cover
Contact Name
Cresensius Hanny Kurniawan
Contact Email
jurnalamreta@sttsati.ac.id
Phone
+6287859937095
Journal Mail Official
jurnalamreta@sttsati.ac.id
Editorial Address
Jln. Raya Karanglo 94-103, Banjararum, Singosari, Malang
Location
Kab. malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teologi Amreta
ISSN : -     EISSN : 25993100     DOI : 10.54345
Amreta Theology Journal is a bilingual semi scientific journal aimed at developing and advancing written works in the fields of Theology
Articles 107 Documents
Model Pelayanan Pastoral Konseling terhadap Orang Sakit berdasarkan Lukas 10:33-35 : Model Pastoral Counseling Services for the Sick based on Luke 10: 33-35 Sori Tjandrah Simbolon
Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3100) Vol. 3 No. 2 (2020): Speaking in Tongue, Thinking in Tongue, Living in Tongue
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti, Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54345/jta.v3i2.31

Abstract

Pastoral counseling services for the sick are services that complement the services that have been carried out by health workers and other officers who want to help patients experience healing. Pastoral counseling services are different from other services in general, because these services not only emphasize physical healing but services that touch all aspects of human life, both physically, mentally and spiritually. This ministry emphasizes service so that people when they are experiencing pain can understand God's plan in their lives, and they can even accept pain as a tool for paradigm change and be able to improve their behavior so that they become better and healthier individuals. ==== Pelayanan pastoral konseling terhadap orang sakit adalah pelayanan yang memperlengkapi pelayanan yang selama ini dilakukan oleh para petugas kesehatan dan petugas lainnya yang ingin menolong para pasien mengalami kesembuhan. Pelayanan pastoral konseling berbeda dengan pelayanan lainnya secara umum, karena pelayanan ini bukan hanya menekankan pada penyembuhan secara fisik saja tetapi pelayanan yang meyentuh seluruh aspek kehidupan manusia, baik secara fisik, jiwa dan roh/spiritualnya. Pelayanan ini menekankan pada pelayanan agar manusia saat mengalami sakit dapat memahami rencana Allah dalam hidupnya, dan bahkan mereka dapat menerima rasa sakit sebagai alat bagi perubahan paradigma dan mampu memperbaiki perilaku mereka agar mereka menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih sehat.
Teologi Ibadah dan Spiritualitas Generasi Milenial : Worship Theology and Spirituality of the Millennial Generation Amelia Rumbiak
Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3100) Vol. 3 No. 2 (2020): Speaking in Tongue, Thinking in Tongue, Living in Tongue
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti, Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54345/jta.v3i2.32

Abstract

Discourse about millennial generation and religious campaigns has become a worldwide spotlight in various sectors of life. Their existence is the best commodity in human history. In addition, technological advances through the internet are very binding on them so that the millennial generation is a group that grows and is familiar also dependent on gadget technology that masters social media as their new religion. The Church as a Treaty for implementing theology. Warnings and solutions to solutions from Marva J. Dawn and related liturgical figures also support the role of orthodoxy, orthopraxis, and orthopathy from Worship Theology to hold its missiological responsibilities reversed with the help of contemporary worship. ===== Diskursus tentang generasi milenial dan persoalan keagamaan telah menjadi sorotan mendunia dalam berbagai sektor hidup. Keberadaan angkatan mereka menjadi komoditi penting saat ini dan ke depannya. Di samping itu, kemajuan teknologi lewat jaringan internet sangat mengikat mereka sehingga generasi milenial adalah sebuah kelompok yang tumbuh dan akrab serta tergantung dengan teknologi gadget yang menTuan-kan media sosial sebagai agama baru mereka. Gereja sebagai konteks pelaksanaan Teologi Ibadah menghadapi kondisi ini. Peringatan dan rekonstruksi solusi dari Marva J. Dawn dan tokoh-tokoh liturgis lainnya turut menunjukkan pentingnya peran ortodoksi, ortopraksis dan ortopati dari Teologi Ibadah untuk menunjukkan tanggung jawab misiologisnya yang bersifat upside-down melalui ibadah kekinian.
Kristen dan Teknologi: Etika, Literasi dan Ciptaan : Christianity and Technology: Ethics, Literacy and Creation Andreas Maurenis
Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3100) Vol. 3 No. 2 (2020): Speaking in Tongue, Thinking in Tongue, Living in Tongue
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti, Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54345/jta.v3i2.33

Abstract

With ethical awareness, literacy abilities, and awareness as God's intelligent creatures, Christians in various dynamics of life must continue to show a human ethics and spirituality, especially in the context of Christian ethics and spirituality. The Christians are able to use the results of the development of science and technology in digital systems. Although, learning, supervision and self-control as God's people are things that are constantly attached to it. With the advance and increasing number of scientific and technological discoveries in various forms, Christians are challenged to publicize themselves and their discipleship calls in the context of digital technology with various media. Christianity and technology become important topics of study that can be included in the umbrella of the great scientific knowledge of theology and science which have been under-attention in certain denominations. Christianity and technology as an academic discourse in lecture classes will be very applicable in the broad life of students and the Christian community in the future, especially by including the ethics, literacy, and creation as sub-topics in it. This discussion has become very important in the age of technology so that understanding and behavior of how Christians should place themselves in the midst of new challenges in the real new age is now being managed with adulthood. ==== Dengan kesadaran beretika, kemampuan literasi, dan kesadaran sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang cerdas maka umat Kristiani dalam berbagai dinamika hidup mesti tetap memperlihatkan sebuah etika dan spiritualitas manusia, terutama dalam konteks etika dan spiritualitas Kristiani. Umat Kristen terbilang mampu menggunakan hasil perkembangan sains dan teknologi dalam sistem digital. Meskipun pembelajaran, pengawasan dan penguasaan diri sebagai umat Tuhan merupakan hal-hal yang terus-menerus melekat di dalamnya. Majunya dan semakin banyaknya temuan sains dan teknologi dalam berbagai bentuk, membuat umat Kristiani ditantang untuk mempublikasikan diri dan panggilan pemuridannya dalam konteks berteknologi digital dengan berbagai media. Kristen dan teknologi penting menjadi satu pokok bahasan kajian yang bisa dimasukkan ke dalam payung keilmuan besar teologi dan sains yang selama kurang diperhatikan dalam denominasi tertentu. Kristen dan teknologi sebagai satu diskursus akademik di dalam kelas-kelas perkuliahan akan menjadi sangat aplikatif dalam kehidupan luas mahasiswa dan masyarakat Kristiani di kemudian hari apalagi dengan menyertakan sisi etika, literasi, dan ciptaan sebagai sub-sub bahasan di dalamnya. Pembahasan ini menjadi amat penting di zaman teknologi agar pemahaman dan perilaku bagaimana seharusnya umat Kristiani menempatkan dirinya di tengah-tengah tantangan baru di zaman baru yang nyata sekarang ini menjadi terkelola dengan dewasa.
Tanggung jawab Penggembalaan berdasarkan Perspektif 1 Petrus 5:1-4 : Pastoral Responsibilities based on 1 Peter 5:1-4 Sara Sapan; Dicky Dominggus
Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3100) Vol. 3 No. 2 (2020): Speaking in Tongue, Thinking in Tongue, Living in Tongue
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti, Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54345/jta.v3i2.34

Abstract

This article discusses pastoral responsibilities from the perspective of 1 Peter 5: 1-4. In general, the pastor's responsibility is to care for God's church in spirituality. But specifically Peter wrote the pastor's responsibilities such as not by force but by volunteering, not looking for one's own benefit but with enthusiasm and not using power but to be an example. This article aims to understand pastoral responsibility in the perspective of 1 Peter 5: 1-4 and find its implications for pastoral today. The method used in this study is a qualitative method with a Historical Gramatical approach. The shepherd's responsibility in 1 Peter 5: 1-4 is to serve not by force, to serve voluntarily, to serve without seeking personal gain, to serve with enthusiasm and to serve by example. === Artikel ini membahas tanggung jawab penatua dalam kaitannya dengan penggembalaan terhadap jemaat Tuhan berdasarkan perspektif 1 Petrus 5:1-4. Secara umum, tanggung jawab gembala adalah memelihara jemaat Tuhan dalam hal kerohanian. Namun secara khusus Petrus memberikan deskripsi tanggung jawab tersebut secara terperinci sebagai tugas yang dilakukan tanpa dengan paksa melainkan dengan sukarela, tanpa mencari keuntungan diri sendiri melainkan dengan semangat dan tanpa menggunakan kekuasaan melainkan menjadi teladan. Artikel ini bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang tanggung jawab penggembalaan dalam perspektif 1 Petrus 5:1-4 dan menemukan implikasinya bagi penggembalan pada masa kini. Metode yang digunakan penelitian ini merupakan metode kualitatif dengan pendekatan Historical Gramatical. Adapun tanggung jawab gembala di dalam 1 Petrus 5:1-4 adalah melayani tanpa dengan terpaksa, melayani dengan sukarela, melayani tanpa mencari keuntungan pribadi, melayani dengan semangat dan melayani dengan memberi teladan.
Religiositas, olahraga dan etika belaskasih (hesed): Religiosity, sports and the ethics of mercy (hesed) Victor Christianto; Isak Suria; Talizaro Tafonao
Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3100) Vol. 3 No. 2 (2020): Speaking in Tongue, Thinking in Tongue, Living in Tongue
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti, Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54345/jta.v3i2.35

Abstract

In this reflective article, the writers study Religiosity, sports and the ethics of mercy (hesed). This study departs from the author's observation of one of John Ortberg’s books. Ortberg explained in his work, among others that in the area of spirituality we often play like we want to score in basketball or baseball, with the hope of scoring as much as possible, whether quantitatively or qualitatively. Based on this thought, the writers observe the text of Philippians 2: 6-8, that Jesus is the only servant who can be emulated in all things by giving up the totality of His life for the sake of humanity. The uniqueness of Jesus as a servant of God has been reflected in the story of His life, namely He was born in a cage of animals and served indefinitely. And at the end of His life, He was willing to die in the most despicable state of being crucified. The story of Jesus is the story of God descending to earth who took on human appearance. The method used is a qualitative research method, and the authors examine the Philippian text to analyze the Bible's view of Religiosity, sport and the ethics of mercy (hesed). The reflective study process carried out by these authors is to use a variety of reliable library and electronic sources to support the authors's analysis. The results of this study, which were intended from the beginning as reflective narratives rather than theoretical analysis, are to believe that Jesus came down to earth as a manifestation of God's love from Heaven, and that should be an example for us all as His disciples. ====== Dalam tulisan berciri reflektif ini, penulis melakukan kajian terhadap Religiositas, olahraga dan etika belaskasih (hesed). Kajian ini berangkat dari pengamatan penulis terhadap sebuah buku John Ortberg. Ortberg menjelaskan dalam karyanya tersebut antara lain bahwa dalam area spiritualitas seringkali kita bermain seperti ingin mencetak skor dalam basket atau baseball, dengan harapan mencetak skor sebanyak-banyaknya, apakah secara kuantitatif atau secara kualitatif. Berdasarkan pemikiran tersebut, maka penulis mengamati teks Filipi 2:6-8, bahwa Yesus adalah satu-satunya hamba yang dapat diteladani dalam segala hal dengan menyerahkan totalitas hidup-Nya demi umat manusia. Keunikan Yesus sebagai hamba Tuhan telah tercermin dalam kisah hidup-Nya, yakni Dia lahir di kandang hewan dan melayani tanpa batas waktu. Dan pada akhir hidupNya, Dia rela mati dalam keadaan yang paling hina yakni disalibkan. Kisah Yesus adalah kisah Allah yang turun ke bumi yang mengambil rupa manusia. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif, penulis mengkaji teks Filipi untuk menganalisis pandangan Alkitab mengenai Religiositas, olahraga dan etika belaskasih (hesed). Proses kajian reflektif yang dilakukan oleh penulis adalah menggunakan berbagai sumber pustaka maupun elektronik yang terpercaya untuk mendukung analisis penulis. Hasil penelitian ini, yang memang dari awal diniatkan sebagai narasi reflektif bukan teoritis analisis, hendak mengimani bahwa Yesus turun ke bumi sebagai perwujudan dari kasih Allah dari sorga, dan hal tersebut semestinya menjadi teladan bagi kita semua sebagai murid-murid-Nya.
Instrumen Suplemen Konversi (ISK) Perguruan Tinggi : Conversion Supplements Instruments (ISK) for Higher Education Markus Oci
Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3100) Vol. 3 No. 2 (2020): Speaking in Tongue, Thinking in Tongue, Living in Tongue
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti, Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54345/jta.v3i2.36

Abstract

Implementation of tertiary accreditation is the assessment and recognition of the quality and performance of an institution. The Conversion Supplement Instrument (ISK) is an additional accreditation instrument used for decision making on the conversion of an accredited ranking obtained by the Standard 7 College Accreditation Instrument to a new accreditation rating in accordance with the Higher Education Accreditation 3.0 instrument. This research uses a qualitative method (Qualitatitive Research), with a literature study approach. What is meant by library research (Library Research) the author seeks information that is relevant to the subject matter. Higher Education Conversion Supplement (ISK) instruments consist of: front page, university identity, team identity preparation of ranking conversion report, preface, format of conversion supplement instrument (permanent lecturer, temporary lecturer, higher education quality assurance system, cycle internal quality assurance system, exceeding SN-PT, quality assurance mechanisms leading to Outcome Based Accreditation for accreditation of study programs and scientific publications. === Pelaksanaan akreditasi perguruan tinggi adalah penilaian dan pengakuan tentang kualitas dan kinerja suatu institusi. Instrumen Suplemen Konversi (ISK) adalah instrumen akreditasi tambahan yang digunakan untuk pengambilan keputusan konversi peringkat terakreditasi yang diperoleh dengan Instrumen Akreditasi Perguruan Tinggi 7 Standar menjadi peringkat akreditasi baru sesuai dengan instrumen Akreditasi Perguruan Tinggi 3.0. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif (Qualitatitive Research), dengan pendekatan studi pustaka. Yang dimaksudkan dengan studi pustaka (Library Research) penulis mencari informasi yang relevan dengan pokok pembahasan. Instrumen Suplemen Konversi (ISK) perguruan tinggi terdiri dari: halaman depan, identitas perguruan tinggi, identitas tim penyusunan laporan konversi peringkat, kata pengantar, format intrumen suplemen konversi (dosen tetap, dosen tidak tetap, sistem penjaminan mutu perguruan tinggi, siklus sistem penjamian mutu internal, pelampauan SN-PT, mekanisme penjaminan mutu menuju Outcome Based Accreditation akreditasi program studi dan publikasi ilmiah.
Wiersbe, Warren W. The Dynamics of Preaching. Grand Rapids, MI: Baker Publishing Group, 1999. Jefri Hinna
Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3100) Vol. 3 No. 2 (2020): Speaking in Tongue, Thinking in Tongue, Living in Tongue
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti, Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54345/jta.v3i2.37

Abstract

Buku yang ditulis oleh Wiersbe di buat dalam 13 bab yang mudah dipahami oleh para pembacanya. Wiersbe menyampaikan gagasan-gagasannya mengenai khotbah yang efektif sehingga khotbah yang disampaikan oleh pendengar tidak membosankan. Sedapat mungkin khotbah harus menarik perhatian pendengar untuk membantu mereka mengambil keputusan mempraktekkan isi khotbah yang telah didengar. Wiersbe menjelaskan alasan utama dalam berkhotbah, “it’s people talking to people about something that is really important to them”
Editor : Gene L. Green, Stephen T. Pardue, K.K. Yeo. The Trinity among the Nations: The Doctrine of God in the Majority World Victor Christianto
Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3100) Vol. 3 No. 2 (2020): Speaking in Tongue, Thinking in Tongue, Living in Tongue
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti, Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54345/jta.v3i2.38

Abstract

Buku ini merupakan kumpulan 8 tulisan dari teolog dari berbagai negara, dan beberapa di antaranya berasal atau mewakili kawasan yang bukan Eropa/Amerika. Justru karena itu buku ini menarik untuk disimak, karena banyak di antara tulisan tentang Trinitas atau Allah Tritunggal yang hanya mencerminkan pergumulan seputar imanensi dan transendensi Tuhan, yang merupakan salah satu ciri khas teolog Barat. Di antara tulisan-tulisan yang menarik dalam buku ini, 2 di antaranya yang sangat patut dicatat adalah bab 6 yang merupakan evaluasi terhadap empat upaya reformulasi teologi Trinitas, oleh teolog-teolog Asia.
Peran Kepemimpinan Misi Paulus dan Implikasinya bagi Pemimpin Misi Masa Kini Yonatan Alex Arifianto
Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3100) Vol. 4 No. 1 (2020): Jurnal Amreta Vol. 4 No. 1 (2020). Theme: Mission in the Spirit
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti, Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54345/jta.v4i1.41

Abstract

Abstrak Gereja pada zaman ini mulai kehilangan esensi dan tujuan utamanya untuk memberitakan Injil. Salah satu faktor yang menyebabkan gereja kurang optimal dalam pemberitaan Injil adalah lemahnya kepemimpinan misi yang dimiliki. Kepemimpinan misi adalah kemampuan seseorang untuk mempengaruhi dan menggerakan orang supaya terlibat aktif dalam misi Allah. Salah satu tokoh besar dalam kegerakan misi di dunia adalah Rasul Paulus. Oleh sebab itu, penilitian ini bertujuan untuk mengetahui karakter kepemimpinan misi yang dilakukan oleh Paulus dan menghubungkan menjadi implikasi bagi pemimpin pada misi kini. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan. Hasil dari penelitian ini adalah adanya 5 prinsip kepemimpinan misi Paulus yang dapat diimplikasikan bagi pemimpin masa kini, yaitu berdoa dan terlibat aktif dalam pengabaran Injil (Integritas). Lalu mendidik jemaat dan mencetak pemimpin lokal. Dan menentukan standar misionaris.serta mempersiapkan misionaris untuk diutus. Dan yang selanjutnya mendukung misionaris melalui doa, motivasi, dan pencarian solusi atas setiap persoalan. Lalu yang terakhir di atas semua strategi yang Paulus lakukan, Paulus selalu bergantung kepada Allah.   Abstract The church today begins to lose its essence and main purpose to preach the gospel. One of the factors that causes the church to be less than optimal in preaching the gospel is the weakness of its mission leadership. Mission leadership is a person's ability to influence and move people to be actively involved in God's mission. One of the great figures in the missionary movement in the world was the Apostle Paul. Therefore, this study aims to determine the character of mission leadership carried out by Paul and link it to the implications for leaders on current missions. The research method used is a qualitative method with a literature study approach. The result of this research is that there are 5 principles of Paul's mission leadership that can be implicated for today's leaders, namely praying and being actively involved in preaching the gospel (Integrity). Then educate the congregation and produce local leaders. And setting missionary standards and preparing missionaries to be sent. And that further supports missionaries through prayer, motivation, and finding solutions to every problem. Then the last, above all the strategies that Paul did, Paul always depended on God  
Peran Roh Kudus dalam Misi Allah: Ajaran yang Terlewatkan dalam Narasi Kisah Rasul 16:11 robby igusti Chandra
Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3100) Vol. 4 No. 1 (2020): Jurnal Amreta Vol. 4 No. 1 (2020). Theme: Mission in the Spirit
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti, Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54345/jta.v4i1.45

Abstract

Abstrak Tulisan ini meneliti ajaran yang tersembunyi dalam narasi mengenairespon terhadap penglihatan Paulus dalam Kisah Rasul 16.Pendekatannya adalah interpretasi narasi. Sebagai hasilnya, Kisah Para Rasul 16mengajarkan pertama, kedaulatan Roh Kudus yang mendorongpemimpin-pemimpin yang dipilihnya melintasi batas-batas pandanganmereka dan kedua, mengenai peran-Nya mengajarkan agarkepemimpinan bersama perlu diterapkan di dalam prosesmelaksanakan Misi Allah.   Abstract The studi analyses the unrecognized teaching of the narratives in the Book of Acts chapter 16 concerning the response to the vision of Paul. The method used is narrative interpretation. As the results, the Book of Acts 16 teaches about both the role of the Holy Spirit to bring the chosen leaders to cross their boundaries as well as to teach them to practice Shared-Leadership in Missio Dei process.    

Page 4 of 11 | Total Record : 107