cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
Jurnal NESTOR Magister Hukum
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 535 Documents
IMPLEMENTASI PROGRAM LAYANAN RAKYAT UNTUK SERTIFIKAT TANAH (LARASITA) DI KABUPATEN KUBU RAYA DORINA HARTANIA, SH. A2021141097, Jurnal Mahasiswa S2 Hukum UNTAN
Jurnal NESTOR Magister Hukum Vol 3, No 3 (2016): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN
Publisher : Jurnal NESTOR Magister Hukum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTThis thesis discusses the People's Programme Implementation Service for Land Certificate (Larasita) Di Kubu Raya. Normative-sociological research. This study aims to provide reveal and analyze the effectiveness of the program socialization Larasita by Kubu Raya District Land Office to the improvement of land services. From the research we concluded that implementation of the policy program of the Kubu Raya Larasita in which the author in view the success or failure of a policy can be viewed from three aspects: the organization, interpretation and application. Furthermore, the factors that have been influential in the implementation of program policies Larasita in Kubu Raya, namely Communications (Communications), Resources (resources), Attitude (dispositions or attitudes) and Bureaucratic Structure (bureucratic structure). From the research we concluded that implementation of the policy program of the Kubu Raya Larasita in which the author in view the success or failure of a policy can be viewed from three aspects: the organization, interpretation and application. Furthermore, the factors that have been influential in the implementation of program policies Larasita in Kubu Raya, namely Communications (Communications), Resources (resources), Attitude (dispositions or attitudes) and Bureaucratic Structure (bureucratic structure). Of the four factors is the author breaks into two factors supporting and hindering the implementation of the policy program Larasita in Kubu Raya is a supporting factor composed of bureaucratic structures where the factor that fundamentally support the implementation of program policies Larasita in Kubu Raya because in terms of standard operational procedure (SOP) clearly through Per Ka BPN Decree No. 4 of 2006 stated clearly describes in detail the organizational structure and standard operational procedure (SOP) of the District Land Office / City throughout Indonesia and supported again by Per Ka BPN Decree No. 18 Year 2009 on Larasita, and in terms of fragmentation, where the implementation of the policy program in Kubu Raya Larasita less memerluakan coordination so vast. Another factor is the limiting factor, namely Communications (Communications), Communication is a factor that causes the ineffectiveness of policy implementation program Larasita in Kubu Raya due to a lack of consistency or uniformity of the size of the basis and purpose of the policy program Larasita communicated with less well in Kubu Raya. Yag second is Resources (resources), the resource is a second factor that led to the policy program Larasita in Kubu Raya effective in its implementation because the components contained in resources such as the number of staff, the expertise of the executive is fairly mediocre, the missing information so relevant, as well as the lack of support facilities that can be used to carry out program activities. The latter is the attitude (dispositions or attitudes), attitude or disposition also a factor in less support the implementation of program policies Larasita in Kubu Raya as the implementor does not seem serious in melaksnakan program policies Larasita in the region Kababupaten Kubu Raya because during the socialization program Larasita only included the socialization of other programs that are owned by the District Land Office Kubu Raya as an example Prona.Keywords: Implementation, Program Service of the People, the Land Certificate.ABSTRAKTesis ini Membahas Implementasi Program Layanan Rakyat Untuk Sertifikat Tanah (Larasita) Di Kabupaten Kubu Raya. Penelitian bersifat normatif-sosiologis. Penelitian ini bertujuan memberikan2Mengungkapkan dan menganalisis efektifitas pelaksanaan sosialisasi program larasita oleh Kantor Pertanahan Kabupaten Kubu Raya terhadap peningkatan pelayanan pertanahan. Dari hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa Pelaksanaan dari pada kebijakan program Larasita di Kabupaten Kubu Raya yang mana penulis dalam melihat berhasil tidaknya suatu kebijakan dapat dilihat dari tiga aspek yaitu organisasi, interpretasi dan aplikasi. Selanjutnya mengenai faktor-faktor yang selama ini berpengaruh di dalam pelaksanaan kebijakan program larasita di Kabupaten Kubu Raya, yaitu Komunikasi (Communications), Sumber Daya (resources), Sikap (dispositions atau attitudes) dan Struktur Birokrasi (bureucratic structure). Dari keempat faktor inilah penulis mengelompokkannya menjadi dua yaitu faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan dari kebijakan program Larasita di Kabupaten Kubu Raya yaitu faktor pendukung yang terdiri dari struktur birokrasi yang mana faktor yang secara mendasar mendukung pelaksanaan kebijakan program Larasita di Kabupaten Kubu Raya karena dari segi standard operational procedure (SOP) yang secara jelas melalui Per Ka BPN RI No 4 Tahun 2006 tertera secara jelas menjelaskan secara rinci struktur organisasi dan standard operational procedure (SOP) dari Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota seluruh Indonesia dan ditunjang lagi dengan Per Ka BPN RI No 18 Tahun 2009 tentang Larasita, dan dari segi fragmentasi, dimana pelaksanaan dari pada kebijakan program larasita di Kabupaten Kubu Raya kurang memerluakan koordinasi yang begitu luas. Faktor lain yaitu faktor penghambat yaitu Komunikasi (Communications), Komunikasi merupakan faktor yang menjadi penyebab ketidak-efektifan pelaksanaan kebijakan program Larasita di Kabupaten Kubu Raya karena kurangnya konsistensi atau keseragaman dari pada ukuran dasar dan tujuan dari program kebijakan larasita yang dikomunikasikan dengan kurang begitu baik di Kabupaten Kubu Raya. Yag kedua adalah Sumberdaya (resources), sumberdaya merupakan faktor kedua yang menyebabkan kebijakan program larasita di Kabupaten Kubu Raya efektif dalam pelaksanaannya karena komponen-komponen yang terkandung didalam sumberdaya seperti jumlah staf, keahlian dari para pelaksana yang terbilang pas-pasan, informasi yang kurang begitu relevan, serta kurangnya fasilitas-fasilitas pendukung yang dapat dipakai untuk melakukan kegiatan program. Yang terakhir adalah Sikap (dispositions atau attitudes), sikap atau disposisi juga merupakan faktor kurang mendukung pelaksanaan kebijakan program larasita di Kabupaten Kubu Raya karena para implementor terlihat tidak serius dalam melaksnakan kebijakan program larasita di wilayah Kababupaten Kubu Raya karena selama ini sosialisasi program larasita hanya diikutkan pada sosialisasi program-program lain yang dimiliki oleh Kantor Pertanahan Kabupaten Kabupaten Kubu Raya seperti contohnya prona.Kata Kunci: Implementasi, Program Layanan Rakyat, Sertifikat Tanah.
TINJAUAN YURIDIS TERHADAP SENGKETA KEPEGAWAIAN DALAM PUTUSAN PENGADILAN TATA USAHA NEGARA JAKARTA (Studi Terhadap Putusan Nomor: 237/G/2015/PTUN-JKT) WIWIK ANGGRAINI, S.H NPM. A2021151099, Jurnal Mahasiswa S2 Hukum Untan
Jurnal NESTOR Magister Hukum Vol 4, No 4 (2017): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN
Publisher : Jurnal NESTOR Magister Hukum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT This thesis discusses Juridical Review on Human Resources Dispute in Decision of Jakarta State Administrative Court (Study on Decision Number: 237 / G / 2015 / PTUN-JKT). From the results of this thesis research obtained the basic conclusion In Dispute In Case Number: 237 / G / 2015 / PTUN-JKT. Mangasi Situmeang, S.H., LLM Plaintiff Against the Attorney General of the Republic of Indonesia as Defendant. The Object of Disputes in Case Number: 237 / G / 2015 / PTUN-JKT This Is The Decree of Attorney General of the Republic of Indonesia Number: KEP-IV-551 / C / 08/2015 Date 12 August 2015. Application of Legal Provisions In Case Number : 237 / G / 2015 / PTUN-JKT is the Authority of the State Administrative Court Jakarta In Case Number: 237 / G / 2015 / PTUN-JKT. Based on Article 1 point 9 of the Law of the Republic of Indonesia Number 51 Year 2009 Concerning the Second Amendment to Law of the Republic of Indonesia Number 5 Year 1986 concerning State Administrative Court defines Decision of State Administration is: Decision of State Administration is a written stipulation issued by a state administrative body or officer containing legal action in accordance with applicable, concrete, individual, and final legal rules, which bring legal consequences for a person or a civil legal entity " . And Breaking the Good General Principles of Good Governance, the Issuance of Disputed Objects, brother of Mangasi Situmeang, SH, LLM objected to the actions of the Attorney General of the Republic of Indonesia, which has issued the Attorney General's Decree No. KEP-IV-551 / C / 08/2015 dated August 12, 2015. The acts of the Attorney General of the Republic of Indonesia violate the Good Governance Principles (AAUPB) especially the Principle of Accuracy and Accuracy in issuing a State Administrative Decision. This is as regulated in Article 10 of the Law of the Republic of Indonesia Number 30 Year 2014 About Government Administration. With the Consideration of the Panel of Judges in Deciding the Case Number 237 / G / 2015 / PTUN-JKT stating the Defendants Exception Not Received (niet ont van kelijk verklaard). To grant the claim of the Plaintiff to the whole, to declare that the Decree of the Prosecutor General of the Republic of Indonesia Number: KEP¬IV551 / C / 08/2015 dated August 12, 2015, special serial number 41, on behalf of the Plaintiff, requires the Defendant to revoke the State Administrative Decision In accordance with the Decision Letter of the Attorney General of the Republic of Indonesia No. KEP-IV-551 / C / 08/2015 dated August 12, 2015, special serial number 41, on behalf of the Plaintiff, requires the Defendant to rehabilitate, restore the dignity and status of the Plaintiff as the Chief Prosecutor Country type A in the Provincial Capital, based on applicable laws and regulations. As well as Punishing the Defendant to pay the case fee incurred in this dispute amounting to Rp. 300.000, - (three hundred thousand rupiah). Keywords: Employment Dispute, Decision of State Administrative Cour     ABSTRAK Tesis ini membahas tentang Tinjauan Yuridis Terhadap Sengketa Kepegawaian Dalam Putusan Pengadilan Tata Usaha Negara  Jakarta (Studi Terhadap Putusan Nomor: 237/G/2015/PTUNJKT). Dari hasil penelitian tesis ini diperoleh kesimpulan Dasar Dalam Sengketa Dalam Perkara Nomor :   237/G/2015/PTUN-JKT. Mangasi Situmeang, S.H.,LLM Penggugat Melawan Jaksa Agung Republik Indonesia Sebagai Tergugat. Adapun Obyek  Sengketa Dalam Perkara Nomor : 237/G/2015/PTUN-JKT  Ini Adalah Surat Keputusan Jaksa Agung Republik Indonesia Nomor: KEP-IV-551/C/08/2015 Tanggal 12 Agustus 2015. Penerapan Ketentuan-Ketentuan Hukum Dalam Perkara Nomor :   237/G/2015/PTUN-JKT ialah Kewenangan Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta Dalam Perkara Nomor :   237/G/2015/PTUN-JKT.  Berdasarkan Pasal 1 angka 9 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 51  Tahun  2009 Tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1986 Tentang Peradilan Tata Usaha Negara mendefenisikan Keputusan tata usaha negara adalah:“Keputusan Tata Usaha Negara adalah Suatu penetapan tertulis yang dikeluarkan oleh badan atau pejabat tata usaha negara yang berisi tindakan hukum yang berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, yang bersifat kongkret, individual, dan final, yang membawa akibat hukum bagi seseorang atau badan hukum perdata”. Dan Melanggar Asas-Asas Umum Pemerintahan Yang Baik, Penerbitan obyek sengketa, saudara Mangasi Situmeang, S.H.,LLM merasa keberatan atas tindakan Jaksa Agung Republik Indonesia, yang mana telah menerbitkan Surat Keputusan Jaksa Agung Republik Indonesia Nomor: KEP-IV-551/C/08/2015 Tanggal 12 Agustus 2015. Tindakan Jaksa Agung Republik Indonesia, tersebut melanggar Asas-Asas Umum Pemerintahan yang Baik (AAUPB) terutama Asas Ketelitian dan Kecermatan dalam mengeluarkan suatu keputusan Tata Usaha Negara. Hal ini sebagaimana diatur dalam Pasal 10 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2014 Tentang Administrasi Pemerintahan. Dengan Pertimbangan Majelis Hakim Dalam Memutuskan Perkara Nomor Nomor: 237/G/2015/PTUN-JKT yang Menyatakan Eksepsi Tergugat Tidak Diterima (niet ont van kelijk verklaard). Mengabulkan gugatan Penggugat untuk seluruhnya, Menyatakan batal Surat Keputusan Jaksa Agung Republik Indonesia Nomor: KEPIV-551/C/08/2015 Tanggal 12 Agustus 2015, khusus nomor urut 41, atas nama Penggugat, Mewajibkan kepada Tergugat untuk mencabut Keputusan Tata Usaha Negara Berupa Surat Keputusan Jaksa Agung Republik Indonesia Nomor: KEP-IV-551/ C/08/2015 Tanggal 12 Agustus 2015, khusus nomor urut 41, atas nama Penggugat, Mewajibkan kepada Tergugat untuk merehabilitasi, mengembalikan harkat, martabat dan kedudukan Penggugat sebagai Kepala Kejaksaan Negeri type A di Ibu Kota Propinsi, berdasarkan peraturan perundang - undangan yang berlaku. Serta Menghukum Tergugat untuk membayar biaya perkara yang timbul dalam sengketa ini sejumlah Rp. 300.000,- (tiga ratus ribu rupiah). Kata Kunci : Sengketa Kepegawaian, Putusan Pengadilan Tata Usaha Negara
PERSETUJUAN PEMEGANG HAK ATAS TANAH DALAM RANGKA PELAKSANAAN EKSPLORASI PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA DITINJAU DARI UNDANG-UNDANG NOMOR 4 TAHUN 2009 TENTANG PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA (STUDI DI KABUPATEN KETAPANG) NPM. A2021161048, GUNAWAN, SH
Jurnal NESTOR Magister Hukum Vol 3, No 3 (2018): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN
Publisher : Jurnal NESTOR Magister Hukum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPenelitian skripsi yang berjudul: "Persetujuan Pemegang Hak dalam Pelaksanaan Eksplorasi Pertambangan Mineral dan Batubara Dilihat Dari Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 Tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara (Studi Di Kabupaten Ketapang)" bertujuan untuk mengetahui proses persetujuan kegiatan eksplorasi penambangan mineral yang harus dilakukan oleh perusahaan yang akan melakukan eksplorasi minerba pertambangan. Untuk mengetahui penyelesaian hukum dalam kasus konflik antara pemegang hak atas tanah dan pemegang izin eksplorasi mineral pertambangan. Untuk mengetahui tindakan pemerintah daerah dalam kasus konflik antara pemegang hak atas tanah dan pemegang izin eksplorasi mineral pertambangan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode pendekatan Sosiologis Yuridis (Sosio Legal Approach). Pendekatan sosiologis digunakan untuk mendeskripsikan data yang ditemukan di lapangan tentang fenomena eksplorasi penambangan mineral yang harus mendapatkan persetujuan dari orang-orang yang hak tanahnya terpapar dengan kegiatan penambangan mineral. Pendekatan yuridis normatif adalah dengan memeriksa bahan pustaka atau data sekunder dengan pendekatan hukum (statute approach). Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh hasil sebagai berikut: Bahwa proses persetujuan kegiatan eksplorasi penambangan Minerba harus terlebih dahulu mendapatkan persetujuan pemerintah melalui prosedur yang ditetapkan oleh UU No. 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara dan Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara serta Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 34 Tahun 2017 tentang Perizinan di Pertambangan Mineral dan Batubara, dan tidak akan dilupakan sesuai dengan Pasal 136 UU Minerba yang menyatakan bahwa pemegang Penambangan Izin Usaha Eksplorasi atau Penambangan Izin Usaha Eksplorasi sebelum melakukan operasi produksi waj i melunasi hak atas tanah dengan pemegang hak atas tanah. Bahwa penyelesaian hukum dalam hal terjadi konflik antara pemegang hak atas tanah dan pemegang izin eksplorasi pertambangan mineral diprioritaskan dengan cara musyawarah dan mufakat di antara para pihak sehingga konflik tidak berkembang lebih lanjut dan kegiatan penambangan dapat dilakukan dengan benar, tetapi jika musyawarah tidak dapat mencapai kesepakatan maka diambil jalur hukum dalam menyelesaikan konflik antara para pihak. Bahwa tindakan pemerintah daerah dalam kasus konflik antara pemegang hak atas tanah dan pemegang izin eksplorasi pertambangan mineral seharusnya bertindak sebagai mediator untuk menjadi mediator bagi kedua belah pihak sehingga konflik tidak berkembang lebih lanjut dan masalah dapat diselesaikan. segera, dalam kasus konflik antara pelaku usaha dalam hal ini pengusaha pertambangan dengan masyarakat yang melakukan intervensi adalah polisi. Kata kunci: Persetujuan, Eksplorasi, Pertambangan  Abstract The thesis research entitled: "Approval of Rightsholders in the Implementation of Mineral and Coal Mining Exploration Judging from Law Number 4 Year 2009 Concerning Mineral and Coal Mining (Study In Ketapang District)" aims to find out the approval process of mineral mining exploration activities which must be done by a company that will conduct mining minerba exploration. To find out the legal settlement in case of conflict between the holder of the land rights and the holder of mining mineral exploration permit. To know the actions of local government in case of conflict between the holder of land rights and the holder of mining mineral exploration permit. This research is done by using approach method of Sociological Juridical (Sosio Legal Approach). The sociological approach is used to describe the data found in the field about the phenomenon of mineral mining exploration that must obtain the consent of the people whose land rights are exposed to mineral mining activities. Normative Juridical Approach is by examining library materials or secondary data with statutory approach (statute approach). Based on the research, the following results are obtained: That the approval process of Minerba mining exploration activities must first obtain government approval through the procedures established by Law No. 4 of 2009 on Mineral and Coal Mining and Government Regulation Number 23 Year 2010 on the Implementation of Mining Business Activities Minerals and Coal as well as Regulation of the Minister of Energy and Mineral Resources Number 34 Year 2017 on Licensing in Mineral and Coal Mining, and shall not be forgotten according to Article 136 of the Minerba Law stating that the holder of Mining Business License Exploration or Mining Business License of Exploration prior to conduct production operations waj ib settle the right to land with the holder of the right to land. Whereas the legal settlement in the event of conflict between the holder of the land rights and the holder of mineral mining exploration permit is prioritized by way of deliberation and consensus among the parties so that the conflict does not develop further and the mining activities can be carried out properly, but if the deliberation can not reach agreement then taken legal path in resolving conflict between the parties. That local government action in case of conflict between the holder of land rights and the holder of mineral mining exploration permit is supposed to act as a mediator to be a mediator for both parties so that the conflict does not develop further and the problem can be solved immediately, in case of conflict between the perpetrator business in this case mining entrepreneurs with the community who intervene intervene is the police.Keywords: Approval, Exploration, Mining Mining
IMPLEMENTASI PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR:26/PERMENTAN/OT.140/2/2007 TENTANG PEDOMAN PERIZINAN USAHA PERKEBUNAN (Studi Terhadap Penerbitan Izin Usaha Perkebunan (IUP-B,IUP-P,IUP) Pada Perkebunan Kelapa Sawit Di Kabupaten Kubu Raya Tahun 2007 s/d 2013 MUHAMMAD HUSNI RAMLI, S.Ik. A.2021131088, Jurnal Mahasiswa S2 Hukum UNTAN
Jurnal NESTOR Magister Hukum Vol 1, No 1 (2016): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN
Publisher : Jurnal NESTOR Magister Hukum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTThis thesis discusses the implementation of the agricultural ministerial regulation No. 26 / Permentan / OT.140 / 2/2007 on the plantation business licensing guidelines (the study of the plantation business permit issuance (IUP-B, IUP-P, IUP) on oil palm plantations in the district highway stronghold of 2007 s / d 2013). The method used in this research is normative sociological approach. From the results of this thesis research we concluded that that the model and working methods of local government Kubu Raya in conducting the licensing process palm oil in accordance with the legislation in force, will teapi on stage pelakasanaannya there has been a violation of procedural in the field of licensing palm plantations palm in Kubu Raya regency, the indicator is visible from the stages are exceeded or are not implemented in the issuing of licenses of oil palm plantations. That the Plantation Business Permit (IUP-B, IUP-P, IUP) that do not meet some requirements remain just published by the Regent of Kubu Raya, this raises the ongoing conflict either conflict between companies and the company and between the company and the community. In this case the local authorities do not optimally control the oil palm plantation permits issued, so that in practice many oil palm plantation companies who violate the licensing requirements. No supervision of results in the absence of law enforcement against violations of licensing requirements made by the palm oil company. Recommendation: The government Kubu Raya district must conduct2a thorough evaluation of the licensing of oil palm plantations have been issued, and not do licensing new oil palm plantations (moratorium permitting) until the improvement of the licensing of oil palm plantations that have been published, both aspects of the law such as force companies build gardens for the community and realize a written agreement regarding a partnership, revoked the licenses of oil palm plantations were issued against the legislation, as well as social aspects such as the settlement of land conflicts between communities and oil palm plantation companies. Kubu Raya regency government should reform the bureaucracy in the service of licensing and supervision of oil palm plantations, in order to realize good governance apparatus in providing services and can resolve issues quickly and tepat.Pemerintah Kubu Raya must menyelesaaikan various issues related to the licensing of oil palm plantations that is, such as pushing for the amendment HGU certificate in which there are settlements, forests, smallholder, government facilities, and others.Keywords: Publishing, Permits, Business, Plantation, Palm Oil.ABSTRAKTesis ini membahas tentang implementasi peraturan menteri pertanian Nomor:26/Permentan/Ot.140/2/2007 tentang pedoman perizinan usaha perkebunan (studi terhadap penerbitan izin usaha perkebunan (IUP-B,IUP-P,IUP) pada perkebunan kelapa sawit di kabupaten kubu raya tahun 2007 s/d 2013). Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan normatif sosiologis. Dari hasil penelitian tesis ini diperoleh kesimpulan bahwa Bahwa model dan metode kerja pemerintah daerah Kabupaten Kubu Raya dalam melakukan proses perizinan kelapa sawit telah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, akan teapi pada tahap pelakasanaannya telah terjadi pelanggaran-pelanggaran prosedural dalam bidang perizinan perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Kabupaten Kubu Raya, yang indikatornya terlihat dari tahapan-tahapan yang dilampaui atau tidak dilaksanakan dalam proses penerbitan perizinan perkebunan kelapa sawit. Bahwa Izin Usaha Perkebunan (IUP-B,IUP-P,IUP) yang tidak memenuhi3beberapa persyaratan tetap saja diterbitkan oleh Bupati Kubu Raya , hal ini menimbulkan konflik yang berkepanjangan baik konflik antara perusahaan dengan perusahaan maupun konflik antara perusahaan dengan masyarakat. Dalam hal ini pemerintah daerah tidak melakukan pengawasan secara optimal terhadap perizinan perkebunan kelapa sawit yang diterbitkan, sehingga di dalam praktek banyak perusahaan perkebunan kelapa sawit yang melanggar ketentuan perizinan. Tidak optimalnya pengawasan berakibat pada tidak adanya penegakan hukum terhadap pelanggaran ketentuan perizinan yang dilakukan oleh perusahaan perkebunan kelapa sawit. Rekomendasi : Pemerintah Kabupaten Kubu Raya harus melakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap perizinan perkebunan kelapa sawit yang telah diterbitkan, dan tidak melakukan pemberian izin perkebunan kelapa sawit baru (moratorium perizinan) sampai adanya perbaikan pelaksanaan perizinan perkebunan kelapa sawit yang telah diterbitkan, baik aspek hukum seperti memaksa perusahaan membangun kebun untuk masyarakat dan merealisasi perjanjian tertulis mengenai pola kemitraan, mencabut izin perkebunan kelapa sawit yang diterbitkan bertentangan dengan peraturan perundang-undangan, maupun aspek sosial seperti penyelesaian konflik lahan antara masyarakat dengan perusahaan perkebunan kelapa sawit. Pemerintah Kabupaten Kubu Raya harus melakukan reformasi birokrasi dalam pelayanan dan pengawasan perizinan perkebunan kelapa sawit, agar terwujud aparatur pemerintahan yang baik dalam memberikan pelayanan dan dapat menyelesaikan berbagai persoalan secara cepat dan tepat.Pemerintah Kabupaten Kubu Raya harus menyelesaaikan berbagai persoalan terkait dengan perizinan perkebunan kelapa sawit yang ada, seperti mendorong untuk dilakukan perubahan sertifikat HGU yang di dalamnya terdapat pemukiman, kawasan hutan, perkebunan rakyat, fasilitas pemerintah, dan lain-lain.Kata Kunci: Penerbitan, Izin, Usaha, Perkebunan, Kelapa Sawit.
PENEGAKAN HUKUM ADAT TERHADAP LARANGAN PENANGKAPAN IKAN DENGAN ALAT WARIN DI KECAMATAN BUNUT HILIR PERSPEKTIF HUKUM ADAT (STUDI KASUS DI KAPUAS HULU) NPM. A2021161014, KHAIRI KAMSIDI YANTO, S.H
Jurnal NESTOR Magister Hukum Vol 4, No 4 (2018): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN
Publisher : Jurnal NESTOR Magister Hukum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK kecamatan bunut hilir merupakan kecamatan yang berada di pesisir sungai Kapuas, banyaknya danau-danau beserta anak sungai di kecamatan ini berdampak pada mata pencaharian sebagian besar masyarakat di kecamatan ini, yaitu sebagai nelayan. Menangkap ikan dengan alat tradisional masih mereka gunakan walaupun jarang di temui lagi, seperti : Unak duri Rotan, bubu rotan, pukat, jala, pengilar, entaban, pancing/kail, serokap bambu, utas, pelabuh, penyarak, seruak, termasuk bubu warin yang masih menggunakan  bahan dari alam sekitar yang digunakan untuk menangkap ikan. Khusus untuk alat tangkap ikan yang disebut alat warin, merupaka alat tangkap ikan yang dilarang disebagian wilayah perairan. Dengan demikian alat tangkap warin hanya bisa digunakan di sungai Kapuas dan danau yang tidak dilindungi.  Larangan tersebut dapat dilihat dalam peraturan danau, baik yang sudah di bukukan maupun belum di bukukan, masing-masing danau memiliki peraturan yang sesuai dengan kondisi geografisnya, salah satu contohnya adalah Buku Peraturan Danau Miyuban yang dibuat  oleh masyarakat adat, ketua adat dan perangkat desa.Sehubungan dalam hal larangan menangkap alat warin ketua danau, perangkat desa, masyarakat secara bermusyawarah membuat peraturan danau yang harus di patuhi semua masyrakat yang beraktifitas di lingkungan danau. Dalam pembuatan peraturan pun terbagi menjadi tim pengurus dan tim perumus, selain merumuskan peraturan danau tim perumus juga mensosialisasikan peraturan danau tersebut kepada seluruh masyarakat yang akan beraktifitas di danau miyuban.Berdasarkan uraian tersebut diatas yang menjadi permasalahannya adalah (1) Mengapa terhadap pelaku yang menangkap ikan dengan alat warin dikecamatan Bunut Hilir belum di berikan sanksi adat sebagaimana mestinya ? (2) Bagaimana peranan ketua adat menjaga eksistensi hukum adat yang berkaitan dengan larangan penangkapan ikan dengan alat warin?Adapun metode penelitian yang digunakan  adalah yuridis sosiologis, di sisni penulis melihat dari segi efektifitas hukum adat dengan melihat langsung dilapangan. Sedangkan hasil penelitian ini bahwa penegakan hukum adat khususnya alat warin tidak efektif di karenakan tidak adanya laporan dari masyarakat dan adanya pembiaran dari masyarakat serta kurangnya pengawasan dari masyarakat pengawas.Dengan demikian secara bersama-sama masyarakat menjaga peraturan yang telah mereka buat, sebagai panduan mereka bekerja di danau yang dapat menjadi tumpuan kehidupan dari generasi ke generasi berikutnya. Kata Kunci : Alat warin, Penegakan Hukum Adat, Penangkapan ikan   ABSTRACT   Bunut downstream district is a sub-district located on the Kapuas river, the number of lakes and tributaries in this sub-district has an impact on the livelihoods of most of the people in this sub-district, namely as fishermen. Catch fish with traditional tools they still use even though they are rarely seen again, such as: Unak rattan, rattan, trawl, nets, pengilar, entaban, fishing rod / hook, serokap bamboo, thread, harbor, penyarak, exclamation, including bubu waru still using materials from the surrounding nature that are used to catch fish. Especially for fishing gear called warin tools, it is a fishing gear that is prohibited in some waters. Thus warin fishing gear can only be used in the Kapuas river and unprotected lakes. The prohibition can be seen in the lake regulations, both those that have been posted and not posted, each lake has regulations that are in accordance with its geographical conditions, one example is the Book of Lake Miyuban Regulations made by indigenous peoples, customary leaders and village officials.In relation to the prohibition to catch the warin tool of the head of the lake, the village apparatus, the community deliberately makes lake regulations that must be obeyed by all the people who work in the lake. In the making of the regulation, it was divided into a team of management and formulating teams. In addition to formulating lake regulations, the drafting team also socialized the lake regulations to all communities who would be active in the Lake Miyagi.Based on the description above, the problem is (1) Why has the customary fishermen caught using warin in the district of Bunut Hilir not been properly sanctioned? (2) How does the role of the adat leader maintain the existence of customary law relating to the prohibition of fishing with warin?The research method used is sociological juridical, the writer looks at the effectiveness of customary law by looking directly at the field. While the results of this study that customary law enforcement, especially warin tools are not effective because there are no reports from the public and the omission from the community and lack of supervision from the supervisory community.Thus, the community together maintain the rules they have made, as a guide they work in the lake which can be the foundation of life from generation to generation. Keywords: warin tools, customary law enforcement, fishing
EFEKTIVITAS GUGUS TUGAS DALAM PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN PERDAGANGAN ORANG TERUTAMA PEREMPUAN DAN ANAK BERDASARKAN PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN BARAT NOMOR 7 TAHUN 2007 SRI RAHAYU, SH A.21211015, Jurnal Mahasiswa S2 Hukum UNTAN
Jurnal NESTOR Magister Hukum Vol 3, No 4 (2014): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN
Publisher : Jurnal NESTOR Magister Hukum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKPerdagangan manusia merupakan salah satu kejahatan transnasional yang sudah menjadi atensi bagi pemerintah. Pemerintah daerah pada dasarnya telah turt serta dalam pelaksanaan pencegahan dan pemberantasan perdagangan manusia. Dengan disahkan dan diberlakukannya Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Barat Nomor 7 Tahun 2007 Tentang Pencegahan Dan Pemberantasan Perdagangan Orang Terutama Perempuan Dan Anak, diharapkan dapat membantu pelaskanaan pemberantasan tindak pidana perdagangan orang.Pelaksanaan Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Barat Nomor 7 Tahun 2007 Tentang Pencegahan Dan Pemberantasan Perdagangan Orang Terutama Perempuan Dan Anak melalui gugus tugas yang dibentuk oleh Gubernur, yang terdiri dari lembaga dan instansi terkait didalamnya diharpkan mampu berkoordinasi dan bekerjasama dalam melakukan pencegahan dan pemberantasan tindak pidana perdagangan orang. Namun beberapa faktor menjadi penyebab kurang efektifnya gugus tugas tersebut.Beberapa faktor tersebut diantaranya kurangnya koordinasi antara instansi dan lembaga didalam gugus tugas, Adanya jaringan sindikat kriminal perdagangan orang melalui Pos Lintas Batas Negara (transnasional) di Kalimantan Bara, Faktor Kemiskinan Yang MasihTinggi di Kalimantan Barat, Faktor Minimnya LapanganPekerjaan, dan Rendahnya Tingkat Pendidikan di Kalimantan Barat.Beberapa upaya untuk mengefektifkan gugus tugas dalam melakukan pencegahan dan pemberantasan perdagangan orang Berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Barat Nomor 7 Tahun 2007 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang terutama perempuan dan anak diantaranya meningkatkan koordinasi untuk menjamin terlaksananya Penghapusan Perdagangan Orang terutama perempuan dan Anak di Propinsi Kalimantan Barat, melakukan evaluasi terhadap kinerja lembaga / instansi yang tergabung dalam gugus tugas dalam pelaksanaan pencegahan dan pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang, dilakukan pembangunan infrastruktur, sarana dan prasarana untuk mendukung peran gugus tugas sesuai dengan Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Barat Nomor 7 Tahun 2007 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang terutama perempuan dan anak.Kata kunci : pertanggungjawaban pidana, unjuk rasa danPolri.ABSTRACTHuman traffickingis one of the transnational crime has become the government' sattention. Local governments basically have participated in the implementation of prevention and eradication of human trafficking. With the passage and enactment of West Kalimantan Provincial Regulation No. 7 of 2007 on the Preventionand Combating of Trafficking in Persons Especially Women and Children, is expected to help eradication of trafficking inpersons.Implementation of West Kalimantan Provincial Regulation No. 7 of 2007 on the Prevention and Combating of Trafficking in Persons Especially Women and Children through at ask force established by the Governor, which consists of institutions and agencies inside be able to coordinate and cooperate in the prevention and eradication of trafficking inpersons. However,several factors cause a lack of effective task forceSome of these factors include a lack of coordination between agencies and institutions within the task force, existence of a criminals indicate trafficking through Limit State(transnational) in West Kalimantan, Factors That Poverty Still High in West Kalimantan, lack Employment Factor, and Low Levels of Education in West Kalimantan.Several attempts to streamline the task force in preventing and combating trafficking in persons by West Kalimantan Provincial Regulation No. 7 of 2007 on the Prevention and Eradication of Trafficking in Persons, especially women and children, including improving coordination to ensure Elimination of Trafficking in Persons, especially women and children in the Province West Kalimantan, to evaluate the performance ofinstitutions / agencies that are members of the task force on the implementation ofthe prevention and eradication of the Crime of Trafficking in Persons, conducted the development of infrastructure, facilities and infrastructure to support the role of the task force in accord ance with the West Kalimantan Provincial Regulation No. 7 of 2007 prevention and Eradication of Trafficking in Persons, especially women and children.Keywords: Trafficking in persons, the task force andWest KalimantanRegional RegulationNo.7of 2007.
ANALISIS PERATURAN DAERAH DITINJAU DENGAN TEKNIK PENYUSUNAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN (Studi Di Provinsi Kalimantan Barat) ODILO KELEBIT TITE,SH A.2021131035, Jurnal Mahasiswa S2 Hukum UNTAN
Jurnal NESTOR Magister Hukum Vol 2, No 2 (2017): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN
Publisher : Jurnal NESTOR Magister Hukum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTThis thesis discusses the analysis of local regulations are reviewed by the engineering drafting legislation "(studies in the province of West Kalimantan). From the results of this thesis can be concluded that the construction of regional regulations in West Kalimantan Province as opposed to the technique of preparation of legislation occurs in the system preparation and formulation of words / phrases, sentences in the title, opening, position forming local regulations, the preamble, by law, the dictum, torso, general provisions, the material is set, the formulation of the criminal provisions, the transitional provisions, and provisions cover, as well as disagreement on the cover, even in substance the regional regulation in the Articles of certain problematic of the substance of legislation higher.That regional regulations exist in West Kalimantan Province as opposed to the technique of preparation of legislation remain in place for formal legally Regional Regulation remains valid because it is formed, defined by regulatory authorities and has been promulgated in the Regional Gazette, but in substance the provisions contrary with legislation of higher void. Still the implementation of the Regional Regulation is problematic due to several factors, among others, Human Resources (HR) personnel who spearhead / leading sector forming regional regulations mastered design techniques Regional Regulation / legal drafter is still low, the level of awareness and attention of observers and investigators problem Regulations undangandalam establishment of Regional Regulation is still low and the lack of budget allocated in the formation of regional regulation.This thesis discusses the analysis of local regulations are reviewed by the engineering drafting legislation "(studies in the province of West Kalimantan). From the results of this thesis can be concluded that the construction of regional regulations in West Kalimantan Province as opposed to the technique of preparation of legislation occurs in the system preparation and formulation of words / phrases, sentences in the title, opening, position forming local regulations, the preamble, by law, the dictum, torso, general provisions, the material is set, the formulation of the criminal provisions, the transitional provisions, and provisions cover, as well as disagreement on the cover, even in substance the regional regulation in the Articles of certain problematic of the substance of legislation higher. That regional regulations exist in West Kalimantan Province as opposed to the technique of preparation of legislation remain in place for formal legally Regional Regulation remains valid because it is formed, defined by regulatory authorities and has been promulgated in the Regional Gazette, but in substance the provisions contrary with legislation of higher void. Still the implementation of the Regional Regulation is problematic due to several factors, among others, Human Resources (HR) personnel who spearhead / leading sector forming regional regulations mastered design techniques Regional Regulation / legal drafter is still low, the level of awareness and attention of observers and investigators problem Regulations undangandalam establishment of Regional Regulation is still low and the lack of budget allocated in the formation of regional regulation. Recommendation: The need assessment / further analysis of the regional regulations in West Kalimantan province, both from the juridical aspect, sociological, philosophical, and technical drafting process and substance of the material muatanperaturan area, so after being a Regional Regulation, becoming Regional Regulation effective, not cause contradictions and problems of both aspects of Mechanical Drafting, formal and material as well as meet the needs and demands for social justice. Because the purpose of the establishment of Regional Regulation not only to the rule of law / rechmatigheid alone but also so that people know and should be implemented in order to benefit / dooelmatigheid for the community. In The Local Regulation in the province of West Kalimantan involve the participation of the wider community, especially students of law,Researcher law, legal experts from academics and designers Laws Invitation / legal drafter, because the public has the right to provide input verbal and / or written the establishment of regulatory legislation, as stipulated in Article 96, Article 98 and Article 99 of Law Number 12 Year 2011 on the establishment Regulation legislation that regional regulations have been enacted that will not be problematic.Keywords: analysis, local regulations, in terms of, preparation techniques.ABSTRAKTesis ini membahas analisis peraturan daerah ditinjau dengan teknik penyusunan peraturan perundang-undangan” (studi di provinsi kalimantan barat). Dari hasil penelitian tesis ini diperoleh kesimpulan Bahwa konstruksi Peraturan Daerah yang ada di Provinsi Kalimantan Barat yang bertentangan dengan teknik Penyusunan Peraturan Perundang-undangan terjadi pada sistem Penyusunan dan perumusan kata/rasa, kalimat pada bagian judul, pembukaan, jabatan pembentuk peraturan daerah, konsideran, dasar hukum, diktum, batang tubuh,ketentuan umum, materi yang diatur, rumusanketentuan pidana, ketentuan peralihan, danketentuan penutup, serta pertentangan pada penutup, bahkan secara substansi Peraturan Daerah tersebut dalam Pasal-Pasal tertentu bermasalah dari materi muatan Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi. Bahwa Peraturan Daerah yang ada di Provinsi Kalimantan Barat yang bertentangan dengan teknik Penyusunan Peraturan Perundang-undangan tetap diterapkan karena secara legal formal Peraturan Daerah tetap sah karena dibentuk, ditetapkan oleh lembaga yang berwenang dan telah diundangkan dalam Lembaran Daerah, namun secara substansi ketentuan-ketentuan bertentangan dengan Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi batal demi hukum. Masih diterapkannya Peraturan Daerah yang bermasalah tersebut disebabkan beberapa faktor antara lain Sumber Daya Manusia (SDM) aparatur yang menjadi ujung tombak /leading sector pembentuk Peraturan Daerah yang menguasai teknik perancangan Peraturan Daerah/legal drafter masih rendah, tingkat kesadaran dan perhatian Para pemerhati dan peneliti masalah Perundang-undangan dalam Pembentukan Peraturan Daerah masih rendah serta kurangnya Anggaran yang dialokasikan dalam pembentukan Peraturan Daerah. Rekomendasi : Perlunya pengkajian/analisis lebih lanjut terhadap Peraturan Daerah yang ada di Provinsi Kalimantan Barat, baik dari aspek yuridis, sosiologis, filosofis,dan teknik penyusunan serta substansi materi muatanperaturan daerah, agar setelah menjadi Peraturan Daerah, menjadi Peraturan Daerah yang efektif, tidak menimbulkan pertentangan dan permasalahan baik dari aspek Teknik Penyusunan, formil dan materil serta memenuhi kebutuhan dan rasa keadilan masyarakat. Karena tujuan dari dibentuknya Peraturan Daerah tidak hanya untuk kepastian hukum/rechmatigheid saja akan tetapi juga agar masyarakat tahu dan harus dilaksanakan dengan tujuan untuk kemanfaatan/dooel matigheid bagi masyarakat . Dalam Perancangan Peraturan Daerah yang ada di Provinsi Kalimantan Barat melibatkan peran serta masyarakat luas terutama para pemerhati masalah hukum, Peneliti hukum, para ahli hokum dari Akademisi dan para perancang Peraturan perundang Undangan/legal drafter, karena masyarakat berhak memberikan masukan secara lisan dan/atau tertulis dalam pembentukan peraturan Perundang-undangan, sebagaimana diatur dalam ketentuan Pasal 96, Pasal 98 dan Pasal 99 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan agar Peraturan Daerah yang telah diundangkan tersebut nantinya tidak bermasalah.Kata Kunci :Analisis, Peraturan Daerah, Ditinjau Dari, Teknik Penyusunan.
ANALISA TERHADAP PUTUSAN HAKIM YANG LEBIH RENDAH DARI TUNTUTAN JAKSA PENUNTUT UMUM TERHADAP INVESTASI BODONG SAVE OUR TRADE (SOT) DENGAN MODUS MENGHIMPUN DANA UNTUK PERDAGANGAN DI PASAR VALUTA ASING (Studi Putusan Nomor : 63/PID.B/2017/PN.MPW) SHOLAHUDDIN RITONGA, S.H. NPM.A21210071, JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN
Jurnal NESTOR Magister Hukum Vol 1, No 1 (2018): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN
Publisher : Jurnal NESTOR Magister Hukum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKTesis ini membahas tentang Analisa Terhadap Putusan Hakim Yang Lebih Rendah Dari Tuntutan Jaksa Penuntut Umum Terhadap Investasi Bodong Save Our Trade (SOT) Dengan Modus Menghimpun Dana  Untuk  Perdagangan Di Pasar Valuta Asing  (Studi Putusan Nomor : 63/Pid.B/2017/PN.MPW). Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan normatif. Dari hasil penelitian tesis ini diperoleh bahwa Penegakan Hukum Terhadap Pelaku  Tindak Tindak Pidana Investasi Bodong Save Our Trade (SOT) Di Kabupaten Mempawah, yang baik adalah memahami prinsip-prinsip, yang di dalamnya berpangkal tolak pada prinsip penegakan hukum yang baik, akan dapat diperoleh tolak ukur kinerja suatu penegakan hukum, yakni adanya suatu persinggungan dengan semua unsur prinsip penegakan hukum yang baik, mengacu pada prinsip demokrasi, legitimasi, akuntabilitas, perlindungan HAM, kebebasan, transparansi, pembagian kekuasaan dan kontrol masyarakat. Prinsip-prinsip yang tersebut sebagian besar terdapat pula dalam asas-asas pemerintahan yang baik, Pelaksanaan untuk penegakan hukum pidana secara tidak langsung menjadi kewajiban semua orang yang berkepentingan, dan secara langsung menjadi tugas polri beserta petugas yang berwenang menjalankan tugas keolisian, penuntutan, penetapan keputusan dan pelaksana keputusan dalam ruang lingkup sistem peradilan pidana. Putusan hakim terhadap terdakwa Mahud Bin Samsudin dengan nomor perkara : 63 / pid. B / 2017 / PN. MPW lebih rendah dari tuntutan yang diajukan oleh Jaksa Penuntut Umum. Tugas Hakim sangatlah berat, karena tidak hanya mempertimbangkan kepentingan hukum saja dalam putusan perkara yang dihadapi melainkan juga mempertimbangkan rasa keadilan masyarakat agar terwujud adanya kepastian hukum. Putusan hakim memang tetap dituntut oleh masyarakat untuk berlaku adil, namun sebagai manusia juga hakim dalam putusannya tidaklah mungkin memuaskan semua pihak, tetapi walaupun begitu hakim tetap diharapkan menghasilkan putusan yang seadil-adilnya sesuai fakta-fakta hokum di dalam persidangan yang didasari pada aturan dasar hukum yang jelas (azas legalitas) dan disertai dengan hati nurani hakim.Pertimbangan hakim dalam menjatuhkan pidana terhadap Kasus penipuan SOT dengan nomor perkara : 63 / pid. B / 2017 / PN. Mpw memperhatikan aspek terpenting dalam menentukan terwujudnya nilai dari suatu putusan hakim yang mengandung keadilan (ex aequo et bono) dan mengandung kepastian hukum, di samping itu juga mengandung manfaat bagi para pihak yang bersangkutan sehingga pertimbangan hakim ini harus disikapi dengan teliti, baik, dan cermat. Apabila pertimbangan hakim tidak teliti, baik, dan cermat, maka putusan hakim yang berasal dari pertimbangan hakim tersebut akan dibatalkan oleh Pengadilan Tinggi/Mahkamah Agung.Kata Kunci : Putusan Hakim, Investasi Bodong Save Our Trade    ABSTRACT This thesis discusses the analysis of the judge's lower judgment of the public prosecutor's demands on the investment of Bodong Save Our Trade (SOT) with the Mode of Collecting Funds for Trading in the Foreign Exchange Market (Study of Decision Number: 63 / Pid.B / 2017 / PN. MPW). The approach method used in this research is the normative approach. From the results of this thesis research obtained that Law Enforcement Against Actors Criminal Investments Investment Bodong Save Our Trade (SOT) In Mempawah District, the good is to understand the principles, which in it stems from the principle of good law enforcement, will be rejected measure the performance of a law enforcement, namely the existence of an intersection with all elements of the principle of good law enforcement, referring to the principles of democracy, legitimacy, accountability, protection of human rights, freedom, transparency, power sharing and community control. These principles are largely contained in good governance principles. Implementation for criminal law enforcement is indirectly the responsibility of all interested persons, and directly becomes the duty of the police and officers authorized to undertake policing, prosecution, decision-making and decision-makers within the scope of the criminal justice system. Judge's verdict against the defendant Mahud Bin Samsudin with case number: 63 / pid. B / 2017 / PN. MPW is lower than the demand filed by the Public Prosecutor. The duties of the Judge are very strenuous, because they not only consider the legal interests of the decision of the case but also consider the sense of community justice in order to realize the existence of legal certainty. The judge's verdict is still demanded by the community to be fair, but as a human being as well as the judge in its decision is not possible to satisfy all parties, but even so the judge is still expected to produce the fairest judgment according to legal facts in the court based on the rule of law which is clear (the principle of legality) and is accompanied by the conscience of the judge. The judge's judgment in imposing a criminal against the SOT fraud case with case number: 63 / pid. B / 2017 / PN. Mpw notes the most important aspect in determining the realization of the value of a judge's ruling containing justice (ex aequo et bono) and contains legal certainty, in addition it also contains benefits for the parties concerned so that the judge's judgment must be addressed carefully, well, . If the judge's judgment is not thorough, good, and accurate, then the judge's decision derived from the judge's judgment will be canceled by the High Court / Supreme Court. Keywords: Judge's Decision, Bodong Investment Save Our Trade 
EFEKTIVITAS PELAKSANAAN PENDAMPINGAN DESA BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA (STUDI DI KECAMATAN SUNGAI RAYA KABUPATEN KUBU RAYA) NPM. A21210007, MUSTARUDIN, SH
Jurnal NESTOR Magister Hukum Vol 1, No 1 (2019): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN
Publisher : Jurnal NESTOR Magister Hukum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPenelitian tesis ini mengangkat masalah Efektivitas Pelaksanaan Pendampingan Desa Berdasarkan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa (Studi di Kecamatan Sungai Raya Kabupaten Kubu Raya).  Penelitian ini menggunakan metode penelitian Yuridis dan Sosiologis/Empiris. Dari hasil penelitian diketahui bahwa faktor yang menyebabkan pendampingan desa oleh Pendamping Lokal Desa di Kecamatan Sungai Raya Kabupaten Kubu Raya belum berjalan secara efektif, yaitu kurangnya kapasitas atau kemampuan dan kompetensi Pendamping Lokal Desa, rentang kendali atau luasnya wilayah dampingan Pendamping Lokal Desa, dan biaya operasional Pendamping Lokal Desa yang minim tidak sesuai dengan kondisi lapangan. Upaya yang harus dilakukan oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah dalam mengefektifkan pendampingan desa sesuai dengan Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 yaitu pemerintah dan/atau pemerintah daerah perlu melakukan evaluasi dan monitoring terhadap pelaksanaan tugas Pendamping Lokal Desa, pemerintah perlu mengkaji jumlah desa yang menjadi dampingan dari masing-masing Pendamping Lokal Desa, pemerintah dan/atau pemerintah daerah perlu meningkatkan kapasitas (kemampuan) dan kompetensi Pendamping Lokal Desa, dan terus dilakukan pembinaan secara rutin dalam pelaksanaan tugas, dan pemerintah perlu mengkaji besaran honor dan biaya operasional Pendamping Lokal Desa agar tidak disamaratakan. Rekomendasi yang diusulkan yaitu Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah harus meningkatkan kapasitas atau kemampuan dan kompetensi Pendamping Lokal Desa, agar lebih siap dan mampu melaksanakan tugas pendampingan desa. Pemerintah harus mengkaji mengenai jumlah desa yang akan didampingi oleh masing-masing Pendamping Lokal Desa. Penentuan jumlah Desa untuk masing-masing Pendamping Lokal Desa harus mempertimbangkan kondisi geografis antar desa. Idealnya cukup satu atau dua desa saja untuk masing-masing Pendamping Lokal Desa. Pemerintah perlu mengkaji besaran honor dan biaya operasional Pendamping Lokal Desa agar tidak disamaratakan. Penentuan honor dan biaya operasional juga harus mempertimbangkan kondisi geografis dari masing-masing desa.Kata Kunci: Efektivitas, Pendampingan Desa, dan Pendamping Lokal Desa  AbstractThis thesis research raises the issue of the Effectiveness of the Implementation of Village Assistance Based on Law Number 6 of 2014 concerning Villages (Study in Sungai Raya Subdistrict, Kubu Raya Regency). This research uses juridical and sociological / empirical research methods. From the results of the study note that the factors that led to village assistance by the Village Local Facilitators in Sungai Raya Subdistrict Kubu Raya Regency have not been effective, namely the lack of capacity or capability and competence of the Village Local Facilitators, the range of control or the extent of the assistance of the Village Local Facilitators, and operational costs Village Local Assistance which is minimal does not match field conditions. Efforts that must be made by the Government or Regional Government in streamlining village assistance in accordance with Law Number 6 of 2014 namely the government and / or regional government need to conduct an evaluation and monitoring of the implementation of the tasks of the Village Local Assistance, the government needs to assess the number of villages that are assisted by each Village Local Assistance, government and / or local government needs to increase the capacity (capability) and competence of the Village Local Assistance, and continue to be fostered routinely in carrying out the tasks, and the government needs to review the honorarium and operational costs of the Village Local Assistance so as not to be generalized . The recommended recommendation is that the Government and / or Regional Government should increase the capacity or competence and competence of the Village Local Facilitators, so that they are better prepared and able to carry out the task of village assistance. The government must study the number of villages to be accompanied by each Village Local Facilitator. Determination of the number of villages for each Village Local Facilitator must consider the geographical conditions between villages. Ideally, there are only one or two villages for each Village Local Assistant. The government needs to assess the amount of honorarium and operational costs of the Village Local Companion so as not to be generalized. Determination of honorariums and operational costs must also consider the geographical conditions of each village.Keywords: Effectiveness, Village Assistance, and Village Local Assistance
IMPLEMENTASI PEMBERIAN BANTUAN HUKUM KEPADA MASYARAKAT MISKIN DALAM RANGKA MENCARI KEADILAN BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 16 TAHUN 2011 TENTANG BANTUAN HUKUM (STUDI DI KABUPATEN BENGKAYANG) YUSTINUS DEDI, SH. A.2021131066, Jurnal Mahasiswa S2 Hukum UNTAN
Jurnal NESTOR Magister Hukum Vol 2, No 2 (2016): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN
Publisher : Jurnal NESTOR Magister Hukum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKJudul tesis ini adalah Implementasi Pemberian Bantuan Hukum Kepada masyarakat MiskinDalam Rangka Mencari Keadilan berdasarkan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2011tentang Bantuan Hukum (Studi di Kabupaten Bengkayang). Adapun latar belakangnyaadalah bahwa pelaksanaan bantuan hukum di Kabupaten Bengkayang belum dilaksanakandengan baik. Adanya pembahuruan secara normatif tentang Bantuan Hukum, tentumembawa perubahan dalam implementasinya, hal inilah yang menjadikan penelitian inimenarik untuk diteliti. Maka, perlu diketahui lebih lanjut mengenai implementasi bantuanhukum, kepada masyarakat miskin dalam mencari keadilan di Kabupaten Bengkayang.Pemberian bantuan hukum secara Cuma-Cuma bagi masyarakat tidak mampu di KabupatenBengkayang mengalami banyak kendala yang ada, yaitu terbatasnya advokat ataupenasehat hukum yang ada di Kabupaten Bengkayang dan belum adanya LembagaBantuan Hukum yang terakreditasi oleh Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia.Mengingat pentingnya bantuan hukum dalam menciptakan keadilan, menegakkan HAM danequality before the law, serta dalam mencapai due process of law, tentu menjadikankewajiban pemberian bantuan hukum menjadi hal yang penting untuk dapat dilaksanakansecara efektif. Penelitian ini sangatlah penting, mengingat manfaat yang sangat besar yangakan didapatkan ketika pelaksanaan bantuan hukum kepada masyarakat tidak mampu diKabupaten Bengkayang, dapat dilaksanakan secara efektif, selain itu juga memberikanbentuk upaya reformasi hukum dalam aspek pemerataan keadilan. Masalah adalah (1) tidakada Lembaga Bantuan Hukum di Kabupaten Bengkayang yang diakreditasi OlehKementerian Hukum dn HAM Republik Indonesia (2) Tidak ada Advokat yang terdaftar diPeradi (3) bagaimana kebijakan Pemerintah Daerah Kabupaten Bengkayang mengatasimasalah tersebut ?Hasil penelitian tesis dapat disimpulkan, bahwa pertama, Implementasi Pemberian BantuanHukum Kepada Masyarakat Miskin Dalam Rangka Mencari Keadilan Berdasarkan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2011 Tentang Bantuan Hukum (Studi Di Kabupaten Bengkayang)belum dapat diimplementasikan dengan baik karena adanya penyimpangan-penyimpangan2dalam prakteknya. Seperti, belum adanya masyarakat yang mengajukan PermohonanBantuan Hukum karena belum memahami sepenuhnya tentang Pemahaman Hukum, danbingung untuk mengajukan kepada siapa ketika hendak memperoleh Bantuan Hukum,pelaksanaan bantuan hukum melalui pendampingan advokat baru dapat dinikmati apabilamasyarakat miskin melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana mati atau 5 (lima)tahun atau lebih tersangka dan proses persidangan tetap berlanjut walaupun tanpa hadirnyaadvokat, walaupun advokat tidak ada yang menolak secara lansung memberikan bantuanhukum, tetapi advokat dinilai kurang profesional dan diskriminatif. Tidak adanya ketentuandan tidak diberikannya bantuan hukum kepada tersangka dan terdakwa yang melakukantindak pidana dengan ancaman pidana di bawah 5 (lima) tahun ketika mengikutipersidangan sehingga banyak masyarakat miskin yang mengikuti persidangan tanpa diwakiliAdvokat, Kedua : Kendala-kendala yang dihadapi dalam Implementasi Pemberian BantuanHukum Kepada Masyarakat Miskin Dalam Rangka Mencari Keadilan Berdasarkan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2011 Tentang Bantuan Hukum (Studi Di Kabupaten Bengkayang)didapat diklasifikasi dan dibedakan menjadi 3 faktor yakni, faktor substansi hukum (legalsubstance), struktur hukum (legal structure), dan budaya hukum (legal culture). Faktorsubstansi hukum yang menghambat salah satunya adalah kekurangan atau kelemahandalam substansi Pasal 56 ayat (1) KUHAP yang mengatur mengenai pembatasan penerimabantuan hukum berdasarkan kwalifikasi ancaman hukuman. Faktor struktur hukum yangmenghambat yakni, faktor penegak hukum dari segi internal dan eksternal yang jugameliputi sarana atau fasilitas. Faktor penegak hukum dari segi internal yang menghambatseperti, kurangnya integritas, moralitas, idealisme dan profesionalitas advokat. Faktorpenegak hukum dari segi eksternal dan sarana atau fasilitas yang menghambat sepertiTidak ada Lembaga Bantuan Hukum di Kabupaten Bengkayang yang di akreditasi olehKementerian Hukum dan HAM dan Tidak ada Advokat yang terdaftar di Peradi, kurangnyapendanaan atau anggaran dari Pemerintah Daerah, kurangnya kontrol dan pengawasan,Faktor budaya hukum yang menghambat meliputi faktor budaya hukum atau faktorkebudayaan dan faktor masyarakat. Faktor budaya hukum atau kebudayaan dalam hal inimeliputi faktor budaya hukum atau kebudayaan dari masyarakat dan penegak hukum(penyidik dan advokat). Seperti, kurangnya pemahaman masyarakat terhadap hak atasbantuan hukum mengacu pada ketidakpercayaan, sikap pesimisme, serta sikap skeptisterhadap pelaksanaan bantuan hukum, dan elemen sikap, nilai-nilai, cara bertindak danberpikir advokat dan penyidik, yang terjadi secara berulang-ulang sehingga mengarah padasikap atau tindakan penyimpangan. Faktor masyarakat yang menghambat adalahpandangan masyarakat yang negatif tentang pelaksanaan bantuan hukum sertakekhawatiran dalam menggunakan bantuan hukum. Saran,(1) Sebaiknya di dalampersidangan pada pengadilan, bantuan hukum melalui pendampingan advokat dapat3dinikmati masyarakat pada saat tahapan awal bukan pada saat pemeriksaan tambahan dansebaiknya pemeriksaan tidak dilakukan sebelum hadirnya advokat. Integritas, moralitas,idealisme, dan profesionalitas aparat penegak hukum harus lebih ditingkatkan lagi. Perluadanya ketentuan untuk memberikan bantuan hukum kepada masyarakat yang menjaditersangka dan terdakwa yang disangka dan didakwa melakukan tindak pidana denganancaman pidana di bawah 5 (lima) tahun tanpa harus menunggu permohonan bantuan darimasyarakat miskin tersebut. (2) Agar Pemerintah Daerah Perlu untuk membentuk LembagaBantuan Hukum di Kabupaten Bengkayang, membuat Peraturan Daerah tentang BantuanHukum kepada masyarakat Miskin, dan juga perlu melakukan kerjasama dengan LembagaBantuan Hukum yang telah ada di Kalimantan Barat sehingga Bantuan Hukum kepadaMasyarakat miskin dapat segera diberikan sebelum terbentuknya Lembaga Bantuan Hukumdi Kabupaten Bengkayang.Kata Kunci: Lembaga Bantuan Hukum, Advokat, Peraturan Perundang-Undangan,Peraturan Daerah.ABSTRACTThe title of this thesis is the implementation of the public administration of the Legal Aid ToPoor In Order for Justice pursuant to Act No. 16 of 2011 on Legal Aid (Studies inBengkayang District). The background is that the implementation of legal aid in Bengkayangnot been implemented properly. Pembahuruan their normative on Legal Aid, certainlybrought changes in implementation, this is what makes this study interesting to study. So,you need to know more about the implementation of legal aid to the poor in seeking justice inBengkayang.The provision of legal assistance free of charge to the community can not afford inBengkayang encounter many obstacles that exist, namely the lack of an advocate or legalcounsel in Bengkayang and the absence of Legal Aid which is accredited by the Ministry ofJustice and Human Rights of the Republic of Indonesia.Given the importance of legal aid in creating justice, uphold human rights and equality beforethe law, as well as in achieving the due process of law, would make the obligation to providelegal assistance becomes important to be implemented effectively. This study is important,given the enormous benefits to be gained when the implementation of legal assistance to theunderprivileged in Bengkayang, can be carried out effectively, but it also provides forms oflegal reforms in the aspect of distributive justice. The problem is (1) no Legal Aid inBengkayang accredited by the Ministry of Justice of the Republic of Indonesia Human Rights4dn (2) No Advocate registered in Peradi (3) how the Government policy Bengkayangovercome these problems?The results of the research thesis can be concluded, that the first, Implementation ProvidingLegal Aid To Poor People In Order for Justice Under Law No. 16 of 2011 on Legal Aid(Study In Bengkayang District) can not be implemented properly for their deviations inpractice. Such as, the lack of people who file the Application of Legal Aid because it has notfully understood about Understanding the Law, and confused to apply to anyone when tryingto obtain legal aid, execution of legal assistance through mentoring advocate can only beenjoyed if the poor committing a crime punishable by the death penalty or 5 (five) years ormore suspects and the court process continues even without the presence of lawyers, eventhough there is no denying advocate in directly providing legal aid, but advocates consideredless professional and discriminatory. The absence of provision and not given legalassistance to suspects and accused of committing criminal offenses punishable under 5(five) years when following the trial so many poor people who followed the trial without therepresented Advocate, Second: The obstacles encountered in the implementation of GivingLegal aid To Poor People In Order for Justice Under Law No. 16 of 2011 on Legal aid (StudyIn Bengkayang District) obtained classified and divided into three factors namely, the factorof legal substances (legal substance), legal structure (legal structure), and legal culture(legal culture). Factors legal substances that inhibit one of which is the lack or weakness inthe substance of Article 56 paragraph (1) Criminal Code concerning restrictions on legal aidrecipients based on the qualifications of the threat of punishment. Factors that inhibit thelegal structures, law enforcement apparatus in terms of internal and external which alsoincludes facility or facilities. Factors law enforcement in terms of internal inhibits such as,lack of integrity, morality, idealism and professionalism advocates. Factors law enforcementin terms of external and facilities or facilities that inhibits such as No Legal Aid inBengkayang which is accredited by the Ministry of Justice and Human Rights and NoAdvocate registered in Peradi, lack of funding or budgets of local governments, lack ofcontrol and supervision , cultural factors that inhibit law covering cultural factors of law orcultural factors and community factors. Legal culture or cultural factors in this regard includecultural factors of law or culture of the community and law enforcement officers (investigatorsand lawyers). Such as, the lack of public understanding of the right to legal aid refers tomistrust, pessimism and skepticism towards the implementation of legal aid, and elements ofattitudes, values, way of acting and thinking advocates and investigators, which occursrepeatedly leading to the attitudes or actions irregularities. Factors that inhibit community isnegative community views on the implementation of legal aid as well as concerns in the useof legal assistance. Suggestions: (1) We recommend that in the hearing at the court, legal5assistance through mentoring advocates can be enjoyed by people during the early stagesrather than when additional screening and examination should not be performed before thepresence of an advocate. Integrity, morality, idealism and professionalism of lawenforcement officers should be further enhanced. The need for provisions to provide legalassistance to people who become suspects and defendants are suspected of and chargedwith a criminal offense punishable under 5 (five) years without having to wait for assistancefrom poor communities. (2) For Local Governments Need to establish Legal Aid inBengkayang, create a Local Regulation on Legal Aid to the community of Poor, and alsoneed to cooperate with the Legal Aid Society who has been in West Kalimantan that LegalAid to Poor people may soon be given before the establishment of the Legal Aid Institute inBengkayang.Keywords: Legal Aid Society , Advocates , Laws and Regulations, Regional Regulation

Filter by Year

2009 2019


Filter By Issues
All Issue Vol 4, No 4 (2019): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 3, No 3 (2019): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 2, No 2 (2019): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 1, No 1 (2019): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 4, No 4 (2018): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 3, No 3 (2018): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 2, No 2 (2018): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 1, No 1 (2018): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 4, No 4 (2017): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 3, No 3 (2017): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 2, No 2 (2017): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 1, No 1 (2017): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 3, No 3 (2016): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 2, No 2 (2016): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 1, No 1 (2016): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 9, No 2 (2015): Jurnal Nestor - 2015 - 2 Vol 8, No 1 (2015): Jurnal Nestor - 2015 - 1 Vol 4, No 4 (2015): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 3, No 3 (2015): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 2, No 2 (2015): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 1, No 1 (2015): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 3, No 4 (2014): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 2, No 3 (2014): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 2, No 2 (2014): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 1, No 1 (2014): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 3, No 5 (2013): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 2, No 4 (2013): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 2, No 3 (2013): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 8, No 1 (2012): Jurnal Nestor - 2012 - 1 Vol 2, No 2 (2012): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 7, No 2 (2010): Jurnal Nestor - 2010 - 2 Vol 7, No 1 (2010): Jurnal Nestor - 2010 - 1 Vol 6, No 2 (2009): Jurnal Nestor - 2009 - 2 Vol 6, No 1 (2009): Jurnal Nestor - 2009 - 1 More Issue