cover
Contact Name
Dita Archinirmala
Contact Email
dorotea.ditaarchinirmala@kalbe.co.id
Phone
+6281806175669
Journal Mail Official
cdkjurnal@gmail.com
Editorial Address
http://www.cdkjournal.com/index.php/CDK/about/editorialTeam
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Cermin Dunia Kedokteran
Published by PT. Kalbe Farma Tbk.
ISSN : 0125913X     EISSN : 25032720     DOI : 10.55175
Core Subject : Health,
Cermin Dunia Kedokteran (e-ISSN: 2503-2720, p-ISSN: 0125-913X), merupakan jurnal kedokteran dengan akses terbuka dan review sejawat yang menerbitkan artikel penelitian maupun tinjauan pustaka dari bidang kedokteran dan kesehatan masyarakat baik ilmu dasar, klinis serta epidemiologis yang menyangkut pencegahan, pengobatan maupun rehabilitasi. Jurnal ini ditujukan untuk membantu mewadahi publikasi ilmiah, penyegaran, serta membantu meningkatan dan penyebaran pengetahuan terkait dengan perkembangan ilmu kedokteran dan kesehatan masyarakat. Terbit setiap bulan sekali dan disertai dengan artikel yang digunakan untuk CME - Continuing Medical Education yang bekerjasama dengan PB IDI (Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia)
Articles 2,961 Documents
Potensi dan Keamanan Vaksin Dengue Purnamasari, Lina
Cermin Dunia Kedokteran Vol 43, No 12 (2016): Kardiovaskular
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (568.392 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v43i12.902

Abstract

Dengue merupakan infeksi virus sistemik akut yang ditransmisikan oleh nyamuk Aedes. Penyakit ini masih endemik global dan banyak menyebabkan kematian. Belum ada terapi spesifik dan pengendalian vektor belum cukup mengurangi kejadian penyakit. Vaksin mungkin dapat menjadi strategi efektif dalam pencegahan dengue. Saat ini masih dilakukan uji klinis potensi dan keamanan vaksin dengue.Dengue is an acute systemic viral infection transmitted by Aedes mosquitoes. The disease is still endemic or epidemic globally with significant mortality. No specific treatment for dengue to date and vector control has not sufficiently reduce the epidemics. Vaccine is likely to be an effective strategy for dengue control. Clinical trials are still underway to assess the efficacy and safety of dengue vaccine.
Wound Myasis pada Anak Winata, Satyadharma Michael; Yolanda, Natharina
Cermin Dunia Kedokteran Vol 41, No 8 (2014): Pediatrik
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (977.431 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v41i8.1116

Abstract

Myasis merupakan infestasi parasit pada jaringan hidup makhluk bertulang belakang (manusia dan atau hewan) disebabkan oleh lalat ordo Diptera (belatung). Infestasi larva pada kulit dan luka adalah bentuk yang paling sering. Dilaporkan kasus seorang anak perempuan 10 tahun dengan keluhan luka disertai belatung pada kulit kepala. Pada pemeriksaan fisik ditemukan sebuah luka terbuka bentuk bulat, diameter 1,5 cm, kedalaman 1 cm, bergaung, berbau busuk, dengan tepi eritema disertai pus. Pada probing luka ditemukan 10 larvae berbentuk silinder, bersegmen, putih – kecokelatan dengan panjang 1,5 – 2 cm. Gambaran di atas mengarah pada diagnosis wound myasis dengan infeksi bakterial sekunder. Pasien diterapi dengan ekstraksi larva secara mekanik diikuti debridemen dan irigasi saline, petroleum jelly untuk merangsang granulasi pada kondisi lembap, antibiotik untuk infeksi sekunder. Luka sembuh dan menutup sempurna.Myasis is an infestation of dipterous larvae in live vertebrates (humans and or animals). Larvae infestation in skin and wound are the most common form. This is a report of a 10-year-old girl with chief complaint of an open wound with larvae in her scalp. Physical examination revealed a round open lesion, 1.5 cm in diameter, 1 cm in depth, cavernous, malodorous, with florid and purulent margin. Probing into the lesion revealed 10 larvae which are cylindrical, segmented, white-brownish, and 1.5 – 2 cm in length. Those findings confirmed the diagnosis of wound myasis with secondary bacterial infection. Patient was treated with mechanical larva extraction followed by debridement and saline irrigation, petroleum jelly to stimulate granulation in humid condition, and antibiotics for secondary infection. The lesion was healed and closed perfectly.
Risiko dan Deteksi Dini Kanker Payudara -, Yuliana
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45, No 2 (2018): Urologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.959 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v45i2.177

Abstract

Kanker payudara  merupakan  salah  satu  penyebab  kematian  karena  kanker  yang  utama.  Deteksi  dini  bertujuan  untuk  menemukan  dan mendiagnosis penyakit lebih awal yang penting untuk prognosis, meliputi pemeriksaan mammografi berkala (tiap 1-2 tahun), dan pemeriksaan payudara klinis dan sendiri. Kontroversi dari berbagai kalangan medis muncul terkait usia dimulainya skrining, namun semua sepakat bahwa manfaat skrining berbanding lurus dengan bertambahnya usia, dan keputusan untuk memulai skrining haruslah berdasarkan diskusi manfaat dan potensi bahaya antara pasien dan dokter. Panduan Nasional Penanganan Kanker Payudara versi 1.0 2015 menuliskan pentingnya upaya pencegahan, yang dilakukan dengan CERDIK. CERDIK adalah kependekan dari Cek kesehatan secara teratur, Enyahkan asap rokok, Rajin aktivitas fisik, Diet sehat dengan kalori seimbang, Istirahat cukup, Kelola stres.
Tatalaksana Monkeypox Lukito, Johan Indra
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46, No 8 (2019): Kesehatan Anak
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (293.515 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v46i8.447

Abstract

Monkeypox merupakan penyakit zoonosis akibat virus yang terjadi terutama di daerah hutan hujan tropis Afrika tengah dan barat. Virus monkeypox mirip cacar. Meskipun monkeypox jauh lebih ringan daripada cacar, namun dapat fatal. Virus monkeypox sebagian besar ditularkan ke manusia dari berbagai binatang liar seperti tikus dan primata, juga dapat ditularkan dari manusia ke manusia. Tingkat kematian saat wabah monkeypox antara 1% - 10%, sebagian besar pada kelompok usia lebih muda. Tidak ada pengobatan atau vaksin khusus namun vaksinasi cacar sangat efektif mencegah monkeypox.Monkeypox is a viral zoonotic disease that occurs primarily in remote tropical rainforests of central and west Africa. The monkeypox virus is similar to human smallpox virus. Although monkeypox is much milder than smallpox, it can also be fatal. Monkeypox virus is mostly transmitted to people from various wild animals such as rodents and primates, it can also spread through human-to-human transmission. Case fatality in monkeypox outbreaks is between 1% - 10%, most deaths occurred in younger age groups. No specific treatment or vaccine available, although smallpox vaccination was also highly effective in preventing monkeypox.
Perkembangan Metode Kontrasepsi di Indonesia Afifah Nurullah, Fitri
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48, No 3 (2021): Obstetri dan Ginekologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.65 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v48i3.1335

Abstract

Indonesia merupakan negara berpenduduk keempat terbanyak di dunia. Indonesia berupaya menurunkan TFR hingga 2,1 pada tahun 2025 dan menurunkan laju pertumbuhan penduduk (LPP) hingga di bawah 1,2%, antara lain dengan metode kontrasepsi. Kontrasepsi modern dibedakan menjadi kontrasepsi hormonal dan non-hormonal. Dibandingkan dengan jenis kontrasepsi hormonal lainnya, kontrasepsi injeksi dan pil adalah yang paling banyak digunakan dengan jumlah pengguna meningkat setiap tahun. Saat ini telah dikembangkan metode kontrasepsi koyo dengan microneedle berisi levonorgestrel yang diharapkan memiliki efikasi baik, efek samping minimal, mudah digunakan, tidak menghasilkan limbah tajam dan dapat digunakan jangka panjang.Indonesia is the fourth most populous country in the world. Indonesia projects to reduce its TFR to 2.1 by 2025 and reduce annual population growth rates to below 1.2%, with among other methods is the use of contraception. Modern contraceptives are divided into hormonal and non-hormonal contraception. Compared to other hormonal contraceptives, injectable contraceptives and pills are the most widely used with increasing users. A patch contraceptive method with microneedle containing levonorgestrel has been currently developed and expected to have good efficacy, minimal side effects, easy to use, does not produce sharp waste and can be used long term. 
Frequent Ventricular Extrasystoles Halim, Rolando Agustian; Felani, M. Rizky
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45, No 10 (2018): Muskuloskeletal
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1736.484 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v45i10.586

Abstract

Latar Belakang: Frequent Ventricular extrasystoles merupakan aritmia ventrikel dengan ciri khas kompleks QRS lebar dan muncul prematur, total frekuensi >7% total keseluruhan denyut jantung dalam satu hari. Kasus: Seorang perempuan 51 tahun dengan keluhan berdebar-debar. Pemeriksaan EKG dan holter monitoring, mendapatkan hasil VES 32.5%. Dilakukan tindakan studi elektrofisiologi dan ablasi fokus denyut ektopik abnormal di RVOT. Simpulan: Frequent VES harus dipertimbangkan pada keluhan berdebar-debar. Pemeriksaan penunjang dan tatalaksana yang tepat merupakan upaya pencegahan tachycardiomyopathy yang diinduksi VES.Background: Frequent Ventricular extrasystoles is a ventricular arrhythmia characterized by wide QRS complexes and premature occurrence, with a total frequency > 7% of the total heart rate in a single day. Case: A 51-year-old woman with palpitation. ECG and Holter showed 32.4% VES complexes. Electrophysiological study and ablation on the abnormal ectopic focus at RVOT were done. Conclusion: Frequent VES should be considered in palpitation. Appropriate investigation and proper management are vital to prevent the occurrence of VES-induced tachycardiomyopathy.
The Efficacy and Safety of Two Depo Medroxyprogesterone Acetate Injection Preparations as Contraception: An Open-Label, Randomized Controlled Study Rosdiana, Dewi Selvina; K. Suherman, Suharti; Affandi, Biran; Gunadi, E. Rusdianto; Amelia, Dwirani; Baharrudin, Mohammad
Cermin Dunia Kedokteran Vol 44, No 5 (2017): Gastrointestinal
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.93 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v44i5.794

Abstract

Latar belakang: Kontrasepsi hormonal injeksi masih banyak digunakan di berbagai negara berkembang, termasuk di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan efikasi dan keamanan kontrasepsi hormonal injeksi mengandung 150 mg/mL medroxyprogesterone acetate (DMPA) (obat A) yang akan digunakan untuk program Keluarga Berencana Nasional, dibandingkan dengan inovatornya (obat B). Metode: penelitian ini open-label, acak, multisenter, 2 kelompok, melibatkan 400 subjek usia produktif, yang diacak untuk mendapatkan obat A atau obat B. Injeksi diberikan sekali setiap 3 bulan, selama 1 tahun. Hasil: Setelah 4 kali injeksi kontrasepsi periode satu tahun, tidak didapatkan kehamilan pada kedua kelompok, nilai Pearl-Index masing-masing kelompok nol. Insidensi kejadian tidak diinginkan sebanding pada kedua kelompok dan dapat ditoleransi, dengan kejadian paling sering adalah amenore, spotting, sakit kepala dan menstruasi memanjang. Simpulan: Kontrasepsi hormonal injeksi yang akan digunakan untuk program KB nasional (obat A) memiliki efikasi dan keamanan yang sebanding dengan inovatornya (obat B).Backgroud: Injectable hormonal contraceptives remain in extensive use in many developing countries, including Indonesia. This study was intended to compare the efficacy and safety of injectable hormonal contraception contain 150 mg/mL DMPA injection (Drug A), that will be used for national Family Planning Program, versus the innovator product (Drug B). Methods: This study was an open-label, randomized, multicenter, 2-parallel group study, involving 400 women of childbearing age, who received Drug A or Drug B four times at 3-month intervals. Results: No pregnancies occur in both groups after 4 injections of Drug A or Drug B over a period of 12 months, the Pearl-Index value for each group was zero. The incidence of adverse events between groups were comparable and tolerable, the most common events were amenorrhea, spotting, headache, and prolonged menstruation. Conclusion: The efficacy and safety of injectable DMPA (Drug A) produced for National Family Planning program was comparable with the innovator DMPA drug (Drug B).
Defisit Serebelum Murni akibat Stenosis Arteri Serebri Posterior Widyantara, I Wayan; Kondra, I Wayan
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 5 (2015): Kardiologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.629 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v42i5.1013

Abstract

Latar Belakang: Stroke merupakan penyebab kematian utama nomor 2 di dunia dan berkontribusi besar dalam penyakit global. Stroke arteri serebri posterior/posterior cerebral artery (PCA) terjadi pada sekitar 26,5% stroke iskemik dan disabilitas yang disebabkannya berupa defek lapang pandang, hemiparesis, gangguan sensibilitas, gangguan kognisi dan perilaku. Sedikit laporan yang menyatakan infark PCA menyebabkan ataksia atau gangguan koordinasi. Laporan kasus: Seorang laki-laki 43 tahun, datang dengan kondisi sadar mengeluh pusing berputar mendadak saat aktivitas sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit. Keluhan pusing menetap, tidak memberat pada perubahan posisi dan tidak membaik saat istirahat; disertai sulit mengendalikan gerakan diikuti kurang tangkasnya tungkai kiri sehingga pasien tidak mampu berdiri dan berjalan. Didapatkan vertigo tipe sentral, kekuatan keempat ekstremitas dalam batas normal, gangguan koordinasi lebih berat pada sisi kiri tubuh, asinergia serebelar, proprioseptif normal. Pemeriksaan MRA Magnetic Resonance Angiography) mendapatkan gambaran stenosis PCA dekstra. Simpulan: Gambaran klinis gangguan serebelum murni kedua sisi dapat akibat stenosis arteri serebri posterior kanan yang memberikan percabangan pada kedua sisi arteri thalamoperforate.Background: Stroke is the second leading cause of death in the world and contributed the majority of global illness. The incidence of posterior circulation stroke is about 26.5% causing disabilities such as visual fi eld defect, hemiparesis, sensibility disorder, cognition and behavior disorders. There was a report that infarc of PCA cause ataxia or coordination disorder. Case Report: A 43-year old male, alert, presented with chief complain of sudden spinning sensation during activity 3 days prior to admission. The symptom was continues and settle, not get worsen by changing position and not improving by resting. It was accompanied with diffi culty to control movement followed by left leg weakening resulting in inability to stand up and walk. Neurological examination found central type of vertigo, normal strength with coordination defect on both sides but more severe on the left, cerebral asynergy, normal proprioception. MRA (Magnetic Resonance Angiography) showed stenosis of the right posterior cerebral artery (PCA). Conclusion: Pure cerebellum defi cit on both sides can be caused by stenosis of the right posterior cerebral artery which supplied both thalamoperforate arteries.
Pemeriksaan Fungsi Ginjal ., Verdiansah
Cermin Dunia Kedokteran Vol 43, No 2 (2016): Diabetes Mellitus
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (172.935 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v43i2.25

Abstract

Ginjal termasuk salah satu organ tubuh manusia yang vital. Organ ini berperan penting dalam metabolisme tubuh seperti fungsi ekskresi, keseimbangan air dan elektrolit, serta endokrin. Fungsi ginjal secara keseluruhan didasarkan oleh fungsi nefron dan gangguan fungsi ginjal disebabkan oleh menurunnya kerja nefron. Penyakit ginjal sering disertai penyakit lain yang mendasarinya seperti diabetes melitus, hipertensi, dislipidemia, dan lain-lain. Gejala gangguan ginjal stadium dini cenderung ringan, sehingga sulit didiagnosis hanya dengan pemeriksaan klinis. Pemeriksaan laboratorium dapat mengidentifi kasi gangguan fungsi ginjal lebih awal. Pemeriksaan antara lain kadar kreatinin, ureum, asam urat, cystatin C, β2 microglobulin, inulin, dan juga zat berlabel radioisotop. Hal ini dapat membantu dokter klinisi dalam mencegah dan tatalaksana lebih awal untuk mencegah progresivitas gangguan ginjal menjadi gagal ginjal.
Profil Penderita Morbus Hansen di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD Bali Mandara Januari 2018-Desember 2020 Aviana, Felicia; Birawan, I Made; Sutrini, Ni Nyoman Ayu
Cermin Dunia Kedokteran Vol 49, No 2 (2022): Infeksi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (91.316 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v49i2.1725

Abstract

Morbus Hansen (MH) merupakan salah satu penyakit terabaikan dan masih sering dijumpai di negara tropis dan subtropis, termasuk di Indonesia yang menduduki peringkat ketiga di dunia. Penelitian deskriptif retrospektif dilakukan untuk mengetahui profil penderita MH di PoliklinikKulit dan Kelamin RSUD Bali Mandara periode Januari 2018-Desember 2020. Didapatkan 55 penderita MH dengan 492 (1,6%) kunjungan dari 30587 total kunjungan; terdiri dari 39 (71%) laki-laki dan 16 (29%) perempuan, terbanyak dari kelompok usia 25-44 tahun (45,5%). Berdasarkan tipe MH, didapatkan tipe multibasiler (MB) sebesar 92,7%. Berdasarkan reaksi MH, didapatkan 14,5% pasien dengan reaksi erythema nodosum leprosum (ENL), tidak didapatkan pasien reaksi reversal. Mayoritas penderita MH di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD Bali Mandara periode Januari 2018-Desember 2020 adalah laki-laki, kelompok usia 25-44 tahun, tipe multibasiler dengan reaksi erythema nodosum leprosum (ENL).

Page 30 of 297 | Total Record : 2961


Filter by Year

2014 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 50 No 11 (2023): Pediatri Vol 50 No 10 (2023): Kedokteran Umum Vol 50 No 9 (2023): Penyakit Dalam Vol 50 No 8 (2023): Dermatiologi Vol 50 No 7 (2023): Kardiovaskular Vol 50 No 6 (2023): Edisi CME Vol 50 No 5 (2023): Kedokteran Umum Vol 50 No 4 (2023): Anak Vol 50 No 3 (2023): Kardiologi Vol 50 No 2 (2023): Penyakit Dalam Vol 50 No 1 (2023): Oftalmologi Vol 49, No 4 (2022): Infeksi - COVID-19 Vol 49 No 12 (2022): Dermatologi Vol. 49 No. 11 (2022): Neurologi Vol 49 No 10 (2022): Oftalmologi Vol. 49 No. 9 (2022): Neurologi Vol. 49 No. 8 (2022): Dermatologi Vol 49, No 7 (2022): Vitamin D Vol 49 No 7 (2022): Nutrisi - Vitamin D Vol 49 No 6 (2022): Nutrisi Vol 49, No 6 (2022): Nutrisi Vol 49, No 5 (2022): Jantung dan Saraf Vol 49 No 5 (2022): Neuro-Kardiovaskular Vol 49 No 4 (2022): Penyakit Dalam Vol 49 No 3 (2022): Neurologi Vol 49, No 3 (2022): Saraf Vol 49 No 2 (2022): Infeksi Vol 49, No 2 (2022): Infeksi Vol 49 (2022): CDK Suplemen-2 Vol 49 (2022): CDK Suplemen-1 Vol 49 No 1 (2022): Bedah Vol 49, No 1 (2022): Bedah Vol 48 No 11 (2021): Penyakit Dalam - COVID-19 Vol 48, No 7 (2021): Infeksi - [Covid - 19] Vol 48 No 1 (2021): Infeksi COVID-19 Vol. 48 No. 10 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 4 Vol 48 No 8 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 3 Vol 48 No 5 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 2 Vol. 48 No. 2 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 1 Vol 48, No 12 (2021): General Medicine Vol 48 No 12 (2021): Penyakit Dalam Vol 48, No 11 (2021): Kardio-SerebroVaskular Vol 48, No 10 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48 No 9 (2021): Neurologi Vol 48, No 9 (2021): Nyeri Neuropatik Vol 48, No 8 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48 No 7 (2021): Infeksi Vol 48 No 6 (2021): Kardiologi Vol 48, No 6 (2021): Kardiologi Vol 48, No 5 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48, No 4 (2021): Dermatologi Vol 48 No 4 (2021): Dermatologi Vol. 48 No. 3 (2021): Obstetri - Ginekologi Vol 48, No 3 (2021): Obstetri dan Ginekologi Vol 48, No 2 (2021): Farmakologi - Vitamin D Vol 48, No 1 (2021): Penyakit Dalam Vol 47, No 12 (2020): Dermatologi Vol 47, No 11 (2020): Infeksi Vol 47, No 10 (2020): Optalmologi Vol. 47 No. 10 (2020): Dermatologi Vol 47 No 9 (2020): Infeksi Vol 47, No 9 (2020): Neurologi Vol 47, No 8 (2020): Kardiologi Vol. 47 No. 8 (2020): Oftalmologi Vol. 47 No. 7 (2020): Neurologi Vol 47, No 7 (2020): Bedah Vol 47 No 6 (2020): Kardiologi & Pediatri Vol. 47 No. 5 (2020): Bedah Vol 47, No 5 (2020): CME - Continuing Medical Education Vol 47, No 4 (2020): Arthritis Vol. 47 No. 4 (2020): Interna Vol. 47 No. 3 (2020): Dermatologi Vol 47, No 3 (2020): Dermatologi Vol 47, No 2 (2020): Penyakit Infeksi Vol 47 No 2 (2020): Infeksi Vol 47, No 1 (2020): Bedah Vol 47 No 1 (2020): Bedah Vol 47, No 1 (2020): CME - Continuing Medical Education Vol. 46 No. 7 (2019): Continuing Medical Education - 2 Vol 46 No 12 (2019): Kardiovakular Vol 46, No 12 (2019): Kardiovaskular Vol. 46 No. 11 (2019): Pediatri Vol 46, No 11 (2019): Kesehatan Anak Vol 46, No 10 (2019): Farmasi Vol. 46 No. 10 (2019): Farmakologi - Continuing Professional Development Vol 46 No 9 (2019): Neurologi Vol 46, No 9 (2019): Neuropati Vol 46, No 8 (2019): Kesehatan Anak Vol. 46 No. 8 (2019): Pediatri Vol 46, No 7 (2019): CME - Continuing Medical Education Vol 46, No 6 (2019): Diabetes Mellitus Vol 46 No 6 (2019): Endokrinologi Vol. 46 No. 5 (2019): Pediatri Vol 46, No 5 (2019): Pediatri Vol 46, No 4 (2019): Dermatologi Vol. 46 No. 4 (2019): Dermatologi Vol 46, No 3 (2019): Nutrisi Vol. 46 No. 3 (2019): Nutrisi Vol. 46 No. 2 (2019): Interna Vol 46, No 2 (2019): Penyakit Dalam Vol 46, No 1 (2019): CME - Continuing Medical Education Vol 46, No 1 (2019): Obstetri - Ginekologi Vol 46 No 1 (2019): Obstetri-Ginekologi Vol 45 No 12 (2018): Interna Vol 45, No 12 (2018): Farmakologi Vol. 45 No. 11 (2018): Neurologi Vol 45, No 11 (2018): Neurologi Vol. 45 No. 10 (2018): Muskuloskeletal Vol 45, No 10 (2018): Muskuloskeletal Vol 45, No 9 (2018): Infeksi Vol 45 No 9 (2018): Infeksi Vol. 45 No. 8 (2018): Dermatologi Vol 45, No 8 (2018): Alopesia Vol 45, No 7 (2018): Onkologi Vol 45 No 7 (2018): Onkologi Vol. 45 No. 6 (2018): Interna Vol 45, No 6 (2018): Penyakit Dalam Vol 45, No 5 (2018): Nutrisi Vol. 45 No. 5 (2018): Nutrisi Vol 45, No 4 (2018): Cedera Kepala Vol 45 No 4 (2018): Neurologi Vol 45, No 4 (2018): Cidera Kepala Vol 45, No 3 (2018): Muskuloskeletal Vol. 45 No. 3 (2018): Muskuloskeletal Vol. 45 No. 2 (2018): Urologi Vol 45, No 2 (2018): Urologi Vol 45 No 1 (2018): Dermatologi Vol 45, No 1 (2018): Suplemen Vol 45, No 1 (2018): Dermatologi Vol 44, No 12 (2017): Neurologi Vol 44, No 11 (2017): Kardiovaskuler Vol 44, No 10 (2017): Pediatrik Vol 44, No 9 (2017): Kardiologi Vol 44, No 8 (2017): Obstetri-Ginekologi Vol 44, No 7 (2017): THT Vol 44, No 6 (2017): Dermatologi Vol 44, No 5 (2017): Gastrointestinal Vol 44, No 4 (2017): Optalmologi Vol 44, No 3 (2017): Infeksi Vol 44, No 2 (2017): Neurologi Vol 44, No 1 (2017): Nutrisi Vol 43, No 12 (2016): Kardiovaskular Vol 43, No 11 (2016): Kesehatan Ibu - Anak Vol 43, No 10 (2016): Anti-aging Vol 43, No 9 (2016): Kardiovaskuler Vol 43, No 8 (2016): Infeksi Vol 43, No 7 (2016): Kulit Vol 43, No 6 (2016): Metabolik Vol 43, No 5 (2016): Infeksi Vol 43, No 4 (2016): Adiksi Vol 43, No 3 (2016): Kardiologi Vol 43, No 2 (2016): Diabetes Mellitus Vol 43, No 1 (2016): Neurologi Vol 42, No 12 (2015): Dermatologi Vol 42, No 11 (2015): Kanker Vol 42, No 10 (2015): Neurologi Vol 42, No 9 (2015): Pediatri Vol 42, No 8 (2015): Nutrisi Vol 42, No 7 (2015): Stem Cell Vol 42, No 6 (2015): Malaria Vol 42, No 5 (2015): Kardiologi Vol 42, No 4 (2015): Alergi Vol 42, No 3 (2015): Nyeri Vol 42, No 2 (2015): Bedah Vol 42, No 1 (2015): Neurologi Vol 41, No 12 (2014): Endokrin Vol 41, No 11 (2014): Infeksi Vol 41, No 10 (2014): Hematologi Vol 41, No 9 (2014): Diabetes Mellitus Vol 41, No 8 (2014): Pediatrik Vol 41, No 7 (2014): Kardiologi Vol 41, No 6 (2014): Bedah Vol 41, No 5 (2014): Muskuloskeletal Vol 41, No 4 (2014): Dermatologi Vol 41, No 3 (2014): Farmakologi Vol 41, No 2 (2014): Neurologi Vol 41, No 1 (2014): Neurologi More Issue