cover
Contact Name
Dita Archinirmala
Contact Email
dorotea.ditaarchinirmala@kalbe.co.id
Phone
+6281806175669
Journal Mail Official
cdkjurnal@gmail.com
Editorial Address
http://www.cdkjournal.com/index.php/CDK/about/editorialTeam
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Cermin Dunia Kedokteran
Published by PT. Kalbe Farma Tbk.
ISSN : 0125913X     EISSN : 25032720     DOI : 10.55175
Core Subject : Health,
Cermin Dunia Kedokteran (e-ISSN: 2503-2720, p-ISSN: 0125-913X), merupakan jurnal kedokteran dengan akses terbuka dan review sejawat yang menerbitkan artikel penelitian maupun tinjauan pustaka dari bidang kedokteran dan kesehatan masyarakat baik ilmu dasar, klinis serta epidemiologis yang menyangkut pencegahan, pengobatan maupun rehabilitasi. Jurnal ini ditujukan untuk membantu mewadahi publikasi ilmiah, penyegaran, serta membantu meningkatan dan penyebaran pengetahuan terkait dengan perkembangan ilmu kedokteran dan kesehatan masyarakat. Terbit setiap bulan sekali dan disertai dengan artikel yang digunakan untuk CME - Continuing Medical Education yang bekerjasama dengan PB IDI (Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia)
Articles 2,961 Documents
Penatalaksanaan Kejang Demam Rifqi Fadly Arief
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 9 (2015): Pediatri
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v42i9.968

Abstract

Kejang demam merupakan salah satu penyakit yang umum terjadi pada anak. Diagnosis kejang demam harus dibedakan dari epilepsi. Kejang demam diklasifikasikan menjadi kejang demam sederhana dan kejang demam kompleks. Pemeriksaan dan tatalaksana harus dilakukan secara komprehensif, mulai dari pemberian obat antikejang, demam, rumatan, dan edukasi kepada orang tua, termasuk mengenai penanganan pertama kejang demam pada anak.Febrile seizure is one of the commonest illness affecting children. Diagnosis of febrile seizure should be differentiated from epilepsy. Febrile seizure is classified into simple febrile seizure and complex febrile seizure. The examination and management should be done comprehensively; started from anticonvulsant therapy, antipyretic, maintenance, and parents’ education including the first treatment of febrile seizures. 
Komplikasi Neurologis Endokarditis Infektif Michael Setiawan
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 5 (2015): Kardiologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v42i5.1011

Abstract

Endokarditis infektif (EI) dapat mengakibatkan komplikasi neurologis yang berat dan mengancam nyawa. Komplikasi neurologis kebanyakan terjadi akibat emboli septik yang menyebabkan iskemia atau proses peradangan, sehingga mengakibatkan infark serebri, perdarahan, meningitis atau abses otak. Gambaran klinis bervariasi tergantung bagian otak yang terkena. Diagnosis komplikasi neurologis EI harus dipikirkan pada pasien usia muda dengan hemiplegi akut dan demam. Diagnosis ditegakkan dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang teliti, kultur darah, pemeriksaan neuroimaging, dan echocardiography. Penatalaksanaan EI adalah dengan antibiotik untuk eradikasi bakteri. Pengobatan emboli serebral dengan antitrombotik sampai saat ini masih kontroversial. Prognosis buruk, terutama pada perdarahan otak dan disfungsi neurologis berat.Infective endocarditis (IE) can have devastating and life-threatening neurological complications. Neurological complications are ischemia or inflammation most often due to septic embolization, resulting in cerebral infarction, hemorrhage, meningitis, or brain abscess. Clinical findings vary according to the affected part of the nervous system. The diagnosis should be suspected in febrile young patient with acute onset hemiplegia. Diagnostic measures should include a careful history and physical examination, blood cultures, neuroimaging and echocardiography. Treatment of IE relies on microbe eradication by antimicrobial drugs. The proper use of antitrhombotic therapy in cerebral emboli is still controversial. Outcome is poor, especially in patients with brain hemorrhage and severe neurological dysfunction.
Peranan SOD pada Tatalaksana Akne Vulgaris Esther Kristiningrum
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45, No 2 (2018): Urologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v45i2.175

Abstract

Akne vulgaris merupakan penyakit kulit inflamasi yang disebabkan oleh perubahan pada unit pilosebaseus. Stres oksidatif dapat berperan dalam etiopatogenesis dan/atau progresivitas penyakit ini. Superoxide dismutase (SOD) merupakan pertahanan antioksidan lini pertama dalam tubuh yang juga mempunyai efek antiinflamasi dan antifibrotik. Banyak studi menunjukkan bahwa aktivitas SOD secara bermakna lebih rendah pada pasien akne dibandingkan kontrol. Suplementasi SOD dapat bermanfaat untuk mengobati pasien akne.
Peranan Bakteri Wolbachia pada Patogenesis Filariasis Suriyani -
Cermin Dunia Kedokteran Vol 41, No 2 (2014): Neurologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v41i2.1163

Abstract

Diperkirakan saat ini sekitar 150 juta penduduk di seluruh dunia terinfeksi filariasis terutama penduduk di kantong-kantong kemiskinan di daerah tropis termasuk Indonesia. Penyebab filariasis berupa nematoda jaringan, yaitu Wuchereria bancrofti, Brugia malayi, dan Brugia timori. Wolbachia pipientis sebagai bakteri yang diketahui berendosimbion dengan cacing filaria mempunyai peranan pada patogenesis inflamasi filariasis. Inflamasi diakibatkan oleh lipoprotein Wolbachia yang terpapar pada respon imun manusia diperantarai jalur TLR2/6 saat bakteri Wolbachia terbebas ke peredaran darah setelah kematian dan degenerasi cacing dewasa maupun microfilaria. Bakteri Wolbachia hanya mempunyai gen Ltg dan LspA untuk biosintesis lipoprotein, tetapi tidak mempunyai gen Lnt mengisyaratkan bahwa lipoprotein Wolbachia berbentuk diasil sehingga merupakan ligan  yang cocok dengan TLR2/6.  Inflamasi akibat lipoprotein Wolbachia akan memicu peningkatan sitokin pro inflamasi. Sitokin proinflamasi akan meningkatkan induksi VEGF-A dan VEGF-C yang sangat berkontribusi pada patogenesis limfedema dan hidrokel pada penderita filariasis.   It is estimated that more than 150 million people in the world are infected by the filarial disease, especially among poor communities in tropic regions, including Indonesia. The cause of this lymphatic filariasis are Wuchereria bancrofti, Brugia malayi, and Brugia timori. Wolbachia pipientis, an obligate intracellular bacterium, is an endosymbiont of the filarial parasite, have a very important role in the pathogenesis of lymphatic filariasis.  Inflammation is caused by the Wolbachia lipoprotein which are liberated after the death of adult parasite or microfilariae and exposed to the host immune system and is mediated by TLR2/6. Wolbachia only have  Ltg dan LspA genes for the lipoprotein biosynthesis, but do not possess the Lnt gene.  These findings confirm that Wolbachia lipoprotein is diacylated, so it is a match ligand with TLR2/6.  Inflammation caused by Wolbachia lipoprotein increased pro-inflammation cytokine. The pro-inflammation cytokine  will cause induction of  VEGF-A dan VEGF-C, contributing to the lymphedema and hydrocele pathogenesis in lymphatic filariasis. 
Can Hemoglobin-Hematocrit Relationship Be Used to Assess Hydration Status? Hubertus Hosti Hayuanta
Cermin Dunia Kedokteran Vol 43, No 2 (2016): Diabetes Mellitus
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v43i2.23

Abstract

There is an opinion that if the hematocrit is lower than multiplied hemoglobin (Hct< 3 x Hb), the patient is overhydrated, and if it is higher (Hct> 3 x Hb), the patient is dehydrated. This practice is flawed. Hemoglobin-hematocrit relationship is not affected by a patient’s hydration status, and thus its alteration cannot be used to assess it. The relationship can only be altered if the red blood cells (RBCs) are abnormal, or look altered because of technical factors.Instead of multiplying hemoglobin value and comparing it to the hematocrit, a quicker way to assess is to evaluate the mean corpuscular hemoglobin concentration (MCHC). Clinicians can still predict hydration status by comparing the hematocrit to its baseline value or the laboratory’s reference range, by physical examination, or use other laboratory tests such as urine specifi c gravity and osmolality.
Steroid Intratimpani untuk Penanganan Tuli Mendadak Jessica Fedriani
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 2 (2015): Bedah
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v42i2.1043

Abstract

Tuli mendadak merupakan tuli sensorineural yang termasuk dalam kedaruratan neurotologi. Penyebab pasti tuli mendadak hanya ditemukan pada 10–15% kasus, sebagian besar penyebabnya tidak diketahui (idiopatik), sehingga pengobatan umumnya dilakukan secara empiris. Steroid intratimpani dapat menjadi alternatif pada penanganan tuli mendadak, khususnya jika terapi sistemik gagal atau untuk menghindari efek samping steroid sistemik.Sudden deafness is sensorineural hearing loss which is a neurotology emergency. The definite cause of sudden deafness is only found in 10-15% cases, so treatment is generally done empirically. Intratympanic steroid can be given as an alternative, especially in cases which systemic therapies fail or to avoid side effect of systemic steroid use. 
Tanggung Jawab Perlindungan Hukum di Rumah Sakit Mahesa Paranadipa M
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46, No 5 (2019): Pediatri
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v46i5.487

Abstract

Pelayanan kesehatan khususnya pelayanan di rumah sakit harus mengedepankan kepentingan dan keselamatan pasien. Hukum perikatan antara dokter dan pasien bersifat perjanjian upaya (inspanning verbintennis), yaitu dokter harus melakukan upaya semaksimal mungkin sesuai dengan kompetensi dan kesiapan sarana prasarana yang ada.
Efikasi Suplementasi Asam Folat terhadap Kejadian Stroke pada Pasien Hiperhomosisteinemia dengan Riwayat Penyakit Jantung Koroner – Telaah Kasus Berbasis Bukti Erlina Santoso; Didi Haryadi; Melva Louisa
Cermin Dunia Kedokteran Vol 49, No 3 (2022): Saraf
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v49i3.1773

Abstract

Beberapa studi uji klinis yang meneliti efikasi asam folat untuk mencegah kejadian stroke pada pasien hiperhomosisteinemia dengan penyakit kardiovaskular memberikan simpulan yang inkonklusif. Tujuan laporan kasus berbasis bukti ini untuk menilai apakah suplementasi asam folat dapat menurunkan risiko stroke pada pasien dengan riwayat jantung koroner dengan hiperhomosisteinemia. Pencarian komprehensif melalui beberapa basis data online. Telaah kritis menggunakan alat penilaian dari Centre of Evidence Based Medicine (CEBM). Diperoleh dua studi kajian sistematik yang sesuai kriteria seleksi. Hasil telaah kritis mendapatkan bahwa kedua studi tersebut memiliki validitas baik. Analisis menunjukkan bahwa suplementasi asam folat dapat menurunkan kejadian stroke pada pasien dengan riwayat penyakit kardiovaskular.
Peran Vitamin C pada Pasien Hemodialisis Indra Wijaya; Agustina -
Cermin Dunia Kedokteran Vol 43, No 4 (2016): Adiksi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v43i4.49

Abstract

Prevalensi kematian akibat kardiovaskuler pada pasien penyakit ginjal kronik stadium akhir yang menjalani hemodialisis, baik di negara maju maupun berkembang masih tinggi. Penelitian berbasis populasi menilai efektivitas berbagai terapi untuk mengurangi faktor risiko kematian kardiovaskuler di populasi ini telah dilakukan, salah satunya adalah suplementasi vitamin C, yang merupakan sebuah suplemen kecil, tidak mahal, dan mudah didapat. Namun, pada praktik klinis masih ditemukan kontroversi seputar risiko dan manfaat suplemen ini.
Hereditary Breast Ovarian Cancer (HBOC) Syndrome Catharina Endah Wulandari
Cermin Dunia Kedokteran Vol 41, No 11 (2014): Infeksi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v41i11.1070

Abstract

Secara teori kanker disebabkan oleh mutasi genetik yang berperan dalam proses proliferasi sel. Sekitar 5-10% mutasi genetik tersebut dapat diturunkan ke generasi berikutnya, menyebabkan “kanker herediter”. Salah satu bentuk kanker herediter yang banyak ditemukan adalah Hereditary Breast Ovarian Cancer (HBOC) syndrome yang ditandai peningkatan risiko terutama untuk kanker payudara, kanker ovarium, dan onset usia lebih muda. HBOC juga meningkatkan risiko kanker yang berkaitan yaitu kanker prostat, kanker pankreas, dan melanoma. HBOC berhubungan erat dengan mutasi gen BRCA1 dan BRCA2. Kedua gen tersebut termasuk dalam kelas gen tumor suppressor yang berperan penting dalam patofisiologi kanker payudara dan ovarium. Identifikasi individu yang memiliki predisposisi HBOC sangat penting untuk menentukan tatalaksana berikutnya. Penggalian data mengenai riwayat kanker pada keluarga merupakan teknik yang cost-effective untuk mengidentifikasi kanker herediter. Artikel ini membahas sindrom HBOC, diagnosis sampai tatalaksana penurunan risiko untuk menurunkan mortalitas dan morbiditas terkait sindrom HBOC.Cancer is theoretically caused by genetic mutation in cell proliferation. Approximately 5-10% of these genetic mutations can be inherited to the next generation, causing “hereditary cancer”. One of the most common type of hereditary cancer is Hereditary Breast Ovarian Cancer (HBOC) syndrome. It is characterized by increased risk of breast and ovarian cancer development and early onset. HBOC also increases risk of other related cancer such as cancer of prostate, pancreas and melanoma. HBOC has close relationship with BRCA1 and BRCA2 gene mutation. Both are tumor suppressors that have important role in breast and ovarian cancer development. Identification of individual with predisposition for HBOC syndrome is very important. Family history is the most cost-effective method to identify hereditary cancer. This article discuss HBOC syndrome, its diagnosis and risk management to decrease mortality and morbidity rate related to HBOC syndrome. 

Filter by Year

2014 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 50 No 11 (2023): Pediatri Vol 50 No 10 (2023): Kedokteran Umum Vol 50 No 9 (2023): Penyakit Dalam Vol 50 No 8 (2023): Dermatiologi Vol 50 No 7 (2023): Kardiovaskular Vol 50 No 6 (2023): Edisi CME Vol 50 No 5 (2023): Kedokteran Umum Vol 50 No 4 (2023): Anak Vol 50 No 3 (2023): Kardiologi Vol 50 No 2 (2023): Penyakit Dalam Vol 50 No 1 (2023): Oftalmologi Vol 49, No 4 (2022): Infeksi - COVID-19 Vol 49 No 12 (2022): Dermatologi Vol. 49 No. 11 (2022): Neurologi Vol 49 No 10 (2022): Oftalmologi Vol. 49 No. 9 (2022): Neurologi Vol. 49 No. 8 (2022): Dermatologi Vol 49 No 7 (2022): Nutrisi - Vitamin D Vol 49, No 7 (2022): Vitamin D Vol 49, No 6 (2022): Nutrisi Vol 49 No 6 (2022): Nutrisi Vol 49 No 5 (2022): Neuro-Kardiovaskular Vol 49, No 5 (2022): Jantung dan Saraf Vol 49 No 4 (2022): Penyakit Dalam Vol 49, No 3 (2022): Saraf Vol 49 No 3 (2022): Neurologi Vol 49 No 2 (2022): Infeksi Vol 49, No 2 (2022): Infeksi Vol 49 (2022): CDK Suplemen-2 Vol 49 (2022): CDK Suplemen-1 Vol 49, No 1 (2022): Bedah Vol 49 No 1 (2022): Bedah Vol 48 No 11 (2021): Penyakit Dalam - COVID-19 Vol 48, No 7 (2021): Infeksi - [Covid - 19] Vol 48 No 1 (2021): Infeksi COVID-19 Vol. 48 No. 10 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 4 Vol 48 No 8 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 3 Vol 48 No 5 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 2 Vol. 48 No. 2 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 1 Vol 48, No 12 (2021): General Medicine Vol 48 No 12 (2021): Penyakit Dalam Vol 48, No 11 (2021): Kardio-SerebroVaskular Vol 48, No 10 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48, No 9 (2021): Nyeri Neuropatik Vol 48 No 9 (2021): Neurologi Vol 48, No 8 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48 No 7 (2021): Infeksi Vol 48, No 6 (2021): Kardiologi Vol 48 No 6 (2021): Kardiologi Vol 48, No 5 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48 No 4 (2021): Dermatologi Vol 48, No 4 (2021): Dermatologi Vol 48, No 3 (2021): Obstetri dan Ginekologi Vol. 48 No. 3 (2021): Obstetri - Ginekologi Vol 48, No 2 (2021): Farmakologi - Vitamin D Vol 48, No 1 (2021): Penyakit Dalam Vol 47, No 12 (2020): Dermatologi Vol 47, No 11 (2020): Infeksi Vol. 47 No. 10 (2020): Dermatologi Vol 47, No 10 (2020): Optalmologi Vol 47 No 9 (2020): Infeksi Vol 47, No 9 (2020): Neurologi Vol. 47 No. 8 (2020): Oftalmologi Vol 47, No 8 (2020): Kardiologi Vol. 47 No. 7 (2020): Neurologi Vol 47, No 7 (2020): Bedah Vol 47 No 6 (2020): Kardiologi & Pediatri Vol. 47 No. 5 (2020): Bedah Vol 47, No 5 (2020): CME - Continuing Medical Education Vol. 47 No. 4 (2020): Interna Vol 47, No 4 (2020): Arthritis Vol. 47 No. 3 (2020): Dermatologi Vol 47, No 3 (2020): Dermatologi Vol 47 No 2 (2020): Infeksi Vol 47, No 2 (2020): Penyakit Infeksi Vol 47, No 1 (2020): CME - Continuing Medical Education Vol 47, No 1 (2020): Bedah Vol 47 No 1 (2020): Bedah Vol. 46 No. 7 (2019): Continuing Medical Education - 2 Vol 46, No 12 (2019): Kardiovaskular Vol 46 No 12 (2019): Kardiovakular Vol. 46 No. 11 (2019): Pediatri Vol 46, No 11 (2019): Kesehatan Anak Vol 46, No 10 (2019): Farmasi Vol. 46 No. 10 (2019): Farmakologi - Continuing Professional Development Vol 46 No 9 (2019): Neurologi Vol 46, No 9 (2019): Neuropati Vol. 46 No. 8 (2019): Pediatri Vol 46, No 8 (2019): Kesehatan Anak Vol 46, No 7 (2019): CME - Continuing Medical Education Vol 46 No 6 (2019): Endokrinologi Vol 46, No 6 (2019): Diabetes Mellitus Vol 46, No 5 (2019): Pediatri Vol. 46 No. 5 (2019): Pediatri Vol. 46 No. 4 (2019): Dermatologi Vol 46, No 4 (2019): Dermatologi Vol. 46 No. 3 (2019): Nutrisi Vol 46, No 3 (2019): Nutrisi Vol 46, No 2 (2019): Penyakit Dalam Vol. 46 No. 2 (2019): Interna Vol 46, No 1 (2019): Obstetri - Ginekologi Vol 46 No 1 (2019): Obstetri-Ginekologi Vol 46, No 1 (2019): CME - Continuing Medical Education Vol 45, No 12 (2018): Farmakologi Vol 45 No 12 (2018): Interna Vol. 45 No. 11 (2018): Neurologi Vol 45, No 11 (2018): Neurologi Vol 45, No 10 (2018): Muskuloskeletal Vol. 45 No. 10 (2018): Muskuloskeletal Vol 45, No 9 (2018): Infeksi Vol 45 No 9 (2018): Infeksi Vol. 45 No. 8 (2018): Dermatologi Vol 45, No 8 (2018): Alopesia Vol 45, No 7 (2018): Onkologi Vol 45 No 7 (2018): Onkologi Vol. 45 No. 6 (2018): Interna Vol 45, No 6 (2018): Penyakit Dalam Vol 45, No 5 (2018): Nutrisi Vol. 45 No. 5 (2018): Nutrisi Vol 45, No 4 (2018): Cidera Kepala Vol 45, No 4 (2018): Cedera Kepala Vol 45 No 4 (2018): Neurologi Vol. 45 No. 3 (2018): Muskuloskeletal Vol 45, No 3 (2018): Muskuloskeletal Vol. 45 No. 2 (2018): Urologi Vol 45, No 2 (2018): Urologi Vol 45, No 1 (2018): Suplemen Vol 45, No 1 (2018): Dermatologi Vol 45 No 1 (2018): Dermatologi Vol 44, No 12 (2017): Neurologi Vol 44, No 11 (2017): Kardiovaskuler Vol 44, No 10 (2017): Pediatrik Vol 44, No 9 (2017): Kardiologi Vol 44, No 8 (2017): Obstetri-Ginekologi Vol 44, No 7 (2017): THT Vol 44, No 6 (2017): Dermatologi Vol 44, No 5 (2017): Gastrointestinal Vol 44, No 4 (2017): Optalmologi Vol 44, No 3 (2017): Infeksi Vol 44, No 2 (2017): Neurologi Vol 44, No 1 (2017): Nutrisi Vol 43, No 12 (2016): Kardiovaskular Vol 43, No 11 (2016): Kesehatan Ibu - Anak Vol 43, No 10 (2016): Anti-aging Vol 43, No 9 (2016): Kardiovaskuler Vol 43, No 8 (2016): Infeksi Vol 43, No 7 (2016): Kulit Vol 43, No 6 (2016): Metabolik Vol 43, No 5 (2016): Infeksi Vol 43, No 4 (2016): Adiksi Vol 43, No 3 (2016): Kardiologi Vol 43, No 2 (2016): Diabetes Mellitus Vol 43, No 1 (2016): Neurologi Vol 42, No 12 (2015): Dermatologi Vol 42, No 11 (2015): Kanker Vol 42, No 10 (2015): Neurologi Vol 42, No 9 (2015): Pediatri Vol 42, No 8 (2015): Nutrisi Vol 42, No 7 (2015): Stem Cell Vol 42, No 6 (2015): Malaria Vol 42, No 5 (2015): Kardiologi Vol 42, No 4 (2015): Alergi Vol 42, No 3 (2015): Nyeri Vol 42, No 2 (2015): Bedah Vol 42, No 1 (2015): Neurologi Vol 41, No 12 (2014): Endokrin Vol 41, No 11 (2014): Infeksi Vol 41, No 10 (2014): Hematologi Vol 41, No 9 (2014): Diabetes Mellitus Vol 41, No 8 (2014): Pediatrik Vol 41, No 7 (2014): Kardiologi Vol 41, No 6 (2014): Bedah Vol 41, No 5 (2014): Muskuloskeletal Vol 41, No 4 (2014): Dermatologi Vol 41, No 3 (2014): Farmakologi Vol 41, No 2 (2014): Neurologi Vol 41, No 1 (2014): Neurologi More Issue