cover
Contact Name
Dita Archinirmala
Contact Email
dorotea.ditaarchinirmala@kalbe.co.id
Phone
+6281806175669
Journal Mail Official
cdkjurnal@gmail.com
Editorial Address
http://www.cdkjournal.com/index.php/CDK/about/editorialTeam
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Cermin Dunia Kedokteran
Published by PT. Kalbe Farma Tbk.
ISSN : 0125913X     EISSN : 25032720     DOI : 10.55175
Core Subject : Health,
Cermin Dunia Kedokteran (e-ISSN: 2503-2720, p-ISSN: 0125-913X), merupakan jurnal kedokteran dengan akses terbuka dan review sejawat yang menerbitkan artikel penelitian maupun tinjauan pustaka dari bidang kedokteran dan kesehatan masyarakat baik ilmu dasar, klinis serta epidemiologis yang menyangkut pencegahan, pengobatan maupun rehabilitasi. Jurnal ini ditujukan untuk membantu mewadahi publikasi ilmiah, penyegaran, serta membantu meningkatan dan penyebaran pengetahuan terkait dengan perkembangan ilmu kedokteran dan kesehatan masyarakat. Terbit setiap bulan sekali dan disertai dengan artikel yang digunakan untuk CME - Continuing Medical Education yang bekerjasama dengan PB IDI (Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia)
Articles 20 Documents
Search results for , issue "Vol 42, No 10 (2015): Neurologi" : 20 Documents clear
Skrining Ultrasonografi untuk Deteksi Awal Aneurisma Aorta Abdominalis Sulaiman, Yan William
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 10 (2015): Neurologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (319.441 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v42i10.960

Abstract

Aneurisma aorta abdominalis (AAA) adalah penyakit multifaktorial yang umumnya tidak menunjukkan gejala sampai terjadi ruptur. AAA yang ruptur mempunyai risiko kematian sangat tinggi walaupun telah mendapat tindakan operatif, sehingga deteksi awal dengan skrining merupakan pencegahan dan terapi yang efektif. Skrining AAA dapat dilakukan dengan ultrasonografi (USG) abdomen pada pasien yang mempunyai risiko.Abdominal aortic aneurysm (AAA) is a multifactorial disease that is mostly asymptomatic until rupture. AAA rupture carries high mortality risk, so early detection by screening is an effective prevention and therapy. AAA screening can be performed by ultrasonography (USG) of abdomen in patients at-risk
Takayasu’s Arteritis Febrina, Angelina
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 10 (2015): Neurologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (146.466 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v42i10.956

Abstract

Takayasu’s arteritis (TA) is a chronic inflammatory arteritis that commonly affects aorta and its branches. The exact etiology of TA remains unknown, but many researchers believed that it is autoimmune in nature. Eventhough TA is categorized as a rare disease, the prevalence rate is 2.6 per million annually, and its complications can be life-threatening. Early diagnosis and treatment may prevent the irreversible damage in the affected vessels and improve treatment outcome. This review article provides a brief summary of etiopathogenesis, clinical diagnosis, and treatment options for TA.Takayasu’s arteritis (TA) adalah suatu penyakit inflamasi arteri kronik yang biasanya mempengaruhi aorta dan cabang-cabangnya. Penyebab pasti penyakit ini belum diketahui, tetapi banyak peneliti percaya bahwa TA merupakan suatu penyakit autoimun. Walaupun TA merupakan kategori penyakit yang jarang - prevalensinya 2.6 kasus per juta orang setiap tahun, dan komplikasi TA dapat sangat membahayakan. Diagnosis dan pengobatan awal dapat mencegah kerusakan permanen pembuluh darah yang terkena dan dapat memperbaiki hasil pengobatan. Tinjauan pustaka ini membahas secara singkat etiopatogenesis, diagnosis klinis, dan pengobatan penyakit TA.
Pemeriksaan Neurologis pada Kesadaran Menurun Aprilia, Maureen; Wreksoatmodjo, Budi Riyanto
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 10 (2015): Neurologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (755.814 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v42i10.961

Abstract

Dengan kemajuan teknologi medis beberapa puluh tahun terakhir ini, saat ini fungsi vital dapat dipertahankan secara “buatan”, meskipun fungsi otak telah berhenti. Hal tersebut akhirnya berimplikasi terhadap definisi kematian secara medis, yang kemudian memunculkan suatu konsep kematian batang otak sebagai penanda kematian. Pasien dalam kondisi koma harus menjalani pemeriksaan fisik umum, neurologi, dan pemeriksaan penunjang untuk menentukan penyebab kehilangan kesadarannya. Keadaan koma tanpa perbaikan dapat berlanjut masuk dalam keadaan mati batang otak. Kriteria kematian batang otak antara lain koma dinyatakan positif, penyebab koma diketahui, arefleks batang otak dinyatakan positif, tidak adanya respons motorik, dan apnea dinyatakan positif.With the advancement of technology, human vital functions can be artificially maintained eventhough the brain ceased to function. This condition raised a concern for a new concept of death. Patients in coma need to be thoroughly evaluated to find the cause, and the diagnosis of brain death needs certain criteria to be fulfilled. Coma without improvements can continue entering in a state of brain stem death. The criteria of brain stem death include positive coma, known causes of coma, positive brain stem arefleks, the absence of motor responses, and apnea.
Sindrom Delirium Luman, Andy
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 10 (2015): Neurologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (425.708 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v42i10.957

Abstract

Delirium merupakan suatu kondisi akut penurunan perhatian, kognitif, dan berfluktuasi yang sering dijumpai pada individu berusia 65 tahun atau lebih, biasanya disebabkan oleh suatu kondisi medis atau obat. Pemahaman gambaran klinis sangat diperlukan untuk diagnosis delirium secara bedside; dan dengan strategi pencegahan dan penanganan yang baik maka prognosisnya baik.Delirium is an acute condition of decreased and fluctuating attention and cognition, often found in individuals aged above 65 years, can be caused by a medical condition or drug adverse effect. Clinical understanding is very necessary for the diagnosis of delirium in bedside; and understandings of clinical symptoms are needed. Prognosis is good after appropriate prevention and treatment strategies.
Penggunaan Obat Pelumpuh Otot di ICU Kristiningrum, Esther
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 10 (2015): Neurologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (115.25 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v42i10.962

Abstract

Obat pelumpuh otot melumpuhkan/merelaksasi otot rangka dengan menghambat transmisi impuls saraf pada sambungan otot-saraf. Obat pelumpuh otot dibagi menjadi obat depolarisasi dan non-depolarisasi. Obat ini dapat bermanfaat di unit perawatan intensif (ICU) untuk berbagai kondisi klinik. Dokter sebaiknya memilih suatu obat pelumpuh otot berdasarkan farmakologi obat dan karakteristik individu. Monitoring klinis dan train-of-four (TOF) direkomendasikan untuk menurunkan risiko komplikasi terkait dengan obat pelumpuh otot.Neuromuscular blocking agents (NMBAs) paralyze skeletal muscles by blocking nerve impulses at myoneural junction. It is categorized into depolarizing or nondepolarizing agents based upon their mechanism of action. These drugs may be useful in the intensive care unit (ICU) for a variety of clinical conditions. The clinician should choose an NMBA on the basis of drug pharmacology and individual characteristics. Both clinical and train-of-four (TOF) monitoring was recommended to reduce risk of complication associated with NMBA.
Pengaruh Jumlah Leukosit terhadap Mortalitas Pasien Infark Miokard Akut selama Perawatan Kurniawan, Liong Boy; Bahrun, Uleng; Arif, Mansyur; ER, Darmawaty
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 10 (2015): Neurologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (185.963 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v42i10.953

Abstract

Latar belakang: Patogenesis infark miokard akut melibatkan proses inflamasi sistemik, intraplak, ataupun miokardium. Neutrofil menginfiltrasi plak koroner dan miokardium yang mengalami infark serta memediasi terjadinya kerusakan jaringan melalui pelepasan enzim pendegradasi matriks dan spesies oksigen reaktif. Leukosit yang berperan dalam patogenesis infark miokard diduga berkaitan dengan mortalitas pasien infark miokard akut. Tujuan: Mengetahui kaitan jumlah leukosit, persentase neutrofil, limfosit, dan rasio neutrofil limfosit terhadap mortalitas pasien selama perawatan di rumah sakit. Metode: Studi retrospektif dengan menggunakan data sekunder dari rekam medik 64 pasien infark miokard akut yang dirawat di Unit Perawatan Jantung Intensif Rumah Sakit Dr. Wahidin Sudirohusodo, Makassar, periode Juli 2010 hingga Juni 2011. Dilakukan analisis pada jumlah leukosit, neutrofil, limfosit, dan rasio neutrofil limfosit yang diperoleh dari data hasil tes laboratorium saat pasien masuk rumah sakit. Uji statistik dilakukan dengan uji T, Mann Whitney, dan chi square. Hasil: Rerata jumlah leukosit, persentase neutrofil, limfosit, dan rasio neutrofil limfosit pada penderita infark miokard akut yang survive dan meninggal selama perawatan berturut-turut adalah 11.920+3.610/µL vs 14.410+3.090/µL (p=0,009), 73,98+11,16 vs 76,04+9,74 (p=0,647), 17,29+9,03 vs 15,00+7,00 (p=0,379), dan 5,97+3,90 vs 6,80+4,72 (p=0,403). Pasien dengan leukositosis memiliki risiko mortalitas 10,71 kali dibandingkan dengan jumlah leukosit normal (p=0,009; 95% interval kepercayaan (IK) 1,307 s/d 87,846). Simpulan: Rerata jumlah leukosit pada pasien infark miokard akut yang meninggal selama perawatan lebih tinggi dibandingkan dengan pasien yang survive. Pasien dengan leukositosis memiliki risiko mortalitas selama perawatan lebih tinggi dibandingkan pasien dengan jumlah leukosit normal.Background: Pathogenesis of acute myocardial infarction involves systemic, intraplaque, and myocardial inflammatory processes. Neutrophils infiltrated coronary plaque and infarcted myocardium, also mediate tissue damage through release of matrix degradation enzymes and reactive oxygen species. Leukocyte is suspected to be related to mortality in acute myocardial infarction patients. Objective: To investigate the relationship of leukocyte count, neutrophils and lymphocyte percentages, also neutrophils and lymphocyte ratio with in-hospital mortality of acute myocardial infarction patients. Method: A retrospective study with using secondary data from medical record of 64 acute myocardial infarction patients hospitalized in Intensive Cardiac Care Unit of Dr. Wahidin Sudirohusodo Hospital, Makassar, from June 2010 to July 2011. Admission leukocyte count, percentages of neutrophils and lymphocyte, and neutrophils lymphocyte ratio were analyzed statistically using T, Mann Whitney, and chi square tests. Results: The mean of leukocyte count at-admission, percentages of neutrophils and lymphocyte, and neutrophil : lymphocyte ratio in survived and non survived acute myocardial infarction patients were 11920+3610/µL vs 14410+3090/µL (p=0.009), 73.98+11.16 vs 76.04+9.74 (p=0.647), 17.29+9.03 vs 15.00+7.00 (p=0.379), and 5.97+3.90 vs 6.80+4.72 (p=0.403) respectively. Patients with leukocytosis had 10.71 times mortality rate compared to patients with normal counts (p=0.009; 95% CI =1.307-87.846). Conclusion: Leukocyte count in non-survivors was significantly higher than in survivors. Patients with leukocytosis had higher mortality risk compared with normal count patients.
Evaluasi dan Manajemen Status Epileptikus Rilianto, Beny
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 10 (2015): Neurologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (185.28 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v42i10.958

Abstract

Status epileptikus (SE) membutuhkan penanganan awal yang cepat. Kehilangan autoregulasi serebral dan kerusakan neuron dimulai setelah 30 menit aktivitas kejang yang terus-menerus. Penilaian awal berfokus pada kemungkinan adanya gangguan metabolik ataupun kondisi yang membutuhkan tatalaksana segera. Penatalaksanaan tahap awal menyarankan penggunaan benzodiazepin dan fenitoin untuk menghentikan kejang, anestesi dipertimbangkan pada SE refrakter. Prognosis SE sangat bergantung pada etiologi yang mendasarinya.Status epilepticus (SE) requires immediate initial treatment. Loss of cerebral autoregulation and neuronal damage begin after 30 minutes of continuous seizure activity. Initial assessments focus on a possibility of underlying metabolic disorders or condition that requires immediate management. Early management use benzodiazepines and phenytoin to terminate seizures, the use of anesthesia is considered in refractory SE. Prognosis of SE is dependent on the underlying etiology. 
Hubungan Usia Penderita Stroke Iskemik dengan Kadar Beta-amyloid Plasma Syafrita, Yuliarni
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 10 (2015): Neurologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (149.498 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v42i10.954

Abstract

Latar Belakang: Ketidakseimbangan antara produksi, pemecahan, dan clearance beta-amyloid (Aβ) merupakan proses patofisiologi awal penumpukan beta-amyloid di jaringan otak. Tujuan penelitian ini adalah melihat hubungan antara usia dan kejadian stroke iskemik terhadap kadar beta-amyloid plasma. Metode: Penelitian cross-sectional bersifat observasional, membandingkan kadar beta-amyloid plasma di kelompok usia muda, usia lanjut sehat, dan usia lanjut yang mengalami stroke iskemik. Hasil: Kadar Aβ40 plasma pada usia muda lebih tinggi dibandingkan pada usia lanjut sehat (p=0,011). Kadar Aβ40 pada usia lanjut sehat lebih tinggi dibandingkan pada usia lanjut yang mengalami stroke (p<0,001). Kadar Aβ42 plasma pada usia muda lebih tinggi dibandingkan pada usia lanjut sehat (p=0,002). Kadar Aβ42 pada usia lanjut yang mengalami stroke jauh lebih tinggi dibandingkan pada usia lanjut sehat (p<0,001). Simpulan: Kadar Aβ40 dan Aβ42 plasma pada usia muda lebih tinggi dibandingkan pada usia lanjut sehat. Pada pasien usia lanjut dengan stroke iskemik usia lanjut, kadar Aβ40 plasma lebih rendah dan kadar Aβ42 plasma lebih tinggi dibandingkan pada usia lanjut sehat.Background: The imbalance of production, degradation, and clearance of beta-amyloid is an early pathophysiological process responsible for the accumulation of beta-amyloid in the brain tissue. The purpose of this study is to find out the association between age and events of ischemic stroke, and plasma beta-amyloid. Methods: Observational cross-sectional study to compare beta-amyloid plasma levels among younger age, healthy elderly, and the elderly suffering from ischemic stroke. Results: The plasma level of Aβ40 in the younger age is significantly higher than in the healthy elderly (p=0.011). The plasma level Aβ40 in the healthy elderly is significantly higher than in the post ischemic stroke elderly (p <0.001). The plasma level of Aβ42 in younger age is higher than in the healthy elderly (p=0.002). The plasma level of Aβ42 in the elderly who experienced stroke is higher than in the healthy elderly (p<0.001). Conclusion: The plasma level Aβ40 and Aβ42 are higher in younger age compared to the healthy elderly. In the elderly with ischemic stroke, the plasma level of Aβ40 was lower and level of Aβ42 was higher compared to the healthy elderly.
Sistem Skoring Diagnostik untuk Stroke: Skor Siriraj Widiastuti, Priska; Ngurah Nuartha, Anak Agung Bagus
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 10 (2015): Neurologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (176.514 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v42i10.959

Abstract

Penegakan diagnosis stroke perdarahan atau stroke iskemik memerlukan alat penunjang seperti CT scan kepala sebagai pemeriksaan baku emas yang tidak dipunyai oleh semua daerah. Skor Siriraj telah dikembangkan sekitar tahun 1984-1985 di Rumah Sakit Siriraj, Thailand, untuk membedakan stroke perdarahan atau stroke iskemik. Banyak penelitian menunjukkan hasil bervariasi, karena perbedaan kondisi daerah, prevalensi stroke, jumlah sampel, dan metode penelitian. Skor Siriraj dikatakan tidak cukup sensitif pada penelitian di Jakarta. Namun, penelitian terakhir di India menyimpulkan skor Siriraj masih dapat digunakan untuk membedakan stroke perdarahan dan stroke iskemik, terutama di daerah yang belum memiliki fasilitas CT scan kepala.Diagnosis of haemorrhagic stroke or ischemic stroke require supporting examination such as CT scan of the head as the gold standard examination but not all regions have such facilities. Siriraj scores have been developed in 1984-1985 in Siriraj Hospital, Thailand, to differentiate haemorrhagic stroke or ischemic stroke. Many researches show variable results, explained by regional difference, stroke prevalence, sample size and also different research methods. Siriraj score is not sensitive enough to distinguish ischemic and haemorrhagic stroke in Jakarta. But recent study in India concluded that Siriraj scores can still be used to distinguish haemorrhagic from ischemic stroke, especially in areas where head CT scan is not available.
Stroke pada Usia Muda Birawa, Andi Basuki Prima; Amalia, Lisda
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 10 (2015): Neurologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (130.878 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v42i10.955

Abstract

Hampir 10% stroke terjadi pada usia relatif muda (kurang dari 45 tahun). Angka kejadian stroke pada usia di bawah 45 tahun diperkirakan 7 – 15 kasus/100.000 penduduk/tahun dan lebih jarang pada kelompok anak-anak, yaitu 1 – 8 kasus/100.000/tahun. Faktor risiko terjadinya stroke pada usia muda berbeda-beda, antara lain: (1) Migren, (2) Sickle-cell disease, (3) Penyakit jantung, (4) Abnormalitas pembuluh darah serebral, (5) Focal cerebral arteriopathy of childhood (FCA), (6) Ensefalopati pasca-varisela, (7) Mitochondrial encephalopathy with lactic acidosis and stroke-like episodes (MELAS), (8) Diseksi arteri, (9) Penyalahgunaan obat, (10) Vaskulitis serebral seperti arteritis temporal, arteritis Takayasu, polyarteritis nodosa (PAN), Wegener’s granulomatosis, (11) Systemic lupus erythematosus (SLE), (12) Cerebral autosomal dominant arteropathy with subcortical infarcts
and leucoencephalopathy (CADASIL), (13) Fabry’s disease, dan (14) Trombofilia. Khusus pada wanita usia muda, beberapa faktor risiko lainnya antara lain: (1) Penggunaan kontrasepsi oral terutama pada wanita perokok, migren dengan aura, dan hipertensi; (2) Kehamilan, terutama jika terdapat preeklampsi, eklampsi, dan sindrom HELLP (hemolysis, elevated liver enzymes, and low platelets). Stroke pada usia muda memiliki karakteristik tersendiri, sehingga membutuhkan pendekatan yang berbeda. Faktor risiko perlu diidentifikasi untuk penatalaksanaan dan pencegahan terjadinya stroke berulang. Penelitian berbasis populasi dengan metodologi yang baik penting untuk lebih mengetahui besaran masalah stroke pada usia muda.Nearly 10 % strokes occur at a relatively young age (less than 45 years old). The incidence of stroke in under 45 year-old is between 7-15 cases/100,000 persons/year and 1-8 cases /100,000/year in children. Disorders or diseases related or suspected as risk factors are: (1) Migraine, (2) Sickle - cell disease, (3) Heart disease, (4) Cerebral blood vessels abnormality,

Page 1 of 2 | Total Record : 20


Filter by Year

2015 2020


Filter By Issues
All Issue Vol 50 No 11 (2023): Pediatri Vol 50 No 10 (2023): Kedokteran Umum Vol 50 No 9 (2023): Penyakit Dalam Vol 50 No 8 (2023): Dermatiologi Vol 50 No 7 (2023): Kardiovaskular Vol 50 No 6 (2023): Edisi CME Vol 50 No 5 (2023): Kedokteran Umum Vol 50 No 4 (2023): Anak Vol 50 No 3 (2023): Kardiologi Vol 50 No 2 (2023): Penyakit Dalam Vol 50 No 1 (2023): Oftalmologi Vol 49, No 4 (2022): Infeksi - COVID-19 Vol 49 No 12 (2022): Dermatologi Vol. 49 No. 11 (2022): Neurologi Vol 49 No 10 (2022): Oftalmologi Vol. 49 No. 9 (2022): Neurologi Vol. 49 No. 8 (2022): Dermatologi Vol 49, No 7 (2022): Vitamin D Vol 49 No 7 (2022): Nutrisi - Vitamin D Vol 49 No 6 (2022): Nutrisi Vol 49, No 6 (2022): Nutrisi Vol 49 No 5 (2022): Neuro-Kardiovaskular Vol 49, No 5 (2022): Jantung dan Saraf Vol 49 No 4 (2022): Penyakit Dalam Vol 49, No 3 (2022): Saraf Vol 49 No 3 (2022): Neurologi Vol 49 No 2 (2022): Infeksi Vol 49, No 2 (2022): Infeksi Vol 49 (2022): CDK Suplemen-2 Vol 49 (2022): CDK Suplemen-1 Vol 49, No 1 (2022): Bedah Vol 49 No 1 (2022): Bedah Vol 48 No 11 (2021): Penyakit Dalam - COVID-19 Vol 48, No 7 (2021): Infeksi - [Covid - 19] Vol 48 No 1 (2021): Infeksi COVID-19 Vol. 48 No. 10 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 4 Vol 48 No 8 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 3 Vol 48 No 5 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 2 Vol. 48 No. 2 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 1 Vol 48, No 12 (2021): General Medicine Vol 48 No 12 (2021): Penyakit Dalam Vol 48, No 11 (2021): Kardio-SerebroVaskular Vol 48, No 10 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48, No 9 (2021): Nyeri Neuropatik Vol 48 No 9 (2021): Neurologi Vol 48, No 8 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48 No 7 (2021): Infeksi Vol 48, No 6 (2021): Kardiologi Vol 48 No 6 (2021): Kardiologi Vol 48, No 5 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48 No 4 (2021): Dermatologi Vol 48, No 4 (2021): Dermatologi Vol 48, No 3 (2021): Obstetri dan Ginekologi Vol. 48 No. 3 (2021): Obstetri - Ginekologi Vol 48, No 2 (2021): Farmakologi - Vitamin D Vol 48, No 1 (2021): Penyakit Dalam Vol 47, No 12 (2020): Dermatologi Vol 47, No 11 (2020): Infeksi Vol 47, No 10 (2020): Optalmologi Vol. 47 No. 10 (2020): Dermatologi Vol 47 No 9 (2020): Infeksi Vol 47, No 9 (2020): Neurologi Vol. 47 No. 8 (2020): Oftalmologi Vol 47, No 8 (2020): Kardiologi Vol. 47 No. 7 (2020): Neurologi Vol 47, No 7 (2020): Bedah Vol 47 No 6 (2020): Kardiologi & Pediatri Vol. 47 No. 5 (2020): Bedah Vol 47, No 5 (2020): CME - Continuing Medical Education Vol. 47 No. 4 (2020): Interna Vol 47, No 4 (2020): Arthritis Vol. 47 No. 3 (2020): Dermatologi Vol 47, No 3 (2020): Dermatologi Vol 47, No 2 (2020): Penyakit Infeksi Vol 47 No 2 (2020): Infeksi Vol 47, No 1 (2020): CME - Continuing Medical Education Vol 47, No 1 (2020): Bedah Vol 47 No 1 (2020): Bedah Vol. 46 No. 7 (2019): Continuing Medical Education - 2 Vol 46 No 12 (2019): Kardiovakular Vol 46, No 12 (2019): Kardiovaskular Vol. 46 No. 11 (2019): Pediatri Vol 46, No 11 (2019): Kesehatan Anak Vol 46, No 10 (2019): Farmasi Vol. 46 No. 10 (2019): Farmakologi - Continuing Professional Development Vol 46 No 9 (2019): Neurologi Vol 46, No 9 (2019): Neuropati Vol. 46 No. 8 (2019): Pediatri Vol 46, No 8 (2019): Kesehatan Anak Vol 46, No 7 (2019): CME - Continuing Medical Education Vol 46 No 6 (2019): Endokrinologi Vol 46, No 6 (2019): Diabetes Mellitus Vol 46, No 5 (2019): Pediatri Vol. 46 No. 5 (2019): Pediatri Vol. 46 No. 4 (2019): Dermatologi Vol 46, No 4 (2019): Dermatologi Vol 46, No 3 (2019): Nutrisi Vol. 46 No. 3 (2019): Nutrisi Vol 46, No 2 (2019): Penyakit Dalam Vol. 46 No. 2 (2019): Interna Vol 46 No 1 (2019): Obstetri-Ginekologi Vol 46, No 1 (2019): CME - Continuing Medical Education Vol 46, No 1 (2019): Obstetri - Ginekologi Vol 45, No 12 (2018): Farmakologi Vol 45 No 12 (2018): Interna Vol. 45 No. 11 (2018): Neurologi Vol 45, No 11 (2018): Neurologi Vol. 45 No. 10 (2018): Muskuloskeletal Vol 45, No 10 (2018): Muskuloskeletal Vol 45 No 9 (2018): Infeksi Vol 45, No 9 (2018): Infeksi Vol 45, No 8 (2018): Alopesia Vol. 45 No. 8 (2018): Dermatologi Vol 45, No 7 (2018): Onkologi Vol 45 No 7 (2018): Onkologi Vol. 45 No. 6 (2018): Interna Vol 45, No 6 (2018): Penyakit Dalam Vol 45, No 5 (2018): Nutrisi Vol. 45 No. 5 (2018): Nutrisi Vol 45, No 4 (2018): Cedera Kepala Vol 45 No 4 (2018): Neurologi Vol 45, No 4 (2018): Cidera Kepala Vol. 45 No. 3 (2018): Muskuloskeletal Vol 45, No 3 (2018): Muskuloskeletal Vol 45, No 2 (2018): Urologi Vol. 45 No. 2 (2018): Urologi Vol 45, No 1 (2018): Dermatologi Vol 45 No 1 (2018): Dermatologi Vol 45, No 1 (2018): Suplemen Vol 44, No 12 (2017): Neurologi Vol 44, No 11 (2017): Kardiovaskuler Vol 44, No 10 (2017): Pediatrik Vol 44, No 9 (2017): Kardiologi Vol 44, No 8 (2017): Obstetri-Ginekologi Vol 44, No 7 (2017): THT Vol 44, No 6 (2017): Dermatologi Vol 44, No 5 (2017): Gastrointestinal Vol 44, No 4 (2017): Optalmologi Vol 44, No 3 (2017): Infeksi Vol 44, No 2 (2017): Neurologi Vol 44, No 1 (2017): Nutrisi Vol 43, No 12 (2016): Kardiovaskular Vol 43, No 11 (2016): Kesehatan Ibu - Anak Vol 43, No 10 (2016): Anti-aging Vol 43, No 9 (2016): Kardiovaskuler Vol 43, No 8 (2016): Infeksi Vol 43, No 7 (2016): Kulit Vol 43, No 6 (2016): Metabolik Vol 43, No 5 (2016): Infeksi Vol 43, No 4 (2016): Adiksi Vol 43, No 3 (2016): Kardiologi Vol 43, No 2 (2016): Diabetes Mellitus Vol 43, No 1 (2016): Neurologi Vol 42, No 12 (2015): Dermatologi Vol 42, No 11 (2015): Kanker Vol 42, No 10 (2015): Neurologi Vol 42, No 9 (2015): Pediatri Vol 42, No 8 (2015): Nutrisi Vol 42, No 7 (2015): Stem Cell Vol 42, No 6 (2015): Malaria Vol 42, No 5 (2015): Kardiologi Vol 42, No 4 (2015): Alergi Vol 42, No 3 (2015): Nyeri Vol 42, No 2 (2015): Bedah Vol 42, No 1 (2015): Neurologi Vol 41, No 12 (2014): Endokrin Vol 41, No 11 (2014): Infeksi Vol 41, No 10 (2014): Hematologi Vol 41, No 9 (2014): Diabetes Mellitus Vol 41, No 8 (2014): Pediatrik Vol 41, No 7 (2014): Kardiologi Vol 41, No 6 (2014): Bedah Vol 41, No 5 (2014): Muskuloskeletal Vol 41, No 4 (2014): Dermatologi Vol 41, No 3 (2014): Farmakologi Vol 41, No 2 (2014): Neurologi Vol 41, No 1 (2014): Neurologi More Issue