cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
Jurnal NESTOR Magister Hukum
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 535 Documents
ANALISIS YURIDIS-SOSIOLOGIS TERHADAP PELANGGARAN IZIN PENGANGKUTAN BAHAN BAKAR MINYAK OLEH MOTOR BANDONG (Studi Kasus Di Kabupaten Sintang) MARWANDY, S.Psi. A2021141061, Jurnal Mahasiswa S2 Hukum UNTAN
Jurnal NESTOR Magister Hukum Vol 3, No 3 (2016): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN
Publisher : Jurnal NESTOR Magister Hukum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTThis thesis discusses the analysis of socio-juridical on violation permit the transport of fuel oil by the motor bandong (a case study in Sintang). The method used in this study is a socio-juridical approach. From the results of this thesis can be concluded that the licensing procedure the transport of fuel oil according to the Regulation of the Minister of Energy and cracked Mineral Resources No. 0007 of 2005 regarding Requirements and Guidelines on Technical Implementation Business License In the Downstream Oil and Gas in relation to getting a business license which is the body businesses must apply to the Minister of Energy and Mineral Resources) through the Director-General (whose duties and responsibilities include the business activities of oil and natural gas) are equipped with administrative and technical requirements. That in practice the field associated with the implementation of the application of the rules on consent for the transport of fuel oil by the motor bandong Sintang is still plenty of motors bandong that only licensed carriage of goods and passengers, from 67 motors bandong operating in Sintang, only 3 motors bandong who has the permission of transportation fuel by the Minister of Energy and Mineral Resources cracked No. 0007 of 2005 regarding Implementation Technical Requirements and Guidelines on Business licenses In the Downstream Oil and Gas. For it is worth serious attention from the government, the central government and local governments, as well as the involvement of law enforcement agencies to prevent criminal acts in connection with the permission of transportation fuel oil. The efforts made by law enforcement that the police in this case the local government transportation agencies in tackling violations Sintang permit the transport of fuel oil by the motor bandong In Sintang is through preventive and repressive actions. Preventive measures are intended to prevent the illegal distribution by the motor fuel bandong through the river in Sintang, which among others is done by following up SKB Pertamina and the National Police Headquarters No. Pol. KEP / 34 / VII / 2004 and No. KPTS-035 / C00000 / 2004-S0, in cooperation with the Department of Transportation Sintang in monitoring the implementation of the distribution of fuel is carried out by agents of the fuel and entrepreneurs transport water designated to distribute the fuel in Sintang , follow up orders police chief to monitor the distribution of kerosene, and set up outposts monitoring of fuel distribution in each village through which the motor bandong. Repressive actions carried out by way of prosecution of illegal distribution of kerosene and interrogate suspected offenders were illegally petroleum distribution Undang¬ as stipulated in Law No. 22 of 2001 and Regulation of the Minister of Energy and Mineral Resources cracked No. 0007 of 2005 regarding Requirements and Guidelines technical Implementation Business License In the Downstream Oil and Gas.Keywords: Juridical-Sociological Analysis, Against Violation Permit, Transportation of fuel oil.ABSTRAKTesis ini membahas analisis yuridis-sosiologis terhadap pelanggaran izin pengangkutan bahan bakar minyak oleh motor bandong (studi kasus di Kabupaten Sintang). Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan yuridis-sosiologis. Dari hasil penelitian tesis ini diperoleh kesimpulan bahwa prosedur perizinan pengangkutan bahan bakar minyak menurut Peraturan Menteri Energi Dan Sember Daya Mineral Nomor 0007 Tahun 2005 Tentang Persyaratan Dan Pedoman Teknis Pelaksanaan Izin Usaha Dalam Kegiatan Usaha Hilir Minyak Dan Gas Bumi dalam kaitannya untuk mendapatkan izin usaha yaitu badan usaha harus mengajukan permohonan kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral) melalui Direktur Jenderal (yang tugas dan tanggung jawabnya meliputi kegiatan usaha minyak dan gas bumi) dilengkapi dengan persyaratan administratif dan teknis. Bahwa di dalam prakteknya dilapangan terkait dengan pelaksanaan penerapan peraturan tentang perizinan pengangkutan bahan bakar minyak oleh motor bandong di Kabupaten Sintang adalah masih banyak motor-motor2bandong yang hanya memiliki izin pengangkutan barang dan penumpang saja, dari 67 motor bandong yang beroperasi di Kabupaten Sintang, hanya 3 motor bandong saja yang memiliki izin pengangkutan BBM berdasarkan Peraturan Menteri Energi Dan Sember Daya Mineral Nomor 0007 Tahun 2005 Tentang Persyaratan Dan Pedoman Teknis Pelaksanaan Izin Usaha Dalam Kegiatan Usaha Hilir Minyak Dan Gas Bumi. Untuk itu Perlu perhatian yang serius dari pemerintah, baik itu pemerintah pusat dan pemerintah daerah, serta keterlibatan aparat penegak hukum untuk mencegah terjadinya tindak pidana dalam kaitannya dengan izin pengangkutan Bahan Bakar Minyak. Upaya-upaya yang dilakukan oleh penegak hukum yaitu kepolisian pemerintah daerah dalam hal ini dinas perhubungan Kabupaten Sintang dalam menanggulangi pelanggaran izin pengangkutan bahan bakar minyak oleh motor bandong Di Kabupaten Sintang adalah melalui tindakan preventif dan represif. Tindakan preventif dimaksudkan untuk mencegah terjadinya distribusi BBM secara illegal oleh motor bandong melalui sungai di Kabupaten Sintang, yang antara lain dilakukan dengan cara menindaklanjuti SKB Pertamina dan Mabes Polri No. Pol. KEP/34/VII/2004 dan Nomor KPTS-035/C00000/2004-S0, melakukan kerjasama dengan Dinas Perhubungan Kabupaten Sintang dalam memantau pelaksanaan pendistribusian BBM yang dilakukan oleh agen-agen BBM dan pengusaha tranportasi air yang ditunjuk untuk menyalurkan BBM di Kabupaten Sintang, menindaklanjuti perintah Kapolda untuk ikut memantau pendistribusian minyak tanah bersubsidi, dan mendirikan pos-pos pemantau distribusi BBM di setiap desa yang dilalui oleh motor bandong. Tindakan represif dilakukan dengan cara menindak pelaku distribusi minyak tanah secara illegal dan melakukan penyidikan terhadap tersangka pelaku distribusi minyak tanah secara illegal sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 dan Peraturan Menteri Energi Dan Sember Daya Mineral Nomor 0007 Tahun 2005 Tentang Persyaratan Dan Pedoman Teknis Pelaksanaan Izin Usaha Dalam Kegiatan Usaha Hilir Minyak Dan Gas Bumi .Kata Kunci: Analisis Yuridis-Sosiologis, Terhadap Pelanggaran Izin, Pengangkutan Bahan Bakar Minyak.
PERAN TIM PENGAWAL DAN PENGAMANAN PEMBANGUNAN DAN PEMERINTAHAN DAERAH (TP4D) DALAM PENGADAAN BARANG DAN JASA PEMERINTAH (Studi Di Kejaksaan Tinggi Kalimantan Barat). DENI SUSANTO, SH NPM.A2021151068, Jurnal Mahasiswa s2 Hukum Untan
Jurnal NESTOR Magister Hukum Vol 4, No 4 (2017): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN
Publisher : Jurnal NESTOR Magister Hukum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT This thesis discusses the role of guard and security team of development and local government (TP4D) in procurement of government goods and services (Study At West Kalimantan High Prosecutor). The method used in this research is Normative-Sociological approach. The conclusion of this thesis is that the formation of the Guard and Security Team for the Government and Regional Development (TP4D) of the High Prosecutor of West Kalimantan based on the Decree of the Attorney General of the Republic of Indonesia Number: KEP-152 / A / JA / 10/2015 dated October 1, 2015 on the Formation of Team Guards and Security of Governance and Development of the Attorney of the Republic of Indonesia which has the duty of: Guarding, securing and supporting the success of government and development through preventive / preventive and persuasive efforts in the legal area of the West Kalimantan High Prosecutor by: A) To provide legal information in the environment of government agencies, SOEs, BUMDs and other parties related to materials on planning, auctions, execution of work, supervision of the implementation of work, licensing, procurement of goods and services, administrative order and State finance management; B) Conducting discussion or discussion with government agencies, SOEs, BUMD to identify problems encountered in the absorption of budget and development implementation; C) Providing legal information and legal counseling both on the TP4D initiative and at the request of the discriminating parties to which the place and time of implementation is determined by agreement and as required; D) TP4D may involve agencies or other parties who have the capacity, competence and relevant with legal information material to be submitted to government agencies, SOEs and BUMD. Can provide legal assistance in each stage of the development program from beginning to end, in the form of: Legal discussion from the side of the application of regulations, legislation, mechanisms and procedures with budget managers over the problems faced in terms of budget absorption, Legal opinions in the planning stages, Auctions, execution of work, supervision of work implementation, licensing, procurement of goods and services on the initiative of TP4D as well as on request of instasi and parties in need. Coordinate with the Government Internal Supervisory Apparatus to prevent potential irregularities that inhibit, thwart, and cause harm to State finances; Together to monitor and evaluate the implementation of work and development programs;Carry out repressive law enforcement when sufficient preliminary evidence is found after coordination with the Government Internal Supervisory Apparatus regarding the occurrence of unlawful acts, misuse of authority and / or other acts that result in harm to the State's finances. The constraints faced by the Guard and Security Team Development and Local Government (TP4D) in relation to the procurement of goods and services of the High Prosecutor's Office of West Kalimantan is the lack of government coordination with the Attorney General especially in the case of legal assistance and enforcement by the Attorney General during the Budget Planning Meeting. Passive and Apathetic Communities during the Public Prosecution Service. Keywords: Role, Security Guard Team for Development and Local Government, Procurement, Services Goods. 2 ABSTRAK Tesis ini membahas tentang peran tim pengawal dan pengamanan pembangunan dan pemerintahan daerah (TP4D) dalam pengadaan barang dan jasa pemerintah (Studi Di Kejaksaan Tinggi Kalimantan Barat). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan Normatif-Sosiologis. Adapun kesimpulan dari tesis ini ada bahwa Bahwa pembentukan Tim Pengawal dan Pengaman Pemerintahan dan Pembangunan Daerah (TP4D) Kejaksaan Tinggi Kalimantan Barat berdasarkan Keputusan Jaksa Agung Republik Indonesia Nomor : KEP-152/A/JA/10/2015 tanggal 1 Oktober 2015 tentang Pembentukan Tim Pengawal dan Pengaman Pemerintahan dan Pembangunan Kejaksaan Republik Indonesia yang mempunyai tugas : Mengawal, mengamankan dan mendukung keberhasilan jalannya pemerintahan dan pembangunan melalui upaya-upaya pencegahan/preventif dan persuasive di daerah hukum Kejaksaan Tinggi Kalimantan Barat, dengan cara : a) Memberikan penerangan hukum di lingkungan instansi pemerintah, BUMN, BUMD, dan pihak lain yang terkait materi tentang perencanaan, pelelangan, pelaksanaan pekerjaan, pengawasan pelaksanaan pekerjaan, perijinan, pengadaan barang dan jasa, tertib administrasi, dan tertib pengelolaan keuangan Negara; b) Melakukan diskusi atau pembahasan bersama instansi pemerintah, BUMN, BUMD untuk mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi dalam penyerapan anggaran dan pelaksanaan pembangunan; c) Memberikan penerangan hukum dan penyuluhan hukum baik atas inisiatif TP4D maupun atas permintaan pihak-pihak yang memerllukan yang tempat dan waktu pelaksanaan ditetapkan berdasarkan kesepakatan dan sesuai kebutuhan; d) TP4D dapat melibatkan instansi atau pihak lain yang memiliki kapasitas, kompetensi dan relevan dengan materi penerangan hukum yang akan disampaikan kepada instasi pemerintah, BUMN, dan BUMD. Dapat memberikan pendampingan hukum dalam setiap tahap pogram pembangunan dari awal sampai akhir, berupa : Pembahasan hukum dari sisi penerapan regulasi, peratuan perundang-undangan, mekanisme dan prosedur dengan pejabat pengelola anggaran atas pemasalahan yang dihadapi dalam hal penyerapan anggaran, Pendapat hukum dalam tahapan perencanaan, pelelangan, pelaksanaan pekerjaan, pengawasan pelaksanaan pekerjaan, perijinan, pengadaan barang dan jasa atas inisiatif TP4D maupun atas permintaan instasi dan pihak-pihak yang memerlukan. Melakukan kordinasi dengan Aparat Pengawasan Intern Pemerintahan untuk mencegah terjadinya penyimpangan yang berpotensi menghambat, menggagalkan, dan menimbulkan kerugian bagi keuangan Negara; Bersama-sama melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan pekerjaan dan program pembangunan; Melaksanakan penegakan hukum represif ketika ditemukan bukti permulaan yang cukup setelah dilakukan koordinasi dengan Aparat Pengawasan Intern Pemerintah tentang telah terjadinya perbuatan melawan hukum, penyalagunaan kewenangan dan/atau perbuatan lainnya yang berakibat menimbulkan kerugian bagi keuangan Negara.Kendala-kendala yang dihadapi oleh Tim Pengawal Dan Pengamanan Pembangunan Dan Pemerintahan Daerah (TP4D) dalam kaitannya dengan pengadaan barang dan jasa pemerintah Kejaksaan Tinggi Kalimantan Barat adalah kurangnya koodinasi pemerintah dengan Kejaksaan terutama dalam hal pendampingan dan penerangan hukum oleh pihak Kejaksaan saat Rapat Pemabahasan Anggaran. Masyarakat yang Pasif dan cenderung Apatis saat Kejaksaan melakukan Penyuluhan Hukum. Kata Kunci: Peran, Tim Pengawal Pengamanan Pembangunan DanPemerintahan Daerah, Pengadaan, Barang Jasa.
TINJAUN YURIDIS PENGELOLAAN DAN PEMANFAATAN HASIL DENDA PELANGGARAN TERHADAP PENEGAKAN PERATURAN DAERAH KOTA PONTIANAK DALAM KONTRIBUSINYA BAGI PENINGKATAN PENDAPATAN ASLI DAERAH SESUAI DENGAN KEPUTUSAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 7 TAHUN 2003 TENTANG PEDOMAN OPRASIONAL PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DAERAH DALAM PENEGAKAN PERATURAN DAERAH NPM. A2021161072, DODHY ARYO YUDHO, SH
Jurnal NESTOR Magister Hukum Vol 3, No 3 (2018): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN
Publisher : Jurnal NESTOR Magister Hukum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTThis thesis discusses about juridical management and utilization of fines of violation against the enforcement of Pontianak City Regulation In Contribution To Increasing Original Income In accordance with Decree of Minister of Home Affairs Number 7 Year 2003 About Guidance of Oprasional Investigator of Regional Civil Servant in Enforcement of Local Regulation. The conclusion of this thesis that Pengelolahan and exploiting the result of fines violation from Enforcement of Local Regulation of Pontianak City, Pontianak City as one of governance in area need to arrange Local Regulation which arrange retribution of public service, even in the implementation have arranged in Local Regulation Number 4 Year 2011 about Retribution General Services. However, the existing regional regulations need to be adapted to the prevailing conditions of society and legislation as well as the management and utilization of the fines of violations of the enforcement of municipal regulations in the city of Pontianak in its contribution to the increase of indigenous revenues in accordance with Decree of the Minister of Home Affairs Number 7 of 2003 on Oprasional Guidelines Investigator of Regional Civil Servant in Enforcement of Local Regulation and Regional Finance Board of Pontianak City has the main duty "to carry out the function of supporting the government affairs which become the regional authority and the duty of assistance in the field of finance. Mechanism or procedure which become obstacles in the utilization or management of fines violation results from the enforcement of Local Regulation In Pontianak City is the Local Government has not implemented Pengelolahan And Utilization Results Fine Violation Of Enforcement of Local Regulation of Pontianak City, especially not yet effective of Local Regulation of Pontianak City Number 4 Year 2011 stated that Public Service Levy, due to fines in the Regional Regulation is paid to the State Treasury. As for the obstacles in the utilization or management of the results of fines violations of the enforcement of Regional Regulations In Pontianak City is the Problem Structure / Institutional. Disadvantages of Substance Perda, Cultural issues, especially the level of Legal Awareness is still low. Efforts that need to be done by Local Government in order to perform steps of pontianak city administration in managing and utilizing result of fine of violation from enforcement of Local Regulation in Pontianak City, among others can be done by way of Implementing as Autonomous Region, exercising authority, intensification and extensification subject and object of income, Achievement of Service and Implementation of Development Effectively and Efficiently and Revision of Local Regulation of Pontianak City Number 4 Year 2011 about Public Service Levy. The local government of Pontianak City for fines in the Regional Regulation shall be deposited to the Regional Government Cash in Pontianak City in its contribution to the increase of the original revenue of the region thus re-revision of Pontianak City Regulation No. 4 of 2011 on Public Service Levies. In the provision of Article 104 of Pontianak City Regulation No. 4 of 2011 on Public Service Levies.Keywords:  Management, Utilization, Fines Result, Violations, Enforcement, Local Regulations. ABSTRAKTesis ini membahas tentang tinjaun yuridis pengelolaan dan pemanfaatan hasil denda pelanggaran terhadap penegakan Peraturan Daerah Kota Pontianak Dalam Kontribusinya Bagi Peningkatan Pendapatan Asli Daerah Sesuai Dengan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 7 Tahun 2003 Tentang Pedoman Oprasional Penyidik Pegawai Negeri Sipil Daerah Dalam Penegakan Peraturan Daerah. Kesimpulan dari tesis ini bahwa Pengelolahan dan pemanfaatan hasil denda pelanggaran dari Penegakan Peraturan Daerah Kota Pontianak, Kota Pontianak sebagai salah satu pemerintahan di daerah perlu mengatur Peraturan Daerah yang mengatur retribusi jasa umum, sekalipun dalam pelaksanaannya telah mengaturnya dalam Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2011 tentang Retribusi Jasa Umum. Namun Peraturan Daerah yang ada perlu disesuaikan dengan kondisi masyarakat dan peraturan perundang-undangan yang berlaku serta pengelolaan dan pemanfaatan hasil denda pelanggaran terhadap penegakan peraturan daerah kota pontianak dalam kontribusinya bagi peningkatan pendapatan asli daerah sesuai dengan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 7 Tahun 2003 Tentang Pedoman Oprasional Penyidik Pegawai Negeri Sipil Daerah Dalam Penegakan Peraturan Daerah dan Badan Keuangan Daerah Kota Pontianak mempunyai tugas pokok “melaksanakan fungsi penunjang urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah dan tugas pembantuan di bidang keuangan. Mekanisme atau prosedur yang menjadi penghambat dalam pemanfaatan atau pengelolaan hasil denda pelanggaran dari penegakan Peraturan Daerah Di Kota Pontianak ialah Pemerintah Daerah belum menerapkan Pengelolahan Dan Pemanfaatan Hasil Denda Pelanggaran Dari Penegakan Peraturan Daerah Kota Pontianak khususnya belum efektifnya Peraturan Daerah Kota Pontianak Nomor 4 Tahun 2011 disebutkan bahwa Retribusi Jasa Umum, disebabkan denda pelanggaaran di Peraturan Daerah disetorkan ke Kas Negara. Adapun yang menjadi penghambat dalam pemanfaatan atau pengelolaan hasil denda pelanggaran dari penegakan Peraturan Daerah Di Kota Pontianak ialah Persoalan Struktur/Kelembagaan. Kelemahan dari Substansi Perda, Persoalan kultur terutama Tingkat Kesadaran Hukum yang masih rendah. Upaya yang perlu dilakukan oleh Pemerintah Daerah dalam rangka melakukan langkah-langkah pemerintah kota pontianak dalam mengelola dan memanfaatkan hasil denda pelanggaran dari penegakan Peraturan Daerah di Kota Pontianak, antara lain dapat dilakukan dengan cara-cara Melaksanakan sebagai daerah Otonom, melaksanakan kewenangan, intensifikasi dan ekstensifikasi subjek dan objek pendapatan, Pencapaian Pelayanan Dan Pelaksanaan Pembangunan Secara Efektif Dan Efisien dan Melakukan revisi terhadap Peraturan Daerah Kota Pontianak Nomor 4 Tahun 2011 tentang Retribusi Jasa Umum. Pemerintah daerah kota pontianak untuk denda pelanggaaran di Peraturan Daerah disetorkan ke Kas Daerah Pemerintahan Kota Pontianak dalam dalam kontribusinya bagi peningkatan pendapatan asli daerah dengan demikian perlu revisi ulang Peraturan Daerah Kota Pontianak Nomor 4 Tahun 2011 tentang Retribusi Jasa Umum. Pada ketentuan Pasal 104 Peraturan Daerah Kota Pontianak Nomor 4 Tahun 2011 tentang Retribusi Jasa Umum.Kata Kunci: Pengelolaan, Pemanfaatan, Hasil Denda, Pelanggaran, Penegakan, Peraturan Daerah.
EKSISTENSI POLIKLINIK KESEHATAN PERUSAHAAN DALAM SISTEM JAMINAN SOSIAL KESEHATAN (Studi Pada PT. Sari Bumi Kusuma – Alas Kusuma Group) HIANBY,SE A.2021141013, Jurnal Mahasiswa S2 Hukum UNTAN
Jurnal NESTOR Magister Hukum Vol 3, No 3 (2016): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN
Publisher : Jurnal NESTOR Magister Hukum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTThis thesis discusses the existence of the company's health clinic in the social security system of health (studies on PT. Sari Bumi Kusuma - Alas Kusuma Group). The method used in this research is normative sociological approach. From the results of this thesis can be concluded that health care services for the employees of PT. Sari Bumi Kusuma - Alas Kusuma Group by the Institution of Social Security done in various stages must be known, of certain rights, procedures for health care, health insurance, implementation of health insurance and the method of implementation of the National Health Insurance (JKN) as a method of restitution is limited , methods of medical services directly, and the method of payment to medical personnel and their dues will be issued by the participants.the settlement that has been stated in the deed of agreement. Implementation and employee dissatisfaction PT. Sari Bumi Kusuma - Alas Kusuma Group on health services in conjunction degan program BPJS General Hospital or Health Center, owned by the Government due to the disputes that occur in primary health care, which until now has not been resolved, while the dispute is as follows: Queue patients BPJS at health centers in each region, decrease in medical and non-medical services and doctors in private practice patients rarely receive BPJS. Then Dispute BPJS health services in secondary health care is a patient referral inpatient still suspended, unavailability of treatment rooms for patients BPJS and rejection at the emergency room, Jampersal deprecated in BPJS and Reduction of health services from the national Social Security program before. Efforts undertaken by PT. Sari Bumi Kusuma - Alas Kusuma Group made efforts to improve social security for employees and the public health is PT. Sari Bumi Kusuma - Alas Kusuma Group still register their employees to follow the program BPJS gradually. Then Dispute BPJS health services in secondary health care is a patient referral inpatient still suspended, unavailability of treatment rooms for patients BPJS and rejection at the emergency room, Jampersal deprecated in BPJS and Reduction of health services from the national Social Security program before. Efforts undertaken by PT. Sari Bumi Kusuma - Alas Kusuma Group made efforts to improve social security for employees and the public health is PT. Sari Bumi Kusuma - Alas Kusuma Group still register their employees to follow the program BPJS gradually. Then the PT. Sari Bumi Kusuma - Alas Kusuma Group remains functioning health Polyclinic held for airport employees and the community around the industry who want treatment. Services for employees or the general public health BPJS participants held in the Company Polyclinic Physicians in cooperation with health BPJS. Especially for employees who have not registered for the BPJS health, medical services remained at the Polyclinic company and handled by doctors who cooperate with BPJS with the cost borne by the company.In case polyclinic facilities use the company does not charge rent (free). The Company continues to provide drugs in the clinic for employees of companies both listed as participants BPJS and not with the provision that if the health service is performed outside the doctor's office hours BPJS health.Keywords: Existence Polyclinic, Corporate Health, Social Security System Health.ABSTRAKTesis ini membahas eksistensi poliklinik kesehatan perusahaan dalam sistem jaminan sosial kesehatan (studi pada PT. Sari Bumi Kusuma – Alas Kusuma Group). Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan normatif sosiologis. Dari hasil penelitian tesis ini diperoleh kesimpulan Bahwa Pelayanan pemeliharaan kesehatan bagi karyawan Perusahaan PT. Sari Bumi Kusuma – Alas Kusuma Group oleh badan penyelenggara jaminan sosial dilakukan dengan berbagai macam tahap yang harus diketahui, dari beberapa hak, tata cara pelayanan kesehatan, jaminan kesehatan, penyelenggaraan jaminan kesehatan dan metode dalam pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) seperti metode restitusi terbatas, metode pelayanan medis secara langsung, dan metode pembayaran kepada tenaga medis beserta iuran yang akan dikeluarkan oleh para peserta. Pelaksanaan dan ketidakpuasan karyawan Perusahaan PT. Sari Bumi Kusuma – Alas Kusuma Group terhadap pelayanan kesehatan dalam hubungannya degan program BPJS di Rumah Sakit Umum atau Puskemas milik Pemerintah disebabkan oleh sengketa yang terjadi dalam pelayanan kesehatan primer yang sampai saat ini belum terselesaikan, adapun sengketa yang terjadi adalah sebagai berikut : Antrian pasien BPJS pada Puskesmas di masing-masing daerah, Penurunan pelayanan medik maupun non medik dan dokter praktek pribadi jarang menerima pasien BPJS. Kemudian Sengketa pelayanan kesehatan BPJS di pelayanan kesehatan skunder adalah pasien rujukan rawat inap masih ditangguhkan, tidak tersedianya ruang perawatan bagi pasien BPJS dan penolakan pada unit gawat darurat, Jampersal tidak berlaku lagi di BPJS dan Pengurangan pelayanan kesehatan dari program Sistem Jaminan Sosial nasional sebelumnya. Upaya-upaya yang dilakukan oleh PT. Sari Bumi Kusuma – Alas Kusuma Group melakukan upaya-upaya guna meningkatkan jaminan sosial kesehatan bagi karyawan dan masyarakat adalah Perusahaan PT. Sari Bumi Kusuma – Alas Kusuma Group tetap mendaftarkan karyawannya untuk mengikuti program BPJS Kesehatan secara bertahap. Kemudian pihak Perusahaan PT. Sari Bumi Kusuma – Alas Kusuma Group tetap memfungsikan Poliklinik kesehatan yang dimiliki untuk melayani karyawan maupun masyarakat sekitar lokasi Industri yang ingin berobat. Pelayanan bagi karyawan atau masyarakat umum peserta BPJS kesehatan dilaksanakan di Poliklinik Perusahaan dengan Dokter yang bekerjasama dengan BPJS kesehatan. Khusus untuk karyawan yang belum terdaftar sebagai peserta BPJS kesehatan, pelayanan pengobatan tetap di Poliklinik perusahaan dan ditangani oleh Dokter yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan dengan biaya ditanggung oleh perusahaan.Dalam hal penggunaan fasilitas poliklinik perusahaan tidak dikenakan biaya sewa (gratis). Perusahaan tetap menyediakan Obat-obatan di poliklinik perusahaan bagi karyawan baik yang terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan maupun tidak dengan ketentuan jika pelayanan kesehatan tersebut dilakukan diluar jam praktek dokter BPJS kesehatan.Kata Kunci: Eksistensi Poliklinik, Kesehatan Perusahaan, Sistem Jaminan Sosial Kesehatan.
PELAYANAN BADAN PELAYANAN PERIZINAN TERPADU (BP2T) DALAM MENYELENGGARAKAN PROSES PERIZINAN DITINJAU DARI UNDANGUNDANG NOMOR 25 TAHUN 2009 TENTANG PELAYANAN PUBLIK (Studi Di Pemerintahan Kota Pontianak) MINDARYU PARTINI, S.H NPM. A2021151053, Jurnal Mahasiswa s2 Hukum Untan
Jurnal NESTOR Magister Hukum Vol 4, No 4 (2017): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN
Publisher : Jurnal NESTOR Magister Hukum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT This thesis discusses the role of integrated licensing service agency (BP2T) of Pontianak city in providing public servant in the field of licensing based on Pontianak City Regulation No. 14 of 2015 on Specific Licensing Levy (Study on Building Permit In Pontianak City). From the results of this thesis research obtained the conclusion that the role of Integrated Licensing Service Agency (BP2T) Pontianak In Providing Waiters Against Building Permits Based on Pontianak City Regulation No. 14 of 2015 on Specific Licensing Levy to realize Good Governance in Pontianak City Government has not been optimal, because There are still many (± 70%) of IMB issuance service that exceeds the deadline, the principles of excellent service standard and accountability have not been fully applied, consequently the quality and quantity of public services in order to prosper the community can not be felt. What factors cause the Integrated Licensing Service Agency (BP2T) of Pontianak City to issue Building Permit, that is, the available Human Resources do not have the skills in the service field, the submitted application (incoming file) is not proportional to the number of officers, the lack of facilities Supporting (calculation of retribution is still manual), and delegation of authority is not fully submitted (more than one agency that take care of IMB). Recommendation: it is necessary to increase the human resources to serve the issuance of IMB, both in terms of quantity and quality in the field of service. Need to improve technology to support the implementation of IMB services for the community. There needs to be separation of administrative service with technical service. We recommend that all processes in IMB issuance will be conducted by one institution, so that the period of issue of IMB can be shortened Keywords: Integrated Licensing Service, Fields, Licensing. ABSTRAK Tesis ini membahas tentang peran badan pelayanan perizinan terpadu (BP2T) kota pontianak dalam memberikan pelayan publik di bidang perizinan berdasarkan Peraturan Daerah Kota Pontianak Nomor 14 Tahun 2015 Tentang Retribusi Perizinan Tertentu (Studi Terhadap Izin Mendirikan Bangunan Di Kota Pontianak). Dari hasil penelitian tesis ini diperoleh kesimpulan Bahwa Peran Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BP2T) Kota Pontianak Dalam Memberikan Pelayan Terhadap Izin Mendirikan Bangunan Berdasarkan Peraturan Daerah Kota Pontianak Nomor 14 Tahun 2015 Tentang Retribusi Perizinan Tertentu untuk mewujudkan Good Governance di Pemerintahan Kota Pontianak belum optimal, karena masih banyaknya (± 70%) pelayanan penerbitan IMB yang melebihi batas waktu, prinsipprinsip standar pelayanan prima serta akuntabilitas belum dapat diterapkan sepenuhnya, akibatnya kualitas dan kuantitas pelayanan publik dalam rangka mensejahterakan masyarakat belum dapat dirasakan.Faktor-Faktor apa yang menyebabkan Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BP2T) Kota Pontianak dalam menerbitkan Izin Mendirikan Bangunan, yaitu Sumber daya manusia yang tersedia belum memiliki keterampilan di bidang pelayanan, permohonan yang diajukan (berkas yang masuk) tidak sebanding dengan jumlah petugas, kurangnya fasilitas penunjang (penghitungan retribusi masih manual), serta pendelegasian kewenangan tidak sepenuhnya diserahkan (lebih dari satu instansi yang mengurus IMB). Rekomendasi : perlu peningkatan sumber daya manusia untuk melayani penerbitan IMB, baik dari sisi kuantitas maupun kualitas di bidang pelayanan.Perlu peningkatan teknologi untuk menunjang pelaksanaan pelayanan IMB bagi masyarakat. Perlu adanya pemisahan pelayanan administrasi dengan pelayanan yang bersifat teknis. Sebaiknya seluruh proses dalam penerbitan IMB dilakukan oleh satu institusi, agar jangka waktu penerbitan IMB dapat dipersingkatan Kata Kunci : Pelayanan Perizinan Terpadu, Bidang, Perizinan.
PENYELESAIAN SENGKETA TANAH MELALUI MEDIASI PENAL TERHADAP SERTIFIKAT GANDA BERDASARKAN PERATURAN MENTERI AGRARIA DAN TATA RUANG/KEPALA BPN RI NO. 11 TAHUN 2016 TENTANG PENYELESIAN KASUS PERTANAHAN (STUDI DI KABUPATEN KUBU RAYA) NPM. A2021161064, RICK JACKSON, SH
Jurnal NESTOR Magister Hukum Vol 3, No 3 (2018): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN
Publisher : Jurnal NESTOR Magister Hukum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKTesis ini membahas tentang Penyelesaian Sengketa Tanah Melalui Mediasi Penal Terhadap Sertifikat Ganda Berdasarkan Peraturan Menteri Agraria Dan Tata Ruang/Kepala BPN RI NO. 11 Tahun 2016 Tentang Penyelesian Kasus Pertanahan (Studi Di Kabupaten Kubu Raya). Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan tesis ini ialah menggunakan metode penelitian hukum normatif dan sosiologis. Dari hasil penelitian tesis ini diperoleh kesimpulan Bahwa Kedudukan mediasi penal terhadap penyelesian sengketa tanah dalam pemeliharaan data pertanahan dan pendaftaran tanah dalam rangka kepastian hukum oleh Kantor Pertanahan Kabupaten Kubu Raya, Penyelesaian melalui jalur mediasi dapat ditempuh apabila para pihak sepakat melakukan perundingan dengan prinsip musyawarah untuk mufakat bagi kebaikan semua pihak. Jika salah satu pihak saja menolak, maka penyelesaiannya diselesaikan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. Teknisnya, mediasi dilakukan paling lama 30 hari dimana untuk mediatornya berasal dari kementerian, Kantor Wilayah BPN atau Kantor Pertanahan. Dalam hal mediasi ditemukan kesepakatan, maka selanjutnya dibuat perjanjian perdamaian berdasarkan berita acara mediasi yang mengikat para pihak. Setelah itu, perjanjian perdamaian itu didaftarkan pada Kepaniteraan Pengadilan Negeri setempat untuk memperolah kekuatan hukum mengikat.Kata Kunci Sengketa, Mediasi Penal, Sertifikat Ganda AbstractThis thesis discusses the Settlement of Land Disputes through Penalty Mediation of Double Certificates Based on the Regulation of the Minister of Agrarian and Spatial Planning / Head of the Republic of Indonesia National Land Agency NO. 11 of 2016 concerning Land Case Settlement (Study in Kubu Raya District). The research method used in writing this thesis is to use normative and sociological legal research methods. From the results of this thesis research, it can be concluded that the position of reasoning mediation on land dispute resolution in the maintenance of land and land registration data in the context of legal certainty by the Land Office of Kubu Raya Regency, Settlement through mediation can be taken if the parties agree to negotiate with the principle of consensus for the good of all parties. If only one party refuses, then the settlement is settled in accordance with the provisions of the law. Technically, mediation is carried out for a maximum of 30 days where the mediator is from the ministry, the BPN Regional Office or the Land Office. In the event that a mediation is found an agreement, then a peace agreement is made based on the mediation minutes which bind the parties. After that, the peace agreement was registered with the Registrar of the local District Court to obtain binding legal force.Keyword : Dispute, Penal Mediation, Double Certificate
PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KONSULTAN DALAM KONTRAK KERJA DENGAN PEMERINTAH STUDI PADA PT. MEGA SURYA KONSULTAN DI PANGKALAN BUN KALIMANTAN TENGAH DENNY PURNAMA, ST NIM. A212141094, Jurnal Mahasiswa S2 Hukum UNTAN
Jurnal NESTOR Magister Hukum Vol 1, No 1 (2016): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN
Publisher : Jurnal NESTOR Magister Hukum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTThis thesis discusses the legal protection of the employment contract with the consultant in a government study on PT. mega solar consultant in Central Kalimantan bun base. of the results of this thesis can be concluded that the patterns that occur within the legal relationship between the employment contract consultant pt. mega solar consultant with the local government of West Kotawaringin the department of agriculture and animal husbandry with the agreement of infrastructure provision of appropriate agricultural technology plantation technical planning work the farm road to the agreement or contract to carry out construction work packages. Obstacles faced to give legal protection to consultants in the employment agreement with the government of West Kotawaringin namely the absence of legal protection against the consultants in carrying out consultancy in order to provide legal certainty to the consultants who are working, there are some clauses that incriminating consultants in carrying out the consultation include: termination contracts and termination of contracts, fines and restitution, as well as force majeure, contract work should be done so as to bring justice to each of the parties in a balanced way, including the existence of legislation specifically governing consulting services, thus providing legal certainty in doing employment and protection of consulting services. Contract clauses which provide benefits to the consultant in the implementation and completion of the employment contract, including the extended time of work, cooperation between providers with sub providers, the clause of the contract price, the peace clause in the employment contract, and the peace clause in the employment contract. Recommendations to shift the pattern of legal relations governed by the contract between the parties with the other parties to the agreements made in order to warrant the presence of an engagement on both sides. For the creation of legislation that specifically regulates the Consulting Services performed by the Consultant in order to provide legal certainty and legal protection in their work. In order for the inclusion of a clause in the contract between the Regional Government Kotawaringin by the Company that provides Consulting Services conducted in a2fair and balanced so as to produce an employment contract in accordance with the expectations of both parties.Keywords: Legal Protection, Against, Consultant, In, Work Contract.ABSTRAKTesis ini membahas perlindungan hukum terhadap konsultan dalam kontrak kerja dengan pemerintah studi pada PT. mega surya konsultan di pangkalan bun kalimantan tengah. dari hasil penelitian tesis ini diperoleh kesimpulan bahwa pola-pola hubungan hukum yang terjadi didalam kontrak kerja antara konsultan pt. mega surya konsultan dengan pemerintah daerah kabupaten kotawaringin barat dinas pertanian dan peternakan yakni dengan surat perjanjian pengadaan sarana prasarana tekhnologi pertanian perkebunan tepat guna pekerjaan perencanaan teknis jalan usaha tani yakni dengan surat perjanjian atau kontrak untuk melaksanakan paket pekerjaan jasa konstruksi. Kendala yang dihadapi untuk memberikan perlindungan hukum kepada konsultan dalam perjanjian kontrak kerja dengan pemerintah kabupaten kotawaringin barat yaitu belum adanya payung hukum terhadap konsultan dalam melaksanakan konsultansi dalam rangka memberikan kepastian hukum pada konsultan yang bekerja, adanya beberapa klausa yang memberatkan konsultan dalam melaksanakan konsultansi diantaranya : penghentian kontrak dan pemutusan kontrak, denda dan ganti rugi, serta keadaan kahar, Kontrak kerja yang seharusnya dilakukan sehingga memberikan keadilan kepada masing-masing pihak secara seimbang, diantaranya adanya peraturan perundang-undangan yang khusus mengatur mengenai jasa konsultansi, sehingga memberikan asas kepastian hukum dalam melakukan pekerjaan dan perlindungan terhadap jasa konsultansi. Klausa kontrak yang memberikan keuntungan kepada pihak konsultan dalam pelaksanaan dan penyelesaian kontrak kerja, diantaranya perpanjangan waktu pelaksanaan kerja, kerjasama antara penyedia dengan sub penyedia, adanya klausa harga kontrak, klausa perdamaian dalam kontrak kerja, dan klausa perdamaian dalam kontrak kerja. Rekomendasi agar pola hubungan hukum diatur melalui kontrak kerja antara satu pihak dengan pihak lainnya dilakukan dengan perjanjian kerja guna manjamin adanya suatu perikatan pada kedua belah pihak. Agar dibentuk Peraturan Perundang-undangan yang khusus mengatur mengenai Jasa Konsultansi yang dilakukan oleh Konsultan sehingga dapat memberikan kepastian hukum dan perlindungan hukum dalam melakukan pekerjaannya. Supaya dalam pencantuman klausa kontrak kerja antara pihak Pemerintah Daerah Kabupaten Kotawaringin dengan Perusahaan yang memberikan Jasa Konsultan dilakukan secara adil dan seimbang sehingga menghasilkan kontrak kerja yang sesuai dengan harapan antara kedua belah pihak.Kata Kunci: Perlindungan Hukum, Terhadap, Konsultan, Dalam, Kontrak Kerja.
KAJIAN ASPEK HUKUM TERHADAP PEMBERLAKUAN JAMINAN PENAWARAN PADA PELELANGAN JASA PELAKSANAAN KONSTRUKSI (Studi Pada Pelelangan Satker Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah I Provinsi Kalimantan Barat)” HERMAN, S.T. NPM.A2021151065, JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN
Jurnal NESTOR Magister Hukum Vol 1, No 1 (2017): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN
Publisher : Jurnal NESTOR Magister Hukum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTThis thesis discusses Legal Aspect Review on the Enforcement of Bid Security at Auction of Construction Implementation Service (Study On The Auction of Implementation Working Unit of Region I National Road of West Kalimantan Province). The approach method used in this research is sociological normatife approach. Enforcement of Bid Security Requirements at Auction of Construction Implementation Services In Perpres No. 4 of 2015 In Delete. The implementation of E-Tendering shall be carried out under the following conditions: No Bid Security shall be required, no qualification shall be required, if the bid is less than 3 (three) participants, the selection of the provider shall be followed by technical negotiation and price / cost, no counter appeal is required Selection of Consultant, shortlist of 3 (three) to 5 (five) Consultants, Simple Selection is done by post-qualification method. Presidential Institution In Making Presidential Regulation Number 4 Year 2015 Concerning Fourth Amendment Of Presidential Regulation Number 54 Year 2010 About Procurement of Government Goods / Services Contrary With Norms Of Law Which Is Above That Is A Construction Service Law Number 18 Year 1999 Which To Cover And Become One Of The Source Of Law . The Presidential Regulation in the enactment of Presidential Regulation No. 4 of 2015 concerning the fourth amendment of Presidential Decree Number 54 Year 2010 concerning Procurement of Government Goods / Services shall begin to imply the necessity of procurement managers, both committing officers and procurement committee and procurement officials, to be eligible from eligible personnel , Both integrity, managerial and competence. The requirements specified in the Presidential Regulation in the enactment of Presidential Regulation No. 4 of 2015 concerning the fourth amendment of Presidential Regulation Number 54 Year 2010 concerning Procurement of Government Goods / Services illustrates that the parties involved in it have different focus on the requirements of competence. Competence ranging from aspects of leadership, technical and managerial. The Presidential Regulation shall be a Legislation stipulated by the President to enforce higher orders of the Law and in the exercise of governmental power. Policy of the Ministry of Public Works and Public Housing In Carrying Out Auction of Construction Service Implementation Related to Presidential Decree Number 4 of 2015. Presidential Regulation No. 4 of 2015 on Fourth Amendment Perpres No. 54 of 2010 on Article 23 paragraph (2) which is: K / L / D / I provide support costs for the implementation of Procurement of Goods / Services financed from the APBN / APBD, which includes the honorarium of the Procurement organization personnel including the technical team, the support team and project staff, the cost of announcing Procurement of Goods / Services including the cost of re-announcement, the cost of duplicating the Document Procurement of Goods / Services and other necessary costs. Recommendation: The government needs to socialize Presidential Decree number 80 year 2003 and then regulated in more detail at Perpres number 54 year 2010. And berdasrkan President in making Presidential Regulation No. 4 of 2015 about the fourth change of Presidential Regulation No. 54 of 2010 on Procurement of goods / services contrary to the Government With legal norms that are above it is the Construction Services Act No. 18 of 1999 which shade and become one of the source of Law. Socializing the Implementation of Bid Security Requirements At Auction Construction Service Implementation In Presidential Regulation Number 4 Year 2015 has been deleted. ABSTRAKTesis ini membahas Kajian Aspek Hukum Terhadap Pemberlakuan Jaminan Penawaran Pada Pelelangan Jasa Pelaksanaan Konstruksi (Studi Pada Pelelangan Satker Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah I Provinsi Kalimantan Barat). Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan normatife sosiologis. Pemberlakuan Persyaratan Jaminan Penawaran Pada Pelelangan Jasa Pelaksanaan Kontruksi Di Dalam Perpres Nomor 4 Tahun 2015 Di Hapus. Pelaksanaan E-Tendering dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut : tidak diperlukan Jaminan Penawaran, tidak diperlukan sanggahan kualifikasi, apabila penawaran yang masuk kurang dari 3 (tiga) peserta, pemilihan penyedia dilanjutkan dengan dilakukan negosiasi teknis dan harga/biaya, tidak diperlukan sanggahan banding, untuk pemilihan Penyedia Jasa Konsultansi, daftar pendek berjumlah 3 (tiga) sampai 5 (lima) penyedia Jasa Konsultansi, Seleksi sederhana dilakukan dengan metode pasca kualfikasi. Lembaga Kepresidenan Dalam Membuat Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun 2015 Tentang Perubahan Keempat Dari Perpres Nomor 54 Tahun 2010 Tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Bertentangan Dengan Norma Hukum Yang Berada Diatasnya Yaitu Undang-Undang Jasa Konstruksi Nomor 18 Tahun 1999 Yang Menaungi Serta Menjadi Salah Satu Sumber Hukum. Peraturan Presiden dalam membuat Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun 2015 tentang perubahan keempat dari Perpres Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah sendiri mulai mengisyaratkan perlunya pengelola pengadaan, baik pejabat pembuat komitmen maupun panitia pengadaan dan pejabat pengadaan, harus dipilih dari personil yang memenuhi syarat, baik integritas, manajerial maupun kompetensi. Persyaratan-persyaratan yang disebutkan dalam Peraturan Presiden dalam membuat Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun 2015 tentang perubahan keempat dari Perpres Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah memberi gambaran bahwa para pihak yang terlibat didalamnya memiliki perbedaan fokus persyaratan kompetensi. Kompetensi tersebut mulai dari aspek kepemimpinan, teknis maupun manajerial. Peraturan Presiden adalah Peraturan Perundang-undangan yang ditetapkan oleh Presiden untuk menjalankan perintah Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi atau dalam menyelenggarakan kekuasaan pemerintahan. Kebijakan Kementerian Pekerjaan Umum Dan Perumahan Rakyat Dalam Melaksanakan Pelelangan Jasa Pelaksanaan Konstruksi Kaitannya Dengan Perpres Nomor 4 Tahun 2015. Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun 2015 tentang Perubahan Keempat Perpres Nomor 54 Tahun 2010 pada Pasal 23 ayat (2) yang isinya : K/L/D/I menyediakan biaya pendukung pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa yang dibiayai dari APBN/APBD, yang meliputi honorarium personil organisasi Pengadaan Barang/Jasa termasuk tim teknis, tim pendukung dan staf proyek, biaya pengumuman  Pengadaan  Barang/Jasa  termasuk biaya pengumuman ulang, biaya penggandaan  Dokumen Pengadaan Barang/Jasa dan biaya lainnya yang diperlukan. Rekomendasi : Pemerintah perlu mensosialisasikan Keppres nomor 80 tahun 2003 dan kemudian diatur lebih detail lagi pada Perpres nomor 54 tahun 2010. Dan berdasrkan Presiden dalam membuat Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun 2015 tentang perubahan keempat dari Perpres Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah bertentangan dengan Norma Hukum yang berada diatasnya yaitu Undang-Undang Jasa Konstruksi Nomor 18 Tahun 1999 yang menaungi serta menjadi salah satu sumber Hukum. Mensosialisasikan Pemberlakuan Persyaratan Jaminan Penawaran Pada Pelelangan Jasa Pelaksanaan Kontruksi Di Dalam Perpres Nomor 4 Tahun 2015 telah di hapus. Kata Kunci : Aspek Hukum,Jamaninan Penawaran, Pelelangan,Jasa Kontruksi.
ANALISIS YURIDIS PENGGANTIAN ANTAR WAKTU (PAW)ANGGOTA DPRD KOTA PONTIANAK YANG TERKAIT KASUS TINDAK PIDANA (STUDY KASUS PADA ANGGOTA DPRD KOTA PONTIANAK) NPM. A2021141011, DEDDY SUPRIANTO
Jurnal NESTOR Magister Hukum Vol 4, No 4 (2018): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN
Publisher : Jurnal NESTOR Magister Hukum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Tesis ini menitik beratkan pada pergantian antar waktu ( PAW) yang selama ini tidak dilaksanakan sesuai aturan yang ada. Partai politik adalah pilar demokrasi. Jika pilar ini tidak lagi dipercaya oleh rakyat, maka hal itu merupakan ancaman serius terhadap keberlangsungan demokrasi di Indonesia. Dengan demikian, mengembalikan partai politik kepada jalur yang benar dalam arus demokratisasi di Indonesia menjadi tanggung jawab kita semua. Partai politik juga bukan sekedar organisasi tempat berkumpulnya politisi, tetapi juga dapat menjalankan fungsinya bagi kepentingan masyarakat. Dengan demikian dalam sistem demokrasi, partai memegang peranan yang sangat penting. Bahwa yang menjadi faktor yang melatarbelakangi terjadinya Penggantian Antar Waktu (PAW) adalah Penggantian Antar Waktu (PAW) menjadi alat efektif untuk menyingkirkan anggota dewan yang berseberangan dengan kepentingan penguasa. Pada saat ini sekarang Penggantian Antar Waktu (PAW) menjadi alat efektif untuk menyingkirkan anggota dewan yang berseberangan dengan kepentingan pengurus partai politik.Akibatnya eksistensi anggota dewan sangat tergantung oleh selera pengurus partaipolitik, sehingga menggeser orientasi anggota dewan menjadi penyalur kepentingan pengurus partai politik.Padahal keberadaan anggota dewan karena dipilih oleh rakyat dalam suatu pemilihan umum yang bersifat langsung, bebas, rahasia, jujur dan adil.Bila suatu partai politik mengajukan calon pengganti menurut nomor urut berdasar daerah pemilihan yang kurang jelas dan menimbulkan banyak penafsiran. Ketidakjelasan seperti ini akan menimbulkan konflik internal dalam partai karena sebagian pengurus partai (khususnya tingkat pusat) lebih memilih nomor urut menurut daerah pemilihan, sedangkan sebagian lagi (khususnya tingkat daerah) cenderung memilih nomor urut menurut wilayah yang diwakili.Untuk mengatasi situasi pada Saat ini sudah seharusnya pihak Partai membentuk satu wadah atau lembaga yang sifatnya permanen untuk menyelesaikan perselisihan partai politik sebagaimana yang diamanatkan oleh Undang-undang Nomor 2 tahun 2011 pasal 32 dan pasal 33 tentang Partai Politik. Bahwa dalam pemahaman Penggugat penyelesaian perselisihan partai politik di tubuh Partai itu sifatnya hanya kasuistik, dalam artian bahwa selama ini proses penyelesaian perselisihan partai politik dalam tubuh Partai tentang pedoman penyelesaian perselisihan internal Partai, dimana dalam ketentuan tersebut (pasal 8 ayat 1) menyebutkan ?dalam upaya penyelesaian perselisihan, Dewan Pimpinan Pusat Partai dapat membentuk sebuah Dewan Kehormatan?. Padahal dalam amanah UU. No. 2 tahun 2011 maka setiap Partai Politik diwajibkan membentuk suatu wadah/lembaga yang sifatnya permanen untuk menyelesaikan perselisihan partai politik, dengan demikian Dewan Kehormatan itu hanya sewaktu-waktu dapat dibentuk dan dapat pula tidak dibentuk oleh Dewan Pimpinan Pusat Partai, sehingga hal itu dapat menghambat/ memperlama upaya kader baik sebagai pengurus maupun bukan pengurus untuk mempercepat proses penyelesaian perselisihan partai politik. Kata kunci : penggantian antar waktu (PAW) anggota DPRD Kota pontianak, terkait kasus tindak pidana.     ABSTRACT This thesis focuses on the recall of legislative members which has not been implemented in accordance with the existing rules. Political parties are the pillars of democracy. If these pillars are no longer trusted by the people, then it is a serious threat to the sustainability of democracy in Indonesia. Thus, restoring political parties to the right path in the dynamics of democracy in Indonesia is our responsibility. Political parties are not only an organization where politicians gather, but they can also perform their functions for the benefit of society. Thus in the democratic system, the party plays a very important role. That the factor behind the occurrence of parliament member recall is an effective tool to get rid of those who are opposed to the interests of the authorities. Nowadays, the recall of parliament members is an effective tool for removing those who are opposed to the interests of political party leaders. As a result, the existence of the members of the parliament depends on the political party's interest, thus shifting the parliament member's orientation into the channeling of the interests of the party's executive board. Whereas the parliament members are elected by the people in a direct, free, confidential, honest and fair elections. When a political party submits a substitute candidate according to the running number based on unclear electoral wards raises many interpretations.Such ambiguity will lead to internal conflicts within the party because some party executives (especially at the central level) prefer running numbers by electoral wards, while others (especially the local level) tend to choose the running numbers according to the region they represent.To overcome such situation, political parties should form a permanent institution to resolve the dispute as mandated by Law No. 2 of 2011 article 32 and article 33 concerning Political Parties. Whereas in the Plaintiff?s view, the settlement of political party disputes in the party's body is only casuistic in the sense that during this process the settlement of political party disputes within the Party concerning internal party dispute settlement guidelines, where in the provisions referred to (Article 8 paragraph 1) mention that in dispute resolution efforts, the Party Central Executive Board may establish an Honorary Board ". Whereas in the mandate of the Law No. 2 of 2011 then every Political Party is obliged to form a permanent institution to resolve the dispute of political party, thus the Honorary Council may or may not be established at any time by the Party's Central Executive Board, so that it may impede the cadre's efforts either as party executive board or not to accelerate the process of settling political party disputes. Keywords: Recall of Pontianak City Local Parliament members related to criminal case
SISTEM RESI GUDANG DALAM HUBUNGANNYA DENGAN UPAYA MENCEGAH ANJLOKNYA HARGA KOMODITI HASIL BUMI DALAM LALU LINTAS PERDAGANGAN (Studi Terhadap Produk Karet Di Kabupaten Kapuas Hulu) YA' MUHAMMAD ILYAS, SH A.21211030, Jurnal Mahasiswa S2 Hukum UNTAN
Jurnal NESTOR Magister Hukum Vol 1, No 1 (2016): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN
Publisher : Jurnal NESTOR Magister Hukum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTThis thesis warehouse receipt system in conjunction with an effort to prevent the drop in commodity prices on agricultural products in trade traffic (study of rubber products in Kapuas Hulu). The method used in this research is a sociological juridical approach. From the results of this thesis can be concluded that the implementation of Law No. 9 In 2011 in relation to the drop in commodity prices of rubber in Kapuas Hulu associated with commodity warehouse receipt system for rubber, especially in the research area is not ready both in terms of business, institutional and facilities and infrastructure that digunakan.Upaya measures what it is supposed to do for maintaining price stability commodity rubber in Kapuas Hulu, there are four efforts so that the implementation of warehouse receipt system komodti rubber can be realized, namely the commitment of the head of local government, the integration of institutions in one place, education and socialization, increase production and quality as well as the presence taker / buyer / market auction. Recommendation: The technical approach SRG implementation involving agencies not only trade but also services department of agriculture or plantation. In addition, the need to bring the socialization of farmers who have benefited from the use of SRG. Counseling and assistance for farmers to improve the quality and the quality of production in order to meet the quality standards required for entry into the warehouse receipt system. It also needs to be synergized with the program improved productivity and quality of agricultural products from institutions terkait.Penguatan institutions at the farm level, either in the form farmer groups and cooperatives to achieve economies of scale. To coordinated development of the means of testing the quality of goods at production centers that do not have Reviews These facilities. There needs to be a synergy between SRG implementing agencies such as warehouse manager, financial institutions, quality assurance agencies, local Governments and the central government in implementing SRG. It needs a party acting as an off taker for commodities pledged to provide certainty for financial institutions and eg warehouse manager for commodity grain and rice, off taker when it is bulog.Pengembangan warehouse receipt system in the area Carried out simultaneously with the development of the market so that when the auction there are no persons acting as an off taker, still there is no assurance that the collateral can be sold at a decent price.Keywords: System, Warehouse Receipt, Commodity Prices, The Earth, In, Traffic, Commerce.ABSTRAKTesis ini sistem resi gudang dalam hubungannya dengan upaya mencegah anjloknya harga komoditi hasil bumi dalam lalu lintas perdagangan (studi terhadap produk karet di Kabupaten Kapuas Hulu). Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan yuridis sosiologis. Dari hasil penelitian tesis ini diperoleh kesimpulan Bahwa implementasi Undang-Undang No. 9 Tahun 2011 dalam hubungan dengan anjloknya harga komoditi karet di Kabupaten Kapuas Hulu terkait dengan sistem resi gudang untuk komoditi karet terutama pada daerah penelitian belum siap baik dari sisi pelaku usaha, kelembagaan maupun sarana dan prasaran yang digunakan.Upaya-upaya apa yang seharusnya dilakukan untuk menjaga kestabilan harga komiditi karet di Kabupaten Kapuas Hulu terdapat empat upaya agar implementasi sistem resi gudang komodti karet dapat terwujud, yaitu adanya komitmen kepala pemerintah daerah, terintegrasinya kelembagaan dalam satu tempat, edukasi dan sosialisasi, peningkatan produksi dan mutu serta terdapatnya offtaker/buyer/pasar lelang. Rekomendasi : Sosialisasi teknis pelaksanaan SRG yang melibatkan instansi terkait bukan hanya dinas perdagangan tetapi juga dinas pertanian atau perkebunan. Selain itu, sosialisasi perlu menghadirkan petani yang telah mendapat manfaat dari penggunaan SRG. Penyuluhan dan pendampingan bagi petani untuk meningkatkan kualitas dan mutu hasil produksi agar memenuhi standar mutu yang dipersyaratkan untuk masuk dalam sistem resi gudang. Hal ini juga perlu disinergikan dengan program peningkatan produktivitas dan kualitas hasil pertanian dari lembaga terkait.Penguatan lembaga di tingkat petani, baik dalam bentuk kelompok tani maupun koperasi untuk mencapai skala ekonomis. Perlu dikoordinasikan pembangunan sarana penguji mutu barang di daerah sentra produksi yang belum memiliki sarana tersebut. Perlu adanya sinergitas antar lembaga pelaksana SRG seperti pengelola gudang, lembaga pembiayaan, lembaga penjamin mutu, pemerintah daerah dan pemerintah pusat dalam mengimplementasikan SRG. Perlu adanya pihak yang bertindak sebagai off taker bagi komoditas yang diagunkan untuk memberikan kepastian bagi lembaga pembiayaan dan pengelola gudang misalnya untuk komoditas gabah dan beras, off taker-nya adalah bulog.Pengembangan sistem resi gudang di daerah dilakukan secara simultan dengan pengembangan pasar lelang sehingga apabila tidak terdapat pihak yang bertindak sebagai off taker, masih terdapat kepastian bahwa agunan dapat dijual dengan harga yang layak.Kata Kunci: Sistem, Resi Gudang, Harga Komoditi, Hasil Bumi, Dalam, Lalu Lintas, Perdagangan.

Filter by Year

2009 2019


Filter By Issues
All Issue Vol 4, No 4 (2019): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 3, No 3 (2019): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 2, No 2 (2019): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 1, No 1 (2019): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 4, No 4 (2018): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 3, No 3 (2018): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 2, No 2 (2018): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 1, No 1 (2018): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 4, No 4 (2017): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 3, No 3 (2017): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 2, No 2 (2017): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 1, No 1 (2017): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 3, No 3 (2016): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 2, No 2 (2016): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 1, No 1 (2016): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 9, No 2 (2015): Jurnal Nestor - 2015 - 2 Vol 8, No 1 (2015): Jurnal Nestor - 2015 - 1 Vol 4, No 4 (2015): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 3, No 3 (2015): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 2, No 2 (2015): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 1, No 1 (2015): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 3, No 4 (2014): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 2, No 3 (2014): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 2, No 2 (2014): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 1, No 1 (2014): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 3, No 5 (2013): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 2, No 4 (2013): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 2, No 3 (2013): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 8, No 1 (2012): Jurnal Nestor - 2012 - 1 Vol 2, No 2 (2012): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 7, No 2 (2010): Jurnal Nestor - 2010 - 2 Vol 7, No 1 (2010): Jurnal Nestor - 2010 - 1 Vol 6, No 2 (2009): Jurnal Nestor - 2009 - 2 Vol 6, No 1 (2009): Jurnal Nestor - 2009 - 1 More Issue