Cermin Dunia Kedokteran
Cermin Dunia Kedokteran (e-ISSN: 2503-2720, p-ISSN: 0125-913X), merupakan jurnal kedokteran dengan akses terbuka dan review sejawat yang menerbitkan artikel penelitian maupun tinjauan pustaka dari bidang kedokteran dan kesehatan masyarakat baik ilmu dasar, klinis serta epidemiologis yang menyangkut pencegahan, pengobatan maupun rehabilitasi. Jurnal ini ditujukan untuk membantu mewadahi publikasi ilmiah, penyegaran, serta membantu meningkatan dan penyebaran pengetahuan terkait dengan perkembangan ilmu kedokteran dan kesehatan masyarakat. Terbit setiap bulan sekali dan disertai dengan artikel yang digunakan untuk CME - Continuing Medical Education yang bekerjasama dengan PB IDI (Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia)
Articles
9 Documents
Search results for
, issue
"Vol 46, No 10 (2019): Farmasi"
:
9 Documents
clear
Diagnosis dan Manajemen Jangka Panjang Asma pada Balita
Sinatra, Talita Clarissa
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46, No 10 (2019): Farmasi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1145.851 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v46i10.430
Asma merupakan penyakit kronis yang paling umum pada anak. Diagnosis asma pada balita sebagian besar dinilai lewat gejala klinis, serta riwayat keluarga dan pemeriksaan fisik. Pemberian beta 2 agonis kerja singkat per inhalasi harus dimulai pada setiap balita dengan episode mengi, meskipun diagnosis asma belum ditegakkan. Uji terapi pengendali asma diberikan pada balita dengan gejala klinis mengarah ke asma dan gejala saluran napas tidak terkontrol dan atau episode mengi yang sangat sering atau berat.Asthma is the most common chronic disease of childhood. A diagnosis of asthma in young children is based largely on symptom patterns combined with a careful clinical assessment of family history and physical findings. Wheezing episodes in young children should be treated initially with inhaled short-acting beta2-agonists. A trial of controller therapy should be given if the symptom pattern suggests asthma and respiratory symptoms are uncontrolled and/or wheezing episodes are frequent or severe. Â
Peran Vitamin D pada Epilepsi Anak
Batubara, Ratna Suwita;
Saing, Johannes Harlan;
Sianturi, Pertin;
Dimyati, Yazid;
Destariani, Cynthea Prima
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46, No 10 (2019): Farmasi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (694.588 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v46i10.432
Vitamin D memiliki peran penting selama perkembangan otak, proliferasi, diferensiasi, neurotrofik dan neuroprotektif. Bentuk aktif vitamin D menekan inflamasi dan mengubah keseimbangan antara sitokin inhibitor dan sitokin eksitasi. Bentuk aktif vitamin D menunjukkan efek imunomodulator dan secara efektif dapat menekan inflamasi sehingga mempunyai efek antikonvulsan. Penderita epilepsi anak berisiko tinggi defisiensi vitamin D.Pemakaian obat antiepilepsi sebagai politerapi dihubungkan dengan penurunan kadar vitamin D yang lebih besar dibandingkan obat antieepilepsi sebagai monoterapi. Pemberian vitamin D harus cukup untuk mempertahankan kadar normal 25(OH)D (≥30 ng/mL). Pemberian vitamin D pada epilepsi dapat meningkatkan batas ambang kejang secara signifikan dan mengurangi keparahan kejang.Vitamin D has an important role during brain development, proliferation, differentiation, neurotrophic and neuroprotection. The active form of vitamin D suppresses inflammation and changes the balance between inhibitory cytokines and excitatory cytokines. The active form of vitamin D shows an immunomodulatory effect and can effectively suppress inflammation so that it has an anticonvulsant effect. Epileptic children are in high risk of vitamin D deficiency. Antiepileptic polytherapy is associated with a greater reduction in vitamin D levels than in monotherapy. Vitamin D supplementation must be sufficient to maintain normal level of 25(OH)D (≥30 ng/mL. Vitamin D can significantly increase the seizure threshold and reduce the severity of seizure.Â
Medium Chain Triglyceride (MCT) Ketogenic Diet and Its Role in Epilepsy
-, Muthmainah
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46, No 10 (2019): Farmasi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (527.096 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v46i10.460
Brain mainly uses glucose as its energy sources; it can also use ketone bodies and free fatty acids for oxidative fuel. Decreased energy production in seizure is commonly caused by the lack of TCA cycle intermediates and acetyl-CoA. MCT diet induces ketosis and facilitates anaplerosis to provide intermediate substrates that can be used to support brain metabolism. MCT diet has been shown to help control seizure.Otak terutama menggunakan glukosa sebagai sumber energi. Otak juga dapat menggunakan badan keton dan asam lemak bebas sebagai sumber energi oksidatif. Penurunan produksi energi dalam kasus kejang sering disebabkan karena kekurangan zat antara dan asetil-KoA dalam siklus asam trikarboksilat (siklus Krebs). Diet MCT dapat menginduksi ketosis dan anaplerosis untuk menghasilkan substrat antara dalam siklus Krebs yang dapat dipakai untuk menopang metabolisme di otak. Diet MCT terbukti dapat membantu mengontrol kejang.
Manfaat Omega-3 Parenteral di Dunia Medis
Ardi, Laurencia
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46, No 10 (2019): Farmasi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (788.768 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v46i10.429
Emulsi lemak intravena merupakan komponen penting nutrisi parenteral. Awalnya emulsi lemak digunakan sebagai sumber energi non-glukosa yang efisien untuk mengurangi efek samping hiperglikemia dan sebagai sumber asam lemak esensial. Penelitian menunjukkan efek omega-3 dan omega-6 pada metabolisme, inflamasi, respon kekebalan tubuh, koagulasi, dan sinyal sel, sehingga dapat bermanfaat untuk terapi bedah, kanker dan penyakit kritis serta pada pasien yang membutuhkan nutrisi parenteral jangka panjang. Pembahasan berikut meliputi mekanisme kerja dan manfaat omega-3 di dunia medis. Kata kunci : emulsi lemak, asam lemak omega-3, nutrisi parenteralIntravenous lipid emulsions are essential component of parenteral nutrition regimens, originally employed as an efficient non-glucose energy source to reduce the adverse effects of high glucose intake and provide essential fatty acids. Research demonstrates the effects of omega-3 and omega-6 polyunsaturated fatty acids (PUFA) on key metabolic functions, inflammatory and immune response, coagulation, and cell signaling; potentially benefit surgical, cancer, and critically ill patients as well as patients requiring long-term parenteral nutrition. This review provides an overview on the mechanisms of action and benefits of omega-3 in medicine.
Manfaat Omega-3 Parenteral di Dunia Medis
Laurencia Ardi
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46, No 10 (2019): Farmasi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v46i10.429
Emulsi lemak intravena merupakan komponen penting nutrisi parenteral. Awalnya emulsi lemak digunakan sebagai sumber energi non-glukosa yang efisien untuk mengurangi efek samping hiperglikemia dan sebagai sumber asam lemak esensial. Penelitian menunjukkan efek omega-3 dan omega-6 pada metabolisme, inflamasi, respon kekebalan tubuh, koagulasi, dan sinyal sel, sehingga dapat bermanfaat untuk terapi bedah, kanker dan penyakit kritis serta pada pasien yang membutuhkan nutrisi parenteral jangka panjang. Pembahasan berikut meliputi mekanisme kerja dan manfaat omega-3 di dunia medis. Kata kunci : emulsi lemak, asam lemak omega-3, nutrisi parenteralIntravenous lipid emulsions are essential component of parenteral nutrition regimens, originally employed as an efficient non-glucose energy source to reduce the adverse effects of high glucose intake and provide essential fatty acids. Research demonstrates the effects of omega-3 and omega-6 polyunsaturated fatty acids (PUFA) on key metabolic functions, inflammatory and immune response, coagulation, and cell signaling; potentially benefit surgical, cancer, and critically ill patients as well as patients requiring long-term parenteral nutrition. This review provides an overview on the mechanisms of action and benefits of omega-3 in medicine.
Diagnosis dan Manajemen Jangka Panjang Asma pada Balita
Talita Clarissa Sinatra
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46, No 10 (2019): Farmasi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v46i10.430
Asma merupakan penyakit kronis yang paling umum pada anak. Diagnosis asma pada balita sebagian besar dinilai lewat gejala klinis, serta riwayat keluarga dan pemeriksaan fisik. Pemberian beta 2 agonis kerja singkat per inhalasi harus dimulai pada setiap balita dengan episode mengi, meskipun diagnosis asma belum ditegakkan. Uji terapi pengendali asma diberikan pada balita dengan gejala klinis mengarah ke asma dan gejala saluran napas tidak terkontrol dan atau episode mengi yang sangat sering atau berat.Asthma is the most common chronic disease of childhood. A diagnosis of asthma in young children is based largely on symptom patterns combined with a careful clinical assessment of family history and physical findings. Wheezing episodes in young children should be treated initially with inhaled short-acting beta2-agonists. A trial of controller therapy should be given if the symptom pattern suggests asthma and respiratory symptoms are uncontrolled and/or wheezing episodes are frequent or severe.
Rifampisin Ofloxacin Minosiklin (ROM) sebagai Terapi Alternatif Morbus Hansen
Riza Deviana
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46, No 10 (2019): Farmasi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v46i10.431
Morbus Hansen merupakan penyakit infeksi yang masih terus muncul. Multi Drug Therapy (MDT) dari WHO banyak bermanfaat, namun masih belum bisa mengeradikasi penyakit ini. Kombinasi Rifampisin-Ofloxacin-Minosiklin memiliki efek anti kusta yang menjanjikan dan mungkin dapat digunakan sebagai terapi alternatif Morbus Hansen.Morbus Hansen is an infectious disease that is still a problem. MDT from WHO have been very useful, but still can’t eradicate leprosy. A combination therapy of Rifampicin-Ofloxacin-Minocyclin appeared to be promising and can be used as an alternative therapy.
Peran Vitamin D pada Epilepsi Anak
Ratna Suwita Batubara;
Johannes Harlan Saing;
Pertin Sianturi;
Yazid Dimyati;
Cynthea Prima Destariani
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46, No 10 (2019): Farmasi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v46i10.432
Vitamin D memiliki peran penting selama perkembangan otak, proliferasi, diferensiasi, neurotrofik dan neuroprotektif. Bentuk aktif vitamin D menekan inflamasi dan mengubah keseimbangan antara sitokin inhibitor dan sitokin eksitasi. Bentuk aktif vitamin D menunjukkan efek imunomodulator dan secara efektif dapat menekan inflamasi sehingga mempunyai efek antikonvulsan. Penderita epilepsi anak berisiko tinggi defisiensi vitamin D.Pemakaian obat antiepilepsi sebagai politerapi dihubungkan dengan penurunan kadar vitamin D yang lebih besar dibandingkan obat antieepilepsi sebagai monoterapi. Pemberian vitamin D harus cukup untuk mempertahankan kadar normal 25(OH)D (≥30 ng/mL). Pemberian vitamin D pada epilepsi dapat meningkatkan batas ambang kejang secara signifikan dan mengurangi keparahan kejang.Vitamin D has an important role during brain development, proliferation, differentiation, neurotrophic and neuroprotection. The active form of vitamin D suppresses inflammation and changes the balance between inhibitory cytokines and excitatory cytokines. The active form of vitamin D shows an immunomodulatory effect and can effectively suppress inflammation so that it has an anticonvulsant effect. Epileptic children are in high risk of vitamin D deficiency. Antiepileptic polytherapy is associated with a greater reduction in vitamin D levels than in monotherapy. Vitamin D supplementation must be sufficient to maintain normal level of 25(OH)D (≥30 ng/mL. Vitamin D can significantly increase the seizure threshold and reduce the severity of seizure.
Medium Chain Triglyceride (MCT) Ketogenic Diet and Its Role in Epilepsy
Muthmainah -
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46, No 10 (2019): Farmasi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v46i10.460
Brain mainly uses glucose as its energy sources; it can also use ketone bodies and free fatty acids for oxidative fuel. Decreased energy production in seizure is commonly caused by the lack of TCA cycle intermediates and acetyl-CoA. MCT diet induces ketosis and facilitates anaplerosis to provide intermediate substrates that can be used to support brain metabolism. MCT diet has been shown to help control seizure.Otak terutama menggunakan glukosa sebagai sumber energi. Otak juga dapat menggunakan badan keton dan asam lemak bebas sebagai sumber energi oksidatif. Penurunan produksi energi dalam kasus kejang sering disebabkan karena kekurangan zat antara dan asetil-KoA dalam siklus asam trikarboksilat (siklus Krebs). Diet MCT dapat menginduksi ketosis dan anaplerosis untuk menghasilkan substrat antara dalam siklus Krebs yang dapat dipakai untuk menopang metabolisme di otak. Diet MCT terbukti dapat membantu mengontrol kejang.