cover
Contact Name
Salman Abdul Muthalib
Contact Email
tafse@ar-raniry.ac.id
Phone
+6282165108654
Journal Mail Official
tafse@ar-raniry.ac.id
Editorial Address
Gedung Fakultas Ushuluddin Lantai I, Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin, UIN Ar-Raniry, Jln. Lingkar Kampus, Kopelma Darussalam Banda Aceh, Aceh 23111
Location
Kota banda aceh,
Aceh
INDONESIA
TAFSE: Journal of Qur'anic Studies
ISSN : 26204185     EISSN : 27755339     DOI : 10.22373
TAFSE: Journal of Qur’anic Studies is an open access, peer-reviewed journal that is committed to the publications of any original research article in the fields of Alquran and Tafsir sciences, including the understanding of text, literature studies, living Qur’an and interdisciplinary studies in Alquran and Tafsir. Papers published in this journal were obtained from original research papers,which have not been submitted for other publications. The journal aims to disseminate an academic rigor to Qur’anic studies through new and original scholarly contributions and perspectives to the field. Tafse: Journal of Qur’anic Studies DOES NOT CHARGE fees for any submission, article processing (APCs), and publication of the selected reviewed manuscripts. Journal subscription is also open to any individual without any subscription charges.All published manuscripts will be available for viewing and download from the journal portal for free.
Articles 174 Documents
Konsep Ikhlas dalam Al-Qur‘An Miss Rosidah Haji Daud; Salman Abdul Muthalib; Muslim Djuned
TAFSE: Journal of Qur'anic Studies Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/tafse.v2i2.13635

Abstract

The Qur'an is the holy book of Muslims which is the guide and guidance of human life both as individuals and in groups. One of the solutions offered by the Qur'an in living life is with a sincere attitude, sincerity is the basis for accepting human deeds. While a phenomenon in this modern era, many people are found who tend to view that life is not free, there is always a fee to be paid, this makes them always take into account profit and loss in all aspects of their work, and this situation leads to the difficulty of an action. that humans do sincerely. Therefore, the study of sincerity has its own urgency, so humans do not always measure success with the material they receive. This research is a literature study that wants to explain the meaning of sincerity contained in the Qur'an and the Prophet's hadith. Data was collected through thematic methods and analyzed descriptively. The results of the study indicate that sincerity is an act based on motivation to gain the pleasure of Allah swt. Sincerity is the main condition for the acceptance of an act of worship. Without sincerity, any amount of worship will not reach Allah and even be classified as a useless charity. Al-Qur‘an adalah kitab suci umat Islam yang menjadi pedoman dan tutunan hidup manusia baik sebagai individu maupun berkelompok. Salah satu solusi yang ditawarkan al-Qur‘an dalam menjalani hidup adalah dengan sikap ikhlas, ikhlas merupakan dasar diterimanya amal perbuatan manusia. Sementara fenomena di era modern ini, banyak ditemukan manusia yang cenderung memandang bahwa hidup ini tidak ada yang gratis, selalu ada biaya yang harus dibayar, hal ini yang menjadikan mereka selalu memperhitungkan untung rugi dalam segala aspek pekerjaannya, dan keadaan ini mengarah kepada sulitnya suatu perbuatan yang dilakukan manusia secara ikhlas. Oleh karena itu, kajian tentang ikhlas memiliki urgensi tersendiri, sehingga memuat manusia tidak selalu mengukur keberhasilan dengan materi yang dia terima. Penelitian ini bersifat kepustakaan yang ingin menjelaskan makna ikhlas yang terkandung dalam al-Qur’an dan hadis Nabi. Data yang dikumpulkan melalui metode tematik dan dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikhlas merupakan perbuatan yang berlandaskan motivasi untuk memperoleh keridhaan Allah swt. Ikhlas adalah syarat utama diterimanya sebuah amal ibadah. Tanpa keikhlasan, amal ibadah sebesar apapun tidak akan sampai kepada Allah dan bahkan tergolong sebagai amal yang sia-sia.
Studi Lafaz Din, Millah, Ummah dan Huda dalam Al-Qur’an Furqan Furqan; Khairatur Ridhatillah
TAFSE: Journal of Qur'anic Studies Vol 7, No 1 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/tafse.v7i1.12489

Abstract

One of the specialties of the Qur'an is that it is rich in vocabulary. As there are two or more lafazes used to denote one meaning or meaning adjacent. Al-din, millah, ummah and huda are synonymous lafaz, the words mean religion, but the Qur'an uses them in different connotations. This research is a literature study with a maudhui method approach and content analysis techniques (content analysis). The results showed that lafaz al-din is mentioned 92 times in the Qur'an which is contained in 82 verses. According to Quraish Shihab, lafaz al-din means submission, obedience, calculation, religion and recompense. Ibn Katsir interpreted lafaz al-din as the meaning of obedience. Lafaz millah is mentioned 14 times in the Qur'an. According to Quraish Shihab, this lafaz means a set of teachings and according to Ibn Katsir it means religion (i.e. Islam) brought by prophet Ibrahim. Lafaz ummah with its various forms is found as many as 64 words with varying meanings. In the singular it is called 51 times and the plural form 13 times. According to Ibn Katsir, lafaz ummah means religion and tawhid. Lafaz huda in the Qur'an is mentioned in six forms with 73 derivations, each form has its own meaning. According to al-Maraghi, lafaz huda means religion and instruction, while Quraish Shihab argues that lafaz huda means divine hidayah, the teachings brought by the Prophet Muhammad, hidayah, taufik and Islamic teachings. Salah satu keistimewaan Alquran adalah kaya akan kosakata. Seperti terdapat dua lafaz atau lebih yang digunakan untuk menunjukkan satu makna atau makna yang berdekatan. Al-din, millah, ummah dan huda merupakan lafaz sinonim, kata-kata tersebut berarti agama, tetapi Alquran memakainya dalam konotasi yang berbeda. Penelitian ini adalah studi kepustakaan dengan pendekatan metode maudhui dan teknik analisis isi (content analisys). Hasil penelitian menunjukkan bahwa lafaz al-din disebutkan sebanyak 92 kali dalam Alquran yang terdapat pada 82 ayat. Menurut Quraish Shihab, lafaz al-din bermakna ketundukan, ketaatan, perhitungan, agama dan balasan. Ibnu Katsir menafsirkan lafaz al-din bermakna ketaatan. Lafaz millah disebutkan 14 kali dalam Alquran. Menurut Quraish Shihab, lafaz ini bermakna sekumpulan ajaran dan menurut Ibnu Katsir bermakna agama (yaitu Islam) yang dibawa oleh Nabi Ibrahim. Lafaz ummah dengan berbagai bentuknya dijumpai sebanyak 64 kata dengan arti yang bervariasi. Dalam bentuk tunggal disebut sebanyak 51 kali dan bentuk jamak 13 kali. Menurut Ibnu Katsir, lafaz ummah bermakna agama dan tauhid. Lafaz huda dalam Alquran disebutkan dalam enam bentuk dengan 73 derivasi, setiap bentuk memiliki arti tersendiri. Menurut al-Maraghi, lafaz huda bermakna agama dan petunjuk, sedangkan Quraish Shihab berpendapat lafaz huda bermakna hidayah ilahi, ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad, hidayah, taufik dan ajaran Islam. 
Jamak dan Qasar Salat dalam Islam: Telaah terhadap Pemikiran M. Hasbi Ash-Shiddieqy Muhammad Iqbal
TAFSE: Journal of Qur'anic Studies Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/tafse.v2i2.13603

Abstract

Hasbi Ash-Shiddieqy is a scholar who asserts that a Muslim can perform multiple prayers without excuse. This thought is different from the majority of other scholars who stipulate certain conditions for the permissibility of performing plural prayers. From the problems above, it is necessary to study the main ideas that underlie Hasbi's understanding of the issue. This study is bibliographic in nature by using Hasbi's books as basic reference materials. The results of the study showed that Hasbi allowed plural prayers to be performed even without the age of consent. The permissibility of having multiple prayers in a state of residence and rain is used as an excuse for the ability to perform multiple prayers without excuse. This is based on a hadith which explains that the Prophet had performed plural and qasar prayers only to make it easier for his people. Hasbi's thinking only prioritizes understanding textually without looking at the asbab al-wurud hadith. Meanwhile, al-Nawawi and Yusuf al-Qaradawi did not allow plural without any excuse on the grounds that plural and qasar prayers are rukhsah from Allah. Meanwhile, according to Hasbi, the permissibility of plural and qasar without aging is based on the that Allah does not want trouble for His servants. According to him, everything that can be simplified must be made easier, including in matters of worship. Hasbi Ash-Shiddieqy seorang ulama yang menegaskan bahwa seorang muslim dapat menjamak salat tanpa uzur. Pemikiran ini berbeda dengan mayoritas ulama lainnya yang menetapkan syarat-syarat tertentu terhadap kebolehan melakukan salat jamak. Dari persoalan di atas maka perlu kajian mengenai pokok-pokok pikiran yang mendasari pemahaman Hasbi dalam persoalan tersebut. Kajian ini bersifat kepustakaan dengan menjadikan buku-buku Hasbi sebagai bahan rujukan dasar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Hasbi membolehkan salat jamak dilakukan meskipun tanpa uzur. Kebolehan jamak salat dalam keadaaan bermukim dan hujan dijadikannya  sebagai alasan untuk kebolehan menjamak salat tanpa uzur. Hal ini berlandaskan pada hadis yang menerangkan bahwa Nabi pernah melakukan jamak dan qasar salat hanya semata-mata untuk memudahkan umatnya. Pemikiran Hasbi hanya mengedepankan pemahaman secara tekstual tanpa melihat asbab al-wurud hadis. Sementara al-Nawawi dan Yusuf al-Qaradhawi tidak membolehkan jamak tanpa ada uzur dengan alasan bahwa jamak dan qasar salat merupakan rukhsah dari Allah. Sedangkan menurut Hasbi, kebolehan jamak dan qasar tanpa uzur didasarkan bahwa Allah tidak menginginkan kesusahan bagi hamba-Nya. Menurutnya segala sesuatu yang bisa dipermudah harus dipermudah termasuk dalam persoalan ibadah.  
Peran dan Sikap Nabi Ya’qub dalam Mengembangkan Karakter Anak Perspektif Al-Qur’an Naili Zhafirah; Zainuddin Zainuddin
TAFSE: Journal of Qur'anic Studies Vol 7, No 1 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/tafse.v7i1.12566

Abstract

The role and attitude of an ideal father is as the Qur'an describes through the dialogue between the Prophet Ya'qub and his children. A father must be able to develop the character of his children with an educational role and attitude. The reality of today's society is contrary to the concept of the Qur'an, the father who is expected to become an educator is actually a figure who damages the image of the child through several cases of incest relationships. Therefore, this article discusses the role and attitude of Prophet Ya'qub in developing the character of his children, its impact and the actualization of the role and attitude of Prophet Ya'qub in developing the character of children in the present. This article is literature research using the maudhu'i method. The data were analyzed descriptively and analytically. This article shows that: first, in developing the character of the child, the Prophet Ya'qub was able to act as an open, loving, caring, listening and protecting communicator for his children and as avoidance of conflicts in the family. Secondly, the impact of the role and attitude of the Prophet Ya'qub towards his children was the formation of a positive character, his children dared to admit his mistakes in the past. Third, The actualization of Ya'qub's role and attitude can be done by reflecting on Ya'qub. A father is able to establish close and familiar communication with children and is able to establish a patient and forgiving attitude towards his children. Peran dan sikap seorang ayah ideal adalah sebagaimana yang digambarkan al-Qur`an melalui dialog antara Nabi Ya’qub dengan anak-anaknya. Seorang ayah harus mampu mengembangkan karakter anak-anaknya dengan peran dan sikap yang mendidik. Realita masyarakat zaman sekarang bertolak belakang dengan konsep al-Qur`an, ayah yang diharap menjadi pendidik justru menjadi sosok yang merusak citra anak melalui beberapa kasus hubungan incest. Oleh karena itu, Artikel ini membahas peran dan sikap Nabi Ya’qub dalam mengembangkan karakter anak-anaknya, dampaknya dan aktualisasi peran dan sikap Nabi Ya’qub dalam mengembangkan karakter anak-anak pada masa sekarang. Artikel ini merupakan  penelitian kepustakaan dengan menggunakan metode maudhu’i. Data dianalisis secara deskriptif analitis. Artikel ini menunjukkan bahwa dalam mengembangkan karakter anak, Nabi Ya’qub mampu berperan sebagai penjalin komunikasi yang terbuka, pengasih, penyayang, pendengar dan pelindung bagi anak-anaknya serta sebagai penghindar dari terjadi konflik di dalam keluarga. Dampak peran dan sikap Nabi Ya’qub terhadap anak-anaknya terbentuknya karakter positif, anak-anaknya berani mengakui kesalahan-kesalahannya di masa lalu. Aktualisasi peran dan sikap Ya’qub dapat dilakukan dengan bercermin pada Ya’qub, ia mampu menjalin komunikasi yang dekat dan akrab dengan anak-anak dan mampu membangun sikap sabar dan pemaaf terhadap anak-anaknya. 
Kepemimpinan Perempuan dalam Perspektif Ibnu Katsir dan M. Quraish Shihab Muhamad Haswan Hafiz An Nur bin Hasin; Samsul Bahri; Lukman Hakim
TAFSE: Journal of Qur'anic Studies Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/tafse.v2i2.13636

Abstract

The involvement of women in the public sphere today has become an important discussion to discuss, with changing times, it has forced some of the values that live in society to shift, including women's leadership in Islam. The emergence of pro and contra ideas about women's leadership requires a serious study, so that people can understand how to respond to this phenomenon. Based on the problems above, this study seeks to see how the views of the commentators explain the leadership of women in Islam. This study is a literature study with descriptive analysis. Through the muqaran interpretation method, the opinions of Ibn Kathir and M. Quraish Shihab became the main reference for research data. The results of the study indicate that Ibn Kathir gives an absolute signal that the right to leadership is given to men, which includes all things both in the household and in the public. While Quraish Shihab emphasized that the leadership of men over women is only limited in the household, in the public sphere, women also have the opportunity to become leaders. Keterlibatan perempuan dalam ranah publik dewasa ini telah menjadi diskusi yang penting dibicarakan, dengan perubahan zaman, telah memaksa sebagian nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat bergeser, termasuk kepemimpinan perempuan dalam Islam. Munculnya ide yang pro dan kontra tentang kepemimpinan perempuan membutuhkan kajian yang serius, sehingga masyarakat dapat memahami bagaimana cara menyikapi fenomena tersebut. Berdasarkan persoalan di atas, kajian ini berupaya melihat bagaimana pandangan ulama tafsir menjelaskan tentang kepemimpinan perempuan dalam Islam. Kajian ini bersifat kepustakaan dengan analisis deskriptif. Melalui metode tafsir muqaran, pendapat Ibnu Katsir dan M. Quraish Shihab menjadi rujukan utama sebagai data penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ibnu Katsir memberikan isyarat secara mutlak bahwa hak kepemimpinan diberikan kepada laki-laki, yang merangkumi semua hal baik di dalam rumah tangga maupun publik. Sementara Quraish Shihab menegaskan bahwa kepemimpinan laki-laki ke atas perempuan hanya terbatas di dalam rumah tangga, semnetara dalam ranah publik, perempuan juga punya kesempatan untuk menjadi pemimpin.
Menyingkap Makna Amtsal Laba-laba dalam Al-Qur’an Lukman Hakim; Fatimatuzzuhra Fatimatuzzuhra
TAFSE: Journal of Qur'anic Studies Vol 7, No 1 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/tafse.v7i1.12530

Abstract

Parables are one of the quranic language styles of conveying messages to people. One such parable is to perpetuate the spider house as a symbol of weak protection. Although its basic meaning can be understood simply, the depth of meaning behind the spider amthal in surah al-Ankabut leaves questions for Muslims. This article attempts to explore the interpretation of the mufasir related to the value and education of the parable of the spider house in QS. al-Ankabut: 41. The method used in this study is the analytical method of the text to get a general understanding of the mufasir. From the studies conducted, it was found that this parable is a depiction of errors in seeking protection. The meaning to be conveyed is that there is no essential protection other than the protection of God. Any other form of protection is a weak pseudo-protection, as weak as a cobweb when used as an expectation to protect against rain and storms even though it can be used as a web to catch prey. For the rest, this verse theologically hints at the values of godliness, the power of Allah Swt, and the powerlessness of beings. The lesson is that it is very inappropriate for human beings to ask for sustenance, salvation, blessings, mates and other things other than Allah Swt. Only Allah is the only place to shelter and depend. Perumpamaan merupakan salah satu gaya bahasa Alquran dalam menyampaikan pesan kepada manusia. Salah satu perumpamaan tersebut seperti mengabadikan rumah laba-laba sebagai simbol perlindungan yang lemah. Meskipun makna dasarnya dapat dipahami secara sederhana, tetapi tentang kedalaman makna di balik amthal laba-laba dalam surah al-Ankabut menyisakan pertanyaan bagi umat Islam. Artikel ini mencoba mengekspolarasi penafsiran mufasir terkait nilai dan edukasi dari perumpamaan rumah laba-laba dalam QS. al-Ankabut: 41. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode analisis teks untuk mendapatkan pemahaman umum dari para mufasir.  Dari kajian yang dilakukan, ditemukan bahwa perumpamaan ini sebagai penggambaran kesalahan dalam mencari perlindungan. Makna yang ingin disampaikan adalah bahwa tidak ada perlindungan yang hakiki selain perlindungan Allah. Segala bentuk perlindungan lain adalah perlindungan semu yang lemah, selemah sarang laba-laba ketika dijadikan harapan untuk melindungi dari terpaan hujan dan badai meskipun ia dapat dijadikan sebagai jaring untuk menangkap mangsa.  Selebihnya, ayat ini secara teologis mengisyaratkan tentang nilai-nilai ketauhidan, kekuasaan Allah Swt, dan ketidak-berdayaan makhluk. Pembelajarannya ialah bahwa manusia sangat tidak pantas untuk meminta rezeki, keselamatan, keberkahan, jodoh dan hal lainnya kepada selain Allah Swt. Hanya Allah satu-satunya tempat berlindung dan bergantung.
Penerapan Metode Jarimatika Quran pada TK Bait Qurany Saleh Rahmany Banda Aceh Cut Nurul Fajri; Syukran Abu Bakar
TAFSE: Journal of Qur'anic Studies Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/tafse.v2i2.13604

Abstract

Memorizing the Koran is something that is difficult for early childhood to do, but in fact, by using the Jarimatika Quran method, many early childhood children in the Bait Qurany Saleh Rahmany Kindergarten in Banda Aceh have succeeded in memorizing the Koran. . Therefore, the researcher aims to examine all matters relating to the Jarimatika Quran method and its application to the Bait Qurany Saleh Rahmany Playground (TK) Banda Aceh. In this study, the researchers used a qualitative approach with the type of field research or field research. Data were collected through observation and interviews. Techniques in analyzing data using qualitative analysis paths, namely the first path of data reduction, the second is data presentation, and the third is drawing conclusions. Based on data from observations and from informants, information was obtained that the Jarimatika Quran method is a method of memorizing the Koran using the fingers and knuckles of the right hand by placing the Koran on the left hand. With the count of the bottom little finger, the knuckle is the first verse, the middle little finger knuckle is the second verse, and so on. In using this method, Bait Qurany Saleh Rahmany Kindergarten Banda Aceh has special hours and usually, this method of learning takes ±20-25 minutes every day, starting from Monday to Saturday in the classroom, led by two to three teachers. standing in front of the class. Menghafal al-Quran adalah suatu hal yang sulit dilakukan oleh anak usia dini, namun faktanya dengan menggunakan metode Jarimatika Quran, banyak anak-anak usia dini di Taman Kanak-kanak (TK) Bait Qurany Saleh Rahmany Banda Aceh yang berhasil untuk menghafalkan al-Quran. Oleh karena itu peneliti bertujuan untuk meneliti segala hal yang berkaitan dengan metode Jarimatika Quran serta penerapannya pada Taman Bermain (TK) Bait Qurany Saleh Rahmany Banda Aceh. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis field research atau penelitian lapangan. Data dikumpulkan melalui observasi dan wawancara. Teknik dalam menganalisis data dengan menggunakan jalur analisis kualitatif, yaitu jalur pertama reduksi data, yang kedua penyajian data, dan yang ketiga penarikan kesimpulan. Berdasarkan data dari hasil observasi dan dari informan didapatkan informasi bahwa metode Jarimatika Quran adalah sebuah metode menghafal al-Quran dengan menggunakan jari dan ruas-ruas jari tangan kanan dengan menempatkan al-Quran pada tangan sebelah kiri. Dengan hitungan ruas jari kelingking paling bawah adalah ayat pertama, ruas jari kelingking bagian tengah adalah ayat kedua, dan seterusnya. Dalam penggunaan metode ini, TK Bait Qurany Saleh Rahmany Banda Aceh memiliki jam khusus dan biasanya pembelajaran metode ini berlangsung selama ±20-25 menit setiap hari, dimulai dari hari Senin hingga hari Sabtu di dalam ruang kelas, dengan dipimpin oleh dua hingga tiga orang guru yang berdiri di depan kelas.
Ruqyah Air dalam Kegiatan Tasmi’ bi Al-Ghaib: Kajian Living Qur’an pada Ma’had Daarut Tahfiz Al-Ikhlas Aceh Samsul Bahri; Minnatul Maula
TAFSE: Journal of Qur'anic Studies Vol 7, No 1 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/tafse.v7i1.12548

Abstract

One of the functions of the Qur'an is as a shifa' (medicine) as Allah says in Sura al-Isra' verse 82. There are various ways applied to obtain the function of syifa', one of which is to consume water that has been recited verses of the Qur'an. This paper will discuss the function of the Qur'an as shifa', shahadah tahfiz through tasmi' bil ghaib activities and the use of water ruqyah in tasmi' bil ghaib activities. This study is a combination of literature and field research conducted in Ma'had Daarut Tahfiz Al-Ikhlas. Data were collected by observation, interview, and documentation techniques. Furthermore, data analysis is carried out with qualitative descriptive techniques. The results showed that the Qur'an can be a cure for physical and spiritual diseases through the therapy of reading verses from the Qur'an which is also accompanied by the practice of zikir and worship to draw closer to Allah. Shahadah tahfiz al-Qur'an in Ma'had Daarut Tahfiz Al-Ikhlas as a form of living Qur'an that is carried out by tasmi' bil ghaib, namely by witnessing and listening to the memorization of the Qur'an of 30 juzs by the students in front of the crowd. Tasmi' bil ghaib activities were followed by the procurement of rugyah of water which was used by students, student’s parents and the community as a shifa'. The ruqyah of water is believed to be a cause of positive energy for anyone who consumes it. Salah satu fungsi al-Qur’an adalah sebagai syifa’ (obat) sebagaimana firman Allah dalam Surat al-Isra’ ayat 82. Terdapat berbagai cara yang diterapkan untuk mendapatkan fungsi syifa’ tersebut, salah satunya adalah dengan mengonsumsi air yang telah dibacakan ayat Al-Qur’an. Tulisan ini akan mendiskusikan tentang fungsi al-Qur’an sebagai syifa’, syahadah tahfiz melalui kegiatan tasmi’ bil ghaib dan pemanfaatan ruqyah air dalam kegiatan tasmi’ bil ghaib. Kajian ini merupakan gabungan dari penelitian kepustakaan dan lapangan yang dilakukan di Ma’had Daarut Tahfiz Al-Ikhlas. Data dikumpulkan dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Selanjutnya analisis data dilakukan dengan teknik deskriptif kualitatif.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa al-Qur’an dapat menjadi obat bagi penyakit jasmani maupun ruhani melalui terapi pembacaan ayat al-Qur’an yang juga disertai pengamalan zikir dan ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Syahadah tahfiz al-Qur’an di Ma’had Daarut Tahfiz Al-Ikhlas sebagai bentuk dari living al-Qur’an yang dilaksanakan secara tasmi’ bil ghaib yaitu dengan mempersaksikan dan memperdengarkan hafalan al-Qur’an 30 juz para santri di hadapan orang banyak. Kegiatan tasmi’ bil ghaib diikuti dengan pengadaan ruqyah air yang dimanfaatkan santri, wali santri maupun masyarakat sebagai syifa’. Air ruqyah tersebut diyakini mampu menjadi sebab yang menimbulkan energi positif bagi siapa saja yang mengkonsumsinya.
Taubat Pelaku Pembunuhan Sengaja dalam Al-Qur’an Ali Abdurahman Simangunsong; Muhammad Zaini; Muhajirul Fadhli
TAFSE: Journal of Qur'anic Studies Vol 7, No 1 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/tafse.v7i1.12417

Abstract

Taubat is one of the religious commandments that man must do. In the Koran, there are many verses that command to repent. On the other hand, the act of killing deliberately is regarded by some mufasir as an act that which there is no repentance (taubat) for the perpetrator. This study wants to see what verses in the Koran are indicated to have a connection with taubat for perpetrators of intentional murder and its interpretation and how the mufasir views related to taubat for perpetrators of intentional murder. This research is a library study and the data is presented using thematic methods. The mufasir referred to in this study are Ibn Katsīr, Hamka, M. Quraish Shihab, al-Qurthubi and Wahbah al-Zuhaili. The results showed that some scholars from salāf circles argued that it was not accepted by people who had committed intentional killings. Meanwhile, the scholars of both salāf and khalāf hold the view that people who have committed the act of killing intentionally still have the opportunity to repent to Allah. Then in an effort to repent, the mufasir took the view that whoever repents of the deeds of wrongdoings earnestly and cheerfully and works righteous charity, then Allah will abolish His torment and bestow upon him a reward. Taubat merupakan salah satu dari perintah agama yang harus dilakukan manusia. Di dalam Alquran, terdapat banyak ayat yang memerintahkan untuk bertaubat. Di sisi lain, perbuatan membunuh dengan sengaja dianggap oleh sebagian mufasir sebagai perbuatan yang tidak ada taubat bagi pelakunya. Kajian ini ingin melihat ayat-ayat apa saja di dalam Alquran yang terindikasi memiliki kaitan dengan taubat bagi pelaku pembunuhan sengaja dan penafsirannya serta bagaimana pandangan mufasir terkait taubat bagi pelaku pembunuhan sengaja. Penelitian ini bersifat kajian perpustakaan dan data yang disajikan dengan menggunakan metode tematik. Para mufasir yang menjadi rujukan dalam kajian ini adalah Ibnu Katsīr, Hamka, M. Quraish Shihab, al-Qurthubi dan Wahbah al-Zuhaili. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian ulama dari kalangan salāf berpendapat bahwa tidak diterima taubat dari orang yang telah melakukan pembunuhan dengan sengaja. Sementara itu, jumhur ulama dari salāf maupun khalāf memiliki pandangan bahwa orang yang telah melakukan perbuatan membunuh dengan sengaja masih memiliki kesempatan untuk bertaubat kepada Allah. Kemudian dalam upaya untuk bertaubat, jumhur para mufasir berpandangan bahwa barangsiapa yang bertaubat dari perbuatan maksiat dengan sungguh-sungguh dan penuh keridhaan, serta mengerjakan amal saleh, maka Allah akan menghapuskan siksa-Nya dan menganugerahkan kepadanya pahala. 
Ummatan Wasaţan dalam Pancasila Perspektif Tafsir M. Quraish Shihab Khairil Fazal; Juwaini Saleh
TAFSE: Journal of Qur'anic Studies Vol 7, No 1 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/tafse.v7i1.13197

Abstract

The purpose of this study is to find out how ummatan Wasaţan in Pancasila according to the point of view of understanding M. Quraish Shihab. It was then traced that the idea of wasaţan ummah is an idea that can combine individual and public activities so that there is a balance throughout daily life. This research method uses a literature research approach. The results of the study show that actually according to M. Quraish Shihab the existence of Muslims is still far from the positive side of ummaţan wasaţan, the understanding of ummatan wasaţan in Pancasila is moderate individuals, not left and right, in order to create a just mentality, people who are used as witnesses and all parties witness as an example. There are eight things According to Quraish Shihab about the concept of ummatan wasaţan namely (a) Belief in Allah Almighty and His Messenger; (b) steadiness; (c) Intelligence; (d) Solidarity and solidarity and fraternity; (e) Equity; (f) Commendable; (g) Balance; and (h) Comprehensive. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui bagaimana Ummatan Wasaţan dalam Pancasila menurut sudut pandang pemahaman M. Quraish Shihab. Kemudian dilacak bahwa gagasan wasaţan ummah adalah gagasan yang dapat menggabungkan aktivitas individu dan publik sehingga terjadi keseimbangan sepanjang kehidupan sehari-hari. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kepustakaan. Hasil penelitian menujukkan bahwa sebenarnya menurut M. Quraish Shihab keberadaan umat Islam masih jauh dari sisi positif ummaţan wasaţan, pemahaman ummatan wasaţan dalam Pancasila adalah individu-individu moderat, tidak ke kiri dan ke kanan, agar tercipta mental yang adil, orang-orang yang dijadikan saksi dan semua pihak menyaksikan sebagai contoh. Terdapat  delapan hal Menurut  Quraish Shihab tentang konsep ummatan wasaţan yaitu (a) Keyakinan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya; (b) kemantapan; (c) Kecerdasan; (d) Solidaritas dan solidaritas dan persaudaraan; (e) Ekuitas; (f) Terpuji; (g) Keseimbangan; dan (h) Komprehensif.

Page 9 of 18 | Total Record : 174