cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 99 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 1 (2020): APRIL" : 99 Documents clear
RUANG BERMAIN KOTA KAWASAN EPICENTRUM Kevinn Sukhayanto; Tony Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6791

Abstract

Play as a way for breaking the routine, rupturing the space that isolated individuals from the community, to give a feeling of fun, to rejuvenate individuals from their routines, Therefore Play is the best way to give the feeling of fun and joy also to restore the relationship between individuals with their community. City community needed an activities knot that fastens every activity within the city, in the city context this knot referred to as a platform, in the form of an object architecture. In-Play, architecture objects have a role to maintain the perspective of every individual, various ways to interact as well as a distinctive interpretation of architectural elements, so that makes architecture is not a limit or a barrier between program. Creating architecture space that is inclusive to all those. With great planning and design hopefully in the future Urban Playscape at Epicentrum will bring more vibrant life to the district and introduce a real meaning of ‘play’  to the people with a simple yet sustainable design.Abstrak Jakarta sebagai kota metropolitan dengan intensitas kegiatan tinggi, seringkali memberikan tekanan pada masyarakatnya. Kegiatan berintensitas tinggi dan berulang ini yang akhirnya memunculkan permasalahan-permasalahan mental seperti stress dan depresi, juga permasalahan mental kegiatan repetitif ini juga menyebabkan permasalahan sosial, yang mengisolasi setiap individu pada masyarakat kota pada ruang rutinitasnya masing-masing. Permainan menjadi sarana pemecah rutinitas, memecah ruang yang mengisolasi individu dari komunitas, memberikan perasaan menyengankan, sebagai sarana penyegaran individu dari rutinitas mereka, bermain menjadi solusi terbaik untuk memberikan rasa senang serta mengembalikan hubungan antara individu dengan komunitasnya. Masyarakat kota membutuhkan sebuah platform yang dapat memberi “jeda” dari rutinitas mereka. Sebuah platform yang menyediakan ruang bagi masyarakat kota untuk berisitrahat, bermain, dan bersosialisasi bersama dalam rangka penyegaran diri. Sebagai platform penyegaran yang ideal bagi masyarakat kota diusulkan sebuah ruang bermain kota yang berlokasi di kawasan Epicentrum, kawasan Epicentrum ini memiliki ruang-ruang penting berlangsungnya rutinitas kota seperti kantor, universitas, serta perumahan vertikal. Ruang Bermain ini memiliki macam kegiatan dari yang sifatnya aktif (olahraga) hingga pasif (terapi), proses perancangan melalui pertimbangan berbagai pola dan alur kegiatan yang mungkin terjadi di dalamnya sehingga menghasilkan ruang-ruang kegiatan yang multiguna serta dapat digunakan semua orang dari berbagai macam rentang usia dan latar belakang. Dengan perencanaan dan perancangan Ruang Bermain Kota di Kawasan Epicentrum diharapkan dapat menjadi sebuah simpul kegiatan baru bagi kawasan yang inklusif, serta memberikan warna baru pada kehidupan kawasan Epicentrum.
PENATAAN KAWASAN WISATA PULAU PARI DENGAN KONSEP ECOTOURISM Bram Benjamin; Priyendiswara Agustina Bela
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.7277

Abstract

Pari Island is one of the tourist islands in the Thousand Islands, Kepulauan Seribu Selatan, DKI Jakarta. The Thousand Islands is a region of marine tourism planning and development within the RIPPARDA (Planning Regional Tourism Development Master) based on the Jakarta Regional Regulation as a tourism area developed in Wonderful Indonesia. Pari Island is unique in its tidal phenomenon which is an attractive tourist point there, with the characteristics of limestone sand beaches. Other potentials and attractions also exist in customs in the Pari Island village, where many residents from outside the island carry customs them and mixed into unique behavioral customs. The author processes the data using analyzes that determine the arrangement of tourism areas on Pari Island where they want to be taken, using policy analysis, location analysis, site analysis, ecotourism concept analysis, best practice analysis, analysis tourism activities, market analysis, analysis of space requirements. The results of this plan are the arrangement of the Pari Island Tourism Area with the Ecotourism Concept. The plan also uses the concept of ecotourism which is certainly in accordance with the data and analysis conducted by the author to develop Pari Island as a good tourist location as a leading tourist site for Wonderful Indonesia. Potential arrangement that is good is the addition of restaurants, restaurants with a concept to relax and enjoy the view of the north coast of Pari Island. Tourism should have an awareness of the importance of environmental sustainability that can only be prevented by the visitor's self-awareness, facilities are well provided, only its use should be more more attention to the arrangement of the Pari Island Tourism Region is successful. Keywords: Ecotourism; Island Tourism Area; Small Island Tourism ABSTRAKPulau Pari adalah salah satu pulau wisata di Kepulauan Seribu, Kepulauan Seribu Selatan, DKI Jakarta. Kepulauan Seribu merupakan wilayah perencanaan dan pembangunan wisata bahari di dalam RIPPARDA (Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah) berdasarkan Perda DKI Jakarta sebagai kawasan pariwisata yang dikembangkan dalam Wonderful Indonesia. Pulau Pari memiliki keunikan pada fenomena pasang surut-nya yang menjadi titik wisata menarik disana, dengan karakteristik pantai yang pasir kapur.Potensi dan daya tarik lain juga ada di adat istiadat di kampung Pulau Pari, dimana warga banyak yang dari luar pulau yang membawa adat istiadat mereka dan tercampur menjadi adat istiadat perilaku yang unik.Penulis mengolah data dengan menggunakan analisis-analisis yang menentukan penataan kawasan wisata di Pulau Pari mau dibawa kemana, dengan menggunakan analisis kebijakan, analisis lokasi, analisis tapak, analisis konsep ekowisata, analisis best practice, analisis kegiatan wisata, analisis pasar, analisis kebutuhan ruang.Yang dari itu menghasilkan rencana penataan kawasan wisata Pulau Pari dengan konsep ekowisata.Rencana tersebut juga menggunakan konsep ekowisata yang tentunya sesuai dengan data dan analisis yang dilakukan penulis untuk mengembangkan Pulau Pari menjadi lokasi wisata yang baik sebagai lokasi wisata unggulan Wonderful Indonesia. Penataan yang berpotensi baik adalah penambahan rumah makan, restoran dengan konsep untuk bersantai menikmati pemandangan pesisir utara Pulau Pari. Wisatawan harus memiliki kesadaran akan pentingnya kelestarian lingkungan yang hanya dapat dicegah dengan kesadaran diri pengunjungnya, fasilitas sudah disediakan dengan baik, hanya penggunaannya saja yang harus lebih lagi diperhatikan agar penataan Kawasan Wisata Pulau Pari ini berhasil dengan baik.
WADAH AKTIVITAS TEMPORER DI RAWA BUAYA Adelia Putri Octavini; Dewi Ratnaningrum
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6882

Abstract

The lives of many Jakarta people are spent in the residence (first place) and the workplace (second place). Lack of community interaction outside these two places makes people feel unfamiliar with the surrounding environment to cause prejudice and even crime (Theory of Deindividuation). Humans tend to feel more secure about the surrounding environment if they can get to know the people around him. The density of Jakarta is accompanied by a variety of activities that have not been properly enclosed. Spatial optimization using the planning of space temporality is manifested in the portability of architecture and program planning. To bring the community together, a temporary activity place (Tempo. Act. Place) is designed in Rawa Buaya. This site was chosen because it has a high diversity of the community. The method used is quantitative and qualitative methods, which is a grounded observation, interviews, and a literature review. The program in this building is realized through some zones, which are the Temporary Event Zone, the Knowledge Sharing Zone, the Pocket Farming Zone, and the Commercial Zone. The zone is planned to bring togetherness and trigger the needs of users so they can interact with each other. Organizing space is also formed through the approach of Social Psychology theory, namely Functional Distance. The shape of the building was inspired by the metamorphosis of the Liquid Phase theory in Temporary City which was realized in the form of cones. Then the curved floor plan following the cone made the building more dynamic. So that the third-place character that are playful mood, a conversation is the main activity, and neutral can be fulfilled. AbstrakKehidupan masyarakat Jakarta banyak dihabiskan di tempat tinggal (first place) dan tempat bekerja (second place). Kurangnya interaksi masyarakat di luar dua tempat tersebut membuat masyarakat merasa asing dengan lingkungan sekitarnya hingga menimbulkan prasangka dan kejahatan (Theory of Deindividuation). Manusia cenderung merasa lebih aman terhadap lingkungan sekitarnya, apabila ia dapat mengenal orang sekitarnya. Kepadatan kota Jakarta diiringi beragam aktivitas yang belum terwadahi dengan baik. Pengoptimalan ruang menggunakan sifat kesementaraan ruang terwujud dalam portabilitas arsitektur dan perencanaan program yang berfungsi mewaktukan ruang. Untuk mempertemukan masyarakat, direncanakan sebuah wadah aktivitas yang bersifat temporer yang berada di Rawa Buaya. Lingkungan ini dipilih karena memiliki keberagaman yang tinggi. Metode yang dipakai adalah metode kuantitatif dan kualitatif, yaitu berupa observasi grounded, wawancara, dan kajian literatur. Program ruang dalam bangunan ini terwujud melalui zona yang ada, yaitu Zona Temporary Event, Zona Knowledge Sharing, Zona Pocket Farming, dan Zona Komersil. Zona tersebut direncanakan untuk mempertemukan dan memicu kebutuhan antar pengguna sehingga dapat saling berinteraksi. Pengorganisasian ruang juga dibentuk melalui pendekatan teori Psikologi Sosial, yaitu Functional Distance. Bentuk bangunan terinspirasi dari metamorfosa teori Liquid Phase di Temporary City yang diwujudkan dalam bentuk cone. Kemudian bentuk denah yang melengkung mengikuti cone tadi membuat bangunan menjadi lebih dinamis. Sehingga karakter third place dapat terpenuhi, yaitu playful mood, conversation is the main activity, dan neutral.
WADAH AKTIVITAS KRE-AKTIF Melissa Melissa; Sidhi Wiguna Teh
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6751

Abstract

Living and growing up in urban areas with various pressures, both from home or work/school, makes people have a higher stress level. Urban people need a space in between home (first place) and a place of work / study (second place), namely the third place. Third place is important for the people because it is a place where they can be themselves, freely channel their talents and interests, as well as socializing and maintaining fitness in the midst of the busy city. Therefore, a need rises for an architectural manifestation in the form of a third place with a creative hub to channel ideas, creativity, talents, and interests and active space to maintain fitness, socialize, and build community. Alam Sutera is a developing city that has a beautiful atmosphere and integrated transportation system so that it can support a healthy walking lifestyle. In addition, Alam Sutera is also home to various types of communities, ranging from student activity units to car lovers communities. The location of the site which is located in Alam Sutera and close to universities, offices, and residential areas makes the Cre-Active Social Hub a strategic third place and able to accommodate various needs of the third activities of the Alam Sutera community and its surroundings. Cre-Active Social Hub is designed to be a place for sustainable community development, a place in between for the people of Alam Sutera, and to make the environment mood more lively and pleasant. AbstrakTinggal dan besar di daerah perkotaan dengan berbagai tekanan, baik dari rumah maupun tempat kerja atau sekolah, membuat masyarakat memiliki tingkat stres yang lebih tinggi. Masyarakat kota membutuhkan ruang antara tempat tinggal (first place) dan tempat kerja/ belajar (second place) yaitu third place. Third place penting bagi masyarakat kota untuk menjadi tempat di mana mereka bisa menjadi diri sendiri, bebas menyalurkan bakat dan minat, sekaligus bersosialisasi dan menjaga kebugaran di tengah sibuknya kota. Oleh karena itu, muncul kebutuhan akan sebuah perwujudan arsitektur berupa third place dengan creative hub untuk menyalurkan ide, kreativitas, bakat, dan minat serta active space untuk menjaga kebugaran, bersosialisasi, dan membangun komunitas. Alam Sutera merupakan sebuah kota berkembang yang memiliki suasana asri dan sistem transportasi terintegrasi sehingga dapat mendukung pola hidup berjalan kaki yang sehat. Selain itu, Alam Sutera juga merupakan rumah untuk berbagai jenis komunitas, mulai dari unit kegiatan mahasiswa hingga komunitas pecinta mobil. Lokasi tapak yang berada di Alam Sutera dan dekat dengan universitas, kantor, dan hunian membuat Wadah Aktivitas Kre-Aktif menjadi sebuah third place yang strategis dan dapat mewadahi berbagai kebutuhan third activities masyarakat Alam Sutera dan sekitarnya. Wadah Aktivitas Kre-Aktif dirancang untuk menjadi wadah bagi pembangunan komunitas yang berkelanjutan, menjadi tempat antara bagi masyarakat Alam Sutera, serta membuat suasana semakin hidup dan menyenangkan.
WADAH KOMUNITAS SEPEDA MOTOR DI KOTAMATSUM III - MEDAN Erwin Andrianto; Rudy Trisno
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6800

Abstract

In this study aims to discuss about the third place in the motorcycle community at Kotamatsum III in the city of Medan. The purpose of this study is to propose a design urban planning in the form of both physical and non-physical needs needed in the Kotamatsum III area of Medan by designing a motorcycle community place in the area, as a suitable third place in accordance with the program that has been prepared and to support the Masjid Raya Al-Mashun area as a place of worship and tourism that is comfortable, safe and creative, which is realized in the design of architectural designs that benefit all parties and on target. Third place as a public space in a neutral place, where people can gather and interact. Unlike the first place (home) and the second place (work), the third place allows people to put aside their worries and just enjoy the company and the conversation around them. The third place “holds individual, regular, voluntary, informal meetings and are happily anticipated outside the realm of home and work.”. These spaces promote social justice by enhancing guest status, providing background for grassroots politics, creating public association habits, and offering psychological support to individuals and society. The design methods used in this study are the concept of a metaphor. Second function follows  form. The results of the study produce designs that are expected to meet the needs of the motorcycle community in the area both in design, function and program. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menulusuri tentang tempat ketiga, dimana merupakan lingkungan sosial yang terpisah dari dua lingkungan sosial lainnya. Penelitian ini membahas tentang tempat ketiga yakni wadah komunitas motor di kawasan Kotamatsum III di kota Medan. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk memberikan usul perencanaan urban desain berupa kebutuhan–kebutuhan fisik maupun non fisik yang diperlukan pada kawasan Kotamatsum III – Medan, sebagai tempat ketiga yang layak sesuai dengan program yang telah disusun serta untuk mendukung kawasan Mesjid Raya Al – Mashun sebagai tempat ibadah dan parawisata yang nyaman, aman dan rekreatif yang diwujudkan dalam perancangan desain arsitektur yang menguntungkan semua pihak dan tepat sasaran. Tempat ketiga sebagai ruang publik di tempat netral, tempat orang dapat berkumpul dan berinteraksi. Berbeda dengan tempat pertama (rumah) dan tempat kedua (bekerja), tempat ketiga memungkinkan orang untuk mengesampingkan kekhawatiran mereka dan hanya menikmati suasana dan percakapan di sekitar mereka. Tempat ketiga "menyelenggarakan pertemuan individu, reguler, sukarela, informal, dan yang dengan gembira diantisipasi di luar ranah rumah dan pekerjaan." Oldenburg menjelaskan bahwa taman , jalan-jalan utama, pub, kafe, kedai kopi, kantor pos, dan tempat ketiga lainnya adalah jantung dari vitalitas sosial komunitas. Tempat ketiga yang berfungsi mempromosikan keadilan sosial dengan meningkatkan status tamu, menyediakan latar bagi politik akar rumput, menciptakan kebiasaan asosiasi publik, dan menawarkan dukungan psikologis kepada individu dan masyarakat. Metode perancangan yang digunakan dalam penilitian ini adalakonsep metafor. Kedua, menggunakan konsep fungsi mengikuti bentuk. Hasil penelitian menghasilkan desain yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan komunitas sepeda motor di Kawasan tersebut baik dalam desain, fungsi maupun program.
RUANG KOMUNITAS DI PESANGGRAHAN Gilbert Japutra; Suryono Herlambang
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6852

Abstract

The City today is one of many proofs that humans now lead a new and modern life  with multiple technological advancements that supports it, human activities become complex thus altering their lifestyle. Humans have been creating spaces to contain their daily activites. These spaces translates as a hub and from these hubs create communites where humans with the same goals and interests gather. Community Spaces is one of the places where humans connect and take a break from their daily activities and  becomes a Third place for them. Pesanggrahan is one of many urban areas that lacks public facilities that accomodates its inhabitants. Developments of vertical housings nearby makes it even urgent to address the lack of community spaces that provide and accomodates its nearby inhabitants. With the developments of modern public spaces being further and further commercialized, this emphasizes the need to develop a special community space with its purpose to solely provide and serve communities nearby. The methods of study used to respond to this matter are Proxemics and Human Ergonomics Study. Where as these two methods are used to try and fuse personal spaces in order to try and create a community space that is Comfortable, Informal and relaxing to its users. AbstrakKota saat ini merupakan salah satu bukti bahwa manusia telah menjalani kehidupan baru yang modern dengan berbagai perkembangan teknologi yang membuatnya berkembang, aktivitias manusia masa kini semakin kompleks, mengubah gaya hidup mereka. Manusia sejak awal telah menciptakan ruang sebagai wadah aktivitas hidup mereka. Ruang-ruang ini menjadi pusat kegiatan manusia dan dari ruang ini terbentuk komunitas yang berisi manusia-manusia dengan tujuan yang sama. Ruang komunitas menjadi salah satu tempat bagi manusia untuk berkoneksi dengan manusia lain, menghilangkan kejenuhan dari kesibukan sehari-hari, ruang ini menjadi tempat ketiga bagi mereka. Pesanggrahan merupakan salah satu area yang ramai dengan hunian dan kurang adanya fasilitas pewadah interaksi komunitas, apalagi dengan cukup banyak hunian vertikal yang ada disekitarnya keberadaan sebuah ruang public yang netral sangat dibutuhkan.  Proyek ini bertujuan untuk menjawab kebutuhan masyarakat pesanggrahan khususnya penghuni Puri Park View dan sekitarnya akan ruang komunitas yang netral dan nyaman. Dengan banyaknya ruang publik yang semakin di komersialkan keberadaan ruang komunitas semakin dicari-cari. Metode perancangan yang digunakan berupa pendekatan Proxemics yang didasari oleh buku Edward Hall The Silent Language dan studi Ergonomi manusia. Keduanya digunakan dengan tujuan untuk meleburkan ruang personal agar memungkinkan terbentuknya sebuah ruang komunitas yang nyaman, informal dengan kesan santai bagi penggunanya.
TAMAN SOSIAL DAAN MOGOT Seandy Sebastian; Martin Halim
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6764

Abstract

As time goes by, the culture of society that continues to change every time resulted in changes in various aspects of life, especially regarding interactions between people. Life that has a fast level of mobility causes decreased interaction between humans because they must always move. This incident happened in big cities and Jakarta is one of them. This condition can be found in cluster housing, one of which is Daan Mogot Baru Housing and Kalideres Permai, where interaction between neighbors is minimal. Therefore, research is carried out why and how this problem can be solved through architecture. This study began by collecting data using 2 methods, namely questionnaire and observing the environment around the object boundaries. The results of the data from the questionnaire from 40 respondents who came from residents of Daan Mogot Baru and Kalideres Permai residents proved that the level of interaction between neighbors there was lacking. One of the main causes of the lack of interaction is the lack of place / place to do joint activities. To make a container, it takes a program that will be an activity in the container, based on the data obtained in the program questionnaire, the most needed is sports facilities. But sports facilities alone will not be able to solve the problem of low interactions in Daan Mogot Housing and Kalideres Permai. The container must be equipped with a container for interaction such as a place to sit and chat and have a place to eat so that they have a reason to stay after they move and create situations that support the occurrence of interaction. AbstrakSeiring berjaannya waktu, budaya masyarakat yang terus berubah setiap waktu mengakibatkan perubahan pada berbagai macam aspek kehidupan terutama mengenai interaksi antar sesama. Kehidupan yang memiliki tingkat mobilitas yang cepat menyebabkan menurunnya interaksi antar manusia karena mereka harus selalu bergerak. Kejadian ini terjadi di kota – kota besar dan Jakarta adalah salah satunya. Kondisi ini dapat kita temui di perumahan kluster salah satunya adalah Perumahan Daan Mogot Baru dan Kalideres Permai, dimana interaksi antar tetangga sangatlah minim. Oleh karena itu dilakukanlah penelitian mengapa dan bagaimana masalah ini dapat diselesaikan melalui arsitektur. Penelitian ini dimulai dengan mengumpulkan data menggunakan 2 metode yaitu kuisioner dan obsevasi lingkungan sekitar batasan objek. Hasil data dari kuisioner yang berasal 40 responden yang berasal dari warga Perumahan Daan Mogot Baru dan Kalideres Permai membuktikan bahwa memang tingkat interaksi antar tetangga disana kurang. Salah satu penyebab utama kurangnya interaksi adalah kurangnya tempat / wadah untuk melakukan aktivitas bersama. Untuk membuat suatu wadah maka dibutuhkan program program yang akan menjadi kegiatan dalam wadah tersebut, berdasarkan data yang didapat dalam kuisioner program yang paling dibutuhkan adalah sarana olahraga. Namun sarana olahraga saja tidak akan bisa menyelesaikan masalah rendahnya interaksi di Perumahan Daan Mogot dan Kalideres Permai. Wadah tersebut harus dilengkapi dengan wadah untuk berinteraksi seperti tempat duduk untuk mengobrol dan bercengkrama serta tempat makan sehingga mereka memiliki alasan untuk tetap tinggal setelah mereka beraktivitas dan tercipta situasi yang mendukung untuk terjadinya interaksi.
Pasar Nongkrong Modern Richard Juan Austen; Agustinus Sutanto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6724

Abstract

The Special Capital Region of Jakarta (DKI Jakarta) is the country's capital and largest city in Indonesia. Jakarta as a large capital city has an attraction as a place to look for income, it is very attractive for residents from various regions in Indonesia to come to Jakarta who are settled and claim to be citizens of Jakarta. The number of migrants in Jakarta is around 68,500 people and it is predicted that as many as 60% live in Jakarta. Jakarta is a city with a fairly rapid economic growth rate. At present, more than 70% of state money is circulating in Jakarta. Since the early 1980s, the DKI Jakarta Government has been intensively building modern shopping centers, or commonly known as malls and plazas. At present Jakarta is one of the cities in Asia that has many shopping centers. In addition to luxury shopping centers, Jakarta also has many traditional markets and wholesale trade centers. For smaller environments, shopping centers for daily necessities are also available at affordable prices, such as Indomaret and Alfamart. The city of Jakarta as the capital of Indonesia focuses its development as the center of Indonesian business so that it is now densely filled with houses and tall buildings. The condition of the city of Jakarta is dense with residents and buildings, certainly there are many problems that arise, and the main problems of the city of Jakarta such as traffic jams, social problems and flooding. Traffic congestion makes Jakarta residents become lazy to leave the house so that an individualistic lifestyle makes social interaction decrease, also causes stress. The lives of Jakarta residents who live in high-rise buildings such as apartments that are mushrooming in Jakarta, which are very individual and cannot interact with the surrounding environment and daily activities are only "confined" in apartment units create a boring atmosphere and make residents become stressed. The problems faced by the City of Jakarta, of course, require solutions that really must be considered by the Government, especially the Local Government of the City of Jakarta. For that reason the author tries to make a city facility that can be a bridge between activities at home and work activities, in the social and economic fields in the form of Third Place, named Modern Hangout Market. Abstrak Daerah Khusus Ibukota Jakarta ( DKI Jakarta ) adalah ibu kota negara dan kota terbesar di Indonesia. Jakarta sebagai ibu kota yang besar memiliki daya tarik sebagai tempat untuk mencari penghasilan, sangat memikat penduduk dari berbagai daerah di Indonesia untuk datang ke Jakarta yang menetap dan mengaku sebagai warga Jakarta. Jumlah warga pendatang di Jakarta sekitar 68.500 orang dan diprediksi sebanyak 60% tinggal di Jakarta. Jakarta merupakan kota dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat. Saat ini, lebih dari 70% uang negara beredar di Jakarta. Sejak awal tahun 1980, Pemerintah DKI Jakarta gencar membangun pusat-pusat perbelanjaan modern, atau biasa yang dikenal dengan mall dan plaza. Saat ini Jakarta merupakan salah satu kota di Asia yang banyak memiliki pusat perbelanjaan. Di samping pusat-pusat perbelanjaan mewah, Jakarta juga memiliki banyak pasar-pasar tradisional dan pusat perdagangan grosir. Untuk lingkungan yang lebih kecil, tersedia pula pusat belanja kebutuhan sehari-hari dengan harga yang terjangkau, seperti Indomaret dan Alfamart. Kota Jakarta sebagai ibukota dari Indonesia memfokuskan perkembangannya sebagai pusat perbisnisan Indonesia sehingga kini telah padat dipenuhi hunian dan bangunan tinggi. Kondisi kota Jakarta yang padat dengan penduduk dan bangunan, pasti banyak permasalahan yang muncul, dan yang menjadi permasalahan utama kota Jakarta seperti kemacetan lalu lintas, permasalahan sosial dan banjir. Kemacetan lalu lintas membuat warga Jakarta menjadi malas untuk keluar rumah sehingga gaya hidup yang individualistik membuat menurunnya interaksi sosial, juga menjadi penyebab stress. Kehidupan warga Jakarta yang tinggal di gedung-gedung bertingkat tinggi seperti Apartemen yang menjamur di Jakarta, yang sangat individual dan tidak bisa berinteraksi dengan lingkungan sekitar dan aktifitas sehari-hari hanya “terkurung” dalam unit apartemen membuat suasana yang membosankan dan bikin penghuninya menjadi stress. Permasalahan yang dihadapi oleh Kota Jakarta, tentunya membutuhkan pemecahan yang benar-benar harus dipikirkan oleh Pemerintah, khususnya Pemerintah Daerah Kota Istimewa Jakarta. Untuk itu Penulis mencoba membuat suatu  fasilitas kota yang bisa sebagai jembatan penghubung antara kegiatan di rumah dan aktifitas kerja, dalam bidang sosial dan ekonomi berupa Third Place yang diberi nama Pasar Nongkrong Modern.
ARENA OLAHRAGA ELEKTRONIK DI SETIABUDI Fransiskus Fransiskus; Mieke Choandi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6823

Abstract

Jakarta in an era that is as modern and complex as it is today, the millennial generation is accustomed to growing and developing in the digital era which now serves as a new movement of space in the lives of its people. The digital age is slowly growing as part of the work, culture, and processes that can not be separated from the journey of human life. However, in meeting their social needs, digital technology is often only used as a component of the media which is done in a secondary process which has a tendency to provoke moral change toward individualism. In fulfilling social needs in the digital age, a social container is needed as a container that does not let the flow of the digital era just flow, but talks about how to control the digital flow itself. From this, architecture talks about ways to meet the needs of the digital community as a means of their existence. Because after all humans still need the nature of face-to-face communication through the primary process. Through these issues, Setiabudi is one area that is suitable for digital social issues and individualism which is now developing rapidly in the region. The approach to solving these problems is through a third place theory approach in architecture. By paying attention to the socio-economic conditions and habits of the surrounding residents and the phenomena that can be found, problem solving is in line with the development of industry 4.0, namely through the construction of electronic sports arena facilities that are third place in the region. AbstrakJakarta pada era yang serba modern dan kompleks seperti saat ini, generasi millennialnya sudah terbiasa untuk tumbuh dan berkembang di era digital yang kini berperan sebagai arus ruang gerak baru dalam kehidupannya masyarakatnya. Era digital pun secara perlahan tumbuh sebagai bagian dari karya, budaya, dan proses yang tidak dapat terlepas dari  perjalanan kehidupan manusia. Namun, dalam pemenuhan kebutuhan sosialnya, teknologi digital sering kali hanya dimanfaatkan sebagai komponen media yang dalam prosesnya dilakukan secara  sekunder di mana memiliki kecenderungan untuk memancing perubahan moral ke arah individualistis.  Dalam pemenuhan kebutuhan sosial di era digital tersebut, maka dibutuhkan wadah sosial sebagai wadah yang tidak membiarkan arus era digital mengalir begitu saja, tetapi berbicara mengenai bagaimana cara mengontrol arus digital itu sendiri. Dari hal tersebut, arsitektur berbicara tentang cara untuk memenuhi kebutuhan komunitas digital sebagai sarana eksistensi mereka. Karena bagaimanapun juga manusia tetap membutuhkan sifat komunikasi face-to-face yang melalui proses secara primer. Melalui isu tersebut, Setiabudi merupakan salah satu kawasan yang cocok dengan isu sosial digital dan individualisme yang kini berkembang dengan cepat di kawasan tersebut. Pendekatan penyelesaian masalah tersebut melalui pendekatan teori third place dalam arsitektur. Dengan memperhatikan kondisi sosial-ekonomi dan kebiasaan warga sekitar serta fenomena-fenomena yang ada, dapat ditemukan penyelesaian masalah yang selaras dengan perkembangan industri 4.0, yaitu melalui pembangunan fasilitas arena olahraga elektronik yang bersifat third place di kawasan tersebut.
TEMPAT PEMANDIAN UMUM Charlene Vitricia; Agustinus Sutanto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6858

Abstract

When talking about designing a 3rd place, the first question that came up was “how can we gather various people from different backgrounds, homes, and workplaces into one (same) place? Thing that drives or motivates someone to do something (in this case going to our place) is their wants and needs. Based on A theory of motivation by Abraham Maslow, individuals’ most basic needs must be met before they become motivated to achieve higher level needs. The reason behind this proposal is because currently, we’re facing a crisis of one of our physiological needs, WATER. In 2040 we’re going to lose all source of clean water in Jakarta. Even now the source of water coming from Jakarta is only 3% and the rest originated from Tangerang and Jatiluhur reservoirs. The government through the PDAM is not able to meet all the water needs in Jakarta, so that more than 40% of Jakarta citizen don’t have other choices, except using ground water which lead to another threat, land subsidence which has threatened to sink Jakarta due to groundwater exploitation and increase of high-rise buildings. Our poor water system management, and wasteful lifestyle bring us closer to the disaster for sure. This project aim to answer social needs (third place) which can be categorized at the 'third level' (in Maslow's hierarchy of motivation theory), through answering an issue of ‘lowest level of needs' first, the physiology needs through ‘Public Bath’ project. By chasing their needs we could create more potential chances for people to intersect each other and achieve the real 3rd place. AbstrakProjek ini mengangkat tema open architecture as a third place, yang kemudian memunculkan sebuah pertanyaan “Bagaimana kita dapat menyatukan beragam orang dari latar belakang yang berbeda ke suatu tempat yang sama?” Pada dasarnya, hal yang menjadi penggerak ataupun motivator bagi seseorang untuk melakukan sesuatu adalah keinginan (needs) dan kebutuhan (wants) individu itu sendiri. Berdasarkan makalah “A Theory of Motivation” dari Abraham Maslow, setiap individu cenderung memenuhi kebutuhan paling dasar sebelum memenuhi kebutuhan di tingkat atasnya. Kondisi beberapa wilayah di Indonesia, khususnya Jakarta sedang menuju krisis salah satu kebutuhan fisiologi, yaitu Air. Jakarta terancam kehilangan seluruh sumber air bersih pada tahun 2040. Bahkan saat ini sumber air yang berasal dari Jakarta hanya 3% dan sisanya berasal dari Tangerang dan waduk Jatiluhur. Pemerintah melalui PDAM tidak mampu memenuhi seluruh kebutuhan air di Jakarta, sehingga lebih dari 40% masyarakat Jakarta harus menggunakan air tanah yang kemudian menimbulkan ancaman kedua yaitu terjadinya penurunan muka tanah yang menyebabkan terancam tenggelamnya Jakarta akibat exploitasi air tanah dan meningkatnya bangunan tinggi. Proyek ini berusaha menjawab kebutuhan sosial (third place) yang dapat dikategorikan pada ‘tingkat ketiga’ (dalam teori hierarki kebutuhan Maslow), melalui penjawaban dari sebuah isu ‘kebutuhan tingkat pertama’ terlebih dahulu, yaitu kebutuhan fisiologi melalui projek ‘Tempat Pemandian Umum’. Dengan mengejar kebutuhan masyarakat, kita dapat menciptakan potensi – potensi titik pertemuan antar individu dan mencapai tempat ketiga yang sesungguhnya.

Page 8 of 10 | Total Record : 99