Cermin Dunia Kedokteran
Cermin Dunia Kedokteran (e-ISSN: 2503-2720, p-ISSN: 0125-913X), merupakan jurnal kedokteran dengan akses terbuka dan review sejawat yang menerbitkan artikel penelitian maupun tinjauan pustaka dari bidang kedokteran dan kesehatan masyarakat baik ilmu dasar, klinis serta epidemiologis yang menyangkut pencegahan, pengobatan maupun rehabilitasi. Jurnal ini ditujukan untuk membantu mewadahi publikasi ilmiah, penyegaran, serta membantu meningkatan dan penyebaran pengetahuan terkait dengan perkembangan ilmu kedokteran dan kesehatan masyarakat. Terbit setiap bulan sekali dan disertai dengan artikel yang digunakan untuk CME - Continuing Medical Education yang bekerjasama dengan PB IDI (Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia)
Articles
2,961 Documents
Diagnosis dan Terapi Miastenia Gravis pada Anak
Saktivi Harkitasari
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 3 (2015): Nyeri
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v42i3.1030
Miastenia gravis merupakan penyakit autoimun paut saraf otot yang didapat. Manifestasi klinis penyakit ini adalah gejala kelemahan yang berfluktuasi dan bervariasi pada otot-otot okuler, anggota gerak, pernafasan, dan bulbar. Miastenia gravis tipe okuler lebih banyak dijumpai dan memiliki usia awitan lebih awal. Pengobatan miastenia gravis menggunakan penghambat asetilkolinesterase, kortikosteroid, azathioprine, plasmaferesis, dan imunoglobulin intravena serta timektomi. Prognosis miastenia gravis pada anak-anak lebih baik daripada dewasa.Myasthenia gravis is an acquired autoimmune neuromuscular junction disease. The clinical manifestations are fluctuating weaknesses of ocular, limbs, respiratory, and bulbar muscles. Ocular myasthenia is the most frequent type with earlier age of onset. Treatment of myasthenia gravis uses acetylcholinesterase inhibitors, corticosteroids, azathioprine, plasmapheresis, intravenous immunoglobulin and thymectomy. Prognosis in children are better than in adults.
Antivirus untuk Influenza
Nugroho Nitiyoso
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45, No 4 (2018): Cedera Kepala
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v45i4.200
Influenza adalah salah satu penyakit infeksi saluran napas yang paling sering, menyebabkan 3 sampai 5 juta kasus berat dan 250.000 sampai 500.000 kematian setiap tahun (WHO). Vaksinasi influenza dapat mengurangi risiko influenza, sebaiknya dilakukan secara rutin setiap tahun. Pengobatan influenza biasanya simptomatik, suplementasi, dan istirahat. Ada beberapa obat antivirus untuk influenza, seperti: oseltamivir, zanamivir, amantadine, dan rimantadine. Di Indonesia, antivirus untuk influenza relatif kurang dikenal karena distribusinya sepenuhnya dikendalikan oleh Departemen Kesehatan. Tenaga kesehatan seyogyanya lebih mengenal profil farmakodinamik dan farmakokinetik obat-obat antivirus ini.
Vitamin D dan COVID-19: Tinjauan Literatur
Niluh Ayu Sri Saraswati;
Devinqa Adhimah Amanda;
Henry Wijaya
Cermin Dunia Kedokteran Vol 49, No 2 (2022): Infeksi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v49i2.1731
Pendahuluan: Penyakit coronavirus (COVID-19) merupakan penyakit infeksi yang dideklarasikan WHO sebagai kasus gawat darurat kesehatan di dunia. Vitamin D diketahui memegang peranan dalam regulasi sistem imun baik pada penyakit infeksi maupun penyakit autoimun, sehinggavitamin D dapat bermanfaat pada tata laksana COVID-19. Metode: Tinjauan literatur COVID-19 dan kaitannya dengan vitamin D; sumber data dari Google Cendekia, PubMed, dan WHO. Hasil: Vitamin D berperan mengendalikan sistem sel imun seperti makrofag, limfosit, neutrofil, dansel dendritik. Selain itu, mekanisme kerja innate dan adaptive immune system diperantarai oleh vitamin D, menghasilkan keseimbangan respons imun untuk meningkatkan respons anti-inflamasi. Simpulan: Vitamin D berkaitan dengan infeksi COVID-19 (dapat mengurangi risiko infeksi,mencegah perkembangan infeksi, dapat menurunkan tingkat keparahan, dan meringankan komplikasi badai sitokin; dengan demikian, dapat menurunkan morbiditas dan mortalitas akibat infeksi COVID-19.
Ketergantungan Nikotin: Aspek Molekuler dan Implikasi Terapi Berbasis Bukti
Alva S. A. Supit
Cermin Dunia Kedokteran Vol 43, No 4 (2016): Adiksi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v43i4.45
Ketergantungan nikotin merupakan masalah kesehatan masyarakat yang perlu ditangani dengan serius karena tingginya angka morbiditas dan mortalitas. Di tingkat molekuler, nikotin akan berikatan dengan reseptor asetilkolin nikotinik di membran neuron area tegmental ventral, memicu serangkaian depolarisasi dan pelepasan dopamin terutama di nukleus akumbens dan korteks prefrontal, yang akan diinterpretasi sebagai kenikmatan oleh seorang individu. Pada pemakaian nikotin kronis, akan terjadi serangkaian desensitisasi reseptor di tingkat sirkuit ataupun di tingkat transkripsi genetik pada neuron yang terlibat, sehingga kadar dopamin yang dilepaskan akan makin tinggi dan makin euforia. Aspek genetik dan epigenetik juga berpengaruh dalam patogenesis ketergantungan nikotin. Penanganan farmakologik yang telah terbukti berupa terapi penggantian nikotin, bupropion, dan vareniklin, sedangkan yang masih dalam tahap riset berupa vaksin nikotin, dianiklin, NCT00741884, NCT01234142, dan rimonabant.
Korelasi Status Kolesterol High-density Lipoprotein (HDL) Serum dengan Risiko Obstructive Sleep Apnea (OSA) pada Penduduk Kecamatan Sekarbela, Mataram, Indonesia
Fatarosdiana -;
Herpan Syafii Harahap;
Novrita Padauleng
Cermin Dunia Kedokteran Vol 44, No 11 (2017): Kardiovaskuler
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v44i11.699
Latar belakang: Obstructive sleep apnea (OSA) adalah salah satu faktor risiko penyakit kardiovaskular, dan sebelumnya dilaporkan berhubungan dengan status kolesterol HDL serum. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui korelasi antara status kolesterol HDL serum dan tingkat risiko OSA pada penduduk di Kecamatan Sekarbela Mataram. Metode: Penelitian deskriptif analitik dengan desain potong lintang atas 65 penduduk berusia lebih dari 50 tahun di beberapa lingkungan Kelurahan Karang Pule dan Tanjung Karang, Kecamatan Sekarbela Mataram yang memenuhi kriteria inklusi. Tingkat risiko OSA diestimasi berdasarkan STOP-Bang questionnaire. Hasil: Dari 65 partisipan, 43 (66%) memiliki tingkat risiko OSA tinggi. Sebanyak 30 (54%), 14 (21%) dan 16 (25%) partisipan dikategorikan status kolesterol HDL serum rendah, borderline dan optimal. Analisis korelasi Somers’d menunjukkan tidak ada korelasi antara status kolesterol HDL serum dengan tingkat risiko OSA (p > 0,05). Simpulan: Tidak terdapat korelasi antara status kolesterol HDL serum dan tingkat risiko OSA di Sekarbela Mataram.Background: Obstructive sleep apnea (OSA) is one of the CVD risk factors and previously reported to be associated with HDL cholesterol serum status. The purpose of this study was to investigate the correlation between HDL cholesterol serum status and OSA risk level among population in Sekarbela district of Mataram. Method: A descriptive analytic research using cross-sectional design on population aged more than 50 years residing in several neighbourhoods in Karang Pule and Tanjung Karang villages, District of Sekarbela Mataram. Sixty-five participants met the inclusion criteria. OSA risk level was estimated using the STOP-Bang questionnaire.. The data was analysed with Somers’d correlation test. Results: Among 65 participants, 43 (66%) had high OSA risk level. Thirty (54 %), 14( 21%) and 16 participants (25%) were respectively classified as low, borderline and optimal HDL cholesterol serum status. Somers’d correlation analysis showed no correlation between HDL cholesterol serum status and OSA risk level (p>0,05). Conclusion: No correlation between HDL cholesterol serum status and OSA risk level in Sekarbela Mataram.
The Role of Conventional Chest X-Ray in Detection and Evaluation of Long COVID-19
Andri -;
Yuanita Amanda
Cermin Dunia Kedokteran Vol 49, No 4 (2022): Infeksi - COVID-19
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v49i4.1823
A 52-year-old woman came to ER with shortness of breath, fever, and cough with oxygen saturation of 80% on room air. The COVID-19 PCR test was positive. CXR showed it infiltrates ground-glass opacities in both lungs and cardiomegaly. Chest X-ray at discharge from the hospital showed decreased infiltrate and fibrosis in two lung. She came to the ER 4 days later with worsened shortness of breath. CXR showed diffuse infiltrates in both lungs and cardiomegaly. Discussion: COVID-19 patients can develop long-term sequelae and complications (long COVID-19). Although CT is now considered the primary investigation for COVID-19, CXR is still valid for detecting and monitoring its progression. Conclusion: CXR is useful for detecting and monitoring the rapid advancement of lung abnormalities in long COVID-19.Wanita 52 tahun datang ke IGD dengan sesak napas, demam, batuk; dengan saturasi oksigen 80% udara ruangan. Tes PCR COVID-19 positif. Rontgen toraks menunjukkan infiltrat di kedua lapangan paru, ground glass opacities, dan kardiomegali. Rontgen toraks saat keluar rumah sakit menunjukkan penurunan gambaran infiltrat dan fibrosis pada dua lapangan paru. Empat hari setelah keluar rumah sakit pasien kembali sesak napas. Rontgen toraks menunjukkan infiltrat difus dikedua paru dan kardiomegali. Diskusi: Pasien COVID-19 dapat mengalami sekuele jangka panjang dan komplikasi, disebut long COVID-19. Walaupun CT-scan menjadi pendeteksi utama COVID-19, rontgen toraks masih bermanfaat untuk memantau progresi sindrom tersebut.
Peranan Advanced Glycation End-products pada Diabetes
Sri Mulyati
Cermin Dunia Kedokteran Vol 43, No 6 (2016): Metabolik
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v43i6.69
Terapi nutrisi medik telah diketahui memiliki peranan penting dalam penatalaksanaan diabetes dan komplikasinya. Anjuran pengaturan makan saat ini menitikberatkan pada zat-zat gizi, atau pembatasan kalori, namun belum memperhatikan metode pengolahan makanan. Advanced glycation end products (AGEs) terbentuk akibat panas dalam proses pengolahan makanan, sebagai reaksi spontan antara gula dengan protein atau lemak; diperkirakan terbentuk akibat kondisi hiperglikemia dalam diabetes. AGEs adalah hasil endogen interaksi nonenzimatik glukosaprotein; struktur yang sangat reaktif, merupakan bahan oksidatif yang semakin penting untuk diperhatikan sebagai faktor risiko potensial kerusakan sel ß-pankreas, resistensi insulin perifer, dan diabetes. Makanan yang lazim dikonsumsi saat ini kebanyakan melalui pemprosesan suhu tinggi (heat-processed), sehingga berdampak pada meningkatnya kadar AGEs.
Bantuan Hidup Dasar pada Anak
Irene Yuniar
Cermin Dunia Kedokteran Vol 41, No 9 (2014): Diabetes Mellitus
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v41i9.1108
Bantuan hidup dasar pada anak merupakan hal yang harus dapat dikerjakan oleh setiap tenaga kesehatan terutama dokter. Bantuan hidup dasar pada anak berdasarkan rekomendasi American Health Association (AHA) tahun 2010 dilakukan dengan tekhnik C-A-B (circulation-airway-breathing) dengan kualitas resusitasi optimal (high quality CPR). Diharapkan dengan resusitasi yang baik, sirkulasi pasien dapat normal kembali dan gangguan neurologis pasca henti jantung dan napas dapat dihindari.Every health provider must be competent in pediatric life support. Basic pediatric life support recommendations by AHA 2010 use C-A-B maneuvers with high quality CPR. Rapid and effective bystander CPR is associated with successful return of spontaneous circulation (ROSC) and neurologically-intact survival in children.
Hubungan Status Gizi dengan Kejadian Konstipasi pada Siswa SD di Kecamatan Padang Barat, Sumatera Barat, Indonesia
Wiwi Hermy Putri;
Yusri Dianne Jurnalis;
Edison -
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 11 (2015): Kanker
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v42i11.941
Konstipasi adalah kesulitan buang air besar yang meliputi berkurangnya frekuensi defekasi atau meningkatnya konsistensi feses yang menyebabkan nyeri saat defekasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan status gizi dengan kejadian konstipasi pada siswa SD di Kecamatan Padang Barat. Penelitian ini bersifat analitik menggunakan metode multistage random sampling, dilakukan pada bulan Agustus 2014 hingga Januari 2015. Populasi penelitian ini 6086 siswa dan jumlah sampel 156 siswa. Data diperoleh menggunakan kuesioner dan pengukuran antropometri berat badan dan tinggi badan. Analisis data dengan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan sebagian kecil (19,9%) siswa mengalami konstipasi, lebih dari separuhnya (54,8%) laki-laki, sebagian besar (87,1%) berusia ≥ 10 tahun serta lebih dari separuh (64,5%) mempunyai gizi lebih. Terdapat hubungan bermakna antara status gizi dengan kejadian konstipasi pada anak (p = 0,001).Constipation is difficulty in bowel movements that include decreased frequency of defecation, or increased stool consistency causing pain during defecation. This study aims to determine the relationship between nutritional status and constipation among elementary school students in West Padang District. This analytical study, started in August 2014 until January 2015, used multistage random sampling method. The population in this study were 6086 students and samples were 156 students. Data collected with questionnaire and anthropometric measurements. Data were tested by chi-square test. The results showed that a small proportion students (19.9%) had constipation, more than half (54.8%) were male, most (87.1%) were ≥ 10 years old, and more than half (64.5%) were overweight. There is a significant relationship between nutritional status and constipation in children (p = 0.001 or p≤ 0.05).
Tatalaksana Diare Akut
Lukman Zulkifli Amin
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 7 (2015): Stem Cell
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v42i7.986
Diare akut merupakan masalah yang sering terjadi pada dewasa. Setiap tahun diperkirakan sebanyak 2 milyar kasus diare terjadi di seluruh dunia. Infeksi bakteri merupakan salah satu penyebab diare cair ataupun diare berdarah. Etiologi diare akut yaitu bakteri, virus, protozoa, dan helmitnhs. Diagnosis dan memperhitungkan kebutuhan cairan pengganti, serta pemilihan antibiotik yang tepat menjadi elemen penting dalam tatalaksana diare akutAcute diarrhea is a common problem among adults. There are approximately 2 billion diarrhea cases in the world every year. Bacterial infection was one of main cause for watery diarrhea or bloody diarrhea. Multiple etiologies of acute diarrhea were bacteria, virus, protozoa, and helminths. Prompt diagnosis and management with rehydration and appropriate antibiotic is important.