cover
Contact Name
Ekasatya Aldila Afriansyah
Contact Email
ekafrian@gmail.com
Phone
+628979550972
Journal Mail Official
plusminus@institutpendidikan.ac.id
Editorial Address
Jalan Terusan Pahlawan No 32, Sukagalih, Tarogong Kidul, Garut, Jawa Barat, Indonesia
Location
Kab. garut,
Jawa barat
INDONESIA
Plusminus: Jurnal Pendidikan Matematika
ISSN : 27982904     EISSN : 27982920     DOI : -
Core Subject : Education,
Plusminus: Jurnal Pendidikan Matematika (p-ISSN: 2798-2904 & e-ISSN: 2798-2798) mempublikasikan artikel ilmiah hasil penelitian dalam bidang pendidikan matematika yang belum pernah dipublikasikan. Penulis dapat berasal dari berbagai level, seperti mahasiswa (S1, S2, S3), guru, dosen, praktisi, maupun pemerhati pendidikan matematika. Plusminus terbit tiga kali dalam satu tahun, yaitu pada bulan Maret, Juli, dan November. Penerbit Plusminus adalah Program Studi Pendidikan Matematika Institut Pendidikan Indonesia.
Articles 343 Documents
Bahasa Matematis dalam Penentuan Waktu Siang - Malam menurut Tradisi Sunda Muhtadi, Dedi; Rochmad; Isnarto
Plusminus: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 1 No. 2 (2021): Juli
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/plusminus.v1i2.900

Abstract

Tasikmalaya merupakan wilayah Tatar Sunda yang julukannya sebagai: “Sang Mutiara Priangan Timur”, memiliki peran penting di Provinsi Jawa Barat Selatan. Peran ini sangat berpengaruh terhadap potensi masyarakat, termasuk di bidang kebudayaan. Namun seiring dengan perkembangan zaman, budaya tersebut kurang dikenal oleh generasi muda saat ini. Tujuan dari penelitian adalah untuk melestarikan budaya masyarakat Sunda khususnya di Tasikmalaya agar budaya tersebut tetap terjaga. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi yang bersumber dari studi literatur, observasi lapangan dan wawancara dengan seorang ahli budaya Sunda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat bahasa matematis dalam penentuan waktu sehari semalam yang digunakan oleh masyarakat Sunda di Tasikmalaya dan hal itu dapat menjadi sebagai titik tolak untuk acuan dalam pembelajaran matematika. Tasikmalaya is a Sundanese region whose nickname is: "The Pearl of East Priangan", an important role in South West Java Province. This role is very influential on the potential of the community, including in the field of culture. But along with the times, this culture is less well known by today's young generation. The purpose of this research is for the culture of the Sundanese people, especially in Tasikmalaya so that the culture is maintained. This study uses a qualitative approach with an ethnographic approach derived from literature studies, field observations and interviews with a Sundanese cultural expert. The results of the study indicate that there is a mathematical language in the right time of day and night that is used by the Sundanese people in Tasikmalaya and it can be a starting point to be used as a reference in learning mathematics.
Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis ditinjau dari Self-Confidence Siswa pada Materi Aljabar dengan Menggunakan Pembelajaran Daring Rosmawati, Rd. Rina; Sritresna, Teni
Plusminus: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 1 No. 2 (2021): Juli
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/plusminus.v1i2.901

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimanakah kemampuan dalam memahami konsep matematis pada materi aljabar dengan menggunakan pembelajaran daring di Kecamatan Malangbong. Sumber data diambil 6 orang untuk meneliti self-confidence siswa dan 3 sampel di ambil berdasarkan teknik purposive sampling yaitu teknik pengambilan sampel dengan menentukan kriteria-kriteria tertentu yaitu berdasarkan kategori self-confidence tinggi, sedang, dan rendah. Analisis data pada penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis studi kasus. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu siswa kelas VII dan VIII yang sudah mempelajari materi aljabar. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan angket, tes tertulis, dan wawancara yang dibutuhkan untuk memperoleh data pendukung. Dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa siswa dengan self-confidence tinggi lebih baik di bandingkan dengan self-confidence sedang atau rendah dalam memahami konsep matematis. This study aims to determine how the ability to understand mathematical concepts in algebraic material using online learning in Malangbong District. 6 people are taken to examine students’ self-confidence. And 3 samples were taken based on the purposive sampling technique, namely the sampling technique by determining certain criteria, namely based on the high, medium, and low self-confidence categories. Data analysis in this study used a qualitative method with a case study analysis approach. Sources of data used in this study are students of class VII and VIII who have studied algebraic material. The data collection technique used in this study is to use a self-confidence questionnaire, a written test, and interviews needed to obtain supporting data. From the results of this study, it was found that students with high self-confidence were better than those with moderate or low self-confidence in understanding mathematical concepts.
Perbandingan Kemampuan Pemahaman Matematis Siswa melalui Mood-Understand-Recall-Digest-Expand-Review dan Discovery Learning Silviana, Devi; Mardiani, Dian
Plusminus: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 1 No. 2 (2021): Juli
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/plusminus.v1i2.902

Abstract

Dalam pembelajaran matematika pemahaman merupakan hal yang sangat penting dan merupakan langkah dasar dalam proses pembelajaran. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui kemampuan dan peningkatan pemahaman matematis siswa yang mendapatkan model pembelajaran Mood–Understand-Recall-Digest-Expand-Review (MURDER) dan yang mendapatkan model pembelajaran Discovery Learning. Penelitian ini merupakan penelitian kuasi eksperimen di SMP Negeri 1 Cisurupan kelas VII dengan sampel dua kelas, yaitu kelas VII F sebagai kelas eksperimen dengan menggunakan MURDER dan kelas VII G dengan menggunakan Discovery Learning, serta materi yang diajarkan mengenai bangun datar segi empat. Analisis data dilakukan dengan uji normalitas dan statistic nonparametric. Berdasarkan hasil analisis, kemampuan pemahaman matematis siswa antara yang mendapatkan model pembelajaran MURDER lebih baik dari pada siswa yang mendapatkan model pembelajaran Discovery Learning. Peningkatan pemahaman matematis siswa terhadap model pembelajaran MURDER dengan model pembelajaran Discovery Learning yaitu tinggi – sedang. Students’ mathematical understanding is still low, so it is needed model learning that helps students to be active and creative in learning; including the Mood–Understand-Recall-Digest-Expand-Review (MURDER) learning model with the Discovery Learning learning model. The purpose of this study is to determine the ability and increase of mathematical understanding of students who get the MURDER learning model and those who get the Discovery Learning learning model. This research is a quasi-experimental study in Cisurupan State Middle 1 class VII with a sample of two classes, namely class VII F as an experimental class using MURDER and VII G classes using the model Discovery Learning, as well as the material taught about rectangular flat builds. Data analysis was performed with normality tests and non-parametric statistics. Based on the results of the analysis, the ability of students' mathematical understanding between those who get the learning model MURDER is better than students who get the Discovery Learning learning model. Increasing students' mathematical understanding of the MURDER learning model with the Discovery Learning model, which is high - medium.
Kemampuan Representasi Matematis Siswa Melalui Model Problem Based Learning dan Probing Prompting Learning Silviana, Suwanti; Maryati, Iyam
Plusminus: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 1 No. 2 (2021): Juli
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/plusminus.v1i2.903

Abstract

Kemampuan representasi matematis siswa rendah. Upaya meningkatkan kemampuan representasi matematis diantanya melakukan inovasi model pembelajaran. Tujuan penelitian untuk menganalisis perbedaan dan kualitas peningkatan kemampuan representasi matematis antara siswa yang mendapatkan model pembelajaran problem-based learning dengan probing prompting learning, beserta respon sikap siswa. Metode penelitian adalah kuasi eksperimen. Populasi adalah seluruh siswa kelas VIII salah satu SMP swasta di Garut tahun ajaran 2018/2019, sampelnya yaitu kelas VIII-A dan VIII-B. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan kemampuan representasi matematis antara siswa yang mendapatkan model pembelajaran problem-based learning dengan probing prompting learning, kualitas peningkatan kemampuan representasi matematis siswa kedua kelas berinterpretasi sedang, dan sikap siswa berinterpretasi baik. Model pembelajaran problem-based learning dengan probing prompting learning dapat digunakan dalam pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan representasi matematis. The students' mathematical representation ability is low. Efforts to improve mathematical representation skills include innovating learning models. The purpose of the study was to analyze the differences and quality of improvement in mathematical representation skills between students who received the problem-based learning model with probing prompting learning, along with student attitude responses. The research method is quasi-experimental. The population is all class VIII students of one of the private junior high schools in Garut for the 2018/2019 academic year, the samples are class VIII-A and VIII-B. The results showed that there were differences in the ability of mathematical representation between students who received the problem-based learning model with probing prompting learning, the quality of improving the mathematical representation ability of students in both classes had moderate interpretation, and students' attitudes had good interpretations. A problem-based learning model with probing prompting learning can be used in learning to improve mathematical representation abilities.
Kemampuan Representasi Matematis Siswa Melalui Model STAD dan TPS Agustina, Tri Budi; Sumartini, Tina Sri
Plusminus: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 1 No. 2 (2021): Juli
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/plusminus.v1i2.904

Abstract

Kemampuan representasi matematis siswa masih rendah. Upaya untuk meningkatkannya dengan menggunakan model STAD dengan TPS. Tujuan penelitian untuk menganalisis perbedaan kemampuan representasi matematis antara siswa yang mendapatkan model STAD dengan TPS. Metode penelitiannya yaitu kuasi eksperimen dengan populasinya adalah siswa kelas VII SMPN 2 Tarogong Kidul Garut. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling sebanyak dua kelas, yaitu kelas VII-F sebagai kelas eksperimen 1 dan VII-G sebagai kelas eksperimen 2, dengan banyaknya siswa yang lengkap mengikuti kegiatan mulai dari pretest, perlakuan, dan posttest untuk kelas eksperimen 1 sebanyak 32 siswa dan kelas eksperimen 2 sebanyak 32 siswa. Data yang dianalisis diperoleh dari hasil Pretest, Posttest, Gain Ternormalisasi dan penyebaran angket. Hasil penelitian diperoleh: 1) terdapat perbedaan kemampuan representasi matematis antara siswa yang mendapatkan model STAD dengan TPS, 2) interpretasi peningkatan kemampuan representasi matematis siswa kedua kelas berinterpretasi sedang, 3) sikap siswa kedua kelas terhadap masing-masing model pembelajaran berinterpretasi baik. Students' mathematical representation ability is still low. Efforts to improve it by using the STAD model with TPS. The purpose of the study was to analyze the differences in mathematical representation abilities between students who received the STAD and TPS models. The research method is quasi-experimental with the population being class VII students of SMPN 2 Tarogong Kidul Garut. Sampling was carried out by purposive sampling as many as two classes, namely class VII-F as experimental class 1 and VII-G as experimental class 2, with the number of complete students participating in activities ranging from pretest, treatment, and posttest for experimental class 1 as many as 32 students. and experimental class 2 as many as 32 students. The data analyzed were obtained from the results of Pretest, Posttest, Normalized Gain, and questionnaire distribution. The results obtained: 1) there are differences in the ability of mathematical representation between students who get the STAD model and TPS, 2) the interpretation of increasing the mathematical representation ability of students in both classes has a moderate interpretation, 3) the attitudes of students in both classes towards each learning model have good interpretation.
Studi Etnomatematika pada Candi Cangkuang Leles Garut Jawa Barat Nursyeli, Fitriyani; Puspitasari, Nitta
Plusminus: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 1 No. 2 (2021): Juli
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/plusminus.v1i2.905

Abstract

Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern dalam berbagai disiplin ilmu dan mampu mengembangkan daya pikir manusia. Banyak masyarakat yang tidak menyadari bahwa semakin berkembangnya zaman, ilmu matematika selalu digunakan sebagai alat bantu dalam penerapan semua bidang ilmu maupun dalam pengembangan matematika, sehingga hal itu yang menyebabkan matematika sulit dipahami, diperlukan adanya suatu pendekatan budaya atau yang biasa disebut etnomatematika. Salah satu bentuk etnomatematika yang menarik untuk dieksplorasi yaitu pada candi cangkuang. Candi cangkuang memiliki potensi yang bisa dimanfaatkan dikarenakan memiliki nilai historis yang sudah melekat dengan masyarakat, kontekstual dan bisa digunakan dalam memudahkan pemahaman terhadap matematika. Terkhusus pada bentuk dari bagian relief dan stupa candi cangkuang yang erat kaitannya dengan pembelajaran matematika. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa melalui etnomatematika pada candi cangkuang ini dapat ditemukan konsep matematika, khususnya pada materi geometri. Mathematics is a universal science that underlies the development of modern technology in various scientific disciplines, and it can develop human thinking. Many people do not realize that the development of times, mathematics is always used as a tool in the application of all fields of science and development of mathematics so that this is what makes mathematics difficult to understand, it is necessary to have a cultural approach or commonly called ethnomathematics. One form of ethnomathematics that is interesting to explore is the Cangkuang temple. Cangkuang temple has potential that can be exploited because it has historical values that are inherent in society, contextual, and can be used to facilitate understanding of mathematics. Especially in the shape of the relief and stupa of the Cangkuang temple which is closely related to mathematics learning. The results of this study indicate that through ethnomathematics in this Cangkuang temple, mathematical concepts can be found, especially in geometric material.
Kemampuan Koneksi Matematis Melalui Model Pembelajaran Connecting, Organizing, Reflecting, and Extending dan Means Ends Analysis Indriani, Nuri Dwi; Noordyana, Mega Achdisty
Plusminus: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 1 No. 2 (2021): Juli
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/plusminus.v1i2.906

Abstract

Kemampuan koneksi matematis siswa rendah. Upaya meningkatkan kemampuan koneksi matematis siswa diantaranya dengan menerapkan model pembelajaran yang menekankan keaktifan siswa seperti Connecting, Organizing, Reflecting, and Extending (CORE) dan Means Ends Analysis (MEA). Penelitian bertujuan mengkaji perbedaan peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa antara yang mendapatkan model pembelajaran CORE dengan MEA. Metode penelitian adalah kuasi eksperimen dengan populasi seluruh siswa kelas XI salah satu SMA Negeri di Garut. Sampel penelitian yaitu kelas XI MIPA 4 dan XI MIPA 5. Teknik pengumpulan data menggunakan tes uraian kemampuan koneksi matematis siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa antara yang mendapatkan model pembelajaran CORE dengan MEA, dengan kualitas peningkatan berinterpretasi sedang. Model pembelajaran CORE lebih baik dalam meningkatkan kemampuan koneksi matematis. The students' mathematical connection ability is low. Efforts to improve students' mathematical connection skills include applying learning models that emphasize student activity such as Connecting, Organizing, Reflecting, and Extending (CORE) and Means Ends Analysis (MEA). This study aims to examine the differences in the improvement of students' mathematical connection skills between those who received the CORE learning model and the MEA. The research method is quasi-experimental with a population of all students of class XI one of the Public SMA in Garut. The research sample is class XI MIPA 4 and XI MIPA 5. The data collection technique uses a description test of mathematical connection abilities and student attitude questionnaires. The results showed that there were differences in the improvement of students' mathematical connection skills between those who received the CORE and MEA learning models, with moderate improvement in interpreting quality. The CORE learning model is better at improving mathematical connection skills.
Peningkatan Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis Siswa dengan Model Think Pair Share dan Problem Based Learning Lestari, Ine; Luritawaty, Irena Puji
Plusminus: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 1 No. 2 (2021): Juli
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/plusminus.v1i2.907

Abstract

Kemampuan pemahaman konsep matematis masih rendah. Perlu upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut, diantaranya menggunakan model pembelajaran Think Pair Share dan Problem Based Learning. Penelitian dilakukan untuk mengetahui peningkatan dan kualitas peningkatan kemampuan pemahaman matematis siswa dengan kedua model pembelajaran tersebut. Metode penelitian adalah kuasi eksperimen dengan populasi seluruh siswa kelas VII salah satu SMP Negeri di Garut. Sampel dipilih secara acak yaitu kelas VII-G sebagai kelas eksperimen I dan kelas VII-H sebagai kelas eksperimen II. Instrumen berupa tes uraian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan dan kualitas peningkatan kemampuan pemahaman konsep matematis siswa yang mendapatkan model pembelajaran Think Pair Share lebih baik daripada Problem Based Learning. Model pembelajaran Think Pair Share lebih direkomendasikan untuk diterapkan dalam meningkatkan kemampuan pemahaman konsep matematis. The ability to understand mathematical concepts is still low. Efforts are needed to overcome these problems, including using the Think Pair Share and Problem Based Learning learning models. The research was conducted to determine the improvement and quality of the improvement in students' mathematical understanding abilities with the two learning models. The research method is quasi-experimental with a population of all seventh-grade students of one of the public junior high schools in Garut. Samples were chosen randomly, namely class VII-G as experimental class I and class VII-H as experimental class II. The instrument is a description test. The results showed that the improvement and quality of the improvement in the ability to understand mathematical concepts of students who received the Think Pair Share learning model was better than Problem Based Learning. Think Pair Share learning model is more recommended to be applied in improving the ability to understand mathematical concepts.
Peningkatan Kemampuan Representasi Matematis Siswa dengan Pembelajaran Berbasis Masalah Melalui Pendekatan Konstekstual dan Matematika Realistik Aisyah, Anggia Suci Nur; Madio, Sukanto Sukandar
Plusminus: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 1 No. 2 (2021): Juli
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/plusminus.v1i2.909

Abstract

Kemampuan representasi matematis masih rendah. Tujuan penelitian yaitu mengetahui perbedaan peningkatan kemampuan representasi matematis antara siswa yang mendapatkan model pembelajaran berbasis masalah melalui pendekatan kontekstual dan matematika realistik. Metode penelitian yaitu kuasi eksperimen dengan populasi seluruh siswa kelas VIII salah satu SMP swasta di Kadungora. Sampel yaitu kelas VIII-A dan kelas VIII-C. Data diperoleh melalui tes uraian kemampuan representasi matematis. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat perbedaan peningkatan kemampuan representasi matematis siswa antara yang mendapatkan model pembelajaran berbasis masalah melalui pendekatan kontekstual dan matematika realistic. Kualitas peningkatan kemampuan representasi matematis berinterpretasi sedang. Pendekatan kontekstual dan pendekatan matematika realistik, keduanya dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan representasi matematika. Mathematical representation ability is still low. The purpose of this research is to find out the difference in increasing mathematical representation skills between students who get problem-based learning models through contextual approaches and realistic mathematics. The research method is quasi-experimental with a population of all eighth-grade students of a private junior high school in Kadungora. The samples are class VIII-A and class VIII-C. The data was obtained through a description test of the mathematical representation ability. The results showed that there was no difference in the improvement of students' mathematical representation abilities between those who received problem-based learning models through contextual approaches and realistic mathematics. The quality of improving the ability to interpret mathematical representation is moderate. Contextual approach and realistic mathematical approach, both can be used to improve mathematical representation ability.
Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa SMP di Kampung Paledang Suci Kaler pada Materi Segiempat dan Segitiga Syah, Jaki Maulana; Sofyan, Deddy
Plusminus: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 1 No. 2 (2021): Juli
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/plusminus.v1i2.911

Abstract

Beberapa penelitian terdahulu mengungkapkan bahwa tingkat kemampuan komunikasi matematis siswa berada pada kategori rendah dan harus ada upaya untuk mengatasinya. Tujuan penelitian untuk menganalisis kemampuan komunikasi matematis siswa pada materi Segiempat dan Segitiga yang dilakukan di kampung Paladeng Suci Kaler. Metode penelitiannya yaitu penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian sebanyak enam siswa SMP dengan kemampuan matematika tinggi, sedang, dan rendah, juga yang sudah mempelajari materi Segiempat dan Segitiga. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah wawancara dan tes tertulis. Teknis analisis datanya menggunakan empat tahapan, yaitu: pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil analisis jawaban siswa terhadap soal komunikasi matematis dan dari hasil wawancara menyimpulkan bahwa kemampuan komunikasi matematis (tertulis) dari enam siswa yang diteliti diantaranya siswa masih sulit untuk memberikan alasan atas jawabannya, masih sulit membuat gambar dan mengekspresikan peristiwa sehari-hari ke dalam bahasa atau simbol matematik. Several previous studies revealed that the level of students' mathematical communication skills was in the low category and efforts should be made to overcome them. The purpose of the study was to analyze students' mathematical communication skills on the material of Quadrilaterals and Triangles conducted in Paladeng Suci Kaler village. The research method is descriptive research using a qualitative approach. The research subjects were six junior high school students with high, medium, and low mathematical abilities, also those who had studied the quadrilateral and triangle material. Data collection techniques in this study were interviews and written tests. Technical analysis of the data uses four stages, namely: data collection, data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results of the analysis of students' answers to mathematical communication questions and from the interviews concluded that the mathematical communication skills (written) of the six students studied were still difficult to give reasons for their answers, still difficult to take pictures and express everyday events into language or math symbols.