cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
Jurnal NESTOR Magister Hukum
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 535 Documents
PENERAPAN RESTORATIVE JUSTICE TERHADAP ANAK SEBAGAI PELAKU TINDAK PIDANA ASUSILA (Study Kasus Putusan Pengadilan Negeri Mempawah Nomor : 2/Pid.Sus-Anak/2015/PN. Mpw) LANORA SIREGAR, SH NIM. A.2021131063, Jurnal Mahasiswa S2 Hukum UNTAN
Jurnal NESTOR Magister Hukum Vol 1, No 1 (2016): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN
Publisher : Jurnal NESTOR Magister Hukum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

HumSahata Simamora, SH., MHABSTRACTThis thesis discusses the application of restorative justice against children as a criminal immoral (Study Mempawah District Court Nomor 2/Pid.Sus-Anak/2015/PN. MPW). The method used in this research is normative and empirical legal approach. From the results of this thesis can be concluded that the effectiveness of restorative justice against children as a criminal Mempawah sacrilegious in the District Court relating to Decision Nomor 2/Pid.Sus-Anak/2015/PN. MPW that the judge did not give Restorative Justice diversion of children who commit criminal acts immoral, seen in the judge's ruling the judge only institute and pay attention to article 3 of the Criminal Code perma No. 4 of 2014 on guidelines for the implementation of diversion in the juvenile criminal justice system. In a copy of the judge's decision not to consider laws - laws protecting children, the criminal justice system of children and perma article 2 before article 3 that is known in this article provides an opportunity for victims and perpetrators to resolve this criminal act by consensus as contained in the perma number 4 in 2014. that some limiting factor in the implementation of restorative justice as an alternative implementation of the punishment against children in conflict with the law, among others, are still very limited physical aspect of the building where the implementation of restorative justice, as well as non-physical, namely the unavailability of trained professionals such as doctors, psychologists, energy skills instructors and educators in various places where children were placed during the handling of legal proceedings. Factors legal substance, as a model of restorative justicehas not been explicitly prescribed in the legislation, although in Law No. 11 of 2012 on the Criminal Justice System Child has arranged but until now has not been declared valid. Factor structure of the law, the implementation of the application of restorative justice as an alternative in the execution of punishment on children in conflict with the law attributable to the number of law enforcement officers from the level of the investigation, to the execution of court decisions held at the Correctional Institution is still a deep understanding of the concept of restorative justice as a settlement in the treatment of children in conflict with the law, which is still limited understanding of who owned the sense semantically or language, so that the principles and values contained in the restorative justice is still less they understand. Factors still attached to the paradox of a culture of people who think that every crime should be rewarded with imprisonment / punishment and will not make again behavior forgive the perpetrator by the victim associated with the suffering experienced by the victims of the crimes committed by the offender, and the absence of sanctions for law enforcement agencies that do not implement restorative justice and diversion in the treatment of children in conflict with the law although it is set in the legislation.Keywords: Application, Restorative Justice, Against Children, As an Actor, Crime immoral.
ANALISIS YURIDIS TERHADAP TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB KONSULTAN HUKUM PASAR MODAL DALAM MEMBERIKAN JASA HUKUM TERKAIT TRANSPARANSI PERUSAHAAN YANG AKAN GO PUBLIK NPM. A21212073, SYAHRI, SH
Jurnal NESTOR Magister Hukum Vol 4, No 4 (2018): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN
Publisher : Jurnal NESTOR Magister Hukum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT  This thesis discusses the Juridical Analysis of the Duties and Responsibilities of Capital Market Legal Consultants in Providing Legal Services Regarding Transparency of Companies That Will Go Public. From the results of this thesis research, it was concluded that the Duties and Responsibilities of Capital Market Legal Consultants in Providing Legal Services to Companies That Will Go Public is to help clear all legal aspects of a company that will go public, by providing advice and opinions needed by the issuer, also his opinion about the issuer itself which was published in the prospectus issued in the framework of emissions. This is realized by making legal audits and legal opinions. Legal audit is used by a capital market legal consultant as a basis for making legal opinions. This legal opinion must be included in the prospectus made by the Issuer. Legal consultants as capital market brokers have an important role in the public offering process (go public). Because every information contained in the prospectus requires professional responsibility. Constraints Faced by Capital Market Legal Consultants in Providing Legal Services to Realize Transparency of Companies That Will Go Public is the accountability of the supporting profession, the Capital Market Law requires that to be able to conduct activities in the professional capital market must first be registered with Bapepam, with this registered requirement, Bapepam not only can control the activities of the supporting profession, but also requires minimum skill standards to be active in the capital market industry. Therefore, supervision can also be carried out more effectively because Bapepam can easily ask for accountability from supporting professional personnel for every work it does. In addition to requiring registration of supporting professions, the Capital Market Law also expressly states that every capital market supporting profession must comply with the code of ethics and professional standards set by their respective professional associations, as long as they do not conflict with the Capital Market Law and / or implementing regulations. Recommendation: Capital Market Legal Consultants in Providing Legal Services to Companies That Will Go Public must work by paying attention to the Code of Ethics of their profession. Companies that Go Public will need to make internal improvements to the company and prepare as well as possible all the requirements and procedures to go publicly planned in 2018. Keywords: Responsibility, Legal Consultant, Capital Market.   ABSTRAK  Tesis ini membahas Analisis Yuridis Terhadap Tugas Dan Tanggung Jawab Konsultan Hukum Pasar Modal Dalam Memberikan Jasa Hukum Terkait Transparansi Perusahaan Yang Akan Go Publik. Dari hasil penelitian tesis ini diperoleh kesimpulan bahwa Tugas Dan Tanggung Jawab Konsultan Hukum Pasar Modal Dalam Memberikan Jasa Hukum Terhadap Perusahaan Yang Akan Go Public ialah membantu membereskan segala aspek hukum suatu perusahaan yang akan go publik, dengan jalan memberikan nasehat dan pendapat yang diperlukan oleh emiten, juga pendapatnya tentang emiten sendiri yang dimuat dalam prospektus yang diterbitkan dalam rangka emisi. Hal tersebut diwujudkan dengan pembuatan legal audit (pemeriksaan hukum) dan legal opinion (pendapat hukum). Legal audit dipakai oleh seorang Konsultan hukum pasar modal sebagai landasan untuk membuat legal opinion. Legal opinion ini wajib dimuat dalam prospektus yang dibuat oleh Emiten. Konsultan hukum sebagai profesi penujang pasar modal mempunyai peranan penting dalam proses penawaran umum (go public). Karena setiap informasi yang ada di dalam prospektus membutuhkan tanggung jawab secara profesional.Kendala Yang Dihadapi Oleh Konsultan Hukum Pasar Modal Dalam Memberikan Jasa Hukum Untuk Mewujudkan Transparansi Perusahaan Yang Akan Go Public ialah pertanggungjawaban profesi penunjang, UUPM mensyaratkan bahwa untuk dapat melakukan kegiatan di pasar modal profesi penunjang wajib terlebih dahulu terdaftar di Bapepam, dengan persyaratan terdaftar ini, Bapepam bukan saja dapat melakukan pengontrolan atas aktivitas profesi penunjang, tetapi juga mensyaratkan standar kecakapan minimum untuk dapat aktif di industri pasar modal. Dengan demikian pengawasan juga dapat dilakukan lebih efektif karena Bapepam dapat dengan mudah meminta pertanggungjawaban dari personil profesi penunjang atas setiap pekerjaan yang dilakukannya. Selain mensyaratkan pendaftaran atas profesi penunjang, UUPM juga secara tegas menyatakan bahwa setiap profesi penunjang pasar modal wajib menaati kode etik dan standar profesi yang ditetapkan oleh asosiasi profesi masing-masing, sepanjang tidak bertentangan dengan UUPM dan atau peraturan pelaksanaannya. Rekomendasi : Konsultan Hukum Pasar Modal Dalam Memberikan Jasa Hukum Terhadap Perusahaan Yang Akan Go Public haruslah bekerja dengan memperhatikan Kode Etik profesinya. Perusahaan yang akan Go Publik perlu melakukan perbaikan internal perseroan dan menyiapkan sebaik mungkin semua persyaratan dan prosedur menuju jenjang go public yang direncanakan pada tahun 2018.  Kata Kunci : Tanggung Jawab, Konsultan Hukum, Pasar Modal.
WAJIB LATIHAN KERJA SEBAGAI HUKUMAN ALTERNATIF DALAM SISTEM PERADILAN PIDANA ANAK (STUDI KASUS PADA LEMBAGA PEMBINAAN KHUSUS ANAK PONTIANAK) LINA ANGGRAINI,S.Pd A.202131059, Jurnal Mahasiswa S2 Hukum UNTAN
Jurnal NESTOR Magister Hukum Vol 3, No 3 (2016): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN
Publisher : Jurnal NESTOR Magister Hukum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTThis thesis addresses the issue mandatory job training as an alternative punishment in the juvenile justice system (a case study on child Correctional Lambaga class II B pontianak). The method used in this study is a research method by using sociological juridical approach ,. The results showed that: That the mandatory implementation of vocational training as a substitute for criminal fines for children at Children's Penitentiary Class II B Pontianak to do with the rights of children to education has not been effective because of weak oversight or program that is not right. That the purpose of compulsory job training in lieu of a criminal penalty so that children have the skills mantab to say a professional in their field has not been achieved for a given program is holistic, ketidaktersediaannya funds so it must surrender the child to be fostered private parties, and the absence of intensive supervision by the Department of Social West Kalimantan resulted in all child activities are strictly controlled by private parties. That the imposition of imprisonment and fines with the employment of the subsidiary shall exercise brat child should be consideration of the judge to specify where or which agency authorized to implement the mandatory vocational training. So that the Public Prosecutor had no trouble in carrying out the court's ruling. It is necessary for an understanding in applying Act No. 11 of 2011 in lieu of No. 3 of 1997 on Juvenile Justice, so that law enforcement officials, especially judges of children, can ensure legal certainty to a sense of justice for the child. Recommendation: The government provides the implementing legislation of a technical nature regarding the implementation of compulsory secondary vocational training along with the facilities and infrastructure required lengkap.Program job training in lieu of a criminal penalty diperleh advanced study skills for coaching children in prisons are tailored to the interests and talents anak.Mengadakan evaluation and facilitate children who carry out compulsory job training in lieu of criminal fine for kids to get a job.ABSTRAKTesis ini membahas masalah wajib latihan kerja sebagai hukuman alternatif dalam sistem peradilan pidana anak (studi kasus pada lambaga permasyarakatan anak kelas II B pontianak). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian dengan menggunakan pendekatan yuridis sosiologis,. Hasil penelitian menunjukkan2bahwa: Bahwa pelaksanaan wajib latihan kerja sebagai pengganti pidana denda bagi anak di Lembaga Pemasyarakatan Anak Klas II B Pontianak hubungannya dengan hak anak untuk mendapatkan pendidikan belum efektif karena lemahnya pengawasan atau program yang belum tepat. Bahwa tujuan pelaksanaan wajib latihan kerja sebagai pengganti pidana denda agar anak mempunyai keterampilan mantab untuk dikatakan seorang profesional dibidangnya belum dicapai karena program yang diberikan masih bersifat holistik, ketidaktersediaannya dana sehingga harus menyerahkan anak untuk dibina pihak swasta, dan tidak adanya pengawasan intensif oleh pihak Dinas Sosial Kalimantan Barat mengakibatkan semua aktivitas anak dikontrol secara ketat oleh pihak swasta.Bahwa Penjatuhan pidana penjara dan denda dengan subsidair wajib latihan kerja terhadap anak nakal seharusnya menjadi pertimbangan hakim anak untuk mencantumkan tempat atau lembaga mana yang berwenang melaksanakan wajib latihan kerja tersebut. Agar Jaksa Penuntut Umum tidak kesulitan dalam melaksanakan putusan pengadilan tersebut. Untuk itu diperlukan pemahaman dalam menerapkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2011 sebagai penganti Nomor 3 tahun 1997 Tentang Pengadilan Anak, sehingga aparat penegak hukum, khususnya hakim anak, dapat menjamin kepastian hukum guna terciptanya rasa keadilan bagi anak tersebut. Rekomendasi : Pemerintah menyediakan peraturan perundang-undangan pelaksana yang bersifat teknis mengenai pelaksanaan subsider wajib latihan kerja beserta sarana dan prasarana yang lengkap.Program wajib latihan kerja sebagai pengganti pidana denda merupakan studi lanjutan keterampilan yang diperleh anak selama pembinaan di Lapas yang disesuaikan dengan minat dan bakat anak.Mengadakan evaluasi dan memfasilitasi anak yang melaksanakan wajib latihan kerja sebagai pengganti pidana denda bagi anak untuk memperoleh pekerjaan.Kata Kunci: wajib latihan kerja, hukuman, Sistem Peradilan Pidana Anak.
KEBIJAKAN PEMERINTAH DAERAH TERHADAP KEBERADAAN BANGUNAN DI SEMPADAN SUNGAI DALAM PERSPEKTIF PENATAAN RUANG DAN PERIZINAN BERDASARKANPERDA NOMOR 11 TAHUN 2011 TENTANG BANGUNAN GEDUNG (Studi Kabupaten Sanggau) HELENA ARYU, SH A.2021141028, Jurnal Mahasiswa S2 Hukum UNTAN
Jurnal NESTOR Magister Hukum Vol 2, No 2 (2017): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN
Publisher : Jurnal NESTOR Magister Hukum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakImplementasi kebijakan sebagai salah satu aktivitas dalam proses kebijakan publik, sering bertentangan dengan yang diharapkan, menjadikan produk kebijakan itu menjadi batu sandung bagi pembuat kebijakan itu sendiri. Itulah sebabnya implementasi kebijakan publik, didalamnya terdapat perumusan, implementasi, maupun evaluasi yang pada hakekatnya merupakan pertarungan berbagai kepentingan publik didalam mengalokasikan dan mengelola sumber daya (resources) sesuai dengan visi, harapan dan prioritas yang ingin diwujudkan. Kebijakan berkaitan dengan sistem, prosedur, dan mekanisme, serta kemampuan para pejabat publikdidalam menterjemahkan dan menerapkan kebijakan, sehingga visi dan harapan yang ingin dicapai dapat diwujudkan didalam realitas. Memahami kebijakan publik dari kedua perspektif tersebut secara berimbang dan menyeluruh akan membantu kita lebih mengerti dan maklum mengapa suatu kebijakan tersebut meski telah dirumuskan dengan baik namun dalam implementasinya sulit terwujudkan. Kebijakan yang dilakukan di Kabupaten Sanggau dalam kaitannya dengan penertiban dan penataan kembali khususnya penataan dan penertiban bangunan-bangunan yang berada di sempadan sungai, sampai saat ini masih berlangsung, hal ini terjadi sejak lama, karena salah satunya adalah budaya serta faktor-faktor ketergantungan masyarakat akan keberadaan sungai, selain sebagai alat transportasi, di sisilain sumber air menjadi peran utama keberadaan masyarakat berdiam dan berusaha di sepanjang sempadan sungai. Penelitian ini memberikan gambaran secara umum keberadaan bangunan-bangunan yang berada di sepanjang sempadan sungai di Kabupaten Sanggau, khususnya daerah yang menjadi sentra ekonomi, dalam bentuk pusat-pusat perdagangan masyarakat, yang telah terjadi sejak lama. Bahkan sampai saat sekarang, perlu kebijakan untuk menanggulanginya melalui beberapa instrumen hukum.Kata Kunci : Kebijakan, Bangunan, IMB, dan Pemanfaatan ruang2AbstractImplementation of the policy as one of the activities in the public policy process, often contrary to the expected, making the product policies is the stumbling stone for policy makers themselves. That is why the implementation of public policy, in which there are the formulation, implementation, and evaluation which is essentially a fight various public interest in allocating and managing resources (resources) in accordance with the vision, expectations and priorities to be realized.Policies relating to systems, procedures and mechanisms, as well as the ability of public officials in the translating and implementing policies, so that the vision and expectations achieved can be realized in reality. Understanding public policy from both perspectives in a balanced and thorough will help us better understand and understand why such a policy even if well formulated but the implementation is difficult to materialize.Policy pursued in Sanggau in relation to policing and realignment in particular the arrangement and control of the buildings that were in the river banks, is still in progress, this has happened for a long time, because one of them is cultural as well as factors of dependence on society will existence of rivers, other than as a means of transportation, on the other hand the water source becomes a major role where people dwell and strive along the border river. This study provides a general picture of where the buildings are located along the river banks in the district, especially the areas that became the center of the economy, in the form of trade centers of society, which has been going on for a long time. Even until now, need a policy to mitigate them through several legal instruments.Keywords: Policy, Building, IMB, and the use of space
PERADILAN ADAT SEBAGAI LEMBAGA PENYELESAIAN SENGKETA PADA MASYARAKAT HUKUM ADAT DAYAK KANAYATN, “KAJIAN SOSIO YURIDIS DALAM KONTEKS PEMBANGUNAN HUKUM DI INDONESIA” DRS. YAKOBUS KUMIS NPM.A21212064, JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN
Jurnal NESTOR Magister Hukum Vol 1, No 1 (2018): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN
Publisher : Jurnal NESTOR Magister Hukum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKSI             Adalah sangat urgent bagi Pemerintah kita untuk mengakomodir kearifan local dan peradilan adat sebagai sebuah alternative penyelesaian masalah dalam menangani perkara-perkara yang ada dalam masyarakat adat maupun diluar masyarakat adat, misalnya masalah perkelahian, kesalahpahaman, perceraian, penganiayaan, pembunuhan, kecelakaan lalu lintas, sengketa tanah atau lahan, konflik antar suku dan lain sebagainya, karena peradilan adat, khususnya dalam masyarakat adat Dayak Kanayatn mampu memberikan rasa keadilan dan terbukti mampu menciptakan keseimbangan dan keselarasan dalam komunitas masyarakat adat Dayak Kanayatn di Kalimantan Barat ini. Banyak pihak yang menyadari bahwa hukum adat memiliki daya tarik/daya pikat tersendiri dan sangat efektif bukan hanya proses peradilannya yang cepat, sederhana, biaya murah, tetapi juga yang lebih sangat penting adalah tercapainya rasa keadilan sesuai dengan rasa keadilan masyarakat (yang berdasarkan atas nilai-nilai moral, social, budaya dan prinsip-prinsip keadilan) sebagaimana usaha untuk menemukan kembali dan menciptakan kembali keseimbangan (antara manusia dengan sesamanya, manusia dengan kosmos, dan manusia dengan alam supranatural).            Masyarakat adat Dayak Kanayatn selama ribuan tahun sejak jaman nenek moyangnya telah mempraktekkan hidup bersama dalam sebuah Rumah Panjang yang dinamakan Radakng Aya’ atau disebut dengan Rumah Betang. Mereka hidup dalam kerukunan antara satu sama lain, dengan alam sekitar, dan dengan semesta alam. Di dalam Rumah Panjang ini, semua perkara yang terjadi dianggap sebagai masalah keluarga, sehingga sedapat mungkin diselesaikan secara kekeluargaan dalam keluarga itu sendiri. Asas ini menjadi pilihan utama dalam menyelesaikan perkara. Apabila masalah itu belum bisa diselesaikan, barulah mereka memakai pilihan kedua yakni lewat peradilan adat. Peradilan adat diperankan oleh para tetuta adat yang dalam masyarakat adat Dayak Kanayatn disebut Timanggong, Pasirah dan Pangaraga. Fungsi mereka adalah semata-mata untuk mendamaikan pihak yang berperkara dan bukan terutama untuk menghukum, dan juga untuk memperbaiki hubungan dalam komunitas tersebut. Tidak ada istilah penjara dalam hukum adat sehingga sudah barang tentu hal itu dapat mengurangi lapas-lapas yang overloaded (kelebihan kapasitas) di Indonesia            Ada beberapa asas yang senantiasa dipatuhi oleh masyarakat adat Dayak Kanayatn dalam menyelesaikan perkara adat sebagaimana tercermin dalam ajaran nenek moyang yang disebut dengan istilah Kade Ngusir Ular (kalau mengusir ular) Pamangkong Ame Patah (tongkat untuk memukul jangan sampai patah), Ular Ame Mati (ular jangan sampai mati), Tanah Ame Lamakng(tanah jangan berbekas), Adil Ka’ Talino (setiap orang harus bersikap adil dan jujur kepada sesamanya), Bacuramin Ka’ Saruga (berbuat baik seperti perbuatan dalam surga), Basengat Ka’ Jubata (semua kehidupan berasal dari Tuhan Yang Maha Esa), Adat Labih Jubata Bera (adat yang berlebihan membuat Tuhan marah), Adat Kurang Antu Bera (adat kurang mencukupi membuat Hantu marah). Asas-asas ini harus dipatuhi oleh semua hakim/tetua/pemangku adat dalam menyelesaikan setiap perkara dalam masyarakat adat Dayak Kanayatn. Disamping itu pula, para tetua/pemangku adat harus mempertimbangkan ketiga asas hukum adat yakni asas kerukunan, kepatutan,dan keselarasan dalam menyelesaikan perkara adat.            Hukum adat dalam masyarakat adat Dayak Kanayatn menyatu dengan nilai-nilai social, budaya, dan idiologi masyarakat adat sehingga mudah diterima dan menjadi cerminan yang lebih baik akan rasa keadilan. Selain itu, hal paling penting dalam penyelesaian perkara melalui mekanisme hukum adat adalah menciptakan keselarasan antara makrokosmos dan mikrokosmos. Makna dan peran penting yang dimainkan oleh peradilan tradisional dalam masyarakat adat membuat peradilan adat sebagai sebuah bentuk alternatif penyelesaian sengketa yang adil di saat peradilan Negara tidak memberikan solusi bagi pencapaian rasa keadilan masyarakat dan peradilan adat yang cepat, sederhana, murah biayanya, dan juga sangat efektif dan efisien. Secara istimewa, locus institusi dari peradilan adat  membuatnya menjadi pilihan pertama dalam masyarakat adat Dayak Kanayatn di Kabupaten Landak, Kabupaten Kubu Raya,Kabupaten Bengkayang, dan Kabupaten Mempawah daripada peradilan negeri yang biasanya berlokasi di pusat kabupaten atau kota.Kata Kunci: Peradilan Adat, Lembaga Peneyelesaian Sengketa, Masyarakat Hukum Adat, Dayak Kanayatn.                ABSTRACT            It’s urgently for our government to accommodate the local wisdom and its customary law as an alternative dispute resolution in resolving any problems within and outside indigenous peoples, for example the problem of divorce, murder, traffic accidents, land disputes, ethnic conflicts and so forth because it is able to give a sense of justice and must create a balance within the community of indigenous peoples, especially in indigenous peoples Dayak Kanayatn who live in most of West Kalimantan. Most of stakeholders realize that customary law has its own impressive and effective not only related to the issue resolution process is quick, simple and low cost, but also the most important is the achievement of justice according to the sense of community justice (as based on moral values, social, cultural and principles of justice) as well as an attempt to recover to re-create a balance (between man with man, man with the cosmos, and man with supernatural).            Indigenous people Dayak Kanayatn for thousand years from their ancestor has practicing living together in one Long House named Radakng Aya’ or called Rumah Betang. They are live in harmony  with each other, nature, and universe.  In this Long House, all problems that occur is an issue that concerns family affairs and hence should be resolved within the family itself. This main principles must be the fist choice in resolving the parties. If the problem could not be resolved yet, then they use the second choice. It will be resolved by using customary law rolled by customary head named Timanggong, Pasirah, and Pangaraga. Their function is only just reconcile the parties and not mainly  to punish (punitive act), and also to restore the relationship of the community.            There are some principles that obeyed properly by Indigenous people Dayak Kanayatn in resolve any customary problems as reflected by their ancestor teaching as called Pamangkong Ame Patah (the stick to hit must be unbroken), Ular Ame Mati (the snake must be not die even hitted), Adil Ka’ Talino (anyone must be fair or be honest to all people), Bacuramin Ka’ Saruga (The Heaven must be as the reflection of live), Basengat Ka’ Jubata (anyone must breathe from God), Adat Labih Jubata Bera (excessive customary law tools or payment can make God be angry), Adat Kurang Antu Bera (uncompleted customary law tools or payment can make Ghost be angry). This principals must be obeyed by all customary heads in resolving any problems in the indigenous people. Besides, the customary heads must consider these three principals mainly harmony, worthiness, and balance in resolving the parties. No jail in customary law term and absolutely it can reduce the overloaded jail in IndonesiaThe customary law in indigenous people Dayak Kanayatn is integrated with social values, cultural, indigenous ideology, so easily accepted and better reflect the sense of justice. In addition, the most important thing in the settlement through the mechanism of customary law is the creation of a balance between macrocosm and microcosm. The important meaning and strategic role played by traditional justice in indigenous communities made the customary courts and customary settlement as an alternative form of settlement of justice when state court does not provide a solution to the achievement of justice and the judicial process is fast, simple and lightweight cost as well as effective and efficient. Especially, the locus institution of customary law make it become the first choice in indigenous people Dayak Kanayatn in Landak, Kubu Raya, Bengkayang, and Mempawah regencies than state court which is usually located in central of regency or town.Keywords: Customary Justice, Dispute Settlement Institution, Indigenous people,  Dayak Kanayatn
PERANAN ANAK SEBAGAI KORBAN DALAM TERJADINYA KEJAHATAN ASUSILA DI PONTIANAK DITINJAU DARI SUDUT VICTIMOLOGI SUSAN ROSALINA SUGANDA, SH. A.2021131041, Jurnal Mahasiswa S2 Hukum UNTAN
Jurnal NESTOR Magister Hukum Vol 2, No 2 (2016): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN
Publisher : Jurnal NESTOR Magister Hukum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (460.305 KB)

Abstract

ABSTRAKSaat ini kekerasan seksual terhadap anak merupakan kejahatan yang cukupmendapat perhatian di kalangan masyarakat. Banyak peristiwa perbuatanmenyimpang remaja terjadi di kota-kota besar di Indonesia, namun hal serupajuga telah terjadi di kota-kota kabupaten demikian halnya di Kota Pontianak.Perbuatan-perbuatan menyimpang yang dilakukan remaja bahkan telahmenuju ke tindakan-tindakan kriminal mulai meresahkan masyarakat dan tentusaja sangat mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat di KotaPontianak. Namun dalam kenyataannya, korban berperan dalam kejahatanasusila.Berdasarkan data di Kejaksaan Negeri Pontianak mulai tahun 2013-Agustus2015 terjadi peningkatan tindak pidana asusila yang terjadi di masyarakatPontianak, berdasarkan data yang dihimpun tersebut didapat infomasi bahwapada tahun 2013 yang menjadi korban usia 6-12 tahun berjumlah 1 kasus, usia13-17 tahun sebanyak 10 kasus kemudian tahun 2014 yang menjadi korbanusia 13-17 tahun meningkat menjadi sebanyak 14 kasus kemudian dari Januari2015- Agustus 2015 yang menjadi korban usia 13-17 tahun sebanyak 15 kasus.Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimana peranananak sehingga menjadi korban dengan terjadinya kejahatan Asusila diPontianak ? Bagaimana latar belakang anak sebagai korban ikut berperandalam terjadinya kejahatan Asusila di Pontianak ? dan Bagaimana upaya2penanggulangan kejahatan Asusila hubungannya dengan peranan Anaksehingga menjadi korban asusila ?Metode pendekatan yang digunakan dalam penyusunan karya tulis ini adalahmetode penekatan yuridis sosiologis atau “sosio legal research” yaitu metodependekatan yang memandang hukum sebagai suatu fenomena sosial, yangdidalam interaksinya tidak lepas dari faktor-faktor non Hukum.Dari hasil penelitian didapatkan bahwa peranan anak sehingga menjadi korbandalam terjadinya tindak pidana asusila di Pontianak diantaranya korban yangmemancing dan atau menggoda seseorang untuk berbuat jahat dan korbanlalai sehingga mempengaruhi seseorang untuk melakukan kejahatan, dimanalatar belakangnya karena faktor rendahnya pendidikan dan ekonomiselanjutnya faktor lingkungan juga berperan. Adapun upaya yaitu melaluitindakan preemtif, preventif dan represif.Kata kunci : Kejahatan Asusila, Peran Korban, dan anakABSTRACTCurrently the sexual abuse of children is a crime that sufficient attention amongthe public. Many events occur in adolescents deviant act big cities in Indonesia,but the same thing has occurred in the district towns is the case in the city ofPontianak. Deviant acts performed even teenagers have headed the criminalacts began troubling the people and of course very disturbing public order andsafety in the city of Pontianak. But in reality, the victim role in immoral crimes.Based on the data in Pontianak District Attorney from 2013-August 2015increased wanton criminal act that occurred in the community of Pontianak,according to data compiled information that was obtained in 2013 who becamevictims of 6-12 years of age numbered one case, age 13-17 year 10 cases laterin 2014 which became a victim age 13-17 increased to as many as 14 caseslater than January 2015- August 2015 who are victims aged 13-17 years asmany as 15 cases.The formulation of the problem in this research is the role of the child How tobecome victims of crimes sacrilegious in Pontianak? What is the background of3children as victims played a role in the occurrence of immoral crime in NewYork City? and How immoral crime prevention efforts do with the role of the Sonto become victims of immoral?The method used in the preparation of this paper is a method penekatanjuridical sociological or "socio-legal research" that is the approach that sees thelaw as a social phenomenon, which can not be separated in the interaction offactors of non Laws.The result showed that the role of the child so that the victims of the criminalacts of sacrilegious in Pontianak among victims who provoke or tease someonefor wrongdoers and victims of neglect that predispose a person to commit acrime, in which the background because of low education and further economicenvironmental factors also plays a role. The effort is through the act of preemptive,preventive and repressive.Keywords: Sacrilegious crime, Victim Role, and children
IMPLIKASI HUKUM KESEPAKATAN KERJASAMA SOSIAL EKONOMI MALAYSIA-INDONESIA (SOSEK MALINDO) TERHADAP UPAYA PENCEGAHAN MASUKNYA BARANG ILLEGAL MELALUI JALUR PERBATASAN ENTIKONG DI KABUPATEN SANGGAU FAHRIZAL SIREGAR, SH. NIM. A2021151013, Jurnal Mahasiswa s2 Hukum Untan
Jurnal NESTOR Magister Hukum Vol 4, No 4 (2017): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN
Publisher : Jurnal NESTOR Magister Hukum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Tesis ini membahas tentang implikasi hukum kesepakatan kerjasama Sosial Ekonomi Malaysia-Indonesia (Sosek Malindo) terhadap upaya pencegahan masuknya barang illegal melalui jalur perbatasan Entikong di Kabupaten Sanggau. Di samping itu juga mempunyai tujuan yaitu untuk mengungkapkan dan menganalisis implikasi hukum kesepakatan kerjasama Sosial Ekonomi Malaysia-Indonesia (Sosek Malindo) terhadap upaya pencegahan masuknya barang illegal melalui jalur perbatasan Entikong di Kabupaten Sanggau dan upaya pencegahan masuknya barang illegal melalui jalur perbatasan Entikong di Kabupaten Sanggau dengan adanya kesepakatan kerjasama Sosial Ekonomi Malaysia-Indonesia (Sosek Malindo). Melalui studi kepustakaan dengan menggunakan metode pendekatan hukum empiris diperoleh kesimpulan, bahwa dalam kenyataannya, kesepakatan kerjasama Sosek Malindo yang dibuat antara Pemerintah Indonesia melalui Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat dengan Pemerintah Malaysia menimbulkan implikasi hukum terhadap permasalahan masuknya barang-barang illegal melalui jalur perbatasan Entikong di Kabupaten Sanggau. Hal ini bisa dilihat dari adanya kesepakatan di bidang ekonomi, perdagangan dan perhubungan yang dituangkan dalam kesepakatan kerjasama Sosial Ekonomi MalaysiaIndonesia (Sosek Malindo), dimana dalam kesepakatan kerjasama Sosial Ekonomi Malaysia-Indonesia (Sosek Malindo) tersebut membahas masalah penanganan terhadap lalu lintas perdagangan lintas batas dan pencegahan terhadap perdagangan barang-barang illegal melalui perbatasan Kalimantan Barat-Sarawak. Adapun upaya-upaya yang dilakukan untuk mencegah masuknya barang-barang illegal melalui jalur perbatasan Entikong di Kabupaten Sanggau melalui kesepakatan kerjasama Sosial Ekonomi Malaysia-Indonesia (Sosek Malindo), antara lain: (a) Pemeriksaan dan penjagaan jalur-jalur masuknya barang-barang illegal yang biasa digunakan oleh pelaku usaha, termasuk jalur-jalur tikus; (b) Melakukan koordinasi dengan pihak bea cukai Malaysia apabila terdapat angkutan yang membawa barang-barang dari Malaysia dalam jumlah besar yang akan melewati pintu batas Entikong; dan (c) Membuat pos-pos pemeriksaan di titik-titik yang dianggap rawan masuknya barang-barang illegal melalui perbatasan dari kedua negara. Kata Kunci: Implikasi Hukum, Sosek Malindo, Barang Illegal, Perbatasan. 2 ABSTRACT This thesis discusses the legal implications of the Malaysian-Indonesia Socio-Economic Cooperation Agreement (Sosek Malindo) on the prevention of illegal entry through Entikong border in Sanggau Regency. In addition it also has the objective of expressing and analyzing the legal implications of Malaysia-Indonesia Socio-Economic Cooperation Agreement (Sosek Malindo) on preventing the entry of illegal goods through the Entikong border in Sanggau District and preventing illegal entry through the Entikong border in Sanggau With the cooperation agreement between Social-Economy Malaysia-Indonesia (Sosek Malindo). Through the literature study using the empirical legal approach, it is concluded that in reality, the agreement between Malindo Sosek cooperation made between the Government of Indonesia through the West Kalimantan Provincial Government and the Malaysian Government raises legal implications on the illegal goods through the Entikong border in Sanggau . This can be seen from the agreement in the economic, trade and transportation sectors as stipulated in the agreement between Social-Economy MalaysiaIndonesia (Sosek Malindo), where in the agreement between SocialEconomy Malaysia-Indonesia (Sosek Malindo) discussed the problem of handling traffic Cross-border and prevention of illegal goods trade through the border of West Kalimantan-Sarawak. The efforts made to prevent the entry of illegal goods through the Entikong border line in Sanggau District through the agreement between Social-Economy Malaysia-Indonesia (Sosek Malindo), among others: (a) Examination and guarding the entrance of illegal goods Commonly used by business actors, including rat pathways; (b) Coordinate with Malaysian customs authorities in case of transport carrying goods from Malaysia in large quantities which will pass through the Entikong boundary; And (c) Creating checkpoints at points considered vulnerable to illegal goods entering the border of the two countries. Keywords: Legal Implications, Malindo Social, Illegal Goods, Border.
AKAD PEMBIAYAAN MURABAHAH DITINJAU DARI HUKUM EKONOMI SYARIAH (STUDI KASUS PADA BANK KALBAR SYARIAH CABANG PONTIANAK) NPM. A2021141045, HAFIDZAL IMAM ZEINDIQA, SH
Jurnal NESTOR Magister Hukum Vol 3, No 3 (2018): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN
Publisher : Jurnal NESTOR Magister Hukum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKPenelitian "Perjanjian Pembiayaan Murabaha Dilihat Dari Hukum Ekonomi Islam (Studi Kasus Di Bank Kalbar Cabang Syariah Pontianak)", bertujuan Untuk mengetahui dan meneliti pelaksanaan pembiayaan murabahah kontrak di Bank Kalbar Cabang Syariah Pontianak telah sesuai dengan prinsip Ekonomi Syariah . Mengetahui dan memeriksa pengawasan yang dilakukan oleh Dewan Pengawas Syariah atas pelaksanaan pembiayaan murabahah di Bank Kalbar Cabang Syariah Pontianak. Untuk menganalisis upaya yang dilakukan oleh Dewan Pengawas Syariah terhadap skema pembiayaan murabahah yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip Ekonomi Syariah di Bank Syariah Syariah Cabang Pontianak. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian pustaka sehingga jenis penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan pendekatan legislasi (Statue Approach) yang dilakukan dengan meninjau semua undang-undang dan peraturan yang berkaitan dengan masalah hukum yang sedang dibahas. Pendekatan Legislasi adalah pendekatan yang menggunakan legislasi dan regulasi. Kata kunci: Aggrement, Pembiayaan Murabahah, Ekonomi Syariah ABSTRACTResearch on "Murabaha Financing Agreement Viewed From Islamic Economic Law (Case Study At Bank Kalbar Syariah Branch Pontianak)", aims To know and examine the implementation of murabahah financing contract in Bank Kalbar Syariah Branch Pontianak has been in accordance with the principles of Sharia Economics. To know and examine the supervision conducted by the Sharia Supervisory Board on the implementation of murabahah financing in Bank Kalbar Syariah Branch Pontianak. To analyze the efforts made by the Sharia Supervisory Board against murabahah financing scheme that is not in accordance with the principles of Sharia Economics in Bank Kalbar Syariah Branch Pontianak. This research is done by using literature research method so that the type of research used is normative juridical. In this study, the authors use the approach of legislation (Statue Approach) is done by reviewing all laws and regulations relating to the issue of law being addressed. The Legislation Approach is an approach using legislation and regulation. Keywords : Aggrement, Murabahah Financing, Sharia Economics
OPTIMALISASI REDISTRIBUSI TANAH DALAM RANGKA PEMBAHARUAN AGRARIA (Study Program Redistribusi Tanah Obyek Landreform di Kabupaten Mempawah)” TITIK KURNIA WATI, S.ST A.21212066, Jurnal Mahasiswa S2 Hukum UNTAN
Jurnal NESTOR Magister Hukum Vol 3, No 3 (2016): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN
Publisher : Jurnal NESTOR Magister Hukum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTThis thesis addresses the issue of purchase covert (undercover buy) a disclosure strategy narcotics (juridical-empirical studies in Pontianak) .This method used in this study is a qualitative research method using Normative-sociological approach. Covert purchase as regulated Act No. 22 of 1997 which has been changed to Law No. 35 of 2009 is the addition of investigator powers in efforts to combat drug trafficking. This is because the narcotic crime is organized crime, secret, as well as in the implementation modus operandi and quite sophisticated technology making it difficult to collect the evidence. In contrast to other offenses of purchasing shrouded in narcotic crime is not against the Human Rights when implemented in accordance with applicable regulations. This is because the narcotic crime is organized crime, secret, as well as in the implementation modus operandi and quite sophisticated technology making it difficult to collect the evidence. In contrast to other offenses of purchasing shrouded in narcotic crime is not against the Human Rights when implemented in accordance with applicable regulations. However, it would be different if it is not carried out in accordance with applicable regulations. This is because that in the implementation of covert purchases can not be separated and community participation, so that people who participate must be protected rights. To reduce errors and execution of the covert purchase it is necessary to be known and understood clearly by the investigator on the implementation of the purchase itself disguised as stipulated in Law No. 35 of 2009. The recommendation of this study is the need to be undertaken a revision of Law No. 35 Year 2009 on Narcotics itself in order to clarify what is the purchase of a veiled and how the actual implementation and the need to educate more people programmatically, for the use of informants to impersonate let conducted training Special to the investigator who was assigned to make the purchase is shrouded in a narcotics detective. and provide security to the people that specifies the information to the officer.Keywords: disclosure strategy, narcotics, Purchase veiled.ABSTRAKTesis ini membahas masalah pembelian terselubung (undercover buy) sebagai strategi pengungkapan kejahatan narkotika (studi yuridis-empiris di Kota Pontianak).Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan Normative-Sosiologis. Pembelian Terselubung sebagaimana diatur Undang-Undang No 22 Tahun 1997 yang telah diganti menjadi Undang-Undang No 35 Tahun 2009 merupakan penambahan kewenangan penyidik dalam upaya pemberantasan pengedaran narkotika. Hal inimengingat tindak pidana narkotika merupakan kejahatan yang terorganisasi, rahasia, serta dalam pelaksanaannya menggunakan modus operandi dan teknologi yang tergolong canggih sehingga sulit dalam mengumpulkan barang buktinya. Berbeda dengan tindak pidana lainnya pelaksanaan pembelian terselubung dalam tindak pidana narkotika tidaklah bertentangan dengan Hak Asasi Manusia bila dilaksanakan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Akan tetapi, akan menjadi berbeda bila tidak dilaksanakan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Hal ini dikarenakan bahwa dalam pelaksanaan pembelian terselubung tidak terlepas dan peran serta masyarakat, sehingga masyarakat yang ikut serta harus dilindungi hak-haknya. Untuk mengurangi kesalahan dan pelaksanaan pembelian terselubung tersebut maka perlu diketahui dan dipahami secara jelas oleh penyidik tentang pelaksanaan pembelian terselubung itu sendiri sebagaimana diatur dalam Undang-Undang No 35 Tahun 2009. Adapun rekomendasi dari penelitian ini adalah perlu kiranya dilakukan revisi terhadap Undang-Undang No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika itu sendiri guna memperjelas apa itu pembelian terselubung dan bagaimana sebenarnya pelaksanaannya dan perlu dilakukan penyuluhan kepada masyarakat secara terprogram, untuk penggunaan informan untuk menyamar hendaklah dilakukan pelatihan secara khusus kepada penyidik yang memang bertugas untuk melakukan pembelian terselubung dalam suatu reserse narkotika. dan memberikan jaminan keamanan kepada masyarakat yang memerikan informasi kepada petugas.Kata Kunci: strategi pengungkapan, kejahatan narkotika, Pembelian terselubung.
KEWENANGAN JAKSA SEBAGAI PENGACARA NEGARA DALAM MENYELESAIKAN TUNGGAKAN HUTANG NASABAH ASURANSI KREDIT INDONESIA (ASKRINDO) YANG DIBAYARKAN OLEH PERUSAHAAN RIFDA YUNIASTUTI, S.H A2021151059, Jurnal Mahasiswa s2 Hukum Untan
Jurnal NESTOR Magister Hukum Vol 4, No 4 (2017): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN
Publisher : Jurnal NESTOR Magister Hukum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Tesis ini membahas masalah Kewenangan Jaksa Sebagai Pengacara Negara Dalam Menyelesaikan Tunggakan Hutang Nasabah Asuransi Kredit Indonesia (ASKRINDO) Yang Dibayarkan Oleh Perusahaan. Penelitian menggunakan metode penelitian bersifat yaitu yuridis Normatif. Dari hasil analisa dan pembahasan memperoleh kesimpulan yaitu : Jaksa sebagai pengacara negara mempunyai wewenang dalam menyelesaikan tunggakan hutang nasabah yang dibayarkan oleh perusahaan PT. ASKRINDO. Jaksa sebagai pengacara negara adalah Jaksa dengan Kuasa Khusus bertindak untuk dan atas nama negara atau pemerintah dalam melaksanakan tugas dan wewenang Kejaksaan di bidang perdata dan tata usaha negara. Sedangkan wewenang dalam menyelesaikan tunggakan hutang nasabah yang dibayarkan oleh perusahaan PT. ASKRINDO yaitu pelaksanaan menyelesaikan tunggakan hutang nasabah yang dibayarkan oleh perusahaan PT. ASKRINDO, kewenangan Jaksa Pengacara Negara itu sendiri ditentukan dalam Pasal 30 Undang-Undang No.16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan RI di bidang perdata.Upaya-upaya yang seharusnya dilakukan oleh Jaksa sebagai pengacara negara dalam menyelesaikan tunggakan hutang nasabah yang dibayarkan oleh Perusahaan PT. ASKRINDO. Adapun upaya-upaya yang seharusnya dilakukan oleh Jaksa sebagai pengacara negara dalam menyelesaikan tunggakan hutang nasabah yang dibayarkan oleh perusahaan PT. ASKRINDO adalah senagai berikut : Kuasa Khusus menyelesaikan tunggakan hutang nasabah yang dibayarkan oleh Perusahaan PT. ASKRINDO. Jaksa sebagai pengacara negara adalah Jaksa dengan Kuasa Khusus bertindak untuk dan atas nama negara atau pemerintah dalam melaksanakan tugas dan wewenang Kejaksaan di bidang perdata dan tata usaha negara dalam hal ini dengan Kuasa Khusus menyelesaikan tunggakan hutang nasabah yang dibayarkan oleh Perusahaan PT. ASKRINDO. kewenangan jaksa sebagai pengacara negara dan untuk melaksanakan kepentingan hukum dan gugatan ke pengadilan, PT. Askrindo selaku Badan Usaha Milik Negara yang berada di bawah pengawasan Kementerian Negara Badan Usaha Milik Negara menunjuk Jaksa Pengacara Negara sebagai Kuasa Hukum. Kata Kunci: Kewenangan Jaksa, Tunggakan Hutang Nasabah Asuransi. ABSTRACT This thesis discusses the issue of Authority of Attorney as State Attorney in Completing Debt Arrangement of Credit Insurance Client Indonesia (ASKRINDO) paid by Company. Research using research method that is juridical Normatif. From the results of analysis and discussion to get the conclusion that is: Prosecutor as a state lawyer has the authority in settling debt arrears of customers paid by the company PT. ASKRINDO. The prosecutor as a state attorney is the Prosecutor with special powers acting for and on behalf of the state or government in carrying out the duties and authorities of the Public Prosecution Service in the civil and administrative sectors of the state. While the authority in settling debt arrears of customers paid by the company PT. ASKRINDO is the implementation of settling debt arrears of customers paid by the company PT. ASKRINDO, the authority of the State Attorney Attorney itself is determined in Article 30 of Law No.16 Year 2004 on the Public Prosecutor's Office in civil area. The efforts that should be done by the Prosecutor as a state lawyer in settling debt arrears of customers paid by PT. ASKRINDO. The efforts should be made by the Prosecutor as a state lawyer in settling debt arrears of customers paid by the company PT. ASKRINDO is the following: Special power of Attorney settles debt arrears of customers paid by Company PT. ASKRINDO. The Prosecutor as a state attorney is the Attorney with the Special Powers acting for and on behalf of the state or government in carrying out the duties and authorities of the Public Prosecutor's Office in the civil and administrative field of the State in this matter by the Special Power of Attorney completing the debt arrears of customers paid by PT. ASKRINDO. The authority of the prosecutor as a state lawyer and to carry out legal interests and lawsuits to the court, PT. Askrindo as a State Owned Enterprise under the supervision of the State Ministry of State-Owned Enterprises appointed the Attorney-General of the State Attorney as a Legal Counsel. Keyword : Authority of Attorney, Arrears Payable of Insurance Clients

Filter by Year

2009 2019


Filter By Issues
All Issue Vol 4, No 4 (2019): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 3, No 3 (2019): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 2, No 2 (2019): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 1, No 1 (2019): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 4, No 4 (2018): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 3, No 3 (2018): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 2, No 2 (2018): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 1, No 1 (2018): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 4, No 4 (2017): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 3, No 3 (2017): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 2, No 2 (2017): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 1, No 1 (2017): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 3, No 3 (2016): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 2, No 2 (2016): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 1, No 1 (2016): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 9, No 2 (2015): Jurnal Nestor - 2015 - 2 Vol 8, No 1 (2015): Jurnal Nestor - 2015 - 1 Vol 4, No 4 (2015): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 3, No 3 (2015): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 2, No 2 (2015): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 1, No 1 (2015): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 3, No 4 (2014): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 2, No 3 (2014): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 2, No 2 (2014): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 1, No 1 (2014): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 3, No 5 (2013): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 2, No 4 (2013): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 2, No 3 (2013): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 8, No 1 (2012): Jurnal Nestor - 2012 - 1 Vol 2, No 2 (2012): JURNAL MAHASISWA S2 HUKUM UNTAN Vol 7, No 2 (2010): Jurnal Nestor - 2010 - 2 Vol 7, No 1 (2010): Jurnal Nestor - 2010 - 1 Vol 6, No 2 (2009): Jurnal Nestor - 2009 - 2 Vol 6, No 1 (2009): Jurnal Nestor - 2009 - 1 More Issue