cover
Contact Name
Ekasatya Aldila Afriansyah
Contact Email
ekafrian@gmail.com
Phone
+628979550972
Journal Mail Official
plusminus@institutpendidikan.ac.id
Editorial Address
Jalan Terusan Pahlawan No 32, Sukagalih, Tarogong Kidul, Garut, Jawa Barat, Indonesia
Location
Kab. garut,
Jawa barat
INDONESIA
Plusminus: Jurnal Pendidikan Matematika
ISSN : 27982904     EISSN : 27982920     DOI : -
Core Subject : Education,
Plusminus: Jurnal Pendidikan Matematika (p-ISSN: 2798-2904 & e-ISSN: 2798-2798) mempublikasikan artikel ilmiah hasil penelitian dalam bidang pendidikan matematika yang belum pernah dipublikasikan. Penulis dapat berasal dari berbagai level, seperti mahasiswa (S1, S2, S3), guru, dosen, praktisi, maupun pemerhati pendidikan matematika. Plusminus terbit tiga kali dalam satu tahun, yaitu pada bulan Maret, Juli, dan November. Penerbit Plusminus adalah Program Studi Pendidikan Matematika Institut Pendidikan Indonesia.
Articles 343 Documents
Perbandingan Kemampuan Koneksi Matematis Siswa antara Model Pembelajaran Discovery Learning dan Ekspositori Istiqomah, Qoriah; Nurulhaq, Cici
Plusminus: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 1 No. 1 (2021): Maret
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/plusminus.v1i1.884

Abstract

Masalah dalam penelitian ini yaitu pembelajaran matematika yang masih berpusat pada guru. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah kemampuan koneksi matematis siswa yang mendapat model pembelajaran Discovery Learning lebih baik dibandingkan dengan siswa yang mendapatkan pembelajaran ekspositori. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuasi eksperimen. Populasinya adalah seluruh siswa kelas X MIA SMAN 6 Garut tahun ajaran 2016/2017, sedangkan sampelnya yaitu kelas X MIA 1 sebagai kelas eksperimen dan kelas X MIA 2 sebagai kelas kontrol. Instrumen yang digunakan untuk mengukur kemampuan koneksi matematis siswa dalam pembelajaran matematika adalah tes tertulis berupa uraian dan non tes berupa angket. Dari hasil analisis data diperoleh kesimpulan : kemampuan koneksi matematis siswa yang mendapat model pembelajaran Discovery Learning lebih baik dibandingkan dengan siswa yang mendapatkan pembelajaran ekspositori, peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa yang mendapatkan model pembelajaran Discovery Learning berinterpretasi tinggi, sikap siswa terhadap pembelajaran matematika dengan menggunakan model pembelajaran Discovery Learning berinterpretasi baik. The problem in this research is mathematics learning which is still teacher-centered. The purpose of this study was to determine whether the mathematical connection ability of students who received the Discovery Learning learning model was better than students who received expository learning. The method used in this study is quasi-experimental. The population is all students of class X MIA SMAN 6 Garut in the academic year 2016/2017, while the sample is class X MIA 1 as the experimental class and class X MIA 2 as the control class. The instrument used to measure students' mathematical connection skills in learning mathematics was a written test in the form of a description and a non-test in the form of a questionnaire. From the results of data analysis, it was concluded that the mathematical connection ability of students who received the Discovery Learning learning model was better than students who received expository learning, increased mathematical connection skills of students who received high-interpretation Discovery Learning learning models, students' attitudes towards learning mathematics using the learning model Discovery Learning has a good interpretation.
Kesulitan Belajar Siswa SMP mengenai Kemampuan Koneksi Matematis pada Materi Statistika Permatasari, Rani; Nuraeni, Reni
Plusminus: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 1 No. 1 (2021): Maret
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/plusminus.v1i1.885

Abstract

Penelitian ini untuk menganalisis kesulitan belajar siswa SMP mengenai kemampuan koneksi matematis pada materi Statistika, menganalisis kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal dan mengetahui faktor penyebab siswa mengalami kesulitan belajar. Subjek penelitian adalah siswa SMP kelas IX sebanyak 7 orang. Jenis penelitiannya deskriptif kualitatif. Data diperoleh dari tes tertulis dan wawancara. Hasil penelitian yaitu siswa dengan kemampuan koneksi matematis tinggi tidak mengalami kesulitan belajar konsep, prinsip dan masalah verbal hanya terdapat kesalahan encoding error dalam mengerjakan soal, siswa dengan kemampuan koneksi matematis sedang sedikit mengalami kesulitan belajar konsep dan prinsip serta melakukan kesalahan transformation error, process skills error, dan encoding error; siswa dengan kemampuan koneksi matematis rendah mengalami kesulitan belajar konsep, prinsip dan masalah verbal serta melakukan kesalahan di semua aspek. Penyebab kesulitan belajar dan kesalahan siswa saat mengerjakan soal yaitu tidak menyukai matematika, malas belajar, guru mengajar terlalu cepat, kelas tidak kondusif, perhatian keluarga, teman pergaulan yang tidak mendukung. This study is to analyze the learning difficulties of junior high school students regarding the mathematical connection ability of the statistics material, to analyze students' errors in solving questions and to find out the factors that cause students to experience learning difficulties. The research subjects were 7 students of grade IX in junior high school. This type of research is descriptive qualitative. Data obtained from written tests and interviews. The results showed that students with high mathematical connection skills did not have difficulty learning concepts, principles and verbal problems, there were only encoding errors in working on questions, students with moderate mathematical connection skills had a little difficulty learning concepts and principles and made transformation errors, process skills errors. , and encoding errors; students with low mathematical connection skills have difficulty learning concepts, principles and verbal problems and make mistakes in all aspects. The causes of learning difficulties and mistakes of students when working on questions are disliking mathematics, lazy learning, teachers teaching too fast, class is not conducive, family attention, unsupportive friends.
Perbandingan Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa antara Problem Based Learning dan Inquiry Learning Putri, Neng Intan Purnama; Sundayana, Rostina
Plusminus: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 1 No. 1 (2021): Maret
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/plusminus.v1i1.887

Abstract

Keterampilan komunikasi matematis merupakan keterampilan dasar yang harus dimiliki siswa. Fakta menunjukkan bahwa kemampuan komunikasi matematis siswa masih rendah. Diperlukan upaya untuk meningkatkan kemampuan komunikasi matematis, antara lain model Problem Based Learning dan model Pembelajaran Inkuiri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan kemampuan komunikasi matematis siswa dengan model Pembelajaran Berbasis Masalah dan model Pembelajaran Inkuiri, menganalisis kualitas peningkatan, dan menganalisis sikap siswa terhadap kedua model tersebut. Metode penelitian adalah eksperimen semu. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X salah satu SMA Negeri di Garut, dengan sampel sebanyak 34 siswa di kelas X MIPA 8 sebagai model Problem Based Learning dan 34 siswa di kelas X MIPA 9 dengan model Pembelajaran Inkuiri. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa kemampuan komunikasi matematis siswa dengan model Problem Based Learning lebih baik daripada model Pembelajaran Inkuiri, kualitas peningkatan keterampilan komunikasi matematis siswa dengan model Problem Based Learning tinggi dan model Pembelajaran Inkuiri sedang. dan respon siswa terhadap model Problem Based Learning cukup dan model Pembelajaran Inkuiri baik. Mathematical communication skills are the basic skills that students must have. The facts show that students' mathematical communication skills are still low. Efforts are needed to improve mathematical communication skills, including the Problem Based Learning model and the Inquiry Learning model. This study aims to analyze the comparison of students 'mathematical communication skills with the Problem Based Learning model and the Inquiry Learning model, to analyze the quality of the improvement, and to analyze the students' attitudes towards the two models. The research method is quasi-experimental. The population was all students of class X one of the public high schools in Garut, with a sample of 34 students in class X MIPA 8 as the Problem Based Learning model and 34 students in class X MIPA 9 with the Inquiry Learning model. The research concludes that students 'mathematical communication skills with the Problem Based Learning model are better than the Inquiry Learning model, the quality of the improvement in students' mathematical communication skills with the Problem Based Learning model is high and the Inquiry Learning model is moderate, and the student's response to the Problem Based Learning model is sufficient and the Inquiry Learning model is good.
Perbandingan Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Siswa antara Model Pembelajaran GI dan PBL Sutarsa, Dessy Arisya; Puspitasari, Nitta
Plusminus: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 1 No. 1 (2021): Maret
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/plusminus.v1i1.888

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi rendahnya kualitas pendidikan matematika di Indonesia terutama terhadap kemampuan berpikir tingkat tinggi. Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa yaitu model pembelajaran Group Investigation (GI) dan Problem Based Learning (PBL). Penelitian berbentuk kuasi eksperimen dengan desain The Static Group Pretest-Posttest Design. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMA Negeri 1 Garut. Sampel penelitiannya yaitu kelas XI MIPA 1 yang mendapatkan model pembelajaran Group Investigation, kelas XI MIPA 2 yang mendapatkan model pembelajaran Problem Based Learning. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa kemampuan berpikir kritis matematis siswa dan peningkatannya antara yang mendapatkan model pembelajaran Group Investigation lebih baik dibandingkan dengan model pembelajaran Problem Based Learning. This research is motivated by the low quality of mathematics education in Indonesia, especially for higher order thinking skills. One learning model that can be applied to improve student's critical thinking skills is the Group Investigation (GI) and Problem Based Learning (PBL) learning model. This research was a quasi-experimental study with the design of The Static Group Pretest-Posttest Design. The population in this study were students of SMA Negeri 1 Garut. The research sample is class XI MIPA 1 who gets the Group Investigation learning model, class XI MIPA 2 who gets the Problem Based Learning learning model. The results of this study indicate that the students' mathematical critical thinking skills and the increase between those who get the Group Investigation learning model are better than the Problem Based Learning learning model.
Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa SMP Kelas VIII di Kampung Cigulawing Ismayanti, Sri; Sofyan, Deddy
Plusminus: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 1 No. 1 (2021): Maret
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/plusminus.v1i1.889

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kemampuan komunikasi matematis siswa yang masih rendah. Tujuan penelitian untuk memperoleh deskripsi kemampuan komunikasi matematis siswa kelas VIII pada pembelajaran matematika. Metode penelitiannya deskriptif kualitatif. Subjek penelitian adalah 4 siswa kelas VIII SMP Negeri 7 Garut. Hasil penelitian menunjukkan (1) Kemampuan komunikasi matematis siswa pada materi Penyajian Data kelas VIII SMP Negeri 7 Garut di Kampung Cigulawing, secara umum dikatakan kurang baik. Dikarenakan sebagian besar siswa belum mampu memenuhi semua indikator; (2) Siswa dengan kemampuan matematika tinggi mampu mencapai hampir seluruh indikator kemampuan komunikasi matematika; (3) Siswa dengan kemampuan matematika sedang kurang menguasai beberapa indikator kemampuan komunikasi matematis; (4) Siswa dengan kemampuan matematika rendah belum mampu menguasai indikator kemampuan komunikasi matematis. This research is motivated by the students' low mathematical communication skills. The research objective was to obtain a description of the students' mathematical communication skills in class VIII in mathematics learning. The research method is descriptive qualitative. The research subjects were 4 grade VIII students of SMP Negeri 7 Garut. The results showed (1) the students' mathematical communication skills in the data presentation material of class VIII SMP Negeri 7 Garut in Cigulawing Village, were generally said to be less good. Because most students have not been able to meet all the indicators; (2) Students with high mathematical abilities can achieve almost all indicators of mathematical communication skills; (3) Students with moderate mathematical abilities have not mastered several indicators of mathematical communication skills; (4) Students with low math abilities have not been able to master the indicators of mathematical communication skills.
Upaya Meningkatkan Pemahaman Konsep Geometri Ruang pada Pembelajaran Daring dengan Model Discovery learning Wulandari, Retno; Suwarto; Novaliyosi
Plusminus: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 1 No. 2 (2021): Juli
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/plusminus.v1i2.895

Abstract

Online learning atau yang disebut pembelajaran daring merupakan pembelajaran yang membutuhkan jaringan internet dengan memanfaatkan aplikasi sepertimedia social, google classroom, google meet, zoom. Proses pembelajaran yang menitikberatkan peserta didik untuk dapat menyelesaikan pemecahan masalah, guna mengembangkan pengetahuan dan keterampilan merupakan model pembelajaran discovery learning. Penelitian ini bermaksud untuk menganalisis proses pembelajaran yang dilakukan secara daring dengan model pembelajaran discovery learnig. Kesimpulan yang didapat adalah penggunaan belajar secara daring masih mengalami kendala, seperti jaringan internet yang tidak stabil, kesulitan siswa dalam bergabung dengan google meet, kurang disiplin siswa dalam mengaktifkan kamera. Walaupun memiliki kendala dalam pembelajaran daring namun model pembelajaran discovery learning dapat diterapkan dengan baik, hal ini terlihat dari hasil pekerjaan siswa dalam menjawab soal dengan baik. Online learning or what is called online learning is learning that requires an internet network by utilizing applications such as social media, google classroom, google meet, zoom. The learning process that focuses on students being able to solve problem-solving, to develop knowledge and skills is a discovery learning model. This study intends to analyze the online learning process using the discovery learning model. The conclusion obtained is that the use of online learning is still experiencing problems, such as unstable internet networks, difficulties for students in joining google meet, lack of student discipline in activating the camera. Although it has obstacles in online learning, the discovery learning model can be applied well, this can be seen from the results of students' work in answering questions well.
Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa SMP pada Topik Penyajian Data di Pondok Pesantren Purnamasari, Ai; Afriansyah, Ekasatya Aldila
Plusminus: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 1 No. 2 (2021): Juli
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/plusminus.v1i2.896

Abstract

Siswa tidak mempunyai keberanian untuk bertanya ketika menemukan masalah yang sulit, karna itu kemampuan komunikasi matematis siswa sangat penting untuk dimiliki. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh keterangan lebih lanjut tentang kemampuan komunikasi matematis siswa. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Subjek penelititan ini adalah 4 siswa kelas VII di Pondok Pesantren At-Taufik Ciucing. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah tes, wawancara, dan observasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan kondisi akhir dari kemampuan komunikasi matematis siswa, yaitu: indikator pertama sebesar 81,25% artinya sebagian kecil siswa tidak dapat merepresentasikan permasalahan yang dihadapi; indikator kedua sebesar 62,75% artinya sebagian besar siswa mengalami kesulitan dalam hal menjelaskan ide permasalahan secara lisan ataupun tulisan; indikator ketiga sebesar 93,75% artinya hampir semua siswa dapat melukiskan permasalahan pada suatu gambar/diagram; dan indikator keempat sebesar 62,5% artinya sebagian besar siswa mengalami kesulitan dalam hal ini. Students do not dare to ask questions when they find difficult problems, therefore students' mathematical communication skills are very important to have. This study aims to obtain further information about students' mathematical communication skills. The research method used is qualitative research. The subjects of this research were 4 students of class VII at Pondok Pesantren At-Taufik Ciucing. Data collection techniques used are tests, interviews, and observation. Data analysis techniques used are data reduction, data presentation, and concluding. The results of this study indicate the final conditions of students' mathematical communication skills, namely: the first indicator is 81.25%, meaning that a small number of students cannot represent the problems they face; the second indicator of 62.75% means that most students have difficulty in explaining problem ideas orally or in writing; the third indicator of 93.75% means that almost all students can describe the problem on a picture/diagram; the fourth indicator of 62.5% means that most students have difficulty in this matter.
Penerapan Model Pembelajaran Problem Posing dan Direct Instruction dalam Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa Iswara, Eris; Sundayana, Rostina
Plusminus: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 1 No. 2 (2021): Juli
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/plusminus.v1i2.897

Abstract

Penelitian dilatarbelakangi pada permasalahan rendahnya kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Sebagai alternatif pemecahan permasalahan, dilakukan penelitian dengan penerapan model pembelajaran Problem Posing dan Direct Instruction dalam pembelajaran matematika. Tujuan penelitian menganalisis peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang belajar dengan model pembelajaran Problem Posing dan Direct Instruction. Metode penelitian yang digunakan adalah kuasi eksperimen dengan populasi seluruh siswa kelas XI SMA Negeri di Garut. Sampel dipilih berdasarkan teknik purposive sampling, dan diperoleh dua kelas sebagai sampel penelitian. Instrumen penelitian yang digunakan adalah tes kemampuan pemecahan masalah matematis. Berdasarkan hasil analisis secara statistik diperoleh kesimpulan bahwa peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang belajar dengan model pembelajaran Problem Posing lebih baik dari model pembelajaran Direct Instruction. Model pembelajaran Problem Posing direkomendasikan untuk mengembangkan kemampuan pemecahan matematis siswa. The research was motivated by the problem of the low mathematical problem-solving ability of students. As an alternative to solving problems, research was conducted by applying the Problem Posing and Direct Instruction learning model in learning mathematics. The purpose of this research is to analyze the improvement of students' mathematical problem-solving abilities who study with Problem Posing and Direct Instruction learning models. The research method used is quasi-experimental with a population of all students of class XI SMA Negeri in Garut. The sample was selected based on the purposive sampling technique, and two classes were obtained as research samples. The research instrument used was a mathematical problem-solving ability test. Based on the results of statistical analysis, it was concluded that the improvement of students' mathematical problem-solving abilities who studied with the Problem Posing learning model was better than the Direct Instruction learning model. The Problem Posing learning model is recommended to develop students' mathematical solving abilities.
Kesulitan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa SMP di Desa Mulyasari pada Materi Statistika Nugraha, Moch Robbi; Basuki
Plusminus: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 1 No. 2 (2021): Juli
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/plusminus.v1i2.898

Abstract

Setiap hari kita dihadapkan dengan berbagai permasalahan yang menuntut kemampuan pemecahan masalah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kesulitan yang dialami siswa SMP dalam memecahkan masalah pada materi statistika. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data menggunakan observasi, tes kemampuan pemecahan masalah, dan wawancara. Analisis data melalui beberapa tahap pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas VIII dan IX yang berada di Desa Mulyasari Kecamatan Bayongbong Kabupaten Garut. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kesulitan yang dialami oleh siswa adalah: 1) menyajikan laporan statistik secara lisan, tertulis, tabel, diagram, dan grafik; 2) membuat pemodelan matematika; 3) menerapkan strategi untuk memecahkan masalah; 4) menarik kesimpulan; 5) memeriksa kembali jawaban. Faktor yang mempengaruhi kesulitan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa, antara lain: 1) kurangnya keterampilan dalam merencanakan penyelesaian; 2) siswa tidak melakukan pemeriksaan kembali; 3) hilangnya motivasi belajar; 4) tidak percaya diri; 5) penerapan model pembelajaran yang kurang tepat. Every day we are faced with various problems that require problem-solving skills. The purpose of this study was to analyze the difficulties experienced by junior high school students in solving statistical problems. This research is a qualitative descriptive study with data collection techniques using observation, problem-solving ability tests, and interviews. Data analysis went through several stages of data collection, data reduction, data presentation, and drawing conclusions. This research was conducted on students in grades VIII and IX in Mulyasari Village, Bayongbong District, Garut Regency. The results of this study indicate that the difficulties experienced by students are: 1) presenting statistical reports orally, in writing, tables, diagrams, and graphs; 2) make mathematical modeling; 3) apply strategies to solve problems; 4) draw conclusions; 5) recheck the answers. Factors that affect the difficulty of students' mathematical problem-solving abilities, among others: 1) lack of skills in planning solutions; 2) students do not re-examine; 3) loss of motivation to learn; 4) not confidence; 5) the application of an inappropriate learning model.
Perbedaan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis dan Self-Confidence Siswa antara Model TPS dan PBL Lesi, Alpia Nadia; Nuraeni, Reni
Plusminus: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 1 No. 2 (2021): Juli
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/plusminus.v1i2.899

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya kemampuan pemecahan masalah matematis. Terdapat aspek penting lain juga yaitu self-confidence (kepercayaan diri), menjadi salah satu sikap yang mendapatkan perhatian. Model pembelajaran yang diduga dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis dan Self-cofidence pada siswa adalah model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share dan Problem Based Learning. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kemampuan pemecahan masalah matematis dan self-confidence antara siswa yang mendapatkan model TPS dan PBL. Metode penelitiannya adalah kuasi eksperimen dengan populasi seluruh siswa kelas X MAN 2 Garut. Sampel penelitian sebanyak dua kelas yaitu kelas X MIA-1 sebanyak 29 siswa dan kelas X MIA-3 sebanyak 31 siswa. Instrumen penelitian berupa tes uraian kemampuan pemecahan masalah dan angket self-confidence. Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan pencapaian dan peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis antara siswa yang mendapatkan model TPS dan PBL. Interpretasi self-confidence siswa model TPS dan PBL berada pada kategori cukup. This research is motivated by the low ability to solve mathematical problems. There is also another important aspect, namely self-confidence, which is one of the attitudes that get attention. The learning model that is supposed to be used to improve students' mathematical problem-solving skills and self-confidence is the Think Pair Share and Problem Based Learning cooperative learning model. This study aims to determine the differences in mathematical problem-solving abilities and self-confidence between students who received the TPS and PBL models. The research method is quasi-experimental with the entire population of class X MAN 2 Garut. The research sample consisted of two classes, namely class X MIA-1 as many as 29 students and class X MIA-3 as many as 31 students. The research instrument is a description of the problem-solving ability test and a self-confidence questionnaire. The results of the analysis showed that there was no difference in the achievement and improvement of mathematical problem-solving abilities between students who received the TPS and PBL models. The students' self-confidence interpretation of the TPS and PBL models is in the sufficient category.