cover
Contact Name
Fritz Humphrey Silalahi
Contact Email
fritz.humphrey11@gmail.com
Phone
+628111897169
Journal Mail Official
ksmpmisentris@gmail.com
Editorial Address
Jl. Ciumbuleuit No.94, Hegarmanah, Kec. Cidadap, Kota Bandung, Jawa Barat 40141
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Sentris
Core Subject : Economy, Education,
International Politics and Security International Politics and Economy International Organizations and Regime Politics, Media, and Transnational Society
Articles 161 Documents
Belt and Road Initiative: Catalyst for the Central Asian Integration? Noor Halimah Anjani
Jurnal Sentris Vol. 1 No. 1 (2019): Regionalism
Publisher : Kelompok Studi Mahasiswa Pengkaji Masalah Internasional Unpar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/sentris.v1i1.4172.125-138

Abstract

Belt and Road Initiative (BRI) merupakan strategi pembangunan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Tiongkok. BRI fokus membangun kerja sama dan konektivitas antara negara-negara di Eurasia. Asia Tengah merupakan salah satu kawasan yang dilewati oleh pembangunan BRI. Permasalahan ekonomi dan pembangunan menjadi alasan mengapa negara-negara ini antusias dengan adanya BRI. Namun, selain masalah ekonomi dan pembangunan, terdapat masalah lain seperti kurang baiknya hubungan antarnegara di kawasan. Pasca runtuhnya Uni Soviet, negara-negara di Asia Tengah mengalami gejolak sosial dan ekonomi. Politik isolasi pun dilakukan oleh negaranegara tersebut dengan anggapan bahwa hal tersebut merupakan cara terbaik untuk menghindari perluasan masalah terlepas dari keberadaan organisasi-organisasi kawasan di Asia Tengah. Penulis melihat terbatasnya integrasi regional sebagai salah satu alasan mengapa stabilitas kawasan di Asia Tengah sulit tercapai. Paper ini bertujuan untuk meneliti sejauh mana BRI mampu menjadi katalis bagi negara-negara Asia Tengah untuk meningkatkan kerja sama regional.
ASEAN Maritime Security Cooperation to Combat Piracy within Malacca Strait: A Constructivist Perspective and Extra-Regional Actor’s Interests Raihan Zahirah Mauludy
Jurnal Sentris Vol. 1 No. 1 (2019): Regionalism
Publisher : Kelompok Studi Mahasiswa Pengkaji Masalah Internasional Unpar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/sentris.v1i1.4173.139-149

Abstract

Sejalan dengan posisi geografis Asia Tenggara yang strategis untuk rute perdagangan, Asia Tenggara dijadikan sebagai target operasi pembajakan. Selat Malaka adalah tempat pembajakan paling berbahaya di Asia Tenggara. Terdapat sejumlah tragedi pembajakan yang terjadi setiap tahun, karena selat ini merupakan wilayah sepertiga aktivitas perdagangan dunia dilakukan dan dilalui oleh ribuan kapal setiap tahunnya. Makalah ini ingin menjawab bagaimana kerjasama keamanan maritim ASEAN memerangi pembajakan di Selat Malaka dengan melibatkan proses sosialisasi dan persuasi. Makalah ini bertujuan untuk mengeksplorasi kerjasama keamanan maritim ASEAN dalam memerangi pembajakan di Selat Malaka, serta membahas proses lengkap terkait interaksi, mekanisme dan kerangka kerja. Makalah ini juga akan membahas tentang peluang aktor luar di ASEAN, dalam menjalankan kepentingan mereka dalam kerjasama keamanan maritim ASEAN. Makalah ini menggunakan teori sosialisasi dan persuasi yang diprakarsai oleh Johnston Checkel, atau dengan kata lain teori mikro dari teori konstruktivisme untuk menghubungkan kerjasama keamanan maritim ASEAN di Selat Malaka dan prosesnya dalam memerangi pembajakan.
The Rise of Populism Wave in Visegrad Group Countries and How It Prevails: A Socio-Economic Perspective Rufaida Nurul Vicri
Jurnal Sentris Vol. 1 No. 1 (2019): Regionalism
Publisher : Kelompok Studi Mahasiswa Pengkaji Masalah Internasional Unpar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/sentris.v1i1.4174.150-164

Abstract

Penulisan makalah penelitian ini bertujuan untuk menilik dan mengkaji adanya tendensi politik negara-negara Visegrad yang telah jatuh pada gelombang populisme. Grup Visegrad (V4) merupakan grup aliansi antara empat negara di kawasan Eropa Timur dan Tengah (ETT), yakni: Republik Ceko, Slowakia, Hongaria, dan Polandia. Penelitian ini akan menggunakan pendekatan-pendekatan sosial-ekonomi untuk mengkaji latar belakang munculnya gerakan populisme di kawasan tersebut. Makalah ini akan berusaha untuk menjawab tentang bagaimana latar belakang kemunculan gerakan politik populisme dalam negara-negara Visegrad? Untuk menjawab pertanyaan penelitian di atas, analisis ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan Materialisme Historis dan Determinisme Ekonomi Marx serta Tesis Ekonomi Downsian.
Shanghai Cooperation Organization (SCO) in Eurasia Regionalism: New India-Pakistan Membership and Regional Security Raviq Ayusi; Siti Nurhasanah
Jurnal Sentris Vol. 1 No. 1 (2019): Regionalism
Publisher : Kelompok Studi Mahasiswa Pengkaji Masalah Internasional Unpar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/sentris.v1i1.4175.165-180

Abstract

Tulisan ini membahas tipologi baru dalam regionalisme saat ini yang ada di kawasan Eurasia, Shanghai Cooperation Organization (SCO). SCO adalah SCO adalah permanen organisasi internasional antar-pemerintah yang awalnya dibentuk untuk memerangi terorisme, separatisme dan ekstremisme (3T) di kawasan Eurasia. Regionalisme muncul bisanya disebabkan beberapa faktor seperti faktor geografi, kondisi sosial budaya, kerjasama ekonomi dan lain sebagainya. Berdasarkan ciri regionalisme dan adanya globalisasi, makalah ini menganalisa karakteristik khusus regionalisme dikawasan Eurasia yang diwakili oleh SCO melalui pendekatan tatakelola keamanan dan regionalisme. Karakter regionalisme SCO terlihat dari bagaimana proses keanggotaan India dan Pakistan sebagai anggota SCO pada Juni 2017 dan faktor keamanan kawasan. Tulisan ini akan diuraikan melalui tiga komponen: dinamika dan perkembangan SCO dalam menghadapi ancaman keamanan kawasan, tatakelola keamanan: bagaimana SCO melihat ancaman keamanan kawasan saat ini, dan identifikasi regionalisme melalui studi kasus perluasan keanggotaan India dan Pakistan dalam SCO
Analisis Teori Fungsionalisme pada Integrasi Kawasan Asia Selatan (Studi Kasus Konflik India-Pakistan di wilayah Kashmir) Tri Shinta
Jurnal Sentris Vol. 1 No. 1 (2019): Regionalism
Publisher : Kelompok Studi Mahasiswa Pengkaji Masalah Internasional Unpar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/sentris.v1i1.4176.181-195

Abstract

South Asia is a complex region. It is marked with the emergence and continuity of the conflict. India-Pakistan conflict is one of them. This conflict begun on 1947 and the biggest of conflict divided into three conflicts. Functionalism according to David Mitrany in “A Working Peace System” believes that Region Integration is trusted to make the conflict lower and good relation among state. This perception applied on 1985 in South Asia, which known with SAARC (The South Asian Association for Regional Cooperation). The fact, this conflict still continues till today. However, this paper seeks for the analysis of how’s functionalism theory explain the conflict of India-Pakistan on the regional integration: is that the conflict form an ideal integration of Sout Asia and decline the conflict, or conversely. Furthermore, the result of this research describes that Functionalism is not success on explaining South Asia integration, which means the India-Pakistan conflict still exist and the real integration among member states still not exist yet.
The Night Wolves : Klub Motor Patriotis Milik Rusia Muhammad Fahmi Hawari Nasution
Jurnal Sentris Vol. 2 No. 2 (2019): Non State Actor
Publisher : Kelompok Studi Mahasiswa Pengkaji Masalah Internasional Unpar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/sentris.v2i2.4177.1-16

Abstract

In February 2014, The Night Wolves Motorcycle Club, Rusia’s first and largest Motorcycle Club, became one of the Non-state Actors who played a role in Rusia’s military operation to annex Crimea although in 1989 they protested against the Soviet Union governance and called for freedom of the people. This paper aimed to explore the evolution of the Night Wolves Motorcycle Club from the protester of Russia’s government to a patriotic organization who support the government, describe the ideology of the Night Wolves motorcycle club, and analyzes the role of the Night Wolves motorcycle club in Ukraine. In addition, this article will explore the Rusian’s “Putin’s Sistema” as a way to outsource the non-state actors to help Rusia in any of its policy which talks about the reason why an actor in international scope is doing something based on its ideology and norm. This paper will use social movement as its theory.
Peran Indivindu dalam Dunia Internasional Studi Kasus: Upaya Nadia Murad, Sang Wanita Peraih Nobel Perdamaian Melawan Ketiranian ISIS Venisa Yunita Sari
Jurnal Sentris Vol. 2 No. 2 (2019): Non State Actor
Publisher : Kelompok Studi Mahasiswa Pengkaji Masalah Internasional Unpar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/sentris.v2i2.4178.17-31

Abstract

Nadia Murad Basee Taha is a Human Rights Activist, winner of the Nobel Peace Prize in 2018. Nadia Murad was one of the victims of ISIS-related atrocities in 2014. She is one of 6,500 Yazidi women who can be arbitrarily questioned by ISIS militia. Therefore, after being freed from ISIS incarceration, Nadia Murad have been vigorously campaigning to fight for both children and adults’ rights, who were still shackled in the grip of ISIS. This study uses the theory of feminism which then supported by policies, values, norms, and public opinion that have an impact on international realm. This research then formulates answers to research questions relating to the role of individuals in the international world. Through qualitative with descriptive methods, the data sources in this paper come from literature studies by studying books, journals, and research reports. The results of this paper are divided into two important points in explaining the efforts of Nadia Murad in fighting for minority rights in Iraq to be free from the shackles of ISIS. First, Nadia Murad's background. Second, the role of Nadia Murad to fight for and save ISIS prisoners.
Implementasi Prinsip Fair Trade oleh The Body Shop sebagai Upaya Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Rwanda Kathleen Mintarja; Priscilia Christian Kadim; Stella Claresta Alexander
Jurnal Sentris Vol. 2 No. 2 (2019): Non State Actor
Publisher : Kelompok Studi Mahasiswa Pengkaji Masalah Internasional Unpar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/sentris.v2i2.4179.32-46

Abstract

The second half of the twentieth century witnessed unprecedented growth in the number of international actors. There has been a dramatic increase in the number of non-state actors that, on many occasions, helped solve problems and improve lives. This makes the responsibility of people’s welfare no longer only held by the government. One of the most prominent examples is the role of Body Shop on improving the living standard of Rwandan. Twenty four years after the genocide that killed almost 800,000 people, the country of Rwanda is rebuilding with the support of international communities, including multinational corporations. The Body Shop’s Community Trade commitment has been a key part of bringing local producers into international supply chains and empowering them. Therefore, the research question in this paper is “How is the role of The Body Shop on implementing fair trade principles towards the Rwandan society?” To answer the research question, the authors use several theories and concepts; such as pluralism, multinational companies, and fair trade theory. In addition, the research method to be used by the authors is a qualitative study method. This research found that The Body Shop has launched a Moringa Community Trade program as an embodiment of efforts to improve the welfare of Rwandan people after the genocide occurred. This community trade initiative aims to be one small step forward to achieve financial stability for the people currently living and working in Rwanda.
The Rise of Non-State Actors in Globalization and Democratization Era: Terrorist Group versus State Actors Aji Widiatmaja; Fajria Hasta Rizqi
Jurnal Sentris Vol. 2 No. 2 (2019): Non State Actor
Publisher : Kelompok Studi Mahasiswa Pengkaji Masalah Internasional Unpar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/sentris.v2i2.4180.47-62

Abstract

Globalization brings together both mobility upheaval and democratization in technology for every state, organization, and people around the world. These phenomena make information, technology, and networking which a long time ago become state domain are today accessible for everyone. It gives a leeway for non-state actors which used to be powerless can speak louder in present day. However, this likely rejoice phenomena sometimes produce another side effect. The leeway also gives relatively easy access for certain non-state actors to achieve power that in the same time endanger world order. These non-state actors are terrorist groups which today possess great power, energized by globalization and democratization of technology, to balance the power of states. They utilize globalization and democratization era to organize, create image, build network, fund, and disseminate their activities around the globe. This study aims to analyze the rise of terrorist groups threats in today globalization and democratization era and in the same time examine the declining of state roles in international stages. This study uses descriptive qualitative method and using Globalization, Soft Power, and Balance of Power theories to dissect and analyze those phenomena. Several recommendations will be drawn from the analysis to contribute in making a robust and comprehensive international cooperation to combat terrorist groups.
Defining the Role of Multinational Corporations: Starbucks and Coffee Culture in Indonesia Siti Nurhasanah; Chika Dewi
Jurnal Sentris Vol. 2 No. 2 (2019): Non State Actor
Publisher : Kelompok Studi Mahasiswa Pengkaji Masalah Internasional Unpar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/sentris.v2i2.4181.63-77

Abstract

Aktor-aktor non-negara dalam Hubungan Internasional memiliki kekuatan ekonomi, politik, dan sosial yang memiliki pengaruh dalam level nasional dan internasional. Tulisan ini akan fokus membahas salah satu aktor non-negara yaitu MNCs dengan mengambil studi kasus Starbucks. Starbucks merupakan salah satu MNCs yang berhasil menjadi coffee shop nomor satu dan pada tahun 2018 tercatat memiliki 27.000 outlet yang tersebat di seluruh belahan dunia. Indonesia telah menjadi host country sejak tahun 2002 saat Starbucks pertama kali hadir di Indonesia berlokasi di Plaza Indonesia. Starbucks telah berkembang pesat dan pada tahun 2018 tercatat memiliki 326 outlet di 22 kota besar di Indonesia. Starbucks tidak hanya menjual kopi, tetapi memberikan kesan baru dalam menikmati kopi yang dikenal dengan “Starbucks experience”. Starbucks telah mempromosikan coffee culture sejak 1971. Di Indonesia, Starbucks telah berkontribusi terhadap transformasi budaya ngopi dari cara tradisional menjadi modern, dimana tempat ngopi dibuat sangat nyaman dimanjakan dengan berbagai fasilitas. Starbucks menjadi bagian dari modernisasi budaya ngopi di Indonesia yang telah mendorong kedai-kedai kopi untuk mencontoh manajemen dan pemasaran Starbucks serta memiliki sasaran konsumen yang lebih luas. Starbucks menciptakan berbagai inovasi terutama dalam varian rasa yang memungkinkan kopi bisa dinikmati oleh siapa saja tanpa mengenal umur. Dalam tulisan ini, penulis ingin menganalisis kedatangan Starbucks kaitannya dengan transformasi budaya ngopi di Indonesia menggunakan konsep milik Arjun Appandurai yaitu “5 dimensions of global cultural flow” dan menganalisis kegagalan Starbucks dalam menciptakan produk hibrid di Indonesia.

Page 5 of 17 | Total Record : 161