cover
Contact Name
JOKO SANTOSO
Contact Email
ps.johnsantoso@gmail.com
Phone
+6287836107190
Journal Mail Official
jurnalberitahidup@gmail.com
Editorial Address
Jl. Solo-Kalioso KM.7.Solo
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Transformasi Fondasi Iman Kristen dalam Pelayanan Pastoral di Era Society 5.0
ISSN : 26564904     EISSN : 26545691     DOI : https://doi.org/10.38189/jtbh.v4i1.181
Core Subject : Religion,
Focus & Scope Jurnal Teologi Berita Hidup adalah: Teologi Biblikal Teologi Sistematika Teologi Pastoral Kepemimpinan Kristen Pendidikan Agama Kristen
Articles 293 Documents
Memahami Penerapan Taurat Pada Masa Yesus dan Implikasinya Dalam Menghayati Firman Tuhan Pada Masa Kini Sri Lina BL Simorangkir
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 3, No 1 (2020): September 2020 (Studi Intertestamental)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v3i1.55

Abstract

The development of the Jewish nation in observing the Torah from the time of the Babylonian exile to the time of Jesus' presence in Judea continued, both amidst the changing cultural effects of politics on the existing government. The Torah is a reference for the Jewish people to live by in worship and in their daily life. The Jewish Torah strictly rules the norms relating to personal and social morals. The material of the Torah had developed at the time of Jesus, been added with interpretations of the 'letters' of the Torah, new attitudes of behavior, which were increasingly distant and increasingly difficult to do. The way they understand the Torah is seen in the attitude and manner of the teachings of Jesus. The scribes were adept at interpreting the Torah literally with convoluted explanations. Jesus declared that He came to fulfill the Torah. The application of the application of the Torah for the present time appears in spiritual values such as spiritual understanding of God's Word, Bible study, understanding the current passages of the Torah, as well as the need for one's qualifications to live the Word of God. Therefore, today we need hermeneutic principles so that we don't misinterpret the Bible.Perkembangan bangsa Yahudi dalam melakukan Taurat sejak dari masa pembuangan di Babel sampai pada masa kehadiran Yesus di Yudea terus berlanjut, baik di tengah perubahan budaya maupun dampak politik pada pemerintah yang ada saat itu. Taurat menjadi acuan pegangan hidup bangsa Yahudi dalam ibadah dan dalam hidup sehari-hari. Taurat orang Yahudi sangat ketat mengatur norma-norma yang menyangkut moral pribadi dan sosial. Materi Taurat sudah berkembang pada masa Yesus, ditambah dengan tafsiran-tafsiran ‘huruf’ Taurat, pedoman sikap tingkah laku, yang semakin jauh dan semakin sulit dilakukan.     Cara mereka memahami Taurat yang terlihat pada sikap dan cara menanggapi ajaran Yesus. Para ahli Taurat mahir dalam menginterpretasikan Taurat secara harafiah dengan keterangan berbelit-belit. Yesus menyatakan bahwa Ia datang untuk menggenapi Taurat. Implikasi penerapan Taurat untuk masa kini muncul pada nilai-nilai rohani seperti kebangunan rohani memahami Firman Tuhan, pendalaman Alkitab, memahami perikop-perikop Taurat untuk masa kini, serta perlu kualifikasi seseorang dalam menghayati Firman Allah. Maka untuk itu di masa kini perlu prinsip-prinsip Hermeneutik agar tidak keliru dalam menafsir Alkitab.
Metode Penelitian di dalam Manuskrip Jurnal Ilmiah Keagamaan Sonny Eli Zaluchu
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 3, No 2 (2021): Maret 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v3i2.93

Abstract

A common problem regarding the method section in the structure of scientific journals is that they are written in general and not typical. A research method must report the procedures the researcher takes to carry out his research. The contents are not the same as the method descriptions in other studies. Therefore, this paper aims to explain the importance of methods in the structure of writing scientific journal articles. In particular, several methods commonly referred to in theological research are presented descriptively and topically. The conclusion obtained is, with the correct understanding of the research method, lecturers or researchers can produce theological research work that can be accounted for its academic validity. Research contribution: This paper provides insights to lecturers and researchers in writing and formulating methods in scientific journal papers and contributing material in writing scientific papers.Permasalahan umum mengenai bagian metode di dalam struktur jurnal ilmiah adalah ditulis secara umum dan tidak khas. Padahal, sebuah metode penelitian harus melaporkan prosedur yang ditempuh peneliti untuk menjalankan penelitiannya. Isinya tidak sama dengan penjelasan metode pada penelitian lain. Oleh karena itu paper ini bertujuan menjelaskan tentang pentingnya metode di dalam struktur penulisan artikel jurnal ilmiah. Secara khusus dipaparkan secara deskriptif dan topikal beberapa metode yang umum dirujuk dalam penelitian teologis. Kesimpulan yang diperoleh adalah, dengan pemahaman yang benar tentang metode penelitian, dosen atau peneliti dapat menghasilkan karya penelitian teologis yang dapat dipertanggungjawabkan validitasnya secara akademik. Kontribusi penelitian: Paper ini memberikan wawasan kepada dosen dan peneliti di dalam menulis dan merumuskan metode dalam paper jurnal ilmiah dan menyumbang materi dalam penulisan karya ilmiah.
Miyea Hemboni: Pendekatan, Pendampingan, dan Konseling Budaya Masyarakat Adat Suku Sentani Elise Litaay
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 4, No 1 (2021): September 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v4i1.136

Abstract

The value of solidarity is an approach, mentoring and counseling that can be found in the payment of Miyea Hemboni in the indigenous peoples of the Sentani tribe. The purpose of this research is to find out why, Miyea Hemboni is carried out in the marriage of the indigenous people of the Sentani tribe, and an understanding of Miyea Hemboni provides a model of approach, mentoring and counseling. The research method used is qualitative research methods and data obtained through interviews and literature study. Which is oriented towards the Sentani customary area. Interviews with several informants as historical actors. The results obtained from this research are that Miyea Hemboni can be used as an approach, mentoring, and counseling for the indigenous peoples of the Sentani tribe as a foundation of philosophy and cultural values of solidarity because it contains socio-cultural values of the community which are described as follows: Gotong Royong (Pulhauw) , Togetherness (Aka mbai, Peaka mbai), Brotherhood (Ria mbai), Baku help (Rekey Hakoy), One heart (Kenambai umbai).Nilai solidaritas adalah sebuah pendekatan, pendampingan dan konseling yang dapat ditemukan dalam pembayaran Miyea Hemboni dalam masyarakat adat suku Sentani. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui mengapa Miyea Hemboni dilaksanakan dalam perkawinan masyarakat adat suku Sentani, serta pemahaman terhadap Miyea Hemboni memberikan model pendekatan, pendampingan dan konseling. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dan data yang diperoleh melalui wawancara dan studi pustaka. Yang berorientasi pada wilayah adat Sentani. Wawancara terhadap beberapa informan sebagai pelaku sejarah. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah Miyea Hemboni dapat dijadikan sebagai pendekatan, pendampingan, dan konseling masyarakat adat suku Sentani sebagai landasan filosofi dan nilai-nilai budaya solidaritas karena, mengandung nilai-nilai sosial budaya masyarakat yang dideskripsikan sebagai berikut : Gotong Royong  (Pulhauw),  Kebersamaan (Aka mbai, Peaka mbai), Persaudaraan (Ria mbai), Baku bantu (Rekey Hakoy), Satu hati  (Kenambai umbai).
Pendidikan Kristen dalam Pelayanan Konseling Pranikah di Era Disrupsi Carolina Etnasari Anjaya; Andreas Fernando; Wahju Astjarjo Rini
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 4, No 2 (2022): Maret 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v4i2.203

Abstract

The era of disruption encourages all humans to adapt to the changes that occur. Christian youth and Christian families are required to be able to withstand these changes by living in the firmness of the Christian faith, according to God's will. Christian education in premarital counseling is very important in this era because through it Christian families will be able to survive in an increasingly uncertain world. This research method is descriptive qualitative, with literature study and observation techniques. The author uses the Bible and various relevant literature. The purpose of this study is to provide a description of how Christian education can form premarital counseling that can guide Christian families in this era. The results of the study conclude that it is necessary to transform premarital counseling from just a church service program to Christian education to provide a new form. Christian education in pre-marital counseling is developed to post-marital counseling, which is carried out continuously throughout life according to the principles of Christian education. The implementation of Christian education in pre-marital counseling is as follows: First, the teaching materials emphasize the development of the personal dimension as a creation that is in the image and likeness of God and the relational dimension, building a relationship that is holy and pleasing to God. Second, the implementation of Christian education in pre-marital counseling includes six stages: First, the preparation of young people to find a life partner. Two, at a time when a future husband and wife decided to start a new family. Three, the young family stage. Four, pre-adolescent and adolescent family stages. Five, the family stage of adulthood, when the children in the family have started to grow up. Six, the stages of old age. Third, forming counselors as guides and guides who fear God, living the truth of God's word so that they can become examples of life.  Era disrupsi mendorong semua manusia untuk beradaptasi dalam perubahan yang terjadi. Orang muda Kristen dan keluarga Kristen dituntut untuk dapat bertahan menghadapi perubahan tersebut dengan tetap hidup dalam kekokohan iman Kristen, sesuai kehendak Allah. Pendidikan Kristen dalam konseling pranikah menjadi sesuatu hal yang sangat penting di era ini karena melaluinya  keluarga Kristen akan mampu bertahan di dalam dunia yang semakin penuh ketidakpastian.  Metode  penelitian ini adalah kualitatif deskriptif, dengan teknik studi pustaka dan observasi. Penulis mempergunakan Alkitab dan berbagai literatur yang relevan. Tujuan dari penelitian ini adalah memberikan deskripsi mengenai  bagaimana pendidikan Kristen dapat membentuk konseling pranikah dapat menjadi penuntun keluarga Kristen di era ini. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa perlu transformasi konseling pranikah dari sekadar program pelayanan gereja menjadi pendidikan Kristen untuk memberikan bentukan baru. Pendidikan Kristen dalam konseling pranikah dikembangkan sampai pada konseling paska menikah, diselenggarakan secara terus menerus berkesinambungan sepanjang hayat memenuhi prinsip pendidikan Kristen. Implementasi pendidikan Kristen dalam konseling pranikah sebagai berikut: Pertama, materi pengajaran menekankan kepada  pengembangan dimensi personal sebagai ciptaan yang segambar dan serupa Tuhan dan dimensi relasional, membangun hubungan yang kudus dan berkenan bagi Tuhan.  Kedua, Penyelenggaraan  pendidikan Kristen dalam konseling pra nikah  meliputi enam tahap: Satu, persiapan kaum muda mencari pasangan hidup. Dua,  pada masa ketika sepasang calon suami istri memutuskan untuk membina keluarga baru. Tiga, tahap keluarga usia muda. Empat, tahapan keluarga pra remaja dan remaja. Lima, tahapan keluarga masa dewasa, ketika anak-anak dalam keluarga sudah mulai tumbuh dewasa. Enam, tahapan masa tua.  Ketiga, membentuk konselor sebagai  pembimbing dan penuntun yang takut akan Tuhan, menghidupi kebenaran firman Tuhan sehingga mampu menjadi teladan hidup.  
Gereja dan Segregasi Digital Sesuai Narasi Teks 2 Petrus 1:1-11 Andreas Joswanto; Carolina Etnasari Anjaya; Yonatan Alex Arifianto; Simon Simon
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 5, No 1 (2022): September 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v5i1.303

Abstract

Kemajuan teknologi digital telah mendorong segregasi sosial yang semula terjadi dalam dunia nyata, berkembang pesat pada ranah dunia maya sebagai segregasi digital. Adanya ekstensi dari dunia nyata kepada dunia maya menjadikan penanganan atas dampak dari segregasi digital sangat penting dilakukan. Tujuan dari kajian ini adalah mendeskripsikan tentang segregasi digital yang saat ini terjadi dan dampaknya. Kajian ini   menawarkan tahapan penting dan langkah-langkah praktis bagi gereja dalam upaya membina jemaat  menghadapi dampak segregasi digital yang kian marak. Kajian ini disusun menggunakan metode kualitatif dan dilakukan melalui pendekatan studi literatur. Kajian  menyimpulkan  bahwa dari hasil analisa terhadap narasi teks 2 Petrus 1:1-11 didapatkan tujuh tahapan bagi gereja dalam upaya  menyiapkan jemaat untuk menghadapi dampak segregasi digital. Tahapan tersebut dapat diaktualisasikan oleh gereja berupa pendampingan dalam komunitas sel, penyusunan program-program yang relevan, membangun keteladanan karakter Kristus dalam kepemimpinan  dan mendesain budaya Kristiani yang diimplementasikan dalam kehidupan bergereja.
Persekutuan Doa sebagai Ruang Pemuridan: Implikasi Teologis Matius 28:18-20 Albertina Nomay Baramuli Kaunang; Yogi Tjiptosari
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 5, No 1 (2022): September 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v5i1.359

Abstract

Amanat Agung merupakan sebuah kata kunci dalam kegiatan misi, yang diartikulasikan dari nas yang sangat populer Matius 28:19-20; sekalipun judul perikop tidak memuat diksi itu. Namun demikian, spirit “menjadikan segala bangsa murid Kristus” seolah meninggalkan jejak “menjadikan Kristen” atau yang lebih populer dengan stigma kristenisasi, sehingga mengakibatkan ekses sentimen agama. Ada perbedaan sikap yang muncul, yakni dengan tetap melakukan penginjilan dengan semangat menobatkan sebagai inti pesan amanat agung seperti yang telah dilakukan dari masa ke masa, atau merekonstruksi misi di era sekarang dengan memaknai ulang narasi teks Matius 28:19-20 tersebut. Artikel ini bertujuan untuk menawarkan sebuah pemaknaan teks “amanat agung” sebagai tindakan pemuridan yang dapat dilakukan di persekutuan doa. Dengan menggunakan metode tafsir konstruktif melalui pembacaan ulang nas Matius 28:19-20, maka didapatkan bahwa pesan inti dari “amanat agung” tersebut adalah tentang pemuridan, yang dapat dilakukan di mana saja dan kepada siapa saja. Kesimpulannya, pemuridan yang merupakan prinsip amanat agung dapat dilakukan di persekutan-persekutuan doa, selain gereja.
Roh Kudus Dalam Proses Pembelajaran Pendidikan Kristen Mewujudkan Pengajaran Kristen Yang Mengandung Nilai Kekal Hardi Budiyana
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 1, No 1 (2018): September 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v1i1.5

Abstract

AbstrakPerkembangan kebudayaan masa kini, termasuk bidang pendidikan, cenderung mengarah kepada kebangkitan agama (spiritualitas). Ini merupakan trend global yang berkembang pesat setelah era tahun 1990-an. Agama yang diminati sekarang adalah agama yang menekankan dimensi spiritualitas, yaitu pengalaman-pengalaman yang bersifat supranatural.   Dalam dunia pendidikan sekarang, spiritualisme sering dipakai untuk mensuport metode-metode pembelajaran. Sebagai contoh adalah pemakaian metode-metode pembelajaran meditatif dan spiritualistik gerakan Abad Baru (New Age Movement). Sementara itu, spiritualitas juga menjadi trend dalam berkembangan kekristenan masa kini. Gerakan Karismatik berkembang mendunia. Aliran ini menekankan pentingnya pengalaman-pengalaman supranatural dalam pertumbuhan rohani. Proses pembelajaran Firman Tuhan, juga diyakini sebagai proses supranatural. Faktor Roh Kudus diyakini merasuki semua bidang pelayanan, termasuk pelayanan pendidikan. Timbullah banyak persoalan mengenai bagaimana peran Roh Kudus dalam pendidikan Kristen, khususnya pembelajaran. Kelompok Karismatik ekstrim meyakini dominasi pekerjaan Roh Kudus dalam segala aspek kehidupan dan pelayanan Kristen. Dalam kotbah – termasuk pengajaran Alkitab lainnya – Roh Kudus diyakini sebagai Pribadi yang memberi campur tangan sampai pada detil-detil kegiatan belajar. Pada prinsipnya, Roh Kudus bekerja dalam kehidupan dan pelayanan orang percaya. Pertumbuhan rohani Kristen merupakan karya Roh Kudus, mulai dari proses kelahiran baru oleh Roh Kudus, pendiaman oleh Roh Kudus, dan proses dipenuhi oleh Roh Kudus. Setiap pelayanan Kristen juga merupakan kegiatan yang dilakukan oleh karena pimpinan dan kekuatan dari Roh Kudus. Faktor Roh Kudus tidak boleh dilupakan dalam proses pembelajaran Kristen. Roh Kudus adalah representasi Kristus yang berkarya secara supranatural sebagai Guru Agung dalam proses pembelajaran. Roh Kudus yang telah mewahyukan bahan ajar (Alkitab) itu kini turut bekerja dalam proses pembelajaran untuk memberi penerangan (iluminasi) sehingga guru bisa mengajar dengan baik dan murid bisa belajar dengan baik pula. Roy B. Zuck memandang begitu pentingnya peran Roh Kudus sehingga tanpa Dia, pembelajaran tidak akan efektif (bahkan menjadi cenderung sekuler) walaupun ada guru dan bahan ajar berupa Alkitab. Roh Kudus dan pembelajaran dalam Pendidikan Kristen (PAK) mempunyai korelasi yang sangat kuat. Keberadaan dan peran Roh Kudus dalam PAK merupakan ciri pembeda PAK dibanding dengan pembelajaran sekuler. Namun, hal itu bukan berarti PAK merupakan proses pembelajaran yang total supranatural. PAK merupakan sebuah pembelajaran kontemporer yang berdimensi supranatural. Peran Roh Kudus yang merupakan representasi Kristus dalam PAK adalah sebagai Guru Agung. Pembelajaran dalam PAK ditangani secara tim oleh Roh Kudus dan guru PAK. Baik guru PAK maupun murid PAK sama-sama harus bergantung dalam pimpinan iluminatif dari Roh Kudus. Peran Roh Kudus juga dinyatakan dalam kasih karunia yang Dia berikan untuk meningkatkan kapasitas guru dan murid. Ada dimensi-dimensi yang harus dikembangkan secara akal budi. Tetapi, dalam hal dimensi spiritual, Roh Kudus harus merupakan satu-satunya Pribadi yang boleh mengisi dan memberi penguatan. Pendidikan Kristen adalah pendidikan yang empowered by Holy Spirit. 
Memahami Tugas Utama Hamba Tuhan Berdasarkan Surat II Timotius 4:1-5 Dan Aplikasinya Pada Masa Kini Kejar Hidup Laia
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 2, No 2 (2020): Maret 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v2i2.35

Abstract

Abstract: The passages 2 Timothy 4: 1-5 describes the task of a servant of God. The intended form of duty and calling  included the task and call to always preach the gospel, in all situation good or not. Reprimand and advise the wrong and provide healthy teaching. The task of preaching the gospel is the task of calling for service for all believers. This task must be carried out seriously and with patience. God's servant must have courage to reveal the truth to anyone, including the rulers. But before carrying out that task, the Servant of God must equipted himself first with the Word of God and always give a place to the Holy Spirit to dwell in him because by the Holy Spirit  a person can able to control himself, suffer patiently and carry out his ministry to the end. Being a Servant of God has qualifications in 1 Tim. 3: 2 Paul says that as a servant of God it must be "blameless." The blameless nature comes from the word anepilhmpton  (anepilemton) which implies the fact that a servant should be someone who is no doubt about the character and sound knowledge of the Bible.Abstrak: Nas 2 Timotius 4: 1-5 menjelaskan tugas seorang hamba Tuhan. Bentuk tugas dan panggilan yang dimaksudkan adalah meliputi tugas dan panggilan untuk selalu memberitakan Injil, baik atau tidak baik waktunya, menegur dan menasihati yang sala,h serta memberikan pengajaran yang sehat. Tugas pemberitaan Injil merupakan tugas panggilan pelayanan bagi semua orang percaya. Tugas ini harus dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan dengan penuh kesabaran.  Hamba Tuhan harus berani menyatakan kebenaran kepada siapapun termasuk kepada para penguasa.  Tetapi sebelum melaksanakan tugas itu hamba Tuhan harus terlebih dahulu membekali diri dengan Firman Tuhan dan senantiasa memberi tempat kepada Roh Kudus untuk berdiam dalam dirinya sebab oleh Roh Kuduslah seseorang mampu menguasai diri, sabar menderita dan  dapat menunaikan tugas pelayanan sampai akhir. Menjadi hamba Tuhan memiliki kualifikasi dalam  1 Tim. 3:2 Paulus mengatakan bahwa sebagai pelayan Tuhan itu harus “tidak bercacat.” Sifat yang tak bercacat berasal dari kata anepilhmpton (anepilemton) yang menyiratkan fakta bahwa seorang pelayan seharusnya adalah seorang yang tidak lagi diragukan karakter serta pengetahuan Alkitab yang sehat.
PAK Dalam Keluarga dan Lingkungan Pergaulan Siswa, Kontribusinya Terhadap Pembentukan Karakter Hasahatan Hutahaean; Hermanto Sihotang; Purnamasari Siagian
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 3, No 2 (2021): Maret 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v3i2.84

Abstract

This study aims to determine how Christian Education (CE) in the family and social environment of students, and its contribution to the formation of student character. The place where the research was carried out was the private high school GKPI Padang Bulan Medan. The study population was 104 people, while the sample was 30 people. The instrument used for this research was a questionnaire. Based on the results of the study, it was found that there was a contribution of CE in the Family to Character Building at the zero level ry1 = 0.510, there was also a contribution between the Student Social Environment (X2) to the Character Building (Y) at the zero level ry2 = 0.411 and there was a joint contribution between CE in the Family and Social Environment of Students on the Formation of Student Character (1,293). Four characters are described as the character traits of Christianity, namely; Trust completely in God, Not vengeful, Happy to pray, Think rationally. Therefore, parents should continue to provide examples and teaching at home to help shape children's character. Teachers in schools are also to set an example in giving character examples to students.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana PAK dalam keluarga dan lingkungan pergaulan siswa memberi kontribusi terhadap pembentukan karakter siswa. Tempat penelitian dilakukan di SMA Swasta GKPI Padang Bulan Medan. Populasi penelitian sebanyak 104 orang sedangkan sampel sebanyak 30 orang. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan adanya kontribusi PAK dalam Keluarga terhadap Pembinaan Karakter pada tingkat nil ry1 = 0,510, terdapat pula kontribusi Lingkungan pergaulan Siswa (X2) terhadap Pembinaan Karakter. (Y) pada taraf nol ry2 = 0,411 dan ada kontribusi bersama PAK dalam Keluarga dan Lingkungan Sosial Siswa terhadap Pembentukan Karakter Siswa (1,293). Empat karakter yang digambarkan sebagai karakter agama Kristen, yaitu; Percaya sepenuhnya pada Tuhan, Tidak dendam, Senang berdoa, Berpikir rasional. Oleh karena itu, orang tua hendaknya terus memberikan teladan dan pengajaran di rumah untuk membantu membentuk karakter anak. Guru di sekolah juga harus memberi contoh dalam memberikan contoh karakter kepada siswa.
Pandangan Gereja Kristen Jawa (GKJ) Terhadap Budaya Dalam Konteks Masyarakat Jawa Uri Christian Sakti Labeti
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 4, No 1 (2021): September 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v4i1.190

Abstract

Gereja Kristen Jawa (GKJ) adalah gereja yang lahir buah penginjilan para misionaris Barat (dalam hal ini Belanda) di tanah Jawa. Peri kehidupan bergereja diatur sedemikian rupa berdasar dogma gereja Belanda. Latar belakang tersebut menyebabkan GKJ tercerabut dari akar budaya sehingga segala praktik yang berkaitan dengan adat istiadat Jawa tidak diizinkan masuk wilayah pelayanan gereja.Sejarah tersebut menjadi data kajian dalam tulisan ini sehingga tampak wajah baru GKJ yang pada akhirnya menerima budaya sebagai bagian integral pelayanan gereja. Kajian dari perspektif sejarah menunjukkan kehidupan GKJ yang mengalami perubahan paradigma khususnya terkait budaya. Analisis atas fenomena GKJ menghasilkan deskripsi autentik landasan GKJ membuka paradigma praktik bergereja sehingga menerima budaya menjadi bagian integral pelayanan gereja. Melalui paradigmanya yang baru, GKJ semakin berbenah dan semakin terbuka dalam memanifestasikan budaya Jawa sebagai kekuatan gereja untuk menghadirkan diri menjadi bagian holistik masyarakat Jawa.