cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 102 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 1 (2021): APRIL" : 102 Documents clear
FASILITAS KESEHATAN MENTAL PASCA PANDEMI DI CENGKARENG, JAKARTA Ghina Devira Basyasyah
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10792

Abstract

Mental health is a basic part of human life. Because mental health affects directly to the way people think, feel, and behave. However, the emergence of mental health is not taken seriously. Griya Jiva is a mental health facility aims to provide a place for the community who needs professional help. Griya Jiva started from increasing mental health in the world, included Indonesia. The cause is the spread of pandemic Covid-19. It is constraining lots of company to close/ stop operating until dismissal. This facility also provides various activity, such as personal consultation, behavioral meditation, gardening therapy, and group support. Moreover, there are supporting programs such as workshop and food bank. This programs expected to help community who needs. This project using Descriptive and Precedent method, by following justified elements or rule of an example. The element that chosen is Natural Lighting where natural lighting could have big impact on patient’s recovery process, because natural lighting can affect someone’s mood. Keywords:  facility; mental health; pandemic AbstrakKesehatan mental merupakan hal dasar yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Karena kesehatan mental berpengaruh secara langsung terhadap cara orang berpikir, merasakan dan berprilaku. Namun, seringkali munculnya gangguan kesehatan mental tidak ditanggapi secara serius. Griya Jiva merupakan fasilitas kesehatan mental yang bertujuan untuk memberikan wadah bagi masyarakat yang membutuhkan bantuan tenaga profesioanl. Griya Jiva ini bermula dari meningkatnya gangguan kesehatan mental di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Salah satu penyebabnya adalah merebaknya pandemi Covid-19. Hal ini memaksa banyak perusahaan untuk tutup sehingga terjadi PHK massal. Fasilitas ini menyediakan berbagai kegiatan, yaitu Personal Consultation, Behavioral Meditation, Gardening Therapy dan Group Support. Selain itu terdapat program pendukung lainnya seperti workshop dan food bank. Program-program ini diharapkan dapat membantu masyarakat yang membutuhkan. Proyek ini menggunakan metode Deskriptif dan metode Preseden, yaitu dengan mengikuti unsur-unsur atau aturan yang dibenarkan dari sebuah contoh. Unsur yang dipilih tersebut adalah Pencahayaan Alami, dimana pencahayaan alami dapat memberikan pengaruh besar terhadap proses pemulihan pasien, karena pencahayaan alami dapat mempengaruhi suasana hati seseorang.
DIGITALISASI RUANG FAUNA DI ERA PASCA COVID Amelia Herlina Susanto; Sutarki Sutisna
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10779

Abstract

Cynefin is a place where humans or animals feel they should live and belong. A place where humans and animals live side by side with each other. Humans have looked after and preserved nature and animals. Animals should live in the wild and not behind railings in zoo. The corona pandemic should be able to make people aware of the importance of nature in life. For months, humans have to be at home, this should realize us how important the environment is. At this time, technological advances have developed rapidly. Humans can learn about animals without put them in the cage. With the help of hollogram technology, humans can learn and play with animals closely and experience the natural environment they live in through visualization with the LCD wall. Moreover, the calm and green atmosphere that exists can help reduce the stress that results from the work pressure during the lockdown. The experimental architecture of the oasis phenomenon as a concept and an inspiration about a cool and calm place in the middle of the pandemic desert is expected to bring about change in the people perspective from the existing offices and zoos. The young generation is expected to be able to love and protect the environment in which they live, so that humans can live in harmony with nature. Keywords: Corona Pandemic; Dwelling; Hollogram; Workspace; Zoo AbstrakCynefin merupakan kata yang berasal dari Bahasa Welsh yang berarti sebuah tempat dimana manusia atau hewan merasa seharusnya hidup dan memiliki. Tempat dimana manusia dan hewan hidup berdampingan satu sama lain. Manusia sudah seharusnya menjaga dan melestarikan alam dan hewan. Hewan seharusnya hidup di alam luar dan bukan di balik pagar jeruji dalam kebun binatang. Pandemi corona yang telah terjadi seharusnya dapat menyadarkan manusia betapa pentingnya alam dikehidupan. Selama berbulan - bulan manusia harus berada di rumah, hal ini menyadarkan kita betapa pentingnya lingkungan hidup. Pada saat era post covid, dimana kemajuan teknologi telah berkembang pesat. Manusia dapat belajar tentang hewan tanpa mengurung mereka. Dengan bantuan teknologi hollogram manusia dapat belajar dan berekreasi dengan hewan secara dekat dan merasakan bagaimana alam tempat tinggal mereka lewat visualisasi dari dinding LCD. Selain itu, suasana tenang dan hijau yang ada dapat membantu mengurangi stres yang diakibatkan dari bekerja secara daring yang dilakukan selama korona. Penerapan eksperimental arsitektur pada fenomena oasis sebagai konsep dan pemikiran awal akan suatu tempat yang sejuk dan tenang di tengah padang gurun pandemi yang telah terjadi, diharapkan dapat membawa perubahan cara pandang masyarakat dari kantor dan kebun binatang yang selama ini ada. Generasi muda diharapkan dapat lebih mencintai dan menjaga lingkungan tempat mereka tinggal, sehingga manusia dapat berhuni selaras dengan alam.
PROSES GUBAH MASSA DAN SISTEM BANGUNAN PADA FLOATING HAVEN Jeremy Theodorus; Suwardana Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10882

Abstract

Sinking Jakarta caused by land subsidence and rising seawater level become an international concern that was discussed for the last few years. It happens because of climate change that causes north pole ice melts and groundwater extraction. If we take a look whole of Jakarta, North Jakarta is the worst part affected by this issue. It happens because there is a 25cm land subsidence per year in North Jakarta. Within 50 years ahead, Jakarta will be an ocean, water will fill the entire dryland becoming wetland as predicted by research from the ITB geodesy expert team. This phenomenon becomes a huge problem as we know that Jakarta is the center of Indonesia's economy and will be the 4th biggest mega-city by 2030. Floating Haven presents as a proposed solution for Jakarta society's future dwelling. All of the design methods and strategies considering that this project will be located in the middle of the sea. LIVING, PRODUCING, and SUSTAIN, is an important key to this architectural project. This architectural project will be served for the smallest neighborhood unit that consists of 50 families or 250 peoples. Each point is planned to be modular, connected, and can adapt to a specific different function. Because of its modularity, this architecture can be duplicate gradually until it serves all of the sinking parts of Jakarta. Keywords:  dwelling; floating; living; producing; sustainAbstrakPenurunan muka tanah dan kenaikan muka air laut akan mengakibatkan Jakarta terendam di masa yang akan datang. Hal ini menjadi isu yang dibahas dan menarik perhatian internasional beberapa tahun belakangan ini. Fenomena ini diakibatkan karena adanya perubahan iklim yang mengakibatkan es di kutub mencair dan ekstraksi air tanah secara berlebih. Jakarta terutama bagian utara menjadi kasus studi yang memerlukan perhatian khusus lebih dini. Hal ini dikarenakan adanya penurunan permukaan tanah Jakarta Utara 20-25cm / tahun (2050, 95% Jakarta Utara berada di bawah permukaan air laut) berdasarkan data Riset Tim Ahli Geodesi ITB, Heri Andreas. Melihat isu ini akan berpengaruh terhadap eksistensi Jakarta dan penduduknya, maka proyek ini akan menjadi usulan cara baru agar masyarakat dapat berhuni di atas air di masa depan. Di samping itu, hal ini tentu menjadi suatu permasalahan tersendiri dimana Jakarta merupakan kota padat penduduk dan sebagai pusat perekonomian di Indonesia ini. Floating Haven menjadi solusi bagi masyarakat Jakarta di masa depan untuk ber-dwelling. Berbagai perencanaan dan pertimbangan akan ‘sustainability’ di tengah ‘air’ memegang peran penting dalam proyek ini. Maka dari itu; hidup, produktif, berkelanjutan, menjadi kata kunci penting dalam perancangan proyek ini. Proyek ini nantinya pun akan melayani satuan unit lingkungan terkecil dari sebuah kota, yaitu RT / Rukun Tetangga yang terdiri dari 50KK / 250 jiwa. Setiap titik nantinya akan dirancang secara modular dan saling terkoneksi sambil menyesuaikan dengan kebutuhan akan fungsi yang ada. Modular ditujukan agar nantinya arsitektur ini dapat diduplikasi secara bertahap sampai pada akhirnya dapat melayani seluruh wilayah yang menjadi ‘lautan’ di Jakarta.
EKSPLORASI DESAIN TAMAN DENGAN PENDEKATAN BIOFILIK BERBASIS ETIKA LINGKUNGAN DI BSD Kezia Kartika Sari; Priscilla Epifania Ariaji
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10906

Abstract

Ethical Biophilic Park in BSD, Tangerang Is a connected open green spaces between a green park and a deer park., which one has existing faunal element specifically deer. Located at Jakarta’s suburban area, BSD Biophilical Park is one of many parks that foster a herd of deer. Both sites were found not maximized in their function, the existing deer foster has not considered fulfilling five freedoms of animal welfare, which must looked at into more in the future. Conceiving the needs of the human-animal interaction, biophilic and rewilding design methods are expected to be sufficient for the welfare of both parties. The park allocates a variety of artificial natural elements, closeness to faunal elements, as well as space experiences in enclosed spaces. Observing on how the park treat the herd, and how it affects the human activity, creates an output of a green park, that is still connected with the deer park, and also ones which has a full-length trail to see the herd without direct interaction such as petting and. In addition to the design, it involuntarily comply environmental ethics that favor  the following welfare of the animal itself. Keywords: Biophilical Park; Deer Fostering; Environmental Ethics; Opened Green Public; Space Rewilding Abstrak Taman Biofilik Berbasis Etika Lingkungan di BSD merupakan perpaduan dua ruang terbuka hijau yang salah satunya memiliki unsur fauna berupa rusa. Terletak di daerah sub urban Jakarta, Taman Biofilik BSD merupakan satu-satunya taman yang merawat rusa. Kedua tapak ditemukan belum maksimal dalam fungsinya, pemeliharaan rusa juga dianggap belum memenuhi lima unsur kesejahteraan hewan, yang kedepannya harus lebih diperhatikan. Memahami kebutuhan adanya hubungan dan interaksi antara manusia dan hewan, metode desain biofilik dan untuk diliarkan diharapkan dapat mencukupi kesejahteraan bagi kedua pihak. Taman mengalokasikan berbagai unsur alam buatan, kedekatan dengan unsur fauna, serta pengalaman ruang yang bersifat lebih terbuka atau tidak sepenuhnya terbangun dinding empat sisi. Mengamati perlakuan taman eksisting pada hewan, dan pengaruh aktivitas manusia didalamnya, menghasilkan taman manusia yang tetap terintegrasi dengan taman rusa, yang didalamnya terdapat jalur untuk melihat-lihat rusa tanpa secara langsung memegang atau memberi makan rusa. Terapan desain secara tidak langsung menghasilkan interaksi yang mematuhi etika lingkungan yang kerap mempengaruhi kesejahteraan hewan itu sendiri.
KAJIAN PERANCANGAN HUNIAN SEHAT DAN TERJANGKAU BAGI PEKERJA MIGRAN DI TANAH ABANG Vinny Santoso; Diah Anggraini
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10732

Abstract

Urbanization is a phenomenon that cannot be avoided. Bappenas (2020) states that the population growth of DKI Jakarta has increased by 0.7%, which is an increase of 72 thousand people from the previous year, to become 10.57 million people. However, the lack of education and skills they have is one factor in the increasing number of migrant workers in the informal sector. Meanwhile, the opportunities for informal workers, especially migrants in DKI Jakarta, are not supported by the availability of adequate and affordable housing around the area, so that it becomes a problem for the growth of slum / illegal settlements that do not support a healthy life around the area. This study aims to provide an alternative place of residence for migrants who work in the informal sector in the trade and services sector in the Tanah Abang area. The final result expected is to produce a design concept and its application to shelter designs that meet the criteria of being healthy and affordable for migrants, especially those working in the Tanah Abang area. Migrants in this area find it difficult to find a place to live in a location close to the workplace, in order to save time and transportation costs. The system of sharing space in rooms and residential facilities is a residential concept used so that housing costs can be affordable. This study uses a behavioral world method with a daily architectural approach, mapping the activities of the target occupants, in order to determine the space requirements and the appropriate occupancy programs. The concept of designing this building, a healthy residence with good air circulation, has safety, comfort and beauty values even though it still applies the principle of affordability so that migrants who work in cities can live properly.Keyword : Urbanization; Migrant; Health; Affordable ABSTRAKUrbanisasi merupakan fenomena yang tidak dapat dihindarkan. Bappenas (2020) menyebutkan pertambahan penduduk DKI Jakarta naik 0,7% yaitu bertambah 72 ribu jiwa dari tahun sebelumnya, sehingga menjadi 10,57 juta jiwa. Namun rendahnya bekal pendidikan dan ketrampilan yang mereka miliki, menjadi salah satu faktor meningkatnya jumlah pekerja migran pada sektor informal. Sementara adanya peluang bagi para pekerja informal khususnya para migran di DKI Jakarta tidak didukung dengan ketersediaan tempat tinggal disekitar kawasan yang layak dan terjangkau, sehingga menjadi masalah tumbuhnya permukiman kumuh/ liar yang tidak mendukung kehidupan yang sehat di sekitar kawasan tersebut. Studi ini bertujuan memberikan alternatif tempat berhuni bagi para migran yang bekerja pada sektor informal di bidang perdagangan dan jasa pada Kawasan Tanah Abang. Hasil akhir yang diharapkan adalah menghasilkan suatu konsep perancangan dan penerapannya pada desain hunian yang memenuhi kriteria sehat dan terjangkau bagi para migran khususnya yang bekerja di Kawasan Tanah Abang.  Para migran di Kawasan ini sulit mendapatkan tempat tinggal di lokasi yang dekat dengan tempat kerja, agar dapat menghemat waktu dan biaya transportasi. Sistem sharing ruang pada kamar maupun fasilitas hunian, merupakan konsep hunian yang digunakan agar biaya tempat tinggal dapat terjangkau. Studi ini menggunakan metode dunia perilaku dengan pendekatan arsitektur keseharian, dilakukan pemetaan aktivitas dari para target penghuni, agar dapat menentukan kebutuhan ruang dan program dalam hunian yang sesuai. Konsep perancangan bangunan ini, hunian yang sehat dengan sirkulasi udara yang baik, mempunyai nilai keamanan, kenyamanan, dan keindahan meskipun tetap menerapkan prinsip keterjangkauan sehingga para migran yang bekerja di kota dapat hidup dengan layak.
RUMAH AMAN UNTUK KORBAN KEKERASAN SEKSUAL Alda Rahmawati Hidayat; Franky Liauw
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10750

Abstract

A lot of sexual violence happened lately remind us there's emergency situation for some people that experienced it and need comprehensive legal protection to push the sexual violence. In the same time and another side, the shield couldn't protect was postponed until 2021 National Legislative Program (Prolegnas). This thing had a big impact to the victim because one of content from RUU-PKS draft has the policy to push the sexual violence and until now it has not been legalized. Until now they have not received their right and at the same time, they have to experienced the heavy impact, trauma. Facilities are 60% defective and a lot of problems shows up such as threat, coercion, etc to the victim and family. This research is the concept of a safe house that aims to protect and accommodate victims of sexual violence. It is hoped that it can become a boost for the government to facilitate victims who have been taboo to help them to help them rise up through a positive environment. This project is experimental, not only for the victims, but also for the surrounding community itself. Through the film 27 Steps of May, this project has a narrative way of transforming the victim's process of healing into an architecture that understands the victim. Keywords:  Architecture; Facilities; Sexual Violence; Sexual Violence Eradication Bill; Victim AbstrakBanyaknya kasus kekerasan seksual yang terungkap akhir-akhir ini mengingatkan kembali bahwa adanya situasi darurat yang dialami beberapa orang dan membutuhkan payung hukum yang komperehensif bagi masyarakat untuk menekan kekerasan seksual. Di waktu yang bersamaan pula, RUU PKS (Rancangan Undang Undang Penghapusan Kekerasan Seksual) dinyatakan dilempar pada Porlegnas (Program Legislasi Nasional) 2021. Hal ini berdampak besar bagi para korban dikarenakan isi RUU PKS yang memiliki kebijakan atau sistem yang memadai untuk pencegahan kekerasan seksual dan sistem yang memadai untuk pemulihan korban sampai sekarang pun belum di sah-kan. Akibatnya, korban pun sampai sekarang belum mendapatkan hak sepenuhnya disaat itu pula korban juga mengalami dampak yang berat yaitu trauma. Fasilitas yang seharusnya bisa didapatkan oleh korban nyatanya 60% rusak sehingga menimbulkan masalah baru sampai adanya ancaman ke korban maupun orang-orang sekitarnya. Penelitian ini merupakan konsep sebuah rumah aman yang bertujuan untuk melindungi dan menampung para korban kekerasan seksual diharapkan bisa menjadi suatu dongkrak-an bagi pemerintah untuk memfasilitasi para korban yang selama ini masih tabu untuk dibantu hingga membantu mereka bangkit melalui lingkungan positif.  Proyek ini bersifat eksperimental, tidak hanya untuk korban, tetapi juga untuk masyarakat sekitarnya sendiri. Melalui film 27 Steps of May, proyek ini mempunyai cara untuk bernarasi untuk menggubah proses korban untuk sembuh menjadi arsitektur yang memahami korban.
SARANG TERSEMBUNYI, HUTAN MENGKATIP Lorenzo Alberto; J.M.Joko Priyono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10737

Abstract

Forests have an important role in meeting the needs of human life, but due to lack of education and irresponsible parties, forest area is now undergone massive exploitation all around the world. In Indonesia, forest cover has been reduced by a lot, Kalimantan is one of the areas that are most affected by deforestation. According to research results in 2015, approximately 74 million ha of forest cover has been reduced to 55% and deforestation rates in Kalimantan continue to increase. Mengkatip Forest, Hidden Nest is present for people that is involved in deforestation cases in Kalimantan, and from the result of the data that has been obtained a spatial gradation method is made in which this approach involves all elements of society in it. The project itself aims to create a mutualism relationship between the community and the living beings who live in it. The programs created in this project is an effort to prevent further damage in the forest and restore the damaged areas while maintaining the forest environment based on the concept of the 'Anthroposmotic' Dayak tribe.Keywords:  Anthroposmotic;Deforestation;Mutualism Abstrak Hutan memiliki peranan yang penting dalam  memenuhi kebutuhan hidup manusia  , namun karena kurangnya pendidikan serta banyaknya pihak yang tidak bertanggung jawab, kawasan hutan justru mengalami eksploitasi besar-besaran di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri tutupan lahan hutan sudah banyak berkurang, Kalimantan merupakan salah satu daerah yang paling terdampak dari deforestasi. Menurut hasil Riset pada tahun 2015 sekitar 74 juta Ha tutupan hutan telah berkurang menjadi 55% serta angka deforestasi yang terjadi di Kalimantan terus meningkat. Mengkatip Forest,Hidden Nest hadir sebagai wadah bagi masyarakat yang terlibat dalam kasus deforestasi di Kalimantan,dan dari hasil data yang telah diperoleh dibuatlah pendekatan dengan metode gradasi spasial dimana pendekatan ini melibatkan seluruh elemen masyarakat didalamnya. Proyek ini sendiri bertujuan untuk menciptakan hubungan mutualisme antara masyarakat serta mahluk hidup yang tinggal didalamnya. Program-program yang dibuat pada kawasan proyek ini menjadi sebuah upaya untuk mencegah kerusakan hutan yang lebih lanjut dan memulihkan kembali kawasan hutan yang rusak serta menjaga lingkungan hutan berdasarkan konsep   ‘Antroposmotic’ suku Dayak.
PERANCANGAN ARSITEKTUR RUANG BERMAIN MASA DEPAN DI PLUIT Laurensia Virginia Wijaya; Maria Veronica Gandha
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10775

Abstract

Playing is an activity of expressing yourself without coercion with pleasure provides many benefits in moral development, motoric, cognitive, language and social development, especially in socializing and communicating between players and their surroundings. In the infancy of children playing also one of the important part, not only for children but also adults who need time to relax their mind by playing. There are two types of games, namely traditional games, which are rarely found compared to modern games, which are rarely found compared to modern games that are more interested. Nowadays, many traditional games have been replaced with modern games, so that many children are slowly forgetting traditional games. With the development of technology and the increasing willingness of society, so many new and very modern games have emerged. With this project will unite two different games into one unit. Enjoy games for both children and adults. Creating values that can be useful for children and not forgetting traditional games or replacing them with modern games today. Keywords: Future ; Playing ; Technology AbstrakBermain merupakan kegiatan mengekspresikan diri tanpa paksaan dengan perasaan senang dan memberikan banyak manfaat dalam perkembangan moral, motorik, kognitif, bahasa serta perkembangan sosial terutama dalam bersosialisasi dan berkomunikasi antara pemain dan lingkungan sekitarnya. Bermain merupakan bagian terpenting dalam perkembangan anak-anak serta merupakan salah satu sarana hiburan dalam meghilangkan penat bagi mereka yang sudah memasuki dunia kerja maupun mereka yang sedang dalam masa studi (pelajar). Permainan tradisional dan permainan modern memberikan nilai tersendiri terhadap anak-anak dan orang tua. Pada masa sekarang dengan teknologi yang ada pada saat ini, permainan tradisional sudah mulai jarang dikenal oleh anak-anak generasi sekarang. Tidak menutup kemungkinan di masa depan teknologi akan menjadi semakin canggih dan permainan tradisional akan semakin lebih tidak dikenal lagi oleh anak-anak generasi akan datang. Lantas bagaimana permainan tradisional dapat selalu dikenal anak- anak generasi yang akan datang dengan diiringi oleh perkembangan teknologi yang akan menjadi semakin canggih. Proyek ini hadir sebagai sebuah tempat untuk bersenang-senang dengan bermain dan berteknologi bagi semua kalangan baik tua-muda, pelajar-pekerja, individu maupun kelompok. Dengan mengemas permainan tradisional dan teknologi menjadi satu kesatuan tanpa meninggalkan nilai-nilai yang bermanfaat bagi anak-anak generasi sekarang dan akan datang serta dapat dinikmati juga oleh orang tua yang termasuk dalam generasi baby boomers sampai generasi Y.
RUMAH SINGGAH KOMUNITAS LANSIA DI BOGOR Claresta Xena; Tony Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10798

Abstract

The occurrence of the aging population phenomenon in the future between 2030-2050 will result in the domination of the elderly population in the world, which is caused by the phenomenon of baby boomers that occurred in the 1960-70s where birth rates and dependence rates were very high. Elderly is the peak of the last cycle in human life so that the aging process will occur which is marked by a decrease in physical and psychological functions. This decline can be overcome by meeting the needs of the elderly such as the ability to be mobile, community and the most important thing is health. The development of times and the flow of globalization require people to be able to survive in all conditions. However, the busyness of their children at work is often the impact of the physical and psychological conditions of the elderly, which in the process of aging require more attention. In Indonesia, there are already many nursing homes where the elderly live. However, the social structure in Indonesia is not used to the trend of elderly people living separately from their families and homes. Therefore, the project of the Halfway House for the Elderly in Bogor can become a new place that can accommodate the needs of the elderly to get attention to their aging condition without having to leave their home and family. The Halfway House provides rooms that can be occupied periodically after attending seminars and therapy activities. Facilities such as entertainment, fitness, animal therapy, environmental therapy are available to apply the concept through the retreat, recharge and reborn stages so that they can become productive and be active for the elderly community. Keywords:  health; community; elderly; aging; halfway house Abstrak Terjadinya fenomena aging population pada tahun 2030-2050 mendatang dimana populasi lansia akan mendominasi muka bumi diakibatkan oleh adanya fenomena baby boomers yang terjadi pada tahun 1960-70an dimana angka kelahiran dan ketergantungan sangat tinggi. Lansia merupakan puncak siklus terakhir dalam kehidupan manusia sehingga akan terjadinya proses penuaan yang ditandai dengan penurunan fungsi fisik dan psikis. Penurunan tersebut dapat diatasi dengan pemenuhan kebutuhan terhadap lansia seperti kemampuan untuk bermobilitas, berkomunitas dan hal yang terpenting adalah kesehatan. Berkembangnya zaman dan arus globalisasi menuntut masyarakat untuk dapat bertahan hidup dalam segala kondisi. Namun, kesibukan anak untuk bekerja seringkali menjadi dampak kondisi fisik dan psikis lansia yang dalam proses penuaannya membutuhkan perhatian lebih. Di Indonesia, sudah terdapat banyak panti jompo yang menjadi tempat tinggal kaum lansia. Akan tetapi, struktur masyarakat di Indonesia kurang menyukai dan tidak terbiasa apabila lansia harus tinggal secara terpisah dari keluarga dan rumah mereka. Oleh karena itu, proyek Rumah Singgah Komunitas Lansia di Bogor ini dapat menjadi tempat baru yang dapat mewadahi kebutuhan lansia untuk mendapatkan perhatian pada kondisi penuaan mereka tanpa harus meninggalkan rumah dan keluarganya. Rumah singgah ini menyediakan unit kamar yang dapat dihuni secara periodik tertentu setelah mengikuti seminar, dan kegiatan terapi. Fasilitas-fasilitas seperti hiburan, kebugaran, terapi hewan, terapi lingkungan yang tersedia diterapkan untuk mewujudkan konsep benih melalui tahapan retreat, recharge dan reborn sehingga dapat menjadi rumah singgah yang produktif dan aktif bagi komunitas lansia.
WADAH PEMBENTUKAN KARAKTER ANAK LEWAT BERMAIN DI CENGKARENG BARAT Kreszen Himawan; Fermanto Lianto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10916

Abstract

Childhood is a stage in life where a children's foundation is starting to be built to prepare them for all aspects of life in adulthood. It is a stage where children learn and understand how to behave from the environment they live in. Childhood delinquency and immorality can continue up to adulthood. If that happens, it will affect the family's dwelling experience, the environment, and the child itself. That way, character building in childhood becomes very important. Children need moral and social education and training. The character education in elementary schools in Indonesia, one of the sources for the acquisition of knowledge for Indonesian children, is proven ineffective. A Place for Child’s Character Building in West Cengkareng aims to instill moral character values into children by giving moral lessons through play because play is an important component for child development. With the child-centric design method, children can freely and safely explore and use their imagination and creativity. This project is expected to be able to make children noble, confident, and responsible in interacting with the social and natural environment and living in society through pretend play, cooperative play, moral story books, moral films, dramatic role plays, service learning, and caring for animals and plants. The project is located close to the primary schools in West Cengkareng, acting as an educational facilities are located close to them to support character education in their schools. This project aims to create dwelling that prevents adult crime that is safe and enjoyable. Keywords:  play; child-centric design; dwelling; moral; character building AbstrakMasa kanak-kanak adalah masa dibangunnya pondasi anak untuk menjalani semua aspek kehidupan di masa dewasa, dimana anak-anak belajar, mengenal, mengetahui, dan mengerti cara bersikap dan berperilaku dari lingkungan sekitarnya. Kenakalan dan ketidakmoralan pada masa kanak-kanak mempunyai potensi untuk berlanjut dan bertumbuh menjadi kriminalitas pada masa dewasa. Jika hal tersebut terjadi, akan mempengaruhi pengalaman dwelling keluarga, lingkungan, dan anak itu sendiri. Dengan begitu, pembentukan karakter pada masa kanak-kanak menjadi sangat penting. Anak membutuhkan pendidikan dan pelatihan moral dan sosial. Pendidikan karakter di sekolah dasar di Indonesia, salah satu sumber terutama untuk pemerolehan ilmu dan pendidikan bagi anak Indonesia terbukti kurang efektif. Wadah Pembentukan Karakter Anak Lewat Bermain di Cengkareng Barat sebagai proyek bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai karakter bermoral ke dalam anak dengan memberi pelajaran moral menggunakan metode bermain, karena bermain berupa komponen penting bagi perkembangan anak. Dengan metode perancangan child-centric design, anak-anak dapat secara bebas dan aman bereksplorasi dan menggunakan imajinasi dan kreativitasnya. Proyek ini diharapkan dapat membuat anak menjadi berakhlak mulia, percaya diri, dan bertanggung jawab dalam berinteraksi dengan lingkungan sosial dan alam, dan hidup bermasyarakat melalui pretend play, cooperative play, buku cerita bermoral, film bermoral, dramatic role play, service learning, dan memelihara hewan dan tumbuhan. Proyek berada dekat dengan sekolah-sekolah dasar di Cengkareng Barat, sebagai fasilitas edukatif yang terletak dekat dengannya untuk mendukung pendidikan karakter di sekolahnya. Proyek bertujuan untuk menciptakan dwelling yang mencegah kriminalitas masa dewasa yang aman dan menyenangkan.

Page 2 of 11 | Total Record : 102