cover
Contact Name
Salman Abdul Muthalib
Contact Email
tafse@ar-raniry.ac.id
Phone
+6282165108654
Journal Mail Official
tafse@ar-raniry.ac.id
Editorial Address
Gedung Fakultas Ushuluddin Lantai I, Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin, UIN Ar-Raniry, Jln. Lingkar Kampus, Kopelma Darussalam Banda Aceh, Aceh 23111
Location
Kota banda aceh,
Aceh
INDONESIA
TAFSE: Journal of Qur'anic Studies
ISSN : 26204185     EISSN : 27755339     DOI : 10.22373
TAFSE: Journal of Qur’anic Studies is an open access, peer-reviewed journal that is committed to the publications of any original research article in the fields of Alquran and Tafsir sciences, including the understanding of text, literature studies, living Qur’an and interdisciplinary studies in Alquran and Tafsir. Papers published in this journal were obtained from original research papers,which have not been submitted for other publications. The journal aims to disseminate an academic rigor to Qur’anic studies through new and original scholarly contributions and perspectives to the field. Tafse: Journal of Qur’anic Studies DOES NOT CHARGE fees for any submission, article processing (APCs), and publication of the selected reviewed manuscripts. Journal subscription is also open to any individual without any subscription charges.All published manuscripts will be available for viewing and download from the journal portal for free.
Articles 174 Documents
Hubungan Ilmu dan Amal dalam Al-Qur’an Nurlaila Nurlaila; Mudaris Almuzammil
TAFSE: Journal of Qur'anic Studies Vol 7, No 2 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/tafse.v7i2.12844

Abstract

Knowledge and its practice are two things that are very related; the practice of something should be based on knowledge so that what is done is in accordance with the teachings of religion. Ironically, some people, without knowledge, dare to do something with full confidence. This paper aims to discuss the relationship between knowledge and charity in the Qur'an and how to apply these two concepts in life. This research was library research; the data was collected using the Mawdu'i method. The study showed that the verses that explain knowledge first and then practice are found in Surah Muhammad, verse 19. Practice without knowledge in Surah al-Isra verse 36. knowledge must be accompanied by practice in Surah al-Baqarah verse 44 and Surah al-Saf verses 2 and 3. Applying the concepts of knowledge and practices in life can be started by studying religion first. So that you are not wrong in doing charity, you should follow the Prophet as a good example in practice.Abstrak: Ilmu dan amal merupakan dua hal yang sangat berkaitan, pengamalan terhadap sesuatu hendaknya didasarkan pada pengetahuan, sehingga apa yang dilakukan sesuai dengan ajaran dalam agama. Ironisnya, sebagian masyarakat, tanpa didasari pada pengetahuan, berani mengamalkan sesuatu dengan penuh keyakinan. Tulisan ini berupaya mengkaji hubungan antara ilmu dan amal dalam al-Qur’an serta bagaimana mengaplikasikan kedua konsep tersebut dalam kehidupan. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan, data dianalisis menggunakan metode mawdu’i. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ayat-ayat yang menjelaskan berilmu dahulu baru beramal terdapat pada surah Muhammad ayat 19. Beramal tanpa didasari dengan ilmu pada surah al-Isra’ ayat 36. Berilmu harus disertai dengan amalan pada surah al-Baqarah ayat 44, surah al-Saf ayat 2 dan 3. Mengaplikasikan konsep ilmu dan amal dalam kehidupan dapat diawali dengan mempelajari ilmu agama terlebih dahulu, agar tidak salah dalam beramal hendaknya mengikuti Rasulullah sebagai teladan yang baik dalam beramal.
Praktik Distribusi Zakat Padi Berdasarkan Korelasi Surah al-Taubah Ayat 60 di Kecamatan Indrapuri Kabupaten Aceh Besar Zainuddin Zainuddin; Raihanul Akmal
TAFSE: Journal of Qur'anic Studies Vol 7, No 2 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/tafse.v7i2.12612

Abstract

In the Qur'an, surah al-Taubah, verse 60, Allah explains the groups entitled to receive zakat. However, the distribution of zakat in several areas is carried out without referring to the word of God. as happened in Gampong Mon Alue and Jruek Balee, Indrapuri District, and Aceh Besar District. Based on this, the researcher examines the process of distributing zakat in the two regions and its conformity with the word of Allah in Surah al-Taubah verse 60. This research is field research using a qualitative descriptive method. The sources of data used are the results of interviews and observations. The research results obtained were the distribution of rice zakat in several gampongs in Indrapuri District, which were distributed to only three senifs, namely the poor, the poor, and the amil. However, in fact, in the distribution process, there was still a mistake, in which the artistic rights for fardhu kifayah savings were cut, such as the purchase of shrouds and payment for burial plots. In addition, there is also a distribution of zakat to all residents of the gampong regardless of social status, so that the rich also receive part of the rice zakat that is distributed; this is done to avoid conflicts and the emergence of social jealousy among members of the community.Abstrak: Dalam al-Qur’an surah al-Taubah ayat 60, Allah telah menjelaskan golongan yang berhak menerima zakat. Akan tetapi, pendistribusian zakat di beberapa wilayah dilakukan dengan tidak mengacu pada firman Allah tersebut. Sebagaimana yang terjadi di Gampong Mon Alue dan Jruek Balee Kecamatan Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar. Berdasarkan hal tersebut, maka peneliti mengkaji bagaimana proses pendistribusian zakat di kedua wilayah tersebut serta kesesuaiannya dengan firman Allah dalam surah al-Taubah ayat 60. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research) dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif. Sumber data yang digunakan adalah hasil wawancara dan observasi. Hasil penelitian yang diperoleh adalah pendistribusian zakat padi di beberapa gampong yang terdapat di Kecamatan Indrapuri didistribusikan kepada tiga senif saja yaitu fakir, miskin, dan amil. Akan tetapi, pada kenyataannya dalam proses distribusi tersebut masih terdapat kekeliruan, dimana dilakukan pemotongan hak senif untuk tabungan fardhu kifayah, seperti pembelian kain kafan dan pembayaran tanah kuburan. Selain itu, juga terdapat pembagian zakat ke semua penduduk gampong tanpa melihat status sosial, sehingga orang kaya juga menerima bagian dari zakat padi yang didistribusikan, hal ini dilakukan agar terhindar dari konflik dan munculnya kecemburuan sosial sesama masyarakat.
Karakteristik Masyarakat Islam Perspektif Al-Qur’an: Analisis QS. Ali-Imran Ayat 110 Husnul Fikry; Sulaiman W; Nuraini Nuraini; Ainun Mardhiah
TAFSE: Journal of Qur'anic Studies Vol 7, No 2 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/tafse.v7i2.13898

Abstract

The Qur’an as a guide has not been understood by some Muslim communities. Therefore, bad behavior still occurs, so the character of Islamic society has a bad impact. This discussion is to reveal "How are the characteristics of Islamic society from the perspective of the Qur'an". Method of discussion uses a thematic interpretation approach, collecting Qur'anic verses related to "characteristics of Islamic society." The data is processed based on two sources. (a) The primary source is in the form of Qur'anic verses related to "characteristics of Islamic society" and its interpretation; (b) secondary sources that are closely related to the main material in the discussion, such as books, such as Qurani Society and Tracing the Concept of Ideal Society in the Qur'an, as well as several books of interpretation, such as the book of interpretation of Al-Mishbah, Al-Azhar, etc. The results show that the Islamic community is made up of people who have the best character, provided that they are carrying out the rules of Allah SWT. There are three reasons why Muslims are the best people. 1. Muslims are believers. 2. Muslims are people who always advocate for goodness (amar ma'rûf), and 3. Muslims are people who do not allow crimes that can damage society (nahi mungkar).Abstrak: Al-Qur’an sebagai petunjuk belum dipahami oleh sebagian masyarakat muslim. Oleh karena itu, perilaku tidak baik masih saja terjadi, sehingga karakter masyarakat Islam berdampak buruk. Pembahasan ini untuk mengungkapkan; “Bagaimana Karakteristik Masyarakat Islam Perspektif Al-Qur’an". Metode pembahasan ini menggunakan pendekatan tafsir tematik, mengumpulkan ayat-ayat Alquran yang berkaitan dengan “karakteristik masyarakat Islam”. Data diolah berdasarkan dua sumber. (a) Sumber primer berupa ayat-ayat Alquran yang berkaitan dengan “karakteristik masyarakat Islam” dan penafsirannya, (b) Sumber sekunder yang erat kaitannya dengan bahan pokok dalam pembahasan, seperti buku; Qurani Society, Menelusuri Konsep Masyarakat Ideal dalam Alquran, serta beberapa kitab tafsir, seperti kitab tafsir Al-Mishbah, Al-Azhar, dan lain-lain. Hasil menunjukkan bahwa masyarakat Islam perspektif Alquran adalah umat yang memiliki karakter terbaik dengan syarat selagi umat Islam tersebut menjalankan aturan Allah SWT. Ada tiga alasan bahwa umat Islam adalah umat terbaik. 1. Umat Islam adalah umat yang beriman kepada Allah SWT. 2. Umat Islam adalah umat yang senantiasa menganjurkan kepada kebaikan “amar ma'rûf” dan 3. Umat Islam adalah umat yang tidak membiarkan kejahatan yang dapat merusak masyarakat “nahi mungkar.”
Pemahaman Masyarakat Gampong Lapang Kabupaten Aceh Barat terhadap Qada dan Fidiah Puasa dalam Al-Qur’an Salman Abdul Muthalib; Furqan Furqan; Oka Ridayani
TAFSE: Journal of Qur'anic Studies Vol 7, No 2 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/tafse.v7i2.13006

Abstract

Fasting qada (substitute) and fidiah is an obligation for people who do not fast. Terms, causes, and mechanisms for qada and fidiah have been formulated by scholars based on the Qur'an and hadith. To be accepted by Allah, one must understand and practice religious teachings correctly according to the provisions. In reality, it was found that the practice of qada and fidiah fasting in the Gampong Lapang community was different from the formulation of the ulama. This study will look at the Gampong Lapang community's understanding of qada and fidiah in the Koran and the mechanisms for their daily practice. The results of the study show that a small proportion of people have correctly understood qada, fasting, and fidiah according to the explanation of the scholars and the meaning of letters Al-Baqarah 184 and 185. While most of them are mistaken in understanding the meaning and procedures for its implementation. In their understanding, only the elderly and sick people are given relief, the fidiah applies to parents only, and all sick and traveling people may not fast because there is a fidiah. Qada will be doubled if the year has passed. There is also an understanding that only men have to double the number of days that must be Qada if the year has passed.Abstrak: Puasa qada (pengganti) dan fidiah adalah kewajiban bagi orang yang tidak berpuasa. Syarat, sebab dan mekanisme qada dan fidiah telah rumuskan ulama berdasarkan Al-Qur’an, hadis. Seseorang harus memahami dan mengamalkan dengan benar sesuai ketentuan agar praktik ajaran agama diterima Allah. Realita dalam masyarakat, ditemukan praktik puasa qada dan fidiah dalam masyarakat Gampong Lapang berbeda dengan rumusan para ulama. Kajian ini akan melihat pemahaman masyarakat Gampong Lapang terhadap qada dan fidiah dalam Al-Qur'an dan mekanisme pengamalannya sehari-hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian kecil masyarakat telah memahami qada puasa dan fidiah dengan benar sesuai dengan penjelasan ulama dan makna surat Al-Baqarah 184 dan 185. Sementara sebagian besar keliru dalam memahami makna dan tata cara pelaksanaannya, mereka memahami bahwa hanya orang tua dan orang sakit yang diberikan keringanan, fidiah berlaku untuk orang tua saja, semua orang sakit dan bepergian boleh tidak berpuasa karena ada fidiah. Qada akan berlipat ganda jika tahun telah berlalu, ada juga yang memahami bahwa hanya laki-laki yang harus melipatgandakan jumlah hari yang diqada jika tahun telah berlalu.
Seni Baca Al-Qur’an secara Halaqah di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) Nurul Mubtadi Gampong Simpang Peut Nagan Raya Muslim Djuned; Syukran Abubakar; Nya`k Merryana
TAFSE: Journal of Qur'anic Studies Vol 7, No 2 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/tafse.v7i2.12873

Abstract

TPQ Nurul Mubtadi is one of the recitation places in Simpang Peut Village that teaches the art of reading the Al-Qur'an with a different method from other recitation places, where the recitation is carried out in halaqah form. This paper aims to discuss the level of success in the art of reading the Quran with halaqah and the methods applied to TPQ Nurul Mubtadi in reading the Quran. This was a qualitative study with data collection techniques including observation, interviews, and documentation. This study showed that the halaqah reading of the Koran in the art of reading the Koran for TPQ Nurul Mubtadi students had a very good effect because the students were required to master the science of recitation and the basic rhythms such as bayyati syuri, bayyati husaini, hijaz, nahwand dan rast . Classes are held on Wednesday and Thursday nights. The method applied in the Art of Reading the Qur'an is the talaqqi or musyafahah method.Abstrak: Taman Pendidikan al-Qur’an (TPQ) Nurul Mubtadi merupakan salah satu tempat pengajian di Gampong Simpang Peut yang mengajarkan seni baca Al-Qur’an dengan metode yang berbeda dari tempat pengajian lain, di mana pengajian seni baca AL-Qur’an dilakukan dalam bentuk halaqah. Dari permasalahan tersebut, tulisan ini akan membahas sejauh mana tingkat kehasilan seni baca Al-Qur’an secara halaqah serta metode yang diterapkan pada TPQ Nurul Mubtadi dalam pembacaan Al-Qur’an. Kajian ini merupakan kajian lapangan yang bersifat kualitatif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembacaan Al-Qur’an secara halaqah menggunakan seni baca Al-Qur’an pada santri TPQ Nurul Mubtadi sangat baik, peserta diwajibkan menguasai ilmu tajwid serta menguasai irama dasar seperti bayyati syuri, bayyati husaini, hijaz, nahwand dan rast. Pembelajaran dilaksanakan pada malam rabu dan kamis. Adapun metode yang diterapkan dalam Seni Baca Al-Qur’an adalah metode talaqqi atau musyafahah.
Nilai Akhlak Qur’ani dalam Kehidupan Masyarakat Lukman Hakim; Muhajirul Fadhli; Mulmustari Mulmustari
TAFSE: Journal of Qur'anic Studies Vol 7, No 2 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/tafse.v7i2.12687

Abstract

The rapid development of technology has had a negative influence on morals in society, religious values which were initially very strong in society have experienced a drastic decline. From these problems, this paper will look at the formulation of Qur'anic moral values in people's lives. As a literature review, data was collected through document review with descriptive analysis. The results of the study show that the concept of Qur'anic morality encourages humans to have the morals described by the texts of the Qur'an. Because a concept is meaningless if it is only in the form of theoretical value. Methods that can be used in applying morals in life are exemplary methods, habituation and coaching methods. The moral values that can be felt by humans are balance, social harmony and harmony in life. This value can be felt when the application of the morals taught by the Qur'an is practiced in everyday life.Abstrak: Perkembangan teknologi yang begitu cepat telah memberi pengaruh negatif terhadap akhlak dalam masyarakat, nilai-nilai agama yang awalnya sangat kental hidup dalam masyarakat telah mengalami penurunan yang drastis. Dari persoalan tersebut, tulisan ini akan melihat perumusan nilai akhlak qur’ani dalam kehidupan masyarakat. Sebagai kajian yang bersifat kepustakaan, data dikumpulkan melalui telaah dokumen dengan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep akhlak qur’ani menganjurkan manusia memiliki akhlak yang dijelaskan oleh nash-nash Al-Qur’an. Karena sebuah konsep tidak bermakna apabila hanya dalam bentuk nilai teoritis. Metode yang dapat digunakan dalam menerapkan akhlak dalam kehidupan yaitu metode keteladanan, pembiasaan dan metode pembinaan. Adapun nilai akhlak yang dapat dirasakan oleh manusia adalah adanya keseimbangan, harmoni sosial dan keselarasan dalam kehidupan. Nilai tersebut dapat dirasakan apabila penerapan akhlak yang telah diajarkan oleh Al-Qur’an dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Perlindungan Hak Warga Negara dalam Perspektif Al-Qur’an dan Konstitusi Muhammad Amin; Maula Sari
TAFSE: Journal of Qur'anic Studies Vol 8, No 1 (2023)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/tafse.v8i1.17512

Abstract

Protection of citizens rights is a very urgent issue in Islam. As a perfect religion, Islam accommodates the rights of every individual to be protected and respected so that no one can take them away. This paper discusses the protection of citizens' rights in the perspective of the Koran. This paper uses library research (liberary research) with a descriptive qualitative approach. The Qur'an mentions at least six rights of citizens that must be protected. These rights include: the right to live, the right to work, the right to education, the right to express opinions, the right to religion, the right to be independent, and the right to be treated equally in the eyes of the law, economy and socio-culture. Rules regarding the rights of citizens in Indonesia are regulated in the 1945 Constitution (UUD) and its derivatives. Protection of the rights of citizens is a form of the presence of the state in protecting and defending the rights of every citizen.Abstrak: Perlindungan hak warga negara merupakan isu yang sangat urgen dalam Islam. Sebagai agama yang sempurna, Islam mengakomodir hak setiap individu untuk dilindungi dan dihormati agar tidak dapat dirampas oleh siapapun. Tulisan ini membahas tentang perlindungan hak-hak warga negara dalam perspektif al-Qur’an. Tulisan ini menggunakan penelitian perpustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Al-Qur’an menyebutkan minimal ada enam hak-hak warga negara yang wajib untuk dilindungi. Hak-hak tersebut antara lain: hak untuk hidup, hak mendapat pekerjaan, hak memperoleh pendidikan, hak untuk mengeluarkan pendapat, hak untuk beragama, hak untuk merdeka, dan hak untuk diperlakukan sama di mata hukum, ekonomi dan sosial budaya. Aturan mengenai hak-hak warga negara di Indonesia diatur di dalam Undang-Undang Dasar (UUD) tahun 1945 dan turunannya. Perlindungan terhadap hak-hak warga negara merupakan wujud dari kehadiran negara dalam melindungi dan membela hak setiap warganya.
Hermeneutika Hudud menurut Muhammad Syahrur: Telaah tentang Relevansi Pemakaian Jilbab dengan Perkembangan Zaman Irfansyah Irfansyah; Khairunnisa Khairunnisa
TAFSE: Journal of Qur'anic Studies Vol 8, No 1 (2023)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/tafse.v8i1.17144

Abstract

The interpretation of clothing, if understood using a classical approach, would result in stagnant interpretations that are irrelevant to the essence of the Qur'an, which should be related to the development of time and also enter the world of fashion. Thus, Muhammad Syahrur offers a new approach to interpreting the Qur'an, namely the hermeneutics of hudud theory. This research reinterprets the meaning of the Jilbab by using the hermeneutics of hudud theory as an analytical tool. This study falls under the category of library research, and data collection is done through descriptive-qualitative literature review. The main references for this writing include the works of Muhammad Syahrur and other related literature as supporting sources. The research findings indicate that Syahrur interprets the word "khumur" in the Qur'an as "al-Satr" (covering), rather than a headscarf, while "al-Juyub" refers to pockets in clothing or something that can be closed. In relation to a woman's body, "al-Juyub" means the genitals, the two buttocks (anus), the area between the two breasts, the lower part, and the lower armpit. Although the genitals and anus are included in "al-Juyub," both of them are considered private parts that cannot be seen by others.Abstrak: Pemaknaan terhadap pakaian jika dipahami dengan menggunakan pendekatan klasik maka akan menghasilkan interpretasi yang stagnan, hal tersebut tidak relevan dengan hakikat Al-Qur’an yang semestinya selaras terhadap perkembangan zaman dan juga masuk ke dunia fashion. Dengan demikian Muhammad Syahrur menawarkan pendekatan baru dalam interpretasi Al-Qur’an yaitu teori hermeneutika hudud. Penelitian ini mereinterpretasikan pemaknaan Jilbab dengan menggunakan teori hemeneutika Hudud sebagai pisau analisis. Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian kepustakaan (library research), dan pengumpulan data melalui telaah literatur yang dianalisis secara deskriptif-kualitatif. Rujukan utama tulisan ini meliputi karya Muhammad Syahrur dan literatur terkait lainnya sebagai penyokong. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Syahrur menafsirkan kata khumur dalam Al-Qur’an sebagai al-Satr (menutupi), bukan kerudung, sedangkan al-Juyub adalah saku dalam pakaian atau sesuatu yang berkatup. Dalam kaitannya dengan tubuh wanita, al-Juyub berarti kemaluan, dua pantat (anus), bagian antara dua buah dada dan bagian bawah serta ketiak bagian bawah. Meskipun kemaluan dan anus termasuk dalam al-Juyub, namun keduanya termasuk kemaluan besar yang tidak dapat dilihat oleh orang lain. 
Problematika Program Tahfiz Al-Qur’an di SDN Bueng Cala Aceh Besar Abd. Wahid; Muhammad Shiddiq
TAFSE: Journal of Qur'anic Studies Vol 8, No 1 (2023)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/tafse.v8i1.12419

Abstract

The Tahfiz Al-Qur'an program is not only applied and developed in Islamic educational institutions and Islamic boarding schools but has also been implemented in formal educational institutions, both private and public. This research aims to examine the implementation of the Tahfiz Al-Qur'an program at SDN Bueng Cala and identify the challenges in its implementation at SDN Bueng Cala, Aceh Besar. This study adopts a field research approach, where data collection takes place in the field to describe, explain, and address issues related to the phenomena or events under investigation. The findings of this research reveal that the implementation of the Tahfiz Al-Qur'an program is conducted from grade IV to grade VI, with a duration of 70 minutes per week for each class. The program is implemented within each respective class. The methods employed for Tahfiz at SDN Bueng Cala include the takrir method, talaqqi method, and muraja'ah method.Abstrak: Program tahfiz Al-Qur’an dewasa ini tidak hanya diterapkan dan dikembangkan di lembaga-lembaga pendidikan Islam ataupun pondok pesantren, tetapi juga telah diterapkan di lembaga-lembaga pendidikan formal, baik swasta maupun negeri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan program tahfiz Al-Qur’an di SDN Bueng Cala, dan mengetahui problematika dalam pelaksanaan program tahfiz Al-Qur’an di SDN Bueng Cala, Aceh Besar. Adapun penelitian ini bersifat field research, Dimana proses pengambilan data dilakukan di lapangan, untuk menggambarkan, menjelaskan, dan menjawab persoalan-persoalan suatu fenomena atau peristiwa yang terjadi ketika melakukan penelitian. Hasil dari penelitian ini yaitu Implementasi program tahfiz Al-Qur’an mulai diterapkan pada kelas IV sampai kelas VI, program tahfiz ini diadakan 70 menit per minggu pada setiap kelasnya, pelaksanaan program tahfiz berlangsung di kelas masing-masing. Dan metode tahfiz yang dipakai di SDN Bueng Cala adalah metode takrir, metode talaqqi, dan metode muraja’ah.
Penerapan Jual Beli Online dalam Masyarakat Kecamatan Syiah Kuala Kota Banda Aceh dan Hubungannya dengan Petunjuk Al-Qur’an Nuzulul Fadhilah
TAFSE: Journal of Qur'anic Studies Vol 8, No 1 (2023)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/tafse.v8i1.12422

Abstract

The reality in the field indicates that there are several problems occurring in some online buying and selling activities in Syiah Kuala Subdistrict. Buyers are forced to accept goods that do not meet their expectations. The Qur'an explains that buying and selling should be conducted willingly and without oppression or being oppressed. Based on these issues, the objective of this research is to examine the online buying and selling practices among sellers and buyers in Syiah Kuala Subdistrict and their relevance to the Qur'an's guidance on online buying and selling among sellers and buyers in Syiah Kuala Subdistrict. This study adopts a qualitative approach using a descriptive method with a total of ten informants consisting of five sellers and five buyers. Data collection techniques include direct field observation and interviews. The results reveal that online buying and selling practices in Syiah Kuala Subdistrict involve several stages, namely ordering, payment, product description, offers/prices, and terms/complaints. The relevance of online buying and selling practices in Syiah Kuala Subdistrict to the Qur'an's guidance can be divided into two categories: first, practices that align with the guidance and are in line with the Qur'an, such as voluntary agreement or the absence of coercion. Second, practices that do not align with the principles or guidance in the Qur'an, such as oppressing one party by not paying for the goods within the specified time.Abstrak: Realita di lapangan menunjukkan bahwa terdapat beberapa masalah yang terjadi di sebagian jual beli online di Kecamatan Syiah kuala. Keterpaksaan seorang pembeli menerima barang yang tidak sesuai dengan yang diharapkan. Al-Qur’an menjelaskan jual beli haruslah dilaksanakan dengan rasa suka sama suka dan tidak menzalimi maupun dizalimi. Berdasarkan permasalahan tersebut, tujuan penelitian ini adalah bagaimana praktik jual beli online dalam kalangan penjual dan pembeli di Kecamatan Syiah Kuala dan relevansinya dengan petunjuk Al-Qur’an terhadap jual beli online dalam kalangan penjual dan pembei di Kecamatan Syiah kuala. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yaitu metode deskriptif dengan jumlah sepuluh informan yang terdiri dari lima penjual dan lima pembeli. Teknik pengumpulan data dengan observasi langsung ke lapangan, wawancara. Hasil menunjukkan bahwa praktik jual beli online di Kecamatan Syiah Kuala terdiri dari beberapan tahapan yaitu; pemesanan, pembayaran, deskripsi barang, penawaran/harga dan syarat/komplain. Relevansi praktik jual beli online di Kecamatan Syiah Kuala dengan petunjuk Al-Qur’an terbagi kepada dua kategori: pertama, sesuai dengan petunjuk dan relevan dengan Al-Qur’an, contohnya suka sama suka atau tidak adanya keterpaksaan. Kedua, tidak sesuai dengan prinsip atau petunjuk dalam Al-Qur’an, contohnya menzalimi salah satu pihak seperti tidak membayar barang pada waktu yang telah ditentukan.

Page 11 of 18 | Total Record : 174