cover
Contact Name
Yani Osmawati
Contact Email
jurnaldeviance@budiluhur.ac.id
Phone
+6221-5853753
Journal Mail Official
jurnaldeviance@budiluhur.ac.id
Editorial Address
Jl. Raya Ciledug, Petukangan Utara, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan 12260
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Deviance: Jurnal Kriminologi
ISSN : 25803158     EISSN : 25803166     DOI : -
Core Subject : Social,
Deviance Jurnal Kriminologi (ISSN 2580-3158 for printed version and ISSN 2580-3166 Online version), is a peer-reviewed, open-access journal published by Universitas Budi Luhur. This journal publishes twice a year (June and December). Deviance Jurnal Kriminologi publishes articles on criminological Issue. The journal invites scholar to submit original articles from variety of persperctives (sociological, philosophical, geographical, psychological, jurisprudential, cultural, political, policy standpoints, etc), focusing on crime and society
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 2 (2018)" : 5 Documents clear
Meninjau Kembali “Perpanjangan Tangan” dalam Penanggulangan Terorisme Leebarty Taskarina
Deviance Jurnal kriminologi Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (701.553 KB) | DOI: 10.36080/djk.v2i2.916

Abstract

BNPT merupakan sebuah lembaga non-kementerian yang menanggani kasus terorisme di Indonesia. Penanganan yang dilakukan oleh lembaga ini meliputi pembentukan kebijakan, penyusunan strategi, dan upaya penanggulangan terroriseme di Indonesia. Penelitian menjelaskan permasalahan harian dari dinamika perpanjangan tangan kebijakan BNPT yang diurus oleh masing-masing satuan tugas tiap kedeputian dalam pembagian kerja. Walaupun BNPT merupakan lembaga yang bertanggung jawab mengenai perkembangan terorisme akan tetapi kewenangan yang diberikan kepada lembaga ini ialah mencari informasi terkait tren terorisme, sedangkan untuk pelaksanaan tugas di lapangan BNPT membuat satuan tugas sebagai bentuk “perpanjangan tangan” yang bersifat fungsional. Namun, dinamika “perpanjangan tangan” yang dibentuk melalui satgas yang mewakili instansinya menyebabkan overlapping yakni kebijakan yang mengatur rincian tugas antarsatuan tugas dinilai belum sesuai dan masih tumpang tindih yang berakibat berbeda pandangan dan sistem nilai yang ingin dicapai masih “kabur” yang disebabkan egosentrisme satuan kerja asal. Permasalahan pengoperasian satgas menjadi permasalah sehari-hari yang berskala internal namun mempengaruhi kinerja BNPT sebagai lembaga representasi pemerintah dalam penanggulangan terorisme.
Perbandingan Karakteristik Pseudo-family dari Ras Hitam, Kulit Putih dan Hispanik dalam Serial Drama Orange is The New Black Yani Osmawati
Deviance Jurnal kriminologi Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (662.923 KB) | DOI: 10.36080/djk.v2i2.915

Abstract

Tulisan ini membahas mengenai perbedaan citra ras kulit hitam, kulit putih dan Hispanik yang direpresentasikan dalam serial drama Orange is the New Black. Serial drama ini menampilkan tahanan-tahanan perempuan yang bergabung ke dalam sebuah kelompok berdasarkan identitas ras. Dalam artikel ini, kelompok yang direpresentasikan dalam serial drama tersebut dilihat sebagai kelompok pseudo-family, kelompok yang khas di dalam penjara perempuan, yang mereplikasi hubungan yang ada di dalam sebuah keluarga. Pseudo-family sering dijelaskan sebagai sesuatu memberikan manfaat bagi tahanan perempuan di dalam penjara karena hubungan yang saling mendukung dan melindungi. Namun dalam Orange is the New Black, pseudo-family juga diperlihatkan sebagai sesuatu yang bersifat manipulatif dan mempengaruhi anggotanya melakukan pelanggaran hukum. Hal tersebut terutama ketika tayangan ini menggambarkan pseudo-family dari kelompok tahanan kulit hitam. Namun, kelompok Hispanik digambarkan lebih positif dengan penggambaran pseudo-family yang bersifat memberdayakan anggotanya.
Analisis Kriminologis: Serangan Bom Bunuh Diri di Surabaya Hendro Wicaksono
Deviance Jurnal kriminologi Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (758.883 KB) | DOI: 10.36080/djk.v2i2.912

Abstract

Penulisan ini berupaya untuk menjelaskan akar penyebab dan faktor – faktor yang mempengaruhi terjadinya rangkaian peristiwa serangan bom bunuh diri di Surabaya. Serangan ini begitu mengejutkan karena pelaku mengajak seluruh anggota keluarganya untuk ikut bersama-sama melakukan aksi bom bunuh diri dalam kurun waktu yang hampir bersamaan. Aksi serangan bom bunuh diri yang melibatkan seluruh anggota keluarga ini tercatat baru pertama kali terjadi di dunia. Dijelaskan pula kondisi awal yang menyebabkan dan memicu baik secara internal serta eksternal sehingga dapat diketahui mengapa serangan tersebut dapat terjadi. Selain itu juga dijelaskan bagaimana kemungkinan kondisi yang terjadi dalam masyarakat dan aparat yang menangani masalah tersebut. Semuanya akan dijelaskan dengan menggunakan pendekatan Analisis Fishbone dan Axes.
Hukuman Penjara Seumur Hidup dan Genosida Ariani Hasanah Soejoeti
Deviance Jurnal kriminologi Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (531.405 KB) | DOI: 10.36080/djk.v2i2.913

Abstract

Vonis hukuman penjara seumur hidup merupakan sanksi yang paling keras yang diberikan oleh Pengadilan Pidana Internasional untuk bekas Yugoslavia (ICTY) bagi mereka yang terbukti bersalah atas kejahatan genosida, kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Meski demikian, sebagian orang masih menganggap bahwa hukuman ini terlalu biasa untuk kejahatan yang sifatnya luar biasa ini. Artikel ini akan membahas kasus Radovan Karadzic, mantan pemimpin Serbia Bosnia yang divonis bersalah pada tahun 2016 atas kejahatan Genosida (dan kejahatan lainnya) terhadap 8.000 Muslim Bosnia. Baru-baru ini, hukuman terhadap Karadzic dinaikkan dari 40 tahun menjadi penjara seumur hidup karena dianggap lebih mencerminkan gravitasi kejahatan Karadzic serta tanggung jawabnya akan kejahatan terbesar dan paling parah yang pernah dikaitkan dengan satu orang di ICTY. Dengan mengangkat beberapa argumen terkait hukuman yang dianggap paling pantas untuk tipe kejahatan seperti genosida, penulis berpendapat bahwa ICTY harus mengkaji ulang kebijakan penghukumannya dengan menerapkan new corporal punishment yang dianggap lebih efektif dalam memberikan efek jera bagi pelaku ataupun sebagai penggentar bagi seluruh masyarakat dunia.
Replacement Discourse Daftar Tunggu Terpidana Mati (Death Row) dalam Perspektif Penologi Konstitutif di Indonesia Lucky Nurhadiyanto
Deviance Jurnal kriminologi Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (694.404 KB) | DOI: 10.36080/djk.v2i2.914

Abstract

Hukuman mati di Indonesia menjadi salah satu hal yang menarik untuk diperdebatkan. Meskipun ragam pihak kerap melakukan penentangan, namun tidak sedikit pula yang masih mendukung kelestariannya. Indonesia menjadi salah satu negara yang masih mengakui dan memberikan vonis hukuman mati pada kejahatan tertentu. Oleh karena itu, diskursus pertentangan dialihkan pada bagaimana menyikapi para terpidana yang terkategori dalam daftar tunggu eksekusi vonis mati (death row). Pada praktiknya Indonesia telah mengadopsi standar internasional dalam hal pelaksanaan hak atas peradilan yang adil (fair trail). Hal tersebut meliputi upaya hukum biasa, upaya hukum luar biasa, hingga grasi. Hingga tulisan ini dibuat, sedikitnya terdapat 165 orang yang masuk dalam daftar tunggu eksekuksi mati. Berbagai kasus yang menimpa Yusman Telambanua, Rodirgo Gularte, Zulfikar Ali, dan Mary Jane Veloso menyisakan tanya implementasi prinsip fair trail di Indonesia. Penologi konstitutif dari Arrigo dan Milovanovic berusaha untuk mengedepankan 3 (tiga) yakni kooproduksi, sistem yang dinamis, dan reifikasi. Kemudian pemikiran tersebut dibenturkan pada filosofi penjeraan dalam hukuman mati. Tulisan ini menggunakan pendekatan kualitatif menjabarkan pemikiran melalui teknik pengumpulan data sekunder. Simpulan yang didapatkan terbagi atas 4 (empat) hal, yakni 1) ketiadaan standar proses daftar tunggu eksekusi mati dalam peraturan perundangan, 2) hukum acara pidana tidak spesifik memisahkan terpidana hukuman mati dengan inkapasitasi, 3) implementasi prinsip fair trail seringkali berupa unfair trail, dan 4) tumpang tindih hakikat pencarian kepentingan formal di atas kebenaran materiel.

Page 1 of 1 | Total Record : 5