cover
Contact Name
Yunardi Kristian Zega
Contact Email
yunardikzega@sttrealbatam.ac.id
Phone
+6281213076611
Journal Mail Official
yunardikzega@sttrealbatam.ac.id
Editorial Address
Gedung House of Glory Lt.3-4, Jl. Ahmad Yani, Eden Park; Kel. Taman Baloi, Kec. Batam Kota, Kotamadaya Batam, Kepulauan Riau.
Location
Kota batam,
Kepulauan riau
INDONESIA
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika
ISSN : 26853515     EISSN : 26853485     DOI : -
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi yang berkaitan dengan pelayanan Kristiani dengan ciri Pentakostal-Kharismatika, dengan nomor ISSN: 2685-3485 (online), ISSN: 2685-3515 (print), dikelola dan diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi REAL, Batam, Kepulauan Riau. Focus dan Scope penelitian DIEGESIS adalah: Teologi Biblikal (Perjanjian Lama dan Baru); Teologi Sistematika; Teologi Pastoral; Misiologi; Isu-isu Pentakostal-Kharismatika. DIEGESIS menerima artikel dari dosen dan para praktisi teologi yang ahli di bidangnya, dari semua institusi teologi yang ada, baik dari dalam maupun luar negeri. Artikel yang telah memenuhi persyaratan akan dinilai kelayakannya oleh reviewer yang ahli di bidangnya melalui proses double blind-review.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 1: Juni 2022" : 6 Documents clear
Generasi yang Unggul dalam Iman, Ilmu, dan Pengabdian di Era Industri 4.0 Andrias Pujiono; Carolina Etnasari Anjaya; Yonatan Alex Arifianto
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol 5, No 1: Juni 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v5i1.143

Abstract

Industrial era 4.0 contains challenges and opportunities. But behind this condition, there are believers, including Christian Religious Education (PAK) teachers and pastors who are stuttering about technology. Instead of studying or catching up, many scholars hide behind their age, limited facilities, and other factors. But in fact, it is mostly caused by a reluctance to learn. In fact, in order to meet the needs of this era, superior humans are needed. These advantages include skills or optimal conditions in faith, knowledge, and devotion. The qualitative descriptive method is the approach used in this article. This article aims to describe the meaning of the superior generation in the industrial era 4.0 and how to achieve it. In the conclusion, it is explained that a superior person will develop faith, and knowledge and try to make a greater contribution to the Christian faith community and society at large. Being such a person in the era of the industrial revolution 4.0 is increasingly easy to achieve through the use of technology and a new basic mindset, namely: a growth mindset. Reluctance to grow to become a superior person is unfair behavior. Individuals who stagnate will sink into laziness or a reluctance to learn and change. Personal excellence never stops the process, and it will have a significant impact on the world. AbstrakEra industri 4.0 memuat tantangan dan kesempatan. Namun, balik kondisi itu terdapat umat percaya, termasuk guru Pendidikan Agama Kristen (PAK) dan pendeta yang gagap terhadap teknologi. Alih-alih belajar atau mengejar ketertinggalan, banyak sarjana yang bersembunyi dibalik faktor umur, terbatasnya fasilitas dan faktor lainnya. Namun, hal itu lebih banyak disebabkan oleh keengganan untuk belajar. Padahal agar dapat memenuhi kebutuhan era ini, dibutuhkan manusia unggul. Keunggulan tersebut meliputi kecakapan atau kondisi optimal dalam iman, ilmu dan pengabdian. Metode deskriptif kualitatif merupakan pendekatan yang dipergunakan dalam artikel ini. Artikel ini bertujuan mendeskripsikan makna generasi unggul di era industri 4.0 dan bagaimana cara mencapainya. Dalam kesimpulan dipaparkan bahwa pribadi unggul akan mengembangkan iman, ilmu dan berusaha memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap komunitas iman Kristen dan masyarakat luas. Menjadi pribadi yang demikian di era revolusi industri 4.0 semakin mudah tergapai melalui pemanfaatan teknologi dan sebuah dasar pola pikir baru yaitu: mindset tumbuh. Sikap enggan bertumbuh untuk menjadi pribadi yang unggul adalah tindakan tidak adil; sebaliknya, yang malas dan enggan belajar akan menjadi mandek atau mengalami kemandekan. Pribadi yang unggul tidak pernah berhenti berproses dan hal itu akan memberi dampak signifikan bagi dunia.
Implikasi Pemahaman Kematian bagi Pembinaan Kerohanian Jemaat: Refleksi Teologis Lukas 16:19-31 Marnaek Nainggolan; Happy Fasigita Paradesha
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol 5, No 1: Juni 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v5i1.181

Abstract

This study aims to counteract the paradigm claim that says that a person's spirit can wander and enter human life. In addition, it is concluded that people who have died can still communicate actively with humans to provide guidance, protection, and sustenance to humans, especially for those who want to honor the spirits of the dead. This attitude has been deeply rooted both from the side, religions, and even cultures in Christianity that do not understand the concept of death from a biblical perspective. The discussion of this article uses an inductive method of qualitative research, first looking for data and Bible facts. Data were collected through field observations and literature study through reference books, journal articles related to problems in article writing. These results explain that the understanding of death in Luke 16:19-31 cannot be used as a basis for thinking that people who have died can still communicate with everyone who is still in the world. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menangkal adanya klaim paradigma yang mengatakan bahwa setelah seseorang meninggal, rohnya dapat mengembara dan memasuki kehidupan manusia. Selain itu sebagian meyakini bahwa orang yang sudah meninggal masih dapat berkomunikasi secara aktif dengan manusia untuk memberi petunjuk, perlindungan, dan rezeki kepada manusia secara khusus bagi mereka yang mau menghormati arwah yang sudah meninggal. Sikap seperti ini telah mengakar kuat baik dari sisi budaya, agama-agama dan bahkan dalam kekristenan yang tidak memahami konsep kematian dari perspektif Alkitabiah. Pembahasan artikel ini menggunakan penelitian kualitatif metode induktif penafsiran terlebih dahulu mencari data dan fakta Alkitab. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan dan studi pustaka melalui buku-buku referensi, artikel jurnal yang berkaitan dengan permasalahan dalam penulisan artikel. Hasil pembahasan ini menguraikan bahwa pemahaman kematian pada Lukas 16:19-31 tidak dapat dijadikan sebagai dasar untuk berpikir bahwa orang yang sudah meninggal masih bisa berkomunikasi dengan setiap orang yang masih berada di dunia. 
Good Church Governance dengan Menerapkan Seri ISO 9000 dan Implikasinya bagi Pemimpin Gereja Yakub Hendrawan Perangin Angin; Tri Astuti Yeniretnowati
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol 5, No 1: Juni 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v5i1.179

Abstract

AbstractThe Good Corporate Governance in this study was borrowed as Good Church Governance because the principles of GCG are in line with the principles contained in Total Quality Management based on the ISO 9000 series of quality management standards. Good church governance practices have become not only an obligation but a necessity for current and future churches to implement good quality management. The ISO standard is recommended to be applied as a model of good church governance because the criteria contained in it can lead the church to achieve good, healthy, and effective church governance by complying with the rules and Bible truth. This research was conducted under the library research method. The results of this study indicate the implications for the church leaders, namely: First, Be actively involved in empowering yourself in the church. Second, understand the concept of good organizational governance. Third, is the commitment to implement the ISO 9000 series of quality management governance models, whose approach is easy and simple because it is based on the PDCA pattern, namely plan-do-check-act. AbstrakIstilah Good Corporate Governance pada penelitian ini dipinjam menjadi Good Church Governance, karena prinsip-prinsip dari GCG senada dengan prinsip yang terkandung dalam Total Quality Management berbasis standar manajemen mutu seri ISO 9000. Praktik tata kelola gereja yang baik sudah menjadi bukan hanya kewajiban tetapi keharusan bagi gereja saat ini dan masa mendatang untuk menerapkan manajemen mutu yang baik. Standar ISO disarankan untuk diterapkan sebagai model tata kelola gereja yang baik karena kriteria yang terkandung di dalamnya dapat mengantarkan gereja mencapai tata kelola gereja yang baik, sehat dan efektif dengan mematuhi aturan peraturan dan kebenaran Alkitab. Penelitian ini dilakukan dengan metode riset pustaka. Hasil dari penelitian ini menunjukkan implikasi bagi pemimpin gereja, yaitu: Pertama, Terlibat aktif memberdayakan diri dalam gereja. Kedua, Memahami konsep tata kelola organisasi yang baik. Ketiga, Komitmen menerapkan model tata kelola manajemen mutu seri ISO 9000, yang pendekatannya mudah dan sederhana karena berbasiskan pola PDCA, yaitu plan-do-check-act.
Kepemimpinan Pelayan Mengajarkan Teologi Memberi di Kalangan Pekerja Migran Indonesia di Gereja Lokal Malaysia Joni Manumpak Parulian Gultom
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol 5, No 1: Juni 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v5i1.189

Abstract

Indonesian migrant workers in Malaysia are the main source of the country's huge foreign exchange income. Within the church, their number alone is relatively large spread across the peninsula. The Lord's Church serves them as souls in need of strength and discipleship in the faith. Church leadership becomes important in directing the life of faith and also in the management of future lives. In addition to making them obedient people from the example of servant leaders, the church is also responsible for bringing them to love their fellow human beings with their finances in terms of giving. The question is first, what is the correct method of teaching the theology of giving to migrant workers? And what kind of servant leadership strategy do you expect? Research method with qualitative description. The purpose of the study is to describe the basis and pattern of Biblical giving and to explain appropriate servant leadership strategies for Indonesian migrant workers in Malaysia AbstrakPekerja migran Indonesia di Malaysia menjadi sumber utama pemasukan devisa negara yang sangat besar. Dalam gereja, jumlah mereka sendiri terbilang relative besar yang tersebar di semenanjung. Gereja Tuhan melayani mereka sebagai jiwa yang perlu kekuatan dan pemuridan dalam iman. Kepemimpinan gereja menjadi penting dalam mengarahkan kehidupan iman dan juga management kehidupan masa depan. Selain menjadikan mereka umat yang taat dari keteladanan pemimpin yang melayani, gereja juga bertanggung jawab untuk membawa mereka dapat mengasihi sesama manusia dengan keuangan mereka dalam hal memberi. Pertanyaan nya dalah pertama, bagaiamana metode mengajarkan teologi memberi yang benar buat para pekerja migran? Dan strategi kepemimpinan pelayan seperti apa yang di harapkan? Metode penelitian dengan dekripsi kualitatif. Tujuan penelitian untuk menggambarkan kepemimpinan di gereja sangat berpengaruh memberikan andil dalam mendorong umat untuk memberi. 
Kepemimpinan Gereja dalam Membangun Jemaat di Gereja Pentakosta Pusat Surabaya Filadelfia, Batam: Sebuah Kajian Teologis Keluaran 18:13-26 Hendra Syahputra; Robert Situmorang; David Simanjuntak; Dian Hondro; Hosea Hutagaol
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol 5, No 1: Juni 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v5i1.88

Abstract

AbstractThe research was conducted with the purpose to understand the impact of Church Leadership at Gereja Pentakosta Pusat Surabaya (GPPS) Filadelfia Batam to establish and grow the church from the perspective of Exodus 18:13-26, Batam. Conducting Qualitative Research thru observation, literature, and interview. Research shows Church leadership at GPPS Filadelfia Batam has been implemented as Exodus 18:13-26 and needs to improve for better Church growth. AbstrakPenelitian dilakukan untuk mengetahui dampak kepemimpinan Gereja Pentakosta Pusat Surabaya (GPPS) Filadelfia Batam dalam membangun Jemaat berdasarkan Keluaran 18:13-26. Penelitian dilakukan secara kualitatif melalui observasi, kepustakaan dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan kepemimpinan gereja GPPS Batam telah sesuai dengan Keluaran 18:13-26 namun perlu diperbaiki agar gereja GPPS Batam dapat bertumbuh dengan baik. 
Orisinalitas Pneumatologi John Calvin sebagai “Teolog Roh Kudus” Herman Herman; Ceria Ceria; Fredy Simanjuntak
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol 5, No 1: Juni 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v5i1.180

Abstract

John Calvin is one of the foremost theologians among reformed theologians. His works are a major contribution to the history of Protestant development even to the present day. But along the way, the development of Protestant theology has produced two views on the sustainability of the gifts of the Spirit. One of the views is to see that the gifts of the Holy Spirit no longer occur after the Biblical canonization (cessationism). This view is dominated by most Calvinist theologians and eventually creates the stigma that Calvin theology does not emphasize the Holy Spirit in its doctrines, even though in his day Calvin was given the nickname "The Theologian of the Holy Spirit”. This fact goes against the built stigma. To answer this question, the writer uses the descriptive-qualitative research method by reviewing the theology of the Holy Spirit written by Calvin in his masterpiece Institutes of The Christians, and the context at that time. In the end, this research finds that the main points of the Calvin’s Holy Spirit theology that are not indicated to the built stigma about Calvin’s Holy Spirit theology are the basis of cessationist or rationalist, but on the contrary, in accordance to the nickname given to him as the theologian of the Holy Spirit who integrated the theology of the Holy Spirit in all of his doctrines and ministries based on the Bible. AbstrakJohn Calvin merupakan salah satu teolog terkemuka dari kalangan teolog-teolog reformasi. Karya-karyanya memberikan kontribusi besar dalam sejarah perkembangan Protestan hingga saat kini. Namun dalam perjalanan perkembangan teologi Protestan telah menghasilkan dua pandangan mengenai keberlangsungan karunia-karunia Roh. Salah satunya melihat bahwa karunia-karunia Roh Kudus tidak lagi berlangsung setelah pengkanonan Alkitab (cessasionism), pandangan ini didominasi oleh sebagian besar teolog Calvinis dan akhirnya menimbulkan stigma bahwa teologi Calvin tidak menekankan Roh Kudus dalam doktrin-doktrinnya. Padahal pada zamannya Calvin diberi julukan “Teolog Roh Kudus”. Kenyataan ini menimbulkan kontradiksi dengan stigma yang terbangun. Untuk menjawab pertanyaan ini maka penulis menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan meninjau kembali teologi Roh Kudus Calvin yang tertulis dalam maha karyanya yaitu Intitutes of The Christian dan konteks pada masa itu. Pada akhirnya penelitian ini menemukan pokok-pokok teologi Roh Kudus Calvin yang tidak terindikasi kepada stigma yang terbangun mengenai teologi Roh Kudus Calvin adalah dasar cessasionist atau rasionalis tetapi justru sebaliknya seperti julukan yang diberikan kepadanya sebagai teolog Roh Kudus yang mengintegrasi teologi Roh Kudus dalam semua doktrin dan pelayanannya dengan dasar Alkitab.

Page 1 of 1 | Total Record : 6