cover
Contact Name
Hamdiah Ahmar
Contact Email
ahmarjournal@gmail.com
Phone
+6281314119647
Journal Mail Official
ahmarjournal@gmail.com
Editorial Address
Jl. Tamansari Kel. Tatae Kec. Duampanua , Kab. Pinrang, Provinsi Sulawesi Selatan, 91253
Location
Kab. pinrang,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Ahmar Metastasis Health Journal (AMHJ)
ISSN : 27976483     EISSN : 27974952     DOI : https://doi.org/10.53770/amhj
Core Subject : Health,
Ahmar Metastasis Health Journal (AMHJ), with registered number ISSN 2797-6483 (Print), 2797-4952 (Online) managed by the AHMAR Foundation, published by Yayasan Ahmad Mansyur Nasirah, which is a scientific forum for publishing articles on research activities in health (midwifery, pharmacy, nursing, public health and nutrition). The journal was first published in June 2021 and subsequently published four times a year, in June, September, December and March. Every article that goes to the editorial staff will be selected through Initial Review processes by the Editorial Board. Then, the articles will be sent to the peer reviewer and will go to the next selection by Double-Blind Preview Process. After that, the articles will be returned to the authors to revised. These processes take three a month for a maximum time. In each manuscript, peer reviewer will be rated from the substantial and technical aspects. The final decision of articles acceptance will be made by Editors according to Reviewers comments.
Articles 138 Documents
Analisis Beban Kerja Dengan Metode Work Sampling Tenaga Farmasi di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Royal Prima Medan Tahun 2022 Christine Wira Dika Juliana Halawa; Chrismis Novalinda Ginting; Yolanda Putri Eliza Lubis
Ahmar Metastasis Health Journal Vol. 3 No. 1 (2023): Ahmar Metastasis Health Journal
Publisher : Yayasan Ahmad Mansyur Nasirah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53770/amhj.v3i1.183

Abstract

Peningkatan beban kerja tenaga kesehatan di instalasi farmasi berimplikasi pada output kinerja yang kurang baik dan berpotensi menimbulkan kesalahan pemberian obat dan kesalahan peresepan obat. Perhitungan beban kerja menjadi penting dilakukan agar dapat merencanakan kebutuhan SDM yang sesuai dengan jenis pekerjaan dan keahlian. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis beban kerja tenaga farmasi di Rumah Sakit Royal Prima Medan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Beban kerja subyektif diukur dengan menggunakan kuesioner dan beban kerja obyektif mengunakan metode work sampling. Sampel pada studi ini adalah seluruh tenaga yang bekerja di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Royal Prima Medan yang berjumlah 30 orang (total sampling). Hasil penelitian menunjukkan beban kerja subyektif tertinggi berada di kategori sedang (53,3%). Didapatkan distribusi kegiatan produktif langsung (51,75%), produktif tidak langsung (15,40%), kegiatan non produktif (21,60%), dan kegiatan pribadi (11,25%). Beban kerja objektif tenaga farmasi berada pada kategori sedang (67,15%). Dapat disimpulkan bahwa beban kerja subjektif dan beban kerja objektif tenaga farmasi berada pada kategori sedang. Disarankan pada pihak manajemen untuk menghitung kebutuhan SDM, memberikan pelatihan dan pengembangan keterampilan, dan memberikan dukungan psikologi pada tenaga farmasi.
Pengaruh Teknik Relaksasi Nafas Dalam Terhadap Intensitas Nyeri Pada Pasien Inpartu Kala I Rika Sri Wahyuni; Hamidah Sari; Siska Mulyani; Endang Puji Lestari
Ahmar Metastasis Health Journal Vol. 3 No. 1 (2023): Ahmar Metastasis Health Journal
Publisher : Yayasan Ahmad Mansyur Nasirah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53770/amhj.v3i1.192

Abstract

Sebagian besar ibu bersalin akan merasa tidak nyaman dan terganggu dengan rasa sakit yang dialami selama proses persalinan terutama pada fase kala I yang disebabkan oleh kontraksi rahim, dilatasi serviks dan juga dapat disebabkan oleh kecemasan atau rasa takut ibu menghadapi persalinan. Salah satu intervensi yang diberikan untuk menekan nyeri adalah dengan mengajarkan ibu bersalin teknik relaksasi nafas dalam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adakah pengaruh tekhnik relaksasi nafas dalam terhadap intensitas nyeri pada pasien inpartu kala I di ruang bersalin RSUD Kecamatan Mandau. Metode penelitian yang dilakukan quasi eksperiment dengan rancangan pendekatan pretest posttest one group design dengan jumlah sampel sebanyak 30 orang dengan tekhnik purposive sampling dan Uji statistik yang digunakan adalah uji Wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan rata-rata intensitas nyeri pada ibu bersalin sebelum dan setelah dilakukan tekhnik nafas dalam dari rata-rata 7.37 menjadi 5,77 dan dari uji bivariate diketahui ada pengaruh tekhnik relaksasi nafas dalam dengan intensitas nyeri persalinan pada ibu inpartu kala I dengan p-value 0.001.Simpulan ada pengaruh tekhnik relaksasi nafas dalam dengan intensitas nyeri persalinan pada ibu inpartu kala I. Saran setiap nakes yang menolong persalinan dapat menerapkan teknik relaksasi nafas dalam pada ibu bersalin kala I fase aktif.
Intervensi Fisioterapi (Ice Compress, Tens, Dan Latihan Penguatan) Pada Seorang Atlet Sepakbola Dengan Pes Anserinus Bursitis: Case Report Muhammad Dimas Rakha Arkananta; Farid Rahman; Monalisa Meidania; Ilham Setya Budi
Ahmar Metastasis Health Journal Vol. 3 No. 1 (2023): Ahmar Metastasis Health Journal
Publisher : Yayasan Ahmad Mansyur Nasirah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53770/amhj.v3i1.176

Abstract

Pes Anserine Bursitis merupakan kondisi dimana terjadinya inflamasi pada bursa dari gabungan ujung otot dari sartorius, gracilis dan semitendinosus sehingga menyebabkan timbulnya rasa nyeri pada gerakan tertentu dan nyeri tekan disertai oedema pada masa akut di area pes anserine. Dasar-dasar rekomendasi terapi awal untuk pes anserine bursitis, seperti istirahat, kompres es, penurunan berat badan dan penguatan otot kelompok quadriceps dapat membantu perubahan gejala jangka panjang. Intervensi yang diberikan disesuaikan dengan kondisi dan tujuan yang ingin dicapai. Pada studi ini bertujuan mengetahui intervensi fisioterapi (ice compress, tens, dan latihan penguatan) pada seorang atlet sepakbola dengan Pes Anserinus Bursitis. Metode: Studi dalam penelitian menggunakan Case Report yang dilakukan pada bulan Januari 2022 dan dilaksanakan di Lahan Praktik Bintang Physio Bandung, Kota Bandung. Hasil: Terdapat penuruan nyeri dari 5 menjadi 1 dan peningkatan massa otot pada 3 titik ukur setelah dilakukan intervensi fisioterapi. Kesimpulan: Intervensi fisioterapi seperti Ice Compress, TENS dapat mengurangi nyeri serta Latihan Strengthening pada otot quadriceps dan hamstring dapat meningkatkan masa otot sehingga dapat mengembalikan kemampuan fungsional atlet dengan gangguan pes anserinus bursitis dalam waktu 4 minggu menjalani proses fisioterapi.
Efek Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS), Active dan Resisted Exercise Terhadap Knee Pain Suspect Osteoarthritis: Case Report Faizal Riza Wahyudi; Farid Rahman; Rifaudin Rifaudin
Ahmar Metastasis Health Journal Vol. 3 No. 1 (2023): Ahmar Metastasis Health Journal
Publisher : Yayasan Ahmad Mansyur Nasirah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53770/amhj.v3i1.177

Abstract

Osteoarthritis (OA) menyebabkan nyeri sendi disertai dengan berbagai tingkat keterbatasan fungsional dan penurunan kualitas hidup. Ini adalah bentuk radang sendi yang paling umum, dan salah satu penyebab utama rasa sakit dan kecacatan di seluruh dunia. Manajemen fisioterapi pada OA bertujuan untuk mengurangi nyeri, memperbaiki lingkup gerak sendi, dan mencegah keterbatasan fungsional. Metode: Penelitian ini menggunakan metode Case report yaitu berupa uraian laporan tentang tanda, gejala, diagnosa, pengobatan, serta tidak  lanjut dari suatu kasus atau masalah yang didapatkan dari seorang pasien, dengan pasien seorang lansia berusia 70 tahun dengan keluhan pada lutut kirinya yang sering merasakan kaku saat bangun tidur di pagi hari dan adanya rasa tidak nyaman serta nyeri saat beraktivitas. Intervensi yang diberikan berupa pemberian TENS dan active & resisted exercise dengan tujuan mengurangi nyeri, meningkatkan ROM, kekuatan otot, dan kemampuan fungsional. Hasil: Setelah melalui program fisioterapi yang diberikan terdapat penurunan nyeri yang diukur menggunakan NRS, peningkatan ROM, peningkatan kekuatan otot, dan peningkatan kemampuang fungsioan yang diukur menggunakan The Western Ontario And Mcmaster Universities Arthritis Index (WOMAC). Kesimpulan: Pemberian intervensi TENS dan latihan yang terdiri dari latihan gerak aktif dan latihan gerak aktif melawan tahanan pada pasien tersebut dengan kondisi nyeri lutut suspek osteoarthritis lutut memberikan efek dan peningkatan kearah yang lebih baik.
Management Fisioterapi pada Kasus Cervical Root Syndrome dengan Pemberian Neck Calliet Exercise: Case Report Imtiyaz Nisa; Umi Budi Rahayu; Muhamad Nasuka
Ahmar Metastasis Health Journal Vol. 3 No. 1 (2023): Ahmar Metastasis Health Journal
Publisher : Yayasan Ahmad Mansyur Nasirah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53770/amhj.v3i1.178

Abstract

Cervical Root Syndrome (CRS) merupakan kondisi klinis yang disebabkan terjadinya penekanan pada akar saraf yang terletak pada area cervical. Sejumlah 14,8% kasus, ditemukan adanya riwayat trauma yang menyebabkan nyeri leher. Struktur yang paling sering bermasalah ditemukan pada C6 dan C7. Intervensi fisioterapi yang diberikan yaitu Neck Calliet Exercise. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah intervensi fisioterapi berupa latihan isometric memberikan dampak positif pada kasus Cervical Root Syndrome. Penelitian ini menggunakan metode case report yang dilakukan pada pasien Cervical Root Syndrome di Poli Rehab Medik RSUD RAA Soewondo Pati pada Bulan Oktober 2022. Hasil dari case report ini yaitu setelah diberikan intervensi fisioterapi secara terprogram selama dua minggu dengan empat kali pertemuan dapat meningkatkan Lingkup Gerak Sendi (LGS), menurunkan nyeri gerak dan nyeri tekan, sehingga mempengaruhi pada peningkatan kemampuan aktivitas fungsional yang dievaluasi menggunakan Neck Disability Index (NDI). Kesimpulan dari penelitian ini yaitu pemberian Neck Calliet Exercise pada kasus Cervical Root Syndrome dapat menurunkan nyeri gerak dan nyeri tekan serta meningkatkan Lingkup Gerak Sendi (LGS) sehingga kemampuan aktivitas fungsional dapat meningkat.
Program Fisioterapi Pada Atlet Sepak Bola Pasca Recontruction Anterior Talo-Fibular Ligament: Case Report Rifqi Nadhiftya; Taufik Eko Susilo; Monalisa Meidania
Ahmar Metastasis Health Journal Vol. 3 No. 1 (2023): Ahmar Metastasis Health Journal
Publisher : Yayasan Ahmad Mansyur Nasirah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53770/amhj.v3i1.181

Abstract

Anterior Talo-Fibular Ligament (ATFL) adalah salah satu cedera muskuloskeletal yang paling umum terjadi di seluruh dunia, kebanyakan cedera ligamen pergelangan kaki terjadi sebagai akibat dari inversi selama fleksi plantar. Program fisioterapi diberikan pada minggu pertama sampai minggu ketiga yang meliputi pemberian cryotherapy, TENS, strengthening exercise dan propioception training pada pasien pasca rekontruksi anterior talo-fibular ligament. Metode: studi ini menggunakan jenis penelitian single subject research berbentuk penelitian berupa case report dengan subjek pemain sepak bola dengan kondisi pasca operasi ligamen talo-fibular anterior yang dilakukan pada bulan januari 2023 dan dilaksanakan di klinik Bintang Physio Bandung. Hasil: Terdapat penurunan nyeri gerak, nyeri diam, dan nyeri tekan serta terdapat peningkatan massa otot pada tungkai atas dan tungkai bawah yang diukur menggunakan meter line setelah dilakukannya program fisioterapi. Tujuan; untuk mengetahui apakah terdapat peningkatan otot selama dilakukan intervensi fisioterapi selama tiga minggu. Kesimpulan: Program fisioterapi yang dilakukan seperti pemberian TENS dan cryotherapy (ice) dapat mengurangi nyeri dan fisiologis otot, strengthening exercise dapat menambah massa otot, terutama pada quadricep, hamstring, dan calf muscle sehingga diharapkan dapat mengembalikan aktifitas fungsional pasien sehari-hari sebagai atlet sepak bola.
MANAGEMENT FISIOTERAPI PADA CARPAL TUNNEL SYNDROME: A CASE REPORT Ayu Tri Kusumaningrum Subiyanto; Umi Budi Rahayu; Katno Asha
Ahmar Metastasis Health Journal Vol. 3 No. 2 (2023): Ahmar Metastasis Health Journal
Publisher : Yayasan Ahmad Mansyur Nasirah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53770/amhj.v3i2.203

Abstract

Carpal Tunnel Syndrome is a peripheral neuropathy in which there is increased pressure around the median nerve which causes various symptoms such as tingling, wrist pain, paresthesia, and a burning sensation in the hands. Various factors have been speculated to contribute to the occurrence of CTS, including hereditary neuropathy, trauma to the forearm, repetitive motion work on the wrist, inflammation of the tendons, metabolic and endocrine diseases, malignancy to degenerative diseases. To reduce pain when the patient is at home, physiotherapists provide independent exercises that can be done at home with modified myofascial stretching. Kinesio tapping is an adjunctive treatment method that is suggested to be effective in regulating normal tissue function and supporting wound healing mechanisms. It has been found to be effective in muscle problems for pain relief by reducing pressure on pain receptors and supporting and protecting muscle tissue. Kinesio tapping is also known to be effective in the conservative treatment of CTS either alone or in combination with other therapeutic agents. To determine the effect of exercise therapy and kinesio tapping given to CTS patients. This study uses a case study. measurement of pain using the Numeric Rating Scale (NRS), measurement of muscle strength using Manual Muscle Testing (MMT), Goniometer to measure the Range of Joint Motion (ROM), Evaluation of Functional Ability with the Buston Questionaire Carpal Tunnel Syndrome (BQCTS) is a measuring tool to measure functional ability in CTS. After 3 physiotherapy interventions, results were obtained which showed a decrease in pain. Silent pain from 1 to 0, tenderness from 5 to 2, and motion pain from 6 to 2. For muscle strength, there was an increase in the wrist flexor muscle group from 3+ to 4. For the range of motion of the joints, there was no significant increase due to the time of intervention very limited. As well as found an increase in functional activity and a decrease in the degree of pain. Exercise therapy and Kinesio Taping are effective for reducing pain, increasing muscle strength, and increasing range of motion resulting in increased functional ability.
Effect of Stretching Exercise to Increase Joint Range of Motion and Functional Ability in Post-Burn Shoulder Contracture Patients: A Case Report Raga Geriana Novita Dewi; Suryo Saputra Perdana; Nilam Nur Hamidah
Ahmar Metastasis Health Journal Vol. 3 No. 2 (2023): Ahmar Metastasis Health Journal
Publisher : Yayasan Ahmad Mansyur Nasirah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53770/amhj.v3i2.204

Abstract

Burns are tissue damage or loss caused by contact with high temperatures, such as heat, radiation, electricity, and chemicals. Causes damage to the epidermis and underlying soft tissue, bone, and muscle, placing burn victims at risk for contractures and joint deformities. Upper extremity function is critical to the performance of activities of daily living. Interventions such as surgery, pharmacological therapy, and nutritional support are important in aiding recovery and improving clinical outcomes after severe burns. The aimed to determine the effect of stretching exercises on increasing range of motion and functional ability in post-burn shoulder contracture. This study used the case study method which was conducted on post-shoulder contracture burn patients at Central General Hospital Dr. I.G.N.G Ngoerah Bali in February 2023. Pain measurements were taken using the Numeric Rating Scale (NRS). Measurement of muscle strength using Manual Muscle Testing (MMT). Goniometer to measure the Range of Joint Motion (ROM). Shoulder Pain and Disability Index (SPADI) to measure functional ability. SPADI is a quality of life questionnaire consisting of 13 items to evaluate 5 items for pain and 8 items for impairment. After 3 times of physiotherapy, the results showed a decrease in silent pain at T0 = 2 to T3 = 1. Tenderness at T0 = 4 to T3 = 2. Movement pain T0 = 5 to T3 = 3. Increased muscle strength T0 value 2, that is not full ROM to T3 value 3, namely full ROM and can fight gravity. Increased range of motion in active and passive flexion, extension, abduction, adduction, horizontal, abduction and horizontal adduction, internal and external rotation. The increase in the functional ability of SPADI T0 = 53% then decreased to T3 = 35%. There is a significant decrease in the measurement of functional ability using SPADI, which means the patient's functional ability is increasing. The conclusion is stretching exercises are effective for increasing the range of motion and functional ability of patients with post-burn shoulder contractures. Therefore, stretching exercises should be used to provide proper burn care to patients in hospitals and burn centers.
Penatalaksanaan Fisioterapi dengan Breathing Exercise dan Mobilisasi Sangkar Thoraks Pada Pasien Asma Bronkial: Case Report Annisa Fitri Dewi; Multasih Nita Utami; Suryo Saputra Perdana
Ahmar Metastasis Health Journal Vol. 3 No. 2 (2023): Ahmar Metastasis Health Journal
Publisher : Yayasan Ahmad Mansyur Nasirah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53770/amhj.v3i2.187

Abstract

Asma adalah penyakit kronis pada saluran udara yang ditandai dengan peradangan dan penyempitan saluran udara. Asma memiliki berbagai tingkat keparahan, mulai dari mengi yang sangat ringan hingga penutupan saluran napas akut yang dapat mengancam jiwa Penderita asma biasanya akan mengalami mengi atau batuk yang diperberat karena alergi, olahraga, dan dingin. Sering terdapat variasi diurnal, dengan gejala yang lebih buruk pada malam hari. Pasien dapat memberikan riwayat bentuk lain dari atopi, seperti eksim dan demam. Mungkin ada nyeri dada ringan yang berhubungan dengan eksaserbasi akut. Banyak penderita asma mengalami batuk di malam hari tetapi tampak normal di siang hari.  Asma adalah suatu kondisi peradangan saluran napas akut yang sepenuhnya reversibel, seringkali setelah terpapar pemicu lingkungan dimulai dengan menghirup iritan (misalnya udara dingin) atau alergen (misalnya serbuk sari), yang kemudian, karena hipersensitivitas bronkial, menyebabkan peradangan saluran napas dan peningkatan produksi lendir, hal ini menyebabkan peningkatan resistensi saluran napas yang signifikan, yang paling menonjol saat ekspirasi. Penderita asma biasanya akan mengalami mengi atau batuk yang diperberat karena alergi, olahraga, dan dingin. Sering terdapat variasi diurnal, dengan gejala yang lebih buruk pada malam hari. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah case report study serta latihan yang dapat mengurangi gejala asma serta dapat meningkatkan kualitas hidup pasien asma yaitu breathing exercise yang meliputi breathing control, pursed lip breathing, huffing, thoracic expansion exercise serta mobilisasi sangkar thoraks. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui efek pemberian breathing exercise yang meliputi breathing control, pursed lip breathing, huffing, thoracic expansion exercise serta mobilisasi sangkar thoraks pada pasien asma. breathing exercise yang meliputi breathing control bermanfaat untuk meningkatkan kualitas hidup pada pasien dengan asma bronkial. Latihan pernapasan juga mengurangi untuk gejala hiperventilasi. Setelah dilakukan pemberian latihan tersebut didapatkan untuk mengurangi sesak napas,meningkatkan ekspansi pengembangan sangkar thoraks serta meningkatkan kualitas hidup pada pasien dengan asma bronkial.
Penatalaksanaan Fisioterapi pada Kasus Ischialgia Mely Erlika Sari; Dwi Rosella Komala Sari; Muhammad Nasuka
Ahmar Metastasis Health Journal Vol. 3 No. 2 (2023): Ahmar Metastasis Health Journal
Publisher : Yayasan Ahmad Mansyur Nasirah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53770/amhj.v3i2.188

Abstract

Ischialgia/ Sciatica adalah diagnosis klinis yang menggambarkan nyeri menjalar dari pinggang bagian bawah hingga ke kaki. Hal ini disebabkan oleh kompresi akar saraf lumbosakral (L4-S1) yang membentuk saraf siatic. Prevalensi terjadinya ischialgia di Indonesia 18-21%, pada laki-laki 13,6% dan pada wanita 18,2%. Ischialgia menyebabkan seseorang mengalami suatu keterbatasan fungsional dalam melakukan aktifitas sehari-hari, jika dibiarkan saja lama kelamaan akan mengakibatkan secondary problem, seperti kelemahan anggota gerak bawah yang disertai dengan  mengecilnya otot-otot anggota gerak bawah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efek beberapa treatment penanganan proses fisioterapi. Metode penelitian ini menggunakan case report yang dilaksanakan di RSUD Soewondo Pati pada seorang pasien laki-laki yaitu Tn. S berusia 72 tahun. Diagnosa pada pasien adalah Ischialgia. Proses fisioterapi dilakukan secara menyeluruh dari pemeriksaan subyektif, pemeriksaan obyektif, intervensi, home program, edukasi dan evaluasi. Intervensi fisioterapi yang diiberikan yaitu IR, TENS, Terapi Latihan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa evaluasi dilakukan setelah 3 kali fisioterapi dan didapatkan hasil adanya perbedaan sebelum intervensi dan setelah dilakukannya intervensi. Kesimpulannya adalah treatment yang dilakukan kepada pasien dengan keluhan nyeri menjalar pada back dan lower ekstremity dengan treatment IR, TENS, Massage, dan Terapi latihan berupa streching dan strengthening otot dapat mengurangi nyeri, mengurangi muscle.

Page 7 of 14 | Total Record : 138