan kepuasan dari sisi pengunjung dan masyarakat/pelaku usaha terhadap fasilitas dan rencana di Pantai Teluk Penyu, dan kesesuaian dengan faktor-faktor pedoman umum RTBL. Untuk mencapai tujuan tersebut maka dilakukan beberapa analisis dengan menggunakan alat analisis seperti deskriptif, diagram kartesisus, dan csi. Sehingga hasil dari analisis yang dilakukan tersebut dapat digunakan untuk menilai bagaimana kesesuaian rencana fisik dari RTBL dengan pedoman umum dan kebutuhan masyarakat.
FASILITAS EDUTAINMENT: PERPUSTAKAAN FIKSI HIJAU DAN RUANG SENI PERTUNJUKAN DI BUMI SERPONG DAMAI Michelle Ashikin; Tatang Pangestu
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6729

Abstract

Edutainment Facility is a project that combines education and entertainment, as a response in the issue of virtual third place that causes a shifted user preferences, led to decreasing use of conventional books and libraries. The project brings forward the contextuality of the site itself which functioned as an integrated - educational area in Bumi Serpong Damai, to redefine the library using a new and distinctive typology design and especially provide fiction books to highlighted its entertaining quality. By ‘reading for pleasure’ theme and adding art as supporting program, the project is intended to broaden its purpose as communal place or third place. The concept of ‘garden library’ delivered by preserving the greeneries and explore its potency to create its building element, aiming to provide user of a garden-reading experience which orientated to outdoor space. Main program can be separated to 2 function, first is literation which include library and course, and art as supporting function. In the terms of design, typology method is applied to learn changes in libraries, therefore making the design output to be different from the stereotype that usually being used today. Architectural form is a result of stacking the tipology type – archetype, prototype and stereotype – which aim to re-interpreting the users viewpoint of libraries in modern era. Abstrak Proyek Fasilitas Edutainment merupakan fasilitas yang menggabungkan fungsi edukasi dan entertainment, sebagai tanggapan pada isu Virtual Third Place yang kemudian menyebabkan buku konvensional dan perpustakaan sendiri telah mulai ditinggalkan. Padahal, minat baca dan ekspektasi masyarakat terhadap perbaikan perpustakaan masih tinggi. Pada proyek ini, dengan memanfaatkan konteks pada kawasan pendidikan Edutown di Bumi Serpong Damai, perpustakaan di-redefinisikan kembali dengan tipologi design yang berbeda dan dibuat khusus untuk buku fiksi untuk meng-highlight fungsi hiburannya. Dengan mengangkat konteks reading for pleasure dan menambah program kesenian, diharapkan proyek dapat memperbesar kapasitasnya sebagai ruang komunal yang memiliki sense of place sebagai third place. Konsep ruang yang diambil berupa garden library, dimana ruang hijau tapak dimanfaatkan sebagai elemen pembentuk ruang pada proyek sehingga pengguna dapat merasakan pengalaman membaca dengan suasana taman, dengan orientasi pada ruang outdoor. Program utama yang disediakan digolongkan pada fungsi literasi (perpustakaan dan pelatihan penulisan) serta fungsi kesenian (seni pertunjukan dan pelatihan kesenian). Dalam perancangan, metode tipologi digunakan untuk mempelajari perubahan pada perpustakaan, sehingga bentuk arsitekturalnya dapat menjadi berbeda dan keluar dari stereotype-nya. Wujud yang ditampilkan dalam bentuk ruang arsitektural merupakan stacking/ super-imposed dari tipe archetype, prototype dan stereotype- nya, yang dimaksudkan untuk dapat menginterpretasikan kembali pandangan pengguna terhadap desain perpustakaan di era yang lebih modern.
WADAH KOMUNITAS MUSIK DI KEMBANGAN SELATAN Abram Reinhold; Rudy Trisno
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6889

Abstract

This study aims to explore the third place as a place of community in the South Kembangan Village which is a social environment separate from the two social environments namely home and workplace. Where in this study aims to discuss about the third place of the music community in the South Kembangan Village. The problem that occurs in the South Kembangan Village is the current condition of the community to carry out various routines so that it causes saturation of each individual, the night market and malls become a separator between the lower middle and upper middle classes, the unavailability of places to be able to interact and communicate with each other regardless of social background, lack of space for the music community to be able to interact from the music field. In executing the design in this project, a symbiosis is carried out, which is between emptiness and existence, so that it reflects the condition of the South Kembangan community where there is a separation between the middle and lower classes, so that this project has a meaning of the condition of the South Kembangan community. Because of that, this Community Music Venue is very much needed to be able to influence South Kembangan Village with the aim of providing positive emotions through music, so that each community can interact and communicate well. In conclusion, this music community forum provides education about positive emotions from music, so that it can unite various layers of society, creating a pleasant atmosphere. It integrates with nature and achieves sustainability development goals, so that a healthy environment is created to achieve a good quality of life for the community, and positively influences the growth of the city's economy. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menulusuri tentang tempat ketiga sebagai tempat komunitas di Kelurahan Kembangan Selatan dimana merupakan lingkungan sosial yang terpisah dari dua lingkungan sosial yakni rumah dan tempat kerja. Dimana dalam penelitian ini bertujuan membahas tentang tempat ketiga komunitas musik di Kelurahan Kembangan Selatan. Permasalahan yang terjadi pada Kelurahan Kembangan Selatan adalah kondisi masyarakat saat ini melakukan berbagai rutinitas sehingga mengakibatkan kejenuhan terhadap setiap individu, pasar malam dan mall menjadi pemisah antara kalangan menengah kebawah dan menengah keatas,  ketidaktersediaan tempat untuk dapat saling berinteraksi dan berkomunikasi tanpa memandang latar belakang sosial, kurangnya tempat untuk komunitas musik agar dapat melakukan interaksi dari bidang musik. Dalam mengeksekusi desain dalam proyek ini, dilakukan simbiosis, yaitu antara kekosongan dan keberadaan, sehingga mencerminkan kondisi masyarakat Kembangan Selatan dimana ada pemisah antara kalangan menengah kebawah dan menengah keatas,  sehingga proyek ini memiliki makna arti kondisi masyarakat Kembangan Selatan. Karena itu Wadah Komunitas Musik ini sangat diperlukan untuk dapat berpengaruh terhadap Kelurahan Kembangan Selatan dengan tujuan memberikan emosi positif melalui musik, agar setiap masyarakat dapat saling berinteraksi dan berkomunikasi dengan baik. Kesimpulannya wadah komunitas musik ini, memberikan edukasi tentang emosi positif dari musik, sehingga dapat menyatukan berbagai lapisan masyarakat, menciptakan suasana yang menyenangkan. Menyatu dengan alam dan mencapai sustainability development goals, sehingga tercipta lingkungan yang sehat untuk mencapai kualitas hidup yang baik bagi masyarakat, dan memberikan pengaruh positif bagi pertumbuhan perekonomian kota.
TEMPAT PETUALANGAN KULINER DI STASIUN PESING Evan Hansabian; Martin Halim
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6832

Abstract

A thirdplace is very important on our daily basis, where the firstplace is a dwelling we live in, the secondplace is where we work to earn a living, and what about the thirdplace? This is what will be brought up by an architect of how do we scheme a thirdplace for others to create a good quality. With a phenomenological approach, many things must be considered in detail because the number of places to eat at Pesing Station are lack, unclean, and unintegrated, that made the visitors less enjoying this area. Unconsciously in it has a memory of historical value about local culinary that has faded in Jakarta and completed by some supportive local activities such as outdoor theater, pedestrian mall, local typical cafes, and local desserts, to raise the culture and habits of people in Indonesia. Since the location is close to the train station, co-working space become an additional program in this culinary place, where people who wants to work do not need to rent an office building. With a few simple eating places, they are quite convinient to find food and other entertainment facilities. There are online motorcycle taxis operating in front of Ibis hotel but hamper the traffic lanes and cause traffic jams, so the foodstreet will be a resting place for station visitors, and both online and offline motorcycle taxis to avoid disrupting the traffic. The presence of this food adventure place in Pesing Station is expected to improve the quality of social life in the environment around us, minimize the traffic congestion in front of the station, adding some knowledge about local foods, and be a thirdplace in Grogol Petamburan area. AbstrakTempat ketiga itu sangat penting bagi kehidupan manusia, dimana tempat pertama adalah rumah yang kita tinggali sehari-hari, tempat kedua adalah dimana kita bekerja untuk mendapatkan penghasilan, bagaimana dengan tempat ketiga? Ini yang akan diangkat oleh seorang arsitek, bagaimana cara merancang sebuah tempat ketiga bagi orang-orang sekitar agar bisa menciptakan kualitas yang baik. Dengan pendekatan fenomenologi, banyak hal yang harus diperhatikan secara detail, karena tempat makan di stasiun pesing jumlahnya sangat kurang, tidak bersih, dan tidak terintegrasi, sehingga membuat pengunjung sekitar kurang menikmati daerah tersebut. Secara tidak sadar di dalamnya terdapat sebuah memori pemberi nilai sejarah tentang kuliner nusantara yang sudah memudar di Jakarta dan di lengkapi dengan aktivitas-aktivitas lokal pendukung lainya seperti theater outdoor, pedestrianmall, cafe khas nusantara, dan makanan penutup nusantara, kerena ingin mengangkat budaya dan kebiasaan masyarakat di indonesia. Karena lokasi yang dekat dengan stasiun kereta api, maka co-working space menjadi program tambahan di tempat kuliner ini, dimana orang yang ingin bekerja tidak perlu menyewa gedung perkantoran. dengan adanya beberapa tempat makan yang sederhana, mereka cukup mudah untuk mencari makan dan sarana hiburan lainya. Disana terdapat ojek online yang beroperasi di depan ibis hotel tetapi cukup menghambat jalur lalu lintas dan menimbulkan kemacetan, maka foodstreet menjadi tempat peristirahatan bagi pengunjung stasiun, ojek online, dan ojek pengkolan agar tidak mengganggu jalur lalu lintas. Dengan hadirnya tempat petualangan kuliner di stasiun Pesing ini diharapkan dapat meningkatkan interaksi sosial di lingkungan sehari-hari, dapat meminimalisir kemacetan yang ada di depan stasiun, menambah wawasan tentang kuliner nusantara dan menjadi tempat ketiga bagi wilayah Grogol petamburan.
WADAH MUSIK INDIE LOKAL Yohanes Rheza; Suwandi Supatra
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6763

Abstract

Individualism is one of the issues that occur in people's lives. One of the causes is one’s habit in spending most of their time working and resting at home and without social activities that can be done every day with other individual, furthermore with the existence of social media that makes humans able to communicate with electronic devices and not meeting directly. The main issue is "Open Architecture as a Third Place" which discusses how to create a place that can become a Third Place as a gathering place for communities to socialize and as an informal public place. Another issue is Indie Music as a genre of music that is becoming a trend in the music industry today. The project site is located at Jalan Cikini Raya in Central Jakarta, known as one of the arts and tourism areas with Taman Ismail Marzuki as the center of arts and culture. The aim of this project is to create a Third Place where the society can become a community and to support indie musicians in making music and developing their abilities. The research methods used in this research are Site Survey, Literature Study and Precedent Study. The result obtained is the design of the building "Local Indie Music Quarter". The main programs in this project are the Indie Bar, Community Space, Music Studio, Music Store and Music Class that aim to facilitate social activities of the community together with indie music that can embrace the community into one community together. AbstrakIndividualisme merupakan salah satu permasalahan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Hal ini disebabkan oleh salah satunya kebiasaan manusia dalam menghabiskan sebagian besar waktunya bekerja dan beristirahat di rumah dan tanpa adanya kegiatan sosial yang dapat rutin dilakukan setiap hari dengan sesamanya, apalagi dengan adanya media sosial yang membuat manusia dapat berkomunikasi hanya dengan perangkat elektronik dan tidak bertemu secara langsung. Isu utama yang diangkat adalah “Open Architecture sebagai Third Place” yang membahas tentang bagaimana menciptakan sebuah tempat yang dapat menjadi Third Place sebagai tempat berkumpulnya komunitas masyarakat untuk bersosialisasi dan sebagai tempat publik informal. Isu lain yang di angkat adalah Musik Indie sebagai aliran musik yang sedang menjadi trend dalam industri musik saat ini. Lokasi proyek berada di Jalan Cikini Raya di Jakarta Pusat, yang dikenal sebagai salah satu kawasan seni dan wisata dengan adanya Taman Ismail Marzuki sebagai pusat kesenian dan kebudayaan. Tujuan dari proyek ini adalah menciptakan sebuah Third Place yang dapat menjadi tempat berkumpulnya masyarakat untuk berkomunitas dan untuk mendukung musisi indie dalam berkarya dan mengembangkan kemampuannya. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Survey Lapangan, Studi Literatur dan Studi Preseden. Hasil penelitian yang didapatkan adalah perancangan bangunan sebagai “Wadah Musik Indie Lokal”. Program utama dalam proyek ini yaitu Indie Bar, Community Space, Music Studio, Music Store dan Music Classes yang bertujuan untuk mewadahi aktivtias sosial masyarakat bersamaan dengan musik indie yang dapat merangkul masyarakat menjadi satu komunitas bersama.
PAVILIUN KEBUDAYAAN BETAWI Felicia Setiawan; Sidhi Wiguna Teh
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6767

Abstract

Most people are trapped by their monotonous activities, they tend to look for more practical entertainment through smart phones, the internet or television. That might  reduce  the real meaning of social interaction. The existence of public space itself is one of many factors that encourgage people to do social interaction. Therefore, as what the author has read in  a literature study, that third place able to be one of the bridges of social interaction. Third Place provides a catalyst space between home and work, making the third place a comfortable haven. Third Place is not a place of work or home, but a place to relax that can allow you to have a open community life. The selection of a cultural center as a third place because the cultural center can pour various expressions of human needs, dreams and desires. In addition, the location of the site is next to Taman Ismail Marzuki. Seeing that there are several programs that cannot be accommodated by Taman Ismail Marzuki and the need to reintroduce Betawi cultural values that are starting to fade in the present,  encouragge us to create programs that can support this. The design method used by this project is the dis-programming method, a program that is mutually contaminating with other programs, The location is close to the education center and cultural the center which drives both programs to support one another, here the writer combines programs in the cultural center with educational programs such as dance studios, music studios and libraries. AbstrakSebagian besar masyarakat terjebak dengan aktivitas mereka yang monoton, mereka cenderung mencari hiburan yang lebih praktis melalui ponsel pintar, internet atau televisi. Hal tersebut mengurangi esensi dari interaksi sosial yang seharusnya dilakukan. Keberadaan ruang publik sendiri merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong terjadinya interaksi sosial. Oleh karena itu penulis melakukan studi literatur, berdasarkan hasil studi penulis dapat menyimpulan bahwa third place dapat menjadi salah satu jembatan interaksi sosial. Third Place menyediakan ruang katalis antara rumah dan tempat kerja, menjadikan third place sebagai tempat singgah yang nyaman. Third Place bukanlah tempat kerja ataupun rumah, melainkan tempat bersantai yang dapat memungkinkan kehidupan komunitas yang terbuka. Pemilihan pusat kebudayaan sebagai third place dikarenakan pusat budaya dapat menuangkan berbagai ekspresi kebutuhan manusia, mimpi dan keinginan. Selain itu, lokasi tapak berada disebelah Taman Ismail Marzuki. Melihat ada beberapa program yang belum dapat diakomodir oleh Taman Ismail Marzuki dan perlunya pengenalan kembali akan nilai-nilai budaya betawi yang mulai pudar di zaman sekarang, mendorongnya diciptakan program – program yang dapat mendukung hal tersebut. Metode perancangan yang digunakan proyek ini adalah metode dis-programming, program yang sifatnya saling mengkontaminasi dengan program lainnya. Letak tapak yang dekat dengan pusat pendidikan dan pusat kebudayaan mendorong terjadinya program yang saling mendukung satu sama lain, disini penulis menggabungkan program yang ada di pusat kebudayaan dengan program pendidikan seperti studio tari, studio musik dan perpustakaan.
Tempat Pertunjukan Kesenian Khas Tionghoa Di Glodok Faustinus Hadinata Muliawan; Suwardana Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6732

Abstract

Glodok sub district is known as a Chinatown in Jakarta. The population in Glodok sub district are dominated by craftsmen of  chinese arts, such as lion dance, liong, chinese calligraphy, chinese decorations, porcelain crafts, chinese music, chinese traditional clothes, and also various kinds of homemade chinese traditional food. The chinese art crafted are charity and worship to the gods. This Chinese traditional craftsman are unprofitable community. The goals of this project is for supporting the survival of this Chinese arts community. These communities needs facilities in order to get more attention from residents in Glodok sub district and greater. The idea of the program for this project is one stop cultural center concept, where this place can become a cultural place, exhibition, and recreation center for Glodok residents and the surroundings. In this project visitors can make, exhibit, and display the product and performance of the Chinese traditional art. In this place is possible to make a competition between each of traditional chinese art organization, for supporting the existence of each traditional Chinese art community. The product can be sold as commercial Chinese art works. The design method of this project are inspired by Tulou building in Fujian China, and has been modified according to the context of the city prevailing in the Glodok region. Abstrak Glodok dikenal sebagai pecinan di Jakarta, Mayoritas penduduk nya adalah kaum Tionghoa. Di kawasan Glodok ini didominasi oleh para pengerajin kesenian khas Tionghoa, seperti barongsai, liong, kaligrafi China, lukisan khas Tionghoa, kerajinan keramik, kesenian musik khas Tionghoa, pengerajin baju tradisional Tionghoa , dan juga banyak pabrik makanan tradisional China dalam skala rumahan. Mayoritas pengerajin seni adalah kaum lansia, karena mengerajin kesenian ini sudah menjadi bagian dari kehidupan berderma atau berbakti kepada Sang Pencipta dan juga kepada leluhur mereka, komunitas pengerajin seni ini adalah berbasis amal/tidak mengambil keuntungan. Oleh karena itu tujuan dari proyek ini adalah untuk menjaga keberlangsungan dari komunitas kesenian khas Tionghoa ini. Agar komunitas ini tetap mendapat pengakuan maka dibutuhkan sebuah wadah yang dapat mengelola komunitas ini agar lebih mendapat banyak perhatian dari penduduk di kawasan Glodok ini. Ide dari program yang direncanakan dalam proyek ini adalah menganut konsep dari hulu ke hilir, dimana di tempat ini dapat menjadi pusat budaya,pertunjukan dan rekreasi bagi penduduk Glodok dan sekitarnya. Hal ini diwujudkan dari program dalam proyek ini yang mulai dari pembuatan, memamerkan dan menampilkan hasil dari kesenian khas China ini, kemudian sampai pada akhir nya dapat diperlombakan dan dapat menjadi produk kerajinan seni secara komersil. Metode perancangan dan desain proyek ini mengambil inspirasi dari bangunan Tulou di Fujian, China yang kemudian di modifikasi lagi sesuai dengan konteks kota yang berlaku di kawasan Glodok.

Page 10 of 10 | Total Record : 99