cover
Contact Name
Reni Suryanti
Contact Email
jpppolbangtanbogor@gmail.com
Phone
+628128822179
Journal Mail Official
renisuryanti@pertanian.go.id
Editorial Address
Bogor Agricultural Develpoment Polytechnic Jln. Aria Surialaga No 1, Pasir Kuda Bogor 16119
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penyuluhan Pertanian
ISSN : 19075893     EISSN : 25990403     DOI : https://doi.org/10.51852/jpp.v16i1.460
This journal contains the results of research related to developing issues in the field of agricultural extension based on the needs of the community or farmer groups. published articles include research articles and literature studies.
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 11 No 1 (2016)" : 9 Documents clear
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN ADOPSI SISTEM TANAM LEGOWO USAHATANI PADI SAWAH (Oryza sativa L.) DI KECAMATAN IV KOTO KABUPATEN AGAM PROVINSI SUMATERA BARAT Firdaus Firdaus; Elih Juhdi Muslihat; Achmad Musyadar
Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol 11 No 1 (2016)
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (203.728 KB) | DOI: 10.51852/jpp.v11i1.326

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengetahui karakteristik petani terhadap penerapan usaha tani padi sawah sistem legowo, (2) Mengetahui tahap adopsi inovasi teknologi usaha tani padi sawah sistem legowo yang diterapkan oleh petani, (3) Mengetahui tingkat adopsi petani terhadap proses penerapan usaha tani padi sawah sistem legowo. Metode penelitian ini adalah “ex post facto,” yaitu bentuk penelitian untuk menilai peristiwa yang telah terjadi untuk menemukan faktor-faktor penyebab melalui pengamatan atau penilaian kondisi faktual di lapangan. Pengamatan utama penelitian memusatkan perhatian pada pemecahan masalah yang ada pada masa sekarang dan bertitik tolak dari data yang dikumpulkan, dianalisis dan disimpulkan dalam konteks teori-teori hasil penelitian terdahulu. Data yang dikumpulkan dianalisis dengan analisis statistik deskriptif, dan untuk mengetahui hubungan faktor-faktor karakteristik petani dengan tingkat adopsi inovasi teknologi usahatani padi sawah (Oryza sativa L.) sistem legowo adalah dengan menggunakan uji korelasi Rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik petani kategori pendidikan formal memiliki hubungan yang sangat signifikan, pendapatan memiliki hubungan yang sangat signifikan, dan tingkat kosmopolitan memiliki hubungan yang signifikan terhadap adopsi inovasi teknologi usaha tani padi sawah sistem legowo. Tahap adopsi menunjukkan, tahap menerapkan sebesar 2,5%, tahap mencoba sebesar 57,5 %, dan tahap evaluasi dan masih ragu-ragu sebesar 40 %. Sedangkan, tingkat adopsi inovasi teknologi usaha tani padi sawah sistem legowo menunjukkan, bahwa kekosmopolitan memiliki hubungan yang signifikan terhadap tingkat adopsi inovasi teknologi pada tahap penanaman. Pendapatan memiliki hubungan yang sangat signifikan terhadap tingkat adopsi inovasi teknologi pada tahap pemupukan dan pengendalian hama. Pendidikan formal memiliki hubungan yang sangat signifikan terhadap tingkat adopsi inovasi teknologi pada tahap panen dan pascapanen.
FAKTOR PENENTU PENGEMBANGAN BP3K SEBAGAI SIMPUL KOORDINASI PEMBANGUNAN PERTANIAN WILAYAH DI KABUPATEN MAJALENGKA Wiwik Yuniarti; Yoyon Haryanto
Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol 11 No 1 (2016)
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (160.717 KB) | DOI: 10.51852/jpp.v11i1.327

Abstract

Balai penyuluhan pertanian, perikanan dan kehutanan (BP3K) memiliki peranan yang strategis dalam mengelola kegiatan penyuluhan pertanian di tingkat kecamatan. Terdapat beberapa faktor yang diduga mempengaruhi pengembangan BP3K sebagai simpul koordinasi yaitu adanya dukungan kelembagaan, manajemen fasilitas, manajemen sumberdaya insani dan manajemen mutu. Faktor-faktor apa sajakah yang mempengaruhi pelaksanaan tugas dan fungsi BP3K dan sejauhmana pengaruh faktor penentu tersebut mempengaruhi koordinasi kerja di lingkungan BP3K, adalah pertanyaan-pertanyaan pada penelitian ini. Penelitian ini menggunakan desain survei terhadap 36 responden yang mewakili penyuluh pertanian yang berada di BP3K pada daerah dataran tinggi, dataran sedang dan dataran rendah di Kabupaten Majalengka. Pengumpulan data dilakukan pada bulan Mei sampai dengan bulan Oktober 2015. Analisis data menggunakan teknik deskriptif dan Path Analysis. Kesimpulan penelitian ini adalah: (1) faktor dukungan kelembagaan, manajemen fasilitas dan manajemen sumberdaya insani secara bersama-sama mempengaruhi manajemen mutu dalam pelaksanaan tugas dan fungsi BP3K di wilayah kecamatan. (2) Dukungan kelembagaan menjadi satu-satunya faktor penentu yang tidak mempengaruhi secara langsung koordinasi kerja di lingkungan BP3K, dan (3) strategi yang dapat diimplementasi untuk meningkatkan efektivitas BP3K sebagai simpul koordinasi dan integrasi pembangunan pertanian di wilayah kecamatan adalah dengan menjadikan BP3K sebagai sekretariat bersama, baik bagi penyuluh pemerintah, penyuluh swadaya maupun penyuluh swasta serta mengaktifkan musrenbang tingkat kecamatan dan desa sebagai forum koordinasi pengelolaan pembangunan pertanian
DAMPAK PERILAKU PETANI DALAM BUDIDAYA BAWANG MERAH TERHADAP PERUBAHAN KONDISI AGROEKOSISTEM DI KABUPATEN BREBES Bahar, Yul Harry
Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol 11 No 1 (2016)
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.702 KB) | DOI: 10.51852/jpp.v11i1.328

Abstract

Brebes adalah salah satu kawasan utama produksi bawang merah secara nasional. Petani sudah terbiasa melakukan praktek budidaya secara intensif dengan ketergantungan sangat tinggi pada bahan kimiawi pertanian (agrochemical), terutama pupuk dan pestisida. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari perubahan kondisi agroekosistem sebagai dampak dari perilaku petani dalam praktek budidaya bawang merah di Brebes. Kegiatan dilaksanakan pada beberapa sentra utama, bulan Oktober- November 2015. Perilaku petani dalam praktek budidaya bawang merah yang berpengaruh pada kondisi agroekosistem adalah: 1) penggunaan bahan kimiawi pertanian (agrochemical) secara intensif, tidak sesuai rekomendasi teknologi, baik jumlah, jenis dan cara aplikasinya, 2) ketergantungan tinggi akan bahan kimiawi pertanian, meskipun diperoleh dengan berhutang dan harga tinggi, 3) sedikit sekali kegiatan dan upaya untuk memperbaiki kualitas lahan dan air. Dampak negatif pada agroekosistem: 1) Pencemaran bahan kimiawi pertanian (agrochemical) pada sumber daya alam dan lingkungan, 2) Penurunan keanekaragaman hayati dan peningkatan kualitas serangan organisme pengganggu tanaman, dan 3) Kejenuhan produksi dan produktivitas serta penurunan daya dukung lingkungan. Rekomendasi untuk perubahan perilaku petani dan perbaikan agroekosistem antara lain adalah: 1) menerapkan teknologi budidaya sesuai rekomendasi teknis, 2) menerapkan budidaya dengan pendekatan GAP dan PHT, 3) mengintensifkan penggunaan pupuk organik dan amelioran, 4) meningkatkan dukungan program dan kegiatan untuk perbaikan kondisi agroekosistem dan penerapan budidaya yang baik, 5) peningkatan peranan lembaga penyuluhan.
MOTIVASI PETANI DALAM PENERAPAN PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU (PTT) PADI SAWAH DI KECAMATAN TALANG EMPAT KABUPATEN BENGKULU TENGAH PROVINSI BENGKULU Wahyu Hidayat; Dedy Kusnadi; Ismi Puji Ruwaida
Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol 11 No 1 (2016)
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (120.501 KB) | DOI: 10.51852/jpp.v11i1.329

Abstract

Sebagian besar masyarakat Indonesia bermata pencaharian sebagai petani, khususnya komoditas padi sawah. Dalam rangka meningkatkan produktivitas padi sawah tersebut, dilakukan melalui pendekatan pengelolaan tanaman terpadu (PTT) Padi Sawah. Pendekatan PTT merupakan suatu pendekatan inovatif dalam upaya meningkatkan produktivitas dan efisiensi usahatani melalui perbaikan sistem/pendekatan dalam perakitan paket teknologi yang sinergis antar komponen teknologi, dilakukan secara partisipatif oleh petani serta bersifat spesifik lokasi. Penerapan pengelolaan tanaman terpadu padi sawah, pada kenyataannya masih menemui beberapa kendala. Oleh karena itu diperlukan motivasi petani dalam hal penerapan PTT padi sawah ini. Penelitian bertujuan menjelaskan motivasi petani dalam menerapkan PTT padi sawah, dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi petani dalam menerapkan PTT padi sawah. Hasil analisis uji mean rank Kendall’s W menunjukkan bahwa indikator pengalaman merupakan indikator terendah dengan nilai mean rank 1,57. Indikator inilah yang perlu ditingkatkan melalui kegiatan penyuluhan yaitu salah satunya dengan materi ciri-ciri varietas benih dan sistem tanam.
PERSEPSI PETANI TERHADAP PENGGUNAAN MEDIA AUDIO VISUAL DALAM PELAKSANAAN PENYULUHAN (Studi Implementasi Penyuluhan di Kec. Junrejo Kota Batu Jawa Timur) Ugik Romadi; Hamyana Hamyana
Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol 11 No 1 (2016)
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (174.233 KB) | DOI: 10.51852/jpp.v11i1.330

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan persepsi petani terhadap penggunaan media audio visual dalam pelaksanaan penyuluhan pertanian serta menganalisis perubahan pengetahuan petani setelah pelaksanaan penyuluhan dengan menggunakan media audio visual. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen yang merupakan bagian dari metode kuantitatif, dan memiliki ciri khas tersendiri terutama dengan adanya kelompok kontrol. Dalam bidang sains, penelitian dapat menggunakan desain eksperimen karena variabel dapat dipilih dan variabel-variabel lain yang dapat mempengaruhi proses eksperimen itu dapat dikontrol secara ketat. Sehingga dalam metode ini, peneliti memanipulasi paling sedikit satu variabel, mengontrol variabel lain yang relevan, dan mengobservasi pengaruhnya terhadap variabel terikat. Manipulasi variabel bebas inilah yang merupakan salah satu karakteristik yang membedakan penelitian eksperimental dari penelitian-penelitian lain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan penyuluhan dengan menggunakan media audio visual (video penyuluhan) dapat diterima oleh petani secara lebih luas dari semua kalangan, selain lebih mudah dalam memahami isi materi yang disampaikan, petani juga dapat langsung melihat proses/ tahapan dari isi materi tersebut karena melibatkan lebih banyak indera untuk menerima rangsangan yang disampaikan.
UPAYA PENGEMBANGAN TEKNOLOGI PTT TANAMAN KEDELAI MELALUI BEBERAPA METODE PENYULUHAN DI BOGOR Neni Musyarofah
Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol 11 No 1 (2016)
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (141.388 KB) | DOI: 10.51852/jpp.v11i1.331

Abstract

Pemahaman pengelolaan tanaman terpadu pada petani masih terbatas, sehingga perlu sosialisasi kepada petani untuk mengaplikasikan teknologi Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) pada budidaya kedelai. Dibutuhkan upaya pengembangan teknologi ini agar diterima masyarakat melalui penelitian ini. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui sejauhmana penerapan paket teknologi PTT pada komoditas tanaman kedelai oleh petani dan untuk menganalisis metode penyuluhan yang bisa diterima oleh petani dalam rangka upaya pengembangan paket teknologi PTT dalam budidaya kedelai. Penelitian ini dilakukan pada bulan September sampai Desember 2013 di Leuwiliang Kabupaten Bogor. Desain penelitian yang digunakan survei deskriptif korelasional. Lokasi penelitian adalah Desa Karyasari, Leuwiliang - Bogor.Hasil penelitian ini adalah bahwa penerapan teknologi PTT pada budidaya kedelai dikategorikan Cukup Baik/sedang (49,35%). Penerapan teknologi dasar mencapai 56,61% dan penerapan teknologi pilihan mencapai 46,57%. Aspek teknologi budidaya kedelai yang rendah tingkat adopsinya adalah 1) VUB, 2) Mutu benih, 3) Penerapan jarak tanam/ populasi tanaman, 4) Penyiapan lahan, 5) Pemupukan, 6) Pemberian kapur pertanian, dan 7) Pengairan. Metode penyuluhan yang diterima oleh petani (1) Kursus tani / pelatihan bagi petani, (2) Temu Usaha/pertemuan bisnis, (3) Temu Lapangan/hari lapangan petani, dan (4) Kunjungan / studi tour.
ANALISIS PENDAPATAN DAN KELAYAKAN USAHA BUDIDAYA RUMPUT GAJAH MELALUI REHABILITASI KESUBURAN TANAH Maspur Makhmudi
Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol 11 No 1 (2016)
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (160.516 KB) | DOI: 10.51852/jpp.v11i1.332

Abstract

Faktor yang mempengaruhi rendahnya dinamika bisnis hijauan pakan ternak diantaranya tingkat kesuburan tanah yang rendah berakibat rendahnya produksi dan pendapatannya. Permasalahan tersebut dapat diatasi melalui perbaikan tingkat kesuburan tanah dengan penambahan bahan organik (pupuk kandang) dan bahan anorganik (pupuk urea, TSP, KCl). Tujuan penelitian: (1) mengetahui produksi segar rumput gajah dengan rehabilitasi kesuburan tanah; (2) menganalisis pendapatan usaha hijauan pakan ternak rumput gajah dengan rehabilitasi kesuburan tanah; dan (3) mengetahui kelayakan usaha HPT rumput gajah dengan rehabilitasi kesuburan tanah. Hasil penelitian diketahui (1.a) rerata produksi segar rumput gajah persatuan luas (kg/8 m²) perlakuan pemberian non pupuk urea/kontrol dan pemberian pupuk urea pada defoliasi ke dua berjumlah 43,25 kg/8m² lebih besar dari defoliasi ke satu berjumlah 19,625 kg/8m². (1.b) produksi rumput gajah yang dihasilkan melalui perlakuan non pupuk urea PO = 135,133 ton/ha/th dan perlakuan pupuk urea berturut-turut berjumlah 147.260 ton/ha/th, 171 ton/ha/ th, dan 187,155 ton/ha/th belum mencapai batas kenaikan produksi maksimum hingga mencapai 226,9 ton/ha/th, dan 376 ton/ha/th sesuai rekomendasi hasil penelitian sebelumnya; (2.a). Pendapatan rumput gajah untuk perlakuan pemberian pupuk urea P3 = Rp43.622.500,- (Empat puluh juta enam ratus dua puluh dua ribu lima ratus rupiah) lebih besar dari perlakuan pemberian pupuk urea P1= Rp 31.763.500,- (Tiga puluh satu juta tujuh ratus enam puluh tiga ribu lima ratus rupiah), dan P2 = Rp38.881.500,- (Tiga puluh delapan juta delapan ratus delapan puluh satu ribu lima ratus rupiah) ditentukan oleh faktor input produksi berupa jumlah pemberian pupuk N (urea) berjumlah 12,222 gram urea/rumpun/defoliasi (75 kg urea/ha/defoliasi lebih besar bila dibandingkan dengan jumlah pemberian pupuk N (urea) untuk P1 dan P2 masing-masing berjumlah 4,074 gram urea/rumpun/defoliasi (25 kg urea/ha/defoliasi), dan 8,148 gram urea/rumpun/defoliasi (50 kg urea/ha/defoliasi); (2.b) rerata pendapatan per bulan usaha budidaya rumput gajah dengan perlakuan pupuk urea P1 = Rp 2.646.958,- P2 = Rp 3.240.125,- dan P3 = Rp 3.635.208,- yang lebih besar bila dibandingkan dengan upah per bulan pekerja non pertanian berdasarkan Upah Minimum Regional (UMR) di Kabupaten Bogor tahun 2015, yaitu Rp 2.590.000,-; (3) kelayakan usaha rumput gajah diketahui untuk non pupuk urea/kontrol (PO)= 3,28 dan perlakuan pupuk urea (P1 = 3,56), ( P2 = 4,12), dan (P3 = 4,48) memenuhi batasan nilai layak usaha π ≥1 yang dapat diartikan bahwa penambahan biaya sebesar Rp 1,- dapat meningkatkan penerimaan non pupuk urea/kontrol (PO)= Rp 3,28,- dan perlakuan pupuk urea (P1 = Rp 3,56,-), ( P2 = Rp 4,12,-), dan (P3 = Rp 4,48,-).
PERMBERDAYAAN PETANI DALAM UPAYA PENCEGAHAN KONVERSI LAHAN PERTANIAN DENGAN PENDEKATAN KELEMBAGAAN DAN INKONSISTENSI RENCANA TATA RUANG WILAYAH Tri Ratna Saridewi
Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol 11 No 1 (2016)
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.455 KB) | DOI: 10.51852/jpp.v11i1.333

Abstract

Pencegahan konversi lahan pertanian merupakan kegiatan yang harus dilakukan untuk mewujudkan peran sektor pertanian secara berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis inkonsistensi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) kabupaten/kota yang dilalui DAS Ciliwung dengan penutupan lahan dan menganalisis pemberdayaan petani dalam upaya perlindungan lahan pertanian dengan pendekatan kelembagaan. Metode yang digunakan adalah analisis spasial menggunakan teknik perhitungan berbasis sistem informasi geografis. Data yang digunakan adalah citra satelit landsat 7+ETM Tahun 2014, RTRW Kabupaten Bogor, Kota Bogor, Kota Depok dan DKI Jakarta. Analisis komponen kelembagaan meliputi komponen property right, batas yuridiksi dan aturan representasi. Hasil penelitian ini adalah terdapat inkonsistensi RTRW dengan pola penutupan lahan, meliputi hutan, lahan pertanian, lahan terbangun dan badan air. Lahan pertanian seluas 3098,48 ha dalam RTRW direncanakan sebagai lahan terbangun, sehingga harus dilakukan revisi terhadap RT RW. Berdasarkan aspek kelembagaan, pemerintah daerah harus mampu mengimplementasikan perencanaan yang telah disusun. Keterlibatan petani sangat diperlukan dalam upaya pencegahan konversi lahan. Pemberdayaan petani untuk mencegah konversi lahan dapat dilakukan melalui pemberian insentif, sosialisasi program dan kegiatan pendampingan.
ADOPSI PETANI DALAM MENERAPKAN SEPULUH PENANDA PADI SAWAH (Oryza sativa. L) DI DESA NEGARARATU KECAMATAN NATAR KABUPATEN LAMPUNG SELATAN Tri Kusnanto; Wahyu Trisnasari
Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol 11 No 1 (2016)
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (141.91 KB) | DOI: 10.51852/jpp.v11i1.334

Abstract

Salah satu strategi dalam upaya pencapaian produksi usahatani padi adalah penerapan inovasi teknologi yang sesuai dengan sumberdaya pertanian pada spesifik lokasi. Penanda Padi didefinisikan sebagai pendekatan pengelolaan tanaman padi yang dinamis dengan menampilkan teknologi dan pengelolaan budidaya terbaik sebagai penanda kunci; membandingkan budidaya petani dengan hasil budidaya terbaik; dan pembelajaran mandiri melalui diskusi kelompok, untuk keberlanjutan peningkatan produktivitas, pendapatan dan kelestarian lingkungan. Sepuluh penanda padi terdiri: 1). Varietas anjuran, 2). Benih berlabel, 3). Tinggi pematang minimal 25 cm, 4). Semai serentak, 5). Rumpun tanaman optimum, 6). Tingkatkan jumlah anakan dengan pupuk berimbang, 7). Pastikan tidak ada kekurangan atau kelebihan air, 8). Pastikan tidak ada kehilangan hasil karena hama dan penyakit, 9). Panen tepat waktu, dan 10). Perontokan gabah secepatnya. Penelitian bertujuan: 1) Menjelaskan tingkat adopsi petani dalam menerapkan sepuluh penanda padi sawah, 2) Membantu upaya pemecahan masalah yang dihadapi petani berdasarkan indikator nilai terendah dalam menerapkan sepuluh penanda padi sawah. Penelitian dilaksanakan Bulan Maret sampai dengan April 2015 berlokasi di Desa Negararatu Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan. Sampel kelompok dipilih secara purposive sampling sebanyak 4 kelompoktani yaitu RejoI (35 orang), RejoII (30 orang), RejoIII (25 orang), dan Mekar Sari (35 orang). Total sampel 125 orang. Teknik pengambilan sampel responden menggunakan Random sampling. Untuk mengetahui derajat keeratan hubungan diantara variabel yang diukur digunakan Tabel Koefisien Konkordansi dan untuk mengetahui mean rank menggunkan Kendall’s W. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa hasil analisis data menggunakan Kendall’s W Test mean rank masing-masing indikator adopsi memiliki nilai: Sadar (3.63), Minat (3.45), Menilai (1.81), Mencoba (3.06), dan Menerapkan (3.05). Indikator terendah adalah menilai (1.81). Untuk uji sepuluh penanda padi sawah, peringkat terendah pada kelebihan/kekurangan air dengan mean rank 1,30. Dengan demikian materi penyuluhan diarahkan pada topik yang berkaitan dengan indikator “menilai” pada khususnya dan adopsi sepuluh penanda padi sawah secara umum.

Page 1 of 1 | Total Record : 9