Cermin Dunia Kedokteran
Cermin Dunia Kedokteran (e-ISSN: 2503-2720, p-ISSN: 0125-913X), merupakan jurnal kedokteran dengan akses terbuka dan review sejawat yang menerbitkan artikel penelitian maupun tinjauan pustaka dari bidang kedokteran dan kesehatan masyarakat baik ilmu dasar, klinis serta epidemiologis yang menyangkut pencegahan, pengobatan maupun rehabilitasi. Jurnal ini ditujukan untuk membantu mewadahi publikasi ilmiah, penyegaran, serta membantu meningkatan dan penyebaran pengetahuan terkait dengan perkembangan ilmu kedokteran dan kesehatan masyarakat. Terbit setiap bulan sekali dan disertai dengan artikel yang digunakan untuk CME - Continuing Medical Education yang bekerjasama dengan PB IDI (Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia)
Articles
2,961 Documents
Pengaruh Very Low Calorie Diet (VLCD) terhadap Pembentukan Batu Empedu Kolesterol serta Pencegahannya
Shalihat, Hilna Khairunisa
Cermin Dunia Kedokteran Vol 44, No 2 (2017): Neurologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (171.629 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v44i2.819
Batu empedu adalah penyakit gastrointestinal yang sering terjadi, dan obesitas merupakan salah satu faktor risiko terbentuknya batu empedu kolesterol. Oleh karena itu, diet pembatasan kalori direkomendasikan pada pasien obesitas dengan batu empedu untuk menurunkan berat badan. Pembatasan asupan kalori dapat dilakukan dengan pemberian low calorie diet (LCD) atau very low calorie diet (VLCD). Namun selama periode penurunan berat badan melalui VLCD, risiko terbentuknya batu dapat meningkat karena dua faktor, yaitu penurunan waktu nukleasi dan penurunan pengosongan kandung empedu. Komposisi dan pemilihan jenis makro dan mikro-nutrien yang tepat dapat mengurangi risiko batu empedu selama penurunan berat badan. Pembatasan jumlah karbohidrat dan polisakarida dengan indeks gilkemik rendah dapat dianjurkan selama VLCD.Gallstone is a gastrointestinal disease frequently happened, and obesity is risk factor for the formation of cholesterol gallstones. By therefore, calorie diet restrictions recommended in the obese patient with gallstone for lose weight. Calorie intake restriction can be done with low-calorie diet (LCD) or a very low calorie diet (VLCD). However, during the period of weight loss through VLCD, risk of stone formation can be increased because 2 factors, ie decrease in the nucleation time and decrease in gall bladder emptying. Composition and selection the right type macro and micro-nutrients can reduce the risk of gallstones during weight loss. Limitation of carbohydrates and polysaccharides with low glycemic index can be recommended for VLCD.Â
Konsep Baru Renin Angiotensin System (RAS)
Susanto, Jefri Pratama
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 2 (2015): Bedah
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (233.374 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v42i2.1038
Peran renin angiotensin system (RAS) dalam patofisiologi hipertensi sudah diketahui sejak lama. Produk akhir RAS, yaitu angiotensin II menyebabkan hipertensi, sehingga digunakan obat angiotensin converting enzyme inhibitor (ACE-I) untuk menghambat pembentukan angiotensin II. Namun, beberapa penelitian menunjukkan bahwa pada penggunaan ACE-I terus-menerus dengan dosis efektif, kadar angiotensin II tetap tidak berkurang, sehingga muncul pemahaman baru, yaitu angiotensin II dapat terbentuk tanpa melalui ACE yang disebut sebagai jalur non-ACE. Studi baru menemukan bahwa RAS juga memiliki efek nefro-protektif dan kardio-protektif melalui ACE-2.It is well established that renin angiotensin system (RAS) contributes to the hypertension pathophysiology. The end product, which is angiotensin II can cause hypertension, and angiotensin converting enzyme inhibitor (ACE-I) is used to inhibit angiotensin II production. However, several studies show that regular use of ACE-I with effective dose did not decrease angiotensin II level. This leads to a new concept that angiotensin II can be synthesized through non-ACE pathway. Recent studies find that RAS also has reno-protective and cardio-protective effect through ACE-2.
Kadar MDA (Malondialdehid) Karyawan SPBU di Kota Palembang.
-, Subandrate;
-, Safyudin
Cermin Dunia Kedokteran Vol 43, No 5 (2016): Infeksi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (861.285 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v43i5.53
Lingkungan SPBU adalah salah satu lingkungan tinggi oksidan seperti toluen, benzena, xylen, atau hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH). Senyawa ini dimetabolisme oleh hati dan menghasilkan radikal bebas yang merusak sel. Oksidasi radikal bebas terhadap lipid menghasilkan senyawa MDA (malondialdehid). Penelitian potong lintang bersifat analitik observasional ini bertujuan untuk membandingkan kadar MDA antara karyawan SPBU dan non-karyawan SPBU di Kota Palembang. Dua SPBU dipilih secara acak. Jumlah subjek penelitian pada penelitian ini adalah 14 orang karyawan SPBU dan 7 kontrol. Sampel berupa darah yang diambil setelah selesai shift kerja. Rata-rata kadar MDA pada karyawan SPBU adalah 0,731 nmol/mL dan kontrol adalah 0,326 nmol/mL. Terdapat pengaruh bekerja di SPBU terhadap kadar MDA (p=0,004). Peroksidasi lipid darah cenderung lebih banyak terdapat pada karyawan SPBU dibandingkan kontrol.
Terapi Hipotermia untuk Neonatus Asfiksia
Gilberta, Giovanni
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47, No 3 (2020): Dermatologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (726.644 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v47i3.372
Asfiksia adalah kegagalan nafas spontan dan teratur pada saat atau beberapa saat setelah lahir. Asfiksia dapat menimbulkan komplikasi jangka pendek maupun jangka panjang yang berbahaya bagi pertumbuhan dan perkembangan neonatus. Salah satu intervensi pilihan adalah terapi hipotermia yang lebih baik dilakukan dalam kurang dari 6 jam setelah kejadian. Prosedur dilakukan melalui 2 tahap : hipotermia dan rewarming, yang masing-masing membutuhkan langkah dan perlakuan berbeda. Terapi hipotermia juga dapat menimbulkan beberapa efek samping terkait penurunan suhu tubuh.Asphyxia is a failure of spontaneous and regular respiratory process at or a moment after birth. Asphyxia can cause short and long term complications, which are detrimental for growth and development. An intervention option for asphyxia is hypothermia therapy that should be done within 6 hours after asphyxia occurence. The procedure is performed in 2 stages; hypothermia and rewarming, each with different methods and treatments. Despite the advantages hypothermia therapy can also cause adverse events related to decreased body temperature.
Sindrom Rubela Kongenital
Kurniawan, Ruby
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46, No 3 (2019): Nutrisi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (790.829 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v46i3.508
Sindrom rubela kongenital (SRK) adalah kondisi bayi baru lahir dengan berbagai defek akibat infeksi virus rubela selama awal kehamilan. Gejala klasik SRK yaitu tuli, katarak, dan penyakit jantung bawaan. Diagnosis ditegakkan saat baru lahir, melalui anamnesis, pemeriksaan fisik awal mata dan pendengaran, serta pemeriksaan antibodi terhadap rubela pada bayi asimptomatik. Tatalakasana suportif dan perawatan multidispilin jangka panjang. Pencegahan dengan vaksinasi ibu sebelum kehamilan.Congenital rubella syndrome (CRS) is the condition of a newborn with various defects caused by rubella virus during early pregnancy. The classic symptoms of CRS are deafness, cataracts, and congenital heart disease. Diagnosis is made at birth through history, physical examination of the eyes and hearing, and examination of rubella antibodies in asymptomatic infants. Treatment is supportive with long-term multidiscipline management. Prevention can be done by vaccination to mothers before pregnancy.
Source of Genetic Aberrations in Human Embryonic Stem Cell : Common Fragile Sites and Replication Stress
Williantarra, Ivanna
Cermin Dunia Kedokteran Vol 44, No 10 (2017): Pediatrik
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (330.114 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v44i10.715
The capability of human embryonic stem cell (hESC) to form all cell types of the human body has made them highly attractive for therapeutic applications. Amongst others, the usefulness of hESC in therapeutic applications highly relies on their genomic integrity and stability. However, hESCs are well documented to frequently acquire genetic changes such as aneuploidies, segmental deletions or amplifications, epigenetic changes, and mitochondrial DNA mutations. This leads to safety concerns regarding the use of hESC in cell-based therapies. Certain genetic or epigenetic changes in hESC might lead not only to altered differentiation potential, but also increased proliferation capacity. A major concern is that, in vivo, this change might lead to tumorigenesis. These review will highlight the reported genetic aberrations found in human embryonic stem cell as a result of replication stress caused by naturally occurring common fragile sites in hESC.Kemampuan sel punca embrionik manusia untuk berdiferensiasi membentuk seluruh lini sel tubuh manusia telah membuka peluang penggunaan sel punca untuk aplikasi terapetik. Penggunaan sel punca embrionik untuk aplikasi terapetik sangat bergantung pada stabilitas dan integritas genomiknya. Sayangnya, sel punca embrionik sering ditemukan memiliki perubahan-perubahan genetik seperti aneuploidi, duplikasi dan amplifikasi segmental, perubahan epigenetic dan mutasi DNA mitokondria. Hal ini menyebabkan munculnya isu keamanan penggunaan sel punca untuk terapi sel. Beberapa perubahan genetik ataupun epigenetik pada sel punca tidak hanya mengubah potensi diferensiasi namun juga kapasitas proliferasi sel sehingga menimbulkan kekuatiran transformasi sel menjadi sel kanker in vivo. Ulasan ini akan membahas kelainan-kelainan genetik yang ditemukan pada sel punca embrionik manusia yang disebabkan oleh stres replikasi oleh adanya situs rapuh umum. Ivanna Williantarra.
Melanoma Maligna
Tansil Tan, Sukmawati;
Dewi, Isabella Puspa
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 12 (2015): Dermatologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (176.375 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v42i12.934
Melanoma maligna merupakan penyebab 75% kematian semua kasus kanker kulit. Risiko melanoma maligna meningkat pada orang yang memiliki banyak tahi lalat atau mempunyai riwayat keluarga yang menderita penyakit tersebut. Istilah ABCDE digunakan untuk mempermudah pengenalan gejala klinis : A untuk asymmetry, B untuk border irregularity, C untuk color variation, D untuk diameter, dan E untuk evolution. Semua lesi berpigmen yang diduga melanoma maligna harus dibiopsi. Metode biopsi yang direkomendasikan adalah biopsi eksisi. Diagnosis dini diikuti pembedahan merupakan tindakan yang tepat. Deteksi dini sangat penting untuk menemukan lesi yang masih belum terlalu dalam, sehingga dapat meningkatkan harapan hidup pasien.Malignant melanoma is responsible for approximately 75 percent of all deaths from skin cancer. Persons with an increased number of moles or a family history of the disease are at increased risk. ABCDE mnemonic, which comprises asymmetry, border irregularities, color variation, diameter, and evolution can assist the evaluation of potential melanomas. Biopsy should be done on any suspicious pigmented lesion, the recommended method is excisional biopsy. Surgery remains the mainstay of melanoma therapy at all sites. Early detection can increase survival rate. Early diagnosis combined with appropriate surgical therapy is currently the only curative treatment.
Asam Traneksamat Oral Sebagai Terapi Melasma
Wulandari, Putri
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48, No 4 (2021): Dermatologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (481.021 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v48i4.1474
Melasma adalah kelainan pigmentasi kulit didapat yang bersifat kronis, cenderung rekuren, serta sulit diobati. Asam traneksamat telah dilaporkan dapat menurunkan skor MASI dan memberikan perbaikan klinis.Melasma is an acquired chronic skin pigmentation disorder, tend to recur, and difficult to treat. Oral tranexamic acid has been reported can reduce MASI score and give clinical improvement.
Kadar Asam Urat Berkorelasi dengan Kadar Hemoglobin Terglikolisasi (HbA1c) Pasien Diabetes Melitus tipe 2
Sanda, Arfandhy;
Mangarengi, Fitriani;
Pakasi, Ruland DN
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45, No 6 (2018): Penyakit Dalam
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (128.276 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v45i6.650
Latar Belakang: Beberapa studi menunjukkan peranan asam urat dalam progresivitas prediabetes menuju diabetes. Tujuan : mengetahui hubungan kadar asam urat serum dengan HbA1c pada pasien DM tipe 2 di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar. Metode: Penelitian retrospektif observasional cross sectional menggunakan data sekunder 107 pasien DM tipe 2 yang memenuhi kriteria inklusi dan menjalani pengobatan di poliklinik dan perawatan Interna RS Wahidin Sudirohusodo (RSWS) periode Januari-Desember 2016. Uji normalitas data menggunakan uji Kolgomorov Smirnov dengan hasil tidak terdistribusi normal. Korelasi kadar asam urat dengan HbA1c dianalisis menggunakan uji Spearman dengan p-value<0,05. Hasil: Dijumpai korelasi positif signifikan antara kadar asam urat dengan HbA1c pada pasien DM tipe 2 (r=0,229, p=0,018). Simpulan: Kadar asam urat serum memiliki korelasi positif dengan HbA1c pada pasien DM tipe 2.Background: Some studies suggest the role of uric acid in progression of prediabetes to diabetes. Objective: To determine the correlation between uric acid serum and glycated haemoglobin (HbA1c) among type 2 Diabetes Mellitus patients in Wahidin Sudirohusodo Hospital. Method: A cross-sectional observational retrospective study conducted on 107 type 2 DM patients who fulfilled the inclusion criteria and underwent treatment at Wahidin Sudirohusodo Hospital during January-December 2016. Data is not normally distributed. The correlation of uric acid with HbA1c was analyzed using Spearman test with p-value <0.05. Result: A significant positive correlation between uric acid levels and HbA1c in patients with type 2 DM (r = 0.229, p = 0.018).
Penyakit Jantung Bawaan pada Kehamilan
Paramita, Dewi Ayu;
Fathoni, Moch.
Cermin Dunia Kedokteran Vol 43, No 9 (2016): Kardiovaskuler
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (135.716 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v43i9.861
Penyakit jantung bawaan (PJB) sianosis pada ibu berhubungan dengan peningkatan insidens aborsi, lahir mati, dan lahir prematur. Gejala penyakit jantung dapat muncul pertama kali karena perubahan hemodinamik saat hamil. Untuk memahaminya, diperlukan pengetahuan komprehensif mengenai defek serta perubahan hemodinamik akibat kehamilan.Cyanotic congenital heart disease in women is associated with a higher incidence of abortion, stillbirth, and premature birth. Symptoms can initially appear during pregnancy because of the hemodynamic changes. A comprehensive knowledge on the underlying defect and hemodynamic changes in pregnancy is needed.