cover
Contact Name
Brury Eko Saputra
Contact Email
brury@sttaletheia.ac.id
Phone
+62341-426617
Journal Mail Official
brury@sttaletheia.ac.id
Editorial Address
Jl. Argopuro No.28-34, Lawang, Kec. Lawang, Malang, Jawa Timur 65211
Location
Kab. malang,
Jawa timur
INDONESIA
Sola Gratia: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika
ISSN : 27232786     EISSN : 27232794     DOI : https://doi.org/10.47596/sg.v1i2
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi di bidang Teologi Biblika dan Praktika. Focus dan Scope penelitian SOLA GRATIA adalah: 1. Teologi Biblikal 2. Teologi Pastoral 3. Teologi Kontemporer
Articles 161 Documents
PLURALISME OIKUMENIS DAN IMPLIKASI PELAYANAN PASTORAL MARTHEN NAINUPU
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 1, No 1 (2013): Maret 2013
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/solagratia.v1i1.24

Abstract

Hadirnya milenium ketiga dengan kecanggihan teknologinya, sudah menyatukan berbagai belahan bumi yang sebelumnya terasa sangat berjauhan, kini sudah sangat dekat bahkan telah menjadi sebuah kampung kecil. Seiring dengan hal itu telah lahir pula suatu kesadaran baru akan pluralisme, terutama pluralisme agama-agama dalam masyarakat postmodern ini dan secara lebih khusus lagi pluralisme oikumenis. Kehadiran pluralisme  mendorong untuk melakukan pendekatanpendekatan baru terhadap pelayanan pastoral, tetapi sekaligus melahirkan sikap pro dan kontra di tengah masyarakat gereja. Artikel ini mencoba untuk menelusuri akar-akar pluralisme serta beberapa problem yang ditimbulkan olehnya. Fakta pluralitas di tengah kalangan masyarakat gereja menuntut suatu sikap bijak dalam merespon pluralisme oikumenis , guna membangun dan mengembangkan suatu semangat kerja sama di antara para pelayan pastoral bagi keluasan kerajaan Allah.  Kata kunci: Pluralisme, Ekskulivisme, Inklusivisme, Pluralisme oikumenis, Pelayanan pastoral yang berpusat pada Alkitab dan tradisi pelayanan pastoral.
“SAMPAI MAUT MEMISAHKAN KITA?”: PANDANGAN MENGENAI PERNIKAHAN, PERCERAIAN, DAN PERNIKAHAN KEMBALI BERDASARKAN PERSPEKTIF IMAN KRISTEN Yudi Jatmiko
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 1, No 2 (2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/solagratia.v1i2.129

Abstract

Currently, marriage has devaluated. Marriage, divorce, and then remarriage and divorce again have become the game of life. These have caused many couples to take the short-cut when facing problems in marriage. Unfortunately, not few of the divorcees confess that they are Christians. Many people decide separation, divorce and remarriage as solutions of the problem being faced. This is not what God intended when He instituted marriage in the first place. This writing seeks to convey the concept of marriage based on Christian perspective as well as to analyze the problems regarding divorce and remarriage. Furthermore, pastoral ministry steps will be discussed related with the dilemma of pastors’ ministry in handling divorce and remarriage cases while believing that despites of all existing problems, holy marriage is worth continuing to be taught and fought for by every Christian couples. Dewasa ini, pernikahan mengalami devaluasi. Menikah, bercerai, kemudian menikah lagi lalu bercerai lagi seolah merupakan permainan dalam hidup ini. Hal ini membuat banyak pasangan sering mengambil short-cut ketika mengalami masalah dalam pernikahan. Celakanya, tidak sedikit dari mereka yang bercerai mengaku kristen. Banyak orang memutuskan perpisahan, perceraian, dan pernikahan kembali sebagai solusi dari masalah yang sedang dihadapi. Ini bukanlah yang Allah kehendaki ketika Ia menciptakan pernikahan. Tulisan ini berusaha memaparkan konsep pernikahan berdasarkan perspektif iman Kristen serta menganalisis problematika seputar perceraian dan pernikahan kembali. Selain itu, langkah-langkah pelayanan pastoral akan didiskusikan berkaitan dengan dilema pelayanan hamba Tuhan dalam penanganan kasus perceraian dan pernikahan kembali dengan meyakini bahwa terlepas dari berbagai problematika yang ada, pernikahan yang kudus layak untuk terus ditanamkan dan diperjuangkan oleh setiap pasangan Kristen. 
RESENSI BUKU : 5 CIRI JEMAAT YANG BERTUBUH SIA KOK SIN
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 5, No 1 (2017): MARET 2017
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/solagratia.v5i1.58

Abstract

Dalam buku ini, Robert Schnase memaparkan lima ciri jemaat yang bertumbuh. Kelima ciri itu adalah:  1.  Keramahtamahan yang radikal2.  Ibadah yang bergairah3.  Pertumbuhan iman yang terencana4.  Menerima resiko dari misi dan pelayanan5.  Kemurahan hati yang luar biasa 
GIVE THE BEST TO THE LORD (DARI PERSPEKTIF INTEGRASI ANTARA TEOLOGI DAN PSIKOLOGI) YAKUB BUDIONO SUSABDA
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 1, No 2 (2013): September 2013
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/solagratia.v1i2.82

Abstract

Artikel ini memaparkan bagaimana memberikan yang terbaik kepada Tuhan melalui integrasi antara teologi dan psikologi. Pertama, memberikan yang terbaik kepada Tuhan adalah secara utuh menyatakan iman kepada Allah di dalam Tuhan Yesus Kristus. Kedua, memberikan yang terbaik kepada Tuhan adalah mempraktekkan kebenaran yang membebaskan manusia dari dosa. Terakhir, memberikan yang terbaik kepada Tuhan adalah melepaskan apa yang menjadi kepentingan dan kebutuhan pribadi seseorang yang beriman.  Kata kunci: iman, keutuhan, kebenaran, teologi, psikologi
MEMBERIKAN YANG TERBAIK UNTUK TUHAN : SEBUAH RENUNGAN DAVID HARTONO
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 1, No 2 (2013): September 2013
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/solagratia.v1i2.98

Abstract

Kita harus mempunyai pengertian yang benar, bahwa hanya karena anugrah Tuhan kita dapat memberi sesuatu yang terbaik kepada Dia. Oleh karena itu harus dikesampingkan secara total bahwa kita adalah pemberi dan Dia adalah penerima pemberian kita. Dalam mendidik anak-anak, acap kita dengan rasa sangat gembira membelikan makanan dan minuman kesukaan anak-anak kita. Kemudian kita melontarkan pertanyaan dengan tujuan mendidik: “Anakku sayang bolehkah papa dan mama mencicipi makanan-mu?” Apakan sang Papa dan Mama tidak pernah makan makanan itu? Bukankah orang tua yang lebih berpengalaman hidup sudah pernah mencicipi Mac Donald Burger dan Frech Friesnya? Apakah orang tuanya rakus, sehingga ia harus meminta-minta dari sang anak? Pertanyaan itu harus dijawab: Tidak! Papa dan Mama pernah makan Mac Donald Burger, dan French Fries; mereka tidak rakus, mereka tidak akan berebut makanan dengan sang anak; mereka mempunyai cukup banyak uang untuk membeli bagi diri mereka sendiri. Mengapa mereka mengajukan pertanyaan itu kepada sang anak? Karena mereka ingin mendidik sang anak untuk mengetahui bahwa makanan itu adalah berkat yang diberikan oleh Papa dan Mama. Anak harus tahu bersyukur serta mengucapkan terima kasih saat menerima berkat. Tatkala sang anak mengatakan: “Papa – Mama makan” sambil menyodorkan makanan itu kepada orang tuanya, maka yang diterima adalah hati sang anak, bukan makanannya. Papa dan Mama dengan bangga dan tatapan mata yang penuh kasih sayang berkata kepada anaknya: “Terima kasih anakku, tapi makanlah dan nikmatilah Mac Donald Burger dan French Fries - mu”. Papa dan Mama puas karena sang anak dapat berterima kasih dan menghormati orang tuannya. Demikian juga, apa yang Tuhan inginkan dari kita ialah hati yang bersyukur kepada Dia, dan dalam nuansa inilah kita memberikan yang terbaik bagi Dia.
RESENSI BUKU : KESELAMATAN MILIK ALLAH KAMI SIA KOK SIN
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 4, No 1 (2016): MARET 2016
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/solagratia.v4i1.49

Abstract

Dalam buku ini Christopher Wright berupaya menghadirkan suatu uraian teologia biblika tentang keselamatan, Wright tidak ingin menghadirkan uraian tentang keselamatan ini dalam kerangka doktrinal struktural yang biasa diterima oleh kategori teologia sistematika (h. 10). Ia memahami Israel dalam Perjanjian Lama merupakan orang-orang yang merupakan keturunan Abraham dan Israel dalam Perjanjian Baru adalah orang-orang yang beriman kepada Yesus sang Mesias. Ia tidak menyamakan Israel modern dengan Israel dalam Perjanjian Lama ataupun dalam Perjanjian Baru (h. 11).
MEMBERIKAN YANG TERBAIK MELALUI MEMBANGUN SEBUAH KEPERCAYAAN DI DALAM PELAYANAN AMOS WINARTO
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 1, No 2 (2013): September 2013
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/solagratia.v1i2.12

Abstract

Kepemimpinan pastoral tidaklah harus dikaitkan dengan sebuah perubahan atau pembaharuan. Artikel ini ditulis untuk menunjukkan bahwa salah satu cara melakukan kepemimpinan pastoral adalah melalui membangun kepercayaan jemaat atau gereja kepada hamba Tuhannya. Dengan kata lain, artikel ini tidak akan berfokus pada “apa” dan “mengapa” dari kepemimpinan pastoral melainkan pada “bagaimana” dari kepemimpinan pastoral.  Kata Kunci: Kepemimpinan pastoral, Perubahan, Pembaharuan  
RESENSI BUKU : BASIC OF VERBAL ASPECT IN BIBLICAL GREEK BRURY EKO SAPUTRA
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 6, No 1 (2018): MARET 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/solagratia.v6i1.73

Abstract

Pada dasarnya buku karya Campbell ini disusun dalam dua bagian besar: pertama, dari bab pertama hingga kelima, Campbell berusaha memaparkan teori Verbal Aspect; kedua, dari bab keenam hingga kesepuluh, ia menjabarkan manfaat dari teori Verbal Aspect bagi studi Perjanjian Baru. Bagian pertama lebih bersifat teoritis, sedangkan bagian kedua bersifat praktis.
RESENSI BUKU : MEMAHAMI PERJANJIAN LAMA, TIGA PERTANYAAN PENTING STEFANUS KRISTIANTO
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 7, No 1 (2019): MARET 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/solagratia.v7i1.89

Abstract

Di dalam riset sederhana dan terbatas yang pernah penulis lakukan, penulis menemukan bahwa kebanyakan orang-orang Kristen ternyata mengenal Perjanjian Baru jauh lebih baik ketimbang Perjanjian Lama. Buktinya, mereka jauh lebih familiar dengan kitab dan nama-nama di dalam Perjanjian Baru daripada kitab-kitab dan nama-nama di Perjanjian Lama. Selain itu, mereka juga membutuhkan waktu sekian puluh detik lebih lama untuk menemukan kitab-kitab dalam Perjanjian Lama dibanding sewaktu mereka membuka tulisan-tulisan Perjanjian Baru (penulis melakukan riset ini sekitar tahun 2005-2006 BC, before cellphone, saat kebanyakan orang masih menggunakan Alkitab fisik. Hasilnya mungkin akan sedikit berbeda di masa AD, all digital, ini).
MENYOAL SIKAP GEREJA TERHADAP POLITIK MARKUS DOMINGGUS LERE DAWA
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 17, No 9 (2015): SEPTEMBER 2015
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/solagratia.v3i2.40

Abstract

Abstrak: Sikap gereja terhadap politik adalah isu yang masih terus relevan untuk didiskusikan di Indonesia. Setiap kali menjelang pemilu atau menyikap isu-isu tertentu dalam politik negara orang Kristen ramai meributkan sikap yang sebaiknya diambil gereja. Sikap yang banyak diambil adalah menjauhkan diri dari politik atau sekurang-kurangnya netral. Berangkat dari kasus sikap Sinode Gereja Kristus Tuhan (GKT) terhadap politik, tulisan ini hendak mendorong dilakukannya tinjau ulang terhadap sikap gereja terhadap politik. Dalam dialog dengan sejumlah pemikiran dari filsafat politik klasik dan pikiran sejumlah pemikir Kristen disimpulkan bahwa gereja sebaiknya lebih peduli dan aktif terlibat serta tidak menyerahkan urusan ini melulu kepada anggota-anggota gereja saja.  Kata-kata Kunci: GKT, politik, netralitas, pemerintah, tanggung jawab

Page 3 of 17 | Total Record : 161