cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
EDITORIAL BOARD Journal PAEDAGOGY (Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi) Editor in Chief Dr. Arman, M.Pd (Universitas Lampung) Journal Editor Lalu Hamdian Afandi, M.Pd (Universitas Mataram) Dr. Didi Muliadi, M.Pd (STIBA Pertiwi) Section Editor Dr. Hegar Harini, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Reviewer/Mitra Bestari Dr. Syarfuni, M.Pd (Universitas Bina Bangsa Getsempena) Dr. Syafaat Ariful Huda, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Endah Resnandari, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Dr. Abdullah Muzakar, M.Pd (Universitas Hamzanwadi) Dr. Marzoan, M.Pd (STKIP Hamzar) Copy Editor Dr. Muhamad Suhardi, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Online Journal System: https://www.jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/index Journal Coresponding e-mail: jurnal.P4I@gmail.com Phone: 085239967417/ 085236615827 Address: Lingkungan Handayani, Kel. Leneng, kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi
Core Subject : Education, Social,
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi contains writings/articles on the results of thoughts and research results written by teachers, lecturers, experts, scientists, practitioners, and reviewers in all disciplines related to Educational Science and Psychology
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 34 Documents
Search results for , issue "Vol. 5 No. 1 (2025)" : 34 Documents clear
POLA ADAPTASI MAHASISWA RANTAU DALAM MENGHADAPI CULTURE SHOCK Khoirunnisa, Shabrina; Ade Sessiani, Lucky; Ikhrom, Ikhrom
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i1.5179

Abstract

Inter-regional students often experience culture shock due to differences in culture, language, and social norms in a new environment. This study aims to identify adaptation patterns used by inter-regional students in dealing with culture shock, such as describing emotional experiences, behaviors, and changes in cultural perceptions, and exploring the role of social support in the adaptation process. This study uses a qualitative phenomenological method with purposive sampling of five students from outside Java who are studying in Java and have lived in Java for at least one year. The results of the study indicate that adaptation takes place through academic, social, emotional, and institutional aspects, support from family, peers, fellow inter-regional friends, campus communities, and one's own coping strengths have been shown to accelerate the adaptation process. Adaptation does not only depend on external support, but also on personal resilience in building routines and accepting cultural changes. These findings confirm that the adaptation of inter-regional students is a gradual, dynamic, and multidimensional process that requires openness, good coping strategies, and ongoing social support. ABSTRAK Mahasiswa rantau seringkali mengalami culture shock akibat perbedaan budaya, bahasa, dan norma sosial di lingkungan baru. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pola adaptasi yang digunakan mahasiswa rantau dalam menghadapi culture shock, seperti menggambarkan pengalaman emosional, perilaku, dan perubahan persepsi budaya, serta mengeksplorasi peran dukungan sosial dalam proses adaptasi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif fenomenologi dengan pengambilan sampel menggunakan purposive sampling terhadap lima mahasiswa dari luar Pulau Jawa yang sedang menempuh pendidikan perkuliahan di Jawa dan telah tinggal di Jawa minimal selama satu tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adaptasi berlangsung melalui aspek akademik, sosial, emosional, dan institusional, dukungan dari keluarga, teman sebaya, teman sesama perantau, komunitas kampus, serta kekuatan coping diri sendiri terbukti mempercepat proses adaptasi. Adaptasi bukan hanya bergantung pada dukungan eksternal, tetapi juga pada ketahanan pribadi dalam membangun rutinitas dan menerima perubahan budaya. Temuan ini menegaskan bahwa adaptasi mahasiswa rantau adalah proses bertahap, dinamis, dan multidimensional yang memerlukan keterbukaan, strategi coping yang baik, serta dukungan sosial yang berkelanjutan.
GAMBARAN STRES NARAPIDANA REMAJA DI RUMAH TAHANAN NEGARA KELAS IIB MAUMERE Noeng, Agustina Vikariani; Gaharpung, Maria Megaloma H.; Barus, Debi Anggelina
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i1.4307

Abstract

This study aims to provide a comprehensive picture of the stress levels experienced by juvenile prisoners at the Class IIB Maumere State Detention Center. Using a descriptive quantitative approach, this study involved the entire population of juvenile prisoners aged 15-21 years, totaling 30 people, as samples through a census technique. Data collection was carried out using a closed questionnaire designed to measure stress levels. The results of the study revealed that the majority of juvenile prisoners, namely 66.7%, experienced stress levels in the moderate category. Meanwhile, 10.0% were in the low stress category, and only a small portion, namely 3.3%, showed high stress levels. These findings significantly indicate that juvenile prisoners face significant psychological stress during their detention. Therefore, this study underlines the urgency of greater attention to the mental health of juvenile prisoners. The development and implementation of appropriate and effective psychological interventions are needed to help them manage stress and improve their well-being while in detention. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran komprehensif mengenai tingkat stres yang dialami oleh narapidana remaja di Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Maumere. Menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif, penelitian ini melibatkan seluruh populasi narapidana remaja berusia 15-21 tahun, yang berjumlah 30 orang, sebagai sampel melalui teknik sensus. Pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner tertutup yang dirancang untuk mengukur tingkat stres. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa mayoritas narapidana remaja, yaitu sebesar 66,7%, mengalami tingkat stres dalam kategori sedang. Sementara itu, 10,0% berada dalam kategori stres rendah, dan hanya sebagian kecil, yakni 3,3%, yang menunjukkan tingkat stres tinggi. Temuan ini secara signifikan mengindikasikan bahwa narapidana remaja menghadapi tekanan psikologis yang cukup berarti selama menjalani masa penahanan mereka. Oleh karena itu, penelitian ini menggarisbawahi urgensi perhatian yang lebih besar terhadap kesehatan mental narapidana remaja. Diperlukan adanya pengembangan dan implementasi intervensi psikologis yang tepat dan efektif untuk membantu mereka mengelola stres dan meningkatkan kesejahteraan selama di dalam tahanan.
PADA PERNIKAHAN GELAHANG DAN DAMPAK KEJIWAANNYA: TINJAUAN NARATIFPADA PERNIKAHAN GELAHANG DAN DAMPAK KEJIWAANNYA: TINJAUAN NARATIF Gede Basudewa, Dewa; Bagus Jaya Lesmana, Cokorda; Komang Ana Mahardika, I; Fadly Arief, Rifqi; Wiswa Mitra Kenwa, Komang
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i1.4676

Abstract

ABSTRACT Gelahang marriage is a unique marital system in Balinese society that allows couples to maintain responsibilities toward both of their families. While this system offers benefits such as cultural heritage preservation and social support, it also presents significant psychological challenges. This study reviews the psychiatric impact of Pada Gelahang marriage, focusing on dual-role stress, identity conflicts, and the risks of anxiety and depression among couples in this system. Additionally, it explores psychodynamic perspectives and psychological coping strategies to mitigate stress in dual-family dynamics. Findings indicate that while Pada Gelahang marriage enhances cultural and social resilience, appropriate psychological interventions are essential to reduce emerging mental health risks. ABSTRAK Pernikahan Pada Gelahang merupakan bentuk perkawinan unik dalam masyarakat Bali yang memungkinkan pasangan untuk tetap memiliki tanggung jawab terhadap keluarga masing-masing. Meskipun sistem ini menawarkan manfaat dalam hal pelestarian warisan budaya dan dukungan sosial, ia juga menimbulkan tantangan psikologis yang signifikan. Studi ini meninjau dampak psikiatri dari pernikahan Pada Gelahang dengan menyoroti tekanan peran ganda, konflik identitas, serta risiko kecemasan dan depresi pada pasangan yang menjalani sistem ini. Selain itu, artikel ini juga mengeksplorasi perspektif psikodinamik dan strategi penanganan psikologis yang dapat diterapkan untuk mengurangi stres dalam dinamika keluarga ganda. Temuan menunjukkan bahwa meskipun pernikahan Pada Gelahang dapat meningkatkan resiliensi budaya dan sosial, intervensi psikologis yang tepat sangat diperlukan untuk mengurangi risiko kesehatan mental yang muncul.
HUBUNGAN ANTARA PERCEIVED ORGANIZATIONAL SUPPORT DENGAN WORK ENGAGEMENT PADA GURU HONORER SEKOLAH DASAR Masithoh Chairun Nisa, Vidalisia; Noviya Andriyani, Isnanita
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i1.4695

Abstract

Work engagement does not occur automatically so that honorary teachers in an organization cannot be separated from organizational support. The purpose of this study is to see and explain the relationship between perceived organizational support and work engagement in honorary elementary school teachers in Kulon Progo. This research uses quantitative methods with a correlational study approach. Data were collected using purposive sampling technique, involving 87 honorary teachers from 651 elementary school honorary teachers in Kulon Progo. The measurement instruments used were the “Perceived Organizational Support” scale (? = 0.89) and the “Work Engagement” scale (? = 0.86). The results of hypothesis testing analysis using the Pearson correlation method showed a significant and positive relationship between perceived organizational support and work engagement. The significance value of 0.021 (p < 0.05) indicates that the relationship is significant. Pearson correlation of 0.248 indicates a positive relationship, which means that an increase in the level of perceived organizational support will be followed by an increase in the level of work engagement. Vice versa, a decrease in the level of perceived organizational support directly decreases the level of work engagement. ABSTRAK Work engagement tidak terjadi secara otomatis sehingga guru honorer dalam suatu organisasi tidak terlepas dari organizational support. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat dan menjelaskan hubungan antara perceived organizational support dengan work engagement pada guru honorer sekolah dasar di Kulon Progo. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan correlational study. Pengambilan data menggunakan teknik purposive sampling, melibatkan 87 guru honorer dari 651 guru honorer sekolah dasar di Kulon Progo. Instrumen pengukuran yang digunakan adalah skala “Perceived Organizational Support” (? = 0,89) dan skala “Work Engagement” (? = 0,86). Hasil analisis uji hipotesis menggunakan metode korelasi Pearson menunjukkan adanya hubungan signifikan dan positif antara perceived organizational support dan work engagement. Nilai signifikansi sebesar 0,021 (p < 0,05) menunjukkan bahwa hubungan tersebut signifikan. Pearson correlation sebesar 0,248 mengindikasikan hubungan positif, yang berarti kenaikan tingkat perceived organizational support akan diikuti oleh kenaikan tingkat work engagement. Begitu pula sebaliknya, menurunnya tingkat perceived organizational support secara langsung menurunkan tingkat work engagement.

Page 4 of 4 | Total Record : 34