cover
Contact Name
Hendra Susanto
Contact Email
hesus@stiqsi.ac.id
Phone
+6281232233243
Journal Mail Official
jurnal@stiqsi.ac.id
Editorial Address
Pondok Pesantren Al-Ishlah, Sendangagung Paciran Lamongan Jawa Timur
Location
Kab. lamongan,
Jawa timur
INDONESIA
Al-I'jaz: Jurnal Studi Al-Qur'an, Falsafah, dan Keislaman
ISSN : 27221652     EISSN : 27211347     DOI : https://doi.org/10.53563/ai.v3i1
Core Subject : Religion, Education,
Focus Al-I jaz adalah jurnal yang terbit dua kali dalam setahun (Juni dan Desember), yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran dan Sains Al-Ishlah (STIQSI) Sendangagung Paciran Lamongan Jawa Timur. Fokus jurnal ini adalah untuk mendiseminasikan kajian akademis tentang Pemikiran Keislaman terkait Al-Qur’an, Falsafah dan Isu Keislaman Klasik dan Kontemporer, serta untuk memfasilitasi dialog akademis antara para akademisi dan peneliti yang berminat dalam kajian pemikiran keislaman terkait Al-Quran, Falsafah dan Isu Keislaman Klasik dan Kontemporer. Scope Al-I jaz memiliki ruang lingkup kajian dan penelitian yang mengkover beragam bidang terkait kajian Pemikiran Keislaman seperti: Tafsir, Hadits, Fiqh, Sejarah Islam, Hukum, Al-Quran dan Tafsir, Tasawuf, Ilmu Kalam, Politik, dan Filsafat serta Isu Keislaman Klasik dan Kontemporer (seperti relasi jender, demokrasi, Hak Azasi Manusia, Ekspresi dan Praktik Hidup masyarakat Muslim di seluruh dunia).
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 3 No 1 (2021): June" : 7 Documents clear
Al-Qur’an dan Masa Depan Manusia (Perspektif Sosiologi Agama) Anis Ulfiyatin
Jurnal Al I'jaz Vol 3 No 1 (2021): June
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Dan Sains Al-Ishlah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53563/ai.v3i1.44

Abstract

Kajian ini memfokuskan pembahasan tentang dampak dari wabah pandemi Covid-19 dan pengaruhnya terhadap sektor agama serta perilaku keberagamaan seseorang di masa pandemi. Bahwa dengan adanya kedaruratan kondisi sosial, ekonomi, kesehatan, pendidikan, dan budaya secara global, hal ini memunculkan pola-pola adaptasi dan perilaku keberagamaan yang baru di tengah-tengah masyarakat. Permasalahannya kemudian, akankah pola adaptasi yang baru ini mampu merombak tatanan nilai dan norma dalam agama Islam yang sudah ada. Selanjutnya, ketika pada akhirnya muncul tatanan nilai dan norma baru, akankah struktur sosial keagamaan yang telah ada selama ini menjadi disfungsi dan menggiring pada mati dan hilangnya institusi agama di masyarakat kita hari ini. Terakhir, bagaimana dan sejauh mana peran ajaran agama Islam dengan nilai-nilai Al-Qur’an-nya terus mampu menjadi “jaminan” keselamatan bagi masa depan umat manusia?.Tujuan: Kajian ini bertujuan untuk mengeksplorasi penerapan kebijakan penanggulangan Covid-19 di Indonesia di bidang keagamaan, juga untuk melihat sejauh mana konsep ajaran Islam yang bersandar pada nilai-nilai Al-Qur’an mampu menjadi solusi atas permasalahan dalam menghadapi wabah pandemi Covid-19 di Indonesia, serta, bagaimana perspektif sosiologi agama menjelaskan masa depan agama Islam dan nilai-nilai Al-Qur’an ini di masa depan. Hasil dan Simpulan: (1) Kajian ini menyimpulkan bahwa betapa wabah Covid-19 ini dengan dahsyatnya mampu meluluhlantakkan tatanan nilai dan norma keberagamaan masyarakat di Indonesia. (2) Bahwa dengan adanya pola adaptasi yang baru dan perilaku keberagamaan masyarakat dalam menghadapi pandemi Covid-19 ini, menggiring kita pada suatu proses redefinisi atas konsep agama itu sendiri. Selanjutnya, pandemi Covid-19 ini nyatanya juga membawa kita untuk kembali pada suatu upaya untuk proses pemurnian kembali ajaran agama Islam, yakni perilaku keberagamaan yang murni dan bersumber pada nilai-nilai dasar Al-Qur’an. (3) selanjutnya, kajian ini membawa kita bersama pada sebuah simpulan tentang masa depan manusia yang mengarah pada terbentuknya pola tatanan nilai dan norma baru yang justru bersumber dari Al-Qur’an, kitab suci umat agama Islam. Sebuah analisa sosiologis yang ditopang dan diperkuat dengan pemikiran-pemikiran tokoh sosiologi awal sebagaimana dalam kajian Suicide oleh seorang Emile Durkheim dan kajian tentang Protestant Ethics oleh seorang Max Weber dalam lingkup kajian sosiologi agama.
Pendekatan Fikih dan Pengaruh Madzhab dalam Kajian Tafsir Al-Qur’an Masrul Anam
Jurnal Al I'jaz Vol 3 No 1 (2021): June
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Dan Sains Al-Ishlah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53563/ai.v3i1.45

Abstract

Penelitian ini memaparkan tentang satu pendekatan dalam menafsirkan Al-Qur’an, seorang mufasir akan memiliki pendekatan yang berbeda karena dipengaruhi oleh dasar keilmuan, kebudayaan, dan madzhab. Pendekatan fikih dalam kajian tafsir merupakan salah satu usaha untuk menafsirkan ayat-ayat hukum yang dipengaruhi oleh mufasir yang latar belakang keilmuannya dibidang fikih. Dan untuk ayat-ayat lain yang tidak mengandung hukum-hukum fikih maka tidak dijadikan sebagai target dalam penafsirannya bahkan cenderung tidak dimuat sama sekali. Pendekatan ini sudah ada sejak masa zaman Rasulullah SAW, sebab ketika para sahabat kesulitan dalam memahami hukum yang terkandung dalam Al-Qur’an tersebut, maka sahabat langsung menanyakan hal itu kepada Nabi dan beliau pun langsung menjawab. Akan tetapi ketika Nabi telah wafat maka mereka dalam memahami Al-Qur’an salah satu caranya adalah dengan menggunakan pendekatan fikih dari berbagai madzhab.
Pandangan Maqasid Al-Syari‘ah (Hukum Islam) Perspektif Al-Syatibi dan Jasser Auda Faiqotul Himmah Zahroh
Jurnal Al I'jaz Vol 3 No 1 (2021): June
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Dan Sains Al-Ishlah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53563/ai.v3i1.46

Abstract

Maqa>s}id Al-Shari>‘ah yang dikembangkan oleh Al-Syatibi merupakan penggabungan dari ide-ide maqa>s}id dengan teori usul fikih lama. Hal ini terdapat pada karyanya al-muawafaqat yang mana menjelaskan mengenai pembagian maqa>s}id menjadi dua bagian yakni maksud sha>ri‘ dan maksud mukalaf. Maqa>s}id klasik lebih mengarah pada individual, kaku, sempit, dan hierarkis. Berbeda halnya dengan Jasser Auda yang mengembangkan Maqa>s}id dengan pendekatan sistem dan membagi hukum Islam menjadi fitur cognition, wholeness, opennes, interrelated -hierarchy, multidimensionality, dan porposefulness. Kedua pandangan di atas dari segi klasik dan kontemporer memiliki perbedaan yang mana maqa>s}id klasik berpola perlindungan dan penjagaan, sedangkan maqa>s}id kontemporer yang digagas oleh Jasser Auda berpola pembangunan dan hak-hak manusia.
Memahami Relasi Mutlaq dan Muqayyad dalam Tafsir Al Quran Hidayatul Munawaroh
Jurnal Al I'jaz Vol 3 No 1 (2021): June
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Dan Sains Al-Ishlah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53563/ai.v3i1.47

Abstract

Lafaz-lafaz dalam Al Quran ada yang bermakna umum general. Ada yang bermakna khusus spesifik. Kompetensi dasar menentukan mana yang general dan mana yang spesifik sungguh dibutuhkan dalam tafsir Al Quran. Mengingat Al Quran adalah rujukan yuresprudensi Islam, maka kompetensi dasar ini menjadi mutlak. Perbedaan menentukan mutlaq dan muqoyyag kadang pula terjadi yang lalu menimbulkan perbedaan tafsir. Berbagai pola bentuk mutlaq dan muqayyad ada dalam gramatika Al Quran.Tentu saja mutlaq dan muqayyad adalah salah satu aspek saja dalam kaidah atau gramatika kompetensi dasar penafsiran Al Quran. Hanya dengan memahami aspek ini jelas tidak cukup. Namun tanpa memahami kompetensi ini juga berakibat pada misinterpretasi yang fatal.Dalam kajian mutlaq dan muqayyad, ada bentuk-bentuk relasi untuk menarik kesimpulan dari nash-nash yang berbentuk mutlaq dan muqayyad. Pertama, sebab dan hukumnya sama. Kedua, sebab dan hukumnya berbeda. Ketiga, sebab berbeda, tetapi hukum sama. Keempat, sebab sama tapi hukum berbeda.
Jihad dan Terorisme dalam Al-Qur’an Perspektif Maqasid Syari’ah Azzam Musoffa
Jurnal Al I'jaz Vol 3 No 1 (2021): June
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Dan Sains Al-Ishlah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53563/ai.v3i1.48

Abstract

Islamofobia menjadi perbincangan di dunia barat di mana karena gencarnya pengusung paham tersebut dalam penyebarannya menimbulkan ketakutan bagi warga mereka sendiri terhadap umat Islam sebagai minoritas di sana dan akhirnya menimbulkan diskriminasi bagi umat Islam. Anggapan bahwa jihad sebagai salah satu sumber permasalahan sering diperbincangkan dan diyakini sebagai awal dari segala teror menjadi titik awal penelitian ini. Penulis setelah mencari lebih dalam tentang syariat jihad dan wujud terorisme dalam Islam kemudian mendapati ada perbedaan besar antara pengertian jihad yang diyakini oleh pengusung islamofobia dan jihad yang sudah disyariatkan dalam Islam yang mengacu pada sumber aslinya. Kesimpulan tersebut didasari pada penemuan bahwa jihad dalam islam memiliki wajah yang humanis dan mengutamakan prinsip kehidupan secara umum yaitu turut menjaga keberlangsungan hidup manusia dengan prinsip keadilannya dan bahkan menjaga kelestarian alam meskipun dalam keadaan berperang
Kosa Kata Kebaikan dalam Al Quran : (Analisis Makna Kata al-Khair, al-Tayyib, dan al-Hasanah) Zainal Arif; Adi Abdurrahman; Zulfitria Zulfitria
Jurnal Al I'jaz Vol 3 No 1 (2021): June
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Dan Sains Al-Ishlah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53563/ai.v3i1.49

Abstract

Kata-kata yang memiliki makna sinonimi dalam bahasa Arab banyak ditemukan dalam tulisan maupun percakapan sehari-hari. Seperti kata ‘baik’ atau ‘kebaikan’ yang dalam bahasa Arab bisa digunakan dengan kata????? /al-khair/, ??????/at-tayyib/, dan ??????/al-h}asanah/. Tetapi dalam Al-Qur’an penggunaan ketiga kata tersebut selalu dimaksudkan untuk kondisi dan keadaan yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komponen makna dan relasi makna kata ????? /al-khair/, ??????/at-tayyib/, dan ?????? /al-h}asanah/ dalam Al-Qur’an. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Al-Qur’an Al-Furqan dan tafsirnya edisi bahasa indonesia mutakhir karya A. Hassan, cetakan maret 2010. Hasil penelitian dari analisis data menunjukkan bahwa tiga kata tersebut memiliki relasi makna sinonimi dalam kehidupan sehari-hari yaitu bermakna baik, namun dalam Al-Qur’an Karim fungsinya tidak dapat saling menggantikan satu sama lain. Dari data yang terkumpul kata ????? /al-khair/ dan derivasinya terdapat 192 kata, kata ?????? /at-tayyibdan derivasinya sebanyak 46 kata, dan kata ?????? /al-h}asanah/ dan derivasinya sebanyak 194 dengan masing-masing memiliki komponen makna yang khas dalam setiap penggunaannya.
Pemikiran Etika Sufistik Al-Ghazali: Langkah-Langkah Memoderasi Akhlak Umar Faruq Tohir
Jurnal Al I'jaz Vol 3 No 1 (2021): June
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Dan Sains Al-Ishlah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53563/ai.v3i1.50

Abstract

Pemikiran etik-sufistik al Ghazali bisa ditafsirkan dalam kerangka moderasi akhlak berbasis agama di Indonesia yang majmuk. Untuk membangun atau men-set up moderasi yang tepat dan lugas di bumi Indonesia atau di tubuh muslim Indonesia. Pendekatan etika sufistik al Ghazali bsa menjadi opsi yang adekuat. Untuk melihat atau memantau lanskap pemikiran etis al Ghazali ini bisa disusur dari biografinya, dari corak pemikirannya yang kontradiktif dengan pemikiran-pemikiran ilmiahnya sendiri. Menurut al-Ghazali, akhlak bukanlah pengetahuan (marifah) semata tentang baik dan jahat maupun qudrat untuk baik dan buruk. Akhlak bukan pula pengalaman (fi’l) yang baik dan jelek, melainkan suatu keadaan jiwa yang mantap (hay’ah râsikhah fî al-nafs). Ia mendefinisikan akhlak sebagai suatu kemantapan jiwa yang menghasilkan perbuatan atau pengamalan dengan mudah, tanpa harus direnungkan dan disengaja. Ini artinya aklak bersifat spontan. Lalu arah pemikirannya menerobos menjadi evolusi pemikiran al Ghzali. Ada empat kelompok aliran Islam yang menjadi sasaran kritik al-Ghazali pada saat itu, yaitu: kelompok teolog Islam, filosof, aliran Syi'ah Bathiniyah, dan kelompok sufisme. Perlu juga dipahami secara mendalam konsep etika al Ghzali. Poros etika al Ghazali di antarannya terletak pada konsep keseimbangan dan langkah-langkah peningktan akhlak. Sesuai dengan inti persoalan, al-Ghazali menamakan etikanya ilmu menuju akhirat (‘ilm tharîq al-akhîrah) atau jalan yang dilalui para nabi dan leluhur saleh (al-salaf al-shâlih). Ia juga menamakannya ilmu pengamalan agama (‘ilm al-mu’âmalah), Sebagai tambahan pemahaman adalah pengertian tentang induk ahlak buruk manusia, metode mendapatkan akhlak baik bagi manusia. Di dalamnya upaya atau strategi peningkatan akhlak manusia. Etika al-Ghazali bersifat religius-sufi. Dengan demikian simpulan pendapatnya, etika ialah pengkajian tentang keyakinan religius tertentu (i’tiqâdât), dan tentang kebenaran atau kesalahan dalam amal untuk diamalkan, dan bukan demi pengetahuan belaka.

Page 1 of 1 | Total Record : 7