cover
Contact Name
JOKO SANTOSO
Contact Email
ps.johnsantoso@gmail.com
Phone
+6287836107190
Journal Mail Official
jurnalberitahidup@gmail.com
Editorial Address
Jl. Solo-Kalioso KM.7.Solo
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Transformasi Fondasi Iman Kristen dalam Pelayanan Pastoral di Era Society 5.0
ISSN : 26564904     EISSN : 26545691     DOI : https://doi.org/10.38189/jtbh.v4i1.181
Core Subject : Religion,
Focus & Scope Jurnal Teologi Berita Hidup adalah: Teologi Biblikal Teologi Sistematika Teologi Pastoral Kepemimpinan Kristen Pendidikan Agama Kristen
Articles 293 Documents
Tinjauan Historis Teologis Tentang Baptisan Pada Masa Intertestamental Wahyu Wahono Adil Kuswantoro
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 3, No 1 (2020): September 2020 (Studi Intertestamental)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v3i1.48

Abstract

Baptisan Kristen berakar pada tulisan suci pada zaman Israel kuno dan berbagai praktik yang muncul pada periode intertestamental. Di berbagai cara, air digunakan pada zaman kuno untuk memurnikan orang atau benda, baik untuk memperbaiki keadaan kenajisan atau untuk mempersiapkan hubungan dengan yang sakral. Dalam memahami perkembangan pada periode intertestamental itu perlu dimulai dengan ikhtisar hukum dan praktik dalam periode Perjanjian Lama. Baptisan dalam Perjanjian Lama merupakan pembasuhan dengan air dan penebusan dengan menggunakan darah. Beberapa pengertian penting baptisan dalam Perjanjian Lama seperti pembasuhan dengan air, penghapusan akan dosa serta penebusan dengan darah. Hukum pencucian tetap berlaku selama intertestamental. Penggalian arkeologis selama empat puluh tahun terakhir ini mengungkap dan mengidentifikasi beberapa kolam pembenaman publik dan pribadi yang disebut miqva’ot (tunggal: miqveh). Selama periode intertestamental, beberapa undang-undang terkait pencucian adalah diperluas dan diberikan penerapan baru. Salah satu fitur penting adalah munculnya hubungan yang erat antara pencucian dan pertobatan. Tindakan pencucian, sering kali melibatkan pencelupan penuh, tidak hanya dikaitkan dengan pertobatan tetapi juga dengan pembaruan dan pemulihan nasional. Metode dalam makalah ini adalah studi pustaka, yang diarahkan kepada pencarian data dan informasi melalui dokumen-dokumen yang dapat mendukung dalam proses penulisan.
Ineransi Alkitab sebagai Dasar Kurikulum Pendididikan Kristen Hardi Budiyana
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 3, No 2 (2021): Maret 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v3i2.92

Abstract

Inerrancy means the Bible is infallible. Because the Bible was revealed by God the Holy Spirit Himself. Even though the researcher is a sinner; however, the initiator is a God who cannot do wrong. The Holy Spirit uses all the individual potentials (shortcomings and strengths) of the Bible writers and is completely under the leadership and control of the Holy Spirit, so that what the authors of the books of the Bible write do not come from the author, but from God concerning the Word of God himself. A Christian can accept this inerrant biblical quality, so he must also accept other biblical qualities. This study uses a descriptive qualitative method regarding the Christian education curriculum that must be based on the inerrancy of the Bible. Biblical inerrancy emphasizes that the Bible is the Word of God, the Bible was written without errors because the idea of writing came from God. The curriculum is structured based on the inerrancy of the Bible with the aim of Christian education so that learners know God's work of salvation in and through the Lord Jesus alone, so that they believe that Jesus is God, so that those who believe have eternal life and their lives are changed by the Holy Spirit through the power of the Bible. The power of the Bible is because the Bible is the Word of God. Nothing can survive under the sovereignty of God's written Word, which is the Bible. Therefore, the Christian religious education curriculum is built based on the Bible in order to achieve its goals.Ineransi berarti Alkitab tidak mungkin salah. Karena Alkitab diwahyukan oleh Allah Roh Kudus sendiri. Walau penelitinya adalah orang berdosa; namun, inisiatornya adalah Allah yang tidak mungkin berbuat salah. Roh Kudus menggunakan semua potensi individual (kekurangan dan kelebihan) penulis Alkitab dan secara utuh berada dalam pimpinan dan kontrol Roh Kudus, sehingga yang ditulis oleh penulis kitab dalam Alkitab bukanlah berasal dari penulis, melainkan dari Allah mengenai Firman Allah sendiri. Orang Kristen dapat menerima sifat Alkitab yang ineransi ini, maka ia pasti juga menerima sifat-sifat Alkitab yang lain. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif mengenai kurikulum pendidikan  Kristen harus didasarkan pada ineransi Alkitab.  Ineransi Alkitab menekankan Alkitab adalah Firman Tuhan, Alkitab ditulis tanpa ada kesalahan karena ide dari tulisan berasal dari Allah. Kurikulum disusun berdasar pada ineransi Alkitab dengan tujuan Pendidikan Kristen agar pembelajar mengenal karya keselamatan Allah di dalam dan melalui Tuhan Yesus saja, supaya percaya bahwa Yesuslah Allah, sehingga yang percaya beroleh hidup yang kekal dan hidupnya diubah oleh Roh Kudus melalui kuasa Alkitab. Kuasa Alkitab adalah karena Alkitab adalah Firman Allah. Tidak ada yang dapat bertahan di bawah kedaulatan Firman Tuhan yang tertulis, yaitu Alkitab. Karena itu kurikulum pendidikan Agama Kristen dibangun berdasarkan Alkitab agar mencapai tujuan.
Purpur Sage sebagai Pendampingan dan Konseling Rekonsiliasi Kultural Masyarakat Seberaya Ria Ebregina br Ginting
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 4, No 1 (2021): September 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v4i1.113

Abstract

 At this era the term of reconciliation is widely used in society. along with the occurrence of various conflicts in society, the term of reconciliation has become a term that has never been ignored and  always warm to discuss. reconciliation relates to various processes carried out to rectify the chaotic situation caused by the conflict that occurred. various conflicts that occur become a reality that often occurs. There is no society has never faced conflict. conflicts that occur because of a mismatch between one person and another, both cultural background, values and community interests. conflict is part of the journey of human life and as a natural consequence of a diverse existence, especially as a cultured being. the conflicts that occur often have a negative impact that lead to divisions and acts of violence. thus cultural reconciliation becomes an important thing in a mentoring and counseling approach to be carried out in restoring damaged relationships between humans and one another as cultured creatures.Pada masa sekarang, istilah “rekonsiliasi” banyak dipergunakan dalam masyarakat. Seiring dengan terjadinya berbagai konflik dalam masyarakat, maka istilah rekonsiliasi menjadi suatu istilah yang tidak pernah terabaikan dan selalu hangat untuk diperbincangkan. Rekonsiliasi berhubungan dengan berbagai proses yang dilakukan untuk meluruskan situasi yang kacau akibat konflik yang terjadi. Berbagai konflik yang terjadi menjadi suatu realitas yang kerap terjadi. Tidak ada satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik. Konflik yang terjadi karena adanya ketidaksesuaian antara seseorang dengan yang lainnya, baik latar belakang budaya, nilai-nilai dan kepentingan masyarakat. Konflik merupakan bagian dari perjalanan kehidupan manusia dan sebagai konsekuensi alami dari keberadaan yang beragam, khususnya sebagai mahkluk yang berbudaya. Konflik yang terjadi kerap kali berdampak negatif yang menyebabkan terjadinya perpecahan dan tindak kekerasan. Dengan demikian rekonsiliasi kultural menjadi suatu hal yang penting dalam sebuah pendekatan pendampingan dan konseling untuk dilakukan dalam pengembalian hubungan yang telah rusak antara manusia satu dengan yang lainnya sebagai mahkluk yang berbudaya. 
Konsep Keselamatan di Dalam Yesus: Ketaatan Pada Firman Versus Ketaatan Pada Perbuatan Sutriatmo Sutriatmo
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 4, No 2 (2022): Maret 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v4i2.164

Abstract

It is often heard that salvation is not properly understood. Many Christians think that when they “believe” in the Lord Jesus, they are Christians, they feel they have been saved. But if you see his life is not in accordance with God’s will (disobedience). There are Christians who still go to witch a shaman. People who already believe in the Lord Jesus should not go to a shaman to seek escapism in their business, to get blessings, to survive or to secure their business, this is not in accordance with the teachings of salvation. in the Lord Jesus. Someone must obey according to the teachings of God's word, love God with all his heart, whole soul, and all mind. Because it is clear that the act is idolatry. How is the concept of salvation based on God's word versus based on actions? This is what needs to be researched, and straightened out, so that God’s people have the correct concept of teaching salvation. The purpose of this research is for Christians to have an understanding of the concept of salvation in the Lord Jesus Christ, and obedience to God's word, rather than just human actions or efforts that are not in accordance with God's word. Meanwhile, in Ephesians 2: 8-9 it says, “For it is by grace you have been saved, through faith—and this is not from yourselves, it is the gift of God not by works, so that no one can boast." Many Christians regard good works as a condition for being saved. But the truth is because of His grace a person can be saved by faith, and not human works or works. As for a person's good deeds are proof that he has faith. True faith must be demonstrated in the works of faith and in the righteousness of the Lord Jesus Christ.  Sering didengar bahwa keselamatan kurang dipahami secara benar. Banyak orang Kristen mengira bahwa ketika “sudah percaya” Tuhan Yesus, sudah beragama Kristen, merasa sudah diselamatkan. Namun kalau dilihat kehidupannya belum sesuai dengan kehendak Allah (tidak taat). Ada orang Kristen yang masih pergi ke dukun. SeseorangyangsudahpercayaTuhanYesusmakatidakdiperkenankankedukunmencari pelarisandalamusahanya, agar berolehberkat,agar selamatatauamanusahanya,halinitidak sesuaidenganpengajarankeselamatandidalamTuhanYesus. Seseorangharus taatsesuaiajaran firmanTuhan,mengasihiTuhandengansegenaphati,segenapjiwa,dansegenapakalbudi.Karena jelas bahwatindakan tersebut adalah penyembahan berhala. Bagaimanakah konsep keselamatan berdasarkan firman Tuhan versus berdasarkan perbuatan ? Hal inilah yang perlu diteliti, dan diluruskan, sehingga umat Tuhan memiliki konsep pengajaran keselamatan yang benar. Tujuan dari penelitian ini adalah agar orang Kristen memiliki pemahaman tentang konsep keselamatan di dalam Tuhan Yesus Kristus, dan ketaatan pada firman Tuhan, dibandingkan hanya perbuatan atau usaha manusia yang tidak sesuai dengan firman Tuhan. Sedangkan dalam Efesus 2:8-9 dikatakan bahwa, “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” Banyak orang Kristen menganggap bahwa perbuatan baik sebagai syarat untuk dapat diselamatkan. Namun yang benar adalah oleh karena kasih karuniaNya seseorang dapat diselamatkan oleh iman, dan bukan usaha atau pekerjaan manusia. Adapun perbuatan-perbuatan baik seseorang adalah sebagai bukti bahwa ia memiliki iman. Iman yang benar harus ditunjukkan dalam perbuatan-perbuatan iman dan dalam kebenaran Tuhan Yesus Kristus.
Mentalitas Silo Ditinjau dari Perspektif Alkitab Styadi Senjaya; Tjutjun Setiawan; Tomi Yulianto; Yusup Heri Harianto
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 5, No 1 (2022): September 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v5i1.260

Abstract

Pandangan tentang mentalitas silo ada dalam gereja dari waktu ke waktu. Faktor seperti cara komunikasi, penyampaian visi, dan lainnya ikut memengaruhi hal tersebut. Beberapa studi menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara kekuatan organisasi, teknik silo-busting, dan tingkat kolaborasi dalam organisasi tertentu, organisasi yang menggunakan teknik silo-busting dibandingkan dengan organisasi yang memiliki tingkat kinerja yang lebih rendah, kolaborasi internal yang lebih baik dalam sebuah organisasi. Tulisan ini bertujuan untuk menemukan perspektif Alkitab tentang mentalitas silo. Penelitian yang digunakan dalam penulisan ini, yaitu metode kualitatif studi pustaka, menemukan cara Alkitab untuk dapat mengatasi mentalitas silo dalam melakukan pelayanan di gereja. Tulisan ini diharapkan dapat membantu gereja Tuhan untuk merumuskan manajemen gereja yang tepat dan sesuai dalam menjalankan organisasinya, hingga world view (pemahaman) pemimpin gereja menjadi benar. Kata Kunci: Manajemen Gereja, Mentalitas Silo, Kepemimpinan, Delegasi Abstract:This view of the silo mentality has existed in the church from time to time. Factors such as the way of communication, delivery of the vision, and others also influence this. Several studies show that there is a relationship between organizational strength, silo-busting technique, and the level of collaboration in a particular organization, organizations that use silo-busting techniques compared to organizations that have lower levels of performance, better internal collaboration within an organization. This paper aims to find a biblical perspective on the silo mentality. The research used in this paper, which is a qualitative method of literature study, finds the Bible's way to overcome the silo mentality in serving in the church. This paper is expected to help God's church to formulate appropriate and suitable church management in running its organization, so that the world view (understanding) of church leaders becomes correct. Keywords: Church Management, Silo Mentality, Leadership, Delegation
Adam dan Kristus: Studi Komparasi Antara Penghukuman Dan Pembenaran Allah Berdasarkan Roma 5:18-19 Warseto Freddy Sihombing; Seri Antonius
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 5, No 1 (2022): September 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v5i1.268

Abstract

AbstractSalvation in Jesus Christ is only obtained by sinners through faith. Without faith in Jesus Christ, no one will be saved. God only justifies those who believe in Jesus Christ, so they will not receive God's wrath. By inductive method, this article explores the truth of apostle Paul's statement in Romans 5:18-19; that disobedience of first Adam made all men being sinful and cursed. On the other hand, the Jesus Christ’s obedience as the second / last Adam has made sinful men being right before God and have hope for eternal life. Paul gives a comparison between Adam and Christ — between the first Adam and the last Adam. The first Adam has caused men (his descendants) commite to sin, but the second/last Adam has finally provided a way out of God’s punishment and wrath. This is a great grace of God.Keywords: first adam; second adam; obedience; disobedience; justification; comparisonAbstrakKeselamatan di dalam Yesus Kristus hanya diperoleh orang berdosa melalui iman. Tanpa iman kepada Yesus Kristus, seorang pun tidak akan beroleh keselamatan. Allah hanya membenarkan mereka yang beriman kepada Yesus Kristus, dengan demikian mereka tidak akan mengalami murka Allah. Dengan metode induktif, artikel ini menggali kebenaran dari pernyataan rasul Paulus dalam Roma 5:18-19; bahwa ketidataaktaatan Adam pertama telah menjadikan semua manusia berdosa dan terkutuk. Di pihak lain, ketaatan Yesus Kristus sebagai Adam kedua/terakhir telah menjadikan manusia yang telah berdosa tersebut benar di hadapan Allah dan memiliki pengharapan untuk memperoleh hidup kekal. Paulus memberikan sebuah komparasi antara Adam dan Kristus—antara Adam pertama dan Adam terakhir. Adam pertama telah mengakibatkan manusia (keturunannya) berdosa, tetapi Adam kedua/terkahir telah  memberikan jalan keluar dari penghukuman dan murka Allah. Ini merupakan kasih karunia Allah yang besar.Kata-kata kunci: adam pertama, adam kedua, ketaatan, ketidaktaatan, pembenaran,                   komparasi
Pembaharuan Pikiran Pengikut Kristus Menurut Roma 12:2 Asih Rachmani Endang Sumiwi
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 1, No 1 (2018): September 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v1i1.4

Abstract

The existence of Christians in this world cannot be separated from the community in which they are located. When someone is in the midst of a community with a different way of life, it is very possible for him to be similar to his surroundings. Whereas what God wants from the existence of Christians in the world is that they can become bright, not follow the flow around them. Paul once gave a special message to the Romans so that they would not be like this world but changed by renewal of mind. This study focuses on the study of the phrases ἀνακαινώσει τοῦ νοὸς (anakainosei tou noos) from Romans 12: 2, which literally means renewal of the mind. This study aims to find out what is meant by the renewal of the mind, why it is necessary to renew the mind, how the renewal of the mind occurs, and how it applies to the life of Christianity in the present. With the exegesis method, researchers try to find out the meaning of the phrase either through lexical studies or by paying attention to the background of letter writing. Having found the meaning and relation to the context of the phrase, its application is made for Christian life today. The conclusions of this research are as follows: First, the renewal of the mind in Romans 12: 2 is a renewal of one's awareness of the truth which builds understanding of the true meaning of life. Second, followers of Christ need to experience a renewal of the mind because the mind will play a role in determining its life, namely in creating or setting its standard of living. Third, renewal of the mind is a process that occurs continuously every day through the Word of God which is done by the Holy Spirit, so that by this process Christians will understand the will of God, that is what is good, that is pleasing to God and perfectAbstrakKeberadaan umat Kristen di dunia ini tidak dapat dipisahkan dari lingungan masyarakat di mana mereka berada.  Ketika seseorang berada di tengah masyarakat dengan cara hidup yang berbeda, sangat mungkin baginya untuk menjadi serupa dengan sekitarnya.  Padahal yang dikehendaki Tuhan dari keberadaan umat Kristen di dunia adalah agar mereka bisa menjadi terang, bukan mengikuti arus sekitarnya. Paulus pernah berpesan secara khusus kepada jemaat Roma agar mereka tidak menjadi serupa dengan dunia ini tetapi berubah oleh pembaharuan pikiran.  Penelitian ini memusatkan kajian kada frasa ἀνακαινώσει τοῦ νοὸς  (anakainosei tou noos) dari surat Roma 12:2, yang secara literal berarti pembaharuan pikiran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan pembaharuan pikiran, mengapa perlu pembaharuan pikiran, bagaimana terjadinya pem­baharuan pikiran, serta bagaimana penerapannya bagi kehidupan kekristenan pada masa sekarang. Dengan metode eksegesis, peneliti mencoba menemukan makna dari frasa tersebut baik melalui studi leksikal maupun dengan memperhatikan latar belakang penulisan surat. Setelah ditemukan makna dan kaitannya dengan konteks dari frasa tersebut, dibuat penerapannya bagi kehidupan kekristen­an sekarang ini. Sebagai kesimpulan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: Pertama, pembaharuan pikiran dalam Roma 12:2 adalah pembaharuan kesadaran sese­orang terhadap kebenaran sehingga terbangun pemahaman akan makna hidup yang benar. Kedua, pengikut Kristus perlu mengalami pembaharuan pikiran karena pikiran akan sangat berperan dalam menentukan kehidupan­nya, yaitu dalam mencipta­kan atau menetapkan standar hidupnya. Ketiga, pembaharuan pikiran adalah proses yang terjadi terus menerus setiap hari melalui Firman Tuhan yang dikerjakan oleh Roh Kudus, sehingga dengan proses ini orang Kristen akan mengerti kehendak Allah yaitu apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan sempurna. 
Taurat dan Nubuat Palsu: Kajian Sudut Pandang Taurat Terhadap Nubuat Palsu Kosma Manurung
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 2, No 2 (2020): Maret 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v2i2.31

Abstract

Abstract: The purpose of this research is to present the Torah's view of false prophecy. The methodology used in this article uses text analysis and literature review. This article describes how false prophecy occurred in the Torah, the source of false prophecy, the entrance of false prophecy, and its consequences to mankind. Based on the results of this study in the Torah's view, false prophecies originated by the devil as the father of all liars who entered through the human desire and then resulted in the destruction of the relationship between God and man resulting in prolonged sin and suffering for humanity.Abstrak: Adapun tujuan penelitian artikel ini adalah ingin memaparkan sudut pandang Taurat terhadap nubuat palsu. Metodologi yang digunakan dalam artikel ini menggunakan analisis teks dan kajian literatur. Artikel ini menggambarkan bagaimana nubuat palsu dalam Taurat, sumber nubuat palsu, jalan masuk nubuat palsu, dan akibatnya bagi manusia. Berdasarkan hasil penelitian ini dalam pandangan Taurat, nubuat palsu berasal dari iblis sebagai bapak segala pendusta yang masuk melalui keinginan daging manusia yang kemudian mengakibatkan hancurannya hubungan antara Allah dan manusia sehingga mengakibatkan dosa dan penderitaan yang berkepanjangan bagi manusia.
Pemberdayaan Budikdamber Sebagai Upaya Pemulihan Ekonomi Masa Pandemi di Wilayah Sekaran Gunung Pati Hagai Kuncoro; Karnawati Karnawati
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 3, No 2 (2021): Maret 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v3i2.90

Abstract

The pandemic has caused an economic downturn in the Sekaran Gunung Pati area, Semarang. The Banaran Community Center as a Christian institution seeks to internalize the attitude of Jesus who cares for people who suffer and need help, has facilitated by providing empowerment in the form of catfish farming in buckets (budikdamber). The method of implementation is through the stages of preparation, assessment, program planning, formulation of action plans, program implementation, evaluation and termination. The results of the budikdamber show that the assisted groups experience additional insight into catfish cultivation in buckets, an increase in the economy in the family and gain insight into effective marketing strategies. This paper contributes to the context of a mission strategy through community empowerment.Pandemik menyebabkan kelesuan ekonomi di wilayah Sekaran Gunung Pati Semarang. Pusat Komunitas Banaran selaku Lembaga kristen berupaya menginternalisasi sikap Yesus yang peduli kepada orang-orang yang menderita dan membutuhkan pertolongan, telah menfasilitasi dengan memberikan pemberdayaan berupa budidaya ikan lele dalam ember (budikdamber). Metode pelaksanaan melalui tahapan persiapan, pengkajian, perencanaan program, formulasi rencana aksi, implementasi program, evaluasi dan terminasi. Hasil budikdamber didapati bahwa kelompok dampingan mengalami penambahan wawasan dalam budidaya lele dalam ember, adanya peningkatan ekonomi dalam keluarga dan bertambahnya wawasan dalam strategi pemasaran yang efektif. Tulisan ini memberi kontribusi dalam konteks strategi misi melalui pemberdayaan masyarakat.
Evaluasi Pembelajaran Daring Pendidikan Agama Kristen di Masa Pandemi Priskila Issak Benyamin; Ibnu Salman; Frans Pantan; Wiryohadi Wiryohadi; Yogi Mahendra
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 4, No 1 (2021): September 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v4i1.174

Abstract

Penelitian ini berangkat dari adanya kesejangan dalam program pembelajaran daring selama pandemi di Kabupaten Barito Timur Kalimantan Tengah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana keberhasilan program pembelajaran daring pendidikan agama Kristen dan dampaknya baik jangka pendek, menengah dan jangka panjang. Metode penelitian yang digunakan yakni model penelitian evaluasi discrepancy. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek desain, instalasi, proses dan produk berada pada kategori rendah. Hal ini terlihat juga dalam cost-benefit analysis program pembelajaran daring pendidikan agama Kristen yang masih lemah.