cover
Contact Name
Dita Archinirmala
Contact Email
dorotea.ditaarchinirmala@kalbe.co.id
Phone
+6281806175669
Journal Mail Official
cdkjurnal@gmail.com
Editorial Address
http://www.cdkjournal.com/index.php/CDK/about/editorialTeam
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Cermin Dunia Kedokteran
Published by PT. Kalbe Farma Tbk.
ISSN : 0125913X     EISSN : 25032720     DOI : 10.55175
Core Subject : Health,
Cermin Dunia Kedokteran (e-ISSN: 2503-2720, p-ISSN: 0125-913X), merupakan jurnal kedokteran dengan akses terbuka dan review sejawat yang menerbitkan artikel penelitian maupun tinjauan pustaka dari bidang kedokteran dan kesehatan masyarakat baik ilmu dasar, klinis serta epidemiologis yang menyangkut pencegahan, pengobatan maupun rehabilitasi. Jurnal ini ditujukan untuk membantu mewadahi publikasi ilmiah, penyegaran, serta membantu meningkatan dan penyebaran pengetahuan terkait dengan perkembangan ilmu kedokteran dan kesehatan masyarakat. Terbit setiap bulan sekali dan disertai dengan artikel yang digunakan untuk CME - Continuing Medical Education yang bekerjasama dengan PB IDI (Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia)
Articles 2,961 Documents
Early Diagnosis and Prompt Treatment of Severe Stenosis in The Proximal Left Anterior Descending Coronary Artery (Wellens’ Syndrome) Singh Dhilion, Har Rawishwar; -, Haikal; Pratama, Vireza; Harsoyo, Agus; Pamungkas, Bambang
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46, No 1 (2019): Obstetri - Ginekologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (867.475 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v46i1.540

Abstract

The electrocardiography misinterpretation occurs in 20-40% of misdiagnosed myocardial infarction cases. Wellens' syndrome is a typical T-wave finding that shows severe stenosis in the proximal of left anterior descending (LAD) artery, leading to extensive anterior myocardial infarction within days. Cardiac stress tests should not be performed in this condition. Prognosis is fair when identified early and proper coronary intervention was immediately performed.Kesalahan interpretasi elektrokardiografi terjadi pada 20-40% kasus infark miokard yang salah terdiagnosis. Sindrom Wellens merupakan temuan gelombang-T khas yang menunjukkan stenosis berat di arteri turun anterior kiri (LAD) proksimal, dapat menyebabkan infark miokard anterior luas dalam beberapa hari. Tes stres jantung tidak boleh dilakukan dalam kondisi ini. Kebanyakan pasien dapat membaik jika teridentifikasi dini dan intervensi koroner yang tepat segera dilakukan.
Talakasana Otitis Media Efusi pada Anak Aquinas, Rimelda
Cermin Dunia Kedokteran Vol 44, No 7 (2017): THT
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (481.439 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v44i7.747

Abstract

Otitis media efusi (OME) adalah proses inflamasi mukosa telinga tengah ditandai dengan cairan purulen di telinga tengah tanpa tanda infeksi akut. Diketahui 90% anak- anak di bawah usia 10 tahun pernah sekurangnya satu kali menderita OME. Setiap tahun, biaya pengobatan OME mencapai 2 hingga 4 milyar USD. OME dapat mengakibatkan gangguan perkembangan anak, seperti gangguan pendengaran, berbicara, berbahasa, komunikasi, performa di sekolah, dan inteligensia. OME merupakan alasan operasi pada anak-anak. Diagnosis OME sedini mungkin penting agar perkembangan anak berjalan baik.Otitis media with effusion (OME) is an inflammation in the middle ear mucosa characterized by accumulation of purulent ear fluid without symptoms or signs of acute infection. Up to 90% of children will experience OME at least once by the age of 10 years. About $2 billion to $4 billion per year is spent for treating OME. OME can influence child development such as hearing, speech, language, communication, school performance, and intelligence. Early diagnosis should facilitate better child development. 
Neurophenomenology of Savant Syndrome Anurogo, Dito; Ikrar, Taruna
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 9 (2015): Pediatri
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (705.585 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v42i9.971

Abstract

Savant syndrome is an enigmatic disorder. It is characterized by cluster of outstanding mental ability in otherwise handicapped individuals. People with savant syndrome exhibit exceptional-extraordinary abilities and demonstrate some specific talents or particular skills along with developmental disabilities. Their profound and prodigous abilities are far in excess of what are considered normal. There is a paradoxical presence of special skills and distinguished disabilities. The documented savant skills include “lightning-speed” numerical calculation, calendrical calculation, musical savants (exceptional musical abilities, especially perfect pitch), artistic skills, hyperlexics (fast reading and understanding). Other types of talents and artistic skills involving three-dimensional drawing, map memory, poetry, painting, and sculpturing are also observed. The goal of this scientific article is to review savant syndrome, based on neurophenomenology framework and recent findings.Sindrom savant adalah gangguan yang misterius. Sindrom ini ditandai dengan adanya beberapa kemampuan mental yang menonjol pada individu dengan kelainan/cacat jasmani. Orang dengan sindrom savant menunjukkan beragam kemampuan luar-biasa serta memiliki beberapa bakat khusus atau keterampilan yang istimewa di samping gangguan perkembangan. Kemampuan yang dimilikinya melampaui kondisi normal. Ada paradoks dari kehebatan dan cacat yang dimilikinya. Beberapa keterampilan yang terdokumentasikan, misalnya: perhitungan numerik kilat, kalkulasi kalender, musik (kecuali kemampuan musikal, terutama pitch yang sempurna), keterampilan artistik, hiperleksia (kemampuan membaca dan memahami kilat). Jenis bakat dan kemampuan artistik lainnya antara lain menggambar tiga dimensi, ingatan tentang peta, puisi, lukisan, dan seni memahat. Tujuan artikel ilmiah ini adalah untuk meninjau sindrom savant berdasarkan pendekatan neurofenomenologi, dan kepustakaan serta riset terkini.
Early Prevention of Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS) Risk In Children with Growth Hormone Deficiency ., Aylicia
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48, No 11 (2021): Kardio-SerebroVaskular
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (145.647 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v48i11.1554

Abstract

Polycystic ovarian syndrome (PCOS) is a hormonal disorder and is the leading cause of infertility in women. In 2012, World Health Organization (WHO) stated that around 116 million women around the world were affected by PCOS. The etiology of PCOS has not been fully understood. The most known risk factors are obesity and insulin resistance, usually found in children with growth hormone deficiency (GHD). Growth hormone (GH) therapy can hopefully be the solution to growth disorder and prevent PCOS risks. This article will discuss PCOS and the role of GHD therapy on children in preventing PCOS. Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS) adalah gangguan hormonal yang paling umum ditemukan dan merupakan penyebab utama infertilitas pada perempuan. World Health Organization (WHO) pada tahun 2012 menyatakan sekitar 116 juta wanita di seluruh dunia menderita PCOS. Etiologi PCOS belum sepenuhnya dipahami. Namun, faktor risiko yang paling umum diketahui adalah obesitas dan resistensi insulin yang sering didapatkan pada anak-anak dengan growth hormone deficiency (GHD). Terapi growth hormone (GH) diharapkan dapat mengatasi masalah pertumbuhan dan mencegah risiko PCOS. Artikel ini akan membahas PCOS dan peran terapi GHD dalam pencegahan PCOS pada anak.
Diseksi Aorta: Kegawatdaruratan Kardiovaskular Mabun, Jerry Marisi Hasiholan
Cermin Dunia Kedokteran Vol 43, No 12 (2016): Kardiovaskular
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (228.184 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v43i12.895

Abstract

Nyeri dada adalah keluhan yang sering ditemukan pada gangguan kardiovaskular akut; selain infark miokard, terdapat beberapa penyebab kardiovaskular lain., antara lain diseksi aorta. Diseksi aorta merupakan sebuah kegawatdaruratan, karena risiko komplikasi yang berbahaya dan bahkan kematian dapat terjadi dengan cepat. Diagnosis diseksi aorta akut harus cepat agar dapat segera menentukan pendekatan terapi.Chest pain is a common complaint in acute cardiovascular disorders. Aside from myocardial infarction, several other cardiovascular causes chest pain; i.e aortic dissection. Aortic dissection is an emergency, due to the risk of dangerous complications and even early death. Diagnosis of acute aortic dissection must be made promptly to determine immediate therapeutic approach.
Terapi Nanopartikel Albumin-Kurkumin Atasi Kanker Payudara Multidrug Resistant Salim, Michael; Susanto, Albert; Stefanus, Dicky
Cermin Dunia Kedokteran Vol 41, No 9 (2014): Diabetes Mellitus
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (861.146 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v41i9.1109

Abstract

Kanker payudara merupakan kanker yang paling sering dijumpai dan banyak menyebabkan kematian pada perempuan. Keberhasilan kemoterapi hanya sekitar 10-15%. Kendala kemoterapi adalah berkembangnya resistensi terhadap berbagai obat yang disebut multi-drug resistance (MDR). Kunyit (Curcuma longa) adalah tanaman herbal, memiliki bahan aktif yang disebut kurkumin. Berbagai penelitian memperlihatkan efek antikarsinogenik kurkumin terhadap kanker payudara. Kurkumin dapat menghindari efek protein transport ATP-binding cassette (ABC) yang menyebabkan MDR pada kanker payudara. Kendala aplikasi kurkumin dalam dunia medis yaitu bioavailabilitasnya sangat rendah. Human serum albumin (HSA) merupakan pembawa obat alamiah dalam tubuh. Enkapsulasi kurkumin dalam HSA meningkatkan bioavailabilitas tanpa efek toksik dan imunogenik, efisien membawa obat dan mudah diproduksi. Metode enkapsulasi paling cocok adalah nanoparticle albumin bound (nab). Nanopartikel HSA-kurkumin selektif terdeposit pada jaringan kanker payudara karena efek enhanced permeability and retention (EPR) dan oleh protein pada sel kanker payudara yaitu reseptor albumin gp60 dan secreted protein, acidic and rich in cysteine (SPARC).Breast cancer is the most common cancer in women and causes high mortality. Chemotherapy has only 10-15% success rate. A particular problem is resistance to different types of drug, called multidrug resistance. Turmeric (Curcuma longa) is a herbal plant with curcumin as active substance. Many researches show anti-carcinogenic effect of curcumin in breast cancer. Curcumin can also avoid the effect of transport protein ATP-binding cassette (ABC) that can cause MDR in breast cancer. The problem is its low bioavailability. Human serum albumin (HSA) can act as a natural drug mediator in human body. Encapsulation of curcumin in HSA can increase its bioavailability without any toxic and immunogenic effect, distributing drug more efficiently, and also easy to produce. The most suitable method for this encapsulation is nanoparticle albumin bound (nab). HSA-curcumin nanoparticle can be selectively deposited in breast cancer tissue due to its enhanced permeability and retention (EPR) effect, and by the presence of albumin receptor gp60, and secreted protein, acidic and rich in cysteine (SPARC). 
Dermatitis Dishidrotik Purnamasari, Lina
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45, No 2 (2018): Urologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (652.658 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v45i2.169

Abstract

Salah satu varian dermatitis yang khusus mengenai tangan dan kaki adalah dermatitis dishidrotik, disebut juga pompholyx. Penyebab pasti belum diketahui. Kelainan ini sering kambuh dan dapat berdampak terhadap kualitas hidup penderita.
Manfaat Omega-3 Parenteral di Dunia Medis Ardi, Laurencia
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46, No 10 (2019): Farmasi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (788.768 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v46i10.429

Abstract

Emulsi lemak intravena merupakan komponen penting nutrisi parenteral. Awalnya emulsi lemak digunakan sebagai sumber energi non-glukosa yang efisien untuk mengurangi efek samping hiperglikemia dan sebagai sumber asam lemak esensial. Penelitian menunjukkan efek omega-3 dan omega-6 pada metabolisme, inflamasi, respon kekebalan tubuh, koagulasi, dan sinyal sel, sehingga dapat bermanfaat untuk terapi bedah, kanker dan penyakit kritis serta pada pasien yang membutuhkan nutrisi parenteral jangka panjang. Pembahasan berikut meliputi mekanisme kerja dan manfaat omega-3 di dunia medis. Kata kunci : emulsi lemak, asam lemak omega-3, nutrisi parenteralIntravenous lipid emulsions are essential component of parenteral nutrition regimens, originally employed as an efficient non-glucose energy source to reduce the adverse effects of high glucose intake and provide essential fatty acids. Research demonstrates the effects of omega-3 and omega-6 polyunsaturated fatty acids (PUFA) on key metabolic functions, inflammatory and immune response, coagulation, and cell signaling; potentially benefit surgical, cancer, and critically ill patients as well as patients requiring long-term parenteral nutrition. This review provides an overview on the mechanisms of action and benefits of omega-3 in medicine.
Diagnosis dan Tatalaksana Juvenile Idiopathic Arthritis Pranena Sastri, Ni Luh Putu
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48, No 3 (2021): Obstetri dan Ginekologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (189.478 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v48i3.1326

Abstract

Juvenile Idiopathic Arthritis (JIA) merupakan kondisi inflamasi kronik pada anak, terjadi pada usia < 16 tahun pada setidaknya 1 sendi selama kurang lebih 6 bulan tanpa penyebab lain. Insiden JIA 1-22 per 100.000 dan prevalensi 7-150 per 100.000. Diagnosis JIA cukup sulit karena tidak ada pemeriksaan penunjang spesifik. Berdasarkan The International League of Associations for Rheumatology (ILAR), ada 7 jenis JIA. Tatalaksana JIA menggunakan 2011 American College of Rheumatology (ACR) Recommendations, dengan rekomendasi tahun 2019 untuk klasifikasi non-systemic polyarthritis, sacroilitis dan enthesitis.Juvenile Idiopathic Arthritis (JIA) is a chronic inflammatory condition in children, specific at <16 years of age in at least 1 joint for approximately 6 months without any other cause of joint inflammation. The incidence is 1-22 per 100,000 and prevalence is 7-150 per 100,000. Diagnosis is quite difficult because of no specific investigation and the clinical manifestations and symptoms are similar to various other diseases. Based on The International League of Associations for Rheumatology (ILAR), JIA is categorized into 7 types. Management use the 2011 American College of Rheumatology (ACR) Recommendations, with new 2019 recommendation for non-systemic polyarthritis, sacroilitis and enthesitis.
Aturan Papan Praktik Paranadipa M, Mahesa
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45, No 11 (2018): Neurologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (461.483 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v45i11.578

Abstract

Pada pasal 7 UU No.36 tahun 2009 tentang Kesehatan disebutkan : Setiap orang berhak untuk mendapatkan informasi dan edukasi tentang kesehatan yang seimbang dan bertanggung jawab. Dan jika mengenai informasi publik, kita telah memiliki Undang-Undang No. 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik.

Page 78 of 297 | Total Record : 2961


Filter by Year

2014 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 50 No 11 (2023): Pediatri Vol 50 No 10 (2023): Kedokteran Umum Vol 50 No 9 (2023): Penyakit Dalam Vol 50 No 8 (2023): Dermatiologi Vol 50 No 7 (2023): Kardiovaskular Vol 50 No 6 (2023): Edisi CME Vol 50 No 5 (2023): Kedokteran Umum Vol 50 No 4 (2023): Anak Vol 50 No 3 (2023): Kardiologi Vol 50 No 2 (2023): Penyakit Dalam Vol 50 No 1 (2023): Oftalmologi Vol 49, No 4 (2022): Infeksi - COVID-19 Vol 49 No 12 (2022): Dermatologi Vol. 49 No. 11 (2022): Neurologi Vol 49 No 10 (2022): Oftalmologi Vol. 49 No. 9 (2022): Neurologi Vol. 49 No. 8 (2022): Dermatologi Vol 49, No 7 (2022): Vitamin D Vol 49 No 7 (2022): Nutrisi - Vitamin D Vol 49 No 6 (2022): Nutrisi Vol 49, No 6 (2022): Nutrisi Vol 49, No 5 (2022): Jantung dan Saraf Vol 49 No 5 (2022): Neuro-Kardiovaskular Vol 49 No 4 (2022): Penyakit Dalam Vol 49 No 3 (2022): Neurologi Vol 49, No 3 (2022): Saraf Vol 49, No 2 (2022): Infeksi Vol 49 No 2 (2022): Infeksi Vol 49 (2022): CDK Suplemen-2 Vol 49 (2022): CDK Suplemen-1 Vol 49 No 1 (2022): Bedah Vol 49, No 1 (2022): Bedah Vol 48 No 11 (2021): Penyakit Dalam - COVID-19 Vol 48, No 7 (2021): Infeksi - [Covid - 19] Vol 48 No 1 (2021): Infeksi COVID-19 Vol. 48 No. 10 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 4 Vol 48 No 8 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 3 Vol 48 No 5 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 2 Vol. 48 No. 2 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 1 Vol 48, No 12 (2021): General Medicine Vol 48 No 12 (2021): Penyakit Dalam Vol 48, No 11 (2021): Kardio-SerebroVaskular Vol 48, No 10 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48 No 9 (2021): Neurologi Vol 48, No 9 (2021): Nyeri Neuropatik Vol 48, No 8 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48 No 7 (2021): Infeksi Vol 48 No 6 (2021): Kardiologi Vol 48, No 6 (2021): Kardiologi Vol 48, No 5 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48, No 4 (2021): Dermatologi Vol 48 No 4 (2021): Dermatologi Vol. 48 No. 3 (2021): Obstetri - Ginekologi Vol 48, No 3 (2021): Obstetri dan Ginekologi Vol 48, No 2 (2021): Farmakologi - Vitamin D Vol 48, No 1 (2021): Penyakit Dalam Vol 47, No 12 (2020): Dermatologi Vol 47, No 11 (2020): Infeksi Vol 47, No 10 (2020): Optalmologi Vol. 47 No. 10 (2020): Dermatologi Vol 47 No 9 (2020): Infeksi Vol 47, No 9 (2020): Neurologi Vol 47, No 8 (2020): Kardiologi Vol. 47 No. 8 (2020): Oftalmologi Vol 47, No 7 (2020): Bedah Vol. 47 No. 7 (2020): Neurologi Vol 47 No 6 (2020): Kardiologi & Pediatri Vol 47, No 5 (2020): CME - Continuing Medical Education Vol. 47 No. 5 (2020): Bedah Vol 47, No 4 (2020): Arthritis Vol. 47 No. 4 (2020): Interna Vol. 47 No. 3 (2020): Dermatologi Vol 47, No 3 (2020): Dermatologi Vol 47, No 2 (2020): Penyakit Infeksi Vol 47 No 2 (2020): Infeksi Vol 47, No 1 (2020): Bedah Vol 47 No 1 (2020): Bedah Vol 47, No 1 (2020): CME - Continuing Medical Education Vol. 46 No. 7 (2019): Continuing Medical Education - 2 Vol 46 No 12 (2019): Kardiovakular Vol 46, No 12 (2019): Kardiovaskular Vol. 46 No. 11 (2019): Pediatri Vol 46, No 11 (2019): Kesehatan Anak Vol 46, No 10 (2019): Farmasi Vol. 46 No. 10 (2019): Farmakologi - Continuing Professional Development Vol 46 No 9 (2019): Neurologi Vol 46, No 9 (2019): Neuropati Vol 46, No 8 (2019): Kesehatan Anak Vol. 46 No. 8 (2019): Pediatri Vol 46, No 7 (2019): CME - Continuing Medical Education Vol 46, No 6 (2019): Diabetes Mellitus Vol 46 No 6 (2019): Endokrinologi Vol. 46 No. 5 (2019): Pediatri Vol 46, No 5 (2019): Pediatri Vol 46, No 4 (2019): Dermatologi Vol. 46 No. 4 (2019): Dermatologi Vol 46, No 3 (2019): Nutrisi Vol. 46 No. 3 (2019): Nutrisi Vol. 46 No. 2 (2019): Interna Vol 46, No 2 (2019): Penyakit Dalam Vol 46, No 1 (2019): CME - Continuing Medical Education Vol 46, No 1 (2019): Obstetri - Ginekologi Vol 46 No 1 (2019): Obstetri-Ginekologi Vol 45 No 12 (2018): Interna Vol 45, No 12 (2018): Farmakologi Vol. 45 No. 11 (2018): Neurologi Vol 45, No 11 (2018): Neurologi Vol. 45 No. 10 (2018): Muskuloskeletal Vol 45, No 10 (2018): Muskuloskeletal Vol 45, No 9 (2018): Infeksi Vol 45 No 9 (2018): Infeksi Vol. 45 No. 8 (2018): Dermatologi Vol 45, No 8 (2018): Alopesia Vol 45, No 7 (2018): Onkologi Vol 45 No 7 (2018): Onkologi Vol. 45 No. 6 (2018): Interna Vol 45, No 6 (2018): Penyakit Dalam Vol 45, No 5 (2018): Nutrisi Vol. 45 No. 5 (2018): Nutrisi Vol 45, No 4 (2018): Cedera Kepala Vol 45 No 4 (2018): Neurologi Vol 45, No 4 (2018): Cidera Kepala Vol 45, No 3 (2018): Muskuloskeletal Vol. 45 No. 3 (2018): Muskuloskeletal Vol. 45 No. 2 (2018): Urologi Vol 45, No 2 (2018): Urologi Vol 45 No 1 (2018): Dermatologi Vol 45, No 1 (2018): Suplemen Vol 45, No 1 (2018): Dermatologi Vol 44, No 12 (2017): Neurologi Vol 44, No 11 (2017): Kardiovaskuler Vol 44, No 10 (2017): Pediatrik Vol 44, No 9 (2017): Kardiologi Vol 44, No 8 (2017): Obstetri-Ginekologi Vol 44, No 7 (2017): THT Vol 44, No 6 (2017): Dermatologi Vol 44, No 5 (2017): Gastrointestinal Vol 44, No 4 (2017): Optalmologi Vol 44, No 3 (2017): Infeksi Vol 44, No 2 (2017): Neurologi Vol 44, No 1 (2017): Nutrisi Vol 43, No 12 (2016): Kardiovaskular Vol 43, No 11 (2016): Kesehatan Ibu - Anak Vol 43, No 10 (2016): Anti-aging Vol 43, No 9 (2016): Kardiovaskuler Vol 43, No 8 (2016): Infeksi Vol 43, No 7 (2016): Kulit Vol 43, No 6 (2016): Metabolik Vol 43, No 5 (2016): Infeksi Vol 43, No 4 (2016): Adiksi Vol 43, No 3 (2016): Kardiologi Vol 43, No 2 (2016): Diabetes Mellitus Vol 43, No 1 (2016): Neurologi Vol 42, No 12 (2015): Dermatologi Vol 42, No 11 (2015): Kanker Vol 42, No 10 (2015): Neurologi Vol 42, No 9 (2015): Pediatri Vol 42, No 8 (2015): Nutrisi Vol 42, No 7 (2015): Stem Cell Vol 42, No 6 (2015): Malaria Vol 42, No 5 (2015): Kardiologi Vol 42, No 4 (2015): Alergi Vol 42, No 3 (2015): Nyeri Vol 42, No 2 (2015): Bedah Vol 42, No 1 (2015): Neurologi Vol 41, No 12 (2014): Endokrin Vol 41, No 11 (2014): Infeksi Vol 41, No 10 (2014): Hematologi Vol 41, No 9 (2014): Diabetes Mellitus Vol 41, No 8 (2014): Pediatrik Vol 41, No 7 (2014): Kardiologi Vol 41, No 6 (2014): Bedah Vol 41, No 5 (2014): Muskuloskeletal Vol 41, No 4 (2014): Dermatologi Vol 41, No 3 (2014): Farmakologi Vol 41, No 2 (2014): Neurologi Vol 41, No 1 (2014): Neurologi More Issue