cover
Contact Name
Indra Setia Bakti
Contact Email
indrasetiabakti@unimal.ac.id
Phone
+6285261340228
Journal Mail Official
jspm@unimal.ac.id
Editorial Address
Gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Malikussaleh. Kampus Bukit Indah Jln. Sumatera No.8, Kec. Muara Satu Kota Lhokseumawe, Prov. Aceh, Indonesia
Location
Kota lhokseumawe,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM)
ISSN : -     EISSN : 27471292     DOI : 10.29103/jspm
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM) is an open access, and peer-reviewed journal. Our main goal is to disseminate current and original articles from researchers and practitioners on various contemporary social and political issues: 1) inclusive education, 2) sustainable development, 3) conflict and peace building, 4) elite and social movement, 5) gender politics and identity, 6) digital society and disruption, 7) civil society, 8) e-commerce and new market, 9) community development, 10) politics, government, and public policy, 11) media and social transformation, 12) democracy, globalization, radicalism, and terrorism, 13) local culture, 14) lifestyle and consumerism, 15) revolution of industry 4.0
Articles 21 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 1 (2022)" : 21 Documents clear
Tradisi dan Status Sosial dalam Penetapan Mahar Perkawinan di Gampong Mamplam Aceh Utara M. Husen M. R.; Hamdani Hamdani; Ratri Candrasari
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM) Vol 3, No 1 (2022): Memperkuat Politik Kebangsaan dan Keindonesiaan
Publisher : FISIP Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jspm.v3i1.6224

Abstract

This study discusses the procedure for determining the dowry in the Acehnese marriage tradition. Then the influence of social status on the value of the dowry for women in Mamplam Village, Nibong District, North Aceh Regency. We have used a qualitative approach in this study. Some data was collected by interview techniques. Analysis techniques use data reduction, data presentation, and draw conclusions or verification. The results showed that the procedure for determining the dowry in Gampong Mamplam was carried out by an application process mediated by Seulangke. Seulangke serves as a liaison between the groom and the bride. If the application from a man is accepted by the woman and her family, then after a while the process is followed up to the delivery of a dowry for the woman from the family of the man who is applying. The dowry in marriage is determined by the parents of the woman or based on the results of family deliberation. Then the value of the dowry is also strongly influenced by social status, namely the level of education and the level of wealth. If the woman comes from a rich family then the amount of dowry is quite high, it can reach the value of 20-25 mayam gold. Meanwhile, for women who come from simple families, the amount of dowry is relatively less, only around 10-15 mayam gold.
VIDEO SYUR MIRIP GISELLA DALAM PERSPEKTIF ISLAM DI INDONESIA Abid Nurhuda
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM) Vol 3, No 1 (2022): Memperkuat Politik Kebangsaan dan Keindonesiaan
Publisher : FISIP Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jspm.v3i1.3564

Abstract

The media is a tool for disseminating information and news to the public. In addition, it is also used as a means of entertainment by the community so that various managers compete with each other to lure the public to become the most favorite media. But sometimes it is done with things that are not praiseworthy, such as showing pictures, videos or films that contain pornographic elements. Regarding this, the last few weeks of November, which were presented by the media, especially in the virtual universe, Twitter and which became a trending topic, were exciting videos similar to Gisella which caused pros and cons among the community. Exciting videos similar to gisella are a form of pornography and in the view of Islam, all those who are involved intentionally get reward / sin and the reward is the audience, the creator, the perpetrator, and the spreader. Meanwhile, the laws in Indonesia that are entangled with laws are the perpetrators, the creators or the disseminators of the video, either with the Pornography Law or the ITE Law.Media merupakan salah satu alat untuk menyebarkan informasi dan berita kepada masyarakat. Selain itu juga digunakan sebagai sarana hiburan oleh masyarakat sehingga berbagai pihak pengelola saling berlomba-lomba untuk memikat masyarakat agar menjadi media yang paling favorit. Namun terkadang dilakukan dengan hal-hal yang tidak terpuji seperti mempertontonkan gambar, video ataupun film yang mengandung unsur pornografi. Mengenai hal itu, Beberapa minggu terakhir dari bulan november ini yang disuguhkan oleh media khususnya di jagad maya twitter dan menjadi trending topic adalah video syur mirip dengan gisella yang menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat.  Metode yang dugunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif yang mana mengumpulkan buku-buku atau referensi yang relevan dan akurat, serta membaca dan mempelajari untuk memperoleh sebuah data atau kesimpulan yang berkaitan dengan pembahasan tersebut diatas dengan melakukan analisis secara perspektif normatif untuk menemukan jawaban. Video syur mirip gisella merupakan bentuk pornografi dan dalam pandangan islam semua yang terlibat dengan sengaja maka mendapat ganjaran/dosa dan balasannya baik penonton, pembuat, pelaku, maupun penyebarnya. Sementara itu hukum di indonesia yang terjerat undang-undang adalah pelaku, pembuat ataupun penyebar video tersebut baik dengan UU Pornografi ataupun UU ITE. Untuk menanggulangi hal tersebut diperlukan 3 peran : Peran individu, Masyarakat dan Negara Indonesia.
INTERNATIONAL COOPERATION IN THE PROTECTION OF THE INDONESIAN MIGRANT FISHING VESSELS CREW ON TAIWAN-FLAGGED SHIPS Inasa Hening Sawengi; Najamuddin Khairur Rijal
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM) Vol 3, No 1 (2022): Memperkuat Politik Kebangsaan dan Keindonesiaan
Publisher : FISIP Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jspm.v3i1.7002

Abstract

This study discusses the government's efforts to protect the Indonesian migrant fishing vessels crew on Taiwan-Flagged Ships. The high number of the Indonesian migrant fishing vessels crew has implications for various problems. The absence of a specific law in the protection of Indonesian migrant fishing vessels crew and the disharmony of regulation on the distribution of authority is the core of the problem. The exploitation experienced by Indonesian migrant crews, especially on fishing vessels Taiwan-Flagged ships, is quite high and has not been resolved. The researcher uses the concept of international cooperation and migrant workers to see the government's efforts. The method is qualitative using a descriptive approach through the collection of library research. The results found that the Indonesian government seeks to strengthen bilateral relations with Taiwan, establish cooperation with the International Labour Organization, International Organization of Migration and Interpol in order to ensure the protection of the Indonesian migrant fishing vessels crew.Penelitian ini membahas mengenai upaya pemerintah dalam perlindungan Pekerja Migran Indonesia (PMI) Awak Kapal Perikanan Taiwan. Tingginya pengiriman PMI Awak Kapal terutama dalam sektor perikanan berimplikasi terhadap berbagai permasalahan. Tidak adanya hukum yang spesifik dalam perlindungan PMI-Awak Kapal perikanan serta ketidakharmonisan regulasi pembagian kewenangan merupakan inti dari permasalahan.  Eksploitasi yang dialami oleh PMI Awak Kapal terutama pada kapal perikanan milik Taiwan terbilang cukup tinggi dan belum terselesaikan. Peneliti menggunakan konsep kerja sama internasional dan migrant workers untuk melihat upaya pemerintah. Adapun metode penelitian ini adalah kualitatif dengan menggunakan pendekatan deskriptif melalui pengumpulan data studi kepustakaan. Hasil penelitian menemukan bahwa pemerintah Indonesia berupaya melakukan penguatan hubungan bilateral dengan Taiwan, menjalin kerja sama dengan International Labour Organization, International Organization of Migration, dan Interpol dalam rangka memastikan perlindungan terhadap PMI Awak Kapal Perikanan.
BAHASA DAERAH DAN BAHASA INDONESIA; NASIONALISME ATAU FANATISME Muhammad Jundi; Muhammad Dalle
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM) Vol 3, No 1 (2022): Memperkuat Politik Kebangsaan dan Keindonesiaan
Publisher : FISIP Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jspm.v3i1.5987

Abstract

This study aims to determine how the transformation of asabiyah or fanaticism in regional languages so that becomes a starting point for national division and disintegration. Then provide a solution in addressing linguistic fanaticism so as not to be trapped in the disintegration of the nation. This study uses a qualitative approach, which is to reveal a meaning related to the social dynamics of humanity and the method of literature study or library research, namely systematic collection of library sources, reading and recording these library sources and processing them to produce a meaningful conclusion. The conclusion is that the plurality of regional languages and the immaturity of Indonesians in language attitudes backfire for the creation of horizontal conflicts between the very diverse communities in Indonesia, also in the Indonesian language realm that Indonesian is not just one but has broken up into several dialect variants of the Indonesian language. So the solution that must be done is first to be inclusive in the attitude of speaking Indonesian by realizing the plurality of variants and various dialects of Indonesian. Secondly, Indonesian language education in public or private educational institutions that are under state supervision must revolutionize the Indonesian language education system and materials according to the times.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana transformasi ashabiyah atau fanatisme dalam berbahasa daerah sehingga menjadi titik tolak perpecahan dan disintegrasi bangsa. Kemudian memberikan solusi dalam menyikapi fanatisme kebahasaan agar tidak terjebak ke dalam disintegrasi bangsa. Penelitian ini mengunakan pendekatan kualitatif yaitu mengungkap suatu makna yang berkaitan dengan dinamika sosial kemanusiaan dan metode studi pustaka atau library research yaitu pengumpulan sumber pustaka secara tersistem, membaca dan mencatat sumber-sumber pustaka tersebut dan mengolahnya hingga dihasilkan suatu kesimpulan makna. Kesimpulannya bahwa kemajemukkan bahasa daerah dan ketidakdewasaan orang Indonesia dalam sikap berbahasa menjadi bumerang bagi terciptanya konflik horisontal antar masyarakat yang sangat beragam di Indonesia, juga dalam ranah berbahasa Indonesia bahwa bahasa Indonesia bukan hanya satu melainkan telah pecah ke dalam beberapa varian dialek bahasa Indonesia. Maka solusi yang harus dilakukan adalah pertama bersikaplah inklusif dalam sikap berbahasa Indonesia dengan menyadari adanya pluralitas varian dan dialek bahasa Indonesia yang bermacam-macam. Kedua pendidikan bahasa Indonesia di lembaga-lembaga pendidikan negeri ataupun swasta yang berada di bawah pengawasan negara harus merevolusi sistem dan materi pendidikan bahasa Indonesianya sesuai perkembangan zaman.
Election Dynamics In Indonesia The First Election Era Of 1955 Ruhdiara Ruhdiara; Agus Junaidi; Siti Fatimah
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM) Vol 3, No 1 (2022): Memperkuat Politik Kebangsaan dan Keindonesiaan
Publisher : FISIP Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jspm.v3i1.7220

Abstract

General elections are a form of democracy organized by the government for the benefit of the people. With the general election, the people participate in providing their political aspirations which are intended to elect their representatives in the government. The general election is the right step taken by the government to implement the principle of people's sovereignty which has been stated in the provisional constitution. In order to perfect the provisional constitution and to elect representatives to sit in Parliament, the Indonesian government held the first general election in 1955. The type of research used in this research is classified as library research. namely research in which data is processed and extracted from various books, newspapers, magazines and several articles that are related to this research. Then the approach used is a historical approach (historical research). While the method used in the research is a descriptive qualitative research method. The results of the research show that Liberal Democracy in Indonesia was expected from 1950 to 1959, in practice the government system adheres to a parliamentary system. This democracy has a very strong characteristic regarding the multi-party system that is adopted, but there is no political party that has an absolute majority. In this system, the age of the cabinet in each government is very short, causing frequent cabinet changes. At this time the second major achievement after the proclamation was successfully obtained was the achievement of the General Election in 1955 whose participants came from various parties that existed at that time in Indonesia. This election was successfully carried out in two stages, namely the first stage on September 29, 1955 holding the election for the DPR and on December 15, 1955 holding the election for Members of the Constituent Assembly. The top four winners of the 1955 election included: PNI, Masyumi, NU and PKI.Pemilihan umum merupakan salah satu bentuk demokrasi yang diselenggarakan oleh pemerintah untuk kepentingan rakyat. Dengan adanya pemilihan umum, masyarakat ikut serta memberikan aspirasi politiknya yang dimaksudkan untuk memilih wakil-wakilnya dalam pemerintahan. Pemilihan umum merupakan langkah tepat yang diambil pemerintah untuk melaksanakan prinsip kedaulatan rakyat yang telah tertuang dalam undang-undang dasar sementara. Untuk menyempurnakan konstitusi sementara dan untuk memilih perwakilan untuk duduk di DPR, pemerintah Indonesia mengadakan pemilihan umum pertama pada tahun 1955. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kepustakaan. yaitu penelitian yang datanya diolah dan disarikan dari berbagai buku, surat kabar, majalah dan beberapa artikel yang berhubungan dengan penelitian ini. Kemudian pendekatan yang digunakan adalah pendekatan sejarah (historis research). Sedangkan metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Demokrasi Liberal di Indonesia berlangsung dari tahun 1950 hingga 1959, dalam prakteknya sistem pemerintahan menganut sistem parlementer. Demokrasi ini memiliki ciri yang sangat kuat mengenai sistem multi partai yang dianut, namun tidak ada partai politik yang memiliki mayoritas mutlak. Dalam sistem ini, umur kabinet di setiap pemerintahan sangat singkat sehingga sering terjadi pergantian kabinet. Pada saat ini prestasi besar kedua setelah proklamasi berhasil diperoleh adalah prestasi Pemilihan Umum tahun 1955 yang pesertanya berasal dari berbagai partai yang ada saat itu di Indonesia. Pemilihan ini berhasil dilaksanakan dalam dua tahap, yaitu tahap pertama pada 29 September 1955 menyelenggarakan pemilihan DPR dan pada 15 Desember 1955 menyelenggarakan pemilihan Anggota Konstituante. Empat besar pemenang pemilu 1955 antara lain: PNI, Masyumi, NU dan PKI.
Traditional Medication – Rajah: The Rational Choice of Aceh People for Recovering Diseases during the Covid-19 Pandemic Zainal, Suadi
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM) Vol 3, No 1 (2022): Memperkuat Politik Kebangsaan dan Keindonesiaan
Publisher : FISIP Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jspm.v3i1.7222

Abstract

This study aimed to explain the reasons of Aceh people's choice for nonmedical treatment - rajah during the Covid-19 pandemic. The qualitative approach was used to address the research problem. The findings showed that people chose nonmedical treatment with Rajah reading prayers and verses of the al-Quran then blowing on them and the water they brought to be drunk at their homes. They chose this treatment method by considering some rational reasons. Among the most prominent reasons; they were afraid to go to the government's public health service center for fear of being tested for antigens first and being judged to be positive for Covid-19, so they were quarantined and isolated from the community, both themselves and their families. In addition, Rajah was considered effective in curing diseases that resemble the symptoms of Covid-19, such as fever, flu, and cough. Even so, this study explains beyond the two reasons that are categorized as instrumental rational choices to achieve the goal – recovering from illness and avoiding threats of isolation. This study confirms that Aceh people put avoiding social isolation as the main rational choice in determining social action.Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan alasan pilihan masyarakat Aceh untuk berobat secara nonmedis – rajah di masa pandemi Covid-19. Pendekatan kualitatif digunakan untuk menjawab masalah penelitian. Temuan menunjukkan bahwa masyarakat memilih pengobatan nonmedis dengan membaca doa Rajah dan ayat-ayat al-Quran kemudian ditiupkan ke atas mereka dan air yang dibawanya untuk diminum di rumah masing-masing. Mereka memilih metode pengobatan ini dengan mempertimbangkan beberapa alasan yang rasional. Di antara alasan yang paling menonjol; mereka takut ke pusat pelayanan kesehatan masyarakat pemerintah karena takut dites antigen terlebih dahulu dan dinilai positif Covid-19, sehingga mereka dikarantina dan diisolasi dari masyarakat, baik diri sendiri maupun keluarganya. Selain itu, Rajah dinilai efektif menyembuhkan penyakit yang menyerupai gejala Covid-19, seperti demam, flu, dan batuk. Meski begitu, penelitian ini menjelaskan di luar dua alasan yang dikategorikan sebagai pilihan rasional instrumental untuk mencapai tujuan – pulih dari penyakit dan menghindari ancaman isolasi. Studi ini menegaskan bahwa masyarakat Aceh menempatkan menghindari isolasi sosial sebagai pilihan rasional utama dalam menentukan tindakan sosial.
Persepsi Masyarakat terhadap Wisatawan di Objek Wisata Gunung Burni Telong Kaspiatul Hidayah; Dini Rizki
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM) Vol 3, No 1 (2022): Memperkuat Politik Kebangsaan dan Keindonesiaan
Publisher : FISIP Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jspm.v3i1.3556

Abstract

This study aims at examining  public response to tourists and the efforts made to reduce community unrest at Mount Burni Telong . The theory used to answer the problems is Max Weber's Theory of Social Action. The data collection techniques used were observation, interview and documentation methods. This type of research approach used is descriptive research with a qualitative approach. With the aim of obtaining a comprehensive and in-depth picture of how the public's perception of tourists and the efforts made to reduce community unrest. To obtain complete data and information in this study, data collection techniques were used in the form of observation, interviews and documentation. The results of this study indicate that (1) people's perceptions of tourists are considered to have a negative influence on the culture and customs that prevail in society, because tourist behavior that is not in accordance with the norms and values contained in society, raises negative views of the outside community. Mount Burni Telong Tourism Object and has a bad influence on the younger generation of the village. (2) Efforts made to reduce community unrest are preventive efforts carried out by making a qanun for the village of Rembune and giving direction to all tourists who come to the Mount Burni Telong Tourism Object and efforts to overcome which are efforts after the deviation occurs in the form of conducting customary trials by customary leaders and imposing sanctions in the form of a predetermined amount of fine.Penelitian ini berjudul “Persepsi Masyarakat Terhadap Wisatawan di Objek Wisata Gunung Burni Telong” lokasi penelitian ini adalah Kampung Rembune, Kecamatan Timang Gajah, kabupaten Bener Meriah. Keditaknyamanan masyarakat terhadap pemyimpangan yang dilakukan oleh wisatawan menimbulkan persepsi yang berbeda-beda di kalangan masyarakat sekitar Objek Wisata Gunung Burni Telong. Fokus penelitian ini adalah budaya yang dibawa oleh wisatawan berbeda dan bertentangan dengan budaya masyarakat lokal sehingga akan menimbulkan respon negatif yang merupakan persepsi masyarakat terhadap wisatawan di objek wisata Gunung Burni Telong dan juga penulis memfokuskan pada upaya masyarakat untuk mengurangi keresahan karena adanya penyimpangan yang di lakukan wisatawan di objek wisata tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengtahui bagaimana tanggapan masyarakat terhadap wisatawan dan upaya yang dilakukan untuk mengurangi keresahan pada masyarakat. Adapun teori yang digunakan untuk menjawab permasalahan dalam penelitian ini menggunakan Teori Tindakan Sosial dari Max Weber. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu menggunakan metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Jenis pendekatan penelitian  yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Dengan maksud memperoleh gambaran yang komprehensif yang mendalam tentang bagaimana persepsi masyarakat terhadap wisatawan dan upaya yang dilakukan untuk mengurangi keresahan pada masyarakat. Untuk memperoleh data dan informasi yang lengkap dalam penelitian ini digunakan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) persepsi masyarakat terhadap wisatawan dinilai telah membawa pengaruh negatif terhadap budaya dan adat istiadat yang berlaku di dalam masyarakat, karena perilaku wisatawan yang tidak sesuai dengan norma dan nilai-nilai yang terkandung dalam masyarakat, memunculkan pandangan negatif masyarakat luar terhadap Objek Wisata Gunung Burni Telong serta membawa pengaruh buruk terhadap generai muda kampung. (2) Upaya yang dilakukan untuk mengurangi keresahan masyarakat yaitu upaya pencegahan yang dilakukan dengan cara membuat qanun kampung Rembune dan memberi pengarahan kepada seluruh wisatawan yang datang ke Objek Wisata Gunung Burni Telong dan upaya penanggulangan yang merupakan upaya setelah penyimpangan itu terjadi berupa melakukan persidangan adat oleh tokoh adat dan pemberian sanksi berupa denda dengan jumlah yang telah ditentukan.
RETHINKING GOVERNANCE: KRITIK TERHADAP TATA KELOLA PENANGANAN COVID19 DI KOTA MAKASSAR Iswadi Amiruddin; Nursaleh Hartaman; Abdillah Abdillah
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM) Vol 3, No 1 (2022): Memperkuat Politik Kebangsaan dan Keindonesiaan
Publisher : FISIP Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jspm.v3i1.7314

Abstract

Tata Kelola Pemerintahan berhubungan dengan upaya pembangunan yang pada hakikatnya ialah mengubah keseimbangan baru, yang dianggap lebih baik untuk kehidupan manusia dan merupakan suatu proses multi dimensi yang melibatkan segala sumber daya yang ada dalam rangka usaha meningkatkan kualitas hidup manusia dan masyarakat Artikel ini membahas bagaimana tata kelola penanganan Covid 19 di Kota Makassar. Metode penelitina yang digunakan kualitatif-eksploratif dengan studi multi kasus yang menjadi rethinking governance:  kritik terhadap tata kelola penanganan Covid19 di Kota Makassar. Temuan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa tata kelola penanganan Covid19 di Kota Makassar pada aspek 1) transpransi dalam keterbukaan menyampaikan informasi atau aktivitas yang dilakukan dalam penangan Covid 19 tidak jelas berapa jumlah yang telah ditangani di Kota Makassar sehingga mengalami simpangsiur informasi, 2) partisipasi yang dimana sebagian masyarakat secara sadar telah mengikuti mekanisme pembatasan sosial ini, tetapi sebagian lagi belum berpartisipasi karena dimana setiap kebijakan yang dikeluarkan sellau mengalami ketidak konsistenan setiap kebijakan dalam penangan Covid19 yang dimana sangat dibutuhkan sinergitas antara pemerintah dan masyarakat, 3) akuntabilitas pertanggungjawaban atas peraturan yang telah dibuat akan tetapi belum memberi dapak dalam penangan Covid 19, 4) koordinasi yang memastikan bahwa seluruh pemangku kebijakan yang memiliki kepentingan bersama telah memiliki kesamaan pandangan yang dimana tidak jelasnya alur koordinasi antara Pemerintah Pusat dan pemerintah daerah. Governance relates to efforts that essentially find a new balance, which is considered better for human life and a multi-dimensional process that involves all existing resources in order to improve the quality of human and community life. Makassar city. The research method used is qualitative-exploratory with multi-case studies that are a rethinking of the government: criticism of the governance of handling Covid19 in Makassar City. The findings in this study indicate that the governance of handling Covid19 in Makassar City in aspects of 1) transparency in obtaining information or activities carried out in handling Covid 19 does not explain how many have been handled in Makassar City so that there is information confusion, 2) which participation is most Most people have not realized the inconsistency of policies in handling Covid19, which requires synergy between the government and the government, 3) accountability must be made. however, it has not had an impact in handling Covid 19, 4) coordination that ensures that all policy makers who have common interests have views that are easy to obtain from coordination between the Central Government and regional governments. 
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM PEMBANGUNAN KESEJAHTERAAN MELALUI USAHA MIKRO DAGING RAJUNGAN DI DESA TONGAS WETAN Husni Mubaroq; Mahfudz Jailani
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM) Vol 3, No 1 (2022): Memperkuat Politik Kebangsaan dan Keindonesiaan
Publisher : FISIP Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jspm.v3i1.5775

Abstract

Tongas Wetan Village is a village located in a coastal area that has considerable potential in the field of fisheries. Most of the residents of this village are fishermen, for that it is necessary to empower. Empowerment of rural communities needs to be done as an effort to build the welfare of the community by making the potential of local resources the main potential in the process of improving the economy of the surrounding community. This empowerment is carried out through several activities, one of which is the establishment of micro, small and medium enterprises (MSMEs) to increase production in the Tongas Wetan village area. Production in the marine fisheries sector in Tongas Wetan village varies, there are various types of fish, shrimp, crabs and so on. The research method used in this research is descriptive qualitative method, where the data used are primary data, data obtained or sourced from research results and secondary data as supporting data. The data needed in this study is from the people of Tongas Wetan Village as residents on the coast as fishermen looking for crabs and fishermen's wives as crab peelers. create job opportunities and ultimately realize community empowerment programs and can assist the government in the process of empowering coastal communities to realize the development of the economic welfare of the surrounding community. The raw material used is crab meat that has been peeled and then grouped according to the crab body part.Desa Tongas Wetan merupakan desa yang terletak di wilyah tepi pantai yang memiliki potensi yang cukup besar dalam bidang perikanan. Sebagian besar penduduk desa ini adalah nelayan, untuk itu perlu melakukan pemberdayaan. Pemberdayaan masyarakat desa perlu dilakukan sebagai upaya dalam membangun kesejahtreraan masyarakatnya dengan menjadikan potensi sumber daya lokal sebagai potensi utama dalam proses meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar. Pemberdayaan ini dilakukan melalui beberapa kegiatan salah satu diantaranya adalah pembentukan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) untuk meningkatkan hasil produksi di wilayah desa Tongas Wetan. Produksi di bidang perikanan laut di desa Tongas Wetan bermacam-macam ada berbagai jenis ikan, udang, rajungan dan sebagainya. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif, dimana data yang digunakan adalah data primer data yang diperoleh atau bersumber dari hasil penelitian dan data sekunder sebagai data pendukung. Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah berupa dari masyarakat Desa Tongas Wetan sebagai penduduk di pesisir pantai sebagai nelayan yang mencari rajungan dan istri nelayan sebagai pengupas kulit rajungan Dengan adanya UMKM sebagai pengolahan rajungan tujuan utama adalah menambah nilai ekononomi warga disekitar pesisir pantai di samping itu juga membuka lapangan kerja dan yang akhirnya adalah mewujudkan program pemberdayaan masyarakat dan dapat membantu pemerintah dalam proses pemberdayaan masyarakat pesisir untuk mewujudkan pembangunan kesejahteraan ekonomi masyarakat sekitar. Bahan baku yang digunakan adalah daging rajungan yang sudah dikupas dan kemudian dikelompokkan menurut bagian tubuh rajungan. Menurut Tuwo Ambo (2011) kekurang berdayaan masyarakat pesisir antara lain disebabkan oleh keterbatasan mereka dalam penguasaan ilmu, teknologi, modal dan kelembagaan usaha. Selain itu, menurut Ambo (2011) paling tidak ada lima pendekatan pemberdayaan masyarakat pesisir yang baru saja diimplementasikan. Kelima pendekatan ini dilaksanakan dengan memperhatikan secara sungguh-sungguh aspirasi, keinginan, kebutuhan, pendapatan, dan potensi sumberdaya yang dimiliki masyarakat. Komponen dari pendekatan pemberdayaan masyarakat pesisir.
THE ROLE OF PEKANBARU CITY MANPOWER OFFICE IN TACKLING UNEMPLOYMENT Miranda Tri Junieta Olivia Siregar; Geovani Meiwanda
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM) Vol 3, No 1 (2022): Memperkuat Politik Kebangsaan dan Keindonesiaan
Publisher : FISIP Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jspm.v3i1.7355

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi karena adanya jumlah pengangguran di Kota Pekanbaru yang mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui peran dari Dinas Tenaga Kerja Kota Pekanbaru dalam mengatasi pengangguran di Kota Pekanbaru. Teori yang digunakan pada penelitian ini adalah teori organisasi publik oleh Jones (1993) dalam Mahsun (2013:8-9) dengan tiga indikator yaitu regulatory role, enabling role, dan direct provision of goods and service. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik analisis data menggunakan teori Miles dan Huberman dalam Sugiyono (2016:246). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peran Dinas Tenaga Kerja Kota Pekanbaru dalam mengatasi pengangguran belum efektif. Penyebabnya adalah keterbatasan dana yang dimiliki oleh Dinas Tenaga Kerja Kota Pekanbaru dan kurangnya dukungan masyarakat terhadap program Dinas Tenaga Kerja Kota Pekanbaru dalam mengatasi pengangguran. Dinas Tenaga Kerja Kota Pekanbaru memiliki tanggung jawab untuk menjalankan program-program peningkatan kesempatan kerja serta meningkatkan kualitas dan produktivitas tenaga kerja untuk menghasilkan tenaga kerja yang terampil dan kompeten guna mengatasi pengangguran di Kota Pekanbaru.This research is motivated by the number of unemployed in Pekanbaru City which has increased from year to year. The purpose of this study was to determine the role of the Pekanbaru City Manpower Office in overcoming unemployment in Pekanbaru City. The theory used in this research is public organization theory by Jones (1993) in Mahsun (2013: 8-9) with three indicators, namely regulatory role, enabling role, and direct provision of goods and services. This research uses a qualitative method with a descriptive approach. The data analysis technique uses the theory of Miles and Huberman in Sugiyono (2016:246). The results of this study indicate that the role of the Pekanbaru City Manpower Office in overcoming unemployment has not been going well. The reason is the limited funds owned by the Pekanbaru City Manpower Office and the lack of community support for the Pekanbaru City Manpower Service program in overcoming unemployment. The Pekanbaru City Manpower Office has the responsibility to run programs to increase job opportunities and improve the quality and productivity of the workforce to produce skilled and competent workers to overcome unemployment in Pekanbaru City. 

Page 2 of 3 | Total Record : 21