cover
Contact Name
Dita Archinirmala
Contact Email
dorotea.ditaarchinirmala@kalbe.co.id
Phone
+6281806175669
Journal Mail Official
cdkjurnal@gmail.com
Editorial Address
http://www.cdkjournal.com/index.php/CDK/about/editorialTeam
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Cermin Dunia Kedokteran
Published by PT. Kalbe Farma Tbk.
ISSN : 0125913X     EISSN : 25032720     DOI : 10.55175
Core Subject : Health,
Cermin Dunia Kedokteran (e-ISSN: 2503-2720, p-ISSN: 0125-913X), merupakan jurnal kedokteran dengan akses terbuka dan review sejawat yang menerbitkan artikel penelitian maupun tinjauan pustaka dari bidang kedokteran dan kesehatan masyarakat baik ilmu dasar, klinis serta epidemiologis yang menyangkut pencegahan, pengobatan maupun rehabilitasi. Jurnal ini ditujukan untuk membantu mewadahi publikasi ilmiah, penyegaran, serta membantu meningkatan dan penyebaran pengetahuan terkait dengan perkembangan ilmu kedokteran dan kesehatan masyarakat. Terbit setiap bulan sekali dan disertai dengan artikel yang digunakan untuk CME - Continuing Medical Education yang bekerjasama dengan PB IDI (Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia)
Articles 2,961 Documents
Komplikasi Sistem Saraf Pusat pada COVID-19 Tasia Esterita; Budi Riyantoo Wreksoatmodjo
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48, No 11 (2021): Kardio-SerebroVaskular
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v48i11.1552

Abstract

Coronavirus disease-19 disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 yang menyebabkan pandemi sejak Maret 2020. COVID-19 tidak hanya menyebabkan komplikasi pernapasan dan kardiovaskular, tetapi dapat menyebabkan komplikasi sistem saraf pusat yang juga berkontribusi terhadap mortalitas dan morbiditas. Beberapa komplikasi sistem saraf pusat pada COVID-19 adalah stroke iskemik, stroke hemoragik, meningoensefalitis, acute transverse myelitis, dan ensefalopati. Stroke iskemik pada COVID-19 disebabkan oleh beberapa mekanisme, di antaranya koagulopati, disfungsi endotel, kardioemboli, invasi virus ke sistem saraf pusat, dan terapi imunoglobulin. Stroke hemoragik dapat disebabkan oleh kerusakan endotel akibat inflamasi menyebabkan disregulasi tekanan darah yang meningkatkan risiko stroke hemoragik. Meningoensefalitis pada COVID-19 disebabkan invasi virus langsung melalui cribriform plate atau karena kerusakan endotel yang menjadi pintu masuk SARS-CoV-2 ke otak. Mielitis transversa pada COVID-19 disebabkan hiperinflamasi sistemik, molecular mimicry, dan epitope spreading. Kegagalan organ multipel pada pasien COVID-19 akibat badai sitokin dapat menyebabkan ensefalopati. Coronavirus disease-19 is caused by the SARS-CoV-2 virus that has been causing a pandemic since March 2020. Besides respiratory and cardiovascular complications, COVID-19 can cause complications to central nervous system that also contribute to mortality and morbidity. Some central nervous system complications in COVID-19 are ischemic stroke, hemorrhagic stroke, meningoencephalitis, acute transverse myelitis, and encephalopathy. Ischemic stroke in COVID-19 is caused by several mechanisms, including coagulopathy, endothelial dysfunction, cardioembolism, viral invasion of the central nervous system and immunoglobulin therapy. Hemorrhagic stroke can be associated with blood pressure dysregulation caused by inflammational endothelial damage. Meningoencephalitis in COVID-19 can be caused by direct viral invasion through the cribriform plate or due to endothelial damage that facilitate SARS-CoV-2 entrance to the brain. Transverse myelitis in COVID-19 is caused by systemic hyperinflammation, molecular mimicry and epitope spreading. Multiple organ failure in COVID-19 patients due to a cytokine storm can lead to encephalopathy.
Perkembangan Terapi Leukemia Mieloid Akut Yuliana -
Cermin Dunia Kedokteran Vol 44, No 3 (2017): Infeksi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v44i3.835

Abstract

Leukemia mieloid akut (AML) merupakan keganasan yang berasal dari sel-sel mieloid imatur yang dapat fatal dalam beberapa bulan. Usia rata-rata pasien saat diagnosis AML adalah sekitar 67 tahun. Penyakit ini tidak memiliki tanda dan gejala klinis spesifik. Terapi “3 + 7” masih menjadi terapi standar untuk menginduksi remisi dilanjutkan dengan terapi konsolidasi untuk mencegah kekambuhan dan eradikasi residu. Walaupun pemahaman dan molekuler AML telah berkembang, terapinya masih menjadi tantangan mengingat masih ada kekambuhan.Acute myeloid leukemia is cancer from immature myeloid cells, it can be fatal within a few months. The average age at diagnosis is around 67 years old. This disease has no specific signs and symptoms. The standard induction therapy is still “3 + 7” treatment to induce remission, followed by consolidation therapy to prevent relapse and to eradicate residues. Despite progress in AML molecular theory, therapy in AML is still challenging. Novel therapies are still being developed. 
Transplantasi Organ Mahesa Paranadipa M
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46, No 9 (2019): Neuropati
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v46i9.443

Abstract

Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan telah memberi dasar hukum bagi pelaksanaan transplantasi organ. Pasal 64 ayat (1) berbunyi “Penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan dapat dilakukan melalui transplantasi organ dan/atau jaringan tubuh, implan obat dan/atau alat kesehatan, bedah plastik dan rekonstruksi, serta penggunaan sel punca.” Persyaratan utama yang dinyatakan dalam undang-undang ini antara lain : 1) Transplantasi organ dan/atau jaringan tubuh dilakukan hanya untuk tujuan kemanusiaan dan dilarang untuk dikomersialkan; 2) Transplantasi organ dan/atau jaringan tubuh hanya dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu dan dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan tertentu; 3) Pengambilan organ dan/atau jaringan tubuh dari seorang donor harus memperhatikan kesehatan pendonor yang bersangkutan dan mendapat persetujuan pendonor dan/atau ahli waris atau keluarganya; 4) Pengambilan dan pengiriman spesimen atau bagian organ tubuh hanya dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan serta dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan tertentu.
Automated Dispensing Machine Sebagai Salah Satu Upaya Menurunkan Medication Error Di Farmasi Rumah Sakit Dicki Julianus Karundeng; Vetty Yulianty Permanasari
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45, No 10 (2018): Muskuloskeletal
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v45i10.583

Abstract

Medication Errors merupakan penyebab kematian tertinggi keempat di Amerika Serikat. Untuk menurunkan kejadian medication errors, khususnya dispensing errors, Amerika Serikat sudah menggunakan sistem dispensing otomatis Di Indonesia, hampir semua instalasi farmasi masih menggunakan tenaga manual. Studi ini menganalisis dampak ADM (Automated Dispensing Machine) terhadap medication errors, khususnya dispensing errors di instalasi farmasi rumah sakit. Metode: Systematic Review menggunakan metode PRISMA diambil dari online database seperti Scopus, Tripdatabase, Springerlink dan Google Scholar dengan kata kunci “Automated Dispensing Machine” dan “Medication Error” dengan rentang waktu studi 10 tahun terakhir. Hasil dan Diskusi: Sebelas penelitian menunjukkan dampak positif automated dispensing machine (ADM) menurunkan dispensing errors, baik di instalasi rawat jalan maupun rawat inap. Lima penelitian menunjukkan ADM harus terintegrasi dengan ePrescription , sistem barcoding, dan Sistem Informasi Rumah Sakit, agar dapat berdampak optimal. Sistem filling ADM otomatis dapat mendukung penurunan angka dispensing error. ADM juga berdampak positif menurunkan beban kerja di farmasi, waktu tunggu obat, nilai inventory farmasi, dan biaya karyawan. Kelemahan sistem ADM adalah sulit digunakan dalam pelayanan emergency, membutuhkan sumber daya manusia terlatih, dan biaya tinggi. Simpulan: ADM berdampak positif menurunkan angka medication error. Untuk hasil maksimal ADM harus diintegrasikan dengan sistem informasi rumah sakit.Medication Errors are the 4th leading cause of death in USA; to decrease medication errors, Automated Dispensing System had been used in USA. In Indonesia, most pharmaceutical departments still use manual system in drugs dispensing. This study analyze the effect of ADM (Automated Dispensing Machine) to medication errors, particularly dispensing errors in hospital pharmacy. Method: Systematic Review with PRISMA method retrieved from online database such as Scopus, Tripdatabase, Springerlink, and Google Scholar using keywords “automated dispensing machine” AND “medication errors” studied in the last ten years. Results and Discussion: All eleven studies show beneficial effects in ADM implementation, decreasing dispensing errors, both at outpatient and inpatient ward. Five studies suggest that ADM should be integrated with ePrescription, barcoding system, and hospital information system for optimal result. Automatic filling system also decrease dispensing error. ADM also gives beneficial effect in reducing pharmacy staffs’ workload, drug waiting time, drug inventory cost, and employee costs. ADM systems have some weaknesses : difficult to apply at emergency services, need trained staffs, and high costs. Conclusion ADM gives beneficial effect in reducing medication error. For better results, ADM should be integrated with hospital information system. 
Kadar Zinc Serum Penderita Psoriasis Tutik Rahayu; Eka Putra W; Marsita Endy D; Rina Diana; Nugrohoaji Dharmawan
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48, No 3 (2021): Obstetri dan Ginekologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v48i3.1329

Abstract

Latar Belakang: Psoriasis adalah penyakit autoimun dengan dasar genetik dan dicetuskan oleh berbagai faktor di antaranya stresor fisik, stresor kimia dan paparan bahan-bahan kimia. Pembentukan radikal bebas dalam tubuh dapat dihambat oleh zinc. Tujuan: Untuk mengetahui kadar zinc serum penderita psoriasis. Metode : Penelitian analitik komparatif numerik dengan rancangan penelitian potong lintang. Sampel terdiri dari 10 orang penderita psoriasis dan 10 orang kontrol. Analisis sampel serum darah untuk pemeriksaan kadar zinc menggunakan inductively couple plasma-mass spectrometry (ICP-AES). Analisis statistik menggunakan uji independent sample T-Test dan bermakna jika nilai p<0,05.Hasil: Kadar zinc serum penderita psoriasis lebih rendah dibandingkan kontrol (p = 0,02).Background: Psoriasis is an autoimmune disease with a genetic basis and triggered by several factors such as chemical agent. The formation of free radicals can be inhibited by zinc. Objective: To determine serum zinc level among psoriasis patients. Methods: An analysis with numerical comparative, coss-sectional study design. Samples were 10 psoriasis and 10 non psoriasis patients. Analysis of blood serum samples for zinc levels used inductively couple plasma-mass spectrometry (ICP-AES). Statistical analysis used independent sample T-test with significant value p<0.05. Results: The serum zinc level was significantly lower in psoriasis patients compared to non psoriasis group (p = 0,02).Tutik Rahayu, Eka Putra W, Marsita Endy D, Rina Diana,
Manfaat Yoga Untuk Faktor Risiko Gagal Jantung Christian Syukur; Suwandi Chang; Marsha Kurniawan
Cermin Dunia Kedokteran Vol 44, No 9 (2017): Kardiologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v44i9.731

Abstract

Yoga merupakan latihan yang mudah dan murah. Yoga dengan berbagai variasinya, merupakan salah satu terapi alternatif. Sebagian besar penelitian membuktikan bahwa yoga memiliki efek yang lebih besar dan signifikan dibandingkan intervensi lain pada berbagai usia dan penyakit. Yoga juga dapat memperbaiki fungsi kardiopulmoner dan menurunkan faktor risiko gagal jantung seperti hipertensi, gula darah yang tinggi, obesitas, kolesterol, mengurangi kecemasan, serta kebiasaan merokok.Yoga is an easy and inexpensive exercise; with its variations, it is a promising alternative therapy. Most studies have shown that yoga has statistically significant better effect than other interventions in various ages and diseases. Yoga can also improve cardiopulmonary function and decrease heart failure risk factors such as hypertension, high blood sugar, obesity, cholesterol, and reduce anxiety and smoking habits.
Hubungan antara Tingkat Pengetahuan Skabies dan Personal Hygiene dengan Kejadian Skabies di Puskesmas Selatan 1, Kecamatan Singkawang Selatan Rosa -; Diana Natalia; Agus Fitriangga
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47, No 2 (2020): Penyakit Infeksi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v47i2.350

Abstract

Latar Belakang: Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi Sarcoptes scabiei varietas hominis Salah satu faktor penyebab skabies adalah personal hygiene. Tujuan: Mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan skabies dan personal hygiene dengan kejadian skabies di Puskesmas Selatan 1 Kecamatan Singkawang Selatan. Metodologi: Penelitian analitik observasional cross-sectional dengan metode simple random sampling. Jumlah sampel 53 orang. Analisis data menggunakan uji Chi Square. Hasil: Sebanyak 24,5% subjek menderita skabies, 86,8% subjek memiliki tingkat pengetahuan skabies baik dan 54,7% subjek memiliki personal hygiene baik. Nilai signifikasi tingkat pengetahuan (p value) sebesar = 0.002 dan personal hygiene (p value) sebesar = 0.008. Simpulan: Terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan skabies dan personal hygiene dengan kejadian skabies di Puskesmas Selatan 1 Kecamatan Singkawang Selatan. Background: Scabies is dermatological disease caused by infestation and sensitization of Sarcoptes scabiei var. hominis. One of its risk factors is personal hygiene. Purpose: To find correlation between level of knowledge on scabies and personal hygiene with prevalence of scabies in South Singkawang Public Health Center 1. Method: An observational analytical cross-sectional study on 53 respondents chosen with simple random sampling. Data was analyzed using Chi-square test. Results: Scabies was found in 24,5% respondent, 86,8% respondent have good level of knowledge about the disease while 54,7% have a good personal hygiene. Conclusion: The incidence of scabies in South Singkawang Public Health Center 1 is correlated to the level of knowledge on scabies (p 0,002) and their personal hygiene.( p= 0,008).
Pemeriksaan Radiologi dan Imaging untuk Perforasi Hollow Organ Abdomen Komang Ady Widayana
Cermin Dunia Kedokteran Vol 49, No 1 (2022): Bedah
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v49i1.1646

Abstract

Perforasi saluran gastrointestinal melibatkan organ lambung, duodenum, usus kecil, atau usus besar terjadi akibat kerusakan dinding saluran gastrointestinal disertai pelepasan konten intraluminal ke dalam rongga peritoneal atau retroperitoneal. Perforasi saluran gastrointestinal merupakan keadaan darurat medis umum dengan angka kematian tinggi; biasanya membutuhkan pembedahan darurat. Diagnosis dan pengobatan segera sangat penting untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas. Foto polos abdomen dapat menjadi bantuan penting untuk diagnosis perforasi saluran gastrointestinal. Ultrasonografi dapat berguna untuk menentukan tidak hanya keberadaan, tetapi juga penyebab pneumoperitoneum. Multidetector computed tomography merupakan modalitas pilihan untuk evaluasi dugaan perforasi karena sensitivitas dan akurasinya yang tinggi. Perforation of the gastrointestinal tract involves organs of the stomach, duodenum, small intestine, or large intestine that result from damage of the gastrointestinal tract accompanied by intraluminal content release into the peritoneal or retroperitoneal cavities. Gastrointestinal perforation is a common medical emergency associated with high mortality; usually requires emergency surgery. Prompt diagnosis and treatment is essential. Plain abdominal radiographs can be an important aid for diagnosis gastrointestinal perforation. Ultrasound can also be used to determine not only the presence, but also the cause of pneumoperitoneum. Multidetector computed tomography is the modality of choice for the evaluation of suspected perforation because of its high sensitivity and accuracy. 
Peran Imunoterapi Komplementer Daun Sambiloto (Andrographolide paniculata) sebagai Anti Kanker Melalui Penghambatan Nuclear Factor-KappaB (NF-B) pada Jalur Toll-Like Receptor-4 Febyan -; Johannes Hudyono
Cermin Dunia Kedokteran Vol 43, No 10 (2016): Anti-aging
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v43i10.877

Abstract

Penyakit kanker merupakan salah satu penyebab kematian utama di seluruh dunia. Pada tahun 2012, sekitar 8,2 juta kematian disebabkan oleh kanker. Dalam makalah ini dibahas peranan efek anti kanker daun Sambiloto (Andrographolide) pada penghambatan Nuclear transcription factor-B (NF-B) melalui jalur Toll-Like receptor-4. Toll-Like Receptors (TLRs) adalah transmembran protein tipe 1 ekstraseluler yang penuh leusin, membantu proses penyampaian sinyal dari ekstraseluler menuju intraseluler. TLR4 adalah bagian dari ekspresi tingkat gen pada jaringan tumor. Penghambatan p 50 pada jalur TLR4 dapat menurunkan aktivasi NF-B sehingga tidak terjadi transkripsi target gen sel kanker dan terjadi penghambatan pertumbuhan sel kanker. Aktivitas anti kanker andrographolide memiliki potensi sebagai pengobatan komplemen imunoterapi pada penyakit kanker.Cancer is one of the leading causes of death worldwide. In 2012, approximately 8.2 million deaths caused by cancer. This review will discuss the role of bitter leaf (andrographolide) as immunotherapy on nuclear inhibition of transcription factor-kB (NF-B) via the Toll-Like receptor-4. Toll-Like Receptors (TLRs) are type 1 transmembrane proteins, which assist signals delivery from the extracellular into the intracellular. Inhibition of p 50 on Toll-like receptor-4 could reduce the NF-B, inhibiting target gen transcription. Andrographolide with its anti-cancer activity has potential as a complimentary treatment for cancer immunotherapy.
Rekam Medis Elektronik Berbasis Cloud dalam Perspektif Etika dan Hukum di Indonesia Rani Tiyas Budiyanti; Septo Pawelas Arso; Penggalih Mahardika Herlambang
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45, No 9 (2018): Infeksi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v45i9.617

Abstract

Rekam Medis Elektronik (RME) berbasis cloud telah berkembang di Indonesia. Layanan tersebut memiliki berbagai keuntungan seperti biaya lebih rendah, fitur lebih mudah digunakan, potensi data sharing antar layanan kesehatan, serta mempermudah pengambilan keputusan klinis. Meskipun demikian, implementasi RME berbasis cloud berpotensi menimbulkan masalah etika dan hukum seperti masalah keamanan data dan jaringan, kepastian penyedia layanan cloud, prosedur data sharing, dan rahasia medis. Indonesia belum memiliki regulasi spesifik mengenai RME maupun RME berbasis cloud. Regulasi diperlukan agar implementasinya tidak bertentangan dengan etika dan hukum yang berlaku di Indonesia.Cloud based-Electronic Medical Record (Cloud based-EMR) has been developing in Indonesia. These services have some benefits such as lower costs, more user-friendly features, potential for data sharing, and support to clinical decision-making. Nevertheless, the implementation has implicationsin ethical and legal issues such as data and network security, cloud service provider, data sharing procedures, and medical privacy. Indonesia has no specific regulation on EMR or cloud-based EMR. EMR and cloud based-EMR regulation are needed so that its implementation does not contradict with Indonesian ethics and laws.

Filter by Year

2014 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 50 No 11 (2023): Pediatri Vol 50 No 10 (2023): Kedokteran Umum Vol 50 No 9 (2023): Penyakit Dalam Vol 50 No 8 (2023): Dermatiologi Vol 50 No 7 (2023): Kardiovaskular Vol 50 No 6 (2023): Edisi CME Vol 50 No 5 (2023): Kedokteran Umum Vol 50 No 4 (2023): Anak Vol 50 No 3 (2023): Kardiologi Vol 50 No 2 (2023): Penyakit Dalam Vol 50 No 1 (2023): Oftalmologi Vol 49, No 4 (2022): Infeksi - COVID-19 Vol 49 No 12 (2022): Dermatologi Vol. 49 No. 11 (2022): Neurologi Vol 49 No 10 (2022): Oftalmologi Vol. 49 No. 9 (2022): Neurologi Vol. 49 No. 8 (2022): Dermatologi Vol 49, No 7 (2022): Vitamin D Vol 49 No 7 (2022): Nutrisi - Vitamin D Vol 49 No 6 (2022): Nutrisi Vol 49, No 6 (2022): Nutrisi Vol 49 No 5 (2022): Neuro-Kardiovaskular Vol 49, No 5 (2022): Jantung dan Saraf Vol 49 No 4 (2022): Penyakit Dalam Vol 49, No 3 (2022): Saraf Vol 49 No 3 (2022): Neurologi Vol 49, No 2 (2022): Infeksi Vol 49 No 2 (2022): Infeksi Vol 49 (2022): CDK Suplemen-2 Vol 49 (2022): CDK Suplemen-1 Vol 49, No 1 (2022): Bedah Vol 49 No 1 (2022): Bedah Vol 48 No 11 (2021): Penyakit Dalam - COVID-19 Vol 48, No 7 (2021): Infeksi - [Covid - 19] Vol 48 No 1 (2021): Infeksi COVID-19 Vol. 48 No. 10 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 4 Vol 48 No 8 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 3 Vol 48 No 5 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 2 Vol. 48 No. 2 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 1 Vol 48, No 12 (2021): General Medicine Vol 48 No 12 (2021): Penyakit Dalam Vol 48, No 11 (2021): Kardio-SerebroVaskular Vol 48, No 10 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48, No 9 (2021): Nyeri Neuropatik Vol 48 No 9 (2021): Neurologi Vol 48, No 8 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48 No 7 (2021): Infeksi Vol 48, No 6 (2021): Kardiologi Vol 48 No 6 (2021): Kardiologi Vol 48, No 5 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48 No 4 (2021): Dermatologi Vol 48, No 4 (2021): Dermatologi Vol 48, No 3 (2021): Obstetri dan Ginekologi Vol. 48 No. 3 (2021): Obstetri - Ginekologi Vol 48, No 2 (2021): Farmakologi - Vitamin D Vol 48, No 1 (2021): Penyakit Dalam Vol 47, No 12 (2020): Dermatologi Vol 47, No 11 (2020): Infeksi Vol 47, No 10 (2020): Optalmologi Vol. 47 No. 10 (2020): Dermatologi Vol 47 No 9 (2020): Infeksi Vol 47, No 9 (2020): Neurologi Vol. 47 No. 8 (2020): Oftalmologi Vol 47, No 8 (2020): Kardiologi Vol 47, No 7 (2020): Bedah Vol. 47 No. 7 (2020): Neurologi Vol 47 No 6 (2020): Kardiologi & Pediatri Vol 47, No 5 (2020): CME - Continuing Medical Education Vol. 47 No. 5 (2020): Bedah Vol. 47 No. 4 (2020): Interna Vol 47, No 4 (2020): Arthritis Vol. 47 No. 3 (2020): Dermatologi Vol 47, No 3 (2020): Dermatologi Vol 47, No 2 (2020): Penyakit Infeksi Vol 47 No 2 (2020): Infeksi Vol 47, No 1 (2020): CME - Continuing Medical Education Vol 47, No 1 (2020): Bedah Vol 47 No 1 (2020): Bedah Vol. 46 No. 7 (2019): Continuing Medical Education - 2 Vol 46 No 12 (2019): Kardiovakular Vol 46, No 12 (2019): Kardiovaskular Vol. 46 No. 11 (2019): Pediatri Vol 46, No 11 (2019): Kesehatan Anak Vol 46, No 10 (2019): Farmasi Vol. 46 No. 10 (2019): Farmakologi - Continuing Professional Development Vol 46 No 9 (2019): Neurologi Vol 46, No 9 (2019): Neuropati Vol. 46 No. 8 (2019): Pediatri Vol 46, No 8 (2019): Kesehatan Anak Vol 46, No 7 (2019): CME - Continuing Medical Education Vol 46 No 6 (2019): Endokrinologi Vol 46, No 6 (2019): Diabetes Mellitus Vol 46, No 5 (2019): Pediatri Vol. 46 No. 5 (2019): Pediatri Vol. 46 No. 4 (2019): Dermatologi Vol 46, No 4 (2019): Dermatologi Vol 46, No 3 (2019): Nutrisi Vol. 46 No. 3 (2019): Nutrisi Vol 46, No 2 (2019): Penyakit Dalam Vol. 46 No. 2 (2019): Interna Vol 46 No 1 (2019): Obstetri-Ginekologi Vol 46, No 1 (2019): CME - Continuing Medical Education Vol 46, No 1 (2019): Obstetri - Ginekologi Vol 45, No 12 (2018): Farmakologi Vol 45 No 12 (2018): Interna Vol. 45 No. 11 (2018): Neurologi Vol 45, No 11 (2018): Neurologi Vol. 45 No. 10 (2018): Muskuloskeletal Vol 45, No 10 (2018): Muskuloskeletal Vol 45 No 9 (2018): Infeksi Vol 45, No 9 (2018): Infeksi Vol 45, No 8 (2018): Alopesia Vol. 45 No. 8 (2018): Dermatologi Vol 45, No 7 (2018): Onkologi Vol 45 No 7 (2018): Onkologi Vol. 45 No. 6 (2018): Interna Vol 45, No 6 (2018): Penyakit Dalam Vol 45, No 5 (2018): Nutrisi Vol. 45 No. 5 (2018): Nutrisi Vol 45, No 4 (2018): Cedera Kepala Vol 45 No 4 (2018): Neurologi Vol 45, No 4 (2018): Cidera Kepala Vol. 45 No. 3 (2018): Muskuloskeletal Vol 45, No 3 (2018): Muskuloskeletal Vol 45, No 2 (2018): Urologi Vol. 45 No. 2 (2018): Urologi Vol 45, No 1 (2018): Dermatologi Vol 45 No 1 (2018): Dermatologi Vol 45, No 1 (2018): Suplemen Vol 44, No 12 (2017): Neurologi Vol 44, No 11 (2017): Kardiovaskuler Vol 44, No 10 (2017): Pediatrik Vol 44, No 9 (2017): Kardiologi Vol 44, No 8 (2017): Obstetri-Ginekologi Vol 44, No 7 (2017): THT Vol 44, No 6 (2017): Dermatologi Vol 44, No 5 (2017): Gastrointestinal Vol 44, No 4 (2017): Optalmologi Vol 44, No 3 (2017): Infeksi Vol 44, No 2 (2017): Neurologi Vol 44, No 1 (2017): Nutrisi Vol 43, No 12 (2016): Kardiovaskular Vol 43, No 11 (2016): Kesehatan Ibu - Anak Vol 43, No 10 (2016): Anti-aging Vol 43, No 9 (2016): Kardiovaskuler Vol 43, No 8 (2016): Infeksi Vol 43, No 7 (2016): Kulit Vol 43, No 6 (2016): Metabolik Vol 43, No 5 (2016): Infeksi Vol 43, No 4 (2016): Adiksi Vol 43, No 3 (2016): Kardiologi Vol 43, No 2 (2016): Diabetes Mellitus Vol 43, No 1 (2016): Neurologi Vol 42, No 12 (2015): Dermatologi Vol 42, No 11 (2015): Kanker Vol 42, No 10 (2015): Neurologi Vol 42, No 9 (2015): Pediatri Vol 42, No 8 (2015): Nutrisi Vol 42, No 7 (2015): Stem Cell Vol 42, No 6 (2015): Malaria Vol 42, No 5 (2015): Kardiologi Vol 42, No 4 (2015): Alergi Vol 42, No 3 (2015): Nyeri Vol 42, No 2 (2015): Bedah Vol 42, No 1 (2015): Neurologi Vol 41, No 12 (2014): Endokrin Vol 41, No 11 (2014): Infeksi Vol 41, No 10 (2014): Hematologi Vol 41, No 9 (2014): Diabetes Mellitus Vol 41, No 8 (2014): Pediatrik Vol 41, No 7 (2014): Kardiologi Vol 41, No 6 (2014): Bedah Vol 41, No 5 (2014): Muskuloskeletal Vol 41, No 4 (2014): Dermatologi Vol 41, No 3 (2014): Farmakologi Vol 41, No 2 (2014): Neurologi Vol 41, No 1 (2014): Neurologi More Issue