cover
Contact Name
Iswinarno Doso Saputro
Contact Email
iswinarno.doso@fk.unair.ac.id
Phone
+628155247800
Journal Mail Official
jre@journal.unair.ac.id
Editorial Address
Departemen Bedah Plastik Rekonstruksi dan Estetik Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Jl. Mayjend Prof. Dr. Moestopo No. 6-8, Surabaya, 60285. (031) 5020091 ext 1314
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Rekonstruksi dan Estetik
Published by Universitas Airlangga
ISSN : 23017937     EISSN : 27746062     DOI : http://dx.doi.org/10.20473/jre.v6i2.31832
Core Subject : Health,
Jurnal Rekonstruksi dan Estetik (p-ISSN:2301-7937, e-ISSN: 2774-6062) is a scientific peer-reviewed medical journal which is relevant to doctor and other health-related professions published by the Faculty of Medicine, Universitas Airlangga, Surabaya, Indonesia. Jurnal Rekonstruksi dan Estetik is published twice a year, every June and December. Jurnal Rekonstruksi dan Estetik focuses in publishing case report, review article and original research report on the latest medical sciences. The scope of Jurnal Rekonstruksi dan Estetik includes burn and wound, hand surgery, microsurgery, oncoplasty, craniofacial and external genitalia reconstruction and aesthetics. The article could be written in either Bahasa Indonesia or English. Jurnal Rekonstruksi dan Estetik indexed by: Google Scholar, GARUDA, SCILIT, CrossRef, BASE
Arjuna Subject : Kedokteran - Pembedahan
Articles 104 Documents
HUBUNGAN ANTARA INFEKSI DAN LAMA PERAWATAN PASIEN LUKA BAKAR BERDASARKAN JENIS KUMAN DI RSUD DR SOETOMO SURABAYA Samiyah; Wardhani, Rr. Indrayuni Lukitra; Iswinarno Doso Saputro
Jurnal Rekonstruksi dan Estetik Vol. 7 No. 1 (2022): Jurnal Rekonstruksi dan Estetik, Juni 2022
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jre.v7i1.36369

Abstract

Highlights: Rata-rata waktu tersingkat  lama perawatan pasien luka bakar yang mengalami infeksi yaitu  selama  11  hari  dan paling lama yaitu 53 hari. Acinetobacter baumanii,  Staphylococcus  haemolyticus,  dan Pseudomonas aeruginosa merupakan jenis bakteri yang sering menginfeksi pasien  luka  bakar di RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Lama masa  perawatan dengan jenis bakteri yang menginfeksi pasien luka bakar memiliki hubungan yang signifikan. ABSTRAK: Latar Belakang:  Luka bakar merupakan salah satu masalah global di Indonesia. Infeksi pada pasien luka bakar merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi lama masa perawatan berkaitan dengan tingkat patogenisitas bakteri penyebab infeksi.  Tujuan  penelitian  ini  adalah  untuk  mengetahui  hubungan  antara  lama masa perawatan dengan jenis kuman penyebab infeksi pada pasien luka bakar yang dirawat di RSUD Dr. Soetomo Surabaya periode Januari-Desember 2019. Metode: Penelitian  ini  merupakan  studi  deskriptif  analitik  dengan  desain kohort retrospektif. Data mengenai karakteristik pasien, derajat keparahan luka bakar,  penyakit  penyerta,  jenis  bakteri  yang  menginfeksi  pasien  luka  bakar, serta lama masa perawatan didapatkan dari rekam medis pasien. Data mengenai jenis  bakteri  yang  menginfeksi  pasien  luka  bakar  dan  lama  perawatan  pasien luka  bakar  ditentukan  korelasinya  dengan  menggunakan  uji  statistik  Rank Spearman-Rho. Hasil: Penelitian diperoleh sebanyak 42 data pasien luka bakar yang mengalami infeksi dan didominasi pasien berjenis kelamin laki-laki yaitu sebesar 61,9%.  Persentase rentang  usia terbanyak  adalah  26-35 tahun  yakni  23,8%. Persentase  derajat  keparahan  luka  bakar  terbanyak  adalah  derajat  II  yang didominasi  derajat  IIB  yakni  38,1%.  Gangguan  metabolik  merupakan  kondisi penyerta tersering yang dialami pasien luka bakar yakni sebanyak 50%. Rerata lama perawatan pasien luka bakar yang mengalami infeksi adalah 28,21±10,17 hari  dengan  waktu  paling  lama  adalah  53  hari.  Jenis  bakteri  yang  menginfeksi pasien  luka  bakar  pada  penelitian  ini  didominasi  oleh  Acinetobacter  baumanii (31%),  Staphylococcus  haemolyticus  (23,8%),  dan  Pseudomonas  aeruginosa (16,7%). Uji korelasi antara lama masa perawatan pada pasien luka bakar dan jenis  bakteri  yang  menginfeksi  pasien  luka  bakar  menunjukkan  hasil  yang signifikan (p = 0,012). Kesimpulan: Terdapat  korelasi  yang  signifikan  antara  lama  masa  perawatan dengan jenis bakteri yang menginfeksi pasien luka bakar.
PERAN TERAPI AKUPUNTUR TERHADAP REJUVENASI WAJAH Teja, Yolanda; Wahdini, Sri; Jusuf, Ahmad
Jurnal Rekonstruksi dan Estetik Vol. 7 No. 1 (2022): Jurnal Rekonstruksi dan Estetik, Juni 2022
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jre.v7i1.36370

Abstract

Highlights: Akupunktur memiliki manfaat untuk meremajakan wajah dengan efek samping yang dapat ditoleransi. Akupunktur berfungsi untuk mencegah proses penuaan melalui tindakan anti peradangan, perlindungan terhadap penurunan kolagen, dan pendorong produksi kolagen yang lebih tinggi. Akupunktur manual dan akupunktur tanam benang terbukti efektif  dalam rejuvenasi wajah  ABSTRAK: Latar belakang: Penuaan merupakan kondisi yang tidak dapat dihindari yang terjadi  sejak  lahir  dan  terus  berlangsung  sepanjang  hidup.  Meningkatnya kebutuhan  masyarakat  dalam  menjaga  penampilan,  bervariasinya  kebutuhan dan  kondisi  tiap  individu,  serta  beragamnya  efek  samping  yang  dapat ditimbulkan  dari  intervensi  yang  telah  ada,  menuntut  upaya  terus  menerus dalam  mengembangkan  teknik  peremajaan  kulit.  Berikut  akan  dipaparkan mengenai peran terapi akupunktur pada rejuvenasi wajah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui peran terapi akupuntur pada rejuvenasi wajah. Metode: Metode penelitian ini menggunakan metode literature review dengan mengambil jurnal melalui. Google  Scholar  dan  Pubmed dengan  kata  kunci:  wrinkle,  acupuncture, thread embedding acupuncture, electroacupuncture,  cosmetic  acupuncture, facial  acupuncture,  facial  rejuvenation, dan  facial cosmetic acupuncture. Hasil: Akupunktur  menunjukkan  efek  positif  pada  rejuvenasi  wajah dengan  efek  samping  yang  cukup  dapat  ditoleransi.  Akupunktur  berperan mencegah  penuaan  melalui  mekanisme  anti-inflamasi,  pencegahan  degradasi kolagen dan peningkatan produksi kolagen. Kesimpulan: Akupunktur  terbukti  efektif  dalam  rejuvenasi  wajah  dengan modalitas  yang  paling  banyak  digunakan  adalah  akupunktur  manual  dan akupunktur  tanam  benang.  Akupunktur  dapat  menjadi  salah  satu  intervensi pilihan pada rejuvenasi wajah.
ONION EXTRACT (Allium cepa) MEDERMA® UNTUK BEKAS LUKA OPERASI PADA WAJAH Amandita, Tiara; Iswinarno Doso Saputro
Jurnal Rekonstruksi dan Estetik Vol. 7 No. 1 (2022): Jurnal Rekonstruksi dan Estetik, Juni 2022
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jre.v7i1.36380

Abstract

Highlights: Penggunaan onion extract (Allium cepae) Mederma® gel pada bekas luka operasi di wajah selama 2 minggu menunjukkan perubahan signifikasi yang baik. Penggunaan onion extract (Allium cepa) Mederma® untuk bekas  luka operasi dapat menjadi terapi penanganan luka di daerah wajah. ABSTRAK: Latar Belakang:  Penanganan  pasien  dengan  trauma  wajah  terus  mengalami  perkembangan dalam  era  penatalaksanaan  terkini. Meskipun  proses  penyembuhan  luka berlangsung secara normal, adanya bekas luka pada proses penyembuhan luka merupakan  suatu  permasalahan  medis  yang  dapat  mengakibatkan  hilangnya fungsi, limitasi pertumbuhan jaringan, permasalahan estetik dan permasalahan pada psikologis.. Ilustrasi Kasus: Pasien  Wanita (35  tahun), datang  dengan  keluhan  luka  terbuka  pada wajah  sisi  kanan  akibat  kecelakaan  lalu  lintas.  Pada  pemeriksaan  fisik didapatkan  primary  survey  dengan  kondisi pasien  sadar  baik  dan  hemodinamik  stabil, sedangkan status  lokalis  pada  area maksilofacial  didapatkan  Vulnus  appertum regio  facialis  pada  sisi  dextra  sepanjang  6  cm, dengan tepi luka irregular,   dasar luka subkutis, disertasi  vulnus  excoriasi  pada  regio  cheek dextra. Pembahasan: Pada kasus ini, onion extract (Allium cepa) Mederma® diaplikasikan sebagai penanganan luka bekas operasi pada area wajah. Onion extract (Allium cepae) dapat mengurangi pembentukan bekas luka (scar) dengan menghambat proliferasi fibroblast dan produksi kolagen. Kombinasi Allium cepae dengan allantoin dan heparin  memberikan hasil yang baik serta memberikan kepuasan pada pasien. Kesimpulan: Observasi  dan  evaluasi  yang  dilakukan  pada  pasien  menunjukkan  hasil  yang baik  pada  bekas  luka,  sehingga  penggunaan  onion  extract  (Allium  cepa) Mederma®  pada  bekas  luka  operasi  pada  wajah  dapat  menjadi  pilihan  dalam terapi penanganan luka di daerah wajah.
REKONSTRUKSI PASKA-EKSIS LUAS TUMOR KEPALA-LEHER: SERIAL KASUS Fitra, Yugos; Tetan-El, Michael Tetan-El; Stephanie, Alexandria
Jurnal Rekonstruksi dan Estetik Vol. 7 No. 1 (2022): Jurnal Rekonstruksi dan Estetik, Juni 2022
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jre.v7i1.36381

Abstract

Highlights: Penentuan desain insisi tumor dan flap harus dilakukan oleh ahli onkologi untuk menghasilkan rekonstuksi yang maksimal. Penentuan teknik rekonstuksi, evaluasi kondisi pasien, ketersediaan alat, keahlian operator, dan tujuan dari operator maupun harapan pasien harus dipertimbangkan sebelum melakukan tindakan operasi. Abstrak: Latar Belakang: Defek paska eksisi luas tumor pada kepala dan leher seringkali melibatkan struktur kompleks jaringan disekitarnya sehingga menyebabkan tindakan rekonstruksi penutupan defek menjadi hal yang menantang untuk dilakukan.Ilustrasi Kasus: Kasus 1: Wanita, 55 tahun, terdapat luka dehisen di ujung lateral mata kiri dan teraba massa di parotis kiri. Pasien didiagnosa melanoma konjungtiva palpebra kiri dengan metastase kelenjar parotis dan KGB submandibula. Paska eksisi luas tumor parotis dan KGB, didapatkan defek 8x10 cm dengan dasar tulang serta luka dehisen sisi lateral orbita kiri. Dilakukan penutupan defek menggunakan flap lokal fasiokutan dari leher kiri dan koreksi luka dehisen. Kasus 2: Laki-laki, 28 tahun, terdapat massa di leher kiri sejak 3 tahun terakhir. Pasien didiagnosis fibrous histiocytoma dan sudah menjalani eksisi tumor dilanjutkan terapi radiasi dengan kemoterapi 1 tahun lalu. Saat ini ditemukan benjolan berulang di angulus mandibula kiri dengan permukaan ulseratif. Paska eksisi luas tumor dan KGB submandibula kiri, didapatkan defek 13x15 cm dengan dasar otot dan pembuluh darah. Dilakukan penutupan defek menggunakan flap fasiokutan dari leher kiri dilanjutkan penutupan defek sekunder menggunakan flap fasiokutan dari clavicula.Pembahasan: Penggunaan teknik flap lokal untuk rekonstruksi defek kepala leher yang melintasi beberapa unit wajah membutuhkan analisis dan pertimbangan yang matang. Desain insisi tumor dan flap sebaiknya ditentukan dan didiskusikan dengan ahli onkologi untuk hasil rekonstuksi yang maksimal.Kesimpulan: Banyak hal yang harus dipertimbangkan untuk menentukan teknik rekonstuksi terbaik di tiap individu seperti perlunya evaluasi kondisi pasien, ketersediaan alat, dan keahlian operator serta diskusi terkait tujuan yang ingin dicapai baik dari sisi operator maupun harapan pasien. Sehingga tindakan rekonstruksi tersebut dapat berhasil.
PASIEN SINDROMA APERT YANG DILAKUKAN OPERASI FRONTO ORBITAL ADVANCEMENT SETELAH OCCIPITAL EXPANSION Putria, Almahitta Cintami; Prasetyo, Arif Tri; Febrina, Amelia
Jurnal Rekonstruksi dan Estetik Vol. 7 No. 1 (2022): Jurnal Rekonstruksi dan Estetik, Juni 2022
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jre.v7i1.36382

Abstract

Highlights: Tindakan operasi occipital expansion diterapkan pada kasus Sindroma Apert untuk meluaskan area tengkorak, diikuti oleh fronto orbital advancement (FOA) guna meningkatkan baik fungsi maupun penampilan memperoleh hasil yang memuaskan. Tatalaksana yang terencana, tim medis bedah plastik dan ortopedi yang kompeten, operasi kraniosinostosis dan FOA, membantu mengoptimalkan hasil fungsional dan estetik pasien sindroma Apert. ABSTRAK: Latar Belakang:  Sindroma Apert atau acrocephalosyndactyly tipe I merupakan kelainan kongenital yang ditandai dengan adanya kraniosinositosis, exorbitism, midface hypoplasia dan sindaktili simetris pada tangan dan kaki, hal ini disebabkan oleh mutasi genetik dari FGFR-2, S252W dan P253R. Ilustrasi Kasus: Anak perempuan (2 tahun) datang ke poliklinik bedah plastik konsulan dari TS Orthopaedi dengan mengeluhkan jari-jari tangannya yang menyatu. Pada pemeriksaan awal, didapatkan dismorfik dari kepala dan wajah pasien dengan jari–jari tangannya yang menyatu. Hasil pemeriksaan CT Scan kepala didapat sutura coronarial bilateral. Pada pemeriksaan fisik didapatkan dismorfik pada kepala, wajah, dan extremitas.Pada regio facialis didapatkan exorbitism pada oculi dextra sinistra, hypoplasia maxilla  dan terdapat adanya high arched palate yang disertai dengan soft palate cleft. Pada regio manus dan pedis bilateral ditemukan sindaktili yang simetris.  Pasien didiagnosis dengan sindroma Apert, dan diputuskan untuk dilakukan occipital expansiion. Pembahasan: Tatalaksana  kraniosinostosis bertujuan untuk memperbaiki fungsi serta estetik dari pasien dengan tindakan awal adalah dilakukan dekompresi kalvaria dengan intervensi pembedahan yaitu occipital expansion pada usia 6 bulan dan dilanjutkan  dengan fronto orbital advancement (FOA). Kesimpulan: Pada kasus ini dilakukan tatalaksana occipital expansion dan dilanjutkan dengan FOA dengan hasil yang cukup memuaskan.
THE USE OF AMNIOTIC MEMBRANE FOR WOUND HEALING IN BURN INJURIES Prawoto, Almas Nur; Ishandono Dachlan
Jurnal Rekonstruksi dan Estetik Vol. 7 No. 2 (2022): Jurnal Rekonstruksi dan Estetik, December 2022
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jre.v7i2.36050

Abstract

HIGHLIGHTS: 1. An organic bandage that can be helpful in the treatment of burn wounds is amniotic membrane. 2. The mechanisms of amniotic membrane for the treatment of burns and wounds should be investigated and understood in more detail.   ABSTRACT: Introduction: Burn injuries are associated with significant mortality and morbidity around theworld. The care of burn wounds requires a great amount of medical resources, therefore it is important to find a wound dressing that accelerates wound healing and is readily available. Methods: Literature search from online databases using relevant keywords about the usage of amniotic membranes in burn patients. Results: Research has shown that it contains antimicrobial properties that could be of great benefit in burn patients and is compatible to use in developing countries because it is readily available, easy to obtain and sterilize, able to cover wounds of large size, protects the wound from excessive water and electrolyte loss, reduces pain intensity, requires fewer dressing changes and is also more cost effective than conventional dressings. Conclusion: Amniotic membrane is a biological dressing that can be useful in the treatment of burn wounds. Further research should be conducted to investigate and understand the mechanisms of amniotic membrane for burn and wound care.
A CASE SERIES: MICRO AND NANO FAT GRAFTING FOR THE TREATMENT OF TESSIER 3 AND 4 CRANIOFACIAL CLEFTS VOLUME DEFECT Windura, Carolus Aldo; Soekamto, Tomie Hermawan; Fonny Josh
Jurnal Rekonstruksi dan Estetik Vol. 7 No. 2 (2022): Jurnal Rekonstruksi dan Estetik, December 2022
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jre.v7i2.38231

Abstract

HIGHLIGHTS: 1. Combination of micro and nano fat grafting shows promising results for correcting facial contour deformities caused by Tessier 3 and 4 craniofacial clefts.2. Nano fat grafting, which contains growth factors and stem cells, complements the properties of micro fat grafting, leading to increased survivability rate and better outcomes.   ABSTRACT: Background: Patients with craniofacial clefts who have had reconstructive surgery often develop problems, such as contour deformity that will cause psychological issues.  Micro and nano fat grafting are various methods utilized to overcome these issues. Case and Operation Technique: This case series describes two patients with facial contour deformities due to Tessier 3 and 4 craniofacial clefts, respectively.  Each patient underwent secondary reconstruction correction surgery followed by a combination of micro and nano fat grafting. Discussion: Results on day 7 after surgery were promising.  Growth factors and stem cells in nano fat complemented the micro fat properties, thus increasing the survivability rate. Conclusion: This case series demonstrates that the combination of micro and nano fat shows promising results for overcoming facial contour deformity.
A LITERATURE REVIEW: THE EFFECT OF HONEY IN PRESSURE ULCERWOUND HEALING ACCELERATION Ariani, Yuni; Aliyatur, Titin; Wicaksono, Bambang
Jurnal Rekonstruksi dan Estetik Vol. 7 No. 2 (2022): Jurnal Rekonstruksi dan Estetik, December 2022
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jre.v7i2.41215

Abstract

HIGHLIGHTS: 1. Honey dressings can accelerate wound healing in patients with pressure ulcers.2. Honey-soaked gauze can provide quicker pain relief and reduce discomfort during dressing changes compared to other topical dressings.   ABSTRACT: Background: Pressure ulcers occur due to prolonged pressure and friction in areas of bony prominences that result in tissue injury with varying depths. To date, there is no standardized wound dressing for these ulcers. From the review of the availability and affordability aspects, honey can be used as a wound dressing because it contains anti-oxidants, anti-inflammatory, and anti-bacterial properties. This article investigates the advantages of honey dressing over other modern dressings. Methods: Literature search from online databases using relevant keywords. A total of three articles were discussed in this review article. Results: All articles agreed that giving honey to pressure ulcer wounds reduced wound size and pain. Honey-soaked gauze provided quicker pain relief during treatment and reduced discomfort with each dressing change. Wound healing was proven to be four times faster with honey compared to other topical dressings. The anti-bacterial effect of honey could not be significantly confirmed in this study. Nonetheless, honey dressings succeeded in accelerating wound healing in patients with pressure ulcers. Conclusion: Honey can be a promising alternative to topical dressings in patients with pressure ulcers.
A COMPARISON OF ABBREVIATED BURN SEVERITY INDEX (ABSI) SCORE WITH R-BAUX SCORE AS A PREDICTOR OF MORTALITY IN BURN PATIENTS Iustitiati, Melissa Anita Ayu; Beta Subakti Nata’atmadja
Jurnal Rekonstruksi dan Estetik Vol. 7 No. 2 (2022): Jurnal Rekonstruksi dan Estetik, December 2022
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jre.v7i2.41216

Abstract

HIGHLIGHTS: 1. The R-Baux Score and ABSI Score can be used as model predictors of death in burn patients at Dr. Soetomo General Academic Hospital.2. There was no significant difference between the R-Baux Score and the ABSI Score as the predictor of mortality in burn patients.   ABSTRACT: Background: Several studies regarding the mortality predictor model in burn patients have been carried out in several cities and countries. However, none have ever happened in Dr. Soetomo General Academic Hospital, Surabaya, Indonesia. This study aims to analyze the R-Baux Score and Abbreviated Burn Severity Index (ABSI) Score as a mortality predictor model in burn patients, which are relevant and useable in services at Dr. Soetomo General Academic Hospital. Methods: This study used quantitative research with a cross-sectional design and retrospective design utilizing secondary data. It was found that 263 patients met the inclusion criteria; with 73 patients died, 60.27% of whom were male, 50% with inhalation trauma, 19.18% were in the age range of 56-65 years old, 24.66% had a burn area of 61-70%, and 35.62% with a full-thickness burn. Results: The results showed that the sensitivity value from the ABSI Score (p<0.001) was 82.19%, with a specificity of 82.11%, a positive predictive value of 63.83%, and a negative predictive value of 92.31%. The R-Baux Score (p<0.001) showed that the sensitivity value obtained was 80.82%, with a specificity of 80.00%, a positive predictive value of 60.83%, and a negative predictive value of 91.57%. Conclusion: There was no significant difference between the R-Baux Score and the ABSI Score as the predictor of mortality in burn (p>0.05). Therefore, both the R-Baux Score and the ABSI Score can be used as model predictors of death in burn patients at Dr. Soetomo General Academic Hospital.
MANAGEMENT OF A RARE CASE OF PEDIATRIC DEEP STERNAL WOUND INFECTION WITH VACUUM-ASSISTED CLOSURE (VAC) Ramli, Rianto Noviady; Kusumaputri, Ayu Prima; Prabowo, Arif Yudho; Kurnia, Yunanto; Prawoto, Almas Nur
Jurnal Rekonstruksi dan Estetik Vol. 7 No. 2 (2022): Jurnal Rekonstruksi dan Estetik, December 2022
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jre.v7i2.41217

Abstract

HIGHLIGHTS: 1.This case series demonstrates that the combination of micro and nano fat shows promising results for overcoming facial contour deformity.2. Growth factors and stem cells in nano fat complemented the micro fat properties, thus increasing the survivability rate.   ABSTRACT: Background: Patients with craniofacial clefts who have had reconstructive surgery often develop problems,such as contour deformity that will cause psychological issues. Micro and nano fat grafting are various methods utilized to overcome these issues. Case and Operation Technique: This case series describes two patients with facial contour deformities due to Tessier 3 and 4 craniofacial clefts, respectively. Each patient underwent secondary reconstruction correction surgery followed by a combination of micro and nano fat grafting. Discussion: Results on day 7 after surgery were promising. Growth factors and stem cells in nano fat complemented the micro fat properties, thus increasing the survivability rate. Conclusion: This case series demonstrates that the combination of micro and nano fat shows promising results for overcoming facial contour deformity.

Page 5 of 11 | Total Record : 104