Kabanti : Jurnal Kerabat Antropologi
KABANTI: Jurnal Kerabat Antropologi, merupakan ruang bagi mahasiswa Strata 1 (S1) Jurusan Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Halu Oleo (UHO) yang dikelola oleh Kerabat Antropologi FIB UHO sendiri. Kabanti adalah jurnal ilmiah antropologi yang mengajak kerabat antropologi untuk berpartisipasi menulis artikel ilmiah yang berkaitan dengan kajian-kajian antropologi dan etnografi. Kabanti diterbitkan dua kali setahun pada bulan Januari dan Juli. Nama Kabanti (Buton) atau Kabhanti (Muna), diambil dari tradisi berucap pantun dalam kedua suku tersebut. Kabanti membawa nilai-nilai moral, nilai-nilai keagamaan, petunjuk kehidupan atau petuah, sindiran, percintaan, serta nilai-nilai budaya dan adat istiadat. Tradisi Kabanti, yang bertujuan memperkokoh nilai dan norma dalam masyarakat, saat ini mendekati kepunahan.
Articles
274 Documents
KERAJINAN TRADISIONAL BERBAHAN PAKU HATA (NENTU) PADA MASYARAKAT MUNA (STUDI DI DESA KORIHI KECAMATAN LOHIA KABUPATEN MUNA
Anita, Desi;
Hapsah, Wa Ode Sitti
JURNAL KABANTI: Kerabat Antropologi Vol 5 No 1 (2021): Volume 5, Nomor 1, Juni 2021
Publisher : Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33772/kabanti.v5i1.1191
Kerajinan anyaman dari Paku Hata (Nentu) adalah suatu kerajinan tangan yang berbentuk anyaman dengan bahan dasar batang tanaman merambat. Masyarakat Muna biasa menyebutnya dengan kata “Nentuâ€. Tanaman yang sifatnya merambat ini bisa dijumpai pada tempat yang disekelilingnya terdapat pohon rendah maupun tinggi yang bisa dijadikan wadah untuk melilitkan diri. Batang Nentu yang digunakan dalam membuat anyaman yaitu batang yang sudah tua.Tujuan dalam penelitian ini untuk mengetahui dan mendeskripsikan proses pembuatan kerajinan, untuk menjelaskan strategi dalam mempertahankan kerajinan, dan mengetahui pemasaran hasil produk kerajinan tradisional berbahan Paku Hata (Nentu) pada masyarakat di Desa Korihi Kecamatan Lohia Kabupaten Muna. Teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teori sistem teknologi oleh Koentjaraningrat, Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan cara melalui pengamatan terlibat dan wawabcara mendalam. Hasil penelitian menunjukan bahwa proses pembuatan kerajinan tradisional berbahan Paku Hata (Nentu) terdapat tiga proses utama yaitu: (1) persiapan bahan baku, dalam persiapan bahan baku bagian yang paling utama yang harus disiapkan terlebih dahulu yaitu tenaga kerja, kemudian bahan baku dan alat pembuatan kerajinan. (2) pembuatan pola dasar, dalam pembuatannya dibutuhkan jari-jari tangan yang kuat sebagai tumpuan untuk memegang batang Rotan yang dililitkan batang Nentu. (3) kreativitas pengembangan bentuk anyaman, dalam membuat kreativitas dapat menghasilkan berbagai jenis perabotan tradisional seperti Talang Besar, Bosara, Talang Pengalas Gelas, Alas Piring , Dan Tempat Tisu. Adapun strategi masyarakat dalam mempertahankan kerajinan tradisional yaitu dengan menghadirkan instruktur ke kelompok pengrajin dan mengikuti event-event kerajinan. Dalam pemasarannya masyarakat membawa hasil kerajinannya di Kota Raha, Kendari, Dekranas Tingkat I, dan di Jakarta untuk diperjual belikan.
MONTA’U
Hasniati, Hasniati
JURNAL KABANTI: Kerabat Antropologi Vol 5 No 1 (2021): Volume 5, Nomor 1, Juni 2021
Publisher : Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33772/kabanti.v5i1.1193
Ekologi Monta’u (Berladang) merupakan bentuk perlindungan terhadap alam untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya sehingga melahirkan sebuah kearifan lokal bagi masyarakat yang dilakukan dalam sekali setahun. Tujuan Penelitian untuk mengetahui tradisi Monta’u apakah merupakan bentuk perlindungan terhadap alam dan untuk mengetahui tradisi sebagai kearifan lokal. Teori yang di gunakan yaitu Ekologi Adaptasi Budaya Julian H. Steward dengan menggunakan metode Etnografi serta teknik pemilihan informan yang dilakukan dengan cara menetapkan informan kunci kemudian menentukan informan lain dengan teknik Snowball oleh Spradley (1997) dan Bernard (1994). Di mana penelitian dapat dihentikan apabila data telah berulang dan data sudah mencukupi atau data jenuh(dimana tidak ditemukan informan baru lagi). Pengumpulan data menggunakan teknik pengamatan terlibat (Participation Observation) dan wawancara mendalam ( Indepth Interview) serta analisi secara etnografi data yang diperoleh dari awal hingga akhir penelitian di susn dan di kelompokkan menurut bagian-bagiannya kemudian dikaitkan dengan konsep dan teori. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekologi berladang pada Orang Mawa merupakan bentuk perlindungan terhadap alam untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya sehingga melahirkan sebuah kearifan lokal dalam berladang, agar selalu terlindungi dan terjaga ekologi berladang oleh mereka sehingga tidak mengalami kepunahan karena ekologi berladang merupakan sebuah sumber kehidupan bagi masyarakat Mawa Kecamatan Wawonii Utara.
PENGETAHUAN SANRO DAN PEPAYA
Iswanto, Iswanto;
Hasniah, Hasniah
JURNAL KABANTI: Kerabat Antropologi Vol 5 No 1 (2021): Volume 5, Nomor 1, Juni 2021
Publisher : Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33772/kabanti.v5i1.1207
Penelitian ini bertujuan mengemukakan pengetahuan dukun mengenai tumbuhan papaya yang mempunyai khasiat sebagai obat tradisional dan jenis penyakit yang bisa diobati dengan penggunaan tumbuhan papaya. Penelitian ini dilakukan pada januari 2020. Penelitian ini menggunakan teori Kognitif oleh Goodenough dan metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode Etnografi dengan pengumpulan data dilakukan dengan tehnik pengamatan (observation) dan wawancara mendalam (indepth interview). Data yang didapatkan dilapangan kemudian dianalisis secara deskriptif, analisis data kemudian dilakukan untuk menyederhanakan data yang didapatkan dalam bentuk yang lebih m,udah dibaca dan diinterprestasikan menjadi sebuah hasil. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pengetahuan dukun akan pengobatan tradisionl didapat secara turun temurun dari generasi kegenerasi, pengobatan yang dilakukan berdasarkan berdasarkan atas pengalaman, keyakinan dan proses belajar sehingga mampu untuk mempraktekan kepasien yang mengalami sakit akibat gangguan roh halus, [enggunaan media seperti air putih, tumbuhan dan doa, adalah cara yang digunakan dukun dalam mengobati. Penegtahuan yang dimiliki dukun tentang tumbuhan papaya terletak pada bagian-bagiannya, yang bermanfaat sebagai obat tradisional yang dapat digunakan untuk mengobati berbagai macam penyakit. Bagian dari tumbuhaan papaya memiliki manfaat sebagai obat, karena tumbuhan ini terkenal sebagai sumber yang memiliki khasiat mengobati lebih dari satu penyakit. Penyakit seperti malaria, tekanan darah tinggi, gatal, bisul, cacingan, kulit pecah dan luka bakar dapat diobati dengan cara yang b enar pada masyarakat Kelurahan Mata Kecamatan Kendari Kota Kendari.
PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN DESTINASI WISATA DI DESA NAMU KECAMATAN LAONTI KABUPATEN KONAWE SELATAN
Sarlina Sarlina;
Hasniah Hasniah
JURNAL KABANTI: Kerabat Antropologi Vol 5 No 2 (2021): Volume 5, Nomor 2, Desember 2021
Publisher : Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33772/kabanti.v5i2.1214
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui partisipasi masyarakat dalam pengelolaan destinasi wisata di Desa Namu Kecamatan Laonti Kabupaten Konawe Selatan dan untuk mengetahui dampak pengelolaan objek wisata Desa Namu terhadap kehidupan sosial budaya masyarakat. Penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling dalam pemilihan informan, pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode observasi dan wawancara mendalam. Data yang telah terkumpul berupa hasil pengamatan dan hasil wawancara dianalisis dengan menggunakan teori partisipasi menurut Cohen dan Uphoff (1977). Hasil penelitan ini menunjukan bahwa, sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Cohen dan Uphoff (1997), terdapat 4 jenis partisipasi yang telah melibatkan masyarakat Desa Namu dalam pengelolaan destinasi wisata. Partisipasi pertama adalah pembuatan keputusan yang dilakukan dalam bentuk musyawarah penyaluran pendapat dan masukan terkait keputusan program pengelolaan Desa Namu sebagai objek wisata. Kedua, partisipasi pengelolaan dengan mendirikan kelompok sadar wisata, menyediakan sarana dan prasarana serta pengadaan aksebilitas. Ketiga, partisipasi dalam menerima manfaat dengan meningkatnya perekonomian keluarga serta menikmati hasil pembangunan yang telah dilakukan. Keempat, partisipasi dalam evaluasi, beberapa perwakilan anggota masyarakat dilibatkan dalam pengawasan pembangunan serta hasilnya yang juga dilakukan oleh Pemerintah Desa. Dampak pengelolaan objek wisata terhadap kehidupan sosial budaya, masyarakat menjadi lebih interaktif, tingkat interaksi sosial dengan orang baru meningkat dan memiliki kesiapan terhadap masuknya budaya baru tanpa menghilangkan budaya lokal. Dengan adanya dampak positif objek wisata terhadap kehidupan sosial budaya masyarakat, diharapkan dapat menjadi sarana pengenalan dan pengembangan keunikan wisata berbasis lokal yang telah ada dan dapat mengembangkan usaha pelestarian keanekaragaman hayati Desa Namu.
PERGESERAN NILAI-NILAI BUDAYA POKADULU PADA MASYARAKAT MUNA DI DESA LANGKU-LANGKU KECAMATAN TIWORO TENGAH KABUPATEN MUNA BARAT
Jumiati, Jumiati
JURNAL KABANTI: Kerabat Antropologi Vol 5 No 1 (2021): Volume 5, Nomor 1, Juni 2021
Publisher : Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33772/kabanti.v5i1.1247
Budaya pokadulu merupakan kegiatan masyarakat dalam bekerja untuk saling membantu satu sama lain yang dilakukan secara bergilir dan bergotong-royong. Konsep Pokadulu selalu ditanamkan dalam diri setiap individu mulai dari generasi muda samapai dengan orang tua.Tujuan dalam penelitian ini untuk mengetahui dan mendeskripsikan bentuk-bentuk pokadulu pada masyarakat Muna di Desa Langku-Langku Kecamatan Tiworo Tengah Kabupaten Muna Barat dan Mendeskripsikan atau mengetahui pergeseran nilai-nilai budaya pokadulu pada masyarakat Muna di Desa Langku-Langku Kecamatan Tiworo Tengah Kabupaten Muna Barat. Teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teori evolusioner oleh Talcott Parsons Menggunakan pendekatan kualitatif dengan tiga cara trigulasi yakni melakukan pengamatan terlibat langsung dilapangan, wawancara terhadap informan dan catatan lapangan untuk memperoleh data sebanyak-banyaknya. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan,bentuk-bentuk pokadulu terdapat tiga macam yaitu pokadulu dalam pesta perkawinan, pokadulu dalam kegiatan pertanian, dan pokadulu dalam kegiatan sosial kemasyarakatan. Yang memiliki enam (6) nilai-nilai positif (1) nilai kebersamaan, (2) nilai persatuan, (3) nilai tolong menolong, (4) nilai sosialisasi dan (5) nilai rela berkorban. Yang keseluruhan berubah dan bergeser akibat dua faktor yakni (1) faktor teknologi yang semakin berkembang dan (2) faktor ekonomi.
PERUBAHAN PERAN SUAMI DAN ISTERI DALAM KELUARGA DI DESA MOLINESE KECAMATAN LAINEA KABUPATEN KONAWE SELATAN
Desriati Desriati;
Erens Elvianus Koodoh
JURNAL KABANTI: Kerabat Antropologi Vol 5 No 2 (2021): Volume 5, Nomor 2, Desember 2021
Publisher : Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33772/kabanti.v5i2.1265
Penelitian ini berjudul “Perubahan Peran Suami Dan Istri Dalam Keluarga Di Desa Molinese Kecamatan Lainea Kabupaten Konawe Selatanâ€. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana peran suami dan istri dalam keluarga dan apa implikasi dari perubahan peran suami dan istri terhadap keluarga. Pemilihan informan dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Penelitian ini menggunakan Teori Perubahan Sosial oleh William F. Ogburn. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik lapangan (field work) dengan menggunakan dua metode yakni pengamatan (observation) dan wawancara mendalam (indepth interview). Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan metode penelitian etnografi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, perubahan peran di Desa Molinese telah perlahan terjadi pada tahun 2000-an ke atas dan ada beberapa keluarga yang mengalaminya karena kurangnya penghasilan dalam keluarga sehingga mempengaruhi perekonomian. Namun, dengan masuknya perusahaan kelapa sawit di Desa ini pada tahun 2007, seketika para istri berbondong-bondong untuk bekerja sebagai karyawan kebun sawit begitupulah para suami, tapi dengan berjalannya waktu para suami banyak yang berhenti bekerja karena sistem pengupahan yang di anggap tidak merata dan mereka memilih untuk berkebun dan ada juga yang tidak memiliki pekerjaan tetap. Sedangkan para istri masih tetap bekerja sebagai karyawan kebun kelapa sawit atau PT. MERBAU sampai saat ini. Beberapa implikasi perubahan peran suami dan istri terhadap keluarga ialah kurangnya keharmonisan dalam rumah tangga, tidak memiliki banyak waktu luang untuk keluarga, berpengaruh pada mental sang anak, akan ada perbandingan pekerjaan antara suami satu dan suami lainnya, serta berpengaruh pada mental sang istri dilingkungan sekitar.
MODIFIKASI TRADISI KAMOMOOSE PADA MASYARAKAT BONEOGE KECAMATAN LAKUDO KABUPATEN BUTON TENGAH
Musyarafatul Musyarafatul;
La Ode Topo Jers;
Rahmat Sewa Suraya
JURNAL KABANTI: Kerabat Antropologi Vol 5 No 2 (2021): Volume 5, Nomor 2, Desember 2021
Publisher : Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33772/kabanti.v5i2.1266
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui proses pelaksanaan tradisi kamomoose, nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi kamomoose serta bentuk-bentuk tradisi kamomoose pada masyarakat Boneoge Kecamatan Lakudo, Kabupaten Buton Tengah. Penelitian ini menggunakan teori Evolusi Sosial (Herbert Spencer). Metode pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan menggunakan penelitian lapangan. Dengan menggunakan teknik pengumpulan data, yakni: pengamatan (observation) dan wawancara (interview). Untuk menjawab permasalahan dilakukan analisis data, teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Analisis data yang dilakukan sejak pengumpulan data sampai akhir penelitian. Hasil penelitian menunjukan bahwa masyarakat Boneoge masih melaksanakan tradisi kamomoose. Proses pelaksanaan tardisi kamomoose ada dua tahap yaitu tahap persiapan dan pelaksanaan, nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi kamomoose berupa nilai spiritual, nilai pendidikan dan nilai estetika dan modifikasi tradisi kamomoose dari uang logam ke kacang tanah, lampu pelita ke lampu listrik, pakaian adat ke pakaian muslimah dan ucapan yang keluar/nazar (limba’anogau) ke pencarian dana masjid atau ajang silaturahmi.
KEBERTAHANAN BUDAYA PANDAI BESI SEBAGAI INDUSTRI TRADISIONAL DI DESA WALELEI KECAMATAN BARANGKA
Nur Aynun;
Zainal Zainal
JURNAL KABANTI: Kerabat Antropologi Vol 5 No 2 (2021): Volume 5, Nomor 2, Desember 2021
Publisher : Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33772/kabanti.v5i2.1269
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan upaya masyarakat Desa Walelei dalam mempertahankan eksistensi pandai besi dan Untuk mengetahui kebertahanan budaya tradisional pandai besi. Teori yang di gunakan dalam penelitian ini adalah teori Materialisme Marvin Harris, Pengumpulan data dengan menggunakan metode etnografi berupa deskripsi mendalam, menggunakan observasi partisipatif (participation observation) dan wawancara mendalam (indepthinterview). Hasil penelitian menunjukan bahwa masyarakat Desa walelei dalam mempertahankan budaya pandai besi. Upaya masayarakat Desa Walelei dalam mempertahankan eksistensi pandai besi yakni mengajarkan anak-anak sejak dini tentang pembuatan pandai besi. Mempertahankan budaya tradisional pandai besi dari Orang Tua terdahulu. Pandai besi yang terdapat di Desa Walelei Kecamatan Barangka Kabupaten Muna Barat merupakan salah satu mata pencaharian di karenakan kurangnya lapangan pekerjaan.
BOM IKAN DAN NELAYAN BAGAN
Rimang Rimang;
Wa Ode Sifatu
JURNAL KABANTI: Kerabat Antropologi Vol 5 No 2 (2021): Volume 5, Nomor 2, Desember 2021
Publisher : Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33772/kabanti.v5i2.1270
Penelitian ini melihat nelayan menyembunyikan informasi keberadaan bom ikan kepada Polisi dan mereka yang tidak berkepentingan. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan cara menyembunyikan informasi, proses memperoleh bahan baku, cara menggunakan bom sebagai pelengkap alat tangkap. Penelitian ini menggunakan metode etnografi. Fokus penelitian adalah nelayan pengguna bom sebagai alat bantu tangkap di Desa Labuan Beropa Kabupaten Konawe Selatan. Data yang dibutuhkan adalah data kuantitatif dan kualitatif. Teknik pengumpulan data melalui pengamatan terlibat dan wawancara mendalam. Data dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian, pengguna memahami bom membahayakan keberlanjutan ekosistem laut dan jiwa manusia, namun telah menjadi candu karena menguntungkan secara ekonomi semasa. Nelayan telah memiliki tuntunan dan pengetahuan tentang cara agar pengguna bom terhindar dari bahaya saat bom diledakkan. Nelayan bagan mempersepsikan bahwa ekonomi nelayan dapat meningkat jika menggunakan bom sebagai alat bantu. Nelayan bagan masih menggunakan bom ikan sebagai alat bantu penangkapan, bom ikan merusak ekosistem perairan dan dapat membahayakan jiwa penggunanya. Implikasi teoritis: Teori Geertz (1973) tentang From the native of view bekerja pada nelayan bagan pengguna bom ikan. Etos, pandangan dunia menuntun mereka agar terhindar dari marabahaya. Rekomendasi: diharapkan pemerintah dan instansi terkait melakukan pendekatan secara persuasif dan duduk bersama untuk mencari solusi sebagai jalan keluar.
STRATEGI PEMENANGAN PARTAI GOLKAR DALAM MENGUSUNG CALON LEGISLATIF DPRD KOTA KENDARI PADA DAPIL IV KAMBU-BARUGA KOTA KENDARI PROVINSI SULAWESI TENGGARA
M.Hazatul Ansar;
Akhmat Marhadi
JURNAL KABANTI: Kerabat Antropologi Vol 5 No 2 (2021): Volume 5, Nomor 2, Desember 2021
Publisher : Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33772/kabanti.v5i2.1272
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Strategi Pemenangan Partai Golkar Dalam Mengusung Calon Legislatif DPRD Pada Dapil IV Kambu-Baruga Kota Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara. Dalam penelitian ini menggunakan Strategi Adaptasi J.W Bennet untuk menyangkutkan suatu permasalahan yang di teliti di lapangan, selain itu penelitian ini juga menggunakan Metode Etnografi, Pengumpulan data dilakukan menggunakan teknik pengamatan (Observasion) dan wawancara mendalam (Indepth interview) serta teknik pemilihan informan Purposive Sampling. Data yang diperoleh dianalisa seacara deskriptif, analisa data yang demaksudkan untuk menyederhanakan data yang diperoleh ke dalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan diimplementasikan. Terdapat 78 kandidat di Dapil IV Kambu-Baruga yang diusung 16 partai politik dan akan memperebutkan 6 kursi. Olehnya itu, setiap calon saling beradu strategi untuk mendapatkan dukungan dari masyarakat. Strategi umum yang kerap kali terlihat pada saat pemilihan umum seperti baliho, stiker, kalender, bantuan sosial, tim sukse dan juga citra melalui media sosial. Strategi yang dilakukan oleh kandidiat partai Golkar yakni untuk menang pada pemilu 2019 lalu ialah dengan menerapkan pola komunikasi persuasif, solidaritas tim sukses, dan citra melalui media soial. Strategi ini dianggap efisien untuk menjaring suara masyarakat. Sementara itu, stratetegi pasti akan dihadapkan dengan tantangan. Beberapa tantangan yang dialami oleh para kandidat caleg golkar di dapil IV yakni mengalahkan popularitas Incumbent serta menjaga basis massa dilapangan untuk tetap menjaga basis suara.Tantangan dihadapi dengan memasifkan strategi saat bergerak diruang-ruang masyarakat.