Cermin Dunia Kedokteran
Cermin Dunia Kedokteran (e-ISSN: 2503-2720, p-ISSN: 0125-913X), merupakan jurnal kedokteran dengan akses terbuka dan review sejawat yang menerbitkan artikel penelitian maupun tinjauan pustaka dari bidang kedokteran dan kesehatan masyarakat baik ilmu dasar, klinis serta epidemiologis yang menyangkut pencegahan, pengobatan maupun rehabilitasi. Jurnal ini ditujukan untuk membantu mewadahi publikasi ilmiah, penyegaran, serta membantu meningkatan dan penyebaran pengetahuan terkait dengan perkembangan ilmu kedokteran dan kesehatan masyarakat. Terbit setiap bulan sekali dan disertai dengan artikel yang digunakan untuk CME - Continuing Medical Education yang bekerjasama dengan PB IDI (Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia)
Articles
32 Documents
Search results for
, issue
"Vol 47, No 10 (2020): Optalmologi"
:
32 Documents
clear
Antenatal Care for High Risk Pregnancy
Sungkar, Ali;
Surya, Raymond
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47, No 10 (2020): Optalmologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (81.61 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v47i10.1092
Despite 38% gradual fall since 2000, there was still approximately 295,000 women died during and following pregnancy and childbirth in 2017. Factors that lead to high maternal mortality include inequality access to health service, severe bleeding (mostly postpartum hemorrhage), infection, high blood pressure during pregnancy, complication from delivery, and unsafe abortion. These deaths are correlated to delay in decision to seek care, delay in reaching care, delay in receiving adequate health care. Improvement of antenatal care was the solution to this problem. Indonesia has not updated to the newest model of WHO antenatal care in 2016. Defining high-risk and updating the model can help Indonesia provides excellent care for mothers and reduce maternal deaths.Meskipun terdapat penurunan angka kematian ibu (AKI) sebesar 38% sejak tahun 2000, 295.000 wanita meninggal peripartum pada tahun 2017. Faktor yang menyebabkan AKI di antaranya tidak meratanya akses pelayanan kesehatan, perdarahan berat, infeksi, tekanan darah tinggi selama kehamilan, komplikasi persalinan, dan aborsi tidak aman. Kematian ini terkait dengan keterlambatan keputusan untuk merujuk, keterlambatan untuk mencapai tempat rujukan, dan keterlambatan mendapatkan tatalaksana yang baik. Hingga saat ini, Indonesia belum mengikuti panduan kunjungan antenatal terbaru dari WHO tahun 2016. Mendefinisikan kehamilan risiko tinggi dan penyesuaian model kunjungan antenatal diharapkan dapat memberikan perawatan yang baik bagi ibu dan menurunkan kematian maternal.Â
Terapi Bifosfonat untuk Pasien Osteoporosis Pasca Menopause
Joenputri, Noviana
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47, No 10 (2020): Optalmologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (152.807 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v47i10.1083
Osteoporosis lebih sering pada wanita pasca menopause karena perubahan hormon yang menyebabkan ketidakseimbangan antara resorpsi dan pembentukan tulang. Osteoporosis dapat menyebabkan patah tulang yang akan berdampak meningkatkan morbiditas dan mortalitas. Terapi saat ini bertujuan untuk mencegah patah tulang serta menjaga dan meningkatkan densitas mineral tulang. Bifosfonat merupakan obat yang paling sering digunakan untuk terapi osteoporosis pasca menopause. The US Food and Drug Administration (FDA) telah menyetujui 4 agen bifosfonat, yaitu alendronat, risedronat, ibandronat, dan asam zoledronat. Bifosfonat memiliki beberapa efek samping yang perlu diperhatikan akibat penggunaan jangka panjang. Kepatuhan pengobatan osteoporosis memiliki hubungan kuat dengan risiko patah tulang.Osteoporosis is more common in post-menopausal women, as hormonal changes cause an imbalance between bone resorption and formation. Osteoporosis can cause fractures that may contribute to morbidity and mortality. Current therapies aim to prevent fractures, maintain and increase bone mineral density. Biphosphonates are the most widely used drugs for postmenopausal osteoporosis treatment. The US Food and Drug Administration (FDA) has approved 4 biphosphonate agents: alendronate, risedronate, ibandronate, and zoledronic acid. Biphosphonates have several side effects that need to be considered due to long-term use. Compliance and adherence in the treatment of osteoporosis has a strong relationship to risk of fractures.
Tinjauan atas Angiotensin Receptor Blocker Generasi Baru
Cherub, Jane
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47, No 10 (2020): Optalmologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (191.425 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v47i10.1088
Angiotensin receptor blockers (ARB) yang bekerja menghambat reseptor AngII-AT1 secara selektif direkomendasikan sebagai agen antihipertensi lini pertama. Saat ini terdapat 8 varian ARB di pasaran. Selain efek antagonisasinya terhadap AT1, ARB generasi baru memiliki mekanisme tambahan yang dapat menarget hipertensi, penyakit kardiovaskular, dan diabetes. ARB generasi baru juga memblokir reseptor endotelin, berfungsi sebagai donor oksida nitrat, menghambat aktivitas neprilysin dan meningkatkan kadar peptida natriuretik, atau merangsang peroxisome proliferatoractivated receptor gamma (PPARγ). ARB generasi baru dapat memiliki nilai klinis dan manfaat terapeutik lebih besar daripada hanya melalui penghambatan reseptor AT1.Angiotensin receptor blockers (ARBs) works by selectively blocking AngII-AT1 receptors; it is recommended as a first-line antihypertensive agent. Currently there are 8 variants of ARB in the market. In addition to its AT1 antagonist effect, new generation of ARB can have additional mechanisms on hypertension, cardiovascular disease and diabetes. New generation ARBs also block endothelial receptors, as nitric oxide donors, inhibit neprilysin activity and increase levels of natriuretic peptides, or stimulate peroxisome proliferator-activated gamma receptors (PPARγ). New generation of ARBs can have considerable clinical value and provide greater therapeutic benefits.
Diagnosis dan Tatalaksana Uveitis Posterior
Wetarini, Krisnhaliani;
-, Febyan;
Mahayani, Ni Made Widya
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47, No 10 (2020): Optalmologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (99.596 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v47i10.1079
Uveitis merupakan proses peradangan uvea, yang meliputi iris, badan siliar, dan koroid. Secara anatomi, terdapat empat klasifikasi uveitis, yaitu uveitis anterior, uveitis intermediet, uveitis posterior, dan panuveitis. Uveitis posterior merupakan radang lapisan koroid dan struktur sekitarnya pada posterior mata. Kelainan ini langka, namun paling sering dikaitkan dengan komplikasi kebutaan. Diagnosis uveitis posterior membutuhkan pendekatan komprehensif karena bersifat kompleks dan multifaktorial. Penatalaksanaan yang tepat penting dan terutama untuk menemukan dan mengobati penyebab dasar agar dapat mencegah perburukan dan komplikasi yang lebih berat.Uveitis is an inflammatory process in the uvea, consisted of iris, ciliary body, and choroid. Four anatomical types of uveitis include anterior uveitis, intermediate uveitis, posterior uveitis and panuveitis. Posterior uveitis is the inflammation of the choroidal layer and surrounding structures in the posterior eye. This disorder is considered rare, but most commonly related to ocular complications, such as blindness. Diagnosis requires a comprehensive approach because of its complex and multifactorial nature. Appropriate management is important. Causal reatment can prevent the worsening and more severe complications.Â
Gunakan Insulin dengan CERMAT
Lukito, Johan Indra
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47, No 10 (2020): Optalmologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (239.313 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v47i10.1093
Insulin digunakan sebagai salah satu terapi diabetes melitus (DM). Penderita DM dan keluarganya perlu mendapat edukasi tentang penggunaan insulin. Penulis menyusun sebuah mnemonik untuk membantu pasien dan keluarganya mengingat hal-hal penting terkait penggunaan insulin. Mnemonik ini berupa slogan “Gunakan Insulin dengan CERMATâ€.Insulin is used for diabetes mellitus (DM) therapy. DM sufferers and their families need to be educated on using insulin to control their blood glucose levels. The author suggested a mnemonic to help patients and their families remember essential points related to insulin use. This mnemonic is "Use Insulin with CERMAT".Â
Teknik Diagnostik dan Staging Melanoma Maligna Kutaneus
Chandra, Rudi
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47, No 10 (2020): Optalmologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (236.396 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v47i10.1084
Melanoma maligna merupakan keganasan sel-sel penghasil pigmen (melanosit) yang terletak terutama di kulit. Tujuan setiap alat diagnostik adalah deteksi dini dan membedakan lesi jinak dan ganas, dengan sensitivitas dan spesifisitas tinggi. Diagnosis melanoma klinis dapat menggunakan Glasgow 7-point checklist, checklist ABCD, total-body photography, dan dermoskopi. Diagnosis histopatologi merupakan pemeriksaan baku emas untuk diagnosis. Diagnosis molekular dengan menilai status mutasi BRAF V600, MEK, NRAS, dan CKIT. Sedangkan teknik staging TNM menggunakan modalitas pencitraan lanjutan dengan kontras intravena, seperti computed tomography (CT) atau fluorodeoxyglucose (FDG)-based positron emission tomography (PET) CT scan, dan pemeriksaan sentinel nodus lymphatic.Malignant melanoma is a malignancy in pigments producing cells (melanocytes), located mainly in the skin. The aim of each diagnostic tool is early detection and differentiating benign and malignant lesions with high sensitivity and specificity. Clinical diagnosis can use the Glasgow 7-point checklist, ABCD checklist, total-body photography, and dermoscopy. Histopathological examination is a gold standard for diagnosis. Molecular diagnosis is done by assessing the status of mutations of BRAF V600, MEK, NRAS, and CKIT. Diagnostic techniques in melanoma TNM staging system use advanced imaging modalities with intravenous contrast, such as computed tomography (CT) or fluorodeoxyglucose (FDG)-based positron emission tomography (PET) CT scans, and examination of sentinel lymphatic lymph nodes. Rudi Chandra.
Perkembangan Diagnosis dan Tatalaksana Infeksi Mycoplasma genitalium
El Novita, Sylviany
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47, No 10 (2020): Optalmologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (171.495 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v47i10.1089
Mycoplasma genitalium adalah organisme penyebab infeksi menular seksual dengan prevalensi pada populasi risiko tinggi sekitar 10-41% pada laki - laki dan 7,3-14% pada perempuan. Mycoplasma genitalium menjadi penyebab sekitar 15-20% kasus uretritis non spesifik pada laki - laki dan 30% menyebabkan uretritis persisten atau rekuren. Infeksi M. genitalium dapat asimtomatik atau dengan gejala. Pada tahun 2019, US Food and Drug Administration menetapkan Aptima Mycoplasma genitalium Assay sebagai tes amplifikasi asam nukleat pertama yang diautorisasi untuk mendeteksi M. genitalium. Tes yang akurat dan spesifik berperan penting dalam pemilihan terapi, yang dapat membantu mengurangi penggunaan antibiotik berlebihan dan membantu melawan resistensi antibiotik.Mycoplasma genitalium is a sexually transmited bacterium with 10-41% prevalence in men and 7,3-14% in women in the high risk population. Mycoplasma genitalium is responsible for 15-20% non specific urethritis in men and cause of 30% persistent or recurrent urethritis. Aptima Mycoplasma genitalium Assay is the first FDA authorized nucleic acid amplification test to detect M.genitalium. Accurate and reliable tests to identify specific bacteria can lead to the appropriate treatment, reduce antibiotics overuse and antimicrobial resistance.
Retinopati Prematuritas : Diagnosis dan Tatalaksana
Yahya, Willy
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47, No 10 (2020): Optalmologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (309.24 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v47i10.1080
Retinopati prematuritas (ROP) adalah kelainan proliferatif progresif pembuluh darah retina bayi prematur yang dapat menyebabkan kebutaan. International Classification of Retinopathy of Prematurity (ICROP) membagi ROP berdasarkan tingkat keparahan, perluasan, lokasi, adanya penyakit lain, dan adanya ROP posterior yang agresif. ROP dimulai dari penundaan vaskularisasi retina akibat keadaan hiperoksia relatif dan dilanjutkan dengan fase vasoproliferasi. Skrining adekuat dengan oftalmoskop indirek dan tatalaksana sesuai pedoman The Early Treatment for Retinopathy of Prematurity (ETROP) menjadi modalitas penanganan ROP saat ini. Tatalaksana dengan modalitas lain masih diteliti.Retinopathy of prematurity (ROP) is a proliferative, progressive vascularization in premature infants which can lead to blindness. International Classification of Retinopathy of Prematurity (ICROP) classified the ROP based on severity, extent, zone, the existence of other diseases, and the existence of aggressive posterior ROP. ROP starts with the delay of retinal vascularization from relative hyperoxia state and develops to vasoproliferation phase. Adequate screening by indirect ophthalmoscope and The Early Treatment for Retinopathy of Prematurity (ETROP) treatment guideline become the current modality for ROP therapy. Treatment with other modalities are still under investigation.
Iktiosis Vulgaris
Purnamasari, Maretta Rosabella
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47, No 10 (2020): Optalmologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (388.229 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v47i10.1085
Iktiosis vulgaris merupakan jenis iktiosis yang paling sering terjadi dan disebabkan oleh mutasi gen filaggrin (FLG). Manifestasi klinis khas berupa sisik yang menyisakan area fleksor, disertai hiperlinearitas palmoplantar, keratosis pilaris, dan kecenderungan memiliki penyakit penyerta alergi. Terapi simptomatis dengan prinsip menjaga hidrasi serta menghilangkan sisik. Penyakit ini membaik seiring bertambahnya usia dan pada musim panas serta keadaan lembap.Ichthyosis vulgaris is the most common type of ichthyosis and is caused by mutations in the filaggrin gene (FLG). Typical clinical manifestations are scales that typically spare the flexural area, accompanied by palmoplantar hyperlinearity, keratosis pilaris, and a tendency to have allergic disease. Treatment is symptomatic to maintain hydration and eliminate scales. The disease improves with age and in summer and humid conditions.Â
Peranan Vitamin E dalam Mencegah Efek Samping Mukokutaneus Isotretinoin
Gunawan, Harry;
Gabriela, Stefanni;
Lukita, Stephanie;
Setiawan, Ivon;
Dewi, Kardiana Purnama
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47, No 10 (2020): Optalmologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (147.879 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v47i10.1090
Isotretinoin merupakan pilihan terapi oral yang paling efektif untuk kasus akne vulgaris derajat berat, tidak responsif terhadap terapi konvensional, akne dengan jaringan parut berat, dan akne kronis. Efek samping mukokutaneus paling sering dan tergantung dosis (dose-dependent), diduga berkaitan dengan berkurangnya produksi sebum, berkurangnya ketebalan stratum korneum, dan berubahnya fungsi barier epidermis. ATRA (all-transretinoic acid) dapat meningkatkan ekspresi TRAIL, yang merupakan protein ligan TNF-related menginduksi apoptosis. Vitamin E (ï¡-tokoferol) dapat menekan jumlah reseptor ligan apoptosis serta mengatur profil lipid epidermal. Beberapa penelitian menunjukkan vitamin E dapat mengurangi efek samping isotretinoin.Isotretinoin is the most effective choice of oral therapy for severe acne, acne unresponsive to conventional therapy, severe acne scars, and chronic acne. Mucocutaneous side effects are the most frequently occurring and dose-dependent, thought to be related to reduced sebum production, reduced stratum corneum thickness, and epidermal barrier function. ATRA (all-trans retinoic acid) increases the expression of TRAIL, a TNF-related ligand protein that induces apoptosis. Vitamin E (ï¡-tocopherol) can suppress apoptotic ligand receptors and regulate lipid profiles. Several studies show the advantages of vitamin E in reducing side effects of isotretinoin.