cover
Contact Name
Dita Archinirmala
Contact Email
dorotea.ditaarchinirmala@kalbe.co.id
Phone
+6281806175669
Journal Mail Official
cdkjurnal@gmail.com
Editorial Address
http://www.cdkjournal.com/index.php/CDK/about/editorialTeam
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Cermin Dunia Kedokteran
Published by PT. Kalbe Farma Tbk.
ISSN : 0125913X     EISSN : 25032720     DOI : 10.55175
Core Subject : Health,
Cermin Dunia Kedokteran (e-ISSN: 2503-2720, p-ISSN: 0125-913X), merupakan jurnal kedokteran dengan akses terbuka dan review sejawat yang menerbitkan artikel penelitian maupun tinjauan pustaka dari bidang kedokteran dan kesehatan masyarakat baik ilmu dasar, klinis serta epidemiologis yang menyangkut pencegahan, pengobatan maupun rehabilitasi. Jurnal ini ditujukan untuk membantu mewadahi publikasi ilmiah, penyegaran, serta membantu meningkatan dan penyebaran pengetahuan terkait dengan perkembangan ilmu kedokteran dan kesehatan masyarakat. Terbit setiap bulan sekali dan disertai dengan artikel yang digunakan untuk CME - Continuing Medical Education yang bekerjasama dengan PB IDI (Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia)
Articles 2,961 Documents
Vaksin Influenza dan COVID-19 : sebuah tinjauan Devinqa Adhimah Amanda; Henry Wijaya; Niluh Ayu Sri Saraswati
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48, No 6 (2021): Kardiologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v48i6.1440

Abstract

Pendahuluan: SARS-CoV-2 merupakan agen virus penyebab COVID-19, penyakit yang menjadi wabah secara global. Gejala infeksi COVID-19 beragam, sebagian besar dengan derajat ringan, namun sekitar 14% mengalami perburukan.. Vaksinasi influenza diperkirakan dapat berperan sebagai faktor protektif terhadap COVID-19. Metode: Tinjauan literatur mengenai vaksin influenza dan COVID-19 menggunakan beberapa sumber seperti Google Cendekia, PubMed, dan WHO. Hasil: Influenza dan COVID-19 menunjukkan gejala serta karakteristik kelompok risiko tinggi yang serupa. Koinfeksi virus influenza dapat meningkatkan keparahan gejala COVID-19. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa vaksinasi influenza berasosiasi negatif dengan kematian akibat COVID-19, dan dapat mengurangi keparahan klinis. Mekanisme imunitas bawaan yang dipicu oleh vaksinasi dapat menghasilkan efek protektif, hal ini dapat memberikan peluang yang lebih baik dalam melawan virus. Simpulan: Selain mengurangi risiko koinfeksi influenza dengan COVID-19, vaksin influenza juga dapat berperan sebagai agen protektif terhadap COVID-19.Introduction: SARS-CoV-2 is the viral agent that causes COVID-19, a disease that is becoming a pandemic. The symptoms of COVID-19 are diverse, about 14% of individuals experience deterioration. Influenza vaccination may have a role as a protective factor in COVID-19. Methods: A literature review on influenza vaccine and COVID-19 is conducted using several sources such as Google Scholar, PubMed, and WHO. Results: Influenza and COVID-19 show similar symptoms as well as same characteristics of high-risk groups. Influenza virus co-infection can increase the severity of COVID-19. Previous studies have shown that influenza vaccination was negatively associated with mortality from COVID-19, and could reduce the severity of clinical symptoms. The innate immune mechanism triggered by vaccination could produce a protective effect. Conclusions: Apart from reducing the likelihood of influenza coinfection with COVID-19, influenza vaccine can also act as a protective agent against COVID-19,
Sarkoma Kaposi pada ODHA Kadek Ena Septiani Surya Puspita Sari; Putu Dyah Ayu Saraswati; I Ketut Suryana
Cermin Dunia Kedokteran Vol 44, No 6 (2017): Dermatologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v44i6.770

Abstract

Dilaporkan satu kasus Sarkoma Kaposi (SK) yang berkaitan dengan HIV pada seorang laki-laki Suku Bali berumur 46 tahun. Gambaran klinis berupa bentol-bentol pada wajah, kelopak mata, rongga mulut, punggung dan dada. Pasien diketahui menderita HIV stadium IV berdasarkan kriteria WHO. Diagnosis sarkoma Kaposi ditegakkan dengan pemeriksaan klinis dan pemeriksaan histopatologis. Penderita mendapatkan pengobatan ARV lini kedua dengan respon terapi yang baik yang terlihat dari perbaikan secara klinis. Prognosis penderita cenderung buruk.A case of HIV-associated Kaposi sarcoma in a male, 46 years-old was reported. The patient was diagnosed with HIV stage IV according to WHO criteria. Physical examination found multiple purple papules and nodules in face, left eyelid, oral cavity, trunk and back. The definitive Kaposi Sarcoma diagnosis was made by clinical and histopathology examination. Antiretroviral treatment gave good clinical improvements. The patient prognoses was bad. 
Athlete's Heart (Jantung Atlet) Anang Basuki Maharjito; Ika Handayani
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46, No 12 (2019): Kardiovaskular
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v46i12.392

Abstract

Jantung atlet adalah istilah untuk perubahan struktur dan fungsi jantung pada individu yang berlatih fisik lebih dari satu jam setiap hari. Perubahan bersifat asimtomatik, tanda yang ditemukan saat pemeriksaan fisik antara lain bradikardia, murmur sistolik, dan bunyi jantung tambahan. Kelainan EKG juga sering ditemukan. Diagnosis berdasarkan temuan klinis dan hasil ekokardiografi. Jantung atlet harus dibedakan dengan kelainan jantung yang serius.Athlete’s heart is a constellation of structural and functional changes in the heart of someone who train for more than 1 hour most days. The changes are asymptomatic; signs include bradycardia, systolic murmur, and extra heart sounds. Electrocardiographic (ECG) abnormalities are common. Diagnosis is clinical or by echocardiography. Athlete’s heart must be distinguished from serious cardiac disorders.
Pustulosis Eksantematosa Generalisata Akut (PEGA) Postpartum Diduga Dicetuskan oleh Ampisilin Cayadi Sidarta Antonius
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47, No 9 (2020): Neurologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v47i9.914

Abstract

Salah satu reaksi erupsi obat alergi adalah Pustulosis Eksantematosa Generalisata Akut (PEGA). Dilaporkan kasus PEGA post partum dengan plak eritematosa disertai pustul di hampir seluruh tubuh terutama di daerah lipatan. Kelainan ini muncul beberapa hari setelah melahirkan dan menggunakan ampisilin. Kasus ini memerlukan konsultasi dan observasi teratur.The clinical manifestation of allergic drug eruption may be in the form of Acute Generalized Eczematous Pustulosis (AGEP). This paper reported AGEP case in postpartum patient with erythematous plaque with pustules in almost the whole body, especially in the folds. This eruption comes a few days after delivery and ampicillin use. The patient requires regular consultation and observation. 
Potensi Zink untuk Terapi Osteoporosis Adam Fajar; Yoyos Dias Ismiarto
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46, No 3 (2019): Nutrisi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v46i3.512

Abstract

Osteoporosis ditandai dengan pengurangan massa tulang dan gangguan mikro-arsitektur jaringan tulang, mengakibatkan tulang menjadi rapuh dan meningkatkan risiko fraktur. Terapi osteoporosis meliputi perubahan gaya hidup dan obat-obatan yang dapat meningkatkan kekuatan tulang. Zink berpotensi mengurangi proses penyerapan tulang dan merangsang pembentukan tulang. Penelitian lebih lanjut dibutuhkan untuk mengetahui efektivitas zink dalam tatalaksana osteoporosis.Osteoporosis is characterized by bone mass reduction and bone tissue micro-architectural disorders that result in brittle bone and increased risk of fracture. Osteoporosis therapy includes lifestyle changes and drugs to increase bone strength. Zinc has the potential to decrease bone resorption and stimulate bone formation. Further study are needed to determine the efectivity of zinc is osteoporosis therapy.
Penggunaan Media Informasi yang Bijak untuk Anak Usia Dini di Era Digital Suryadi Limardi; Sardono Widinugroho; Consistania Ribuan
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46, No 11 (2019): Kesehatan Anak
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v46i11.415

Abstract

Usia dini merupakan masa penting bagi anak untuk membangun hubungan erat dengan orang lain dan lingkungan sekitar, membentuk kebiasaan hidup sehat, serta menjadi masa emas perkembangan otak. Inovasi teknologi telah mengubah pola penggunaan media oleh anak usia dini. Penggunaan media digital yang berlebihan saat usia dini dapat mengakibatkan gangguan fisik, psikologis, dan perkembangan anak. Orang tua memiliki peranan penting dalam membentuk kebiasaan penggunaan media yang sehat pada anak. Pembatasan durasi penggunaan media, pemantauan aktivitas media anak, serta interaksi antara orang tua dan anak saat penggunaan media merupakan langkah-langkah penting untuk menciptakan kebiasaan penggunaan media yang bijak bagi anak usia dini.Early age is a golden period for brain development; it is an important period for children to build a close relationship with other person and their surrounding environment, to form a healthy living habit. Excessive digital media use in this period could lead to impairment in children’s physical, psychological and developmental condition. Parents have an important role in forming a healthy media use habit in children. Restriction on media use duration, monitoring on children’s media activities, as well as interactions between parents and children while using the media are important steps to create a healthy habit in promoting wise media use in young children. 
Tatalaksana Gangguan Afektif Bipolar pada Ibu Hamil Dian Oktaria Safitri; Nurmiati Amir
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46, No 1 (2019): Obstetri - Ginekologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v46i1.535

Abstract

Sekitar 25%-30% pasien gangguan bipolar yang hamil gejalanya menjadi lebih berat. Gangguan jiwa pada periode perinatal dapat menyebabkan distres signifikan, dapat mengganggu perkembangan ibu dan anak, dan jangka panjang mempengaruhi kesejahteraan ibu, bayi, keluarganya, dan masyarakat luas. Dokter seyogyanya memiliki pengetahuan lebih mengenai tatalaksana komprehensif gangguan bipolar selama kehamilan.Around 25-30% bipolar disorder patients show worsening symptoms during pregnancy. Mental disorders in perinatal period can cause significant distress that will interfere maternal and child development, and the long-term implication can affect the mother, infant, family, and community. Doctors should have more knowledge on comprehensive management of bipolar disorder during pregnancy. 
Pendekatan Terapi Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) Ni Luh Putu Rustiari Dewi
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47, No 11 (2020): Infeksi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v47i11.1201

Abstract

Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) juga dikenal sebagai hyperandrogenic anovulation (HA), merupakan kelainan sistem endokrin yang menyebabkan gangguan kesuburan wanita usia reproduktif. PCOS melibatkan ketidakseimbangan kadar luteinizing hormone (LH) dan follicle-stimulating hormone (FSH), resistensi insulin, dan kelainan metabolisme. Clomiphene citrate masih menjadi pilihan terapi utama untuk menstimulasi ovulasi pada kasus PCOS. Metformin juga menurunkan kadar androgen yang dapat meningkatkan terjadinya ovulasi spontan. Terapi lini kedua adalah gonadotropin dan bedah laparoskopi ovarium.Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS), also referred to as hyperandrogenic anovulation (HA), is an endocrine system disorders that affect women in their reproductive age. PCOS typically involves hormonal imbalances between luteinizing hormone (LH) and follicle-stimulating hormone (FSH), insulin resistance, and metabolic abnormalities. Clomiphene citrate (CC) is considered the first line treatment for ovulation induction in women with Polycystic Ovary Syndrome (PCOS). Metformin also decreases androgens in both lean and obese women, leading to increased rates of spontaneous ovulation. Second choice is gonadotropin and ovarianlaparoscopy. 
Peran Channelopathy pada Tatalaksana Nyeri Lucas Meliala; Rizaldy Taslim Pinzon; Rosa De Lima Renita Sanyasi
Cermin Dunia Kedokteran Vol 44, No 12 (2017): Neurologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v44i12.689

Abstract

Latar Belakang: Tata laksana nyeri yang efektif sampai saat ini masih belum memuaskan. Pemahaman channelopathy diharapkan dapat meningkatkan kualitas penanganan nyeri. Tujuan: Kajian peran channelopathy pada nyeri. Pembahasan: Kanal ion yang terlibat dalam channelopathy pada nyeri adalah kanal natrium, kalsium, kalium, dan transient receptor potential (TRP). Channelopathy beberapa subtipe kanal TRP memicu penyakit FEPS tipe I dan berbagai gangguan sensitivitas nyeri. Channelopathy beberapa subtipe kanal kalsium dan kalium menimbulkan berbagai gangguan sensitivitas nyeri. Channelopathy kanal klorida tidak memicu gangguan sensitifitas nyeri. Saat ini telah ditemukan berbagai obat yang bekerja sebagai penghambat kerja kanal, sehingga dapat digunakan untuk terapi nyeri. Penelitian masih terus dilakukan hingga saat ini.Background: Treatment of pain remains challenging. Understanding channelopathy will hopefully improve pain treatment. Objective: To identify the role of channelopathy in pain mechanism. Discussion: Ion channels involved in channelopathy i.e: sodium channels, calcium channel, potassium channel, and transient receptor potential (TRP) channel. Channelopathy on some sodium channel subtypes lead to various diseases. Channelopathy on some TRP channels lead to FEPS type I and pain sensitivity disorder. Channelopathy on calcium and potassium channels lead to many pain sensitivity disorder. Channelopathy on chloride channels do not lead to pain sensitivity disorder. Many channels blocker drugs have been discovered. Knowledge of channelopathies will improve the quality of pain treatment.
Kesehatan Mental Anak Selama Pandemi COVID-19 Virly Isella; I Kadek Suarca; Nena Mawar Sari
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48, No 11 (2021): Kardio-SerebroVaskular
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v48i11.1561

Abstract

Saat ini seluruh dunia sedang menghadapi pandemi COVID-19, tidak terkecuali Indonesia. Berbagai kebijakan telah dijalankan sebagai upaya untuk menekan pertambahan kasus COVID-19. Kebijakan ini membawa perubahan signifikan pada rutinitas sehari-sehari. Pada anak, perubahan tiba-tiba ini dapat sulit dimengerti meskipun anak cenderung tanggap terhadap perubahan situasi. Perubahan rutinitas dan situasi yang sulit ini dapat memberikan dampak negatif pada kesehatan mental anak. Risiko ini makin besar pada anak terinfeksi COVID-19, dan anak dengan riwayat gangguan mental. Gangguan kesehatan mental selama situasi pandemi antara lain perubahan emosi dan perilaku, depresi, ansietas, dan peningkatan screen time. Tinjauan pustaka ini disertai tiga ilustrasi kasus hasil wawancara terhadap tiga remaja di Bali, sebagai gambaran situasi kesehatan mental anak selama pandemi COVID-19.  World are now still in the COVID-19 pandemic situation, including Indonesia. Some policies were made as an effort to suppress this increment. These policies bringsignificant changes to daily routine activities. For some children, this sudden change is hard to be understood even though they tend to be responsive to changes. The risk of mental health disruption are higher in children with COVID-19, and those who have history of mental health problems. Some mental health problems during this pandemic are emotional and behavioral change, depression, anxiety, and increase of screen time. This literature review includes case illustrations of three adolescents in Bali as a portrayal of children’s mental health during this COVID-19 pandemic situation.

Filter by Year

2014 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 50 No 11 (2023): Pediatri Vol 50 No 10 (2023): Kedokteran Umum Vol 50 No 9 (2023): Penyakit Dalam Vol 50 No 8 (2023): Dermatiologi Vol 50 No 7 (2023): Kardiovaskular Vol 50 No 6 (2023): Edisi CME Vol 50 No 5 (2023): Kedokteran Umum Vol 50 No 4 (2023): Anak Vol 50 No 3 (2023): Kardiologi Vol 50 No 2 (2023): Penyakit Dalam Vol 50 No 1 (2023): Oftalmologi Vol 49, No 4 (2022): Infeksi - COVID-19 Vol 49 No 12 (2022): Dermatologi Vol. 49 No. 11 (2022): Neurologi Vol 49 No 10 (2022): Oftalmologi Vol. 49 No. 9 (2022): Neurologi Vol. 49 No. 8 (2022): Dermatologi Vol 49, No 7 (2022): Vitamin D Vol 49 No 7 (2022): Nutrisi - Vitamin D Vol 49, No 6 (2022): Nutrisi Vol 49 No 6 (2022): Nutrisi Vol 49 No 5 (2022): Neuro-Kardiovaskular Vol 49, No 5 (2022): Jantung dan Saraf Vol 49 No 4 (2022): Penyakit Dalam Vol 49 No 3 (2022): Neurologi Vol 49, No 3 (2022): Saraf Vol 49, No 2 (2022): Infeksi Vol 49 No 2 (2022): Infeksi Vol 49 (2022): CDK Suplemen-2 Vol 49 (2022): CDK Suplemen-1 Vol 49, No 1 (2022): Bedah Vol 49 No 1 (2022): Bedah Vol 48 No 11 (2021): Penyakit Dalam - COVID-19 Vol 48, No 7 (2021): Infeksi - [Covid - 19] Vol 48 No 1 (2021): Infeksi COVID-19 Vol. 48 No. 10 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 4 Vol 48 No 8 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 3 Vol 48 No 5 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 2 Vol. 48 No. 2 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 1 Vol 48, No 12 (2021): General Medicine Vol 48 No 12 (2021): Penyakit Dalam Vol 48, No 11 (2021): Kardio-SerebroVaskular Vol 48, No 10 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48, No 9 (2021): Nyeri Neuropatik Vol 48 No 9 (2021): Neurologi Vol 48, No 8 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48 No 7 (2021): Infeksi Vol 48, No 6 (2021): Kardiologi Vol 48 No 6 (2021): Kardiologi Vol 48, No 5 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48 No 4 (2021): Dermatologi Vol 48, No 4 (2021): Dermatologi Vol 48, No 3 (2021): Obstetri dan Ginekologi Vol. 48 No. 3 (2021): Obstetri - Ginekologi Vol 48, No 2 (2021): Farmakologi - Vitamin D Vol 48, No 1 (2021): Penyakit Dalam Vol 47, No 12 (2020): Dermatologi Vol 47, No 11 (2020): Infeksi Vol. 47 No. 10 (2020): Dermatologi Vol 47, No 10 (2020): Optalmologi Vol 47 No 9 (2020): Infeksi Vol 47, No 9 (2020): Neurologi Vol 47, No 8 (2020): Kardiologi Vol. 47 No. 8 (2020): Oftalmologi Vol. 47 No. 7 (2020): Neurologi Vol 47, No 7 (2020): Bedah Vol 47 No 6 (2020): Kardiologi & Pediatri Vol. 47 No. 5 (2020): Bedah Vol 47, No 5 (2020): CME - Continuing Medical Education Vol. 47 No. 4 (2020): Interna Vol 47, No 4 (2020): Arthritis Vol 47, No 3 (2020): Dermatologi Vol. 47 No. 3 (2020): Dermatologi Vol 47 No 2 (2020): Infeksi Vol 47, No 2 (2020): Penyakit Infeksi Vol 47 No 1 (2020): Bedah Vol 47, No 1 (2020): CME - Continuing Medical Education Vol 47, No 1 (2020): Bedah Vol. 46 No. 7 (2019): Continuing Medical Education - 2 Vol 46, No 12 (2019): Kardiovaskular Vol 46 No 12 (2019): Kardiovakular Vol. 46 No. 11 (2019): Pediatri Vol 46, No 11 (2019): Kesehatan Anak Vol. 46 No. 10 (2019): Farmakologi - Continuing Professional Development Vol 46, No 10 (2019): Farmasi Vol 46 No 9 (2019): Neurologi Vol 46, No 9 (2019): Neuropati Vol. 46 No. 8 (2019): Pediatri Vol 46, No 8 (2019): Kesehatan Anak Vol 46, No 7 (2019): CME - Continuing Medical Education Vol 46 No 6 (2019): Endokrinologi Vol 46, No 6 (2019): Diabetes Mellitus Vol 46, No 5 (2019): Pediatri Vol. 46 No. 5 (2019): Pediatri Vol. 46 No. 4 (2019): Dermatologi Vol 46, No 4 (2019): Dermatologi Vol. 46 No. 3 (2019): Nutrisi Vol 46, No 3 (2019): Nutrisi Vol 46, No 2 (2019): Penyakit Dalam Vol. 46 No. 2 (2019): Interna Vol 46, No 1 (2019): Obstetri - Ginekologi Vol 46 No 1 (2019): Obstetri-Ginekologi Vol 46, No 1 (2019): CME - Continuing Medical Education Vol 45, No 12 (2018): Farmakologi Vol 45 No 12 (2018): Interna Vol. 45 No. 11 (2018): Neurologi Vol 45, No 11 (2018): Neurologi Vol 45, No 10 (2018): Muskuloskeletal Vol. 45 No. 10 (2018): Muskuloskeletal Vol 45, No 9 (2018): Infeksi Vol 45 No 9 (2018): Infeksi Vol. 45 No. 8 (2018): Dermatologi Vol 45, No 8 (2018): Alopesia Vol 45, No 7 (2018): Onkologi Vol 45 No 7 (2018): Onkologi Vol 45, No 6 (2018): Penyakit Dalam Vol. 45 No. 6 (2018): Interna Vol 45, No 5 (2018): Nutrisi Vol. 45 No. 5 (2018): Nutrisi Vol 45, No 4 (2018): Cidera Kepala Vol 45, No 4 (2018): Cedera Kepala Vol 45 No 4 (2018): Neurologi Vol. 45 No. 3 (2018): Muskuloskeletal Vol 45, No 3 (2018): Muskuloskeletal Vol. 45 No. 2 (2018): Urologi Vol 45, No 2 (2018): Urologi Vol 45, No 1 (2018): Suplemen Vol 45, No 1 (2018): Dermatologi Vol 45 No 1 (2018): Dermatologi Vol 44, No 12 (2017): Neurologi Vol 44, No 11 (2017): Kardiovaskuler Vol 44, No 10 (2017): Pediatrik Vol 44, No 9 (2017): Kardiologi Vol 44, No 8 (2017): Obstetri-Ginekologi Vol 44, No 7 (2017): THT Vol 44, No 6 (2017): Dermatologi Vol 44, No 5 (2017): Gastrointestinal Vol 44, No 4 (2017): Optalmologi Vol 44, No 3 (2017): Infeksi Vol 44, No 2 (2017): Neurologi Vol 44, No 1 (2017): Nutrisi Vol 43, No 12 (2016): Kardiovaskular Vol 43, No 11 (2016): Kesehatan Ibu - Anak Vol 43, No 10 (2016): Anti-aging Vol 43, No 9 (2016): Kardiovaskuler Vol 43, No 8 (2016): Infeksi Vol 43, No 7 (2016): Kulit Vol 43, No 6 (2016): Metabolik Vol 43, No 5 (2016): Infeksi Vol 43, No 4 (2016): Adiksi Vol 43, No 3 (2016): Kardiologi Vol 43, No 2 (2016): Diabetes Mellitus Vol 43, No 1 (2016): Neurologi Vol 42, No 12 (2015): Dermatologi Vol 42, No 11 (2015): Kanker Vol 42, No 10 (2015): Neurologi Vol 42, No 9 (2015): Pediatri Vol 42, No 8 (2015): Nutrisi Vol 42, No 7 (2015): Stem Cell Vol 42, No 6 (2015): Malaria Vol 42, No 5 (2015): Kardiologi Vol 42, No 4 (2015): Alergi Vol 42, No 3 (2015): Nyeri Vol 42, No 2 (2015): Bedah Vol 42, No 1 (2015): Neurologi Vol 41, No 12 (2014): Endokrin Vol 41, No 11 (2014): Infeksi Vol 41, No 10 (2014): Hematologi Vol 41, No 9 (2014): Diabetes Mellitus Vol 41, No 8 (2014): Pediatrik Vol 41, No 7 (2014): Kardiologi Vol 41, No 6 (2014): Bedah Vol 41, No 5 (2014): Muskuloskeletal Vol 41, No 4 (2014): Dermatologi Vol 41, No 3 (2014): Farmakologi Vol 41, No 2 (2014): Neurologi Vol 41, No 1 (2014): Neurologi More Issue